Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39137 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Devi Lusiani Anastasia; Pembimbing: Siti Ariah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Asih Setiarini, Dewi Dwinurwati, Hamdani
Abstrak:
Di Indonesia, prevalensi stunting pada balita masih cukup tinggi. Tujuanpenelitian ini untuk mengetahui gambaran, faktor-faktor yang berhubungan, faktordominan, dan perilaku unik positif kejadian stunting pada balita. Faktor-faktortersebut adalah jumlah anggota keluarga, keanekaragaman makanan, perilakupemberian makan, perilaku pengasuhan anak, perilaku kebersihan, dan perilakupemeliharaan kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatifcross-sectional dan kualitatif yang dimulai dari bulan April hingga Juni 2014.Terdapat 103 responden survei yang telah menyelesaikan pengisian danwawancara kuesioner, serta pengukuran panjang atau tinggi badan balita. Selainitu terdapat 24 orang informan diskusi kelompok ibu, bapak, dan nenek, serta 5keluarga balita yang dikunjungi rumahnya. Hasil penelitian survei kuantitatifmenunjukkan bahwa proporsi kejadian stunting pada balita di Desa Babelan Kotayaitu sebesar 27.2% (kategori sedang) dan perilaku pengasuhan merupakan faktordominan stunting. Hasil penelitian menyarankan agar balita dapat mengadopsiperilaku unik positif yang ditemukan yaitu, anak makan sendiri menggunakansendok, mandi sehari 3 kali, menggunakan alas kaki saat keluar rumah, dan ibumenyuruh anak istirahat saat sakit. Kata kunci:Balita, kuantitatif dan kualitatif, perilaku, positive deviance, stunting

In Indonesia, the prevalence of stunting in children under five is stillquite high. The purpose of this study to describe factors associated, the dominantfactor, and the positive unique behavior of stunting in children under five. Thesefactors are the number of family members, the dietary diversity, feeding behavior,parenting behavior, hygiene and sanitation behavior, and health-seeking behavior.This study uses cross-sectional quantitative research and qualitative starts fromApril to June 2014. There were 103 survey respondents who have completedfilling questionnaires and interviews, as well as the length or height measurementsof under five children. In addition there are 24 discussion group informants ofmother, father, and grandmother, as well as 5 families of children whose home arevisited. The results of the quantitative survey research shows that the proportionof the incidence of stunting in children under five in the village Babelan Kota is27.2% (medium category) and parenting behavior is a dominant factor of stunting.The results of the study suggest that children can adopt positive unique behaviorsthat was found, child use a spoon to feed themselves, bath 3 times a day, using thefootwear when going out of the house, and the mother tells the child to restwhenever ill.Keywords:Behavior, children under five, positive deviance, quantitative and qualitative,stunting
Read More
T-4246
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iis Fatimah; Pembimbing: Kusharisupeni; Penguji: Trini Sudiarti, Siti Arifah Pujonarti, Helwiah Umniyati, Yuliati Chasbullah
Abstrak:

ABSTRAK

Stunting atau perawakan pendek pada anak merupakan suatu ?tragedi yang tersembunyi? dan dampaknya menyebabkan gangguan pada pertumbuhan dan perkembangan anak yang irreversibel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian stunting pada balita usia 24 ? 59 bulan di Kelurahan Harapan Mulya Kota Bekasi tahun 2013. Disain penelitian adalah cross sectional dan melibatkan 143 sampel yang diambil dengan sampel acak sederhana. Status stunting dinilai berdasarkan Z-score TB/U menurut klasifikasi WHO. Pengukuran tinggi badan menggunakan microtoice, berat badan menggunakan timbangan digital, asupan makanan (energi, protein, vitamin A, zink) menggunakan FFQ semikuantitatif. ASI, berat lahir, penyakit infeksi, pendidikan ayah dan ibu, status ekonomi didapatkan melalui wawancara.

Hasil analisis menunjukkan sebanyak 32,9% balita usia 24-59 bulan tergolong stunting. Uji chi-square menunjukkan berat lahir, asupan energi dan protein, asupan zink, pendidikan ayah dan status ekonomi berhubungan signifikan dengan kejadian stunting. Analisis regresi logistik menghasilkan berat lahir sebagai faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting setelah dikontrol pendidikan ayah dan asupan energi (p=0,003;OR=6,663;CI=1,87? 23,5). Untuk mencegah kejadian stunting pada balita, disarankan pemeriksaan kehamilan yang teratur, memberikan makanan bergizi seimbang untuk balita sesuai AKG yang dianjurkan, mempersiapkan status kesehatan dan gizi yang baik untuk remaja perempuan sebelum kehamilan.


ABSTRACT

Stunting or short stature is a ?hidden tragedy? and its impact causes disorder to a irreversible child?s development. The aim of this study were to determine the dominant factor of stunting among children aged 24-59 months at Harapan Mulya sub-district in Bekasi city 2013. Design was a cross sectional study on 143 children whom chosen by simple random sampling. Status of stunting were expressed by height for age z-score (HAZ) according to the WHO classification. Children?s height were measured using microtoise, body weight was measured with digital scales, nutrients intake (energy, protein, vitamin A and zink) were collected throught semiquantitative FFQ. Breastfeeding, birthweight, infection disease, education of father and mother and economic status were collected through interview.

The analysis result showed 32,9% children aged 24-59 months were stunting. Chi-square test showed birthweight , energy and protein intake, zinc intake, father education and economic status were significant correlate with stunting. Logistic regression analysis showed birthweight variable as a dominant factor which related to stunting after being controlled by father education and energy input (p=0,003;OR=6,663;CI=1,8723,5). Suggestion for deterrence of stunting is the regular pregnancy inspection, giving nutritious wellbalanced under five years food input as according to AKG suggested, preparing good nutrient and health status for woman adolescent before pregnancy.

Read More
T-3936
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meity Sudiarsih; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Evi Martha, Adi Sasongko, Clara M. Kusharto, Dewi Sartika
T-2660
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pambudi Bekti Pratiwi; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Kusharisupeni Djokosujono, Sumarna, Eman, Diah Santi Puspitasari
Abstrak:

ABSTRAK

Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu diatasi karena berhubungan dengan meningkatnya risiko kesakitan dan kematian, terhambatnya perkembangan motorik, dan pertumbuhan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui gambaran dan faktor dominan kejadian stunting pada balita di Desa Talagamulya Kabupaten Karawang tahun 2013. Desain penelitain yang digunakan adalah cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 118 balita yang didapat dengan cara total sampling. Penelitiani ini dilakukan pada bulan April sampai Mei 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tinggi badan, panjang badan, wawancara dengan kuesioner dan lembar FFQ semikuatitatif. Analisis data dilakukan dengan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stunting balita usia 12-36 bulan di Desa Talagamulya sebesar 38,2% dan status gizi TB/U normal sebesar 61,8%. Analisis uji statistik menunjukkan hubungan yang bermakna antara berat lahir, panjang lahir, asupan energi, asupan protein, asupan zat besi, riwayat pemberian ASI eksklusif, dan pendidikan ibu dengan kejadian stunting. Faktor yang paling dominan dengan kejadian stunting adalah panjang lahir setelah dikontrol variabel asupan energi, berat lahir, asupan lemak, asupan besi, asupan seng pemberian ASI dan pengetahuan gizi.


ABSTRACT

Stunting is a public health problem that needs to be addressed due to the increased risk of morbidity and mortality, impaired motor development, and mental growth. This study aims to determine and reveal the main factors in the incidence of stunting in children under five Talagamulya village Karawang regency in 2013. This study uses cross sectional research design. Samples in this research were 118 toddlers obtained by total sampling. This research was conducted in April and May 2013. The data was collected by measuring height, body length, questionnaires and interviews with FFQ semikuatitatif sheet. Data were analyzed by chi square test. The results showed that the prevalence of stunting in children aged 12-36 months was 38.2% Talagamulya village and nutritional status of height for age normal of 61.8%. Statistical analysis showed a significant association between birth weight, birth length, energy intake, protein intake, iron intake, history of exclusive breastfeeding, and maternal education with incidence of stunting. The most dominant factor in the incidence of stunting was birth length after the controlled variable intake of energy, birth weigth, intake of fat, intake of iron, intake of zinc, breastfeeding and nutrition knowledge.

Read More
T-3929
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eunike Bunga Putriani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Asih Setiarini, Salimar
Abstrak: Stunting atau pendek untuk anak seusianya, didefinisikan sebagai PB/U <-2 SD darimedian standar pertumbuhan anak milik WHO. Stunting memiliki dampak jangkapendek dan jangka panjang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktordominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Kecamatan Babakan Madangtahun 2019. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder Gizi dan Kesehatan BalitaBabakan Madang dengan jumlah sampel 283 anak yang memenuhi kriteria inklusi daneksklusi, serta memiliki data yang lengkap. Variabel dependen yang digunakan yaitustunting, sementara variabel independennya adalah pendapatan keluarga, tingkatpendidikan ibu, usia ibu saat hamil, tinggi badan ibu, pemberian kolostrum, usia mulaipemberian MPASI, dan kerutinan kunjungan ke posyandu. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 6-23 bulan mencapai 33,2persen, yang termasuk dalam kategori tinggi menurut klasifikasi WHO pada tahun1995. Hasil analisis bivariat dengan uji chi square menunjukkan bahwa terdapathubungan antara kerutinan kunjungan ke posyandu dengan kejadian stunting. Hasilanalisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa kerutinankunjungan ke posyandu merupakan faktor dominan kejadian stunting (OR= 2,102; 95%CI 1,268-3,486). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi posyandu, yaitu menetapkanwaktu teratur untuk pelaksanaan posyandu, rutin memberikan penyuluhan terkait gizidan kesehatan ibu hamil, bayi, dan balita, serta melakukan kunjungan rumah pada ibuatau pengasuh bayi dan balita yang tidak rutin ke posyandu. Saran bagi masyarakat,yaitu untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan posyandu. Kemudian, saran untukpeneliti lain, yaitu melakukan penelitian dengan cakupan yang lebih luas danmendalam.Kata kunci:Anak usia 6-23 bulan; kerutinan kunjungan ke posyandu; stunting.
Read More
S-10268
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retno Yunita Sari; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Endang Laksminingsih Achadi, Widiana Kusumasari
Abstrak: Prevalensi stunting pada anak usia 5-12 tahun di Indonesia tahun 2018 sebesar 23,6%. Penelitian ini membahas mengenai faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 7-12 tahun di Indonesia berdasarkan data IFLS (Indonesian Family Life Survey) V tahun 2014. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode cross sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 13.30% anak usia 7-12 tahun di Indonesia mengalami stunting. Terdapat perbedaan yang signifikan antara keanekaragaman pangan (p-value 0.00), frekuensi konsumsi sayuran (p-value 0,00), daging (p-value 0,00), telur (p-value 0,00), ikan (p-value 0,00), susu (p-value 0,00), sanitasi (p-value 0,00), anemia (p-value 0,00), tingkat pendidikan ibu (p-value 0,00), jenis kelamin (p-value 0,00), dan wilayah tempat tinggal (p-value 0,00), dengan kejadian stunting. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara frekuensi konsumsi sereal (p-value 0,55), umbi (p-value 0,55), buah (p-value 0,10), minyak (p-value 0,31), gula(p-value 0,12), dan penyakit infeksi (p-value 1,00). Hasil penelitian ini menyarankan bahwa perlu dilakukan pembuatan program terkait perbaikan gizi pada anak usia sekolah, terutama sekolah dasar untuk menjaga status gizi dan mengoptimalkan pertumbuhan pada saat remaja. Kata kunci:Stunting; anak usia sekolah; keanekaragaman pangan The prevalence of stunting in children aged 5-12 years in Indonesia in 2018 is 23.6%. This study discusses factors related to the incidence of stunting in children aged 7-12 years in Indonesia based on 2014 IFLS (Indonesian Family Life Survey) V data. This study was conducted using a cross sectional method. The results of this study indicate that 13.30% of children aged 7-12 years in Indonesia experience stunting. There is a significant difference between food diversity (p-value 0.00), frequency of vegetable consumption (p-value 0.00), meat (p-value 0.00), eggs (p-value 0.00), fish (pvalue 0.00), milk (p-value 0.00), sanitation (p-value 0.00), anemia (p-value 0.00), maternal education level (p-value 0.00), gender (p-value 0.00), and residential area (pvalue 0.00), with stunting. There is no significant difference between the frequency of consumption of cereals (p-value 0.55), tubers (p-value 0.55), fruit (p-value 0.10), oil (pvalue 0.31), sugar ( p-value 0.12), and infectious disease (p-value 1.00). The results of this study suggest that it is necessary to make a program related to nutrition improvement in school-aged children, especially elementary schools to maintain nutritional status and optimize growth in adolescence. Keyword : Stunting, school aged children, dietary diversity
Read More
S-10262
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Ardila; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Dyah Santi Puspitasari
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Obesitas sentral berhubungan dengan penyakit kardiovaskular (CVD) dan infark mikardium. Keduanya berhubungan erat dengan kematian. Prevalensi obesitas sentral terus meningkat tidak hanya di perkotaan tetapi juga di pedesaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi obesitas sentral dan beberapa faktor yang terkait di kelompok perempuan dewasa Desa Ketug, Kecamatan Butuh, Jawa Tengah tahun 2015.
 
 
Penelitian ini melibatkan 120 perempuan dewasa berusia 20-59 tahun sebagai sampel penelitian. Data sosiodemografi dikumpulkan menggunakan kuesioner dan lingkar pinggang diukur langsung oleh peneliti menggunakan pita ukur.
 
 
Berdasarkan cut off ≥80cm, prevalensi obesitas sentral di kelompok perempuan dewasa Desa Ketug sebesar 47.5%. Berdasarkan analisis bivariat, secara signifikan obesitas sentral berhubungan dengan beberapa faktor berikut: umur asupan energi, asupan lemak, asupan karbohidrat, riwayat obesitas sentral orangtua dan jumlah anak yang dilahirkan. Berdasarkan analisis multivariat, asupan lemak merupakan faktor dominan (OR:9.492) terhadap kejadian obesitas sentral di Desa Ketug.
 
 
Prevalensi obesitas sentral di Desa Ketug cukup tinggi. Untuk itu, perilaku gizi seimbang harus ditingkatkan karena secara signifikan kelebihan zat gizi makro berhubungan dengan kejadian obesitas sentral. Selain itu, masyarakat harus mendukung program KB (Keluarga Berencana) untuk mengontrol jumlah kelahiran, karena jumlah anak yang dilahirkan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas sentral sentral di kelompok perempuan Desa Ketug.
 

 
ABSTRACT
 
 
Central obesity is associated with cardiovascular disease (CVD) and myocardial infark. There are strong indications both CVD and myocardial infark associated with increased mortality. This study set out to evaluate the prevalence of central obesity and some related factors among adult women in Ketug Village, Purworejo, Central Java in 2015.
 
 
The sample included 120 adult women, aged 20-59 years, residing the rural area of Ketug Villlage. Simple random sampling was performed to size the sample. Sociodemographic data were collected using the multidimensional questionnaire and waist circumference (WC) was measured by the researcher.
 
 
According to WC criteria (≥80cm), the prevalence of central obesity was 47.5%. Bivariate analysis revealed that central obesity was significantly associated with these factors: age, energy intake, fat intake, cabohydrate intake, central obesity history, and parity. Based on logistic regresion analysis, the factor that was most closely associated with central obesity was fat intake (OR:9.492).
 
 
This study found that prevalence of central obesity in Ketug Village was still high. These findings suggest that contraception and balance nutrition may have important role against the higher odds of central obesity associated with over macronutrients and higher parity in rural society. Further studies are necessary to reveal the mechanisms behind this association
Read More
S-8737
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Lisdeni; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ema Hermawati, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Darwel
Abstrak:
Salah satu fokus program pembangunan kesehatan di Indonesia saat sekarang merupakan stunting. Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan karena multifaktor diantaranya sanitasi lingkungan yang buruk, asupan gizi kurang, penyakit infeksi, dll yang ditandai dengan tinggi atau panjang badan tidak sesuai dengan umurnya (TB/U20%). Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko kejadian stunting pada balita yang dikaitkan dengan sanitasi lingkungan dan asupan gizi pada Balita 6-59 bulan di Wilayah Kecamatan Batang Kapas, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 189 sampel. Analisis data dilakukan dengan SPSS yaitu analisis univariat Distribusi Frekuensi, Analisis bivariate (Chi-square) dan analisis multivariat (regresi logistik). Terdapat hubungan yang bermakna antara variabel-variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi dengan kejadian stunting pada balita yaitu variabel perilaku BABS, variabel perilaku CTPS, variabel Pengolahan Air Minum dan Makanan Rumah Tangga (PAM-RT), variabel sarana dan kepemilikan jamban dan variabel asupan zat gizi. Semua variabel sanitasi lingkungan dan asupan gizi yang diteliti merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita karena memiliki OR>1 Sedangkan variabel yang paling besar pengaruhnya yaitu variabel CTPS. Terdapat faktor risiko sanitasi lingkungan dan asupan gizi terhadap kejadian stunting pada balita. Dan disarankan kepada Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk melakukan pemberantasan stunting dengan pemicuan STBM dan peningkatan asupan memberikan edukasi kepada ibu balita serta ibu hamil untuk memakan makanan beragam, bergizi dan seimbang serta meningkatkan pemberian PMT pada balita terutama PMT lokal bernilai gizi yang banyak di wilayah tersebut seperti Ikan. Perlu peningkatan kerjasama lintas sektor untuk memberantas faktor risiko sanitasi lingkungan yang buruk dan asupan gizi yang kurang pemicu stunting. Kata kunci: Stunting, balita 6-59 bulan, sanitasi lingkungan, asupan gizi, Batangkapas .

One of the current focuses of health development programs in Indonesia is stunting. Stunting is failure of growth and development due to multiple factors including the poor environmental sanitation, the inadequate nutritional intake, the infectious diseases, etc. which is characterized by height or body length that is not appropriate for age (TB/U 20%). The goal of the research is ttg=termine the risk factors for stunting in toddlers which are associated with environmental sanitation and nutritional intake in toddlers 6-59 months . The design of this research is cross sectional with a total sample of 189 samples. Data analysis was carried out using SPSS, namely Frequency Distribution univariate analysis, bivariate analysis (Chi-square) and multivariate analysis (logistic regression). There is a significant relationship between environmental sanitation variables and nutritional intake and the incidence of stunting in toddlers, namely the behavioral variable of ODF, the behavioral variable of CTPS, home food and drink processing (PAM-RT) variable, latrine ownership variable and nutrient intake variable. All environmental sanitation and nutritional intake variables studied are risk factors for stunting in toddlers because they have OR> 1. Meanwhile, the variable with the greatest influence is the CTPS variable. There are risk factors for environmental sanitation and nutritional intake in the incidence of stunting among toddlers. And it is recommended that the Community Health Center and Health Service eradicate stunting by triggering STBM and increasing intake. education for mothers of toddlers and pregnant mothers to eat diverse, nutritious and balanced food and increase the provision of PMT to toddlers, especially local PMT with nutritional value which is abundant in the region, such as fish. There is a need to increase cross-sector collaboration to eradicate the risk factors of poor environmental sanitation and inadequate nutritional intake that trigger stunting.
Read More
T-6884
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melinda Mastan; Pembimbing: Endang L. Achadi; Penguji: Asih Setiarini, Anies Irawati
Abstrak: Meskipun manfaat dari ASI eksklusif sudah tidak diragukan lagi, cakupan pemberian ASIeksklusif di Indonesia masih rendah, yaitu hanya 42% pada tahun 2012. Pekerjaan ibuterbukti merupakan faktor yang berisiko tinggi untuk menghambat ibu memberikan ASIeksklusif. Maka dari itu, penelitian ini berusaha menggunakan konsep positive devianceuntuk menelusuri faktor determinan keberhasilan pemberian ASI eksklusif padakelompok ibu yang memiliki risiko tinggi untuk tidak ASI eksklusif, yaitu ibu bekerja.Penelitian dengan metode cross-sectional ini menganalisis data sekunder dari 376 ibubekerja dengan bayi usia 0-5 bulan di Indonesia pada SDKI tahun 2017. Analisis denganuji chi-square dan regresi logistik ganda dengan confidence interval 95% dilakukan untukmenganalisis faktor yang berhubungan signifikan dengan pemberian ASI eksklusif. Diantara 376 ibu yang bekerja, 45,5% nya diidentifikasi sebagai pelaku positive deviance,yang berhasil memberikan ASI eksklusif. Pada analisis multivariat, ditemukan kunjunganANC, kunjungan PNC, dan status ekonomi sebagai faktor yang berhubungan secarasignifikan dengan pemberian ASI eksklusif di antara ibu bekerja. Kunjungan ANCmerupakan faktor dominan yang berhubungan dengan ASI eksklusif dengan OR 1,831(95% CI: 1,075-3,118). Perilaku melakukan kunjungan ANC dan PNC, termasukmendapatkan edukasi dan konseling terkait menyusui dari petugas kesehatan saatkunjungan tersebut dapat mendukung pemberian ASI eksklusif di antara ibu bekerja diIndonesia.
Kata kunci: ASI eksklusif, positive deviance, ibu bekerja
Despite the fact that exclusive breastfeeding brings a lot of benefits for infants andmothers, breastfeeding rates in Indonesia remains low, which is only 42% in 2012.Maternal employment is proven to be the highest risk in preventing mothers to breastfeedexclusively. The objective of this study was to apply the positive deviance concept toexplore the determinant factors of the success of exclusive breastfeeding among workingmothers in Indonesia. This cross-sectional study included data on 376 working motherswith 0-5 months old infants in Indonesia from SDKI 2017. Chi-square test and multiplelogistic regression with 95% confidence intervals were applied to analyze factors thatwere significantly associated with exclusive breastfeeding. Among 376 working mothers,45,5% were identified as positive deviants, who succeded in exclusive breastfeeding. Inmultivariate analysis, ANC visits, PNC visits, and economic status were found to befactors that were significantly associated with exclusive breastfeeding among workingmothers. ANC visits were the dominant factor associated with exclusive breastfeedingwith OR 1,831 (95% CI: 1,075-3,118). ANC visits and PNC visits, including gettingbreastfeeding education and counseling from health professionals in each visit areimportant in helping working mothers succeed in breastfeed exclusively.
Key words:Exclusive breastfeeding, positive deviance, working mothers.
Read More
S-10269
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Nur Laili Mayang; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Maya Adiyanti
Abstrak: ABSTRAK Stunting merupakan pertumbuhan tidak normal karena kekurangan zat gizi kronis selama masa kehamilan sampai 2 tahun pertama kehidupan. Anak yang stunting memiliki metabolisme yang rendah dan menghambat oksidasi lemak sehingga berisiko tinggi mengalami kegemukan di usia 3-5 tahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan terhadap kejadian stunting pada anak usia 0-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang Tahun 2018. Penelitian dilakukan menggunakan desain cross sectional, menggunakan data sekunder Gizi dan Kesehatan Balita dengan jumlah sampel 279 yang didapatkan setelah melakukan teknik purposive sampling dengan kriteria eksklusi anak lahir tidak cukup bulan. Pengambilan data sekunder dilakukan dengan cara membuat kaji etik dan surat permohonan kepada pemilik data. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa prevalensi stunting pada anak usia 0-23 bulan mencapai 21,1%. Hasil analisis bivariat dengan uji chi-square menemukan perbedaan bermakna kejadian stunting berdasarkan asupan energi (OR= 2,059; 95%CI 1,145-3,705), asupan zink (OR= 2,987; 95%CI 1,641-5,435), dan asupan zat besi (OR= 4,246; 95%CI 2,172-8,301) pada anak usia 0-23 bulan di Kecamatan Babakan Madang. Hasil analisis multivariat dengan uji regresi logistik ganda menunjukkan bahwa asupan zat besi sebagai faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 0-23 bulan setelah dikontrol oleh variabel jumlah balita, asupan zink, keberagaman makanan, ASI eksklusif, asupan energi, praktik BAB keluarga, pendidikan ibu, jumlah keluarga, asupan protein. (OR= 3,392; 95%CI 1,373-8,376). Berdasarkan hasil penelitian, saran bagi suku dinas yaitu mengkampanyekan peningkatan asupan zat besi selama 1000 HPK, bagi puskesmas dan posyandu untuk melakukan pengukuran panjang badan dan penyuluhan ke masyarakat tentang pentingnya asupan zat besi bagi anak dan ibu hamil. Selanjutnya, saran untuk peneliti lain adalah melakukan penelitian lebih luas serta membandingkan antara pedesaan dan perkotaan serta melakukan 3 kali food re-call untuk mengetahui asupan makan anak secara keseluruhan. Kata kunci: Stunting, asupan zat besi, anak usia 0-23 bulan Stunting is an abnormal growth due to chronic malnutrition during pregnancy until the first two years of life. Stunting children have a low metabolism and inhibit the oxidation of fat so that high risk of obesity children age 3-5 years. The objective of this research is to determine the dominant factor related with stunting occurrence among children aged 0-23 months in Babakan Madang district in 2018. The research was descriptive study with cross sectional design that using secondary data of Nutrition and Health of toddler and include 279 children taken after doing purposive technique sampling with the exclusion criteria of pre-term birth. Secondary data collection is done by making ethical clearance and application letter to data owner. The results showed prevalence of stunting in children aged 0-23 months was 21.1%. The results of bivariate analysis with chi-square test found significant differences stunting incidence based on energy intake (OR = 2.059; 95% CI 1.145-3,705), zinc intake (OR = 2,987; 95% CI 1,641-5.435), and iron intake (OR = 4,246 ; 95% CI 2.172-8.301). Furthemore, multivariate analysis with binominal logistic regression showed iron intake as a dominant factor of stunting occurrence among children aged 0-23 months after controlled by other variable of number of toddler, zinc intake, food diversity, exclusive breastfeeding, energy intake, family laterine, mother education, number of family, and protein intake (OR = 3,392; 95% CI 1.373-8.376). Based on this research, the recommendations for Suku Dinas Kesehatan are to appeal for increase iron intake during 1000 HPK, for puskesmas and posyandu to measurement body length and counseling to the community about importand iron intake for child and pregnant mother. And then, the advice for researchers are more extensive research and compare between rural and urban and use 3 times food re-call to know the overall intake of children. Key words: stunting, iron intake, aged 0-23 months old
Read More
S-9841
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive