Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35819 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Firzawati; Promotor: Hasbullah Tabrany; Pujiyanto; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Dian Ayubi, Nunik Kusumawardhani, Soewarta Kosen
D-315
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fauzan Budi Prasetya; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Ratna Djuwita Hatma, Uswatun Hasanah
Abstrak: Diabetes adalah salah satu penyebab kematian tertinggi di dunia. Indonesia merupakansalah satu negara dengan angka diabetes tertinggi. Aktivitas fisik merupakan salah satufaktor risiko penyakit diabetes yang dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untukmengetahui kuatnya hubungan aktivitas fisik pada berbagai tingkat dengan penyakitdiabetes setelah dikontrol oleh variabel confounding. Penelitian ini merupakan analisislanjut Indonesian Family Life Survey Tahun 2014 (IFLS 2014). Metodologi penelitianyang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan uji multivariat.Setelah dikontrol oleh variabel tempat tinggal, aktivitas fisik sedang (OR = 1,62 CI 95%:1,21 - 2,18) dan aktivitas fisik rendah (OR = 1,94 CI 95% = 1,47 - 2,56) lebih berisikodibandingkan aktivitas fisik tinggi untuk penyakit diabetes. Intervensi yang dapatdilakukan antara lain sinergitas antar lembaga seperti kementerian dan lembagapemerintah, lembaga swasta, non-profit, dan BPJS Kesehatan untuk program optimalisasiprogram aktivitas fisik yang sesuai dengan gaya hidup masyarakat urban sertameningkatkan fasilitas pendukung yang memadai untuk beraktivitas fisik tingkat sedanghingga berat di area perkotaan.Kata kunci:Diabetes, aktivitas fisik, IFLS 2014, cross-sectional
Diabetes is one of the leading death causes in the world. Indonesia is one of the highestrates of death caused by diabetes. Physical activity is one of the modifiable diabetes riskfactors. This study focuses on understanding association of physical activity in differencelevels and diabetes after being controlled by confounding variables. This study is ananalysis of Indonesian Family Life Survey Tahun 2014 (IFLS 2014). Researchmethodology in this study is cross-sectional with multivariate analysis. After beingcontrolled by residential area variable, moderate physical activity (OR = 1,62 CI 95%1,21 - 2,18) and low physical activity (OR = 1,94 CI 95% = 1,47 - 2,56) have higher riskcompared to high physical activity for diabetes. Health interventions that are feasible tobe executed are synergy between all departments and government bodies, the privatesector, non-profit, and BPJS Kesehatan (National Health Insurance) for optimization ofphysical activity program that is suitable for urban lifestyle and encouraging adequateinfrastructures and facilities for people in urban areas to be able to do moderate until highphysical activity.Key words:Diabetes, physical acitivity, IFLS 2014, cross-sectiona.
Read More
S-10232
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Feri Ahmadi; Promotor: Endang L. Achadi; Korpomotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Anies Irawati; Penguji: Kusharisupeni, Trihono, Abas Basuni Jahari, sowarta Kosen, Besral
D-463
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
R Wasis Sumartono; Promotor: Hasbullah Thabrany; Ko Promotor: Ratna Meidyawati; Penguji: Anhari Achadi, Nasrin Kodim, Sudijanto Kamso, Kodrat Pramudho, Rita Damayanti
Abstrak: Latar belakang: Di Indonesia, prevalensi karies gigi berkisar antara 85% - 99% dan 67.4% pria umur 15 tahun atau lebih merokok. Tujuan: Tujuan penelitian ini mengkaji hubungan keparahan karies gigi dan intensitas merokok pada pria Indonesia umur 45 – 54 tahun (n = 34.534), responden Riskesdas 2007. Metode: Pengalaman karies gigi (DMFT) dicatat oleh enumerator yang sudah dilatih. Enumerator juga mencatat karakteristik sosiodemografik (umur, pekerjaan, status sosial ekonomi, pendidikan) perilaku kesehatan gigi (gosok gigi) dan merokok responden. 31.4 % responden DMFT-nya ≥ 8, cut off point karies gigi parah dalam penelitian ini. Uji Chi-square digunakan untuk mendeteksi kemaknaan perbedaan prevalensi karies gigi parah pada perokok berat (BI ≥ 400) dan pada yang tidak pernah merokok (BI = 0). Regresi logistik digunakan untuk meng-estimasi besarnya peran merokok berat pada keparahan karies gigi. Hasil: Prevalensi karies gigi parah pada yang tidak pernah merokok, perokok ringan (BI 1-399) dan perokok berat berturut turut adalah, 24,9 %; 32,5 % dan 38,7% (P <0,005). Dibanding yang tidak pernah merokok, adjusted OR karies gigi parah pada perokok ringan dan perokok berat adalah 1,45 (95% CI 1,37-1,53) dan 1,70 (95% CI: 1,59 – 1,81). Kesimpulan: Merokok merupakan salah satu faktor risiko karies gigi parah pada pria Indonesia dan semakin berat intensitas merokoknya, semakin besar pula risikonya. Saran: Para dokter gigi Indonesia, baik secara perorangan, maupun secara kolektif, perlu ambil bagian secara lebih sungguh sungguh dalam pengendalian tembakau di Indonesia
 

Background: In Indonesia, dental caries the prevalence between 85% - 99% and 67.4% of males aged 15 years or older currently used tobacco. Objective: The aim of this study is to examine the association between dental caries severity and smoking intensity in 45 – 54 years old Indonesian males (n = 34.534), respondents of Basic Health Research 2007. 31.4 % of respondents have DMFT value ≥ 8, the cut off point of severe dental caries in this study. Methods: The dental caries experience (DMFT) were recorded by well trained enumerators. In addition, the enumerators recorded sociodemographic characteristics (age, socio-economic status, education, job), tooth brushing and smoking behavior of respondents. Chisquare test was used to detect significant difference on prevalence of severe dental caries between heavy smokers (BI ≥ 400) and never smokers (BI = 0). Logistic regression was used to estimate contribution of heavy smoking on dental caries severity. Result: The prevalence of severe dental caries on never smokers, light smokers (BI 1-399) and heavy smokers were 24,9 %; 32,5 % and 38,7% respectively (P <0,005). Compared to never smokers, the adjusted OR of light smokers and heavy smokers were 1,45 (95% CI 1,37-1,53) and 1,69 (95% CI: 1,59 – 1,80). Conclusion: Smoking is a risk factor of severe dental caries in Indonesian men and the higher the smoking intensity, the higher the risk. Recommendation: Indonesian dentists, individually and collectively have to take part more seriously in smoking prevention and control in Indonesia.
Read More
D-318
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Dini Nurasih; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Martya Rahmaniati, Wahyuni Khaulah
Abstrak: Angka Kematian Ibu di Indonesia masih tinggi. Salah satu penyebabnya yaitu persalinan yang tidak dilakukan di fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan persalinan pada non fasilitas kesehatan di Indonesia tahun 2013. Data yang digunakan yaitu data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pada 42.587 wanita usia subur yang melahirkan terakhir kali pada kurun waktu 3 tahun terakhir. Analisis data menggunakan uji Chi Square, Chi Square Mantel Haenzel dan regresi logistik. Hasil menunjukkan peningkatan risiko persalinan di non fasilitas kesehatan pada responden berumur muda, paritas tinggi, pendidikan rendah, status ekonomi terbawah, tinggal di perdesaan. Ada hubungan antara tempat persalinan dengan waktu tempuh, jaminan kesehatan, perencanaan kehamilan, tempat ANC, frekuensi ANC, trimester mulai ANC dan pelayanan ANC. Perlu peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi mengenai perencanaan persalinan yang aman di fasilitas kesehatan.
Kata kunci: persalinan, fasilitas kesehatan, Riskesdas

Maternal mortality rate in Indonesia is still high. Non facility based delivery is known as one of the linked factor. This study aims to show factors associated with non facility based delivery in Indonesia 2013. The data used is from the Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, there are 42.587 women age 15-49 who gave birth to her latest pregnancy in the 3 years preceding the survey. The data was analysed using Chi Square, Chi Square Mantel Haenzel and logistic regression model. Result shows higher risk of giving birth at non healthcare facilities when mother is younger, have higher parity, lower education, at the lowest quintile of economic status, lives in the rural area. There is association between the place of delivery with time needed to reach facilities, health insurance, pregnancy planning, place of antenatal care, frequency of antenatal care, trimester of first antenatal care visit and the antenatal care services. Communication, information and education about safer delivery planning in healthcare facilities are greatly needed.
Keywords: delivery, healthcare facilities, Riskesdas
Read More
S-8635
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurbaiti; Promotor: Budi Hidayat; Kopromotor: Anhari Achadi, Rizki Edmi Edison; Penguji: Habullah Thabrany , Sandi Iljanto, Wachyu Sulistiadi, Siti Brotowasisto, Purwanti, Trihono, Kodrat Pramudho
D-364
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soenarjo Soejoso; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Ko-Promotor: Ruliana Suradi, Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudijanto Kamso, F.A. Moeloek, Kusharisupeni, Ratna Djuwita, Soewarta Kosen
D-261
Depok : FKM-UI, 2012
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosni Lubis; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Atmarita; Yekti Widodo, Aryono Hendarto, Ahmad Syafiq, Sutanto Priyo Hastono
Abstrak:

Prevalensi stunting pada balita di Indonesia, khususnya Kabupaten Bogor masih tergolong tinggi. Minimum Acceptable Diet (MAD), salah satu penilaian pada praktik pemberian makanan pendamping ASI, merupakan salah satu determinan utama dalam kejadian stunting. Penelitian ini bertujuan melihat hubungan MAD dan faktor lainnya dengan kejadian stunting pada anak umur 6-23 bulan. Metode penelitian ini menggunakan desain studi kohor prospektif data penelitian Kohor Tumbuh Kembang Anak (TKA) yang dilaksanakan sejak tahun 2012 di Kota Bogor. Sampel penelitian ini adalah anak umur 6-23 bulan pada studi kohor TKA yang dilakukan pengukuran berulang secara lengkap. Anak yang lahir pada pada tahun 2012-2017 dan diikuti hingga umur 23 bulan (pada tahun 2014-2019).

Variabel dependen pada penelitian ini ialah anak stunting yang diamati pada saaat usia 12, 18 dan 24 bulan. Variabel independen utama pada penelitian ini ialah MAD yang diamati pada rentang umur 6-11, 12-17 dan 18-23 bulan.

Hasil: Prevalensi stunting dalam penelitian ini masih cukup tinggi yaitu anak umur 12 bulan (23,8%), 18 bulan (33,2%) dan 24 bulan (24,6%). Capaian MAD tidak adekuat paling banyak terjadi pada anak umur 6-11 bulan (77,9%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa MAD umur 6-11, 12-17 dan 18-23 tidak berhubungan terhadap kejadian stunting pada anak umur 12,18 dan 24 bulan.. Analisis Multivariat Regresi Cox menunjukkan stunted usia sebelumnya dan asupan protein mempengaruhi terjadinya stunting.

Kesimpulan: Upaya lebih lanjut perlu dilakukan untuk capaian MAD yang direkomendasikan pada anak usia 6-23 bulan untuk mencegah stunting. Studi skala besar untuk mengeksplorasi peran MAD dalam mengurangi stunting dan studi kualitatif untuk mengidentifikasi kendala dan faktor yang mempengaruhi praktik pemberian makan bayi dan anak yang lebih baik sangat penting untuk perbaikan program.


 

The prevalence of stunting among children under-fives in Indonesia, particularly in Bogor, West Java, is still relatively high. Minimum Acceptable Diet (MAD), one of the  assesments on the practice of complementary feeding is one of the main determinants of stunting. This study aims to examine the relationship between MAD and other factors with the incidennce of stunting in children aged 6-23 months. Methods: This research method uses a prospective cohort study design from the Cohort of Growth and Development  of children (TKA) research data which has been carried out since 2012 in Bogor City.

The sample of this study was children aged 6-23 months in the TKA cohort study whio underwent complete repeated measurements. Children born in 2012-2017 and followed up to 23 months of age (in 2014-2019).

The dependent variables were stunted children at ages 6-11, 12-17. 18-23 and 24 months. The main independent variable was Minimum Acceptable Diet at the age interval of 6-11, 12-17, and 18-23 months. The data collection on the MDD, the MMF, and the MAD used twenty-four-hour dietary recall. Result: Prevalence of stunting was higher for child aged 12 months (41,7%) than for those in 18 months (8,1%) and 24 months (4,0%) category. Inadequate MAD achievement was most common in children aged 6-11 months (41.7%). Bivariate analysis showed that fulfilment MAD aged 6-11, 12-17 and 18-23 were not associated with stunting. Multivariate analysis Cox Regression indicated that stunted early age and protein intake were significantly associated with stunting.

Conclusion: More efforts need to be done to achieve the recommended MAD for all children aged between 6-23 months and to prevent stunting. Large scale studies to explore the role of MAD in reducing stunting and qualitative studies to identify the constraints and promoting factors to better infant and young child feeding practices are imperative for programme improvement.

 

 

 

 

 

 

 

 

Read More
D-563
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Azzara; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Hadi Pratomo, Flourisa Juliaan
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan penggunaan MKJP pada pasangan usia subur di Provinsi Bali tahun 2012. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan analisis data sekunder Survei Demografi Kesehatan Indonesia 2012. Populasi pada penelitian ini ialah semua Wanita Usia Subur (WUS) (15-49 tahun), sementara sampel penelitian ini ialah wanita kawin usia 15-49 tahun dan memiliki data lengkap. Analisis statistik bivariat menggunakan uji chi-square.
Read More
S-8245
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Dewi Yanti; Promotor: Sabarinah; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Erna Herawati; Penguji: Evi Martha, Pujiyanto, Ade Jubaedah, Tina Hayati Dahlan, Asep Surahman
Abstrak:
Latar Belakang Penurunan usia menarche di Indonesia menyebabkan sebagian siswi SD telah mengalami menstruasi pada usia dini, sehingga meningkatkan risiko ketidaksiapan dalam menjaga kesehatan menstruasi. Dalam konteks masyarakat Sunda, faktor sosiokultural turut memengaruhi pemahaman dan praktik menstruasi, sehingga diperlukan pendekatan yang kontekstual dengan melibatkan ibu sebagai aktor utama. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model edukasi berbasis sosiokultural untuk meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi siswi SD di Kabupaten Garut. Metode Penelitian menggunakan desain Mixed Method Exploratory Sequential Design dalam tiga tahap, yaitu studi kualitatif, pengembangan model, dan uji intervensi dengan desain quasi experiment. Penelitian dilaksanakan pada 16 SD di Kabupaten Garut pada  tahun 2024–2025. Sampel  adalah ibu siswi yang telah mengalami menstruasi sebanyak 166 orang, terdiri dari 83 kelompok intervensi dan 83 kelompok kontrol. Analisis data dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equations (GEE) dan Difference-in-Differences (DiD). Hasil: Hasil penelitian kualitatif dan pengembangan model menghasilan edukasi Ambu Binangkit yaitu  model edukasi kesehatan menstruasi yang dikembangkan dengan pendekatan sosiokultural Sunda. Dengan analisis statistik GEE diperlihatkan bahwa skor dukungan ibu pada kelompok intervensi meningkat sebesar 18,30 (95% SK: 15,48–21,12; p < 0,001)  Hasil analisis DiD terdapat peningkatan skor dukungan ibu pada kelompok intervensi dibandingkan kelompok kontrol dengan koefisien sebesar 21,077 (p < 0,001). Intervensi model berkontribusi terhadap peningkatan dukungan ibu sebesar 68% pada posttest pertama  dan 77% pada posttest kedua   Peningkatan terbesar terjadi pada dukungan instrumental yaitu 20.15 (95% SK: 16.33–23.97; <0.001) dan dukungan pendampingan yaitu 19.06 (95%SK: 14.83–23.30;<0.001) sementara dukungan emosional dan informasional juga meningkat secara signifikan meskipun dengan besaran efek yang lebih rendah. Kesimpulan dan Saran Model Ambu Binangkit efektif dalam meningkatkan dukungan ibu terhadap kesehatan menstruasi anak melalui pendekatan sosiokultural yang kontekstual pada tatanan SD. Model ini berpotensi dikembangkan sebagai strategi intervensi berbasis keluarga dalam meningkatkan kesehatan menstruasi sejak usia SD. Implementasi model perlu diperkuat melalui integrasi dengan program sekolah dan layanan kesehatan guna menjamin keberlanjutan dan perluasan dampak Kata kunci: kesehatan menstruasi, dukungan ibu, sosiokultural, Ambu Binangkit, SD

Background: The declining age at menarche in Indonesia has resulted in some primary school girls experiencing menstruation at an early age, thereby increasing their risk of being unprepared to manage menstrual health. In the Sundanese community context, sociocultural factors influence menstrual understanding and practices, highlighting the need for a contextual approach that involves mothers as key actors. This study aimed to develop a sociocultural-based educational model to improve maternal support for the menstrual health of primary school girls in Garut Regency. Methods: This study employed an exploratory sequential mixed methods design conducted in three stages: a qualitative study, model development, and an intervention trial using a quasi-experimental design. The study was conducted in 16 primary schools in Garut Regency from 2024 to 2025. The sample consisted of 166 mothers of schoolgirls who had experienced menstruation, comprising 83 participants in the intervention group and 83 participants in the control group. Data were analyzed using Generalized Estimating Equations (GEE) and Difference-in-Differences (DiD). Results: The qualitative findings and model development process resulted in the Ambu Binangkit educational model, a menstrual health education model developed through a Sundanese sociocultural approach. The GEE analysis showed that maternal support scores in the intervention group increased by 18.30 points (95% CI: 15.48–21.12; p < 0.001). The DiD analysis indicated a greater increase in maternal support scores in the intervention group compared with the control group, with a coefficient of 21.077 (p < 0.001). The intervention model contributed to a 68% increase in maternal support at the first posttest and a 77% increase at the second posttest. The largest increases were observed in instrumental support, with a coefficient of 20.15 (95% CI: 16.33–23.97; p < 0.001), and accompaniment support, with a coefficient of 19.06 (95% CI: 14.83–23.30; p < 0.001). Emotional and informational support also increased significantly, although with smaller effect sizes. Conclusion and Recommendations: The Ambu Binangkit model was effective in improving maternal support for children’s menstrual health through a contextual sociocultural approach within the primary school setting. This model has the potential to be developed as a family-based intervention strategy to improve menstrual health from primary school age. Its implementation should be strengthened through integration with school programs and health services to ensure sustainability and broader impact. Keywords: menstrual health, maternal support, sociocultural, Ambu Binangkit, primary school.
Read More
D-629
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive