Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32692 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Doni Lasut; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Tris Eryando, Martya Rahmaniati Makful, Roy Nusa, Beben Saiful Bahri
Abstrak: Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitas-nya yang masih tinggi. Di Propinsi Jawa Barat Kabupaten Cianjur merupakan 10 kabupaten yang masih tinggi kejadian diare pada penduduknya. Penelitian ini dengan rancangan cross-sectional dan sumber data sekunder dari Survey Cepat FKM-UI Tahun 2012. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor yang berhubungan dengan diare menggunakan analisis regresi linear dan regresi spasial SGWR (Semiparametric Geographically Weigthed Regression). Hasil analisis regresi linear didapatkan kebiasaan BAB menjadi faktor utama dengan dikontrol proporsi SPAL, balita, pendidikan SD, akses air dan jarak ke pencemar. Hasil analisis SGWR didapatkan model GWR global (letak pencemar dan balita) dan model GWR lokal (Kebiasaan BAB dan SPAL). SGWR dengan pembobotan jarak optimal sebesar 3 Km sampai 15 Km mampu memprediksi dengan model yang lebih sesuai untuk tiap area. Kata Kunci : Diare, Regresi, SGWR, GWR
Read More
T-4307
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vony Julianti Kiding; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: R. Sutiawan, Diah Ayudi, Eti Rohati, Ni Made Jendri
Abstrak: Angka kematian bayi merupakan salah satu indikator tingkat pembangunan kesehatan dan kualitas hidup suatu negara. Kabupaten Banjar memiliki jumlah kematian neonatal tertinggi di Provinsi Kalimantan Selatan. Kematian neonatal tidak disebabkan oleh satu faktor saja melainkan multifaktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian neonatal di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan tahun 2014-2015. Metode penelitian kasus kontrol, analisis multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan bermakna dengan kematian neonatal adalah berat lahir bayi (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), pendidikan ibu (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), komplikasi kehamilan (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6), umur kehamilan (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frekuensi kunjungan ANC standar (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), tempat persalinan (OR=2,1, 95% CI:1,1- 3,9) dan paritas (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6), sedangkan pekerjaan (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) sebagai variabel confounding. Faktor yang paling besar pengaruhnya adalah berat lahir bayi. Bayi berat lahir ≤ 2500 gram memiliki risiko 5,8 kali (95% CI 3,0-11,1) lebih tinggi mengalami kematian neonatal dibanding bayi berat lahir > 2500 gram. Peningkatan wawasan dan kompetensi bidan melaui pelatihan penatalaksanaan kasus BBLR, strategi KIE mengenai faktor-faktor kematian neonatal serta membuat gagasan untuk meningkatkan kunjungan ANC standar perlu diupayakan untuk menurunkan angka kematian neonatal di Kabupaten Banjar. Kata kunci : faktor kematian; neonatal
Infant mortality rate is one indicator of health development level and quality of life of a country. Kabupaten Banjar has the highest of neonatal mortality numbers in South Borneo. Neonatal mortality is not caused by a single factor but multifactor. This study aims to determine the factors associate with neonatal mortality in Kabupaten Banjar, South Borneo in 2014-2015. The methods of this study is case control, multivariate analysis used logistic regression. The results of this study indicate that the factors significantly associated with neonatal mortality are birth weight (OR=5,8, 95% CI:3,0-11,1), maternal education (OR=4,5, 95% CI:1,6-12,8), pregnancy complications (OR=2,7, 95% CI: 1,6-4,6) gestational age (OR=2,4, 95% CI: 1,1-5,0), frequency of standard ANC visits (OR=2,2, 95% CI:1,2-4,1), place of delivery (OR=2,1, 95% CI:1,1-3,9) and parity (OR=2,1, 95% CI:1,2-3,6) and occupational (OR=1,8, 95% CI:0,9-3,5) as a confounding variabel. The factor that must impact is birth weight. Birth weight ≤ 2500 gram is 5,9 times higher (95% CI 3,1-11,3) to neonatal mortality than birth weight ≥ 2500 gram. Increased insight and competence of midwife through training of case management of low birth weight, communication information and education strategies about factors of neonatal mortality and creates ideas for increase the ANC visits are required to reduce neonatal mortality in Banjar District. Keywords: factors of mortality; neonatal
Read More
T-4877
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ana Sulistiani; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: R. Sutiawan, Yunimar Usman
S-8379
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novi Wati; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Iwan Ariawan, Artha Prabawa, Sri Irianti, Dyah Armiriana
T-2410
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Rinjani; Pembimbing: Meiwita Budiharsana; Penguji: Indang Trihandini, Anindita Dyah Sekarpuri
Abstrak: Angka Kematian Perinatal (AKP) merupakan salah satu indikator yang dapat digunakan dalam menilai derajat kesehatan suatu bangsa. Hal ini dikarenakan kematian perinatal menyumbang angka yang cukup tinggi terhadap Angka Kematian Bayi (AKB). Di Indonesia, tidak terjadi penurunan AKP dalam sepulu htahun terakhir (2002-2012). Desain yang digunakan pada penelitian ini adalah studi potong lintang. Penelitian menggunakan data sekunder SDKI 2012 denganteknik penarikan sampel cluster sampling tiga tahap. Sampel yang diambil berjumlah 15.430 responden dengan 1.420 responden mengalami kematian perinatal dan 14.010 responden lahir hidup dan tidak mengalami kematian neonatal dini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antarapendidikan, umur, paritas, komplikasi kehamilan, komplikasi persalinan, prematur, berat bayi, IMD, dan kunjungan antenatal ibu dengan kematian perinatal. Komplikasi persalinan merupakan faktor risiko yang paling tinggi dalam menyebabkan kematian perinatal. Kata kunci: Perinatal, lahir mati, komplikasi, antenatal
Perinatal Mortality Rate (PMR) is one of the indicators that can be used inassessing health status of a nation. This is because perinatal mortality is quite high contributed to Infant Mortality Rate (IMR). In Indonesia, there is no deriving of PMR in last ten years (2002-2012). The design used in this research was crosssectional study. This research used secondary data of IDHS 2012 with three stagecluster sampling technique. Samples taken were 15.340 respondents with 1.420 respondents experiencing perinatal death and 14.010 respondents were born aliveand did not experience early neonatal death. The results showed that there isassociation between maternal education, age, parity, pregnancy complication,delivery complication, premature, birth weight, early initiation of breastfeeding,and frequency of antenatal visits with perinatal mortality. Delivery complicationis the highest risk factor in affecting perinatal mortality.Key words:Perinatal, stillbirth, complication, antenatal
Read More
S-8211
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sicilia Katherina Levieren; Pembimbing: Besral; Penguji: Milla Herdayati, Winne Widiantini
Abstrak:
Angka kematian balita digunakan untuk mengukur kelangsungan hidup pada anak dan juga merefleksikan kondisi sosial, ekonomi dan lingkungan di mana anak-anak hidup. Angka kematian balita di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 32 per 1.000 kelahiran hidup, sehingga angka kematian balita di Indonesia belum mencapai target yang ditetapkan oleh Sustainable Development Goals (SDGs) yaitu 25 per 1.000 kelahiran hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian balita di Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2017 dengan desain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017. Analisis dilakukan pada seluruh sampel anak terakhir dengan usia 0-59 bulan yang tinggal dengan ibu terpilih sebagai responden. Hasil analisis dengan uji logistik ganda adalah proporsi kematian balita di Indonesia sebesar 1,8% dengan variabel paling berhubungan dominan yaitu riwayat pemberian ASI (AOR: 22.26, 95% CI: 16.72-29.64) dan hubungan yang signifikan didapatkan pada status pekerjaan ibu, jenis bahan bakar masak, jenis kelamin balita, dan berat badan lahir. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya pelayanan dan promosi kesehatan pada ibu agar dapat mempersiapkan kehamilan seperti informasi tentang pemenuhan nutrisi yang dibutuhkan saat masa kehamilan agar dapat mencegah balita lahir prematur dan juga peningkatan pengetahuan tentang jenis bahan bakar masak tidak aman yang mengakibatkan penyakit pada anak hingga berakhir kematian.

The under-five mortality rate was used to measure child survival and also reflects the social, economic, and environmental conditions where children live. The under-five mortality rate in Indonesia is still high which is 32 per 1,000 live births, means the under-five mortality rate in Indonesia has not yet reached the target set by the Sustainable Development Goals (SDGs), which is 25 per 1,000 live births. This study aims to identify the factors associated with under-five mortality in Indonesia from 2012 to 2017 with a cross-sectional study design and uses secondary data from the 2017 Indonesian Demographic and Health Surveys. The analysis was carried out on all samples of the last child aged 0-59 months living with the mother selected as the respondent. The results of the analysis followed by a multiple logistic regression test showed that the proportion of under-five mortality in Indonesia was 1.8% with the variable that has the biggest correlation, namely the history of breastfeeding (AOR: 22.26, 95% CI: 16.72-29.64) and a significant correlation was found in the mother's employment status, type of cooking fuel, sex of the child, and birth weight. Therefore, there is a need for health services and promotion for mothers so they can prepare for health services and promotion for mothers so they can prepare for pregnancy such as information about fulfilling the nutrition needed during pregnancy to prevent babies born prematurely and also increasing knowledge about the types of unsafe cooking fuels that cause disease in children until it ends a dead.
Read More
S-11482
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pelegia Samira Pattdiana Sitompul; Pembimbing: Besral; Penguji: Martya Makful Rahmaniati, Retno Kusuma Dewi
Abstrak: Penelitian dilakukan dengan melakukan analisis s dan bivariat dengan menggunakan analisis spasial serta uji korelasi pada variabel untuk mengetahui hubungan faktor yang ada terhadap jumlah kasus baru tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat. Sampel yang digunakan dalam penelitian sebanyak 135 yang merupakan seluruh kabupaten dan kota di Jawa Barat pada tahun 2015 hingga 2019. Hasil analisis korelasi yang dilakukan menunjukkan terdapat jumlah keluarga miskin (p-value = 0,000), jumlah puskesmas (p-value = 0,003), jumlah desa siaga (p-value = 0,000), jumlah rumah sakit umum (p-value = 0,007), dan jumlah dokter umum (p-value = 0,038) dimana keenam variabel memiliki p-value dibawah 0,05. Koefisien korelasi yang didapatkan menunjukkan variabel jumlah dokter umum (0,153) memiliki hubungan yang sangat rendah dan variabel jumlah keluarga miskin (0,306), jumlah puskesmas (-0,236), jumlah desa siaga (-0,283) dan jumlah RSU (-0,210) memiliki hubungan yang rendah terhadap insiden tuberkulosis paru BTA positif di Jawa Barat.Program penanggulangan tuberkulosis di Jawa Barat penting untuk dilaksanakan dengan baik untuk mengurangi jumlah penyakit tuberkulosis kedepannya.
Read More
S-10710
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tiara Roroputri Aprilia; Pembimbing: Sutiawan; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Dian Kurnia Rabbani
Abstrak: Hipertensi menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi tertinggi pada kelompok lanjut usia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan hipertensi yang belum terdiagnosis pada lansia di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari hasil survei Riskesdas 2018. Sampel pada penelitian ini adalah seluruh penduduk berusia ≥60 tahun di Indonesia yang belum terdiagnosis hipertensi, yaitu sebanyak 70.127 orang. Data dianalisis secara regresi logistik sederhana (bivariat) dan regresi logistik berganda (multivariat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi yang belum terdiagnosis pada lansia di Indonesia sebesar 52,4%. Umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, wilayah tempat tinggal, konsumsi makanan asin, perilaku merokok, dan aktivitas fisik merupakan faktorfaktor yang berhubungan dengan hipertensi yang belum terdiagnosis pada lansia di Indonesia, dengan umur sebagai faktor yang paling berhubungan dengan AOR = 1,44 (95% CI: 1,36-1,52). Untuk mengurangi prevalensi hipertensi yang belum terdiagnosis pada lansia, pemerintah diharapkan dapat fokus pada penguatan promosi, skrining, dan surveilans kesehatan pada lansia
Hypertension is one of the public health problems in Indonesia with the highest prevalence in elderly. The purpose of this study was to determine the prevalence and factors associated with undiagnosed hypertension among elderly in Indonesia. The design of this study is cross-sectional using secondary data from the results of the 2018 basic health research survey. The sample in this study was the entire population aged ≥60 years in Indonesia who had not been diagnosed with hypertension, which was 70,127 people. Data were analyzed by simple logistic regression (bivariate) and multiple logistic regression (multivariate). The results showed that the prevalence of undiagnosed hypertension among elderly in Indonesia was 52.4%. Age, gender, education level, area of residence, consumption of salty food, smoking behavior, and physical activity are the factors associated with undiagnosed hypertension among elderly in Indonesia, with age as the most associated factor (AOR = 1.44, 95% CI: 1.36-1.52). To reduce the prevalence of undiagnosed hypertension among elderly, the government is expected to focus on strengthening promotion, screening, and health surveillance on elderly
Read More
S-10946
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuliana Sari; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Sudijanto Kamso, Julitasari Sundoro; Herianto K.; H. Hani
Abstrak:

Tuberculosis paru masih merupakan masalah kesehatan utama di dunia. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Di tahun 2000 diperkirakan muncul 10,2 juta penderita bare tuberculosis dan 3,5 juta orang meninggal karenanya setiap tahun. WHO menyebutkan bahwa Indonesia merupakan penyumbang TB terbesar ketiga didunia setelah India dan Cina (Depkes R1,2002). Sampai saat ini di seluruh Indonesia pemberantasan penyakit tuberculosis masih jauh dari yang diharapkan_ Peningkatan kasus dan kematian tuberculosis antara lain karena tidak diobati, basil pengobatan yang rendah serta adanya kasus kasus barn. Juga kasus yang tidak sembuh dan kasus kambuh. Oteh karena itu masalah ketidaksembuhan merupakan prioritas yang paling panting untuk diselesaikan. Tujuan .Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi ketidaksembuhan penderita tuberculosis paru BTA positif melaiui identifkasi determinan dominan terhadap ketidaksembuhan penderita TB paru BTA positif di kabupaten tangerang. Metode. Desain penelitian studi Iongitudinal telah digunakan pada penderita TB pare BTA (+) dengan faktor karakteristik penderita dan faktor akses Iainnya. Analisis data menggunakan metode regresi logistik ganda untuk memperoleh model paling balk (fit), sederhana (parsimonious), dan tepat (robust) sehingga dapat menggambarkan hubungan variabel dependen dengan satu set variabei independen. Jumiah sample 164 penderita dan 23,2% diantaranya mengalami ketidaksembuhan. Pada penelitian ini juga telah menemukan model prediksi ketidaksembuhan penderita tuberculosis paru BTA Positif. HASIL Analisis regresi logistik ganda menunjukkan ketidaksembuhan penderita TB paru, pekerjaan (faktor karakteristik), jarak dari numb ke puskesmas dan keterjang)Cauan (faktor akses). Dengan jarak sebagai determinan yang paling dominan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jarak mempunyai OR = 2,71 95%CI :1,21 - 6,07), Keterjangkauan OR = 2,54 (95% CI :1,12-5,76) dan pekerjaan OR x,41 (95%C1: 0,18- 0,92). Kesimpulan. Penelitian menyimpulkan bahwa peranan akses yaitu jarak jauh dekat ketempat puskesmas, keterjangkauan dan pekerjaan penderita TB paru BTA Positif mempunyai pengaruh terhadap ketidaksembuhan penderita selama pengobatan.


 

Tuberculosis is still a major problem worldwide, one third of the world population are infected by Mycobacterium tuberculosis. In the 2000, approximately 10,2 million of new cases are identified and 3,5 million people died because of this disease annually. WHO state that Indonesian is the third country most contribute tuberculosis problem after India and China ( Depkes RI,2002). Up to present the tuberculosis rehabilitation program in Indonesian is still far away from expected outcomes. Increasing morbidity and mortality of tuberculosis because of not treatment patients, cure rate still low, new cases, not recovery patient and relapse. So the problem about not recovery cases to be a priority to solve. The purpose of the study was determining variables influence not recovery cases of tuberculosis patient in Tangerang. Method : the design of this study was longitudinal retrospective with tuberculosis patients as subjects and characteristic, access factors to influence. The data were analyze using the multiple logistic regression in order to find the most proper ( fit), simple (parsimonious) and the right (robust). Model in order to describe the relationship between the outcome variable and one set predictor variables. 164 subjects participated in the study of which 38(23,2%) of the subject are identify as cases not recovery . Based on the findings the study also propose a predicted model of tuberculosis patient not recovery treatment. Result. Multiple logistic regression analysis show that the predictor of the outcome are job, distance and to reach, and distance is the main determinant. The result of this study showed that distance have OR = 2,71 95% CI : 1,21-6,07; to reach have OR =2,54 95% CI: 1,12 - 5,76; Job have OR 0,41 95% CI : 0,18 -- 0,92; Conclusion : this study have conclusion that a distance have a lead of access factors and to reach of the others and job of tuberculosis patient have definitive influence not recovery cases.

Read More
T-2268
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Sya`bani Wulandari MD; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Milla Herayati, Rahmadewi
S-8156
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive