Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41039 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nenden; Pembimbing: Pujiyanto; Peguji: Puput Oktamianti, Yessi Kumalasar
Abstrak: Dengan diselenggarakannya program JKN telah meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan. Begitupun halnya dengan utilisasi pelayanan kesehatan di Kota Depok. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti utilisasi dan biaya RITL dan RJTL berdasarkan jenis kepesertaan. Sumber data berupa data XML utilisasi pelayanan yang diolah secara univariat menggunakan program SPPS dan Pivot Table (MS.Excel). Hasil dari penelitian ini, yakni utilisasi kesehatan kategori peserta Mandiri lebih tinggi, dan lebih sedikit pada kategori PPU. Saran penelitian perlu melakukan utilisasi secara rutin dengan menggunakan data yang lebih lengkap dan dianalisis berdasarkan jumlah peserta terdaftar pada bulan terkait.
 

 
The JKN's program was increasing in healthcare utilization. It's common in Depok, there's an enhancement access after JKN's program begun. This research aims to review the inpatient and outpatient?s utilization based on the participants segmentation to control the cost. Using XML data, which is processing by SPSS program and Pivot Table (MS. Excel). The result shows that utilization by Independepent Segment was higher than others, and the smallest utilization was by PPU Segment. It's needed to review the utilization regularly by using more complete data and analyze by participant numbers which is registered in every single month.
Read More
S-8841
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Solparka; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Putri Bungsu, Amila Megraini
Abstrak:
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi beban pembiayaan signifikan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan klaim biaya yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara utilisasi rawat jalan yang seharusnya berperan dalam mencegah komplikasi belum diketahui secara pasti hubungannya dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara utilisasi rawat jalan dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL) pada peserta JKN penderita DM di Indonesia tahun 2023−2024, beserta karakteristik peserta yang berhubungan dengan RITL. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) terhadap Data Sampel BPJS Kesehatan Kontekstual Diabetes Melitus, dengan jumlah sampel sebanyak 792.874 peserta (bobot). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji regresi logistik tunggal, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 13,4% peserta memanfaatkan layanan RITL, sedangkan hanya 17,3% peserta yang tergolong rutin memanfaatkan rawat jalan (≥12 kali per tahun). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa utilisasi rawat jalan berhubungan secara bermakna dengan RITL (p=0,000), di mana peserta yang tidak rutin justru memiliki peluang RITL 0,911 kali (AOR=0,911; 95% CI: 0,895-0,927) dibandingkan peserta yang rutin. Temuan ini dapat dijelaskan melalui konsep kebutuhan pelayanan rawat kesehatan (need-based utilization) dalam Model Andersen. Selain itu, delapan dari sembilan variabel karakteristik peserta terbukti berhubungan secara bermakna dengan RITL, yaitu umur (AOR kelompok anak-anak tertinggi), jenis kelamin (AOR kelompok perempuan tertinggi), penyakit penyerta sebagai indikator terkuat (AOR=4,258), segmentasi kepesertaan (AOR PBI yang memiliki peluang tertinggi), hak kelas rawat (kelas II dan III lebih berisiko), wilayah tempat tinggal berdasarkan kepulauan (Maluku dan Papua tertinggi), dan kabupaten/kota (Kabupaten AOR=1,431), serta jenis fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terdaftar (Puskesmas tertinggi); sementara status perkawinan tidak terbukti berhubungan secara bermakna setelah dikontrol variabel lain. Nilai R-Square model sebesar 0,112 menunjukkan bahwa masih terdapat faktor lain di luar penelitian ini yang turut memengaruhi utilisasi RITL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi kunjungan rawat jalan semata tidak cukup digunakan sebagai indikator keberhasilan dalam pengelolaan DM, sehingga diperlukan penguatan kualitas pelayanan di FKTP, optimalisasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), serta perhatian khusus pada kelompok rentan seperti peserta PBI dan wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas, guna menurunkan kejadian RITL dan mengendalikan pembiayaan JKN bagi penderita DM.

Diabetes mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that imposes a significant financial burden on Indonesia's National Health Insurance (JKN) program, with claim costs continuously increasing each year, while the role of outpatient care utilization in preventing complications has not been clearly established in relation to advanced inpatient care utilization (RITL). This study aims to analyze the association between outpatient care utilization and RITL among JKN participants with DM in Indonesia in 2023−2024, along with participant characteristics associated with RITL. This study employed an observational design with a cross-sectional approach using the BPJS Kesehatan Diabetes Mellitus Contextual Sample Data, with a total sample of 792,874 participants (weighted). Data were analyzed univariately, bivariately using simple logistic regression, and multivariately using multiple logistic regression. The results showed that 13,4% of participants utilized RITL services, while only 17,3% of participants were classified as routine outpatient visitors (≥12 visits per year). Multivariate analysis showed that outpatient care utilization was significantly associated with RITL (p=0,000), where non-routine participants had a 0,911 times lower odds of RITL (AOR=0,911; 95% CI: 0,895−0,927) compared to routine participants. This finding can be explained through the concept of need-based utilization within Andersen's Model. Furthermore, eight of nine participant characteristic variables were significantly associated with AICU, namely age (children group had the highest AOR), gender (women group had the highest AOR), comorbidities as the strongest indicator (AOR=4,258), membership segmentation (PBI had the highest odds), inpatient class rights (classes II and III were at higher risk), region of residence based on island groups (Maluku and Papua had the highest odds) and regency/city status (regency, AOR=1,431), as well as the type of registered primary healthcare facility (Puskesmas had the highest odds); meanwhile, marital status was not significantly associated after controlling for other variables. The model's R-Square value of 0,112 indicates that other factors beyond this study still contribute to AICU utilization. This study concludes that outpatient visit frequency alone is insufficient as an indicator of successful DM management; therefore, strengthening service quality at primary healthcare facilities, optimizing the Chronic Disease Management Program (Prolanis), and giving special attention to vulnerable groups such as PBI participants and regions with limited healthcare access are needed to reduce RITL occurrence and control JKN financing for DM patients
Read More
S-12364
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mega Dwi Rahayu; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Ina Hirina
Abstrak: Pada tahun 2014, BPJS Kesehatan memiliki angka rasio klaim mencapai 104,73% sedangkan di BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok memiliki angka rasio klaim lebih dari 100% setiap bulannya pada tahun 2015. Kondisi ini mengartikan bahwa biaya klaim yang dikeluarkan lebih besar daripada pendapatan premi yang diterima. Rawat Inap Tingkat Lanjut menjadi salah satu jenis pelayanan yang menerima biaya klaim paling besar untuk pemanfaatan pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji faktor-faktor yang berhubungan dengan besaran klaim rawat inap tingkat lanjut peserta Jaminan Kesehatan Nasional BPJS Kesehatan Kantor Cabang Depok Periode September 2014-September 2015. Penelitian ini bersifat kuantitatif deskriptif dengan desain studi crosssectional. Data yang digunakan berasal dari data sekunder register klaim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur, lama hari rawat, diagnosis penyakit, severity level, kelas perawatan, tipe rumah sakit, jenis kepesertaan memiliki hubungan yang signifikan dengan besaran klaim rawat inap tingkat lanjut (p=0,0005), sedangkan jenis kelamin tidak ditemukan memiliki hubungan yang signifikan dengan besaran klaim rawat inap tingkat lanjut (p=0,579). Variabel yang paling berhubungan dengan besaran klaim rawat inap tingkat lanjut adalah variabel severity level 3. Kata Kunci: Besaran Klaim; Rawat Inap Tingkat Lanjut; Jaminan Kesehatan Nasional
In 2014, BPJS Kesehatan have claims ratios reached 104.73% while in BPJS Kesehatan Depok have claims ratios more than 100% per month in 2015. This condition means that the cost of claims incurred is greater than the premium income be accepted. Secondary Care Inpatient is one of the types of health services that receive the most claim costs for the utilization of health services. This research aims to examine the factors associated with the number of claims secondary care inpatient of participants National Health Insurance in BPJS Depok period September 2014- September 2015. This research is quantitative descriptive and applied cross-sectional design. Data were collect from secondary source, for example claims register data. The results showed that the age, length of stay, diagnosis of disease, severity level, care class, hospital type, the type of membership has a significant correlation with the number of the secondary care inpatient claims (p = 0,0005), whereas gender was not found to have a significant correlation with tthe number of the secondary care inpatient claims (p = 0,579). The variables most associated with the number of the secondary care inpatient claims are variable severity level 3. Keywords: Claims, Secondary Care Inpatient; National Health Insurance
Read More
S-9028
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Anjani Septiana; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan utilisasi Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) peserta JKN di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional yang menggunakan data sekunder berupa Data Sampel BPJS Kesehatan tahun 2019. Total sampel yang diperoleh sebesar 47.606 peserta. Uji hubungan dianalisis menggunakan uji Single Logistic Regression. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama di Provinsi Nusa Tenggara timur cukup rendah yaitu sebesar 14,41%. Utilisasi Rawat Jalan Tingkat Pertama banyak diakses oleh peserta dengan kelompok umur lansia (17,27%), berjenis kelamin perempuan (17,85%), berstatus kawin (17,92%), kelompok segmentasi PBPU (35,84%), peserta berstatus istri (23,69%), peserta yang terdaftar di FKTP jenis dokter umum (35,01%), peserta yang terdaftar di fasilitas kesehatan milik swasta (32,59%), dan kelompok peserta yang bertempat tinggal di kota (36,06%). Seluruh variabel memiliki hubungan yang signifikan dengan utilisasi pelayanan kesehatan RJTP di Provinsi Nusa Tenggara Timur tahun 2019.

This study aims to determine the factors related to the utilization of of first-level outpatient (RJTP) of JKN participants in East Nusa Tenggara province in 2019. This study is a quantitative study with a cross sectional study design that uses secondary data in the form of BPJS Kesehatan sample data in 2019. The total sample obtained was 47,606 participants. Relationship test was analyzed using Single Logistic Regression Test. The results showed that the utilization of first-level outpatient health services in East Nusa Tenggara province is quite low at 14.41%. The utilization of first-level outpatient is widely accessed by participants with the elderly age group (17,27%), female (17,85%), married status (17,92%), PBPU segmentation group (35,84%), wife status (23,69%), participants registered in the general practitioner type FKTP (35,01%), participants registered in privately owned health facilities (32,59%), and groups of participants residing in the city (36,06%). All variables have a significant relationship with the utilization of RJTP health services in East Nusa Tenggara province in 2019.
Read More
S-11215
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alif Musyaffa; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Amila Megraini
Abstrak:
Diabetes Mellitus Tipe 2 merupakan salah satu penyakit tidak menular dengan beban pembiayaan tertinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tingginya biaya layanan rawat jalan dan rawat inap penderita DM Tipe 2 berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap keberlanjutan pembiayaan JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya rawat jalan dan rawat inap rumah sakit peserta JKN penderita DM Tipe 2 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data sekunder sampel klaim BPJS Kesehatan tahun 2025 dengan total sampel sebesar 3.865 peserta. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji t-test dan ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia, jenis kelamin, hak kelas rawat, segmentasi peserta, dan hubungan keluarga berhubungan signifikan dengan biaya layanan DM Tipe 2 (p < 0,05). Sementara itu, status perkawinan dan jenis FKTP tidak sepenuhnya berhubungan signifikan dengan biaya layanan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor demografis dan kepesertaan JKN berperan penting dalam menentukan besaran biaya layanan DM Tipe 2. BPJS Kesehatan dan Kementerian Kesehatan disarankan untuk memperkuat strategi pengendalian biaya berbasis karakteristik peserta guna menjaga efisiensi dan keberlanjutan pembiayaan JKN.

Type 2 Diabetes Mellitus is one of the non-communicable diseases with the highest financial burden in Indonesia's National Health Insurance (JKN) program. The high costs of outpatient and inpatient services for Type 2 DM patients pose a significant threat to the financial sustainability of JKN. This study aimed to analyze factors associated with outpatient and inpatient hospital costs among JKN participants with Type 2 DM in Indonesia. A cross-sectional quantitative design was employed using secondary data from BPJS Kesehatan claims sample of 2025, with a total sample of 3,865 participants. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses t-test an ANOVA. The results showed that age group, sex, inpatient class entitlement, participant segmentation, and family relationship status were significantly associated with Type 2 DM service costs (p < 0.05). Meanwhile, marital status and type of primary healthcare facility were not fully associated with service costs. This study concludes that demographic and JKN membership factors play an important role in determining the magnitude of Type 2 DM service costs. BPJS Kesehatan and the Ministry of Health are recommended to strengthen cost-control strategies based on participant characteristics to maintain the efficiency and sustainability of JKN financing.
Read More
S-12411
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochammad Wahyu Hidayat; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Pujiyanto, Sinom Priyanti
S-9309
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Asyuri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Handi Surya Adiguna
S-4994
Depok : FKM-UI, 2007
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Nengah Ayu Padmawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Jaslis Ilyas, Deni T. Sugiarto
S-8250
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andi Kayla Ardani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:

Latar belakang: Penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB), masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi dan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan. Komorbiditas seperti Diabetes Mellitus (DM) dan koinfeksi HIV memperburuk pengobatan TB, memperpanjang durasi terapi, serta meningkatkan beban biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan biaya rawat inap pada pasien TB dengan komorbid DM dan koinfeksi HIV di fasilitas kesehatan Indonesia, khususnya yang terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan: Mengetahui perbandingan biaya rawat inap pada layanan FKRTL peserta JKN penderita TB/DM dan TB/HIV di Indonesia selama satu tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi cross-sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Sampel penelitian ini adalah peserta dengan diagnosis primer TB yang memiliki diagnosis sekunder DM dan HIV pada pelayanan FKRTL. Hasil: Terdapat sebanyak 4.753 peserta RITL JKN tahun 2022. Dari total kunjungan, sebanyak 4.531 merupakan peserta komorbid TB/DM dan 232 peserta koinfeksi TB/HIV. Pada tahun 2022, BPJS Kesehatan membayarkan sebesar Rp28,8 miliar untuk peserta RITL komorbid TB/DM dan Rp3,1 miliar untuk peserta RITL koinfeksi TB/HIV. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya komorbid TB/DM pada kunjungan RITL peserta JKN 2022 adalah umur, hak kelas rawat, segmen kepesertaan, dan rujukan FKTP. Sedangkan, faktor-faktor yang beruhubungan dengan biaya koinfeksi pada kunjungan RITL pada kunjungan peserta JKN 2022 adalah jenis kelamin, umur, hak kelas rawat, dan segmen kepesertaan.


Background: Infectious diseases, particularly Tuberculosis (TB), remain a major challenge in Indonesia, with high prevalence and significant impact on the healthcare system. Comorbidities such as Diabetes Mellitus (DM) and HIV coinfection worsen TB treatment, prolong therapy duration, and increase healthcare costs. This study aims to analyze the comparison of inpatient costs for TB patients with comorbid DM and HIV coinfection in Indonesian healthcare facilities, specifically those enrolled in the National Health Insurance (JKN) program. Objective: To determine the comparison of inpatient costs for JKN FKRTL services for TB/DM and TB/HIV patients in Indonesia over the course of one year. Method: This study employs a quantitative approach with a cross-sectional design using BPJS Health sample data from 2023. The research sample includes participants with a primary TB diagnosis and secondary diagnoses of DM and HIV in FKRTL services. Results: There were 4,753 JKN inpatient participants in 2022. Of these, 4,531 were TB/DM comorbid patients, and 232 were TB/HIV coinfected patients. In 2022, BPJS Health paid Rp28.8 billion for TB/DM comorbid patients and Rp3.1 billion for TB/HIV coinfected patients. Conclusion: Factors related to the cost of TB/DM comorbidity for JKN inpatient visits in 2022 include age, inpatient class entitlement, membership segment, and FKTP referral. Meanwhile, factors related to the cost of coinfection for JKN inpatient visits in 2022 include gender, age, inpatient class entitlement, and membership segment.

Read More
S-11835
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive