Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32037 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Agus Setiawan Solichin; Promotor: Nasrin Kodim; Ko Promotor: Rita Damayanti; Penguji: hasbullah Thabrany, , Airiza Achmad, Yayi Suryo Prabandari, Aris Wibudi, Jumraini Tamasse, Syahrul Gazali
D-312
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawang; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Putri Bungsu, Endah Kusumowardani, Ikke Yuniherlina
Abstrak:
Pneumonia merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita di Indonesia. Paparan polusi udara rumah tangga, khususnya dari bahan bakar memasak yang menghasilkan asap, serta paparan asap rokok diduga berperan dalam meningkatkan risiko kejadian pneumonia pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara polusi udara rumah tangga dan paparan asap rokok dengan kejadian pneumonia pada balita di Indonesia.Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Analisis dilakukan pada balita usia 12–59 bulan dengan variabel dependen kejadian pneumonia, serta variabel independen utama berupa bahan bakar memasak dan paparan asap rokok. Variabel kovariat dipilih berdasarkan nilai    p < 0,25 pada analisis bivariat dan pertimbangan teoritis. Analisis data dilakukan secara bertahap menggunakan regresi logistik berganda dengan pendekatan survei (svy) untuk mengontrol variabel perancu serta menguji interaksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi pneumonia pada balita sebesar 1,92%. Pada analisis bivariat, penggunaan bahan bakar memasak yang menghasilkan asap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,64; p = 0,030). Pada analisis multivariat model akhir, bahan bakar memasak tetap berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,30; 95% CI: 1,03–1,65; p = 0,027). Selain itu, status gizi akut (wasting) juga berhubungan signifikan dengan kejadian pneumonia (OR = 1,41; 95% CI: 1,04–1,91; p = 0,028). Paparan asap rokok tidak menunjukkan hubungan yang signifikan baik pada analisis bivariat (OR = 0,86; p = 0,215) maupun multivariat (OR = 1,22; p = 0,306), namun ditemukan adanya efek modifikasi oleh status imunisasi (p = 0,037), dengan efek protektif imunisasi lengkap terhadap dampak paparan asap rokok. Tidak ditemukan interaksi bermakna antara asap rokok dengan variabel lain. Variabel lain seperti jenis kelamin, usia balita, pendidikan ibu, dan status ekonomi menunjukkan hubungan yang bervariasi, dengan sebagian tetap signifikan dalam model akhir. Meskipun tidak ditemukan variabel confounder berdasarkan kriteria perubahan OR ≥ 10%, seluruh variabel tetap dipertahankan berdasarkan pertimbangan statistik dan teoritis. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa kejadian pneumonia pada balita bersifat multifaktorial, dengan faktor utama yang berperan adalah bahan bakar memasak dan status gizi akut. Efek bahan bakar memasak juga dipengaruhi oleh faktor sosial seperti pendidikan ibu, sementara paparan asap rokok tidak berhubungan langsung dengan kejadian pneumonia namun dipengaruhi oleh status imunisasi sebagai efek modifikasi. Upaya pencegahan pneumonia perlu difokuskan pada pengendalian polusi udara rumah tangga, pengurangan paparan asap rokok, perbaikan status gizi, serta penguatan program imunisasi dan edukasi kesehatan.

Pneumonia is a leading cause of morbidity and mortality among toddlers in Indonesia. Household air pollution, particularly from smoky cooking fuels, and secondhand smoke exposure are suspected risk factors. This study aims to analyze the relationship between household air pollution and secondhand smoke exposure with pneumonia incidence among toddlers in Indonesia. Using a cross-sectional design, this study analyzed secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI) focusing on children aged 12–59 months. Data were analyzed using multiple logistic regression with a survey (svy) approach. The results showed a pneumonia prevalence of 1.92%. Bivariate analysis indicated that smoky cooking fuels were significantly associated with pneumonia (OR = 1.30; 95% CI: 1.03–1.64; p = 0.030). In the final multivariate model, cooking fuel remained significant (OR =1.30; 95% CI: 1.03–1.65; p = 0.027), alongside acute nutritional status/wasting (OR = 1.41; 95% CI: 1.04–1.91; p = 0.028). Secondhand smoke exposure showed no direct significant association in bivariate (OR = 0.86; p = 0.215) or multivariate analysis (OR = 1.22; p = 0.306). However, immunization status acted as a significant effect modifier (p = 0.037), providing a protective effect against smoke exposure. Other variables such as gender, age, maternal education, and economic status showed varying associations. In conclusion, pneumonia incidence is multifactorial, primarily driven by cooking fuel and nutritional status. The impact of cooking fuel is influenced by maternal education, while the effect of smoke exposure is modified by immunization. Prevention efforts should focus on controlling household air pollution, reduced exposure to cigarette smoke, improving nutrition, and strengthening immunization and health education programs.
Read More
T-7506
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizka Nur Farida; Pembimbing: Ratna Djuwita Hatma; Penguji: Asih Setiarini, Mira Dewi
S-7263
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tika Dwi Tama; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Ani Isnawati
S-7006
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiolia Natazia Senduk; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Dwi Gayatri, Elisa Taurisia
Abstrak:
Computer Vision Syndrome (CVS) merupakan kumpulan gejala akibat penggunaan layar perangkat digital secara berlebihan dan berdampak negative pada produktivitas dan kualitas hidup. salah satu upaya menangani CVS dengan modifikasi konsumsi makanan. Namun, penelitian mengenai asosiasi antara asupan Vitamin dan Omega-3 terhadap CVS masih terbatas, terutama pada kelompok mahasiswa. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan desain cross-sectional. Populasi studi adalah seluruh mahasiswa jenjang S1, S2,dan S3 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI). Peneliti mengirimkan kuesioner melalui surat elektronik kepada 960 calon responden dan sebanyak 265 mahasiswa yang bersedia menjadi responden (tingkat partisipasi=27,6%). Analisis multivariat menggunakan teknik Cox Regression. Mayoritas responden mengalami gejala CVS (78,1%) dan memiliki asupan vitamin A dan Omega-3 yang kurang (93,6% untuk vitamin A dan 96,2% untuk Omega-3). Tidak ditemukan adanya asosiasi vitamin A dengan CVS, namun terdapat perbedaan risiko CVS berdasarkan tingkat konsumsi Omega-3 walaupun tidak bermakna secara statistik. Mahasiswa yang kurang asupan Omega-3 memiliki risiko 1,2 kali untuk mengalami CVS dibandingkan yang cukup asupan Omega-3, setelah dikontrol oleh kovariat. Efek gabungan antara vitamin A dan Omega-3 tidak ditemukan dalam penelitian ini. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi pembelajaran baik untuk mahasiswa mengenai pentingnya pola asupan gizi yang baik seperti vitamin A dan Omega-3.

Computer Vision Syndrome (CVS) is a group of symptoms due to excessive use of digital device screens and has a negative impact on productivity and quality of life. One effort to deal with CVS is by modifying food consumption. However, research on the association between Vitamin and Omega-3 intake and CVS is still limited, especially in student groups. This study is a quantitative study using a cross-sectional design. The study population was all undergraduate, postgraduate, and doctoral students of the Faculty of Public Health, University of Indonesia (FKM UI). Researchers sent questionnaires via electronic mail to 960 prospective respondents and 265 students who were willing to be respondents (participation rate = 27.6%). Multivariate analysis used the Cox Regression technique. The majority of respondents experienced CVS symptoms (78.1%) and had low intake of vitamin A and Omega-3 (93.6% for vitamin A and 96.2% for Omega-3). No association of vitamin A with CVS was found, but there was a difference in the risk of CVS based on the level of Omega-3 consumption although it was not statistically significant. Students with insufficient Omega-3 intake had a 1.2 times greater risk of experiencing CVS compared to those with sufficient Omega-3 intake, after being controlled for covariates. The combined effect of vitamin A and Omega-3 was not found in this study. It is hoped that the results of this study can be a good lesson for students regarding the importance of good nutritional intake patterns such as vitamin A and Omega-3. Computer Vision Syndrome (CVS) is a collection of symptoms due to excessive use of digital device screens and has a negative impact on productivity and quality of life. 
 
Read More
T-7451
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Canra Herianto Manurung; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Dian Kurnia Rabbanni
Abstrak:
Hipertensi masih menjadi masalah utama kesehatan di dunia karena 55,5% kematian akibat kardiovaskular berkaitan dengan hipertensi, Empat dari sepuluh orang dewasa di dunia dan satu dari tiga orang dewasa di Indonesia merupakan penderita hipertensi. Tingginya prevalensi hipertensi menunjukkan masih kurang efektifnya upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi terutama dalam deteksi dini hipertensi dan prehipertensi. Prevalensi prehipertensi cenderung meningkat setiap tahunnya dan sudah banyak ditemukan pada usia muda termasuk kalangan mahasiswa. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui determinan kejadian prehipertensi pada mahasiswa FKM UI tahun 2024 menggunakan data primer. Desain penelitian adalah cross sectional, dengan populasi mahasiswa aktif program sarjana FKM UI tahun 2024 sebanyak 1.163 dan sampel sebanyak 247 responden yang dikumpulkan dengan cara purpossive sampling dan memenuhi kriteia iklusi dan ekslusi. Data dianalisis dengan bantuan software STATA secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan regresi logistik berganda. Proporsi prehipertensi pada mahsiswa FKM UI tahun 2024 sebesar 17,0%. Terdapat hubungan yang signifikan status obesitas dan riwayat keluarga menderita hipertensi dengan nilai p <0,05 dan Odds Ratio (OR) gemuk 4,58 (95% CI=1,67-12,54), OR obesitas 3,59 (95% CI=1,22-10,52), OR kurus 0,11 (95% CI=0,01-0,80), dan OR riwayat keluarga menderita hipertens 2,62 (95% CI=1,24-5,52).

Hypertension is still a major health problem in the world because 55.5% of cardiovascular deaths are related to hypertension. Four out of ten adults in the world and one in three adults in Indonesia are hypertensive sufferers. The high prevalence of hypertension shows that efforts to prevent and control hypertension are still ineffective, especially in early detection of hypertension and prehypertension. The prevalence of prehypertension tends to increase every year and is often found at young ages, including among students. The aim of this research is to determine the determinants of the incidence of prehypertension in FKM UI students in 2024 using primary data. The research design was cross sectional, from 1,163 total population (active students of the FKM UI undergraduate program in 2024) 247 respondents were obtained who were collected by purposive sampling and met the inclusion and exclusion criteria. Data were analyzed with the help of STATA software in univariate, bivariate and multivariate ways with multiple logistic regression. The proportion of prehypertension among FKM UI students in 2024 is 17.0%. There is a significant relationship between obesity status and family history of hypertension with a nilai p
Read More
T-7118
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cucunawangsih; Promotor: Bambang Sutrisna; Ko-Promotro: Pohan Herdiman T. Syahrurachman; Penguji: Djoko Widodo, Sudarto Ronoatmodjo, Cicilia Windiyaningsih, Tjahyani Mirawati, Mondastri Korib Sudaryo
D-267
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Judhi Saraswati; Pemb. Ririn Arminsih Wulandari, Laila Fitria; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Rachmat Suherwin, Elly Setyawati
Abstrak:

Asap rokok merupakan salah satu polutan dalam ruangan yang mengandung 4.000 jenis bahan kimia yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Asap rokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan orang yang merokok tetapi juga bagi orang- orang di sekitarya. Anak-anak merupakan kelompok yang berisiko. Dampak yang ditimbulkan dari asap rokok temebut salah satunya adalah gangguan saluran pcrnafasan, yaitu ISPA dan gangguan fungsi paru. Prevalensi orang merokok dari tahun ke tahun meningkat yang berarti prevalensi perokok pasifjuga meningkat. Berdasarkan survei yang dilakukan Badan Litbangkes tahun 2002, anak-anak umur 0-14 tahun merupakan kclompok berisiko yang paling banyak. Berdasarkan data dari Puskesmas Kelurahan Grogol mcnujukkan bahwa ISPA menempati urutan pertama dibandingkan penyakit Iainnya dan data tcntang gangguan fungsi paru belum tersedia di Kelurahan Grogol. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi mengenai hubungan antara pajanan asap rokok di rumah dengan kejadian ISPA dan gangguan fungsi paru sehingga menjadi informasi yang bermanfaat untuk memutuskan strategi mcngatasi dampak asap rokok terhadap kesehatan. Penelitian ini bcrsifat deskriptif analilik dengan pendekatan Cross Sectional, yang dilakukan terhadap anak SD kelas IV dan V di Kelurahan Grogol denganjumlah sampcl 174 responcien. Respondcn merupakan siswa yang sehat pada saat dilakukan pcngukuran fimgsi paru dan tidak mengalami penyakit TB paru, asma dan bronkhitis. Variabel independen yang diteliti adalah pajanan asap rokok jumlah perokok, jumlah konsumsi rokok per hari dan waklu merokok) karakteristik reponden (jcnis kelamin dan status gizi), lingkungan rumah (kepadatan rumah, ventilasi, jenis lantai, jenis dinding dan kelembaban rumah) dan aktifitas rumah (bahan bakar memasak dan penggunaan anti nyamuk) sedangkan variabel dependen adalah [SPA dan gangguan fungsi paru. Pengukuran gangguan fungsi paru responden dilakukan dengan menggunakan spirometri. Sedangkan pengambilan data variabel independen pajanan asap rokok, karakteristik responden, Iingkungan rumah dan aktifitas rumah dengan kuisioner yang diisi oleh orangtua rcspondcn. Kunjungan ke rumah responden dilakukan untuk pengukuran data kelembaban dan ventilasi rumah Serta konfirmasi jawaban kuisioner melalui wawancara kepada orang tua responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi ISPA 67,8% sedangkan prevalensi gangguan fungsi paru anak SD di Kelurahan Grogol sebesar 20,7% dengan prevalcnsi restriksi 5,2% dan prevalensi obstruksi l4,9% Serta restriksi dan obstruksi sebmar 0,57%. Jumlah perokok dan penggunaan bahan hakar memasak terbukti bermakna lerhadap ISPA dan variabcl yang dominan mempcngaruhi ISPA adalah penggunaan bahan bakar memasak dcngan OR 2,735. Sedangkan variabel jenis kelamin terbukti bermakna terhadap gangguan fungsi paru dengan OR 2,|67. Perlu penelitian lebih Ianjut dengan jumlah sampel yang Iebih banyak dengan mengikuti perjalanan pajanan asap rokok dan variabel lainnya terhadap reponden (studi kohort) sehingga dapat diketahui pengaruh dari pajanan asap rokok dengan kejadian ISPA dan gangguan fungsi paru.

Read More
T-2928
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faraz Ali; Pembkimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ema Hermawati, Fajar Nugraha, Rindu Rachmiaty
Abstrak:
Asap rokok di rumah (SHS) telah menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan prevalensi merokok yang tinggi seperti Indonesia. Paparan SHS telah dikaitkan dengan gejala pernapasan seperti sesak napas dan batuk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara paparan SHS di rumah dengan gejala pernapasan pada orang dewasa yang tidak merokok di Depok, Indonesia. Sebanyak 108 orang dewasa yang tidak merokok berusia 18–30 tahun, yang terpapar SHS di rumah, direkrut menggunakan teknik sampling kenyamanan untuk penelitian potong lintang. Kuesioner terstruktur yang diisi oleh pewawancara digunakan untuk mengumpulkan data mengenai gejala pernapasan batuk dan sesak napas. Statistik deskriptif digunakan dalam deskripsi karakteristik peserta, dan hubungan antara paparan asap rokok pasif (SHS) dan gejala pernapasan ditentukan menggunakan uji Chi-square. Menurut temuan dari penelitian tersebut, hubungan signifikan secara statistik dari prevalensi gejala pernapasan dengan usia (p = 0,046; OR = 2,63, 95% CI: 1,05–6,55), pekerjaan (p = 0,050; OR = 2,61, 95% CI: 1,04–6,53), frekuensi paparan (p = 0,001; OR = 4,86, 95% CI: 1,84–12,83), dan waktu paparan SHS (p = 0,007; OR = 3,76, 95% CI: 1,43–9,87) ditetapkan. Hasil ini menunjukkan bahwa pria, individu yang terpapar SHS dalam durasi yang lebih lama, terutama yang terpapar lebih dari lima jam, dan individu yang tidak bekerja, memiliki prevalensi gejala yang lebih tinggi. Temuan ini menunjukkan adanya risiko kesehatan dari paparan SHS jangka panjang di rumah bagi orang dewasa yang tidak merokok. Hal ini menekankan pentingnya penerapan undang-undang rumah bebas rokok dan kesadaran bahaya SHS di masyarakat.

Secondhand smoke (SHS) home exposures have come to represent a public health concern, especially where there is high prevalence of smoking such as Indonesia. SHS exposures have been linked to respiratory manifestations such as shortness of breath and cough. This study set out to determine the correlation of SHS home exposures with respiratory symptoms among nonsmoking adults in Depok, Indonesia. A total of 108 nonsmoking adults aged 18–30 years old, exposed to SHS at home, were recruited using convenience sampling for the cross-sectional study. A structured interviewer-administered questionnaire was filled to gather data for measurement of respiratory symptoms of cough and shortness of breath. Descriptive statistics were utilized in the description of the participants' characteristics, and the association between second-hand smoke (SHS) exposure and respiratory symptoms was determined using the Chi-square test. According to the findings from the study, statistically significant associations of the prevalence of respiratory symptoms with age (p = 0.046; OR = 2.63, 95% CI: 1.05–6.55), occupation (p = 0.050; OR = 2.61, 95% CI: 1.04–6.53), the frequency of exposure (p = 0.001; OR = 4.86, 95% CI: 1.84–12.83), and the time of SHS exposure (p = 0.007; OR = 3.76, 95% CI: 1.43–9.87) were established These results indicate that male, individuals exposed to SHS for longer durations. Significantly, SHS-exposed subjects for longer than five hours and unemployed subjects showed prevalence of symptoms. It is the study findings with implications of health risks of long SHS home exposures among nonsmoking adults. It vouches for the importance of implementing legislation of smoke-free houses and SHS hazards awareness in the community.
Read More
T-7332
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budiman Chandra
614.4 CHA p
Jakarta : EGC, 1996
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive