Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 17571 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Arius Jacub Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
T-134
Jakarta : FKM UI, 1983
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Hayuningtyas Mulya/ Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Hendra, Faisal Riza, Fatma Nurkhaerani
Abstrak:
Jenis pekerjaan yang memiliki peran sangat penting dalam kehidupan manusia salah satunya yaitu petugas kebersihan. Kasus kecelakaan kerja pada Petugas Kebersihan yang melakukan pengelolaan sampah kota sudah beberapa kali terjadi. Kabupaten Karawang merupakan kabupaten dengan jumlah pertumbuhan penduduk tertinggi di Jawa Barat pada tahun 2021. Dengan laju pertumbuhan penduduk yang tinggi maka peningkatan jumlah timbulan sampah serta pengelolaannya juga meningkat. Sementara, penilaian risiko keselamatan pada proses pengelolaan sampah khususnya di Kab. Karawang belum pernah dilakukan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penilaian risiko keselamatan kerja pada proses pengelolaan sampah oleh petugas kebersihan DLH Kabupaten Karawang agar risiko dapat teridentifikasi dan dilakukan pengendalian risiko yang memadai. Hasil penilaian risiko keselamatan pada pengelolaan sampah oleh petugas kebersihan DLH Karawang menunjukkan adanya bahaya fisik, kimia, dan biologi dengan tingkat risiko acceptable, tolerable, dan not acceptable. Sehingga, diperlukan pengendalian tambahan untuk menurunkan tingkat risiko tolerable, dan not acceptable.

One type of work that has a very important role in human life is waste workers. There have been several cases of work accidents involving waste workers who carry out municipal waste management. Karawang Regency is the district with the highest population growth in West Java in 2021. With a high population growth rate, the increase in the amount of domestic waste and its management will also increase. Meanwhile, the safety risk assessment in the waste management process, especially in Kab. Karawang has never been done. Therefore, it is necessary to carry out an occupational safety risk assessment in the waste management process by the waste workers of DLH Karawang so that risks can be identified and adequate risk control carried out. The results of the safety risk assessment in waste management by waste workers of DLH Karawang show that there are physical, chemical and biological hazards with acceptable, tolerable and not acceptable risk levels. Thus, additional controls are needed to reduce tolerable and not acceptable risk levels.
Read More
T-6810
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adik Wibowo
P 362.11 WIB p
Jakarta : FKM UI & Dinkes DKI, 1984
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adik Wibowo
LP 362.11 WIB p
Jakarta : FKM UI, 1984
Laporan Penelitian   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Kurniasari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Syahrul Efendi Panjaitan, Rudy Saptari Sulesuryana
Abstrak: Emisi mesin diesel (diesel exhaust) merupakan bahan yang karsinogenik terhadap manusia (grup 1 IARC). Sektor transportasi merupakan penyumbang terbesar diesel exhaust di udara. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) merupakan komponen yang banyak ditemukan dalam diesel exhaust. 1-Hidroksipirena (1-OHP) merupakan metabolit pyrene yang digunakan sebagai penanda adanya pajanan PAH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi 1-OHP dalam urin terkait dengan pajanan diesel exhaust pada pekerja uji mekanis di Pusat Pengujian Kendaraan Bermotor Cilincing. Pajanan diesel exhaust diukur melalui konsentrasi personal PM2,5, PM1, PM0,5, dan PM0,25. Penelitian dilakukan pada 19 petugas uji mekanis dan 18 orang pembanding. Pengukuran partikulat dilakukan menggunakan pompa Leland Legacy dengan Sioutas Cascade Impactor. Analisis 1-OHP dalam urin dilakukan menggunakan HPLC dengan detektor fluoresensi. Distribusi frekuensi 1-OHP dalam urin berkisar antara 11,72 - 61,88 μg/gr kreatinin urin. Hasil analisis menunjukkan terdapat rata-rata konsentrasi 1-OHP petugas uji mekanis signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pembanding (p=0,001). Terdapat korelasi positif dengan derajat keeratan kuat antara konsentrasi partikulat pada semua ukuran dengan konsentrasi 1-OHP dalam urin. Partikulat yang dihasilkan dari emisi mesin diesel merupakan kontributor utama terhadap peningkatan konsentrasi 1-OHP dalam urin petugas uji mekanis PKB Cilincing. Kata kunci: 1-Hidroksipirena, emisi diesel, particulate matter, petugas uji mekanis, pengujian kendaraan bermotor. Diesel engine exhaust is categorized as carcinogenic to human (group 1) by IARC in 2012. Transportation is the biggest contributor of diesel exhaust pollutant. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) are the major compound of diesel exhaust that can be found on gas and particle phases. 1-Hydroxypyrene (1-OHP), a metabolite of pyrene, has been used extensively as a biological monitoring of exposure to PAHs. This study aimed to analyze the concentration of urinary 1-OHP related to diesel engine exhaust among vehicle testing mechanics at vehicle testing center Cilincing, Jakarta. Diesel exhaust exposure was measured by personal concentration of PM2,5, PM1, PM0,5, dan PM0,25. The subject was 19 vehicle testing mechanics and 18 non-mechanics as a comparator. Personal concentration of particulate matter collected using Leland Legacy pump and Sioutas Cascade Impactor and analyzed using gravimetric method. Urinary 1-OHP analyzed using High Performance Liquid Chromatography with fluorescence detector. Concentration of urinary 1-OHP ranging from 11,72 to 61,88 μg/gr creatinine. The result show that mean concentration of 1-Hydroxypyrene of mechanic group is significant higher than non-mechanic group (p=0,001). There is a positive correlation between particulate matter concentration in all size and urinary 1- hydroxypyrene concentration. In this study, particulate related to diesel engine exhaust is the main contributor of the increasing of urinary 1-hydroxypyrene concentration among vehicle testing mechanics. Key words: 1-Hydroxypyrene, diesel exhaust, particulate matter, vehicle testing
Read More
T-4927
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Elisabet Butarbutar; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Syahrul Efendi Panjaitan, Rudi Saptary
Abstrak: Diesel particulate matter baik fine maupun ultrafine particulate berkontribusi terhadap pajanan personal harian pekerja. Pajanan diesel particulate matter dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka waktu panjang dapat mengganggu kesehatan. Gangguan kesehatan tersebut antara lain menyebabkan perubahan glukosa, HbA1c dan lipid. Penelitian ini merupakan penelitian analitik yang bertujuan menganalisis pajanan diesel particulate matter yang dikaitkan dengan peningkatan HbA1c dalam darah. Sampel penelitian adalah petugas uji mekanis berjumlah 18 orang dan 13 petugas administrasi di Unit Pengelola Pengujian Kendaraan Bermotor Cilincing dan 18 kelompok pembanding. Adapun variable penelitian adalah pajanan diesel particulate matter, kadar HbA1c, usia, Indeks Masa Tubuh (IMT), lama kerja, dan kebiasaan merokok. Pengukuran pajanan particulate matter menggunakan pompa Leland legacy dan Sioutas cascade impactor dan perhitungan konsentrasi pajanan menggunakan metode gravimetric. Penimbangan filter debu hasil sampling menggunakan alat Neraca Mikro Mettler Toledo. Pengukuran kadar HbA1c dalam darah bekerja sama dengan Laboratorium Kesehatan. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang kuat dan berkorelasi positif antara konsentrasi pajanan personal PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 dan PM0.25 dengan tingkat kadar HbA1c dalam darah. Kata Kunci : Diesel Particulate Matter (PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 dan PM0.25), HbA1c, Pusat Pengujian Kendaraan Bermotor Diesel particulate matter both fine and ultrafine particulate contribute to daily personal exposure of workers. Exposure to diesel particulate matter in the short term and in the long term can disrupt health. These health problems include changes in glucose, HbA1c and lipids. This study is an analytical study that aims to analyze the exposure of diesel particulate matter associated with increased HbA1c in the blood. The samples were mechanical test officer totaling 18 people and 13 administrative officers in Cilincing Motor Vehicle Testing Unit and 18 comparison groups. The research variables are diesel particulate matter exposure, HbA1c level, age, body mass index (BMI), length of service, and smoking habit. Measurement of particulate matter exposure using Leland legacy and Sioutas cascade impactor pumps and calculation of exposure concentration using gravimetric method. Weighing of sampling dust filter using Mettler Toledo Micro Balance tool. Measurements of HbA1c levels in the blood work in conjunction with the Health Laboratory. The results showed a strong and positively correlated relationship between the personal exposure concentrations of PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 and PM0.25 with levels of HbA1c in the blood. Keywords: Diesel Particulate Matter (PM10, PM2.5, PM1, PM0.5 and PM0.25), HbA1c, Motor Vehicle Testing Center
Read More
T-5036
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas Indo. (MKMI), XXVI, No.10, Nop., 1998: hal. 535-538
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febyona Jolest Puteri; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Abdul Kadir, Mufti Wirawan, Encik Putri Ema Komala, Edy Prasetiyo
Abstrak:
Petugas pemadam kebakaran dan penyelamatan memegang peranan krusial namun berisiko tinggi menghadapi beban psikososial ekstrem. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan distres kerja pada petugas Bidang Operasi Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Provinsi DKI Jakarta tahun 2026. Metodologi yang digunakan adalah metode campuran sekuensial eksplanatori (Mixed Methods Sequential Explanatory Design) yang mengombinasikan fase kuantitatif melalui kuesioner Survei Diagnosis Stres Kerja (SDSK) berdasarkan Permenaker No. 5 Tahun 2018 kepada 42 responden (total sampling), dengan fase kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 5 petugas lapangan, 1 akademisi ahli psikososial, dan 1 perwakilan manajemen. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada kategori distres tingkat sedang di seluruh variabel, dengan prevalensi tertinggi pada variabel Beban Berlebih Kualitatif sebesar 83% (35 orang), diikuti oleh Konflik Peran (69%) dan Tanggung Jawab Terhadap Orang Lain (69%). Sebaliknya, hasil uji statistik bivariat (Chi-Square) menunjukkan tidak adanya hubungan signifikan (p> 0,05) antara variabel arena individu (usia dan masa kerja) dan seluruh indikator stresor kerja. Namun demikian, temuan kualitatif secara mendalam berhasil mengungkap bahwa distres petugas secara nyata dipicu oleh paparan insiden traumatis ekstrem (menyaksikan kematian rekan kerja dan evakuasi korban luka bakar), ancaman kekerasan verbal/fisik dari warga, fenomena stres akibat kebosanan (underload) selama piket siaga 24 jam di tingkat pusat komando, Work-Family Conflict akibat benturan jadwal dinas dengan waktu keluarga, serta stagnasi pengembangan karir karena dualisme jabatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun faktor demografi individu tidak berhubungan secara statistik, stresor di arena kerja dan arena rumah berkontribusi besar terhadap distres petugas. Disarankan agar instansi memperkuat sistem manajemen risiko psikososial, mengadakan program latihan rutin terstruktur untuk memitigasi underload, serta menyediakan layanan konselor internal untuk menjaga kesejahteraan psikologis petugas.

Fire and rescue personnel play a crucial role but face a high risk of extreme psychosocial burdens. This study aims to analyze the factors associated with work distress among operational personnel at the Fire and Rescue Service (Dinas Gulkarmat) of DKI Jakarta Province in 2026. The methodology employed was a Mixed Methods Sequential Explanatory Design, which combined a quantitative phase using the Work Stress Diagnosis Survey (SDSK) questionnaire based on Ministry of Manpower Regulation No. 5 of 2018 administered to 42 respondents (total sampling), followed by a qualitative phase via in-depth interviews with 5 field officers, 1 psychosocial expert academic, and 1 management representative. Univariate analysis results revealed that the majority of respondents experienced moderate distress across all studied variables, with the highest prevalence found in Qualitative Overload at 83% (35 personnel), followed by Role Conflict (69%) and Responsibility for Others (69%). Conversely, bivariate statistical testing (Chi-Square) indicated no significant relationship (p > 0.05) between individual arena variables (age and tenure) and any of the work stressor indicators. Nonetheless, in-depth qualitative findings clearly revealed that personnel distress is actively triggered by exposure to extreme traumatic incidents (witnessing the death of colleagues and evacuating severely burned victims), threats of verbal or physical violence from citizens, boredom-induced stress (underload) during 24-hour standby shifts at the command center, due to clashes between duty schedules and family time, and career development stagnation stemming from structural-functional position dualism. This study concludes that while individual demographic factors are not statistically related, stressors within the work and home arenas significantly contribute to personnel distress. It is recommended that the institution strengthen its psychosocial risk management system, establish structured routine training programs to mitigate underload, and provide internal counseling services to safeguard the psychological well-being of the personnel.
Read More
T-7585
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sehatman
MPPK XVI, No.4
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2006
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Hernowo; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Krisnawati Bantas, Lukman Hakim Tarigan, Gindo Simanjuntak, Paripurna Harimuda
Abstrak:

Daerah Khusus Ibu kota (DKI) Jakarta yang merupakan daerah rawan banjir angka kesakitan dan kematiannya mengalami peningkatan yaitu dari Januari sampai dengan akhir Mei terjadi sebanyak 144 kasus leptospirosis dengan jumlah kematian sebanyak 21 orang. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira yang menyerang hewan dan manusia. Bakteri Leptospira masuk dalam tubuh melalui selaput lendir, luka lecet, maupun melalui pori-pori kulit , kemudian akan menjalar melalui peredaran darah ke berbagai bagian tubuh. Peningkatan kejadian leptospirosis ini timbul bersamaan dengan terjadinya banjir di DKI Jakarta. Kejadian leptospirosis dipengaruhi oleh beberapa faktor kesehatan seperti kebersihan perorangan dan faktor perubahan lingkungan karena banjir.Penelitian ini bertujuan untuk menilai hubungan faktor kebersihan perorangan dengan kejadian sakit Leptospirosis pada kejadian luar biasa leptospirosis di DKI Jakarta. Disamping itu jugs menilai hubungan variabel covarial terhadap kejadian Leptospirosis. Rancangan penelitian ini adalah rancangan kasus kontrol dengan pengolahan data menggunakan analisis regresi logistik multivariate.Hasil penelitian menunjukan bahwa kebersihan perorangan (Nilai p = 0,01, OR=4,62) mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian leptospirosis. Variabel covariat seperti jenis kelamin, pekerjaan/profesi, penangkapan tikus, perubahan lingkungan akibat banjir dan pemeliharaan ternak secara statistik tidak mempunyai hubungan yang bermakna dengan kejadian leptospirosis. Sedangkan varibel covariat lainnya seperti kelompok umur, dan pemakaian sepatu bot dan sarung tangan perubahan lingkungan secara statistik mempunyai hubungan yang bermakna terhadap kejadian leptospirosis. Setelah dilakukan uji interaksi dan confounding pada analisis multivariat ternyata tidak ada satu pun variabel covariat yang mengganggu terhadap hubungan variabel kebersihan perorangan dengan kejadian leptospirosis.Dari hasil penelitian ini disarankan perlu dilakukan program penyuluhan kepada masyarakat tentang peranan kebersihan perorangan terhadap kejadian leptospirosis begitu juga kepada pekerja/profesi yang berisiko agar melindungi dirinya dengan memakai sepatu bot dan sarung tangan pada saat kontak dengan genangan air atau lumpur diwaktu bekerja.


 

The Relationship of Personal Hygiene and Leptospirosis outbreak in Jakarta, 2002Jakarta is one of place have flood potential, the morbidity and mortality rates were increased, from January until the end of May there were 444 cases of Leptospirosis, with the number of death were 21 people. This disease is caused by infection of Leptospira bacteria that attacked animal and human being. The Leptospira bacteria entering body through mucous membrane, scratch injure or skin pores, and then spread through blood circulation to other parts of the body. Increase of Leptospirosis case was occurred together with the flood in Jakarta The Leptospirosis is influenced by some health factors, such as personal health and the changes of environment due to floodThe objective of this study is to assess the relationship of personal hygiene factor and the Leptospirosis regarding of Leptospirosis outbreak in Jakarta. Besides, it is also to 'assess the relationship covariant variable to the occurring disease of Leptospirosis. The study design used control cases; the data is processed by regression logistic multivariate.The result of study showed that personal hygiene (p value = 0.01, OR = 4,62) has significant relationship to the occurring of Leptospirosis. The covariant variable such as sex, profession, mouse catching, environmental changing and animal care statistically is not having significant relationship to Leptospirosis disease. While other covariant variable, such as age group, the using of boot shoes and glove, and environmental changing statistically has significant relationship to Leptospirosis.After conducting interaction test and confounding on multivariate analysis, the fact is not any covariant variable that disturbing to the relationship of personal health variable and Leptospirosis.  Based on this study, it is recommended to do a program on education to the community on the role of personal health to Leptospirosis disease. It is also recommended to the worker or professions who have a risk to Leptospirosis to prevent themselves by using boot shoes and glove during contact with stagnant water or mud while they are working.

Read More
T-1406
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive