Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23155 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yohannes Natanael Pasaribu; Pembimbing: Resna A Surawidjaja
T-1203
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriyani; Pembimbing: Meily Kurniawidjaja; Penguji: Mila Tejamaya, Dadan Erwandi, Hanny Harjulianti, Wiwik Setyowati
T-4725
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imron Khazim; Pembimbing: Resna A. Surawidjaja
T-832
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dimas Brilliant Sunarno Sunarno; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri, Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Arief Zulkarnain, Aris Kristanto
Abstrak: Tingkat kebisingan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) cukup tinggi. Meningkatnya kebutuhan air bersih seiring dengan bertambahnya populasi penduduk, membuat Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dituntut untuk meningkatkan kapasitas produksi. Terdapat alat-alat dan proses produksi yang memiliki karakteristik berbeda dibanding jenis industri lain. Terdapat 306 PDAM di seluruh Indonesia, potensi jumlah pekerja yang terpajan bising sangat besar, maka perlu diteliti lebih lanjut mengenai hubungan karakteristik bising serta faktor-faktor determinannya terhadap gangguan pendengaran pada pekerja di PDAM untuk memperoleh bentuk pengendalian yang paling tepat. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang. Tahapan penelitian ini yaitu mengukur tingkat kebisingan serta memberikan kuesioner sebagai data primer, menganalisis hasil audiometri pekerja sebagai data sekunder dan menggunakan uji statistika Chi Square dan analisis multi determinan untuk mengetahui hubungan di antara variabel independen dan dependen. Hasil penelitian diperoleh bahwa sumber bising di instalasi pengolahan air adalah pompa, exhaust fan, kompresor, blower, vacuum dan terjunan air. Sebanyak 84.4% pekerja di area produksi terpajan bising > 85 dBA. Sebanyak 15.6% pekerja mengalami gangguan pendengaran. Diperoleh kesimpulan bahwa pekerja yang terpajan bising di atas 85 dBA yang memiliki frekuensi bising dominan > 2000 Hz dapat menyebabkan terjadinya gangguan fungsi pendengaran dan diperparah apabila pekerja berusia > 40 tahun dan memiliki masa kerja > 14 tahun. Kata kunci: Kebisingan, PDAM, Gangguan pendengaran, Frekuensi bising

Noise level in Water Treatment Plant (WTP) is high enough. Increasing the need for clean water in line with the increasing population, making the Water Supply Company (PDAM) is required to increase production capacity. There are machines and production processes that have different characteristics than other types of industries. There are 306 PDAMs throughout Indonesia, the potential number of workers exposed to noise is very large, it is necessary to further investigate the relationship between noise characteristics and its determinants to hearing loss to PDAM workers to obtain the most appropriate form of control. This study used a cross sectional study design. The stages of this study are to measure the noise level and provide questionnaires as primary data, analyzing the worker audiometric results as secondary data and using Chi Square statistical test and multi determinant analysis to find out the relationship between independent and dependent variables. The results obtained that the source of noise in water treatment plants are pumps, exhaust fan, compressor, blower, vacuum and waterfall. About 84.4% of workers in the production area exposed to noise > 85 dBA. About 15.6% of workers have hearing loss. It is concluded that exposure workers over 85 dBA with dominant noise frequency > 2000 Hz can cause hearing impairment and aggravate if workers are > 40 years old and have a working life > 14 years. Key words: Noise, Water supply company, Hearing loss, Noise frequency
Read More
T-5214
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sinatra Gunawan; Pembimbing: Corrie Wawolumaya
T-966
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitri Kurniasari; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Hendra, Syahrul Efendi Panjaitan, Rudy Saptari Sulesuryana
Abstrak: Emisi mesin diesel (diesel exhaust) merupakan bahan yang karsinogenik terhadap manusia (grup 1 IARC). Sektor transportasi merupakan penyumbang terbesar diesel exhaust di udara. Polisiklik Aromatik Hidrokarbon (PAH) merupakan komponen yang banyak ditemukan dalam diesel exhaust. 1-Hidroksipirena (1-OHP) merupakan metabolit pyrene yang digunakan sebagai penanda adanya pajanan PAH. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi 1-OHP dalam urin terkait dengan pajanan diesel exhaust pada pekerja uji mekanis di Pusat Pengujian Kendaraan Bermotor Cilincing. Pajanan diesel exhaust diukur melalui konsentrasi personal PM2,5, PM1, PM0,5, dan PM0,25. Penelitian dilakukan pada 19 petugas uji mekanis dan 18 orang pembanding. Pengukuran partikulat dilakukan menggunakan pompa Leland Legacy dengan Sioutas Cascade Impactor. Analisis 1-OHP dalam urin dilakukan menggunakan HPLC dengan detektor fluoresensi. Distribusi frekuensi 1-OHP dalam urin berkisar antara 11,72 - 61,88 μg/gr kreatinin urin. Hasil analisis menunjukkan terdapat rata-rata konsentrasi 1-OHP petugas uji mekanis signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok pembanding (p=0,001). Terdapat korelasi positif dengan derajat keeratan kuat antara konsentrasi partikulat pada semua ukuran dengan konsentrasi 1-OHP dalam urin. Partikulat yang dihasilkan dari emisi mesin diesel merupakan kontributor utama terhadap peningkatan konsentrasi 1-OHP dalam urin petugas uji mekanis PKB Cilincing. Kata kunci: 1-Hidroksipirena, emisi diesel, particulate matter, petugas uji mekanis, pengujian kendaraan bermotor. Diesel engine exhaust is categorized as carcinogenic to human (group 1) by IARC in 2012. Transportation is the biggest contributor of diesel exhaust pollutant. Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAHs) are the major compound of diesel exhaust that can be found on gas and particle phases. 1-Hydroxypyrene (1-OHP), a metabolite of pyrene, has been used extensively as a biological monitoring of exposure to PAHs. This study aimed to analyze the concentration of urinary 1-OHP related to diesel engine exhaust among vehicle testing mechanics at vehicle testing center Cilincing, Jakarta. Diesel exhaust exposure was measured by personal concentration of PM2,5, PM1, PM0,5, dan PM0,25. The subject was 19 vehicle testing mechanics and 18 non-mechanics as a comparator. Personal concentration of particulate matter collected using Leland Legacy pump and Sioutas Cascade Impactor and analyzed using gravimetric method. Urinary 1-OHP analyzed using High Performance Liquid Chromatography with fluorescence detector. Concentration of urinary 1-OHP ranging from 11,72 to 61,88 μg/gr creatinine. The result show that mean concentration of 1-Hydroxypyrene of mechanic group is significant higher than non-mechanic group (p=0,001). There is a positive correlation between particulate matter concentration in all size and urinary 1- hydroxypyrene concentration. In this study, particulate related to diesel engine exhaust is the main contributor of the increasing of urinary 1-hydroxypyrene concentration among vehicle testing mechanics. Key words: 1-Hydroxypyrene, diesel exhaust, particulate matter, vehicle testing
Read More
T-4927
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Murni Amir; Pembimbing: Sumedi Sudarsono
T-858
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nesya Dinda Rahmaningtyas; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Hendra, Laksita Ri Hastiti, Dwi Yuliati, Rizki Ananda
Abstrak:
Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara faktor risiko kelelahan kerja serta kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja industri pengolahan ikan di PT X. Industri pengolahan ikan memiliki karakteristik pekerjaan dengan tuntutan fisik yang tinggi, pekerjaan repetitif, serta paparan lingkungan kerja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kelelahan kerja kronis yang berhubungan dengan human performance. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan melibatkan 94 responden pekerja di PT X. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner, observasi, serta pengukuran faktor risiko kerja meliputi faktor individu, faktor fisik, faktor psikososial, dan faktor lingkungan kerja. Kelelahan kerja kronis diukur menggunakan instrumen OFER, kualitas tidur menggunakan PSQI, psikososial menggunakan COPSOQ III, serta human performance diukur melalui indikator at-risk behavior. Data dianalisis menggunakan uji regresi untuk melihat hubungan antar variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelelahan kerja kronis dengan human performance pada pekerja PT X (p = 0,008) dengan koefisien regresi sebesar -13,11 yang menunjukkan bahwa peningkatan kelelahan kerja kronis berkaitan dengan penurunan skor human performance. Faktor yang paling dominan berkaitan dengan kelelahan kerja kronis adalah kualitas tidur yang buruk (OR = 5,83; 95% CI: 1,73–19,63), tuntutan kerja yang tinggi (OR = 4,43; 95% CI: 1,31–14,90) dan suhu lingkungan kerja yang tidak sesuai (OR = 4,69; 95% CI: 1,11–19,88) menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kelelahan kerja kronis. Hasil ini menunjukkan bahwa kelelahan kerja pada pekerja merupakan kondisi multifaktorial yang dipengaruhi oleh interaksi faktor individu, pekerjaan, dan lingkungan serta berasosiasi dengan human performance.

This study was conducted to analyze the relationship between work-related fatigue risk factors and the impact of chronic fatigue on human performance among workers in the fish processing industry at PT X. The fish processing industry is characterized by high physical workload, repetitive tasks, and exposure to environmental conditions that may increase the risk of fatigue and subsequently affect human performance. This study employed a cross-sectional design involving 94 workers at PT X. Data were collected using questionnaires, observations, and measurements of work-related risk factors including individual, physical, psychosocial, and environmental factors. Work fatigue was measured using the OFER instrument, sleep quality using PSQI, psychosocial factors using COPSOQ III, and human performance was assessed through at-risk behavior indicators. Data were analyzed using regression analysis to examine the relationships between variables. The results showed a significant relationship between chronic fatigue and human performance among workers at PT X (p = 0.008), with a regression coefficient of -13.11, indicating that an increase in chronic fatigue is associated with a decrease in human performance scores. The most dominant factors associated with chronic fatigue were poor sleep quality (OR = 5.83; 95% CI: 1.73–19.63), high job demands (OR = 4.43; 95% CI: 1.31–14.90), and inappropriate workplace temperature (OR = 4.69; 95% CI: 1.11–19.88), all of which showed significant relationships with chronic fatigue. These findings indicate that occupational fatigue among workers is a multifactorial condition influenced by the interaction of individual, job-related, and environmental factors, and is associated with human performance.
Read More
T-7697
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abstrak: Industri petrokimia beroperasi sepanjang jam, durasi kerja tanpa henti selama operasi normal, terlebih pada kegiatan turn around, program pemeliharaan yang harus sesuai target dan tepat waktu. Pada pelaksanaan turn around jumlah jam kerja diperpanjang tidak seperti hari biasanya, hal ini dapat mengakibatkan personil terganggu dengan kuantitas tidur, kualitas tidur dan sleep hygiene individu, kondisi seperti ini mengakibatkan potensi kelelahan akut, mengurangi performance dan berpotensi meningkatnya jumlah kejadian kecelakaan kerja. Penelitian analitik dengan desain cross-sectional ini bertujuan mengetahui pola dan gambaran kuantitas tidur, kualitas tidur, durasi kerja pada tenaga kerja turn around terhadap potensi kelelahan kerja akut. Penelitian ini menggunakan beberapa alat pengumpulan data yaitu: kuesioner, tensimeter, thermogun dan alat actigraph fitbit. Analisis data menggunakan uji beda mean dan uji chi square. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara variable kuantitas tidur (p value = 0,001; OR = 0,115), kualitas tidur (p value = 0,030; OR = 8,143), dan durasi kerja (p value = 0,013; OR = 5,769) dengan variable potensi kelelahan kerja akut, penelitian ini terbukti dengan hasil pengukuran actigraph fitbit dengan rata-rata tidur 235 menit atau setara dengan 3 jam 55 menit serta durasi kerja yang lebih dari 12 jam setiap harinya selama kegiatan turn around
Read More
T-5588
Depok : FKM UI, Depok: FKMUI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Nindya Ayu NB; Pembimbing: Danardi Sosrosumihardjo; Penguji: Setyawati Budiningsih, Dewi S Soemarko
Abstrak:

Karyawan merupakan aset bagi suatu perusahaan, maka mereka harus sehat. Tidak hanya fisik namun juga mental dan sosial, sehingga dapat hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Penelitian ini bertujuan untuk mengctahui hubungan antara stres kerja dengan gangguan mental emosional. Metode : Penelitian ini menggunakan disain kros-seksional terhadap 189 subjek penelitian yang terdiri dari karyawan administrasi dan karyawan lapangan. Data yang dikumpulkan meliputi data umum sosiodemografi, pengukuran stres kerja dengan menggunakan kuesioner Survai Diagnostik Stres, penilaian gangguan mental emosional dipergunakan kuesioner Symptom Check List 90 (SCL-90), dan penilaian stres yang ada pada kehidupan seseorang menggunakan kuesioner Skala Holmes Rahe. Hasil : Karyawan yang diduga mengalami gangguan mental emosional, ditemukan sebesar 49,2%. Prevalensi karyawan administrasi lebih rendah dari karyawan lapangan (47,4% : 51,1%). Gejala gangguan mental emosional yang paling banyak adalah psikotisme (48,38%) dan somatisasi (46,24%). Karyawan administrasi mengalami stres kerja Iebih besar dibandingkan dengan karyawan lapangan. Karyawan dengan stres sedang mempunyai risiko 3,51 - 7,52 kali lebih besar, dan stres tinggi mempunyai risiko 5,69 - 97,50 kali lebih besar untuk mengalami gangguan mental emosional dibanding dengan stres rendah. Semua stresor kerja mempunyai hubungan bermakna dengan gangguan mental emosional namun yang paling dominan adalah stresor pengembangan karier. Untuk faktor karakteristik tidak mempunyai hubungan bermakna dengan gangguan mental emosional namun faktor umur, pendidikan dan jenis pekerjaan, mempunyai hubungan bermakna dengan stres kerja, dan yang mempunyai hubungan bermakna paling dominan dengan stres, kerja adalah pendidikan. Kesimpulan : Stresor kerja berpengaruh terhadap timbulnya gangguan mental emosional. Beberapa faktor karakteristik (umur, pendidikan, jenis pekerjaan) berpengaruh terhadap timbulnya stres kerja namun tidak sampai menimbulkan gangguan mental emosional.


 

Analysis of the influence of work stressor to mental emotional disorders among the agency and terminal company PT "S" Jakarta, 2001.Background and objective : As an asset to a company, employees must stay healthy. Not only physically but also mentally and socially, to be productive in term of social and economical aspects. The aim of this research is to study the relationship of work stress and mental emotional disorders. This study was using cross sectional design with a sample of 189 subjects. The data collected were data of socio-demography, measurement of work stress using "Survai Diagnoslik Srres" questionnaire, measurement of mental emotional disorders using Symptom Check List 90 (SCL-90) questionnaire, measurement of stress to the life of a person using Holmes Rohe Scale questionnaire. The employees who assumption had mental emotional disorders in this population was 49,2%. Administrative employees were less than field employees (47,4%: 51,1%). The dominant symptoms of mental emotional disorders were psycotism (48,38%) and soniatisation (46,24%). The administration employees had more work stressed than fields employees. Employees with moderate stress have a risk 3,51 -- 7,52 times more and high stress have a risk 5,69 - 97,50 times more for mental emotional disorder than those having low stress. All the work stressor had significant relationship to mental emotional disorders but the most was career development. Characteristic factor has no significant relationship with mental emotional disorders. On the other side age, education and type of work were significant with work stress and the most was education. Conclusion : Work stressor influenced the occurrence of mental emotional disorders. Some characteristic factors (age, education, type of work) would be able to influence the occurrence of work stress, but they did not create mental emotional disorders.

Read More
T-1311
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive