Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41708 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sri Hartanto; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ns Satrio, Wahyu Sulistiadi, Kuntari Retno
B-1511
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dudi Abdul Rozak; Pembimbing: Rokiah Kusumapraja
B-460
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ershad Nashir; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Jaslis Ilyas, RM Bob Erissa, Avicena M. Iqbal
Abstrak: Tenaga keperawatan dituntut untuk dapat menjalankan kinerjanya dengan baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit. Rumah sakit yang memiliki sistem penilaian kinerja tenaga keperawatan tentunya membutuhkan instrumen yang dapat mengukur kinerja. Rumah sakit ibu dan anak Assalam telah memiliki instrumen penilaian kinerja yang didalamnya terdapat indikator dan ukuran kinerja tenaga keperawatan, penelitian ini bertujuan menilai instrumen tersebut.

Metode penelitian menggunakan desain potong lintang, dengan pendekatan kuantitatif, data primer didapatkan dengan menyebarkan kuesioner kepada seluruh tenaga keperawatan di RSIA Assalam. Total sampel 56 sama dengan populasi, dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.

Hasil analisis bivariat variabel terukur, relevan, hasil kerja berhubungan secara signifikan (p<0,05) dengan penilaian kinerja. Perilaku paling dominan terhadap penilaian kinerja dengan hasil analisis multivariat ukuran kinerja perilaku (p=0.0001) dan indikator jelas (p=0.039).

Kesimpulan dari penelitian ini indikator kinerja yang digunakan sudah jelas tapi kurang terukur, kurang relevan dan kurang terikat waktu. Instrumen yang digunakan dapat mengukur perilaku dengan baik, tapi belum dapat mengukur hasil kerja dan kompetensi dengan baik. Perbaikan indikator kinerja dan ukuran kinerja pada instrumen penilaian kinerja perlu dilakukan demi meningkatkan kinerja tenaga keparawatan
Read More
B-2077
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendro; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Purnawan Junadi, Sumijatun, Yaniek Sufiandari
Abstrak:
Telah terjadi penurunan kinerja perawat di RS Santa Elisabeth Batam dari tahun 2019 sampai dengan semester I tahun 2023. Penurunan kinerja perawat ini dapat menimbulkan dampak yang tidak baik terhadap rumah sakit terutama pada keselamatan pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh coaching pada asuhan keperawatan dan komunikasi perawat terhadap kinerja perawat serta dipengaruhi oleh faktor demografi perawat. Metode penelitian bersifat kuantitatif melalui rancangan penelitian quasi experiment dengan pendekatan pre and post control group. Hasil penelitian dengan uji paired sample T test antara kelompok intervensi sebelum coaching dan sesudah coaching adalah 0,000 dan uji paired sample T test antara kelompok kontrol sebelum coaching dan tanpa coaching adalah 0,081. Untuk hasil penelitian dengan uji independent sample T test antara kelompok intervensi setelah coaching dan kelompok kontrol tanpa coaching adalah 0,000. Dengan uji statistik deskriptif pada faktor demografi perawat setelah coaching terhadap kinerja perawat dengan hasil menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dari jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, lama kerja dan status penikahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah intervensi coaching pada asuhan keperawatan dan komunikasi perawat dapat meningkatkan kinerja perawat.

There has been a decline in the performance of nurses at Santa Elisabeth Batam Hospital from 2019 to the first semester of 2023. This decline in nurse performance could have an adverse impact on the hospital, especially on patient safety. The aim of this research is to determine the effect of coaching on nursing care and nurse communication on nurse performance and is influenced by nurse demographic factors. The research method is quantitative through a quasi-experimental research design with a pre and post control group approach. The results of research using the paired sample T test between the intervention group before coaching was 0.000 and the paired sample T test between the control group before coaching and without coaching was 0.081. For research results using the independent sample T test between the intervention group after coaching and the control group without coaching was 0.000. With descriptive statistical tests on nurse demographic factors after coaching on nurse performance, the results showed that there were no significant differences in gender, age, education level, length of work and marital status. The conclusion of this research is that coaching interventions in nursing care and nurse communication can improve nurse performance.
Read More
B-2449
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mayang Sari; Pembimbing: A.W. Budiarso
B-784
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihaan Eka Ariyani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh, Mira Puspitasari , Sheirly Novan Indra
Abstrak:
Pengendalian mutu pelayanan medis merupakan bagian penting dalam tata kelola klinis rumah sakit karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien, efektivitas layanan, dan akuntabilitas profesional tenaga medis. RSU Bunda Margonda telah menerapkan sistem indikator mutu pelayanan medis rawat inap serta evaluasi kinerja dokter spesialis melalui mekanisme Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Meskipun keduanya telah berjalan sebagai bagian dari sistem tata kelola klinis, hubungan antara capaian indikator mutu pelayanan medis dengan hasil penilaian OPPE pada Kelompok Staf Medis (KSM) Bedah belum pernah dianalisis secara sistematis dan komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap terhadap hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah di RSU Bunda Margonda tahun 2025. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods dengan desain sequential explanatory, di mana analisis kuantitatif terhadap 16 dokter spesialis dari 8 sub-spesialisasi bedah dilakukan terlebih dahulu, kemudian diperdalam melalui wawancara mendalam dengan informan kunci yang meliputi Kepala Bidang Medis dan Ketua Komite Mutu. Instrumen OPPE yang digunakan mencakup tiga dimensi utama, yaitu dimensi Perilaku (bobot 30%), Pengembangan Profesional (bobot 30%), dan Kinerja Klinis (bobot 40%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang nyata dan bermakna antara capaian indikator mutu pelayanan medis rawat inap dengan hasil penilaian OPPE dokter spesialis KSM Bedah. Rata-rata total skor OPPE KSM Bedah mencapai 4,086 dengan predikat B-Very Good, di mana 6 dokter (37,5%) meraih predikat A-Excellent, 8 dokter (50,0%) meraih predikat B-Very Good, dan 2 dokter (12,5%) berada pada predikat C-Good. Sub-spesialisasi Bedah THT-KL mencatat rata-rata skor tertinggi (4,326), sedangkan Bedah Umum mencatat rata-rata terendah (3,647) dengan variasi terlebar. Dimensi Kinerja Klinis mencapai capaian proporsional tertinggi (93,3% dari skor maksimum), sementara Dimensi Perilaku menjadi sumber variabilitas tertinggi antar dokter. Indikator outcome klinis, khususnya angka IDO/ILO (Infeksi Daerah Operasi/Infeksi Luka Operasi) dan angka re-operasi, ditemukan sebagai indikator yang paling dominan berkontribusi terhadap skor OPPE. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa indikator mutu pelayanan medis rawat inap, terutama kepatuhan visite DPJP, kelengkapan rekam medis, kepatuhan PPK/Clinical Pathway, kepatuhan Surgical Safety Checklist (SSC) dan IPSG, angka IDO/ILO, serta angka re-operasi, memiliki keterkaitan yang signifikan dengan hasil penilaian OPPE. Sistem OPPE RSU Bunda Margonda telah memiliki fondasi yang selaras dengan prinsip evidence-based clinical governance, namun masih terdapat lima kesenjangan dibandingkan standar internasional yang perlu diperkuat, meliputi mekanisme peer review formal, integrasi data indikator mutu secara otomatis, representasi keenam domain kompetensi ACGME, data volume kasus operatif per dokter, serta standarisasi mekanisme umpan balik kepada dokter. Penguatan sistem OPPE melalui pengembangan SIMRS, umpan balik berkelanjutan, dan peer review terstruktur direkomendasikan untuk mendukung tata kelola klinis berbasis data yang lebih kuat di RSU Bunda Margonda.

Quality control of medical services is a fundamental component of clinical governance in hospitals, as it directly influences patient safety, service effectiveness, and professional accountability of healthcare providers. RSU Bunda Margonda has implemented inpatient medical service quality indicators alongside a physician performance evaluation system through the Ongoing Professional Practice Evaluation (OPPE). Despite both systems being operational as part of clinical governance, the relationship between quality indicator achievements and OPPE assessment outcomes within the Surgical Medical Staff Group had not been systematically or comprehensively analyzed.  This study aims to analyze the influence of inpatient medical service quality indicators on OPPE assessment results among specialist doctors in the Surgical Medical Staff Group at RSU Bunda Margonda in 2025. The study employed a mixed methods approach with a sequential explanatory design, where quantitative analysis of 16 specialist doctors from 8 surgical sub-specializations was conducted first, followed by in-depth interviews with key informants including the Head of Medical Services and the Quality Committee Chair. The OPPE instrument comprised three main dimensions: Behavior (weight 30%), Professional Development (weight 30%), and Clinical Performance (weight 40%).  The findings confirm a significant and meaningful relationship between inpatient medical service quality indicator achievements and OPPE assessment results among Surgical Medical Staff doctors. The average total OPPE score for the Surgical Medical Staff Group reached 4.086 (B-Very Good), with 6 doctors (37.5%) achieving A-Excellent, 8 doctors (50.0%) achieving B-Very Good, and 2 doctors (12.5%) rated C-Good. The ENT-Head and Neck Surgery subspecialty recorded the highest average score (4.326), while General Surgery recorded the lowest average (3.647) with the widest variation. The Clinical Performance dimension achieved the highest proportional score (93.3% of maximum), while the Behavior dimension contributed the greatest variability among individual physicians. Clinical outcome indicators, particularly the surgical site infection (SSI/IDO-ILO) rate and re-operation rate, were identified as the most dominant contributors to OPPE scores.  In conclusion, inpatient medical service quality indicators particularly specialist physician visit compliance, medical record completeness, clinical pathway adherence, Surgical Safety Checklist (SSC) and IPSG compliance, surgical site infection rate, and re-operation rate demonstrated significant associations with OPPE assessment outcomes. The OPPE system at RSU Bunda Margonda has a foundation aligned with evidence-based clinical governance principles; however, five gaps remain compared to international standards: the absence of a formal peer review mechanism, manual integration of quality indicator data, incomplete representation of all six ACGME competency domains, unavailability of per-physician operative case volume data, and non-standardized physician feedback mechanisms. Strengthening the OPPE system through enhanced hospital information system (SIMRS) development, continuous feedback cycles, and structured peer review is recommended to support more robust data-driven clinical governance at RSU Bunda Margonda.
Read More
B-2624
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
S.B. Wahyudi Roesbandi; Pembimbing: Christophora CB.
B-488
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lomriani Hotnida; Pembimbing: Petter Patinama; Penguji: Sumiatun, Mieke Savitri, Sister Christophora S., Nurul Huda
Abstrak: Untuk memenuhi tujuan klinis dari perawatan, seorang perawat harus melakukan apa yang ia sebut sebagai proses keperawatan. Mutu asuhan keperawatan merupakan hasil dari bagaimana efektif dan efisiennya seorang perawat melakukan proses keperawatannya. Penilaian kerja perawat dalam pendokumentasian proses keperawatan merupakan sebuah cara yang penting untuk mengetahui kemampuan kerja perawat dalam melaksanakan proses keperawatan.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai kinerja perawat dalam pendokumentasian proses keperawatan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yang dilakukan dengan pendekatan cross sectional. Analisa data menggunakan uji Anova, regresi linier ganda dan General linier model multivariate.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwa secara bersama-sama skor kinerja perawat dalam pendokumentasian pengkajian, disgnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi memang dipengaruhi umur, lama kerja, pendidikan, status pernikahan, status kepegawaian, persepsi seorang perawat terhadap kepemimpinan, hubungan antar kelompok, desain kerja, imbalan, fasilitas kerja, struktur organisasi, supervisi dan penghargaan.

Berdasar pada hasil penelitian, untuk meningkatkan kinerja perawat dalam pendokumentasian proses keperawatan, pihak manajemen rumah sakit perlu untuk membuat suatu kebijakan yang dapat mengakomodir peningkatan kemampuan setiap perawat melalui pendidikan dan pelatihan. Serta menciptakan situasi dan kondisi yang dapat memotivasi perawat untuk meningkatkan kinerjanya seperti supervisi, imbalan, penghargaan dan jenjang karir.

Analysis of Factors that Influenced Nurse Performance in Nursing Process Documentation at Inpatient Room, Koja General District HospitalTo fulfill the clinical purposes of nursing, a nurse does nursing process. Quality of nursing care is an output of how effective and efficiency a nurse does their nursing process. The nurse performance appraisal within documentation nursing process seems to be the important way to get nurse performance on nursing process.

The objective of this study is to get information about nurse performance on nursing process documentation and its influenced factors. This study is a quantitative method with cross sectional study. Data analysis using Anova test, multiple linier regression and multivariate General Linier Model.

The study showed that nurse performance score in documentation nursing assessment, diagnosis, care plan, implementation and care evaluation as a combined dependent variable influenced by age, tenure, educational background, marital status, employment status, leadership, peer relationship, salary, supervision, organizational structure, work design, work facility and reward.

Based on study result, to increase the nurse performance, it is suggested that the management of Koja General District Hospital needs to make a policy that ensure all employee so that they can develop their abilities through education and training and create a conclusive situation that motivate employee to do their best performance such as supervision, salary, reward and career path.
Read More
B-637
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Waryantini; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Enie Rochaeni
Abstrak:

Pelayanan keperawatan sebagai salah satu subsistim pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan komponen sentral untuk terwujudnya pelayanan kesehatan yang bermutu. Keberhasilan pelayanan kesehatan yang bermutu ditentukan oleh berbagai faktor antara lain kualitas sumber daya manusia, sarana dan fasilitas, kebijakan yang ada serta manajemen rumah sakit. RSU Bina Sehat Kabupaten Bandung, dalam bidang keperawatan masih banyak menghadapi berbagai kendala. Rendahnya kinerja rumah sakit dengan nilai BOR (Bed Occupancy Rate) baru mencapai 4l,05%, tingkat keterlibatan perawat/bidan dalam upaya peningkatan kualitas layanan masih rendah, dan dari sisi manajemen RSU Bina Sehat belum memiliki konsep dan fondasi manajemen yang kuat. Dalam upaya meningkatkan manajemen dan kinerja perawat/bidan, pemerintah melalui Menteri Kesehatan mengeluarkan keputusan tentang Pedoman Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) Perawat dan Bidan yang tercantum dalam Kepmenkes RI Nomor 836/Menkes/SK/VU2005. Tujuan penelitian ini secara umum adalah menganalisis kesiapan RSU Bina Sehat dalam menerapkan PMK perawat/bidan melalui faktor input dan proses. Penelitian menggunakan metode deskriptif analitik dengan pendekatan kualitatif. Fokus penelitian adalah pada lini manajemen dan pelaksana yang berhubungan dengan keperawatan dan kebidanan. Dari hasil telaah dokumen, wawancara mendalam, dan FGD (Focus Group Discusion) menunjukkan bahwa Faktor Input PMK yaitu uraian tugas, SOP, SAK/SAB, pelatihan, sistem penghargaan, kecuali indikator kinerja, sudah dijalankan namun masih bersifat superfisial. Faktor Proses PMK yaitu monitoring, evaluasi, pengelolaan penyimpangan, diskusi refleksi kasus, dokumentasi asuhan keperawatan, dokumentasi asuhan kebidanan belum berjalan optimal sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dari hasil penilaian terhadap faktor-faktor tersebut RSU Bina Sehat tidak siap dalam menerapkan Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005 atau kesiapan baru mencapai 30%. Hambatan pelaksanaan PMK adalah kurangnya dukungan terhadap program, kurangnya kualitas dan kuantitas SDM , sarana dan prasarana masih kurang serta rendahnya motivasi kerja. Selain melengkapi kekurangan dari faktor input dan proses, dalam rangka menunjang kinerja dan sistem manajerial, secara umum diusulkan melalui 10 langkah perbaikan yaitu perbaikan struktur organisasi rumah sakit dan instalasi; kebijakan pimpinan rumah sakit; komitmen visi, misi, tujuan rumah sakit dari seluruh komponen rumah sakit; memupuk sifat kepemimpinan; peningkatan ketrampilan klinis dan manajerial; perbaikan deskripsi pekerjaan dan beban kerja; menilai kembali tata letak ruang rawat; melengkapi sarana dan alkes; memperbaharui sistem penghargaan; mengembangkan kerja tim dan pembelajaran.


 

Nursing service is, as a subsystem of health service in hospital, a central component to achieve quality heath service. The success of quality health service is dependent on the quality human resotuces, facilities and infrastructures, standing policies, and hospital management. Bina Sehat Hospital in Kabupaten Bandung is still facing many problems in nursing services including low perfomiance with 41.05 per cent of BOD (Bed Occupancy Rate) , low involvement of nulseslmidwives in the upgrading of quality service and Bina Sehat Hospital does not have solid concept and foundation of management. In an attempt to improve management and performance of nurses/midwives, the government of Indonesia through the Minister of Health has issued guidance on the development of performance management nurse/midwife in Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005. The objective of this study is to analyze the readiness of Bina Sehat Hospital in Development of Perfomance Management (DPM) nurse/midwife through input and process factor. This study employs descriptive analytic method with qualitative approach. The focus ofthe study is on the line management and execution related to nursing and obstetric. According to the results of document’s review, in-dept interview, and Focus Group Discussion, it is shown that input factors of DPM comprising of job description, Standard Operating Procedure (SOP), nursing/midwifery upbringing standard, training, reward system, except performance indicator, have already been operational yet still superficial. Process factors of DPM consisting of monitoring, evaluation, storage management, case reflection discussion, nursing documentation, obstetric documentation have not been optimal by the govemrnents’ rules and standards. Evaluation results on these factors, Bina Sehat Hospital is considered not ready yet in the implementation of Kepmenkes RI No. 836/Menkes/SK/VI/2005 as its readiness currently achieves only 30 per cent. The problems in implementing DPM nurse/midwife are the lack of support on the program, shortage in the quality and the quantity of human resources, shortage of facilities and infrastructure, and low work motivation. Apart from filling the gap in input and process factors, in supporting performance and managerial system, ten improvement steps are proposed are improve structural organization of hospital and installation; improve hospital management policies, committed vision, mission, objectives of the whole hospital components, nurture leadership, up-grade clinical and managerial skills, improvejob description and work load, review the lay out of nursing, add on facilities and health instrument, renew reward system, develop team work and learning system.

Read More
B-1174
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive