Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29058 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Judiwan Delias Maswar; Pembimbing: Heru Kusumanto
Abstrak:
Pengendalian Manajemen Farmasi di Rumah Sakit merupakan suatu sistem yang memegang peranan penting, oleh karena keberhasilan tujuan manajemen farmasi tergantung dari memadai atau tidaknya unsur-unsur pengendalian yang ada. Adanya obat-obatan dan alat kesehatan yang rusak atau kadaluarsa, juga adanya kekosongan persediaan pada waktu tertentu mengindikasikan pengawasan terhadap pengelolaan obat dan alat kesehatan yang merupakan sebagian dari manajemen faramasi di rumah sakit masih kurang baik. Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Puri Cinere; yang bertujuan untuk memperoleh gambaran unsur-unsur yang mempengaruhi pengendalian manajemen farmasi, mengidentifikasi dan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi setiap unsur. Sehingga dari hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan saran dan masukan bagi manajemen Rumah Sakit Puri Cinere. Hasil penelitian diperoleh melalui kegiatan survey, pengumpulan data melalui pengamatan dokumen dan observasi di lapangan serta wawancara mendalam dengan pejabat struktural dan staf pelaksana. Masalah yang timbul dalam Pengendalian Manajemen Farmasi di Rumah Sakit Puri Cinere ini disebabkan oleh berbagai hal yang saling berkaitan seperti pengorganisasian yang belum efektif, kebijakan yang belum terarah dan belum direview secara berkala, penyusunan rencana kerja belum optimal, sistem pencatatan dan pelaporan yang belum baik, pembinaan personil yang masih kurang dan SPI yang belum berfungsi dengan baik. Untuk masa mendatang, bagi manajemen Rumah Sakit Puri Cinere disarankan untuk melakukan beberapa langkah penyempurnaan; sehingga dapat dicapai tujuan yaitu tersedianya obat dan alat kesehatan secara efisien.

System Analysis of Controlling Pharmacy Management at Puri Cinere HospitalControlling Pharmacy Management at Puri Cinere Hospital is a system which is also being an important role, because the achievement of pharmacy management result depends on the sufficient or insufficient of the existing control. Broken medical equipments and expired medicine, as well as out of stock of the provision occasionally indicate that the control of medicine and medical equipment a part of the pharmacy management of the hospital is not good enough. This research was conducted at Puri Cinere Hospital which aims to get a picture of the factors that has influence to the control of the pharmacy management, to identify and analyze factors that has influence to each others. Therefore, result of the research is expected giving a suggestion and input for Puri Cinere Hospital. Result of the research was obtained through a survey activity, collecting data looking for document and observation in the field, as well as an interview with the structural officer and operational staff. Problems arise in controlling pharmacy, management at Puri Cinere Hospital are caused by different factors connecting to each others; as the organization that is not effective yet, policies that is not clear and has not been reviewed periodically, planning set up is not optimum yet, recording and reporting system has to be improved, personal development is not sufficient as SPI does not function well. In the future the management of Puri Cinere Hospital has to do some steps for improvement, to achieve the aim in providing medicine and medical equipment effectively.
Read More
B-511
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Henny F. Fachrudin; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Peter A.W. Pattinama, Alex Papilaya, Mike Kaltarina
Abstrak:

Pengendalian adalah proses yang digunakan oleh manajer untuk memastikan bahwa aktivitas yang sebenarnya sesuai dengan rencana. Pengendalian bermanfaat untuk mengevaluasi seluruh kegiatan. Keberhasilan tujuan manajemen farmasi akan tergantung dari unsur-unsur pengendalian yang ada. Instalasi Farmasi merupakan satu-satunya unit kerja dirumah sakit yang bertanggung jawab dalam pengelolaan barang farmasi dan mempunyai kedudukan yang sejajar dengan instalasi lainnya. Kelebihan atau kekosongan persediaan obat dan alkes pada waktu tertentu menunjukkan bahwa pengendalian terhadap pengelolaan obat dan alkes di Instalasi Farmasi Rumah Sakit kurang baik. Temuan di Instalasi Farmasi RSD Ciawi menunjukkan bahwa sistem pengendalian obat dan alkes kurang baik sehingga mengakibatkan overstock dan out of stock. Penelitian ini dilakukan di RSD Ciawi yang bertujuan untuk menganalisa sistem pengendalian obat dan alkes kebutuhan dasar ruangan Rawat Inap di Instalasi Farmasi, tujuan khusus mengidentifkasi dan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi setiap unsur pengendalian. Penelitian merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dan informasi mengenai sistem pengendalian Obat dan alkes kebutuhan dasar ruangan Rawat Inap diperoleh dengan cara in-depth interview terhadap pejabat struktural dan staf pelaksana. Pengumpulan data melalui telaah dokumen serta pengamatan di lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengorganisasian yang belum efektif, kebijakan yang belum terarah, penyusunan rencana kerja belum optimal, pencatatan dan pelaporan yang belum baik, anggaran yang teratas dan belum terbentuknya pcngawasan intern. Dalam pembahasan diulas tentang kondisi RSD Ciawi scat ini melalui wawancara, meneliti data sekunder serta pengamatan di lapangan dibandingkan dengan teori manajemen pengendalian logistik. Pembahasan menguraikan tentang struktur yang baik, menegaskan kembali uraian tugas tiap unit kerja, menyusun kebijakan tentang standar terapi dan formularium, proses pengendalian obat dan alkes di Instalasi Farmasi. Kesimpulan yang didapat dari basil penelitian bahwa proses pengendalian obat dan alkes kebutuhan dasar ruangan di Instalasi Farmasi RSD Ciawi masih kurang optimal, sehingga banyak terjadi over stock dan out of stock.


 

Controlling is process used by manager to ensure that activity which in fact as according to plan. Useful controlling to evaluate entire all activity. Efficacy of pharmacy management target will be depended from existing operation elements. Pharmacy Installation is the single unit work at home pain in charge of in management of pharmacy goods and have to domicile the parallel ness with other installation. Excess or blankness of supply of drug and medical equipment periodically indicate that control to management of drug and medical equipment. Unfavorable Installation Pharmacy Hospital. Finding Installation Pharmacy of RSD Ciawi indicates that system control of drug and medical equipment. Unfavorable so that results over stock and out of stock. This research is conducted in RSD Ciawi with aim to analyze system controlling of drug and medical equipment inpatient requirement of to lodge Installation Pharmacy, special target identify and analyze factors influencing each element. Research is case study with approach qualitative. Data and information concerning system controlling drug of medical equipment inpatient requirement of to lodge to be obtained by interview in-depth to structural functionary and executor staff. Data collecting through document study and also perception in field. Research result indicate that organization which not yet effective, policy which not yet directional, compilation of plan work not yet optimal, reporting and record-keeping which not yet good, limited budget and not yet been formed by internal control him. Is under consideration commented by concerning condition of RSD Ciawi in this time through interview, accurate data of secondary and also perception in field compared to management theory operation of logistics. Solution elaborate concerning good structure, re-affirming the breakdown of duty every activity unit, compiling policy concerning therapy standard and of formularium, process controlling drug of and medical equipment in Installation Pharmacy. Got conclusion of research result that process controlling of and medical equipment inpatient requirement in Installation Pharmacy of RSD Ciawi still less optimal, so that happened many over stock and out of stock.

Read More
B-961
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dedi Tedjakusnadi; Pembimbing: Supriyantoro; Penguji: Petter Patinama, Sutan Yenis, Hanna Permana, Imelda E. Dharma
Abstrak: Penelitian ini dilatar belakangi oleh anggaran belanja logistik yang mengambil porsi terbesar dalam belanja Rumah Sakit Sumber Waras dalam masa krisis ekonomi dan ditengah keluhan masyarakat tentang buruknya pelayanan masyarakat dan pelayanan rumah sakit. Jumlah yang besar tadi, menjadi semakin membengkak akibat anggaran belanja logistik umum yang kurang terkontrol dan masih terdapat duplikasi fungsi logistik.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisa, membuat kesimpulan dan membuat usulan sistem kontrol logistik Rumah Sakit Sumber Waras untuk meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan Rumah Sakit Sumber Waras.
Jenis penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kwalitatif. Data dan informasi didapat melalui in-depth interview serta pengamatan di lapangan sejak tanggal 6-24 Mei 2002.
Hasil penelitian menunjukan bahwa banyak faktor yang telah mempengaruhi fungsi pengendalian logistik di Rumah Sakit Sumber Waras. Ada delapan faktor yang diteliti yaitu :
 
1. Struktur organisasi.
 
2. Kebijakan.
 
3. Sumber Daya Manusia.
 
4. Prosedur.
 
5. Perencanaan.
 
6. Pencatatan.
 
7. Pelaporan.
 
8. Pengawasan intern.
Duncan, Soenoesoebroto, Hardjoprawiro berpendapat bahwa banyak faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan fungsi pengawasan dan pengendalian, khususnya dalam bidang logistik. Di samping itu, Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 11 Tahun 2001 tentang Pedoman Pengelolaan Barang Daerah menjadi acuan untuk pengelolaan barang di rumah sakit.
Dalam pembahasan diulas tentang kondisi Rumah Sakit Sumber Waras saat ini melalui wawancara, meneliti data sekunder serta pengamatan di lapangan dibandingkan dengan teori manajemen rumah sakit. Pembahasan mengurai tentang alur proses, struktur yang lebih baik, tim pengendalian, serta analisa pekerjaan, uraian jabatan, dan persyaratan jabatan di bagian logistik.
Pengaturan barang di rumah sakit ini bukanlah hal yang mudah dan sederhana. Sistem kontrol logistik sangat diperlukan di Rumah Sakit Sumber Waras. Saat ini logistik rumah sakit ini masih dijalankan dengan cara yang sederhana, sehingga banyak terjadi inefisiensi.
Penelitian ini mencoba mencari faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sistem kontrol pengendalian logistik dan mencari alternatif pemecahannya dengan cara yang dapat ditempuh dengan biaya seefisien mungkin.
 Akhir penelitian ini menghasilkan sebuah sistem kontrol logistik yang diharapkan dapat berguna bagi Rumah Sakit Sumber Waras khususnya, serta bagi institusi pendidikan dan masyarakat pada umumnya.
 

The Analysis of Control System of Logistics in Sumber Waras HospitalThis research was formed by the background of the logistics purchasing budget which took the largest portion in the whole purchasing budget of Sumber Waras Hospital amidst the economic crisis and the complaints of the public on the poor public service, including the service of hospital.
The large sum of the budget increased as the result of the lack of control in the general logistic purchasing budget and duplication of function in logistics procedures.
The targets of this research were to analyze the logistics process of Somber Waras Hospital, to assume and to propose a logistic control system, which can promote the health care services of Sumber Waras Hospital.
The type of this research is a case study with a qualitative approach. Data and information regarding the service process were obtained from in-depth interviews, and from field observation during May 6 to 24, 2002.
The result of the research showed that there were many factors influencing the logistics control system of Sumber Waras Hospital. There were eight factors to be observed:
 
1. Organizational structures.
 
2. Policies.
 
3. Human resources.
 
4. Procedures
 
5. Planning.
 
6. Recording.
 
7. Reporting.
 
8. Internal Auditing.
Duncan, Soenoesoebroto, Hardjoprawiro wrote that many factors had to be observed for developing the logistics control system. On the other hand, the government regulation issued by The Internal Affair and Regional Autonomy Minister No. 1112001, regarding regional logistics managing policy could be adopted as a reference to Sumber Waras Hospital Logistics Department.
The nowadays condition of Sumber Waras Hospital was observed, discussed, in-depth interviewed, and compared with some theory of Hospital Management.
This research tried to fmd some factors that influenced the logistics control system and tried the alternative resolve in an efficient and effective way.
At last, this research gave and outcome a logistics control system and hopefully it would be useful especially for Surnber Waras Hospital, and also for the educational institution, and most of all for the community.
Read More
B-643
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mike Kaltarina; Pembimbing: Sutan Yenis; Penguji: Petter Patinama, Heru Kusumanto, Torang P. Batubara, Neni Murniati
Abstrak:

Penelitian dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa penyediaan jasa logistik farmasi relatif tinggi yang mencapai 60% anggaran rumah sakit, sehingga diperlukan tindakan efisiensi. Temuan di Instalasi Farmasi RSUD Ciawi menunjukkan perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan yang tidak akurat sehingga mengakibatkan situasi yang disebut overstock dan out-of-stock.Penelitian dilakukan untuk melakukan analisis proses perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan di Instalasi Farmasi RSUD Ciawi, Bogor. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data dan informasi mengenai proses perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan diperoleh dengan cara in depth interview, data sekunder, dan perhitungan kuantitatif khusus untuk masalah yang terukur.Hasil penelititan menunjukkan bahwa perencanaan obat dan alat kesehatan dasar ruangan di Instalasi Farmasi RSUD Ciawi belum efektif dan efisien karena perencanaan obat dan alat kesehatan kebutuhan dasar ruangan tidak akurat yang disebabkan adanya hambatan yang terjadi pada SDM, organisasi, kebijakan, prosedur, laporan pemakaian obat dan alat kesehatan, penentuan perencanaan jumlah obat dan alat kesehatan dasar ruangan pada Instalasi Farmasi.Untuk meningkatkan akurasi perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan dapat dilakukan upaya bimbingan atau pelatihan SDM yang membuat perencanaan kebutuhan logistik farmasi, menyusun kebijakan internal antara lain dengan standardisasi terapi dan formularium, menyusun dan menetapkan uraian tugas yang jelas, menyusun standar prosedur operasional tentang perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan di ruangan dan instalasi, membuat usulan kebutuhan obat dan alat kesehatan yang secara rutin dan periodik harus disampaikan kepada Instalasi Farmasi. Selain itu, Instalasi Farmasi perlu membentuk sistem informasi sehingga tercipta koordinasi terutama dalam penyusunan perencanaan kebutuhan obat dan alat kesehatan dasar di ruangan dan instalasi.


 

Analysis of Basic Ward Needs Planning For Drugs and Medical Supplies of the Pharmacy Department, Ciawi General Hospital, Bogor This study was based on the facts that budget allocation for pharmacies logistic was relatively high, almost 60% of annual hospital budget; a situation that needed certain efficient efforts. Data of the Pharmacy Department at Ciawi General Hospital showed inaccurateness on drugs and medical supplies planning which was finally resulted an overstock and out-of stock situations. The study was conducted to analyze the process on drugs and medical supplies planning of the Pharmacy Department at Ciawi General Hospital, Bogor.This is a case study with qualitative approach. Information and data on drugs and medical supplies planning were collected by in-depth interviews, secondary data, and quantitative analysis specifically for several measured issues.This study showed that basic wards planning for drugs and medical supplies in the Pharmacy Department at Ciawi General Hospital had not been ran effectively and efficiently because of lack of good human resources, organizational issues, regulations, procedures, drugs and medical supplies inventory reports, drugs and medical supplies planning for basic inventory wards supply.Several efforts could be used to increase the accurateness on drugs and medical supplies, i.e. training for the employee who ran the pharmacy logistics planning, internal regulations such as standardization on medical pharmacy and formularium, a finned job description, a good standard operating procedure of drugs and medical supplies needed in all wards and installations, propose a basic drugs and medical supplies for wards and installations which has to be routinely and periodically reported to the Pharmacy Department. Besides, the Pharmacy Department itself should make an information system network to provide a good coordination mostly on drugs and medical supplies planning in the wards and installations.

Read More
B-640
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Margareth Aryani Santoso; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Vetty Yulianty Permanasari, Teuku Nebrisa Z., Mohamad Firas
Abstrak: Mutu pelayanan farmasi dapat dilihat dari tersedianya obat-obat dengan tepat dan efisien. Pemenuhan obat tersebut dilakukan melalui siklus logistik yang terdiri dari proses perencanaan, penganggaran, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, pemeliharaan, penghapusan serta pengendalian. Penelitian ini dilatarbelakangi dengan masih adanya masalah dalam pemenuhan obat di unit farmasi dan logistik yang ditandai dengan masih ditemukannya stock out sebesar 0,5%-1% dari total pembelanjaan obat setiap bulannya.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor input yaitu man, money, method,material dan machines terhadap seluruh proses logistik dalam upaya pemenuhan ketersediaan obat di RSIA Keluarga Kita. Desain penelitian pada penelitian ini berupa deskriptif analitik. Penelitian ini bersifat kualitatif dan kuantitatif dengan menerapkan analisis ABC Indeks Kritis, Economic Order Quantity (EOQ) maupun Reorder Point (ROP) sebagai metode pengendalian logistik obat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat banyak faktor yang mempengaruhi pemenuhan ketersediaan obat dan kejadian stok out bisa dikelola dengan melakukan perbaikan seluruh proses pada siklus logistik terutama pada proses pengendalian perencanaan, penganggaran, dan pengadaan. Kata Kunci Siklus Logistik; Stock Out; Analisis ABC Indeks Kritis. The quality of pharmaceutical services can be measured from the availability of medicine in-time and efficient. The supply of the medicines is done through a logistic cycle consisting of planning, budgeting, procurement, storage, distribution, maintenance, deletion and control processes. This research was motivated by the issue in the medicines lack of availability in pharmacy and logistics unit which is marked by the finding of stock out of 0.5% -1% of total expenditure of medicines every month. The purpose of this research is to identidy the input factor that is man, money, methods, materials and machines to the entire logistics process in an effort to ensure the availability of medicine stocks at RSIA Keluarga Kita. The research design is descriptive analytic. This research is qualitative and quantitative by applying ABC analysis of Critical Index, Economic Order Quantity (EOQ) and Reorder Point (ROP) as method of medicine logistic control. The results show that there are many factors that influence the availability of the medicines and the occurrence of stock outs can be managed by improving the entire process in the logistics cycle, especially in the process of controlling in planning, budgeting, procurement.. Keywords: Logistics Cycle; Stock Out; ABC Analysis Critical Index
Read More
B-1891
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wisnu Kresno Birowo; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Peter Pattinama, Hafizurrachman, Rahmi Rahim
Abstrak: Dalam pembangunan nasional secara menyeluruh, kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Kesehatan memainkan peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup, Kecerdasan dan produktifitas sumber daya manusia. Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan, pada era globalisasi, RS pemerintah sedang bergerak dari lembaga birokrasi ke lembaga usaha. Logistik farmasi merupakan salah satu komponen utama dalam menilai mutu pelayanan Rumah Sakit dan ABC indeks kritis merupakan salah satu cara untuk melakukan pengendalian dan pengontrolan pada manajemen farmasi, yang merupakan salah satu dari pendapatan rumah sakit yang terbesar.Sampai saat ini, pengadaan dn pengendalian persediaan farmasi di RS Duren Sawit, menggunakan metoda dengan menggunakan sistem target pasien yang ditentukan oleh dokter dan sering terjadi kekurangan dan kelebihan stok farmasi. Untuk mengatasi hal ini, dan banyaknya jenis persediaan, di sarankan menggunakan analisis ABC indeks kritis untuk pengelompokannya. Pada analisis ABC Indeks Kritis, persediaan dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok A dengan investasi dan pemakaian tinggi, kelompok B dengan investasi dan pemakaian sedang dan kelompok C dengan investasi dan pemakaian rendah. Selain nilai investasi dan pemakaian, pada persediaan farmasi rumah sakit, penentuan indeks kritis sangat lah diperlukan, karena tidak semua persediaan yang memiliki nilai investasi dan pemakaian yang tinggi, mempunyai nilai kritis yang tinggi pula. Nilai kritis ini ditentukan oleh pemakai/ dokter. Dengan teknologi komputer saat ini, pengelompokan setiap jenis sediaan farmasi dapat dilakukan dengan cepat dan akurat, akan tetapi memerlukan pencatatan dan sistem pelaporan pemakaian yang baik, serta informasi biaya investasi yang baik. Dengan sistem informasi yang baik, analisis indeks kritis ABC dalam pengendalian persediaan farmasi pada rumah sakit dapat dilakukan dengan cepat, tepat, sehingga manajemen dapat mengambil keputusan pada perencanaan, pengadaan dan pelaksanaan operasionalnya. Dengan data sekunder pengeluaran persedian RS. Duren Sawit periode januari 2004 sampai Maret 2005, perhitungan analisa ABC menghasilkan 35 jenis persediaan pada kelompok A dengan nilai sebesar Rp179.689.310,29 kelompok B 206 jenis persediaan dengan nilai sebesar Rp. 475.863.923,99 dan kelompok C 728 jenis dengan nilai sebesar Rp.122.840.524,75. Selain itu, Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa, ada 225 jenis persediaan yang diasumsikan merupakan investasi tidak bergerak dengan perkiraan nilai lebih dari Rp.1.133.136.736,29, hal ini dapat saja terjadi disebabkan oleh pencatatan yang tidak akurat, ataupun pengadaan persediaan yang tidak tepat. Hal ini dapat menyebabkan persediaan yang tidak efesien serta merugikan sumber daya keuangan secara tidak langsung, baik dari segi pengadaan maupun biaya penyimpanan maupun resiko kerusakan dan kehilangan. Dengan mengetahui pengelompokan persediaan ini, diharapkan peningkatan efesiensi biaya operasional dan dapat mencegah terjadinya kekosongan persediaan farmasi dengan pengendalian dan pengawasan terhadap persediaan farmasi serta peningkatan pelayanan terhadap pasien dengan tetap tersedianya bahan bahan farmasi dan menjaga harga yang baik, karena resiko kehilangan dan kerusakan persediaan dapat diantisipasi sebelumnya. Kepustakaan : 31 (1985 – 2005 )
Read More
B-884
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadi Rahmatsyah; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Amal C. Sjaaf, Vetty Yulianty Permanasari, Dedi Rohendi, Suwenda
Abstrak:

Hadi Rahmatsyah Analisis Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Logistik Farmasi Terkomputerisasi di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Indramayu Tahun 2013 164 Halaman, 21 Gambar, 21 Tabel Tesis ini menganalisis pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Logistik Farmasi Terkomputerisasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Indramayu Tahun 2013. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan SIM Logistik Farmasi Terkomputerisasi di RSUD Kabupaten Indramayu Tahun 2013 tidak dilakukan sesuai rencana tahapan pengembangan Sistem Informasi menurut teori System Development Life Cycle dan sebagian besar fungsi-fungsi yang dibutuhkan oleh Instalasi Farmasi belum terpenuhi oleh Pengembang Sistem Informasi. Faktor keterbatasan waktu, ketidaksepahaman antara Instalasi Farmasi dan Pengembang Sistem Informasi terkait alur proses perbekalan farmasi dan keterbatasan sumber daya manusia dalam mengoperasikan, mengelola dan memelihara sistem aplikasi mempengaruhi keberhasilan pengembangan SIM Logistik Farmasi Terkomputerisasi di RSUD Kabupaten Indramayu Tahun 2013. Kata kunci : pengembangan sistem informasi manajemen terkomputerisasi, logistik, farmasi, pelayanan kefarmasian, System Development Life Cycle. Daftar Bacaan : 22 (1992 – 2013)


POSTGRADUATE PROGRAMME HOSPITAL ADMINISTRATION STUDY PROGRAMME PUBLIC HEALTH FACULTY UNIVERSITY OF INDONESIA Thesis, Juni 2013 Hadi Rahmatsyah The analysis of the development of computerized pharmacy logistic management information system at Indramayu District General Hospital in 2013 164 Pages, 21 Figures, 21 Tables This study analyzed the development of computerized pharmacy logistic Management Information System (MIS) at Indramayu District General Hospital (DGH) in 2013. This study is qualitative descriptive study. This study could be concluded that the development of computerized pharmacy logistic MIS at Indramayu DGH in 2013 was not carried out as planned phases of development of information system as System Development Life Cycle theory and most of the function as Pharmacy Department needed has not fulfilled by Information System Developer. The factor of time limitation, disagreements between Pharmacy Department and Information System Developer of pharmacy logistic and pharmacy services process flow, and human resources limitation of maintaining, managing and operating the application system contributed to succeessed of the development of computerized pharmacy logistic MIS at Indramayu DGH in 2013. Key words : development of computerized management information system, pharmacy, logistic, pharmacy service, System Development Life Cycle. References : 22 (1992 – 2013)

Read More
B-1518
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hadri Pramono; Pembimbing: Pujiyanto
B-758
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muthia Ayu Aztari; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Farhannudin, Fiena Fithriah
Abstrak:
Instalasi Farmasi Rumah Sakit RSUD ciapyung menghadapi paradoks logistik berupa stock out dan kedaluwarsa terjadi bersamaan, mencerminkan disfungsi sistemik pada pengelolaan persediaan farmasi. Penelitian bertujuan menganalisis implementasi manajemen logistik menggunakan kerangka 5 M, serta merumuskan rekomendasi berbasis bukti. Desain non eksperimental mixed method dilaksanakan Januari – Mei 2026 menggunakan data operasional 2025, melalui wawancara mendalam (6 informan), observasi, checklist, serta analisis kuantitatif ABC-VEN, ITR, fill rate, dan stock out time tracer. Dari 12 indikator kinerja, hanya 3 yang tercapai, dan 3 outcome krusial justru tidak mencapai target; fill rate obat 79,9%, stock-out time tracer 101,8 hari, dan expire rate 7,08% (Rp 64,9 juta/42 item). Terdapat dua akar masalah yang teridentifikasi; SDM terbatas → inakurasi SIMRS → ketidakakuratan RKO → stock out; dan over procurement antidiabetik (+Rp 141 juta) → kegagalan FIFO/FEFO → kedaluwarsa. Kegagalan tersebut bersifat struktural sehingga perbaikan prosedural saja tidak cukup. Rekomendasi prioritas dengan optimalisasi SIMRS (ROP otomatis, alarm kedaluwarsa bertingkat), penerapan MMSL untuk 43 item Katergori Prioritas, pembaruan formularium melalui penguatan KFT, redistribusi tugas SDM, dan penggantian infrastruktur penyimpanan cold chain.

The Pharmacy Installation of RSUD Cipayung faces a logistics paradox in which stock out and medicine expiry occur simultaneously, reflecting systemic dysfunction in pharmaceutical inventory management. This study aimed to analyze the implementation of logistics management using the 5M framework and to formulate evidence-based recommendations. A non-experimental mixed methods design was conducted from January to May 2026 using 2025 operational data, through in-depth interviews (6 informants), observation, checklists, and quantitative analyses of ABC-VEN, ITR, fill rate, and stock out time tracer. Of 12 performance indicators, only 3 were met, while 3 critical outcome indicators failed to reach their targets: fill rate 79.9%, stock-out time tracer 101.8 days, and expire rate 7.08% (Rp 64.9 million/42 items). Two root causes were identified: limited human resources → SIMRS inaccuracy → inaccurate RKO → stock-out; and anti-diabetic over-procurement (+Rp 141 million) → FIFO/FEFO failure → expiry. These failures are structural, making procedural fixes alone insufficient. Priority recommendations include SIMRS optimization (automated ROP, tiered expiry alerts), MMSL implementation for 43 Priority Category items, formulary renewal through strengthened KFT, internal task redistribution, and replacement of cold chain storage infrastructure.
Read More
B-2597
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Satriani Damput; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Adhitya Wardhana, Vitrie Winastri
Abstrak:
Latar Belakang : Pengelolaan inventori obat yang efisien merupakan faktor penting dalam menjamin ketersediaan obat, mutu pelayanan, dan efisiensi biaya rumah sakit. Ketidakefisienan pengelolaan inventori dapat menimbulkan berbagai waste, seperti kelebihan stok, kekosongan stok, obat non-moving, dan obat kedaluwarsa, yang berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu pelayanan, serta keterlambatan terapi pasien. Berbagai faktor, antara lain perencanaan yang tidak akurat, lamanya waktu pengadaan, penyimpanan yang belum optimal, dan variasi proses operasional, menjadi penyebab utama ketidakefisienan pengelolaan inventori obat. Tujuan: Mengoptimalkan manajemen rantai pasok internal farmasi di Instalasi Farmasi Medistra Hospital melalui pendekatan lean six sigma dalam pengendalian dan peningkatan efisiensi inventori obat sehingga dapat mengurangi pemborosan, menekan variasi proses, mengoptimalkan ketersediaan obat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan mix method, dimana kerangka kerja Lean Six Sigma melalui DMAIC digunakan sebagai panduan sistematis untuk mengintegrasikan analisis data kuantitatif inventori obat dan data kualitatif operasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan total sampel sebanyak 400 nomor perencanaan obat. Hasil: Pendekatan Lean Six Sigma mengidentifikasi lead time pengelolaan inventori obat sebesar 139 jam 26 menit 30 detik (5,7 hari), dengan 99% waktu proses merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 137 jam 37 menit 3 detik. Kondisi awal inventori menunjukkan nilai persediaan sebesar Rp 12.223.885.423,40, terdiri atas 343 item obat overstock senilai Rp 301.047.282, 88 item obat kosong, 35 item obat stagnan senilai Rp 34.775.208, dan 9 item obat expired senilai Rp1.613.710. Akar masalah yang teridentifikasi meliputi belum optimalnya SIMRS inventori, tingginya variasi me-too brand dalam formularium rumah sakit, variasi pengetahuan dan kompetensi petugas, belum adanya regulasi tindak lanjut purchase order kepada distributor, kurangnya pemahaman staf pembelian terhadap kebutuhan pelayanan, pembatasan jam persetujuan purchase order, kurangnya supervisi pada tahap penerimaan, keterlambatan penyimpanan obat, belum tersedianya visual management untuk penerapan FEFO/FIFO, serta penempatan obat LASA yang belum sesuai regulasi. Intervensi Lean Six Sigma dilakukan melalui penerapan standardized work, sosialisasi ulang alur kerja, implementasi sistem kanban pada tahap perencanaan, optimalisasi prinsip 5R di gudang logistik farmasi, serta penerapan visual management untuk mendukung implementasi FEFO/FIFO. Kesimpulan : Implementasi lean six sigma berhasil menurunkan lead time pengelolaan inventori obat, menurunkan nilai stok inventori obat dan jumlah item inventori obat, menurunkan nilai pembelian obat, menurunkan nilai obat overstock, menurukan jumlah obat kosong, menurunkan jumlah obat stagnan dan menurunkan jumlah obat expired.

Background: Efficient drug inventory management is essential to ensure medicine availability, improve service quality, and enhance hospital cost efficiency. Inefficient inventory management can generate various forms of waste, including overstock, stockouts, non-moving medicines, and expired medicines, leading to increased costs, reduced quality of care, and delays in patient treatment. Inaccurate planning, prolonged procurement lead times, suboptimal storage practices, and variations in operational processes are among the major contributors to inefficiencies in drug inventory management. Objective: To optimize internal pharmaceutical supply chain management at the Pharmacy Department of Medistra Hospital through the implementation of Lean Six Sigma to improve drug inventory control and operational efficiency, thereby reducing waste, minimizing process variation, optimizing medicine availability, and supporting the quality of hospital services. Methods: This operational research employed a mixed-methods design. The Lean Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) framework was used as a systematic approach to integrate quantitative drug inventory data with qualitative operational data. A stratified random sampling technique was applied, resulting in a total sample of 400 drug planning records. Results: The Lean Six Sigma approach identified a total drug inventory management lead time of 139 hours, 26 minutes, and 30 seconds (5.7 days), of which 99% consisted of non-value-added activities, predominantly waiting waste, accounting for 137 hours, 37 minutes, and 3 seconds. The baseline inventory value was IDR 12,223,885,423.40, comprising 343 overstock items valued at IDR 301,047,282, 88 stockout items, 35 non-moving items valued at IDR 34,775,208, and 9 expired items valued at IDR 1,613,710. Root cause analysis identified several contributing factors, including suboptimal utilization of the Hospital Management Information System (HMIS) for inventory management, a high variation of me-too brands in the hospital formulary, variations in staff knowledge and competencies, the absence of regulations governing purchase order follow-up with distributors, limited understanding among purchasing staff regarding clinical service requirements, restrictions on purchase order approval hours, inadequate supervision during the receiving process, delays in transferring medicines to designated storage locations, the absence of visual management tools to support FEFO/FIFO implementation, and non-compliant placement of look-alike, sound-alike (LASA) medicines. Lean Six Sigma interventions included the implementation of standardized work, workflow reorientation, a kanban system during the planning stage, optimization of the Indonesian 5R workplace organization principles in the pharmacy logistics warehouse, and visual management to strengthen FEFO/FIFO implementation. Conclusion: The implementation of Lean Six Sigma successfully reduced drug inventory management lead time, inventory value, the number of inventory items, drug purchasing expenditure, overstock value, stockout incidents, non-moving medicines, and expired medicines, thereby improving the efficiency of internal pharmaceutical supply chain management.
Read More
B-2622
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive