Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36554 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sa`idah; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Julianty Pradono, Eka Ginanjar
T-4482
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggi Purwaningsih; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Tiur Febrina Pohan
Abstrak:
Tren infeksi HIV di Indonesia memperlihatkan adanya peningkatan jumlah infeksi baru terutama di kalangan LSL. Tingginya laju epidemi HIV dapat ditekan dengan menerapkan perilaku seks aman yaitu dengan menggunakan kondom. Efektivitas kondom mencapai 95% jika digunakan secara konsisten. UNAIDS (2016) menyebutkan bahwa penggunaan kondom secara konsisten terbukti sulit dicapai di semua populasi. Penggunaan kondom pada kalangan LSL secara global tidak mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan kondom pada LSL dilihat berdasarkan teori perilaku Green (faktor predisposisi, pemungkin, dan penguat). Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan sumber data sekunder dari hasil STBP tahun 2018. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi square. Total jumlah sampel penelitian adalah 3.399 LSL. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku penggunaan kondom adalah umur, pendidikan, pekerjaan, persepsi risiko tertular HIV/AIDS, pengetahuan tentang HIV/AIDS, ketersediaan kondom, akses sumber informasi, program pencegahan HIV/AIDS, dan program tes HIV. Oleh karena itu perlu dilakukan pengembangan intervensi HIV/AIDS berbasis internet, memperkuat kerjasama dengan OMS dan tokoh yang dekat dengan LSL (mami/mucikari, komunitas LSL), dan mengembangkan model layanan kesehatan ramah LSL.

HIV infection trends in Indonesia show an increasing number of new infections, especially among MSM. The high rate of the HIV epidemic can be suppressed by implementing safe sex behaviors, especially by using condoms. The effectiveness of condoms reaches 95% if used consistently. UNAIDS (2016) stated that the use of condoms consistently was difficult to achieve in all populations. Condom use among MSM globally has not increased in recent years. This study aims to determine the factors associated with condom use behavior among MSM based on Green's behavioral theory (predisposing, enabling, and reinforcing factors). This cross-sectional study was conducted among 3.399 MSM selected from IBBS 2018. Univariate and bivariate (chi square) analyses were performed to identify factors associated with condom use behavior. The results showed that the factors associated with condom use behavior were age, education, occupation, perceived risk of contracting HIV/AIDS, knowledge about HIV/AIDS, condom availability, access to information sources, HIV/AIDS prevention programs, and HIV testing programs. Therefore, it is necessary to develop internet-based HIV/AIDS interventions, strengthen collaboration with CSOs and figures close to MSM (mothers/pimps, MSM communities), and develop MSM-friendly health service models
Read More
S-11120
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Hasanah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ari Wulan Sari, Ni Ketut Susilarini
T-4744
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atikah Salsabila; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen, Meilina Farikha
Abstrak:
Tuberkulosis Paru merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan insidens yang meningkat. Merokok diketahui menjadi faktor risiko signifikan dalam perkembangan TB Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status merokok dengan kejadian TB Paru pada laki-laki usia > 18 tahun di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional dengan pendekatan analisis multivariat untuk mengontrol variabel kovariat seperti usia, pendidikan, pekerjaan, status ekonomi, status gizi, tempat tinggal, dan diabetes mellitus. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status merokok dan TB paru, individu yang merokok memiliki hubungan protektif terhadap TB dibandingkan yang tidak merokok dengan POR sebesar 0,68 (95% CI: 0,58–0,75). Konsumsi rokok 1–11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,92 (95% CI: 0,76–1,12), sedangkan konsumsi lebih dari 11 batang per hari memiliki POR sebesar 0,70 (95% CI: 0,53–0,93). Penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki yang merokok selama 1–25 tahun memiliki POR sebesar 0,49 (95% CI: 0,39–0,61) dengan p-value = 0,000. Pada perokok dengan durasi lebih dari 25 tahun, hubungan tidak signifikan secara statistik (p-value = 0,593) dengan POR sebesar 1,07 (95% CI: 0,82–1,40), yang menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam peluang kejadian TB Paru dibandingkan yang tidak merokok. Analisis menunjukkan hubungan tidak biasa antara merokok dan TB paru, berbeda dari literatur yang umumnya melaporkan peningkatan risiko pada perokok. Hasil ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti populasi, kualitas data, dan bias informasi, sehingga perlu kehati-hatian dalam interpretasi. Merokok tetap diketahui meningkatkan risiko dan memperburuk progresi TB. 

Pulmonary tuberculosis (TB) remains a public health concern in Indonesia, with an increasing incidence rate. Smoking is recognized as a significant risk factor in the development of pulmonary TB. This study aimed to analyze the relationship between smoking status and the incidence of pulmonary TB among males aged >18 years in Indonesia, using data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis to control for covariates such as age, education, occupation, socioeconomic status, nutritional status, residence, and diabetes mellitus. The findings revealed a significant association between smoking status and pulmonary TB. Smokers exhibited a protective relationship against TB compared to non-smokers, with an Adjusted Prevalence Odds Ratio (POR) of 0.68 (95% CI: 0.58–0.75). Smoking 1–11 cigarettes per day had a POR of 0.92 (95% CI: 0.76–1.12), while smoking more than 11 cigarettes per day showed a POR of 0.70 (95% CI: 0.53–0.93). The study also found that males who had smoked for 1–25 years had a POR of 0.49 (95% CI: 0.39–0.61) with a p-value of 0.000. However, for smokers with a duration of more than 25 years, the association was not statistically significant (p-value = 0.593), with a POR of 1.07 (95% CI: 0.82–1.40), indicating no meaningful difference in the likelihood of developing pulmonary TB compared to non-smokers.The analysis revealed an unusual relationship between smoking and pulmonary TB, differing from existing literature, which generally reports an increased risk among smokers. These findings may be influenced by factors such as the study population, data quality, and information bias, warranting caution in interpretation. Despite this, smoking remains a known factor that increases the risk and worsens the progression of TB.
Read More
T-7169
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putra Fajar Angkasa; Pembimbing: Tri Yunis Wahyono; Penguji: Yovsyah, Sugeng Wiyana
S-10228
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anung Respati; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Dede Kusmana, Sudijanto Kamso, Rusbandi Sarpini
Abstrak:

Tingginya prevalensi hipertensi dan stroke pada masyarakat kota Pariaman dan kebiasaan duduk di lapau, sebagai gaya hidup sedentari pada laki-laki, yang dilatarbelakangi budaya. Penelitian dilakukan dengan disain Kasus-Kontrol tidak berpasangan, pada 117 Kasus dan 117 Kontrol, laki-laki berusia 21 - 40 tahun. Kasus dipilih dari orang yang berkunjung ke RSUD Pariaman dan sebuah rumah sakit swasta di Pariaman, sedangkan Kontrol adalah tetangga Kasus dari rumah yang terdekat melingkupi rumah Kasus dan dipilih secara acak (Population based control). Kasus adalah penderita hipertensi ringan tanpa komplikasi yang berkunjung ke rumah sakit pada tahun 2006, dan pada saat wawancara mempunyai tekanan darah sistolik 140 -159 mmHg atau diastolik 90 -99 mmHg. Regresi logistik dilakukan untuk menganalisis hubungan ini. Terdapat 35,9% responden dari kelompok Kasus beraktivitas rendah dibandingkan dengan 14,S% dari kelompok Kontrol. Pada waktu bekerja terdapat 32,5% responden dari kelompok Kasus dengan indeks rendah dibandingkan dengan 22,2% dari kelompok Kontrol. Terdapat 17,1% responden dari kelompok Kasus dengan indeks olah raga rendah dibandingkan dengan 6,8% dari kelompok Kontrol, dan pada waktu senggang terdapat 24,8% responden dari kelompok Kasus dengan indeks rendah dibandingkan dengan 27,4% dari kelompok Kontrol. Laki-laki Pariaman usia 21 - 40 tahun dengan tingkat aktivitas fisik rendah mempunyai risiko untuk mengalami hipertensi ringan 4,06 kali lebih besar (OR 4,06 ;95%CI 1,81 - 9,10) dibandingkan laki-laki Pariaman usia 21 - 40 tahun dengan tingkat aktivitas fisik tinggi setelah dikontrol dengan status gizi dan frekuensi kebiasaan makan roti isi. Aktivitas fisik yang rendah berpengaruh terhadap timbulnya hipertensi ringan. Kebiasaan duduk di lapau harus diimbangi dengan meningkatkan kebiasaan olah raga Dinas Kesehatan Kota Pariaman didukung jajaran lain terkait perlu lebih mempromosikan upaya peningkatan aktivitas fisik di masyarakat dengan kampanye olah raga dan jalan kaki.


The high prevalence on hypertension and stroke among the people city of Pariaman and the sitting habit in the lapau, coffee stalls, as a sedentary life's style of men that culturally set up. Study is using an impaired case-control design with 117 cases and 117 controls of men aged 21 - 40 years old. Cases are chosen from visitors of General Hospital of the Distric of Pariaman ang of one Private Hospital in Pariaman, while controlsare the cases?neighbours from the closest house which surround the cases? houses and randomly selected (Population based control). Cases are stage I hypertension (JNC 7) patients without any comlpication who visit to hospital on 2006 and while interviewedis having blood pressure of systolic on 140 - 159 mmHg or diastolic on 90- 99 mmHg. Logistic regression is performed to analyze this association. There are 35.9% of low physical activities among cases' group compare to 14.5% of controls' group. During work time, there are 32-5% of respondents of case group that having low index, while 22.2% of control group. Seventeen point one percent (17.1%) respondent from the cases' group have low sport index compared to 6.8% of controls' group. During leissure time, there are 24.8% respondents irom the cases' group are having low index, while 27.4% of controls' group. Men in the city of Pariaman aged 21 - 40 years with low level of physical activity have a risk to develop stage I of hypertension 4.06 times greater (OR 4.06; 95%CI : 1.81 - 9.10) than men in the city of Pariaman aged 21 - 40 years with high level of physical activity after being controlled for overweight status and habitual frequency of stuffed bread consumption. Low physical activity influences the occurrence of 1st stage hypertension. Sitting habit in the lapau must be balanced with more higher habit of exercising. The Health Autority of kota Pariaman, supported by its related components, should increase the promotion on the importance of physical activities of the community, such as a campaign on community exercise and walking.

Read More
T-2538
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bima Uramanda; Pembimbing: PNurhayati A Prihartono, Yovsyah; Penguji: Yoan Hotnida Naomi
Abstrak: Salah satu cara untuk mendeteksi secara dini adanya gangguan faal paru adalah dengan cara mengukur arus puncak ekspirasi (APE) menggunakan peak flow meter. Salah satu faktor resiko yang menyebabkan penurunan nilai APE adalah merokok. Merokok dapat menyebabkan terjadinya bronkokontriksi pada saluran pernapasan. Selain merokok, faktor lain yang berperan dalam menurunkan risiko terjadinya penurunan kapasitas fungsi paru adalah kurangnya aktivitas fisik. Oleh karena itu penelitian untuk melihat efek gabungan merokok dan aktifitas fisik terhadap penurunan nilai APE diperlukan untuk mengkonfirmasi besar asosiasi keduanya dengan mempertimbangkan faktorfaktor contributory (potential confounder) yang juga berhubungan terhadap penurunan nilai APE. Penelitian ini menggunakan disain cross-sectional. Sebanyak 8.823 responden pria 18- 74 tahun menjadi sampel pada penelitian ini. Data diperoleh dari Indonesian family life survey 5(IFLS) dan dianalisis menggunakan uji Cox regresi. Penurunan nilai arus puncak ekspirasi lebih besar pada orang yang tidak merokok dan aktifitas fisik kurang,yaitu sebesar 1,26 kali serta perokok yang memiliki aktivitas fisik kurang sebesar 1,20 kali dibanding orang yang tidak merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup. Sedangkan pada orang yang merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup beresiko 0,84 kali protektif dibandingkan dengan orang yang tidak merokok dan memiliki aktivitas fisik cukup dengan kata lain aktivitas fisik lebih berperan dibanding kebiasaan merokok. Pada orang yang memiliki kebiasaan merokok sebaiknya juga melakukan aktifitas fisik secara rutin agar resiko untuk terjadinya penurunan nilai arus puncak ekspirasi menjadi lebih kecil
Read More
T-5582
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lhuri Dwianti Rahmartani; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Evi Martha, Flourisa Juliaan Sudrajat
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Lhuri Dwianti Rahmartani Program Studi : Epidemiologi Peminatan : Epidemiologi Klinik Judul : Hubungan Pengetahuan tentang Fungsi Kondom dengan Penggunaannya pada Remaja Laki-laki Pelaku Hubungan Seksual Pranikah di Indonesia: Analisis Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2012 Peningkatan tren praktik hubungan seksual pranikah pada remaja laki-laki di Indonesia tidak disertai tindakan preventif yang adekuat. Tidak sampai 28% dari mereka yang menggunakan kondom secara konsisten. Pada populasi remaja umum di Indonesia, sebanyak 30%-nya tidak tahu bahwa kondom dapat mencegah kehamilan dan 40%-nya tidak tahu kondom dapat mencegah infeksi menular seksual (IMS). Studi potong lintang dari analisis SDKI 2012 ini berupaya melihat asosiasi pengetahuan tentang fungsi kondom terhadap penggunaan kondom pada remaja laki-laki pelaku hubungan seksual pranikah. Hasilnya, setelah memperhitungkan faktor demografis, pengetahuan kespro, dan perilaku lainnya, penggunaan kondom lebih tinggi pada responden yang memiliki pengetahuan tentang kedua fungsi kondom (PR 2,38; 95% CI 1,47 – 3,85) dibandingkan responden yang hanya tahu salah satu fungsi atau tidak tahu sama sekali. Kata kunci: Hubungan seksual pranikah, kondom, remaja, laki-laki, pengetahuan, perilaku berisiko


ABSTRACT Name : Lhuri Dwianti Rahmartani Study Program : Epidemiology Major : Clinical Epidemiology Judul : Association between Knowledge of Condom Functions and Condom Use among Sexually-active Unmarried Male Adolescents in Indonesia: Analysis of Indonesia Demographic and Health Survey 2012 The increasing trend of premarital sex among Indonesian male adolescents is not accompanied with protective behavior. Less than 28% of sexually-active unmarried male adolescents use condoms consistently. Approximately, 30% of Indonesian adolescents do not know that condoms can help prevent pregnancy and 40% of them do not know that condoms can help prevent sexually transmitted infections (STIs). This cross-sectional study using IDHS 2012 aims to see whether there is an association between knowledge on condom functions and condom use, particularly among unmarried male adolescents in Indonesia. After controlling with other covariates such as demographic, knowledge on reproductive health, and other behavior indicators, the prevalence of condom use is significantly higher in respondents who know both functions of condoms, than in respondents who only know either function or not at all (adjusted PR 2,38; 95% CI 1,47 – 3,85). Keywords: Premarital sex, condom, adolescent, male, knowledge, risky behavior

Read More
T-4510
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprizal Satria Hanafi; Pembimbing: Nurhayati A. Prihartono, Helda; Penguji: Yovsyah; Julianty Pradono, Woro Riyadina
Abstrak: ABSTRAK Hubungan obesitas dan merokok terhadap kejadian hipertensi sudah banyak diketahui namun masih jarang dilakukan penelitian untuk melihat efek gabungan obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek gabungan obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) tahun 2014. Sampel yang dianalisis pada penelitian ini berjumlah 13.487 setelah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis multivariat menggunakan uji cox regresi digunakan untuk mengetahui besar risiko obesitas dan merokok dalam menyebabkan hipertensi derajat 1. Hasil penelitian didapatkan prevalensi hipertensi derajat 1 sebesar 23,50%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa orang yang obesitas dan merokok memiliki risiko 2,86 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=2,86), orang obesitas dan tidak merokok memiliki risiko 1,64 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,64), orang tidak obesitas dan merokok memiliki risiko 1,32 kali untuk mengalami hipertensi derajat 1 (PR=1,32). Risiko untuk mengalami hipertensi derajat 1 meningkat 48% akibat interaksi obesitas dan merokok. Perlu adanya adanya skrining lebih ketat untuk mencegah hipertensi terutama pada orang obesitas dan merokok pada umur ≥18 tahun misalnya dengan pengkuran tekanan darah secara rutin di rumah. Selain itu perlu adanya peningkatan kualitas pelaksanaan Posbindu PTM dari pemerintah untuk pemantauan faktor risiko serta deteksi dini PTM. Kata kunci: Efek gabungan, obesitas, merokok, hipertensi derajat 1, Indonesia ABSTRACT The relationship of obesity and cigarette smoking to the incidence of hypertension was well known, but study is still rare to see the joint effects of obesity and smoking in causing hypertension grade 1. This study aimed to evaluate the joint effect of obesity and cigarette smoking on causing hypertension grade 1. This study used a crosssectional design using data from Indonesian Family Life Survey-5 (IFLS-5) in 2014. The samples analyzed in this study amounted to 13,487 after fulfilling the inclusion and exclusion criteria. Multivariate analysis using the cox regression test was use to determine the risk of obesity and smoking in causing hypertension grade 1. The results showed that the prevalence of hypertension grade 1 is 23.50%. Multivariate analysis showed that people who were obese and smoking had a risk of 2.86 times for having hypertension grade 1 (PR = 2.86), obese and non-smoking people have a risk of 1.64 times to have hypertension grade 1 (PR = 1.64), people who were not obese and smoking have a risk of 1.32 times for having hypertension grade 1 (PR = 1.32). The risk of developing hypertension grade 1 increased by 48% due to the interaction of obesity and smoking. There needs to be more rigorous screening to prevent hypertension, especially in obese and smoking people at age ≥18 years, for example by measuring blood pressure regularly at home. In addition, there is a need to improve the quality of the implementation of NCDs Integrated Development Post (Posbindu) from the government for risk factor monitoring and early detection of NCDs. Key words: Joint effect, obesity, smoking, hypertension grade 1, Indonesia
Read More
T-5474
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Retia Rismawati; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Esti Widiastuti
Abstrak: Latar belakang: Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit yang menjadi masalah kesehatan masyarakat tidak hanya di Indonesia, namun juga di dunia karena prevalensinya yang terus meningkat. Hipertensi yang juga merupakan faktor risiko diabetes melitus tipe 2 memiliki prevalensi yang sangat tinggi di Indonesia. Tidak hanya itu, prevalensi kedua penyakit tersebut meningkat seiring bertambahnya usia, dimulai dari usia ≥40 tahun. ujuan: Untuk mengetahui hubungan hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Sumber data yang digunakan berasal dari hasil Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 15.026 partisipan berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil: Prevalensi diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia masing-masing sebesar 21,3% dan 51,8%. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara hipertensi dengan diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. fek gabungan antara hipertensi dengan obesitas sentral memiliki risiko sebesar 2,07 kali lebih besar terhadap kejadian diabetes melitus tipe 2 setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan obesitas. Kesimpulan: Terdapat hubungan antara hipertensi dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 pada populasi berusia ≥40 tahun di Indonesia. Risiko diabetes melitus tipe 2 yang lebih tinggi terjadi pada orang yang mengalami hipertensi dan obesitas sentral. Saran: Perlu dilakukan deteksi dini diabetes melitus tipe 2 dan hipertensi sedini mungkin, terutama bagi penduduk yang berusia ≥40 tahun dan mengalami obesitas sentral
Read More
S-10936
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive