Ditemukan 32313 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kekurangan gizi yang terjadi pada masa dalam kandungan hingga usia 2 tahun dapat mengakibatkan terganggunya perkembangan otak, mental dan kemampuan motorik bahkan dapat mengakibatkan cacat permanen kanena 80% tumbuh kembang otak tetjadi pada masa ini. Detisit otak akan sulit terkejar karena masa cepat tumbuh hanya berlangsung sampai usia 18 bulan. Penclitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh dan memprediksi faktor yang paling berperan terhadap status gizi anak baduta di Propinsi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder “NSS IIKI” putaran 20 dan 22, menggunakan rancangan repezted cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah anak balita (0-23 bulan) di wilayah pcdesaan Jawa Barat. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi pada putaran kc 20 adalah 2232 orang dan putaran 22 adalah 2093 orang. Analisis data meliputi analisis univariabel, bivariabel (regresi Iogistik multinomial sederhana) dan multivariabel (regresi logistik multinomial ganda). Hasil penelitian menunjukkan terdapat masalah kesehatan masyarakat di Jawa Barat, baik pada musim kemarau maupun musim hujau. Hasil analisis bivariabel pada musim kemarau didapatkan hubungan yang bermakna antara variabcl pcndidikan ibu, status ketja ayah. pengeluaran perkapita dan penyakit infeksi dengan status gizi anak baduta. Sedangkan di musim hujan didapatkan hubungan yang bermakna antara variabel pendidikan ibu dan penyakit infeksi. Dari analisis multivariabcl pada musim kemarau didapatkan hubungan yang bermakna antara pendidikam ibu, status kgrja ayah, pengeluaran perkapita dan penyakit infeksi dengan status gizi baduta. Sedangkan pada musim hujan, didapatkan hubungan yang bcrmakna pada variabel pcndidikan ibu dan penyakit infeksi dengan status gizi. Faktor yang paling dominan pengaruhnya terhadap status gizi anak baduta di musim kemarau adalah adalah status pengeluaran perkapita. Faktor yang paling dominan di musim hujan adalah pendidikan ibu. Disarankan kepada penanggung jawab program untuk memberikan prioritas penanggulangan masalah gizi pada anak balita. Untuk mengatasi masalah pcrekonomian kelunrga perlu diupayakan suatu cara untuk menambah pcnghasilan keluarga. Perlu diberikan penyuluhan kepada ibu tentang penyakit-penyakit yang dapat diderita oleh anak.
Malnutrition of children under two years old may have a major effect on brain development and can result in permanent mental retardation and motoric ability, because 80% of brain development occurs in this period. Reduced brain growth is irreversible because brain development taking place until 18 months old. The objectives of this research were to study affecting factors and to predict the rolling factors on nutritional status of under two years children in West Java Province. The ‘NSS HKI” secondary data used in this research were round of 20th and 22nd by repeated cross sectional design. The population of this research was children under two years old in West Java mral area. Based on inclusion and exclusion criteria, it was definite 2232 samples of the 20"‘ round and 2093 samples of the 22“d round. Data were examined by univariate, bivariate and multivariate (multinomial logistic regression) analysis. The results showed that there was community health problem in West Java both on wet and dry seasons. Bivariate analysis on dry season demonstrated significant correlation among length of schooling for mother, father’s occupation, expenditure per capita and infection diseases with nutritional status of under two years old children. While in wet season, there was significant correlation among length of schooling for mother and infection diseases with nutritional status of under two years children. Expenditure per capita was found as a dominant factor in dry season. Length of schooling for mother was found as a dominant factor in wet season. It was suggested that program coordinator commit highly priority on resolving malnutrition problem of under two years old children. Improvement of economical status based on local resources must be the important program of the government. Recognizing of the crucial diseases for the children has to be educated to the parents, especially mother.
Prevalensi kurang gizi baik makro maupun mikro pada anak sekolah cukup tinggi. Hal ini akan berdampak buruk terhadap kemampuan belajar dan prestasi di sekolah, daya tahan tubuh, pertumbuhan dan berkurangnya nafsu makan (Soemantri, 1985; Chwang et al. 1988, Lawless, 1994, Soekarjo, 2001). Karenanya, masalah ini harus ditangani dengan baik. Salah satu upaya yang depat dilakukan adalah dengan memberikan suplementasi susu yang difortifikasi besi dan seng. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah efek suplementasi susu 2 kali sehari selama 6 bulan, dapat memperbaiki status gizi pada pengukuran 3 bulan setelah suplementasi dihentikan. Rancangan penelitian ini adalah longitudinal, prospektif observational study selama 3 bulan, yang dilakukan kepada anak berusia 7-9 tahun di daerah miskin perkotaan Jakarta. Penelitian ini dilaksanakan mulai Bulan Februari hingga Mei 2008, di 5 SDN di kelurahan Balimester dan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Jumlah sampel sebanyak 209 anak, dimana 107 orang anak selama 6 bulan mendapatkan suplementasi susu yang difortifikasi besi dan seng (kelompok susu fortitikasi) dan 102 orang mendepatkan susu non fortili.kasi (kelompok susu non fortitikasi). Pengukuran antropometri, asupan makanan dan karakteristik subject dilakukan 3 bulan setelah suplementasi dihentikan. Hasil analisis bivariat menunjukkan, terdapat hubungan bermakna antara status gizi pade 0 bulan, status gizi pade 6 bulan, asupan protein, jumlah anak, penghasilan orang tua dan tingkat pendidikan ibu terhadap status gizi pada saat 3 bulan setelah suplemenlasi dihentikan. Pemberian suplementasi susu, baik yang difortifikasi besi dan seng maupun tanpa fortikfikasi, 2 kali sehari selama 6 bulan dapat meningkatkan status gizi pada pengukuran 3 bulan setelah suplementasi dihentikan. Juga tidak terjadi perubahan status gizi antara pengukuran diakhir suplamentasi dengan 3 bulan setelahnya. Status gizi anak sangat ditentukan oleh asupan hariannya. Asupan harian anak pada penelitian ini sebagian besar kurang dari 80% AKG, sehingga mereka sangat berisiko kekurangan gizi baik makro maupun mikro. Usaha-usaha yang telah dilakukan oleh pemerintah antara lain memberikan suplemenlasi zat gizi, pemberian makanan tambahan anak sekolah (PMTAS) perlu dilanjutkan. Pembarian susu yang difortifikasi zat gizi dapat dijadikan satu alternatif pilihan.
Prevalence of micro and macronutrient deficiency are quite high in school-age children. It can make detrimental effects on learning ability, school performance, resistance to disease, physical growth and appetite (Soemantri, 1985; Chwang et al. 1988, Lawless, 1994, Soekarjo, 2001). Therefore, the problem should be bendled seriously. Iron and zinc fortified milk supplementation is one alternative to improve nutritional status. This study aimed to evaluate the effect of a six months iron, zinc fortified milk which had been given twice a day to undernourished children aged 7-9 years in poor urban area of Jakarta, on their nutrient intake, anthropometry indices and nutritional status after 3 months supplementation begin stopped. Design of this study is observational, prospective kohort. The study had been lasted 3 months, February to May 2008 in 5 Primary Schools. Two hundred and nine subjects who participated in previous study were observed and measured their nutritional status, anthropometry indices and socio-economic characteristic. A hundred and seven subjects received iron-zinc fortified milk and a hundred and two subjects received regular milk for 6 months. Iron and zinc fortified or non fortified milk supplementation, twice a day for 6 months, improve nutritional status, anthropometry indices when measured 3 months after supplementation or the effect of nutritional status improvement still has been maintained when measured 3 months later. Bivariat analysis results had been shown, there was a signilicant relationship between nutritional status before and after supplementation on nutritional status next 3 months. Also there was found and significant result on protein intake, number of child, parent revenue and mother educational level on nutritional status 3 months after supplementation. Nutritional status of children will be related to their daily nutrient intake. After the milk supplementation was stopped, their daily food intake becoming decrease. Their dally nutrient intake mostly less than 80 % RDA and make them have high risk of macro-micro nutrient deficiency. Some efforts have been done by govermnent such as micronutrient supplementation, complementary food for school children, suppose to be continued. Another alternative has been offered by this study result was giving fortified milk supplementation.
