Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36754 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rico Januar Sitorus; Promotor: Ratna Djuwita; Ko-Promotor: Sabarinah B. Prasetyo, Siti Dharmayati B. Utoyo; Penguji: Nuning MK. Masjkuri, Asri C. Adisasmita, Syahrizal Syarif, Hartati Kurniadi, Evi Martha
Abstrak: Penyalahgunaan narkotika merupakan masalah kesehatan yang sangat penting di seluruh dunia yang dapat mengakibatkan ketergantungan, kerugian ekonomi, kerugian kesehatan dan dampak sosial. Di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun tetap tinggi. Angka yang pernah menggunakan narkotika di populasi diperkirakan sebesar 2,4 % dengan laki-laki jauh lebih besar daripada perempuan. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi penyalahguna narkotika yang paling tinggi pada kelompok usia kelompok usia 20-29 tahun sebesar yaitu 4,41 % sedangkan yang paling rendah pada kelompok usia di atas 40 tahun sebesar 1,06 %. (BNN, 2012). Penelitian ini bertujuan mengetahui efek tahapan rehabilitasi melalui skor rata-rata self efficacy sebelum mengikuti komunitas terapeutik dibanding dengan sesudah mengikuti komunitas terapeutik pasien ketergantungan narkotika. Penelitian ini menggunakan desain before and after yang bersifat longitudinal, dimana pengukuran terhadap outcome dilakukan beberapa kali (berulang). Pada penelitian ini pengukuran terhadap self efficacy dilakukan sebanyak empat kali.
 
 
Hasil penelitian ini membuktikan ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik dibanding dengan skor rata-rata self efficacy sesudah komunitas terapeutik, nilai p = 0,014 < (α ; 0,05). Pasien telah menjalani tahapan komunitas terapeutik selama dua bulan atau 60 hari. Pada tahapan komunitas terapeutik selama satu bulan pertama, terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy bila dibandingkan dengan skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik, p value 0,25 > (α ; 0,05), tetapi pada komunitas terapeutik bulan kedua terlihat ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy dibandingkan dengan sebelum komunitas terapeutik, nilai p = 0,005 < (α ; 0,05). Dari peningkatan skor rata-rata self efficacy, terbukti bahwa program ini bermanfaat bagi pasien dengan ketergantungan narkotika yang akan menjalani rehabilitasi dengan menjalani program minimal 60 hari atau dua bulan.
 

 
Drug abuse is a very important health problem worldwide which can lead to dependence, economic loss, loss of health and social impacts. In Indonesia as a developing country, drug abuse over the years remains high. Figures ever using drugs in a population is estimated at 2.4% with males much larger than females. By age group, the prevalence of drug abusers is highest in the age group of 20-29 years age group is 4.41% while the lowest in the age group above 40 years amounted to 1.06%. (BNN, 2012). This study aims to determine the effect of the rehabilitation phase through an average score of self-efficacy before following therapeutic communities compared with patients after participating in a therapeutic community drug dependence. The design of this study before and after that is longitudinal, where the measurement of the outcome done several times (repeated). In this study, measurement of self-efficacy was done four times.
 
 
The results of this research prove there were significant differences in mean score before the self efficacy of therapeutic communities compared with an average score of self-efficacy after therapeutic communities, p value 0.014 < (α; 0.05). Patients had undergone stages of therapeutic communities for two months or 60 days. At the stage of therapeutic communities during the first month, it appears that there are no significant differences of mean score of self-efficacy when compared to the average score of self-efficacy prior to therapeutic communities, p value 0.25 > (α; 0.05), but the therapeutic communities in both show no significant differences mean score of self-efficacy compared to prior therapeutic communities, p value 0.0005 <(α; 0.05). The increase in the average score of self-efficacy, proved that this program is very beneficial for patients with drug addiction which will undergo a program of rehabilitation with a minimum of 60 days or two months.
Read More
D-323
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hartati Kurni; Promotor: Nuning Masjkuri; Ko-Promotor: Prayitno, Syahrizal Syarif; Penguji: Hasbullah Thabrany, Asri C. Adisasmita, Sabarinah Pasetyo; Trihono.
D-276
Depok : FKM-UI, 2013
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bona Simanungkalit; Promotor: Nuning M. K. Masjkuri; Kopromotor: Wimpie Pangkahila, Asri C. Adisasmita/ Penguji: Wahyuning Ramelan, Sudarto Ronoatmodjo; Sabarinah B. Prasetyo, Hartati Kurniadi, Diah Setia Utami, Riza Sarasvita
D-382
Depok : FKM-UI, 2018
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Galih Putri Ardhiyani; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: xRenti Kodim, Saad Budiono
Abstrak: Stroke merupakan penyakit yang sangat serius karena keganasan dan dampak yang ditimbulkan. Dampak utama dari stroke adalah kecacatan yang mengganggu pada kemandirian. Terapi okupasi membantu mencegah kecacatan dan mengembangkan fungsi kemandirian. Tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh terapi okupasi dalam pengembalian kemandirian penderita stroke. Metode yang digunakan adalah cohort retrospektif. Sampel penelitian ini adalah penderita stroke yang mengikuti terapi okupasi dan yang tidak mengikuti terapi okupasi diInstalasi Rehab Medik RSPAD Gatot Soebroto Ditkesad pada tahun 2011. Sampeldiambil menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini adalah terapi okupasi memiliki pengaruh yang besar dalam mengembalikan kemandirian penderita stroke (RR=2,4, 95%CI=1,038-5,705, p-value=0,041). Intervensi terapiokupasi diberikan kepada semua penderita stroke sehingga banyak penderita stroke kembali mandiri.Kata kunci : stroke, okupasi terapi, kemandirian
Stroke is a disease that is very serious because the ferocity and impact. The mainimpact of stroke is a disability that interferes with the independence. Occupationaltherapy to help prevent disability and develop independence functions. Thepurpose of this study to know the effect of occupational therapy in strokesurvivors return independence. The method used was a retrospective cohort. Thesample was stroke patients following the occupational therapy and occupationaltherapy that does not follow in the Installation Medical Rehab RSPAD GatotSoebroto Ditkesad in 2011. Samples were taken using purposive samplingtechnique. The results of this research is occupational therapy has a greatinfluence in restoring the independence of people with stroke (RR=2,4,95%CI=1,038-5,705, p-value=0,041). Occupational therapy intervention given toall patients with stroke so many stroke survivors back themselves.Keywords: stroke, occupational therapy, independence
Read More
S-7659
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aliya Ayunita; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Anwar Hassan, Hari Nugroho
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai faktor modifikasi, kepercayaan pribadi, isyarat untuk beraksi, dan perilaku pemanfaatan UPT T & R BNN pada pengguna layanan. Pendekatan penelitian kualitatif dengan desain studi kasus pada pengguna layanan sebagai informan serta konselor sebagai informan kunci dilakukan pada penelitian ini. Data dikumpulkan dengan metode wawancara mendalam dan dianalisis dengan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat isyarat untuk beraksi yang membuat pengguna layanan terdorong untuk memanfaatkan UPT T & R BNN. Selain itu diketahui pula faktor modifikasi pengguna layanan, kepercayaan pengguna layanan mengenai napza dan UPT T & R BNN, serta kesulitan maupun manfaat yang dirasakan pengguna layanan dari menggunakan UPT T & R BNN. Penulis menyarankan agar sosialisasi mengenai kegiatan di UPT T & R BNN lebih ditingkatkan.
 

This study is aimed to obtain information about factors of modification, individual beliefs, cues to action, and behaviour in utilization of UPT T & R BNN by service users. Qualitative research approach with case study design on service users as informants and counselors as key informants were conducted in this study. Data were collected by in-depth interviews and analyzed by content analysis. The result showed there are cues to action that make service users are encouraged to utilize UPT T & R BNN. Also this sudy found modification factor of service users, service user’s beliefs on drug and UPT T & R BNN, as well as the difficulties and benefits of UPT T & R BNN that service users obtain. The researcher suggests that socialization of UPT T & R BNN activities can be more enhanced.
Read More
S-7795
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Immi Rizky Budiyani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Syahrizal Syarif, Endang Suharjanti
S-7819
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virmandiani; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Johanes Edy Siswanto
Abstrak: Data dari Poli Rehabilitasi Medik 2019 didapatkan 36.48% pasien dengan Communication Disorder, hampir serupa dengan data dari CDC tahun 2012, pada usia 3-10 tahun 41,8%. Goal attainment Scale (GAS) adalah skala objektif menilai pencapain target setelah rehabilitasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh Sistem Klasifikasi Komunikasi Fungsional (SKKF) terhadap perbaikan subskala dalam International Classification Of Functioning, Children & Youth (ICF-CY), yang dinilai berdasarkan GAS setelah Program Rehabilitasi 3 bulan. Desain studi kohort retrospektif. Kategori SKKF-I (komunikasi efektif) Kategori SKKF-II (komunikasi tidak efektif). Perbaikan atau GAS-1 apabila total skor menjadi ≥50.00. dari skor awal 35.8. Hasil studi ini sejumlah subjek sebanyak 202, mayoritas pada kelompok SKKF berat 109(53.96%); dan terbanyak pada kelompok usia >3.5 tahun; serta mayoritas laki-laki 61.88%. SKKF-1 mempunyai peluang lebih besar dalam memperbaiki Fokus Atensi RR=1.43; [95% IK, 1.23- 1.66]; p<0.001; Fungsi Perseptual RR=1.70; [95% IK, 1.40-2.06]; p<0.001; Fungsi Motorik Halus RR=2.43; [95% IK, 1.87-3.16];p<0.001; Fungsi eksekutif-problem solving RR=4.6; [95% IK, 2.86- 7.67];p<0.001. Analisa multivariate ARR: 4.01;[95%IK, 2.22-7.06]; p<0.001). Kesimpulan bahwa bahwa Gangguan Bicara Bahasa dengan derajat ringan-sedang, setelah dikontrol dengan asfiksia, microcephaly dan WeeFIM, akan memperbaiki GAS empat kali lebih tinggi dibandingkan derajat berat, sehingga disarankan pentingnya deteksi dini, menentukan tingkat keparahan pada anak-anak usia sebelum 4 tahun
Read More
T-6243
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Prisilia Nurul Fajrin K; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Toha Muhaimin, Kurniawan Rahmadi
S-7051
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atti Ratnawiati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Karyana, Lela Amelia
Abstrak: Sitikolin adalah neuroprotektor yang paling banyak digunakan untuk memperbaikikerusakan neurologis pada penderita stroke iskemik, namun efektivitas sitikolinmasih diperdebatkan berdasarkan penelitian ilmiah karena memberikan hasil yangheterogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sitikolinterhadap fungsi neurologis yang dinilai dengan The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) dan kemampuan fungsional yang dinilai dengan BarthelIndex. Penelitian pada pasien stroke iskemik berdasarkan terapi sitikolin yangdilakukan di 18 rumah sakit di Indonesia yang berkontribusi dalam registripenyakit stroke. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektifmenggunakan data registri stroke Indonesia. Penilaian perbaikan fungsineurologis berdasarkan perubahan nilai NIHSS sebesar > 2 poin dan penilaiankemampuan fungsional berdasarkan perubahan nilai Barthel Index sebesar > 20poin yang diukur pada saat masuk dan keluar rumah sakit. Pasien stroke iskemikyang mendapat terapi sitikolin memiliki peluang perbaikan fungsi neurologissebesar 1,34 kali (CI 95% 1,058-1,658) dibanding pasien yang tidak mendapatterapi sitikolin setelah dikontrol variabel neurorestorasi. Peluang perbaikankemampuan fungsional pasien stroke iskemik yang mendapat terapi sitikolinsama dengan pasien yang tidak mendapat sitikolin setelah dikontrol denganneurorestorasi dengan relative risk 1,07 (CI95% 0,879-1,293; p=0,53).Kata kunci: Barthel Index; NIHSS; Sitikolin; Stroke Iskemik
Citicoline is the most widely used neuroprotective to repair neurological deficit inischemic stroke patients, however the effectiveness of citicoline is stillcontroversial and raise arguments against scientific research because it providedheterogeneous results.The objectives of the study are to identify citicoline effecton neurological function improvement using The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) and functional ability improvement using Barthel Index(BI) in the treatment of ischemic stroke patients at 18 hospitals involved inIndonesia stroke registry. The design of this study is retrospective cohort studyusing stroke registry data. Improvement of neurological function assessed bychanges of NIHSS score >2 and improvement of functional ability assesed bychanges of Barthel Index score > 20 as measured at the time of admission anddischarge of the hospital.The result shows that the probability of functionalneurological improvement on citicoline treatment group is higher than nociticoline treatment group with adjusted RR by neurorestoration is 1,34 (95% CI1.058 to 1.658, p=0,0014). There is no difference of functional abilityimprovement between citicoline and no citicoline treatment group, with adjustedRR by neurorestoration is 1.07 (CI95% 0.879 to 1.293; p=0,53).Keywords : Barthel Index; Citicoline; Ischemic stroke; NIHSS.
Read More
T-4632
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raharni; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; Penguji: Evi Martha, Lukman Hakim Tarigan, Al Bachri Husin, Suyatmo
Abstrak:
Penyalahgunaan napza merupakan penyakit endemik dalam masyarakat, penyakit kronik yang berulang kali kambuh dan merupakan proses gangguan mental adiktif. Angka kekambuhan cukup tinggi yaiu: sekitar 43,9%. Akibat penyalahgunaan napza banyak fihak yang dirugikan, bukan hanya individu yang bersangkutan, akan tetapi keluarga, masyarakat dan negara. Masa remaja merupakan masa yang paling rawan dalam kehidupan seseorang, pada masa ini merupakan masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Berdasarkan data dari Rumah sakit Ketergantungan Obat (RSKO) di Jakarta dalam kurun waktu 4 tahun terakhir yaitu dari tahun 1997 sampai dengan tahun 2000 angka kunjungan korban napza untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan cenderung mengalami peningkatan. Baik pasien rawat inap maupun rawat jalan sebagian besar berpendidikan SLTA yakni 38% untuk rawat jalan dan 42,5% untuk rawat inap. Sebagian besar berusia 15 - 24 tahun yaitu sebesar 78,l%. Tujuan dari penelitian ini adalah diperolehnya informasi lentang faktor-faktor yang berhubungan dengan penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU negeri kota Bekasi. Manfaat dari penlitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengelola kurikulum pendidikan sebagai upaya untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU. Jenis penelitian ini adalah potong lintang (Cross sectional), populasinya adalah siswa SMU Negeri di kota Bekasi. Cara pengambilan sampel adalah secara gugus bertahap (Multistage sampling) dan secara acak sederhana, besar sampel dihitung dengan rumus uji hipotesis proporsi tunggal, dengan jumlah sampel 386 siswa. Cara pengambilan data dilakukan dengan cara survey, pengolahan data menggunakan perangkat komputer, analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan Uji Chi-Square dan multivariat dengan uji multi regresi logistik ganda, dengan model prediksi. Hasil univariat didapat bahwa responden pria 53,6% dan responden wanita 46,1%, responder: yang berumur kurang dari 17 tahun 22,6% dan yang bemmur I7 tahun ke atas 77,4%. Prevalensi pengguna napza di kalangan siswa SMU Negeri kota Bekasi sebesar 16,8%. Hasil analisis bivariat dengan uji Chi-square di mana p < 0,05 diketahui bahwa variabel-variabel yang mempunyai hubungan bermakna dengan penyalahgunaan napza adalah faktor individu yaitu karakteristjk remaja (jenis kelamin dan umur), pengetahuan dan sikap, sedangkan dari faktor lingkungan yaitu pekerjaan ibu, keharmonisan keluarga, kebiasaan merokok di keluarga, teman sebaya, dan penggunaan waktu luang. Hasil analisis multivariat dengan uji multi regresi logistik didapat variabel yang paling dominan berhubungan dengan penyalahgunaan napza adalah jenis kelamin laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, disarankan kepada pengelola kurikulum pendidikan perlu segera mencari pemecahan untuk mencegah penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU, dengan bekerjasama dengan orang tua murid, misalnya menambah kegiatan ekstra kurikuler dan memberikan pelajaran tambahan mengenai napza, serta meningkatkan kerja sama secara optimal dengan instansi lain yakni depkes, kepolisian, kehakiman dengan memberikan penyuluhan tentang penyalahgunaan napza mengenai hahaya, akibat dan sangsi penyalahgunaan napza. Saran untuk peneliti, perlu dilakukan penelitian selanjutnya yang bersifat kualitatif sehingga paduan kedua jenis penelitian akan sangat bermanfaat sebagai masukan ke Institusi SMU dalam upaya pencegahan penyalahgunaan napza di kalangan siswa SMU.

Drug abuse, an endemic illness on society, is one of those cronic illness which continously come up an is a process of addictive mental disorder. From the research 49,3% relaps is obtained. It brings terrible effects not only the individual who consumes the drug itself, but also to the family, society, as well as the nation. Adolescence, a transitional time between childhood and adulthood, is the most crucial and dangerous phase in someone's life. Based on the data obtained from the Hospital of Dmg Dependence (RSKO) in Jakarta, on the past 4 years those are 1997 up to 2000, the number of drug abuse patient visit for out patient or the hospitalized ones tends to increase. Both out patients or the hospitalized patients are mostly have highschool diploma, those are 38% for out patient and 42,5% forthe hospitalized patient. Most of them are 15-24 years of age, estimated at 78,l%. The purpose of this research is to gather information about factors corellated to drug abuse among govemment-owned high school students in Bekasi region. It is highly expected that this research can be a source of input for the educational cuniculum experts, in preventing dmg abuse amonghigh school students to occur. This research is based on cross sectional method. and the population is government-owned high school students in Bekasi region. both male and female. Multistage sampling was used, and randomly, sample amount was calculated by single population proportion test method with the amount of 386 students. Data gathering it as completed by survey, data processing was completed by computer, data analysing was completed by univariat, bivariat with Chi-Square test, and multivariat with multi regression logistic test. 53,6% male respondents and 46,l% are the result of univariat. Respondents who are below 17 years old consist of 22,6% and those above 17 years old are 77,4%. Those who had ever tried or are using drugs, are 65 person ( l6,8%). The result of bivariat analysis with Chi-square test where p<0,05 determined that variables which have close relation to drug abuse are individual factors teenage characteristics (gender and age), knowledge and behaviour, and environmental factors, those are mont's accupation, family harmony, smoking habit in the family, peer friends. and the usage of leisure time. The result of multivariat analysis with multi regression logistic test determined that the most dominant variables correlated to dnig abuse is the male gender. Based at the research result, it is vivid that the educational curriculum experts should immediately seek for the solution to prevent further drug abuse among the high school students. with giving extra curricullar activities and giving an extra lesson of drugs. They can also incooperate with another institutions such as Health department, police department, law department in giving brief orientation about drug abuse and its danger, effect, and punishment of misusing drugs. As the advice for researchers, further quality oriented study is highly recommended, so that the combination of both types of research can be very useliil as an input for High school institution in the efibrt of preventing dwg abuse among high school student.
Read More
T-1483
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive