Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34777 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nadia Ikmila; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Tri Wahyuningsih
Abstrak: Tinggi badan merupakan salah satu ukuran pertumbuhan linier yang dapat menggambarkan status gizi seseorang di masa lampau. Stunting merupakan gangguan pertumbuhan linear yang disebabkan oleh malnutrisi kronis, dinyatakan dengan nilai z-score tinggi badan menurut umur (TB/U) kurang dari -2 standar deviasi (SD). Tujuan umum penelitian ini mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan TB/U pada balita umur 24-59 bulan di Kelurahan Depok Kota Depok tahun 2015. Desain penelitian ini cross sectional dengan sampel berjumlah 173 balita umur 24-59 bulan. Penelitian ini dilakukan pada bulan April hingga Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan melalui pengukuran tinggi badan, wawancara kuisioner dan formulir 24 hour recall. Adapun variabel yang diteliti adalah tinggi badan menurut umur (TB/U), asupan energi, asupan protein, penyakit infeksi, pemberian ASI eksklusif, sumber air minum, umur balita, jenis kelamin balita, tinggi badan ibu, berat lahir balita, jarak kelahiran balita, pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, dan status ekonomi keluarga. Analisis yang digunakan adalah univariat dan bivariate menggunakan uji chi square. Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan proporsi yang bermakna antara asupan energi, asupan protein, tinggi badan ibu, jarak kelahiran balita, dan status ekonomi keluarga dengan TB/U pada balita umur 24-59 bulan di Kelurahan Depok Kota Depok tahun 2015. Kata kunci: TB/U, asupan energi, asupan protein, tinggi badan ibu, jarak kelahiran, status ekonomi keluarga
Read More
S-8739
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alma Avida Virgita; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Triyanti, Syahidah Asma Amani
Abstrak:
Tinggi badan adalah salah satu indikator kesehatan dan kesejahteraan suatu individu maupun populasi. Berdasarkan data dari Riskesdas tahun 2018, prevalensi pendek dan sangat pendek pada remaja berusia 16-18 tahun adalah 25,82%. Prevalensi tersebut masih berada di atas ambang batas masalah kesehatan masyarakat menurut WHO. Adapun prevalensi pendek dan sangat pendek di Kota Depok untuk kelompok usia 16-18 tahun adalah 12,37%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan TB/U pada siswa SMA negeri di Kota Depok tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan metode kuantitatif serta menggunakan data primer yang dikumpulkan dari 217 responden. Asupan energi, karbohidrat, protein, lemak, kalsium, dan zink, serta tinggi badan ibu memiliki hubungan yang signifikan dengan TB/U siswa SMA, dengan asupan zink sebagai faktor dominan yang paling berhubungan. Sementara, asupan vitamin D, aktivitas fisik, durasi tidur, pendidikan orangtua pendapatan keluarga, dan tinggi badan ayah tidak memiliki pengaruh yang signfikan terhadap TB/U siswa SMA. Faktor asupan zat gizi makro maupun mikro memegang peranan penting terhadap TB/U siswa SMA. Faktor genetik, terutama tinggi badan ibu juga berpengaruh terhadap TB/U siswa SMA.

Height is an indicator of the health and well-being of an individual or population. Based on data from Riskesdas 2018, the prevalence of shortness and very shortness in adolescents aged 16-18 years is 25.82%. The prevalence is still above the threshold for a public health problem according to WHO. The prevalence of shortness and very shortness in Depok City for the 16-18 year age group is 12.37%. Objective: The aim of this research is to determine the factors associated with TB/U in public high school students in Depok City in 2024. Methods: This research uses a cross-sectional design with quantitative methods and uses primary data collected from 217 respondents. Energy, carbohydrate, protein, fat, calcium and zinc intake, as well as maternal height, had a significant relationship with high school students' height for age, with zinc intake as the dominant factor that was most related. Meanwhile, vitamin D intake, physical activity, sleep duration, parental education, family income, and father's height do not have a significant influence on height for age of high school students. Macro and micro nutrient intake factors play an important role in high school students' height for age. Genetic factors, especially maternal height, also influence height for age in high school students.
 
Read More
S-11604
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arinda Veratamala; Pembimbing: Sandra Fikawati; Penguji: Kusharisupeni Djokosujono, Ida Ruslita
Abstrak: Tinggi badan seseorang dipengaruhi berbagai faktor mulai dari masa kehamilan sampai remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan TB/U pada remaja perempuan usia 15-17 tahun. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional yang dilakukan terhadap 135 siswi kelas X di SMA Negeri 2 Depok pada bulan April-Mei 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran tinggi badan dan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden. Uji statistik yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat (uji chi-square), dan analisis multivariat (uji regresi logistik ganda).
 
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 17% responden yang termasuk pendek (TB/U <2 SD). Terdapat hubungan yang bermakna antara berat lahir (pvalue = 0,015), panjang lahir (p-value = 0,001), frekuensi konsumsi sumber protein hewani (p-value = 0,036), frekuensi konsumsi sumber protein nabati (p-value = 0,043), dan tinggi badan ibu (p-value = 0,036) dengan TB/U remaja perempuan. Hasil analisis multivariat menunjukkan panjang lahir sebagai faktor dominan terhadap TB/U remaja perempuan, setelah dikontrol variabel tinggi badan ibu, tinggi badan ayah, berat lahir, frekuensi konsumsi sumber protein hewani, dan frekuensi konsumsi sumber protein nabati.
 

 
Height is affected by many factors, from pregnancy to adolescence. This study is purposed to determine the dominant factor that related to height-for-age in adolescent girls around 15-17 years old. The method used in this study is crosssectional design which was conducted with 135 girl student in X class of 2nd State Senior High School Depok on April-Mei 2015. Data were collected by height measurement and self-administrative questionnaire. This study use univariate analysis, bivariate analysis (chi-square test), and multivariate analysis (double logistic regression) as a statistical test.
 
The result in this study showed that 17% respondent are stunting (height-for-age <-2 SD). There was a statistically significant relationship between birth weight (p-value = 0,015), birth length (pvalue = 0,001), consumption frequency of animal protein (p-value = 0,036), consumption frequency of vegetable protein (p-value = 0,043), and maternal height (p-value = 0,036) with height-for-age of adolescent girls. The result of multivariate analysis showed that birth length as dominant factor of height-for-age of adolescent girls, after controlled variable maternal height, paternal height, birth weight, consumption frequency of animal protein, and consumption frequency of vegetable protein.
Read More
S-8827
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Early Vici Azmia; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Trini Sudiarti, Salimar
Abstrak:
Prevalensi balita wasting di Indonesia tahun 2022 sebesar 7,7%, menurut WHO masalah wasting ini sudah termasuk masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Wasting adalah masalah gizi pada balita yang berdampak pada morbiditas dan mortalitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023. Penelitian ini dilakukan pada bulan April–Juni 2023, menggunakan desain cross-sectional, metode proportionate stratified random sampling dengan sampel penelitian 136 balita usia 6–59 bulan. Data dianalisis univariat dan bivariat menggunakan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan 9,6% balita usia 6–59 bulan di Kelurahan Cimpaeun Kota Depok Tahun 2023 menderita wasting, dan termasuk pada masalah kesehatan masyarakat yang buruk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan energi, asupan protein, pengetahuan gizi ibu, dan pendapatan keluarga berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 6–59 bulan. Risiko wasting lebih tinggi pada balita dengan asupan energi dan protein yang kurang, pengetahuan gizi ibu yang kurang, serta pendapatan keluarga yang rendah.

The prevalence of wasting under five in Indonesia in 2022 is 7.7%, according to WHO this wasting problem is a bad public health problem. Wasting is a nutritional problem in toddlers that has an impact on morbidity and mortality. The research objective was to determine the factors associated with wasting in toddlers aged 6–59 months in Cimpaeun Village in 2023. This research was conducted in April–June 2023, using a cross-sectional design, proportionate stratified random sampling method with a research sample of 136 toddlers aged 6–59 months. Data were analyzed univariately and bivariately using chi-square. The results showed that 9.6% of toddlers aged 6–59 months in the Cimpaeun Village in 2023 were suffering from wasting, and this is a bad public health problem. The results showed that energy intake, protein intake, mother's nutritional knowledge, and family income were associated with wasting in toddlers aged 6–59 months. The risk of wasting is higher for toddlers with less energy and protein intake, less knowledge of mother's nutrition, and low family income.
Read More
S-11394
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Paramitha Anisa; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Rahmawati
S-7224
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Milla Septiana Wiyantin; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Asih Setiarini, Susianto
S-7972
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Saskya Bopha; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Siti Arifah Pujonarti, Trini Sudiarti, Abas Basuni Jahari, Uki Basuki
Abstrak:

Penelitian ini untuk memperoleh gambaran faktor-faktor dan hubungannya dengan TB U yaitu usia, jenis kelamin, berat badan lahir, riwayat sakit, frekuensi konsumsi sumber energi, frekuensi konsumsi sumber protein, frekuensi konsumsi sayur, pekerjaan ayah, pekerjaan ibu, pendidikan ayah, pendidikan ibu dan pengeluaran per kapita. Disain penelitian adalah cross sectional, pendekatan kuantitatif dan pengambilan sampel secara probability proporsional to size (PPS) dengan metode cluster survey, uji regresi logistik. Variabel yang berhubungan adalah usia, riwayat sakit, frekuensi sumber energi, frekuensi sumber protein dan frekuensi konsumsi sayur. Hasil penelitian didapatkan bahwa prevalensi stunting adalah 22,5%. Hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa prevalensi anak pendek merupakan masalah karena masih diatas batas non public health problem yang ditentukan WHO. Diperlukan adanya kerjasama yang baik antara Dinas Kesehatan dengan lintas sektor terkait dalam rangka penurunan prevalensi stunting pada anak sekolah. Kata kunci : Stunting pada anak kelas 1 SD/MI


 This study to obtain a picture of the factors and their relationship height with age ie. age, gender, birth weight, history of illness, frequency of consumption of energy sources, the frequency of consumption of protein sources, the frequency of consumption of vegetables, father’s work, work’s mother, father education, mother’s education and per capita outcome. Research design was cross sectional, quantitative approach and the sampling probability proportional to size (PPS) cluster survey method, logistic regression test.Variables related to the age, history of illness, frequency energy source, frequency source of protein and vegetable consumption frequency. The study found that the prevalence of stunting was 22.5%. The results can be concluded that the prevalence of stunting children is a problem because it is still above the limit of non-public health problem defined by WHO. It is necessary to good cooperation between the Health Department with traffic-related sectors in order to decrease the prevalence of stunting in school children. ix Universitas Indonesia Key words : Stunting children of Class 1 Elementary School

Read More
T-3320
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kholifah Uswatun Khasanah; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Eti Rohati, Ahmad Syafiq
Abstrak: Diare merupakan salah satu penyakit infeksi yang menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas anak serta sering menimbulkan terjadinya KLB di beberapa provinsi di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada baduta di Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok tahun 2020. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Variabel kejadian diare pada baduta digunakan sebagai variabel dependen, sementara variabel independen menggunakan data karakteristik lingkungan, perilaku, gizi, dan sosiodemografi. Data kemudian dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 11,3% baduta mengalami diare dalam 1 bulan terakhir. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara jarak SGL/SPT dengan TPA/TPS, kebiasaaan memotong kuku baduta, riwayat ASI Eksklusif dan penghasilan kepala rumah tangga dengan kejadian diare pada baduta usia 6-24 bulan.
Diarrhea is an infectious disease that causes child morbidity and mortality and often causes outbreaks in several provinces in Indonesia. The purpose of this study was to determine the factors associated with the incidence of diarrhea in children under two in the Pasir Putih Village, Sawangan District, Depok City in 2020. This study used secondary data with a cross-sectional study design. Incidence of diarrhea in children under two was used as the dependent variable, while the independent variable used was environmental, behavioral, nutritional, and sociodemographic characteristics. The data were then analyzed by univariate and bivariate analysis. The results showed that as many as 11.3% of children under two experienced diarrhea in the last 1 month. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between the distance of well from nearest landfill/laystall, the habit of cutting children's nails, the history of exclusive breastfeeding and the income of the head of the household with the incidence of diarrhea in children aged 6-24 months.
Read More
S-11102
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadia Jastiffani Nurdin; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Kusharisupendi Djokosujono, Yuni Zahraini
Abstrak: ABSTRAK
 
 
Tinggi badan merupakan salah satu pengukuran antropometri yang penting untuk memantau pertumbuhan dan status gizi anak. Pengukuran antropometri pengganti (surrogate anthropometric measurement) dibutuhkan dalam kondisi dimana pengukuran tinggi badan sulit untuk dilakukan dan tidak akurat. Penelitian dengan desain cross-sectional ini bertujuan untuk mengembangkan model prediksi tinggi badan berdasarkan panjang ulna dan panjang kaki dengan menggunakan regresi linier. Sebanyak 49 orang anak laki-laki, dan 62 orang anak perempuan yang berasal dari 3 Pra TK/ TK di Depok, dilibatkan di dalam penelitian ini selama bulan April?Mei 2016. Tinggi badan diukur menggunakan stadiometer, panjang ulna menggunakan pita ukur non elastis, dan panjang kaki menggunakan kaliper kayu. Hasil penelitian menunjukkan, terdapat korelasi yang sedang dan kuat antara panjang ulna dengan tinggi badan (laki-laki r = 0.682, perempuan r = 0.461), korelasi yang kuat juga ditunjukkan pada panjang kaki kanan dengan tinggi badan (laki-laki r = 0.726, perempuan r = 0.770), dan korelasi yang sangat kuat pada panjang kaki kiri dengan tinggi badan (laki-laki r = 0.830, perempuan r = 0.740). Panjang ulna dan panjang kaki merupakan indikator tinggi badan yang baik, akan tetapi, model prediksi tinggi badan berdasarkan panjang kaki kiri memiliki akurasi yang lebih baik dan lebih mudah digunakan.
 

 
ABSTRACT
 
 
Height is an essential anthropometric measurement to monitor growth and nutirional status in children. Surrogate anthropometric measurements are needed when height is unobtainable and unreliable. This cross-sectional study was aim to develop prediction models from ulna and foot length by using linear regression. Boys (n= 49) and girls (n= 62) from 3 preschools in Depok were recruited in this study from April?Mei 2016. Stadiometer was used to measure height, non elastic tape to measure ulna length, and a caliper to measure foot length. The result of this study showed that there were a medium and strong correlation between ulna length and height (boys r = 0.682, girls r = 0.461), and right-foot length and height (boys r = 0.726, perempuan r = 0.770). Stronger correlation showed between left- foot length and height (boys r = 0.830, girls r = 0.740. Ulna and foot length are good predictors, however the prediction model based on left-foot length more accurate and easier to use than the prediction model based on ulna length.
Read More
S-9097
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Morika Septie; Pembimbing: Diah Mulyawati Utari; Penguji: Ahmad Syafiq, Aisyah Rosalinda
S-6726
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive