Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 15634 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Roem; Pembimbing: Adang Bactiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas
T-2019
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rasyidi Amri; Pembimbing: Yayuk Hartriyanti, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Maksum, Tjutjun, Tri Erri Astoeti
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam pada era otonomi daerah sekarang ini membutuhkan suatu rencana strategis Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang diharapkan selaras dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan dalam kurun waktu 2006 – 2010. Hal inilah yang merupakan dasar serta tujuan penelitian ini. Metode: Untuk dapat menyusun rencana strategis SDM Kesehatan di Dinkes Kota Pagar Alam, dilakukan penelitian operasional dengan Analisa kualitatif dan kuantitatif. Penyusunan strategi dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama (Input Stage) terdiri analisis lingkungan eksternal dan internal SDM Kesehatan Dinkes Kota Pagar Alam melalui Consensus Decision Making Group (CDMG). Pada tahap kedua (Matching Stage), CDMG melakukan analisis dengan Internal-Eksternal Matrix dan SWOT Matrix. Pada tahap ketiga (Decision Stage) analisis dilakukan dengan menggunakan QSPM untuk menentukan strategi terbaik. Hasil: Hasil penelitian, pada pemilihan alternatif strategi dengan berdasarkan IE Matrix, diketahui posisi SDM Dinkes Kota Pagar Alam berada pada sel V yang artinya berada pada posisi Hold and Maintenance (bertahan dan pemeliharaan) dimana strategi yang dianjurkan terdiri dari Market Penetration (Penetrasi Pasar) dan Product Development (Pengembangan Produk). Kesepakatan pada pertemuan CDMG bahwa faktor eksternal yang menjadi peluang yakni adanya peningkatan tingkat pendidikan penduduk Kota Pagar Alam, berlakunya otonomi daerah dan perangkat hukumnya, adanya pengembangan jaringan informasi, adanya komitmen / dukungan dari Pemerintah kota dalam upaya pengembangan SDM kesehatan. Faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah : PAD Kota Pagar Alam yang rendah, suplai SDM yang terlalu sedikit setiap tahunnya, penyakit infeksi masih tinggi, sarana pendidikan kesehatan belum ada. Sedangkan faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan adalam motivasi dan pengabdian SDMK yang cukup tinggi, adanya peningkatan SDMK yang mengikuti pendidikan lanjutan dan diklat, rendahnya pengurangan SDMK dan kemudahan izin melanjutkan pendidikan. Untuk faktor kelemahan yakni kompetensi SDMK masih rendah, belum adanya Protap/SOP, belum ada pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, anggaran masih terbatas. Strategi terpilih Market Penetration prioritasnya adalah meningkatkan profesionalisme SDMK yang ada, memberikan kesempatan yang luas untuk meningkatkan pendidikan, mengembangkan fungsi jaringan informasi, menjalin kerjasama dengan sarana pendidikan profesi kesehatan yang ada. Untuk strategi product development prioritasnya adalah mengoptimalkan SDMK yang ada, menyiapkan SDM yang berbasis kesehatan lingkungan, meningkatkan advokasi ke pihak pengambil kebijakan, mengusulkan adanya pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, membuat Protap / SOP. Kesimpulan: Dalam upaya mewujudkan tujuan jangka panjang dibutuhkan komitmen yang tinggi, mampu menggalang kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik terhadap sektor yang berperan dalam pengambilan kebijakan. Sedangkan saran yang dapat diberikan adalah agar Renstra pengembangan SDM Kesehatan ini dapat disosialisasikan kepada semua staf pada pertemuan rutin atau khusus. Kemudian dapat menindaklanjuti strategi operasional yang telah dibuat oleh peneliti. Agar dapat sejalan dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam maka dibutuhkan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan Kata Kunci: Renstra, SDMK, Dinkes, Penetrasi Pasar, Pengembangan Produk
Background and Objective: Public Health Service of Pagar Alam Town at autonomous era of area this time require a strategic plan of expected Human Resource Health in harmony with Vision Mission Public Health Service in range of time 2006 - 2010. This matter is base and also the target of this research. Methods: To be able to compile strategic plan of Human Resource Health in Pagar Alam Town, conducted by research of operational with Analysis Qualitative and Quantitative. Compilation of strategy through some phases. First phase (Input Stage) compose environmental analysis of external and internal Human Resource Health of Public Health Service of Pagar Alam Town pass/through Consensus Decision Making Group (CDMG). At phase both (Matching Stage), CDMG do analyze Internally - External Matrix and SWOT Matrix. At third phase (Decision Stage) analyze conducted by using QSPM to determine best strategy. Results: Result Research, at election of strategy alternative by pursuant to IE Matrix, known by position of Human Resource Public Health Service of Pagar Alam Town reside in cell of V with the meaning residing in on course Hold and Maintenance where suggested to strategy consist of Market Penetration and Product Development. As according to agreement at meeting of CDMG that factor of external becoming opportunity namely the existence of improvement of level education people of Pagar Alam Town, applying of it area autonomy and peripheral of his law, existence of development of information network, existence of commitment / support of Government of town in the effort development of Human Resource health. External factor becoming threat is : low PAD of Pagar Alam Town, supply of Human Resource too a few every year, disease of infection still high, medium education of health there is no. While internal environmental factor which become strength is motivation and devotion of SDMK the high enough, existence of improvement of SDMK following second education and training, low of reduction of SDMK and amenity of permit continue education. For the factor of weakness namely interest of SDMK still lower, there is no Protap/SOP, there is no separate budget post for the development of SDMK, budget still limited. Chosen strategy of Market Penetration priority is to improve professionalism of SDMK existing, giving wide of opportunity to improve to education, developing information network function, braiding cooperation with medium education of existing health profession. For the strategy of priority development product of is optimal of Existing SDMK, preparing SDM being based on health of environment, improving advocate to party taker of policy, proposing the existence of separate budget post for the development of SDMK, making Protap/SOP. Conclusions: In the effort realizing required by long-range target of commitment the highness, can look after cooperation and braid communications which do well by sector which play a part in intake of policy. While suggestion able to be given is to be Renstra development of this Human Resource Health can be socialized to all staff at meeting of routine or special. Then operational strategy follow-up can which have been made by researcher. To be earning in line with Vision Mission Public Health Service of Pagar Alam Town hence required by monitoring to execution of activity. Keywords: Strategic Plan, Human Resource Health, Public Health Service, Market Penetration, Product Development.
Read More
T-2133
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rasyidi Amri; Pembimbing: Yayuk Hartriyanti, Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Maksum, Tjutjun, Tri Erri Astoeti
Abstrak: Latar Belakang dan Tujuan: Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam pada era otonomi daerah sekarang ini membutuhkan suatu rencana strategis Sumber Daya Manusia (SDM) Kesehatan yang diharapkan selaras dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan dalam kurun waktu 2006 – 2010. Hal inilah yang merupakan dasar serta tujuan penelitian ini. Metode: Untuk dapat menyusun rencana strategis SDM Kesehatan di Dinkes Kota Pagar Alam, dilakukan penelitian operasional dengan Analisa kualitatif dan kuantitatif. Penyusunan strategi dilakukan melalui beberapa tahap. Tahap pertama (Input Stage) terdiri analisis lingkungan eksternal dan internal SDM Kesehatan Dinkes Kota Pagar Alam melalui Consensus Decision Making Group (CDMG). Pada tahap kedua (Matching Stage), CDMG melakukan analisis dengan Internal-Eksternal Matrix dan SWOT Matrix. Pada tahap ketiga (Decision Stage) analisis dilakukan dengan menggunakan QSPM untuk menentukan strategi terbaik. Hasil: Hasil penelitian, pada pemilihan alternatif strategi dengan berdasarkan IE Matrix, diketahui posisi SDM Dinkes Kota Pagar Alam berada pada sel V yang artinya berada pada posisi Hold and Maintenance (bertahan dan pemeliharaan) dimana strategi yang dianjurkan terdiri dari Market Penetration (Penetrasi Pasar) dan Product Development (Pengembangan Produk). Kesepakatan pada pertemuan CDMG bahwa faktor eksternal yang menjadi peluang yakni adanya peningkatan tingkat pendidikan penduduk Kota Pagar Alam, berlakunya otonomi daerah dan perangkat hukumnya, adanya pengembangan jaringan informasi, adanya komitmen / dukungan dari Pemerintah kota dalam upaya pengembangan SDM kesehatan. Faktor eksternal yang menjadi ancaman adalah : PAD Kota Pagar Alam yang rendah, suplai SDM yang terlalu sedikit setiap tahunnya, penyakit infeksi masih tinggi, sarana pendidikan kesehatan belum ada. Sedangkan faktor lingkungan internal yang menjadi kekuatan adalam motivasi dan pengabdian SDMK yang cukup tinggi, adanya peningkatan SDMK yang mengikuti pendidikan lanjutan dan diklat, rendahnya pengurangan SDMK dan kemudahan izin melanjutkan pendidikan. Untuk faktor kelemahan yakni kompetensi SDMK masih rendah, belum adanya Protap/SOP, belum ada pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, anggaran masih terbatas. Strategi terpilih Market Penetration prioritasnya adalah meningkatkan profesionalisme SDMK yang ada, memberikan kesempatan yang luas untuk meningkatkan pendidikan, mengembangkan fungsi jaringan informasi, menjalin kerjasama dengan sarana pendidikan profesi kesehatan yang ada. Untuk strategi product development prioritasnya adalah mengoptimalkan SDMK yang ada, menyiapkan SDM yang berbasis kesehatan lingkungan, meningkatkan advokasi ke pihak pengambil kebijakan, mengusulkan adanya pos anggaran tersendiri untuk pengembangan SDMK, membuat Protap / SOP. Kesimpulan: Dalam upaya mewujudkan tujuan jangka panjang dibutuhkan komitmen yang tinggi, mampu menggalang kerjasama dan menjalin komunikasi yang baik terhadap sektor yang berperan dalam pengambilan kebijakan. Sedangkan saran yang dapat diberikan adalah agar Renstra pengembangan SDM Kesehatan ini dapat disosialisasikan kepada semua staf pada pertemuan rutin atau khusus. Kemudian dapat menindaklanjuti strategi operasional yang telah dibuat oleh peneliti. Agar dapat sejalan dengan Visi-Misi Dinas Kesehatan Kota Pagar Alam maka dibutuhkan pemantauan terhadap pelaksanaan kegiatan Kata Kunci: Renstra, SDMK, Dinkes, Penetrasi Pasar, Pengembangan Produk
Background and Objective: Public Health Service of Pagar Alam Town at autonomous era of area this time require a strategic plan of expected Human Resource Health in harmony with Vision Mission Public Health Service in range of time 2006 - 2010. This matter is base and also the target of this research. Methods: To be able to compile strategic plan of Human Resource Health in Pagar Alam Town, conducted by research of operational with Analysis Qualitative and Quantitative. Compilation of strategy through some phases. First phase (Input Stage) compose environmental analysis of external and internal Human Resource Health of Public Health Service of Pagar Alam Town pass/through Consensus Decision Making Group (CDMG). At phase both (Matching Stage), CDMG do analyze Internally - External Matrix and SWOT Matrix. At third phase (Decision Stage) analyze conducted by using QSPM to determine best strategy. Results: Result Research, at election of strategy alternative by pursuant to IE Matrix, known by position of Human Resource Public Health Service of Pagar Alam Town reside in cell of V with the meaning residing in on course Hold and Maintenance where suggested to strategy consist of Market Penetration and Product Development. As according to agreement at meeting of CDMG that factor of external becoming opportunity namely the existence of improvement of level education people of Pagar Alam Town, applying of it area autonomy and peripheral of his law, existence of development of information network, existence of commitment / support of Government of town in the effort development of Human Resource health. External factor becoming threat is : low PAD of Pagar Alam Town, supply of Human Resource too a few every year, disease of infection still high, medium education of health there is no. While internal environmental factor which become strength is motivation and devotion of SDMK the high enough, existence of improvement of SDMK following second education and training, low of reduction of SDMK and amenity of permit continue education. For the factor of weakness namely interest of SDMK still lower, there is no Protap/SOP, there is no separate budget post for the development of SDMK, budget still limited. Chosen strategy of Market Penetration priority is to improve professionalism of SDMK existing, giving wide of opportunity to improve to education, developing information network function, braiding cooperation with medium education of existing health profession. For the strategy of priority development product of is optimal of Existing SDMK, preparing SDM being based on health of environment, improving advocate to party taker of policy, proposing the existence of separate budget post for the development of SDMK, making Protap/SOP. Conclusions: In the effort realizing required by long-range target of commitment the highness, can look after cooperation and braid communications which do well by sector which play a part in intake of policy. While suggestion able to be given is to be Renstra development of this Human Resource Health can be socialized to all staff at meeting of routine or special. Then operational strategy follow-up can which have been made by researcher. To be earning in line with Vision Mission Public Health Service of Pagar Alam Town hence required by monitoring to execution of activity. Keywords: Strategic Plan, Human Resource Health, Public Health Service, Market Penetration, Product Development.
Read More
T-2122
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfridsyah; Pembimbing: H.E.Kusdinar Achmad, Penguji: Kusharisupeni, Sudijanto Kamso, Soetanto, Mohamad Nasrun
Abstrak:

Kesegaran jasmani merupakan salah satu faktor yang menenukkan produktifitas kerja yang dapat diartikan sebagai kemampuan atau kesanggupan seseorang untuk melakukan penyesuaian (adaptasi) terhadap tugas-tugas yang diberikan kepadanya dengan mudah tanpa menimbulkan kelelahan yang berlebihan dan masih mempunyai sisa atau cadangan tenaga untuk menikmati waktu senggangnya guna keperluan yang mendadak. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa sebahagian besar tenaga kerja mempunyai tingkat kesegaran jasmani kurang.Pejabat struktural di Dinas Kesehatan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam merupakan sumber daya manusia yang potensial dalam pembangunan dibidang kesehatan. Untuk itu dilakukan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kesegaran jasmani dan faktor-faktor yang mempengaruhinya dengan mengunakan strategi pemodelan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel 66 orang_ Variabel yarig diteliti adalah kesegaran jasmani, indeks massa tubuh (IMT), rasio lingkar pinggang pinggul (RLPP), persen lemak tubuh (PLT), tekanan darah diastolik (TDD), kelompok umur, jenis kelamin, kebiasaan merokok dan kebiasaan makan yang meliputi kebiasaan makan pagi, makan sayuran, makan berlemak dan kebiasan memakan makanan "trendy". Dalam melakukan strategi pemodelan diiakukan dengan uji regresi logistik ganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesegaran jasmani pejabat struktural sebahagian besar (69,7 %) berada pads kategori kurang. Sedangkan keadaan status gizi berdasarkan IMT 51,5 % berada dalam kategori lebih, berdasarkan RLPP 40,9 %berkategori lebih, berdasarkan PLT 87,9 % berada dalam kategori lebih. Sedangkan untuk TDD 27,3 % berada pads kategori tinggi. Gambaran umur rata-rata responden 47 ± 4,78 dan 75 % berjenis kelamin perempuan, 31,9 % dari responden mempunyai kebiasaan merokok. Untuk kebiasaan makan pagi diketahui 11,1, % jarang sarapan pagi, 9,7 % jarang mengkonsumsi sayuran, 15,3 % sering mengkonsumsi makanan trendy dan 55,6 % sering mengkonsumsi makanan berlemak. Berdasarkan uji chi square menunjukkan ada hubungan antara status gizi (EMT, RLPP, PLT ) dengan tingkat kesegaran jasmani.Berdasarkan analisis regresi logistik ganda dengan strategi pemodelan, variabel yang signifikan berhubungan dengan kesegaran jasmani adalah RLPP dan PLT. Sedangkan variabel yang paling berpengaruh terhadap kesegaran jasmani adalah PLT. Adapun risiko yang didapat adalah pejabat struktural yang memiliki RLPP lebih/tinggi mempunyai risiko 5,07 kali untuk mengalami kesegaran jasmani kurang dibandingkan dengan temannya yang mempunyai RLPP normal setelah dikontrol dengan variabel PLT dan pejabat struktural yang memiliki PLT tinggi lebih mempunyai risiko 6,98 kali untuk mengalami kesegaran kurang dibandingkan temannya yang mempunyai PLT normal setelah dikontrol oleh varibel RLPP.Berdasarkan hasil penelitian disarankan agar Dinas Kesehatan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam mengantisipasi kesegaran jasmani kurang dengan mengurangi faktor risiko status gizi (PLT) melalui peningkatan aktifitas fisik dengan menggalakkan program olah raga dan pengaturan makanan yang adekuat serta diadakannya pemeriksaan kesehatan fisik secara berkala agar setiap pegawai dapat memonitoring keadaan kesehatannya. Selain itu diperlukan penelitian lanjutan dengan mengunakan rancangan yang berbeda dan meliputi variabel aktifitas fisik serta mengunakan semua aspek pengukuran kesegaran jasmani, sehingga dapat diketahui dengan pasti hubungan sebab akibat dari kesegaran jasmani.


 

Physical fitness is one of the factors that influence one's productivity which can be defined as one's ability or competence to adapt with tasks given to him or her easily without creating excessive fatigue and he or she still has reserve energy that can be used for leisure or unexpected activity. A number of studies reveal that most workers have poor physical fitness.Structural officials in Health Department of Nanggroe Aceh Darussalam Province are potential human resources in health development. For that reason, this study was conducted to obtain a description of physical fitness and factors that influence it by using modeling strategy. The research design used was cross sectional with 66 people as sample. The variables under study included physical fitness, Body Mass Index (BMI), Waist-hip Circumference Ratio (WCR), Body Fat Percentage (BFP), Diastolic Blood Pressure (DBP), age group, sex, smoking habit and eating habit including habits of breakfasting, eating vegetable, eating fatty meals, and eating "trendy" meals. Double logistic regression test was used in employing modeling strategy.Research result shows that level of structural officials' physical fitness was mostly (69.7%) under poor category. While their nutrition status based on BMI was 51.5% under excessive category; based on WCR 40.9% was under excessive category; based on BFP 87.9% was under excessive category. While for DBP, 27.3% was under high category. Average age of respondents 47 ± 4.78 and 75% was female; 31.9% of respondents had smoking habit. The study also discovered that 11.1% rarely took breakfast, 9.7% rarely consumed vegetable, 15.3% often consumed trendy meals and 55.6% often consumed fatty meals. Based on chi square test, there is a correlation between nutrition status (BMI, WCR, BFP) and level of physical fitness.According to double logistic regression analysis by modeling strategy, variables that significantly correlate to physical fitness are WCR and BFP. While variable that is most influencing on physical fitness is BFP. In addition, the study shows that structural officials who has excessive/high WCR tend to risk 5.07 times experiencing poor physical fitness compared to fellow official who have normal WCR after having been controlled by BFP variable, and structural officials who have high/excessive BFP tend to risk 6.98 times experiencing poor physical fitness compared to fellow officials who have normal BFP after having been controlled by WCR variable.Based on the study result, it is recommended that the Health Department of Nanggroe Aceh Darussalam Province anticipate the poor physical fitness by reducing nutrition status risk factor (BFP) through encouraging physical activities by promoting adequate body exercises and meal diet and regularly running general check-up so that each official can monitor his or her health. Moreover, further study needs to be conducted by using different design and encompassing physical activity variable and using all aspects of physical fitness assessment so that the cause-effect relation of physical fitness can be identified more precisely.

Read More
T-1515
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artha Budi Susila Duarsa; Pembimbing: Sabarinah B.Prasetyo; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Ronnie Rivany, Yudhi Prayudha
Abstrak:
Upaya besar Bangsa Indonesia dalam merumuskan kembali arah pembangunan nasional menuntut reformasi total kebijakan pembangunan disemua bidang termasuk bidang kesehatan. Derajat Kesehatan Masyarakat dan lndeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilan pembangunan termasuk pembangunan di bidang kesehatan. Perencanaan Kesehatan merupakan bagian terpenting dari fungsi manajemen kesehatan. Pada Era Otonomi Daerah dan Desentralisasi kemampuan tenaga perencana kesehatan kabupaten dalam mcnyusun perencanaan dan penganggaran kesehatan kabupaten dengan menggunakan metode yang tepat akan memberikan dampak terhadap kualitas perencanaan dan penganggaran yang dihasilkan. Dengan efekiivitas advocacy pejabat pengambii keputusan di dinar kesehatan kepada Pemerintah Daerah dan DPRD, akan diperoleh alokasi anggaran untuk sektor kesehatan yang sesuai dengan kehutuhan. Kabupaten Way Kanan yang berdiri 27 april 1999 merupakan kabupaten bare yang begitu lahir langsung memasuki era otonomi daerah dan desentralisasi. Berbagai keterbatasan terutama keterbatasan jumlah dan kualitas sumber daya manusia menjadi permasalahan dasar dalam menjalankan kegiatan fungsi manajemen kesehatan termasuk fungsi perencanaan kesehatan. Penelitian ini bertujuan memperolieh informasi aplikasi P2KT yang dilaksanakan di Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan dengan terlebih dahulu melakukan evaluasi implementasi P2KT dalam penyusunan Master Plan (rencana induk) Pembangunan Kesehatan Kabupaten Way Kanan 2002 - 2005 dan Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan Tahun 2001 dan 2002 dengan mengkaji komponen input (sumber Jaya), komponen proses (mekanisme penyusunan P2KT) dan komponen output. Dari hasil penelitian diperoleh gambaran keadaan bahwa otonomi daerah dan desentralisai khususnya bidang kesehatan telah berjalan namun masih banyak kendala, demikian juga dengan pelaksanaan sistem anggaran block grant. Jumlah dan kualitas SDM yang terlibat dalam perencanaan di dinas kesehatan masih terbatas dan banyak jabatan sruktural yang kosong karena terbentur persyaratan administratif. Tidak tersedia alokasi dana khusus untuk perencanaan, dan keterbatasan sarana. Data dan informasi yang digunakan untuk penyusunan perencanan dinas kesehatan belum seperti yang diharapkan. Data bersumber pada facility based data, data hasil survey (population based data) belum banyak digunakan untuk penyusunan perencanaan. Metode P2KT baru digunakan untuk perencanan PHP (Provincial Health Project) dan banyak kendala dalam menggunakan metode P2KT akibat keterbatasan kemampuan SDM dalam menjalankan metode P2KT yang tidak sederhana. Dalam upaya memperoleh hasil aplikasi P2KT yang lebih sesuai dengan kondisi di Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan, telah dilakukan CDMG (Consensus Decision Making Group) oleh pejabat pengambil keputusan dan petugas perencana di Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan, yang menghasilkan Draft Rumusan Aplikasi P2KT Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kan. Dari pembahasan peneliti, maka diperoleh Hasil Aplikasi P2KT Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan, yang merupakan interpretasi dari Draf Rumusan Aplikasi P2KT Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan. Dalam Aplikasi P2KT tersebut dilakukan penyederhanaan konsep Perencanaan Dan Penganggran Kesehatan Terpadu, dimana penganggaran basil aplikasi P2KT dikombinasikan dengan Keputusan Mendagri No. 29 tahun 2002. Untuk penyempurnaan Hasil Aplikasi P2KT ini, maka perlu pengkajian lebih lanjut oleh para ahli atau profesional bidang perencanaan dan penganggaran kesehatan. sehingga kemudian akan didapatkan satu hasil aplikasi P2KT yang lebih tepat dan sesuai dengan situasi dan keadaan di Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan, yang lebih sempurna.

Applicational Study of IHPB (Integrated Health Planning and Budgetting) Model in The Health Authority of Way Kanan of Lampung Province The big effort of Indonesia in reformulating the national development direction is to strive the total reforms of development policy in all sectors including health sector. Public Health and Human Development Index (HDI) level acts as indicator that is used to examine development's successfulness, including health sector's development. Health planning is the most vital organ of health management function. In the Era of Regional Autonomy and Decentralization the ability of regency health planner in arranging regency's health planning and budgeting by using appropriate method will impact the quality of planning and budgeting that are produced. The effectively of decision maker's advocacy in health authority to the Local Government (so called Pemda) and Local House Representative (so called DPRD) will obtain appropriate budget allocation to the necessity. Way Kanan Regency, which was founded on 27`h April 1999. It is a new regency that directly entering autonomy era and decentralization after being founded. A variety of limitations especially number and quality human resources were becoming fundamental problem in carrying out health management function activities including health-planning function. This research aimed to get information on the application of IHPB in the Health Authority of Way Kanan Regency after examining the implementation of IHPB in arranging Health Development Master Plan of Way Kanan Regency for the period of 2002-2005 and Health Authority Planning in 2001 and 2002 by studying input (resources), process (IHPB arrangement mechanism) and output components. The result of the research showed that regional autonomy and decentralization especially in health sector has run even with many constraints, the implementation of block grant system budget does too. The number and quality of human resources involved in planning in health authority was still limited and much structural vacant position due to the administrative qualification. The special allocation for planning was unavailable, and facilities were limited too. Data and information that used to arrange the health authority planning still were not as expected. The data that were acquired from the facility based data, and from the result survey (population based data) were not used in arranging the planning. IHPB's new method was used for the PHP (Provincial Health Project) planning, however, there were many constraints in using IHPB method due to the limitation of human resources ability in carrying out the complicated IHPB method. In the effort of acquiring the result of IHPB's application that is more compatible to Way Kanan Regency's Health Authority, CDMG (Consensus Decision Making) has been conducted by decision maker and planning staff in the Health Authority of Way Kanan Regency that resulted the Draft of Application's Formulation of /HPB of the Health Authority of Way Kanan Regency. From the researcher's discussion, it is obtained the result of Application of (HPB in the Health Authority of Way Kanan Regency. that is interpreted from Application's Formulation of IHPB of the Health Authority of Way Kanan Regency.In the application of IHPB model. the simplification of the concept of IHPB has been done, where the prediction of IHPB's application was combined with the Minister of Internal Affairs" Decree No. 29 year 2002. To complete the result of IHPB's application, a further study needs to he conducted by the experts or professionals in planning sector and health budgeting, so it will obtain a result of IHPB's application that is more compatible to the situation and condition of Health Authority of Way Kanan Regency.
Read More
T-1582
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Milyono; Pembimbing: P.A.W. Pattinama; Penguji: Dumilah Ayuningtyas
T-1609
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erma Gustina; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Adang Bachtiar
T-1844
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andrayanto; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Purnawan Junadi
Abstrak:
Desentralisasi memberikan konsekuensi pada kewenangan bidang kesehatan yang dimiliki Kabupaten Lampung Tengah semakin besar. Kondisi ini memerlukan strategi baru berupa, pengorganisasian yang lebih seksama pada berbagai tingkatan administrasi, dan melaksanakan perubahan-perubahan sebagai upaya penyesuaian terhadap kebijakan desentralisasi. Perubahan ini salah satunya adalah penataan kembali kelembagaan Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah sebagai organisasi perangkat daerah. Sebelumnya kelembagaan Dinas Kesehatan disusun berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 84 Tahun 2000. Adanya kebijakan baru dalam penataan organisasi perangkat daerah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003 tentang Pedoman Organisasi Perangkat Daerah, maka perlu melakukan penyesuaian struktur kelembagaan Dinas Kesehatan tersebut. Tujuan penelitian adalah tersusunnya struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah yang sesuai desentralisasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, informasi diperoleh berupa data sekunder melalui telaah dokumen dan data primer melalui wawancara mendalam. Informan penelitian adalah pejabat struktural Dinas Kesehatan, pejabat Sekretariat Kabupaten dan Panitia Khusus Organisasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Lampung Tengah. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan empat tahap yaitu : l) Telaah dokumen dan wawancara mendalam, untuk memperoleh gambaran tentang kewenangan bidang kesehatan, visi dan misi, tugas pokok dan fungsi, struktur organisasi Dinas Kesehatan saat ini. 2) Kajian dan pengembangan model teoritis struktur organisasi Dinas Kesehatan, berdasarkan data yang diperoleh tahap pertama dan berpedoman pada Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003. 3) Penggalian pendapat ahli terhadap rancangan struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah yang disusun pada tahap ketiga, ahli berasal dari FISIP UI, Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Propinsi Lampung dan 4) Semiloka untuk mendapatkan model struktur terpilih, untuk mendapatkan tanggapan dan masukan terhadap rancangan struktur yang disusun pada tahap kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Kewenangan bidang kesehatan Kabupaten Lampung Tengah terdiri tiga puluh satu jenis belum sepenuh terealisir karena keterbatasan sumberdaya sehingga masih memerlukan fasilitasi dari pusat. Visi dan misi sudah baik namun bagaimana mewujudkannya, kegiatan dalam program belum mengarah pada visi dan misi, karena belum menjadi komitmen bersama akibat sosialisasi belum optimal. Struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah masih terlalu besar, kewenangan sebagai tugas pokok tidak didistribusikan secara merata menimbulkan tumpang tindih, disusun berdasarkan tradisi lama berorientasi pada jabatan daripada manfaat jabatan, merujuk pada struktur lama, belum mempertimbangkan aspek kerjasama dengan pihak ketiga dan tidak sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2003. Kesimpulan secara umum penelitian ini menghasilkan tiga rancangan struktur organisasi Dinas Kesehatan, rancangan yang direkomendasikan untuk perubahan struktur organisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Lampung Tengah adalah rancangan pertama dengan susunan terdiri dari: Kepala Dinas, Bagian Tata Usaha, Bidang Bina Pelayanan Kesehatan, Bidang Bina Pencegahar, Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Bidang Bina Program dan Pemberdayaan Kesehatan Masyarakat, Bidang Bina Pengawasan Obat, Makanan dan Logistik Kesehatan, Kelompok Jabatan Fungsional dan Unit Pelaksana Teknis Dinas. Saran yang diberikan adalah perlunya sosialisasi dan advokasi kewenangan, visi dan misi. Penempatan tenaga yang memperhatikan kualitas dan kompetensi tugas, dan advokasi terhadap pengakuan dan kompensasi jabatan fungsional. Daftar Pustaka : 20 ( 1994 - 2003 )

Decentralization presents higher consequences to the health section authority in Central Lampung Regency. This condition needs a new strategy such as: a more detailed organization of various administration level, and undertake changes as an adjustment effort toward decentralization policy. One of the changes is to institutionally restructure the Health Board in Central Lampung Regency as a district organizational instrument. Health Board institution used to be organized based on Gov. Reg. No_ 84 Yr. 2000. The presence of a new policy in the arrangement of district organizational instrument based on Gov. Reg. No. 8 Yr. 2003 concerning District Organizational Instrument Guidelines, thus needs to make an adjustment to the institutional structure of the Health Board. The objective of this study is to arrange the Health Board in Central Lampung Regency organizational structure which would be in accordance to decentralization. This study uses a qualitative method, the acquired information are secondary data through document research and primary data through in-depth interview. The informants of this study are the structural officials of the Health Board, Regency Secretariat, and Organizational Special Committees of the Central Lampung District House of Representative. The study is undertaken through four phase, which consist of 1) Document research and in-depth interviews, to attain description of the authority of the health section, visions and missions, main duties and functions of the present Health Board. 2) The theoretical model research and development of the organization structure of the Health Board, derived from the data which are acquired in the first phase and based on the Gov. Reg. No. 8 Yr. 2003. 3) The collection of experts opinion regarding the planning of organizational structure of Health Board in Central Lampung Regency which is arranged in the third phase. The experts are from FISIP UI, Health Ministry of the Republic of Indonesia, and Health Board of Lampung Province, and 4) Semiloka to acquire selected structure model, to attain response and input to the structural planning which is arranged in the second phase. The result of the study shows that: The authority of health section in Central Lampung Regency consists of thirty one type has yet to be fully undertaken because of resources inadequacy thus still need facilitation from the central government. The visions and mission are already good but how to accomplish them. The activities in the program has yet to be directed towards those visions and missions, because until now they are yet to be a collective commitment as a result of no optimal socialization. The organizational structure of the Health Board in Central Lampung Regency is still too big, authority as the main duties are not distributed equally thus goes upside-down, arranged based on old tradition that oriented to official position rather than the function of that official position, referred the old structure, has yet to consider the cooperation aspects together with a third party and does not comply with Gov. Reg. No. 8 Yr. 2003. The conclusion in general of this study is to produce three organizational structure of the Health Board. The planning which is recommended to the changes of Health Board in Central Lampung Regency organizational structure is the first planning with arrangements consists of: Head of the Board, Documentation Department, Health Service Improvement Department, Disease Elimination and Environmental Safety Deartment, Prevention Improvement and Public Health Resources Department, Drugs, Foods and Logistic Monitoring Department, and Functional Official Group and Technical Performance Unit. The suggestion given is the need of authority socialization and advocating, vision, and mission. Resources allocations which consider the duties quality and competency, and advocating toward acknowledgement and compensation of functional official positions. Bibliography List: 20 (1994-2003)
Read More
T-1681
Depok : FKM-UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadjmah Nasir; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Ronnie Rivany, Anwar Hasan, Pranaswati Tunggal Dewi, P.A. Kodrat Pramudho
Abstrak:
Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Sumatera Selatan adalah salah satu Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan yang berperan dalam pengembangan profesionalisme sumber daya manusia. Sejalan dengan terjadinya perubahan lingkungan organisasi dan lingkungan luarnya, maka penelitian ini berupaya untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi baik lingkungan internal maupun lingkungan eksternal organisasi dan untuk mengetahui sejauhmana kondisi Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan serta strategi yang sesuai, maka diperlukan penelitian perencanaan strategis Bapelkes Provinsi Sumatera Selatan tahun 2005 - 2009. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun perencanaan strategis Bapelkes Prov. Sumsel tahun 2005 - 2009. Penelitian merupakan penelitian operasional, menurut David pada perumusan strategi disusun melalui tiga tahapan yaitu tahap I (Input Stage), tahap II (Matching Stage) dan tahap III (Decision Stage). Pada tahap I (Input Stage) menganalisis data kualitatif dan data kuantitatif terhadap variabel eksternal (geografi, ekonomi, teknologi, kebijakan, pesaing, pelanggan, dan pemasok) dan variabel internal (manajemen, visi dan misi, keuangan, produk layanan, fasilitas dan peralatan, pemasaran, SIM, dan SDM). Pada tahap II (Matching Stage) dari hasil analisis menggunakan matriks EFE dan matriks IFE diperoleh nilai total EFE 2,65 dan nilai total IFE 2,72 yang selanjutnya dengan menggunakan matriks IE menempatkan posisi Bapelkes Prov. Sumsel pada sel V (hold and maintain) dengan alternatif strategi yang direkomendasikan adalah market penetration dan product development. Sedangkan analisis dari matriks TOWS menempatkan posisi Bapelkes Prov. Sumsel pads quadrant 3 (eksternal fix-it quadrant) dengan alternatif strategi yang direkomendasikan adalah related diversification, unrelated diversification, market development, product development, enhancement, status quo. Selanjutnya dilakukan matching antara matriks IE dan TOWS sehingga diperoleh alternatif strategi product development (pengembangan produk). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan Consensus Decision Making Group (CDMG) diperoleh informasi berupa peluang yaitu perkembangan teknologi informasi komunikasi semakin canggih, ekonomi sudah mulai stabil, W dan Perda, jumlah tenaga kesehatan yang meningkat. Sedangkan yang menjadi ancaman ialah lokasi Bapelkes, networking antar instansi diktat, komitrnen tentang pelaksanaan diktat satu pintu bidang kesehatan, pesaing memberi kemudahan dalam pertanggungjawaban keuangan, kebutuhan tenaga widyaiswara. Dilain pihak kekuatan adalah visi dan misi, Bapelkes sudah terakreditasi, meningkatnya jumlah anggaran, fasilitas dan peralatan, jumlah pegawai, sistem informasi, produk layanan. Sedangkan yang menjadi kelemahan adalah sistem perencanaan dan pengawasan, pelayanan belum berorientasi kepada kepuasan pelanggan, sistem pemasaran, kualitas SDM, tenaga fungsional non edukatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Bapelkes Prov. Sumsel memiliki strategi terpilih pengembangan produk yaitu mengembangkan program pelatihan dan diktat unggulan yaitu pelatihan quality assurance, pelatihan out bound, dan pelatihan metodologi dan teknologi kediklatan; mengembangkan pelayanan akomodasi yang sudah ada untuk penginapan dengan mengembangkan fasilitas untuk berbagai kegiatan pertemuan, seminar, resepsi pernikahan; mengembangkan sistem informasi Iptek bidang kesehatan dan kediklatan melalui layanan internet; mengembangkan program pelatihan mandiri (peserta membayar sendiri); dan mengembangkan peran Bapelkes Prov. Sumsel sebagai pusat kajian ilmu pengetahuan bidang kediklatan. Pada tahap III (Decision Stage) dan strategi yang akan dikembangkan dianalisis lagi dengan matriks QSPM untuk menentukan prioritas strategi yang akan dikembangkan yaitu mengembangkan program pelatihan (mengembangkan program pelatihan yang ada dan merencanakan program pelatihan yang baru) dan menyelenggarakan diktat unggulan (pelatihan quality assurance, pelatihan out bound, pelatihan metodologi dan teknologi kediklatan). Peneliti menyarankan agar Bapelkes Prov. Sumsel mensosialisasikan kepada pelaksana dan instansi terkait, advokasi kepada penentu kebijakan tentang rencana srategis Bapelkes Prov. Sumsel, menyusun rencana operasional tahunan yang dilanjutkan dengan rincian kegiatan tahun 2005.

Strategic Planning for Health Training Center of the Province of South Sumatera Year 2005-2009Health Training Center of the Province of South Sumatera is one of the Technical Unit belongs to the Health Office of Province of South Sumatera which plays a part in development of human resource professionalism. In line with the change of organizational environment and its outside environment, hence this research coped to assess the factors influencing the organization both internal and external environment and to assess the condition of Health Training Center of the Province of South Sumatera and also the appropriate strategy, hence needed to conduct the research of strategic planning of Health Training Center of the Province of South Sumatera year 2005-2009. This study aimed to arrange the strategic planning of Health Training Center of the Province of South Sumatera Year 2005-2009. The study was an operational research, in which according to David formulation of strategy was divided through three stages that was stage I (Input Stage), stage II (Matching Stage), and phase III (Decision Stage). At phase I (Input Stage) was analyzed data qualitative and quantitative to external variables (geography, economic, technology, policy, competitor, customer, and supplier) and internal variables (management, mission and vision, finance, service product, equipments and facility, marketing, information management system, and human resources). At phase II (Matching Stage), the result of analysis that used EFE and IFE matrix obtained total values of EFE and IFE in sequence were 2.65 and 2.72. Then, analysis used IE matrix placed the position of Health Training Center of the Province of South Sumatera in cell V (hold and maintain) with recommended strategy alternative was market penetration and product development. While analysis from TOWS matrix placed the position of Health Training Center of the Province of South Sumatera in quadrant 3 (fix-it quadrant external) with recommended strategy alternative was related diversification, unrelated diversification, market development, product development, enhancement, and status quo. After that, matching between IE and of TOWS matrix was conducted so that obtained strategy alternative of product development. The study result showed that according to Consensus Decision Making Group (CDMG) was obtained the information about the opportunity that was development of sophisticated communication information technology progressively, stable economic, national and local regulations, and the increase of health human resources. While including the threat as follows: location of Health Training Center, networking among training centers, one gate health training commitment, competitors gave the amenity in financial responsibility, and requirement of widyaiswara. On the other hand, strength factor included mission and vision, accredited Health Training Center, the increasing of budget, equipment and facility, amount of officer, information system, and service product. While weakness factor included planning and controlling system, service not yet oriented to customer satisfaction, marketing system, human resources quality, and non-educative functional officer. The study concluded that Health Training Center had a chosen strategy of product development: training development program and pre-eminent education and training such as quality assurance training, out bound training, and education and training technology and methodology training; developing the existing accommodation service such as lodging by developing facility to various activities for meeting, workshop, wedding reception; developing health information and technology system and education and training through intemet; developing self-supporting training program (out of pocket payment); and developing the role of Health Training Center of the Province of South Sumatera as a center for education and training studies. At phase III (Decision Stage) out of strategy that would be developed was analyzed again with QSPM matrix to determine strategy priority that was developing training program (developing the existing training program and planning new training program) and carry out pre-eminent education and training (quality assurance training, out bund training, education and training technology and methodology training). It is recommended to Health Training Center of the Province of South Sumatera to socialize the strategic planning to the relevant institution and operator, giving advocacy to the stake holder about strategic planning about Health Training Center of the Province of South Sumatera, and making annual operational plan which continued with detail of activity of year 2005.
Read More
T-1897
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artia Diarina; Pembimbing: Dian Ayubi, Syahrizal Syarif; Penguji: Anwar Hasan, Hasan AD, Mohammad, Junaiti Sahar
Abstrak: Latar belakang : Kualitas tenaga keperawatan sebagai pemberi jasa pelayanan kesehatan, tidak terlepas dari kualitas pendidikan yang diperoleh sebelumnya. Mengingat perbaikan mutu tidak dapat dilakukan sekaligus dan diperlukan data penunjang dalam menetapkan skala prioritas, maka pengukuran kepuasan pelanggan merupakan salah satu cara pengukuran kualitas yang dapat digunakan sebagai masukan dalam perbaikan mutu pelayanan intitusi pendidikan. Tujuan : Penelitian ini untuk mendapatkan data tentang tingkat kepuasan mahasiswa terhadap mutu pelayanan pendidikan di Jurusan Keperawatan Tanjungpinang Poltekkes Riau tahun 2005, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Metode : Dilaksanakan dengan cara cross sectional terhadap seluruh mahasiswa Jurusan Keperawatan Tanjungpinang Poltekkes Riau (182 orang), yang masih aktif kuliah sampai saat penelitian. Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner dengan skala Likert. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat, dan multivariat, dengan uji statistik yang digunakan adalah Chi square dan Regresi logistik ganda. Hasil : Prosentase mahasiswa yang puas terhadap mutu pelayanan pendidikan di Jurusan Keperawatan Tanjungpinang hanya 48,4%, lebih rendah dari hasil survey tahun sebelumnya (55%). Dari empat dimensi pelayanan pendidikan, proporsi puas yang terendah (41,8%) yaitu pada pelayanan dosen. Hasil analisa dengan diagram Kartesius menunjukkan faktor yang menjadi prioritas utama pada layanan dosen, adalah (1) kemampuan dosen menepati jadwal perkuliahan, (2) kemampuan dosen memberikan ilustrasi yang relevan dengan materi yang disampaikan, (3) kemampuan dosen memberikan kesempatan kepada mahasiswa bimbingannya untuk konsultasi akademik, (4) kemampuan dosen menyampaikan materi perkuliahan dengan jelas dan sistematis, dan (5) kemampuan dosen menguasai materi perkuliahan yang disampaikannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa adalah latar belakang pendidikan, prestasi akademik, dan motivasi belajar. Dari ketiga faktor tersebut yang paling dominan adalah faktor prestasi akademik, dimana mahasiswa dengan prestasi tinggi cenderung tidak puas di banding yang berprestasi rendah. Kesimpulan : Mutu pelayanan pendidikan di Jurusan Keperawatan Tanjungpinang Poltekkes Riau pada tahun 2005, masih rendah. Pelayanan dosen menjadi prioritas untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa, terutama tepat waktu dalam mengajar, menguasai materi dan metoda pembelajaran. Kata Kunci : Pendidikan Tenaga Kesehatan, Mutu Pelayanan, Analisa Kepuasan Pelanggan.
Background: The nursing professionals quality as those who give health service, is not excluded from the quality of education attained before. Regarding to that quality improvement that can not be conducted in a step only and it is needed a supporting data in establishing the rate of priority, so that the measurement of client’s satisfaction is one of the way to measure the quality which can be used as an input in improving service quality of an educational institution. Target : This research has an objective to obtain data about satisfaction rate of the college students to the service quality of education at Tanjung Pinang Department of Nursing at Polytechnic of Health in Riau in 2005, either factors that affect it. Method : The research carried out in June 2005, within sort of research applied is cross sectional to the 182 students at Tanjung Pinang Department of Nursing Polytechnic of Health in Riau. The analysis used are univariat, bivariat, and multivariate while the statistical test used are Chi Square and Multiplied Logistis Regression. Result : The research shows that the students percentage who are satisfied to the service quality at education at Tanjung Pinang Department of Nursing is only 48,4% and of 4 dimensions of educational service, there is a lowest proportion of satisfaction (41,8%) on lecturers service. The analysis result within Chartesius diagram, indicates that factor to be the major priority to be improve better on lecturer service, is (1) the ability from lecturers to come for the class on time, (2) lecturers ability to give the relevant illustration within given matters, (3) their ability to give opportunity for their counseled students for an academic consultation, (4) their ability to give learning matter both descriptively and systematically, and ( 5) the ability from lecturers to mastery of learning matter. From the test result of bivariate, it shows that factor correlates to satisfaction supports the variables of education, academic achievements, and learning motivations. While from the test result of doubled logistic regression, found that the most dominant factor in determining the student’s satisfaction is academic achievement. Conclusion : The quality of educational service at Department of Nursing in Tanjung Pinang Polytechnic of Health in Riau 2005, still lower. Service of lecturer become priority to increase satisfaction of student, especially on teaching schedule, mastering study method and items. Keyword : Education of Health Profesionals, Quality Of Service, Analysis of Customer Satisfaction
Read More
T-2191
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive