Ditemukan 38622 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Mochamad Rachmat; Pembimbing: Ratna Djuwita
T-790
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Sora Yullyana; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Dadan Erwandi, Hendra, Ade Kurdiman, Wahyudin
Abstrak:
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis terbanyak urutan ke-2 di dunia. Selama beberapa dekade terakhir, tuberkulosis juga muncul pada populasi anak. Tahun 2017, proporsi kasus tuberkulosis anak masih mengalami peningkatan menjadi 5.86 per 100.000 penduduk pada umur 0-4 tahun dan 5.89 per 100.000 penduduk pada usia 5-14 Tahun. Studi ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tuberkulosis anak di Kota Administrasi Jakarta Timur. Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Populasi adalah semua kasus tuberkulosis anak yang ditemukan di pelayanan kesehatan Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2017. Kelompok kasus adalah seluruh anak berumur 0-14 tahun yang sudah didiagnosis tuberkulosis positif berdasarkan sistem skoring tuberkulosis paru anak dan tercatat dalam register di Puskesmas wilayah Jakarta Timur. Kelompok kontrol adalah anak 0-14 tahun yang tinggal di wilayah Jakarta Timur dan tidak terdiagnosis tuberkulosis paru.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kurang gizi kelompok kasus sebesar 29.17% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis T-test menjelaskan bahwa anak dengan gizi buruk memiliki risiko TB paru dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0,002). Hasil analisis regresi logistik menjelaskan bahwa anak dengan malnutrisi berisiko tuberkulosis paru 3.37 dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal setelah dikontrol oleh variabel kondisi atap, pencahayaan, riwayat imunisasi dasar, dan riwayat kontak kasus tuberculosis (95% CI 1.10-10.25; p 0.034). Kegiatan preventif dan promotif merupakan upaya dalam pencegahan dan pengendalian tuberkulosis paru khususnya pada anak. Upaya preventif dapat dilakukan melalui Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB, Pemerintah bersama masyarakat dapat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
Read More
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi kurang gizi kelompok kasus sebesar 29.17% lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hasil analisis T-test menjelaskan bahwa anak dengan gizi buruk memiliki risiko TB paru dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal (OR 3.54; 95% CI 1.56-8.04; p 0,002). Hasil analisis regresi logistik menjelaskan bahwa anak dengan malnutrisi berisiko tuberkulosis paru 3.37 dibandingkan dengan anak dengan status gizi normal setelah dikontrol oleh variabel kondisi atap, pencahayaan, riwayat imunisasi dasar, dan riwayat kontak kasus tuberculosis (95% CI 1.10-10.25; p 0.034). Kegiatan preventif dan promotif merupakan upaya dalam pencegahan dan pengendalian tuberkulosis paru khususnya pada anak. Upaya preventif dapat dilakukan melalui Gerakan Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Untuk memperkuat Gerakan TOSS TB, Pemerintah bersama masyarakat dapat melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS).
T-5761
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wulandari Citra Anggraeni; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Fatmah, Dwi Atini
S-7851
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ingan Ukur Tarigan; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo
T-953
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yani Haerani Nuriyah; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tris Yunis Miko Wahyono, Gunawan Hendra, Nurholis Majid
T-4490
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cleo Syahana Indaryono; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Nurhayati Adnan, Widjaja Lukito, Fajrinayanti
Abstrak:
Read More
Stunting merupakan kondisi kurang gizi kronis dengan dampak jangka panjang yang dapat menghambat perkembangan kognitif dan fisik, meningkatkan risiko penyakit degeneratif, dan pada akhirnya mengurangi produktivitas. Anak-anak panti asuhan termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami kekurangan gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asupan energi, protein, dan makanan beragam terhadap kejadian stunting di panti asuhan kota Depok, Jakarta, dan Tangerang Selatan dengan desain cross-sectional pada data primer dengan total sampel sebanyak 99 balita. Ditemukan proporsi stunting sebesar 16,2% dan kecukupan asupan energi, protein, dan makanan beragam adalah 59,6%, 94,9%, dan 66,7%. Analisis cox regression menunjukkan hubungan yang signifikan antara asupan energi dengan kejadian stunting (PR 9,6 (95% CI: 2,050 - 44,977) p-value: 0,004,. Balita dengan asupan energi yang tidak cukup memiliki risiko kejadian stunting 9,6 kali dibandingkan balita dengan asupan energi cukup setelah dikontrol oleh variabel status wilayah tempat tinggal balita, hubungan wali dengan balita, usia wali, ketahanan pangan, riwayat penyakit balita, dan pengetahuan wali. Panti Asuhan memiliki potensi besar menjangkau lapisan masyarakat cakupan panti asuhan, membantu pencegahan kejadian stunting dengan pendampingan dari institusi kesehatan dan sosial dalam mendeteksi kasus stunting dan berperan dalam implementasi praktis berbagai program pencegahan stunting pada balita.
Stunting is a chronic form of malnutrition with long-term effects that can hinder cognitive and physical development, increase the risk of degenerative diseases, and reduce productivity. Children in orphanages tend to be more vulnerable to the risk of malnutrition. This study aims to determine the relationship between the intake of energy, protein, and dietary diversity on stunting in orphanages in Depok, Jakarta, and Tangerang Selatan through cross-sectional design using primary data of 99 under-five children. The proportion of stunting was 16.2% and intake of energy, protein, and dietary diversity was 59.6%, 94.9%, and 66.7%. Analysis using Cox regression showed a significant relationship between energy intake and stunting (PR 9.6 (95%CI: 2.050 - 44.977) p-value: 0.004, under-five children with insufficient energy have a risk of stunting 9,6 times compared to under-five children with sufficient energy intake, controlled by child-friendly living area status, relationship between the guardian and the child, age of the guardian, child?s household food security, child's illness history, and guardian?s nutrition knowledge. Orphanages have great potential to reach the ?hidden? layers of society, help prevent stunting with the assistance of health and social institutions through stunting case detection, and take part in the practical implementation stunting prevention programs in children.
T-6511
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Djap Hadi Susanto; Pembimbing: Nasrin Kodim
T-999
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gusnilawati; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono, Renti Mahkota; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Felly Philipus Senewe
T-2344
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sekar Astrika Fardani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Eksi Wijayanti
Abstrak:
Read More
Penyakit infeksi merupakan ancaman yang signifikan dan menyebabkan kematian pada anak-anak dalam jumlah besar. Penyakit infeksi berkontribusi terhadap 47,6% penyebab kematian pada balita tahun 2019 di dunia dan lebih dari 22% penyebab kematian pada balita di Indonesia tahun 2021. Riwayat imunisasi dasar dan stunting memiliki peranan penting terhadap risiko terjadinya penyakit infeksi pada anak usia di bawah dua tahun. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan riwayat imunisasi dasar dan stunting dengan risiko penyakit infeksi pada anak usia 12 – 23 bulan di Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI-2022. Terdapat 53.585 responden yang memenuhi kriteria inklusi-eksklusi penelitian dan dijadikan sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji cox regression constant time dengan ukuran asosiasi prevalence ratio (PR) dan interval kepercayaan 95%. Hasil penelitian ini menunjukkan proporsi anak usia 12 – 23 bulan yang menderita penyakit infeksi sebesar 12,67%, proporsi riwayat imunisasi dasar lengkap sebesar 71,63% dan proporsi stunting sebesar 21,28%. Pada analisis multivariat didapatkan riwayat imunisasi dasar berhubungan signifikan dengan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel interaksi riwayat imunisasi dasar dan ASI eksklusif. Anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar tidak lengkap dan tidak mendapatkan ASI eksklusif memiliki risiko 1,34 kali lebih besar untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak usia 12 – 23 bulan dengan riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,34; 95% CI 1,24 – 1,43). Anak usia 12 – 23 bulan yang memiliki riwayat imunisasi dasar tidak lengkap tetapi mendapatkan ASI eksklusif berisiko 1,47 kali lebih tinggi untuk menderita penyakit infeksi dibandingkan anak yang memiliki riwayat imunisasi dasar lengkap dan mendapatkan ASI eksklusif (adjusted PR 1,47; 95% CI 1,37 – 1,58). Sedangkan untuk variabel stunting didapatkan tidak ada hubungan yang signifikan antara stunting dan penyakit infeksi setelah dikontrol oleh variabel wasting (adjusted PR 1,05; 95% CI 0,99 – 1,11). Diperlukan upaya untuk melengkapi riwayat imunisasi anak serta pemenuhan asupan gizi dan pemantauan tumbuh kembang anak secara optimal.
Infectious diseases are a significant threat and the leading cause of death in many children. Infectious diseases contributed for 47.6% of the causes of under-five deaths in 2019 globally and more than 22% of the causes of under-five deaths in Indonesia in 2021. History of basic immunization and stunting play an important role in the risk of infectious diseases in children. The aim of this study was to examine the relationship between history of basic immunization and stunting with the risk of infectious diseases among toddlers aged 12 – 23 months in Indonesia. This study was conducted with a cross-sectional study design using SSGI-2022 data. There were 53,585 respondents who met the research inclusion-exclusion criteria used as samples. Data analysis was performed using cox regression constant time to obtain a prevalence ratio (PR) with 95% confidence interval. The results of this study show that the proportion of infectious diseases among toddlers aged 12 - 23 months is 12.67%, the proportion of complete basic immunization history is 71.63% and the proportion of stunting is 21.28%. Multivariate analysis was found that history of basic immunization had significantly association with infectious diseases after being controlled by the interaction variable history of basic immunization and exclusive breastfeeding. Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization and were not receive exclusive breastfeding have 1.34 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.34; 95% CI 1.24 – 1.43). Toddlers aged 12 – 23 months with incomplete basic immunization but were exclusively breastfed have 1.47 times higher risk of suffering from infectious diseases compared to toddlers with complete basic immunization and receive exclusive breasfeeding (adjusted PR 1.47; 95% CI 1.37 – 1.58). Meanwhile, for stunting variable, it was found that there was no significant asscociation between stunting and infectious diseases after being controlled for the wasting variable (adjusted PR 1.05; 95% CI 0.99 – 1.11). Efforts are needed to complete the child's immunization history as well as fulfill the child's nutritional intake and monitor the child's growth and development optimally.
T-6930
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.
Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
