Ditemukan 32114 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tuberkulosis merupakan penyakit yang penting untuk ditangani. Penemuan penyakit ini pada anak usia balita (0 - 60 bulan) merupakan hal yang sulit, Pemaparannya pada anak dilihat melalui status mantouxnya. Permasalahan seringkali muncul tanpa disadari pada saat infeksi primer berubah menjadi bentuk klinis melalui kuman yang tidur (dormant} dalam tubuh. Untuk itu, penanganan perlu dilakukan dengan memperhatikan segala potensi risiko yang ada, termasuk risiko penularan melalui kondisi fisik rumah (pencahayaan, kelembaban, ventilasi, kepadatan penghuni rumah).Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan desain cross sectional, berlokasi di wilayah Puskesmas Cimahi Tengah, Cicalengka dan Baleendah Kabupaten Bandung. Populasi penelitian berjumlah 217 orang anak usia balita yang tinggal serumah dengan penderita TB paru BTA (+). Sampel diperoleh dengan cara random sederhana sebanyak 160 orang.Balita sebanyak 68,1% mempunyai status mantoux positif, mereka sebagian besar adalah pria (50,6%) dan berumur 12-60 bulan (85%). Kondisi lingkungan fisik rumah berupa kelembaban, pencahayaan dan ventilasi tidak berhubungan dengan status mantoux (p>0,05). Variabel kovariat berupa variabel demografi (umur, jenis kelamin), respon individu (status gizi dan BCG, perilaku meludah, tidur, minum obat dan menjemar peralatan tidur) juga tidak berhubungan (p>0,45). Kepadatan penghuni sebagai salah satu variabel utama berhubungan bermakna dengan status mantoux. Demikian pula dengan variabel perilaku menutup batuk, pengetahuan tentang obat TBC dan pengetahuan tentang menghentikan pengobatan (p<0,05). Hasil analisis interaksi menunjukkan bahwa tidak ada variabel interaksi yang bermakna.Kesimpulan utama memperlihatkan bahwa dari empat variabel utama mengenai kondisi fisik rumah, hanya variabel kepadatan penghuni yang berhubungan bermakna dengan status mantoux balita (p=0,005, OR=3,2). Hal ini diduga dipengaruhi oleh perilaku menutup batuk (p=0,007, OR-3,3), pengetahuan tentang obat TBC (p=0,009, OR=3,5) dan pengetahuan tentang menghentikan pengobatan (p=0,029, OR=2,7).Disarankan balita menjadi bagian dari sasaran program TB paru. Penanganan bisa dimulai dari penyediaan informasi balita berisiko, pemetaan, pembuatan pojok TB di Puskesmas dan konseling pada penderita, dan memodifikasi KMS. Penelitian lain yang serupa perlu dikembangkan dengan memperhatikan keterbatasan yang ada pada penelitian ini.Daftar bacaan : 50 (1972 - 2001)
Relation of Housing Physical Environmental Factor with Mantoux Status to The Children below 5 Years of Age in Bandung Regency in 2001Tuberculosis is a critical disease to be handled urgently. To know early this disease at children below 5 years of age (0-60 months) is quiet difficult. Its expose to the children can be seen through its mantoux status. The problem frequently appears without knowing at primary infection changing into clinical form by dormant germ in body. Therefore, the handling is necessarily done with caring any available risky factor, including epidemical risk by housing physical condition (lighting, humidity, ventilation, housing occupant population).This research uses secondary data with cross sectional design, located in Puskesmas Cimahi Tengah area, Cicalengka and Baleendah, Bandung regency. Research population is amounted 217 children below 5 years of age who lived at the same house with TB lungs BTA (+) sufferer. The samples are obtained with simple random methodology effected by 160 persons.68,1% children below 5 years of age posses positive mantoux status, most of them are male (50.60%) and age is 12-60 months (85%). Housing physical environmental condition which has a humidity, lighting and ventilation doesn't relate with mantoux status (p>0,05). Covariate variable is a demography variable (age, sex), individual response (nutrious status and BCG, spitting behaviour, sleeping, drinking medicine and surbathing bed tools) also not to correlate with (p>0.05). Inhabitant population is one of mail variable of significant correlation mantoux status. Furthermore it is the same as behaviour variable closes the cough, the knowledge concerning TBC medicine and how to stop the treatment (p<0.05). Interaction analysis result proved that there was no significant interaction variable.The main conclusion showed that from 4 (four) main variables concerning physical house condition, it is only urbant population variable which related significantly with children below 5 years of age mantoux status (p-0.006, OR=3.2). It is probably influenced by the behaviour not to close the cough (p=0,007, OR=3.3), the knowledge about TBC (p =0.009, OR=3 .5) and how to the treatment (p= 0.029, OR=2.7).We are recommended that the children below 5 years of age become a part of lungs TB program target. The handling can be begun from information providing for the risked children below 5 years of age, mapping, building up TB corner at Puskesmas and conseling to the sufferer and modificating KMS (health card).. Another research which is familiar needs to be developed with caring available limitation on this research.Reference list : 50 (1972 - 2001)
Dari laporan Rumah Sakit di kota Cirebon diperoleh data mengenai jumlah BBLR tahun 2000 sebesar 333 bayi dari 3388 bayi yang lahir hidup (11,55 %). Data tersebut memang belum menggambarkan keadaan BBLR di kota Cirebon yang sesungguhnya oleh karena data yang ada dan terkumpul hanya berasal dari rumah sakit saja, belum mencakup semua Puskesmas di kota Cirebon. Sedangkan dan pola kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon tahun 2000 menunjukkan bahwa BBLR merupakan penyebab kematian nomor 3 dari penyebab kematian bayi umur 0 - 28 hari yang rawat inap di rumah sakit kota Cirebon. Kegiatan pelayanan antenatal tingkat kota Cirebon dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2001 menunjukkan hasil yang kurang memuaskan karena masih di bawah target angka cakupan pelayanan antenatal nasional dan selisih antara K1 dan K4 masih besar yaitu diatas 10%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dengan kejadian BBLR di kota Cirebon dengan mengendalikan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya. Rancangan penelitian ini adalah kasus kontrol tidak. berpadanan. Responden pada penelitian ini berjumlah 250 orang yang terdiri dari 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan BBLR (kasus) dan 125 orang ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan normal (kontrol) selama periode .fanuari 2001 ski Juni 2002. Data diolah dengan analisis statistik univariat, bivariat dan analisis multivariat dengan menggunakan regresi logistik. Penelitian menunjukkan bahwa kejadian BBLR pada ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas rendah mempunyai peluang 2,92 (1,40 - 6,06) kali lebih besar dibandingkan dengan ibu hamil yang memanfaatkan pelayanan antenatal dengan kualitas baik setelah dikontrol variabel jarak kelahiran. Perlu diadakan kunjungan rumah terutama pada kelompok ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan untuk memotivasi agar pada kehamilan berikutnya mau memanfaatkan pelayanan antenatal dengan baik, demikian juga dalam perencanaan maupun kebijakan Dinas Kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal sebaiknya mengalokasikan anggaran Puskesmas lebih memprioritaskan pada ibu hamil yang mempunyai riwayat pemanfaatan pelayanan antenatal yang jelek dan jarak kelahiran yang kurang dari 24 bulan. Selain itu perlu juga diadakan penelitian lebih lanjut yang berkaitan dengan kualitas pemanfaatan pelayanan antenatal dan kejadian BBLR dengan menggunakan rancangan penelitian kohort prospektif.
The Relationship between the Quality of Antenatal Care Utilization and the Prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City, 2001-2002Based on hospital reports in Cirebon City, the number of Low Birth Weight (LBW) in the year 2000 is. 333 out of 3,388 live birth infants (11.55%). The data could not describe the real situation of Low Birth Weight in Cirebon City, since the data is only collected from hospitals, not from the entire Health Centers in Cirebon City. Based on the hospital data in Cirebon City in the year 2000, Low Birth Weight was the third highest caused of inpatient neonatal (infant's age 0-28 days) death. Data between 1999 - 2001 showed that Antenatal Care (ANC) in Cirebon City was not satisfactory. The percentage was still below the national target of ANC and the gap between K1 and K4 was still high (more than 10%), The objective of this study is determine the relationship between the quality of Antenatal Care utilization and the prevalence of Low Birth Weight at Health Centers in Cirebon City by controlling its confounding factors. The design of this study is non-matching case control with. The number of respondents in this study was 250 that consisted of 125 mothers who gave birth with LBW as a case group birth and 125 mothers who gave birth normal weight infant during the period of January 2001 - June 2002. Bivariate and univariate analysis was conducted as well as multivariate analysis by using logistic regression analysis. The result of this study showed that mothers who utilized bad (low) quality of ANC had the tendency to have LBW 2.92 times higher (L40-6.06) compared to mothers who utilized good (high) quality ANC, controlled by distance of birth variable. The study recommended to provide neonatal visit especially to mothers with bad quality of ANC history and the distance of birth less than 24 months. The activities aimed to motivate mothers to conduct good ANC in the next pregnancy. It is also suggested that in term of the improvement of quality of ANC utilization, the Local Health Service plan and policy will allocate health services budget, and should give priority to those mothers who is having bad ANC. In addition, it is also needed to conduct a further study related to quality of ANC utilization and prevalence of LBW by using cohort perspective design.
