Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35480 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ony Linda; Pembimbing: Syafri Guricci
T-735
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djasmidar A.T.; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Abas Basuni Jahari, Asih Setiarini, Tanti Herawati, Ramchan Raoef
Abstrak:

Salah satu upaya agar memperoleh sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas di masa datang dengan memperhatikan keadaan gizi balita umumnya dan anak usia 6-17 bulan khususnya. Kemiskinan erat hubungannya dengan keadaan gizi balita, karena keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan dasar antara lain makanan. Umumnya anak yang hidup di dalam keluarga miskin menderita gangguan pertumbuhan dan kurang gizi, tetapi kenyataannya dalam keadaan sosial ekonomi miskin masih terdapat anak-anak dengan status gizi baik, sehingga timbul pertanyaan faktor-faktor apakah yang menyebabkan anak keluarga miskin mempunyai status gizi baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan pada keluarga miskin di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Barat. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross sectional) dengan jumlah sampel yang diolah 479 orang anak dari 540 orang anak yang ada pada studi penyimpangan positif masalah KEP di Jakarta Utara, kabupaten Bogor dan kabupaten Lombok Timur. Hasil penelitian melaporkan proporsi gizi baik pada anak usia 6-17 bulan di Jakarta Utara 64,7%,kabupaten Bogor 63,1%, kabupten Lombok Timur 59,3% dan secara keseluruhannya 62,4%. Hasil uji chi-square menunjukkan ada hubungan yang bermakna (p<0,05) asupan energi dan asupan protein dengan status gizi baik anak usia 6-1.7 bulan di Jakarta Utara, ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Bogor, ada hubungan yang bermakna pola asuh anak dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di kabupaten Lombok Timur dan ada hubungan yang bermakna pengetahuan ibu tentang gizi dan keadaan rumah dengan status gizi basi anak usia 6-17 bulan pada total di tiga lokasi penelitian. Hasil analisis multivariat regresi logistik ganda juga menunjukkan bahwa faktor yang paling dominan berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan adalah asupan protein di Jakarta Utara, pengetahuan ibu tentang gizi di kabupaten Bogor, pola asuh anak di kabupaten Lombok Timur dan keadaan rumah pada total di tiga lokasi penelitian. Dan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa proporsi gizi baik masih rendah dan adanya variasi faktor dominan yang berhubungan dengan status gizi baik anak usia 6-17 bulan di daerah miskin. Untuk itu Dinas Kesehatan kabupaten/kota dalam perencanaan perbaikan status gizi anak usia 6-17 bulan di daerah miskin tidak disamakan di semua lokasi tetapi dibedakan dengan melihat faktor dominan dimasing-masing lokasi dan perlunya perbaikan lingkungan perumahan yang disertai dengan penyuluhan perilaku hidup sehat. Untuk Puskemas perlu meningkatkan pengetahuan ibu tentang gizi melalui program promosi gizi seimbang di masyarakat.


 

Factors Related to Good Nutritional Status of Children Age 6-17 Months Old Among Poor Families in Northern Jakarta, Bogor District, and Eastern Lombok District in 1999. (Secondary Data Analysis)Among others, concern on under five nutritional status in general and children age 6-17 months old in particular is one important effort to improve the quality of human resource in the future. Poverty is closely related to the nutritional status of under five due to limitation to fulfill basic needs including food In general, children live within poor families suffered from growth retardation and under nutrition. However, within the poor socioeconomic environment, children with good nutritional status still can be found. This raises questions on what factors contribute to good nutritional status among poor families. The aim of this study is to investigate factors related to good nutritional status of children age 6-17 months old among poor families in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district in 1999. Design of this study is cross sectional with number of sample of analysis 479 out of 540 children who were included in the positive deviance study on protein energy malnutrition in Northern Jakarta, Bogor district, and Eastern Lombok district. The study shows the proportion of children age 6-17 months old with good nutritional status are 64.7% in Northern Jakarta, 63.1% Bogor district, 59.3% in Eastern Lombok and the overall proportion is 62A%. The chi square test exhibits. significant association (p<0.45) between energy and protein intakes with good nutritional status among children age 6-17 months old in Northern Jakarta, significant association between mother's nutrition knowledge with good nutritional status among children age 6-17 months old in Bogor district, significant association between child care practices and good nutritional status among children age 6-17 months old in Eastern Lombok district, and significant association between mother's nutrition knowledge and house condition with good nutritional status among children age 6-17 months old. Multiple logistic regression analysis shows that the most dominant factors for good nutritional status among children age 6-17 months old are protein intake in Northern Jakarta, mother's nutrition knowledge in Bogor district, child care practices in Eastern Lombok district, and house condition for overall places. The study result concludes that the proportion of good nutritional status is still low and there is variation of dominant factors related to good nutritional status among children age 6-17 months old in poor areas. District Health Service have to consider the variation of determinant by making the planning of improvement of nutritional status not similar to the other districts. The planning has to be based on the real situation and the determinants which have been identified as main caused of nutritional status in each districts. There is a need to improve mother's nutrition knowledge through promotion of balance of nutrition and through promotion of nutrition in Posyandu as well as innovation of affordable nutrition balance.

Read More
T-1488
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imannuel Sitepu; Pembimbing: Kusharisupeni, Diah M. Utari; Penguji: Yvone M. Indrawani, Anis Irawati, Iip Syaiful
Abstrak:

Status gizi baik anak baduta keluarga miskin merupakan suatu keadaan bahwa diantara anak baduta yang hidup di lingkungan dan kondisi dengan sosial ekonomi yang rendah terdapat anak baduta dengan status gizi baik (63,9%). Dalam situasi dan tekanan ekonomi yang terjadi mereka dapat beradaptasi untuk bertahan dan mempunyai kemampuan untuk tumbuh dan berkembang dengan baik dibandingkan dengan anak-anak lainya. Faktor-¬faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak baduta gakin antara lain karakteristik ibu (pengetahuan gizi, pendidikan, pekerjaan), karakteristik anak (berat lahir, umur awal pemberian MP-ASI), karakteristik keluarga (jumlah anggota keluarga, keadaan rumah tinggal, jumlah balita dalam keluarga, urutan anak, biaya pengeluaran pangan rumah tangga), pola makan (konsumsi energi, konsumsi protein, status pemberian ASI), riwayat penyakit infeksi (ISPA, diare), pola asuh (gizi, kesehatan). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui garnbaran status gizi anak baduta keluarga miskin di wilayah Puskesmas Sambas dan faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi baik anak baduta tersebut. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah sampel 190 orang (total sampel) dan untuk melengkapi informasi dilakukan pendekatan kualitatif melalui Focus Group Discussion (FGD) pada kelompok ibu dengan anak status gizi baik dan kelompok ibu dengan anak status gizi kurang. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis univariat, bivariat dengan uji chi square dan multivariat dengan uji regresi logistik dan tingkat kemaknaan p≥0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi gizi baik anak baduta gakin 48,4%, pada analisis bivariat hubungan variabel pengetahuan gizi ibu, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, berat lahir anak, umur awal pemberian MP-ASI, jumlah anggota keluarga, jumlah balita dalam keluarga, status pemberian ASI, riwayat penyakit infeksi, perilaku gizi dan kesehatan ibu dengan status gizi anak baduta secara staistik terbukti bermakna dengan (p<0,05), sedangkan hubungan keadaan rumah tinggal, urutan anak, konsumsi energi protein dengan status gizi anak baduta tidak terbukti bermakna dengan (p>0,O5). Hasil analisis multivariat menunjukkan variabel yang paling menonjol (dominan) adalah umur awal pemberian MP¬ASI setelah dikontrol oleh variabel pengetahuan gizi ibu, jumlah balita dalam keluarga, berat tahir anak dart penyakit infeksi. Berdasarkan basil penelitian ini disimpulkan bahwa proporsi gizi baik makin menurun dan adanya beberapa faktor dominan yang berperan terhadap status gizi baik anak baduta di daerah miskin. Oleh karena itu maka saran lebih ditujukan pada usaha-usaha promosi gizi dan kesehatan terutama menyangkut faktor-faktor tersebut oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas.Untuk Puskesmas perlu dipikirkan berbagai cara pendekatan dalam rangka penjangkauan kelompok berisiko seperti bumil, ibu menyusui, WUS sehingga informasi mengenai gizi dan kesehatan akan dapat dengan mudah disebarkan dan diserap antara lain dengan menambah frekuensi penyuluhan terutama kelompok rawan gizi di daerah miskin.


Good nutrient status of under two years old children of poor families is a condition that among under two years old children living in an environment and low social economic condition there are under two years old children possessing good nutrient status (63.9%). In the situation with such economical pressure, they can adapt to survive and having good ability to grow and develop compared to other children. Factors related to the good nutrient status of this under two years old children are characteristic of mother ( nutrient knowledge, education, occupation), children's characteristic (born weight, age of first complementary food consumption), family's characteristic ( number of family member, situation of the house, number of children under five years old in the family, order of children, spending budget for food), food pattern (energy consumption, protein consumption, status of mother's milk consumption), history of infectious disease (respiratory tract infection, diarrhea), caring pattern (nutrition, health). The purposes of the research were to describe the nutrient status of under two years old children of the poor families in the local area of Sambas Public Health Centre and to determine factors related with good nutrient status of the under two years old children. The research used cross sectional design with totally 190 persons as sample and for completion of information, qualitative approach through Focus Group Discussion in the. group of mother possessing children with good nutrition status and with bad nutrition status was performed. The obtained data were analyzed using univariate, bivariate analysis with chi-square test and multivariate with regression logistic test using degree of significance p ?0,05. The research results showed that proportion of under two years children possessing good nutrient was 48.4%. Based on bivariate analysis, statistically there is significant correlation of nutrient knowledge of mother, mother education, mother occupation, children born weight, age of first complementary food consumption - mother' milk, number of family member, number of children under five years old in the family, status of mother's milk consumption, history of infectious disease, nutrient behavior and mother's health with the nutrient status of under two year old children (p<0,05). However, there is not significant correlation of house situation, order of children, energy consumption, protein consumption with the nutrient status of under two years old children (p>0,05). Multivariate analysis showed that the most dominant variable was age of first complementary food consumption-mother's milk) after controlled by variable of nutrient knowledge of mother, number of children under five years old in the family, children born weight and infectious disease. Based on the research's results, it is concluded that the proportion of good nutrient get lower and someof dominant factors contributing to good nutrient status of under two years children in poor area were observed. Therefore, the Public Health Service of the city of Sambas is suggested to carry out promotion of nutrition and health, approach ways to reach the risk groups such as pregnant women, breast feeding mother and women in productive age, so that information about nutrition and health is spread and absorbed easily by adding the frequency of illumination especially to the nutrition disturbed groups in the poor area.

Read More
T-2210
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Fauzan Antyanta; Pembimbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Ahmad Syafiq, Alfanissa Ilmaladuni
Abstrak:
Permasalahan gizi balita, yaitu gizi kurang, berat badan kurang dan berat badan tidak naik, merupakan masalah gizi yang masih tinggi prevalensinya secara nasional. Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menerapkan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) berbahan pangan lokal sebagai salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut, termasukoleh Puskesmas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan peningkatan status gizi pada balita bermasalah gizi usia 0-59 bulan dalam program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal di wilayah kerja Puskesmas Tanjung Priok tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sampel balita gizi kurang usia 0-59 bulan berjumlah 134 balita yang telah mengikuti program pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal pada tahun 2025. Variabel independe meliputi faktor balita (usia balita, jenis kelamin balita, ASI eksklusif, PMT yang dihabiskan, penyakit infeksi dan imunisasi) dan faktor orang tua (pendidikan ayah dan ibzu, status pekerjaan ayah dan ibu dan jumlah anak dalam keluarga). Uji statistik chi square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel yang diteliti. Hasil menunjukkan bahwa sebanyak 52,2% balita mengalami kenaikan status gizidan terdapat hubungan yang signifikan antara usia balita dengan peningkatan status gizi mereka (p-value = 0,001).

Nutritional problems of toddlers, namely malnutrition, underweight and weight faltering, are nutritional problems that still have a high prevalence nationally. To address this problem, the government implemented a local food supplementary feeding program as one of the efforts to overcome this problem. The local food supplementary feeding program is implemented by the Tanjung Priok Community Health Center in North Jakarta. The purpose of this study was to identify factors related to improving the nutritional status of toddlers with nutritional problems aged 0-59 months in the local food supplementary feeding program in the Tanjung Priok Community Health Center working area in 2025. This study used a cross-sectional study design with a sample of 134 malnourished toddlers aged 0-59 months who had participated in the local food supplementary feeding program in 2025. Independent variables included toddler factors (toddler age, toddler gender, exclusive breastfeeding, PMT consumed, infectious diseases and immunizations) and parental factors (father's and mother's education, father's and mother's employment status and number of children in the family). The chi-square statistical test was used to see the relationship between the studied variables. The results showed that 52.2% of toddlers had improved nutritional status and there was a significant relationship between the age of the toddlers and the improvement in nutritional status of toddlers (p-value = 0.001).
Read More
S-12151
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uki Basuki; Pembimbing: Diah M. Utari, Ahmad Syafiq
T-1746
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Dayu Yohana Sihombing; Pembimnbing: Nurul Dina Rahmawati; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Avliya Quratul Marjan
Abstrak:
Gizi lebih merupakan salah satu masalah kesehatan yang terus meningkat pada populasi dewasa dan pekerja. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular serta berdampak pada produktivitas kerja. Pekerja sektor konstruksi memiliki karakteristik pekerjaan dan lingkungan kerja yang berpotensi memengaruhi status gizi melalui karakteristik individu, asupan zat gizi, dan faktor perilaku. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih pada pekerja di PT X tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional Sampel penelitian berjumlah 124 pekerja laki-laki yang dipilih menggunakan teknik convenience sampling. Data dikumpulkan melalui pengukuran antropometri, wawancara, dan pengisian kuesioner. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik individu (usia, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, dan tingkat pendapatan), asupan zat gizi (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), serta faktor perilaku (aktivitas fisik, perilaku merokok, dan durasi tidur). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69,4% pekerja mengalami status gizi lebih. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,035), tingkat pendapatan (p=0,021), asupan energi (p=0,031), aktivitas fisik (p=0,036), dan perilaku merokok (p=0,004) dengan status gizi lebih pada pekerja PT X. Sementara itu, jenis pekerjaan, status pernikahan, tingkat pendidikan, asupan karbohidrat, asupan protein, asupan lemak, dan durasi tidur tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik dengan status gizi lebih (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa status gizi lebih merupakan masalah kesehatan yang cukup tinggi pada pekerja PT X. Faktor yang berhubungan dengan status gizi lebih meliputi karakteristik individu berupa usia dan tingkat pendapatan, faktor asupan berupa asupan energi, serta faktor perilaku berupa aktivitas fisik dan perilaku merokok. Oleh karena itu, diperlukan upaya pencegahan dan pengendalian status gizi lebih melalui pengendalian asupan, peningkatan aktivitas fisik di luar jam kerja, serta edukasi kesehatan yang mempertimbangkan karakteristik pekerja yang berisiko.

Overnutrition is one of the health problems that continues to increase among adult and working populations. This condition can increase the risk of various non-communicable diseases and negatively affect work productivity. Construction workers have occupational and work-environment characteristics that may influence nutritional status through individual characteristics, nutrient intake, and behavioral factors. This study aimed to analyze the factors associated with overnutrition among workers at PT X in 2026. This study employed a cross-sectional design. A total of 124 male workers were selected using a convenience sampling technique. Data were collected through anthropometric measurements, interviews, and questionnaires. The variables studied included individual characteristics (age, type of work, marital status, educational level, and income level), nutrient intake (energy, carbohydrate, protein, and fat intake), and behavioral factors (physical activity, smoking behavior, and sleep duration). Data were analyzed using univariate and bivariate analyses with the chi-square test. The results showed that 69.4% of workers had overnutrition. Bivariate analysis demonstrated significant associations between age (p=0.035), income level (p=0.021), energy intake (p=0.031), physical activity (p=0.036), and smoking behavior (p=0.004) and overnutrition among PT X workers. Meanwhile, type of work, marital status, educational level, carbohydrate intake, protein intake, fat intake, and sleep duration were not significantly associated with overnutrition (p>0.05). It can be concluded that overnutrition is a relatively prevalent health problem among PT X workers. Factors associated with overnutrition include individual characteristics (age and income level), dietary factors (energy intake), and behavioral factors (physical activity and smoking behavior). Therefore, efforts to prevent and control overnutrition among workers are needed through the management of intake, promotion of physical activity outside working hours, and health education programs that take into account the characteristics of at-risk workers.
Read More
S-12365
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wiwin Nurhayati; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti
S-3914
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azrimaidaliza; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Yvonne Magdalena Indrawani, Ahmad Syafiq, Ingan Ukur Tarigan, Eman Sumarna
Abstrak:

Hasil pemantauan gizi dan kesehatan (Nutrition and Health Surveillance System/NSS) tahun I999-2003 menunjukkan tingginya prevalensi gizi kurang (berat badan menurut umur <-2 SD dari median NCHS), yaitu di atas 30% (klasifikasi WHO) pada balita di daerah kumuh perkotaan maupun pedesaan. Prevalensi gizi kurang tersebut lebih tinggi di daerah kumuh perkotaan dibandingkan daerah kumuh pedesaan. Kota Jakarta merupakan salah satu daerah kumuh perkotaan yang terrnasuk dalam daerah pengumpulan data NSS. Di daerah ini, prevalensi gizi kurang tinggi pada anak usia 12-23 bulan (Juni-September 2003), yaitu 42% dan prevalensi ASI eksklusif paling rendah dibandingkan dengan ketiga daerah kumuh perkotaan lainnya (Surabaya, Semarang dan Makassar), yaitu hanya 1%. Penelitian ini merupakan penelitian survei menggunakan data sekunder NSS yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi anak umur 6-24 bulan daerah kumuh perkotaan di Jakarta tahun 2003. Jumlah sampel sebanyak 1031 anak dan analisis data meliputi univariat, bivariat dan multivariat. Analisis multivariat menggunakan analisis Regresi Logistik Ganda. Hasil penelitian menunjukkan anak umur 18-24 bulan berisiko mengalami gizi kurang 3,041 kali dan anak umur 12-17 bulan berisiko mengalami gizi kurang 2,443 kali dibanding anak umur 6-11 bulan. Kemudian anak dengan berat badan lahir < 2,5 kg berisiko mengalami gizi kurang 3,018 kali dibanding anak dengan berat badan lahir > 2,5 kg. Selanjutnya ibu dengan IMT S 18,5 berisiko mempunyai anak gizi kurang sebesar 1,828 kali dibanding ibu dengan IMT > 18,5. Adapun keluarga dengan jumlah balita > 2 orang berisiko mempunyai anak gizi kurang 1,407 kali dibanding keluarga dengan jumlah balita 1 orang. Faktor paling dominan berhubungan dengan status gizi anak adalah umur bayi/anak berikutnya berat badan lahir, IMT ibu dan jumlah balita. Umur bayi/anak terutama umur 18-24 bulan berisiko lebih besar menderita gizi kurang karena pada umur tersebut anak mulai mengalarni gangguan pertumbuhan akibat efek kurnulatif dani faktor ASI dan makanan yang tidal( diberikan secara adekuat pada umur sebelumnya. Di samping itu, anak mempunyai riwayat berat badan lahir rendah sehingga sulit mengejar ketinggalan pertumbuhannya, status gizi ibu yang kurang balk dan banyaknya balita dalam keluarga berdampak pada pertumbuhan anak. Oleh karena itu, perlu pemantauan status gizi anak, status gizi ibu prahamil, selama hamil dan pasta hamil. Selain itu, perlu penyuluhan mengenai pemberian MP-ASI umur 4-6 bulan dan pemberian makanan tambahan pada anak serta suplementasi vitamin pada ibu.


 

Nutrition and Health Surveillance System (NSS) year 1999-2003 shows prevalence of underweight (weight for age < -2 SD from NCHS median) is very high , that is above 30% (WHO classification) on infant at rural and urban slum areas. An underweight prevalence at urban slum areas is higher than rural slum areas. Jakarta is the one of slum area that include in NSS data collection area. In this area, prevalence of underweight children 12-23 months of age (June-September 2003), is 42% and prevalence of exclusive breastfeeding is the lowest compared with other three urban slum areas (Surabaya, Semarang and Makassar), is only 1%. This research is a survey research using NSS secondary data that aimed to identify factors that related with nutrient status of children 6-24 months of age in urban slum of Jakarta year 2003. Total sample are 1031 children and data analysis consist of univariate, bivariate and multivariate. Multivariate analysis use double logistic regression analysis. Research result show child 18-24 months of age have risk in having underweight 3,041 times and child 12-17 months of age have risk in having underweight 2,443 times compared with child 6-11 months of age. Moreover, child with birth weight < 2,5 kilo have risk in having underweight 3,018 times compared with child with birth weight >. 2,5 kilo. While mother with Body Mass Index (BMI) BMI > 18,5. Meanwhile family with under-five child member > 2 have risk 1,407 times in having underweight child compared to family with one under-five child member. The most dominant factor related to child nutrient status is child age, after that birth weight, mother's BMI and under-five child member. Child 18-24 months of age have bigger risk in having underweight because, at that age, the child begin to have growth problem result from cumulative effect from breastfeeding factor and not enough food given at previous age. Besides that, child with low birth weight record is difficult to catch up their growth, mother nutrient status and the amount of under-five child impact to child growth. Thus, the need of children nutrient status surveillance, mother nutrient status of before pregnancy, during pregnancy and after pregnancy. Besides that, the need of health promotion about complementary feeding 4-6 month age and extra food distribution to child and vitamin supplement to mother.

Read More
T-2306
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yaya Kusumajaya; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, R. Dedi Kuswenda, Iip Syaiful
T-2692
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggita Kirana Vinurya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Ni Putu Arik Diantari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Stunting pada baduta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor anak, ibu, pola asuh maupun lingkungan. Provinsi Bali merupakan provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, namun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Bali masih perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional dengan analisis data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Sampel penelitian berjumlah 549 baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik kompleks. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor anak, ibu, praktik pola asuh, dan lingkungan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p > 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan stunting. Anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang mengalami stunting sebesar 6,2 kali dibandingkan anak dengan berat badan lahir normal setelah dikontrol oleh variabel lain dalam model (AOR=6,202; 95% CI: 1,081–35,586). Berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui peningkatan status gizi ibu dan pencegahan kejadian berat badan lahir rendah.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth due to prolonged inadequate nutrient intake. Stunting among children under two years of age may be influenced by various factors, including child, maternal, caregiving, and environmental factors. Bali Province has the lowest prevalence of stunting in Indonesia; however, factors associated with stunting among children under two years of age in Bali still require further attention. This study aimed to determine the dominant factors associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study sample consisted of 549 children aged 0–23 months in Bali Province. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using complex logistic regression. The bivariate analysis showed that child factors, maternal factors, caregiving practices, and environmental factors were not significantly associated with stunting (p > 0.05). The multivariate analysis revealed that birth weight was the dominant factor associated with stunting. Children with low birth weight had a 6.2 times higher likelihood of experiencing stunting compared with children with normal birth weight after controlling for other variables in the model (AOR = 6.202; 95% CI: 1.081–35.586). Birth weight was identified as the dominant factor associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. Therefore, stunting prevention efforts should focus on the first 1,000 days of life through improving maternal nutritional status and preventing low birth weight.
Read More
S-12372
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive