Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33410 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ben Yura Rimba; Pembimbing: Ronnie Rivany
B-425
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Alwini; Pembimbing: Sandi Iljanto
B-759
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Makkie Mubarak; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sumijatun, Ihsan Ramdani
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakteristik perawat dengankepuasan kerja Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Tk.II Moh. Ridwan Meuraksa .Jenis penelitian ini kuantitatif dengan metode cross sectional menggunakankuesioner. Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Tk.II MOh.Ridwan Meuraksa pada bulan Mei 2015 dengan sampel berjumlah 77 orang. Analisishubungan menggunakan uji fisher exact dan regresi logistik. Hasil penelitianmenunjukkan gaji, hubungan teman kerja, persepsi, kebijakan mempunyai hubungansignifikan dengan kepuasan kerja perawat. Instalasi Rawat Inap RS Tk.II Moh.Ridwan Meuraksa harus memperhatikan serta meningkatkan kepuasan para perawatsehingga mutu pelayanan menjadi meningkat.
Kata kunci : Karakteristik Perawat, Kepuasan Kerja
This study aims to determine the relationship between the Characteristics of nursesand job satisfaction at the Hospital Moh. Ridwan Meuraksa. This type ofquantitative research with cross sectional method using questionnaires . The studywas conducted at Hospital Moh. Ridwan Meuraksa in May 2015, with a sampletotaling 77 nurses. Analysis of the relationship using fisher exact test and logisticregression. The results showed the part of characteristic such as salary, therelationship between nurses, perception and the last is wisdom and job satisfactionhas a significant relationship. The Hospital should care and improve the nurses jobsatisfaction and job satisfaction in order to increase quality of service.
Keyword : Characteristics of nurses, Job Satisfaction
Read More
B-1723
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Pratama; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sutan Finekri Arifin Abidin, Bambang Wibowo
Abstrak:

Penelitian ini menganalisis pemahaman, implementasi, dan kepercayaan petugas rumah sakit TNI AD Ridwan Meuraksa dan RS Salak terhadap visi bersama, dengan fokus pada pengaruh gaya kepemimpinan transformasional, transaksional, dan laissez-faire. Modifikasi Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ 5X) digunakan untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan. Studi ini juga mengintegrasikan pendekatan delapan langkah perubahan dari John Kotter untuk memahami dinamika penerapan visi di lingkungan militer yang hierarkis.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh signifikan terhadap pemahaman dan implementasi visi bersama dibandingkan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin dengan pendekatan transformasional mampu meningkatkan motivasi dan komitmen petugas melalui pengaruh ideal, inspirasi, dan perhatian individu. Sebaliknya gaya kepemimpinan laissez-faire cenderung kurang efektif dalam mendukung penerapan visi rumah sakit.

Evaluasi dilakukan dengan pendekatan mixed methods, menggabungkan survei kuantitatif melalui kuesioner dengan wawancara mendalam untuk menggali persepsi dan pengalaman narasumber. Penelitian ini melibatkan 100 responden di dua rumah sakit dengan desain studi cross-sectional. Analisis kualitatif memberikan konteks tambahan terhadap hasil kuantitatif, terutama dalam memahami faktor-faktor yang memengaruhi implementasi visi.

Penelitian ini memberikan rekomendasi strategis untuk memperkuat kepemimpinan transformasional dalam rumah sakit militer, dengan penekanan pada pelatihan dan pengembangan kepemimpinan yang berorientasi pada visi bersama. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan serta mendukung keberlanjutan operasional rumah sakit TNI AD.

Kesimpulannya, gaya kepemimpinan yang adaptif dan inspiratif merupakan kunci dalam memastikan visi bersama diterima dan diinternalisasi oleh seluruh komponen organisasi. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan literatur akademik tentang kepemimpinan di rumah sakit militer, khususnya dalam konteks Indonesia.


This study analyzes the understanding, implementation, and trust of hospital staff at TNI AD Ridwan Meuraksa Hospital and RS Salak towards a shared vision, focusing on the influence of transformational, transactional, and laissez-faire leadership styles. The modified Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ 5X) was utilized to evaluate leadership effectiveness. The study also integrates John Kotter's eight-step change model to comprehend the dynamics of vision implementation in a hierarchical military environment. The results indicate that transformational leadership style significantly impacts the understanding and implementation of the shared vision compared to other leadership styles. Leaders employing transformational approaches enhance motivation and commitment among staff through ideal influence, inspiration, and individual consideration. Conversely, laissez-faire leadership style tends to be less effective in supporting the implementation of the hospital's vision. The evaluation employed a mixed-methods approach, combining quantitative surveys through questionnaires with in-depth interviews to explore participants' perceptions and experiences. The study involved 100 respondents from two hospitals using a cross-sectional study design. Qualitative analysis provided additional context to the quantitative findings, particularly in understanding the factors influencing vision implementation. This research provides strategic recommendations to strengthen transformational leadership in military hospitals, emphasizing training and leadership development focused on the shared vision. This approach is expected to improve healthcare quality and support the sustainability of TNI AD hospital operations. In conclusion, adaptive and inspiring leadership styles are key to ensuring the shared vision is embraced and internalized by all organizational components. This study contributes significantly to the academic literature on leadership in military hospitals, particularly in the Indonesian context.

Read More
B-2516
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
KMS Anhar; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Welly Rafnealdi, M Baharudin
Abstrak: Instalasi gawat darurat (IGD) rumah sakit adalah bagian dari rumah sakit yangmemberikan layanan terdepan. Di Rumah Sakit dr. Mohammad Hoesin (RSMH)Palembang sudah terdapat IGD berdasarkan SK Direktur Utama Rumah Sakit yangmenetapkan struktur organisasi, tugas dan tanggung jawab, visi dan misi, danprosedur tetap pelayanan gawat darurat. IGD RSMH Palembang dikepalai olehseorang dokter spesialis bedah urologi dibantu oleh dua orang kepala ruangan.Standar pelayanan di IGD sudah menerapkan standar layanan sesuai dengan standarakreditasi KARS 2012.IGD keberadaannya di rumah sakit diatur oleh Kepmenkes RI No.856/Menkes/SK/IX/2009 tentang Standar IGD. Kepemenkes ini mengatur tentangstandarisasi pelayanan gawat darurat di rumah sakit, dalam Kepmenkes tersebutdiatur standar organisasi, sumber daya manusia, pelayanan, kelengkapan saranaprasarana di IGD. Di RSMH Palembang telah dilaksanakan dokter spesialis jaga onsite di IGD sejak 30 Januari 2014 sebagai tindak lanjut Kepmenkes RI tersebut.Sejak dilaksanakan kebijakan dokter spesialis jaga on site di IGD masih dijumpaikepatuhan para dokter masih belum optimal dan walaupun mutu layananan semakinmembaik sejalan dengan telah terakreditasi paripurna rumah sakit versi KARS 2012.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi kebijakandokter spesialis jaga on site di IGD sudah dilaksanakan sesuai dengan tujuan yangdiharapkan sesuai dengan Kepmenkes. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatifmelalui wawancara mendalam pada informan. Informan yang diwawancarai adalahjajaran Direktur RSMH Palembang, Ketua Komite Medik, Kabag. Keuangan, Kepalaruangan IGD dan para dokter spesialis. Penilaian hasil wawancara menggunakankerangka fikir model implementasi kebijakan George Edward III dengan variabelsumber daya, komunikasi, disposisi dan struktur organisasi.Dari hasil penelitian ini didapatkan implementasi kebijakan dokter spesialisjaga on site belum berjalan dengan baik, disebabkan karena faktor komunikasi,disposisi dan struktur organisasi belum berjalan baik dan masih banyak perludukungan sumber daya. Usulan yang diberikan adalah penambahan dan kompetensitenaga sesuai standar, revisi SOP, penyediaan media komunikasi, perbaikan fasilitas,meningkatkan koordinasi dan fungsi pengawasan secara berkala, advokasi keKemenkes RI.Kata kunci:Implementasi, Instalasi gawat darurat, George Edward III
Emergency department (ED) is a part of hospital which giving advancedservices. In dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang hospital already own anemergency department based on SK director of the hospital whom establishes theorganizational structure, duties and responsibilities, vision and mission, and standardoperating procedures emergency services. ED RSMH Palembang is lead by aspecialist urology and assisted by two heads of the room. Standard service of ED hasimplementing service standards according to accreditation standards KARS 2012.ED in the hospital arranged Indonesian health minister No.865/Menkes/SK/IX/2009 about ED standards. The head of health minister regulatesthe standardization of emergency services at the hospital, which managing standardorganizations, human resources, services, completeness infrastructure in ED. RSMHPalembang has been implemented specialist doctors duty on site in the ER sinceJanuary, 30th 2014 as a follow-up of the head of the Indonesian health minister. Eversince implemented a policy specialist on duty in the ER site still found thecompliance of the doctors are still not optimal and although the quality of service hasimproved in line with acreditation hospital KARS version 2012.This research aims to determine how the implementation of policy specialistsdoctors on site in the ER has been implemented in accordance with the expectedgoals in accordance with the head of health minister. Research done with qualitativemethod by performing in-depth interviews on informants. Informants interviewed areRSMH Palembang board of directors, chairman of the medical committee, chieffinancial officer, head of the ED room and specialist doctors. Assessment interviewresults are using logical framework policy implementation model George Edward IIIwith variable resources, communications, disposition and organizational structure.From the results of this study, the implementation of policy specialist doctorson site guard has not run well, due to the communication factor, disposition andorganizational structure has not been going well and much needed resource support.The given proposal is the addition of appropriate power and competence standards,the revised SOP, provision of communication media, improvement of facilities,improving the coordination and monitoring functions regularly, advocacy to the headof the Indonesian health minister.Keywords:Implementation, Emergency Department, George Edward III
Read More
B-1732
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Gusti Gede Utara Hartawan; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amila Megraini, Puput Oktamianti, Mustikasari, Komang Ayu Mustriawati
Abstrak: Peningkatan jumlah kunjungan pasien di UGD Rumah Sakit Bali Royal tidak diikutidengan perubahan jumlah ketenagaan perawat. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui beban kerja perawat dan kebutuhan perawat di UGD Rumah Sakit BaliRoyal. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Pengamatandilakukan oleh peneliti untuk mengetahui waktu yang dihabiskan oleh perawatdalam melayani pasien dengan menggunakan metode Time Motion Study. Hasilpenelitian menunjukkan beban kerja untuk pasien gawat darurat sebesar 63,4 menitper hari (1,1 jam per hari), pasien gawat tidak darurat 1.585,5 menit per hari (26,4jam per hari), dan pasien darurat tidak gawat 2.187,7 menit per hari (36,5 jam perhari) dan kebutuhan tenaga perawat di UGD Rumah Sakit Bali Royal sebesar 17orang. Diperlukan penambahan tenaga perawat pelaksana sebanyak 3 orang.Kata Kunci : unit gawat darurat, perawat, time motion study, beban kerja, kebutuhanperawat.
The increasing number of patients visit in the Emergency Unit of Bali RoyalHospital is not followed by a change in the number of nurses. The purpose of thisstudy was to determine the workload of nurses and nurses needs in the EmergencyUnit of Bali Royal Hospital. This research was a descriptive quantitative research.Observations were made by the researcher to determine the time spent by nurses inserving patients by using the Time Motion Study. The results shown the workloadfor critically emergency patients at 63.4 minutes per day (1.1 hours per day),critically non emergency patients 1,585.5 minutes per day (26.4 hours per day), and2,187 minutes per day (36.5 hours per day) for non critical-but emergency patientsand the need for nurses in the Emergency Unit of Bali Royal Hospital was 17 people.Nurses needed additional power as much as 3 people.Keywords : emergency unit, a nurse, time motion study, workload, the need fornurses
Read More
B-1611
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radi Muharris Mulyana; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Jaslis Ilyas, M. Arza Putra, Winarto
Abstrak:

Instalasi Gawat Darurat (IGD) memegang peranan penting dalam penanganan awal trauma berat untuk mencegah kematian maupun kecacatan. IGD Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) telah menerapkan sistem “Cipto Code Trauma” sejak 2019 untuk menjamin waktu tanggap trauma berat < 5 menit, meski capaiannya belum memenuhi target. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan faktor-faktor yang menjadi determinan waktu tanggap trauma berat di IGD RSCM, yang diharapkan dapat bermanfaat untuk perbaikan sistem. Penelitian dilakukan secara retrospektif terhadap pasien trauma berat yang berkunjung ke IGD RSCM tahun 2023-2024. Analisis dilakukan terhadap faktor pasien, struktur, dan proses layanan. Dari 124 sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, karakteristik pasien terbanyak yaitu usia dewasa, laki-laki, dengan mekanisme kecelakaan lalu lintas, dan memiliki lebih dari 1 jenis cedera. Pasien umumnya datang tanpa Ambulans dan tanpa komunikasi pra-RS. Tanda vital saat datang sebagian besar normal. Pasien terbanyak datang pada malam hari, saat kondisi IGD padat, dengan jumlah tenaga di IGD mencukupi. Hanya 51,6 % pasien menggunakan jaminan. Rerata waktu tanggap trauma berat yaitu 12 menit 42 detik. Didapatkan bahwa faktor usia pasien, transportasi menggunakan Ambulans, frekuensi nadi saat pasien datang, waktu shift pelayanan di IGD, dan jumlah tim yang bertugas berhubungan dengan waktu tanggap pasien trauma berat di IGD RSCM. Waktu tanggap trauma berat tidak berhubungan dengan luaran pasien yaitu kebutuhan perawatan intensif maupun kematian.


 

Emergency Room (ER) plays a significant role in the initial management of severe trauma to prevent morbidity or mortality. Since 2019, ER of Cipto Mangunkusumo Hospital (CMH) have established “Cipto Code Trauma” system to ensure the response time of < 5 minutes, although the target has not yet been achieved. This study is performed to determine factors associated with response time for severe trauma in ER CMH, which could be beneficial for system improvement. This is a retrospective study on severe trauma patients admitted to ER CMH from 2023-2024. Analysis performed towards patient, structure, and process factors. Among the 124 samples fulfilling the inclusion and exclusion criteria, most patients are adults, men, due to traffic injury, and had more than 1 injury. Patients generally came without Ambulance nor prehospital communication. Vital signs were mostly normal. Patients mostly came on the night shift, during a crowded ER, and received by an adequate number of ER staff. Only 51,6 % of patients were covered with insurance. Mean response time was 12 minutes and 42 seconds. Patients’ age, Ambulance transportation, initial heart rate, time of service by shift, and number of personnel are associated with response time for severe trauma in ER CMH. Response time for severe trauma is not associated with the outcome of critical care requirement or mortality.

Read More
B-2523
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tita Maulita Sawitri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Adik Wibowo, Tintin Martini, Mohammad Rifki
Abstrak: Waktu tunggu merupakan salah satu indikator dari pelayanan kesehatan. Peningkatan waktu tunggu di IGD berdampak pada hari perawatan yang lebih lama, meningkatnya mortalitas dan berkurangnya kepuasan pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui lama waktu tunggu pelayanan di Instalasi gawat darurat Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dengan metode lean untuk mengetahui pemborosan (waste) di setiap tahap pelayanan. Metode penelitian ini merupakan operational research dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif dengan sumber data primer yang diambil melalui observasi langsung dengan teknik time motion study dan wawancara mendalam. Waktu tunggu di IGD RSU Kabupaten Tangerang adalah 852,92 menit untuk pasien yang dirawat inap dan 564,24 menit untuk pasien yang dirawat jalan. Lamanya waktu pada setiap pelayanan adalah sebagai berikut : waktu pelayanan triase 11, 83 menit, waktu tunggu pemeriksaan dokter IGD 32,25 menit, waktu pemberian obat dan tindakan adalah 22,33 menit, waktu tunggu pemeriksaan laboratorium 106,07 menit, waktu tunggu pemeriksaan radiologi 140,15 menit, waktu tunggu konsultasi dokter spesialis 146,54 menit, waktu tunggu pendaftaran rawat inap 164,8 menit, waktu tunggu masuk rawat inap 58,5 menit, waktu administrasi pasien pulang 89,6 menit. Aktivitas non valued added terbesar adalah pada waktu menunggu konsultasi dokter spesialis. Ditemukan 2 jenis waste yaitu menunggu (93,3%) dan motion (6,7%). Setelah melakukan analisis dengan metode 5 why didapatkan akar masalah adalah pada jumlah tenaga perawat, belum maksimalnya petugas menjalankan tupoksi, aplikasi sistem informasi rumah sakit yang kurang user friendly, tidak standby-nya dokter spesialis serta SPO konsultasi yang belum optimal dijalankan, kurangnya pengalaman klinis dokter IGD, serta ketidaksediaan ruangan rawat. Kesimpulan penelitian ini bahwa waktu tunggu pelayanan pasien di IGD RSU Kabupaten Tangerang melebihi waktu standar (4 jam). Pendekatan dengan lean tepat dilakukan untuk mencari waste dalam aktivitas pelayanan kesehatan agar dapat diperoleh upaya pemecahan masalah untuk memperbaiki waktu tunggu pelayanan di IGD RSU Kabupaten Tangerang.
Waiting time is one indicator of health services. The increase in waiting time in the Emergency Department (ED) has an impact on longer treatment days, increased mortality and reduced patient satisfaction. The purpose of this study was to determine the length of stay for services at the emergency department of the Tangerang General Hospital using lean method to determine waste at each stage of activity. This research method is operational research with qualitative and quantitative approaches, primary data sources taken from direct observation using time motion study techniques and in-depth interviews. The waiting time at the ER at the Tangerang Regency General Hospital is 852.92 minutes for inpatients and 564.24 minutes for outpatients. The length of time for each service is as follows: triage is 11.83 minutes, waiting time for an emergency room doctor examination is 32.25 minutes, drug administration time and action is 22.33 minutes, waiting time for laboratory examination is 106.07 minutes, waiting time for examination radiology 140.15 minutes, waiting time for specialist doctor consultation 146.54 minutes, waiting time for inpatient registration 164.8 minutes, waiting time for inpatient admission 58.5 minutes, patient administration time going home 89.6 minutes. The largest nonvalued added activity is waiting for specialist consultations. Found 2 types of waste, namely waiting (93.3%) and motion (6.7%). After conducting an analysis using the 5 why method, the root of the problem was found in the number of nurses, not yet maximally carrying out tupoksi, hospital information system applications that are less user friendly, specialist doctors are not standby and consultation SOPs are not optimally run, lack of clinical experience of doctors ER, as well as the unavailability of the ward. The conclusion, t the waiting time in the ER at the Tangerang General Hospital exceeds the standard time (4 hours). The lean approach is appropriate to look for waste in health service activities so that problem solving efforts can be obtained to improve service waiting times in the IGD RSU Tangerang Gneral Hospital
Read More
B-2216
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ervin Yamani Amouzegar; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Yuli Prapancha Satar, Rokiah Kusumapradja
B-996
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive