Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 18438 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.3, Okt. 2012: hal. 126-130. ( ket. ada di bendel 2012- 2013)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kesmas ( Jur. Kesmasnas ), Vo. 7, No.3, Okt. 2012: hal. 126-130. ( ket ada di bendel majalah campuran no. 19 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indang Trihandini; Pembimbing: Kemal N. Siregar
T-388
Depok : FKM UI, 1993
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Moudy Emma Unaria Djami, Noormartany, Dany Hilmanto
KJKMN Vol.7, No.12
Depok : FKM UI, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kes. Masy. Indonesia (MKMI), XXIII, No.5, 1995: hal. 305-309
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
P. Vanda Trigno; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Luknis Sabri, Lely Nurlely E Hadjar, Farida Mutiarawati , Rahmadewi
Abstrak:
Hubungan antara lama amenore dan jarak kehamilan telah dipelajari di banyak negara. Di Indonesia, lama amenore panjang, tapi banyak wanita menyusui yang menggunakan kontrasepsi pil pada saat yang bersamaan. Bila wanita postpartum mulai menggunakan pil, dia akan segera mendapatkan kembali siklus menstruasinya, dan menjadi fertil. Bila banyak diantara mereka berhenti menggunakan pil, maka kita akan kehilangan banyak masa amenore yang dapat menyebabkan jarak kehamilan yang lebih pendek. Agar dapat diperpanjang ada dua faktor penting yaitu laktasi (menjaga wanita tetap amenore) dan kontrasepsi. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder dari IFLS-2 yang diadakan pada tahun 1997-1998. Saat penggunaan piI berhubungan negatif dengan lama amenore. Tidak ada hubungan antara saat penggunaan pil dan jarak kehamilan, namun kehamilan dalam ≤ 18 bulan hanya terjadi pada ibu yang mulai menggunakan pil sejak amenore. Juga tidak ada hubungan antara lama amenore dan jarak kehamilan, tapi kemungkinan ibu yang lama amenore ≤ 8 bulan hamil dalam ≤ 18 bulan dua kali ibu yang lama amenorenya > 8 bulan. Untuk mendapat manfaat ASI sepenuhnya terhadap jarak kehamilan, sebaiknya penggunaan pil ditunda hingga amenore berakhir, dan sebaiknya ibu menggunakan metode amenore laktasi.

Analysis of Sociodemography Factors, Time to Start Pill Contraception, Duration of Amenorrhea, and Pregnancy Interval among Women in Childbearing Ages in Indonesia (A Secondary Data Analysis of IFLS-2 1997)The association between the amenorrhea period and birth intervals has been studied in many countries. In Indonesia, the mean duration of amenorrhea is long, but many lactating women using the pill at the same time. When postpartum women start using pill, she will soon get her menstrual cycle return, and become fertile. If many of these women stop taking the pill, then we will lose a lot of the amenorrhea period which will lead to a shorter birth interval. To extend the interval there are two important factors: lactation (keep women in amenorrhea state) and contraception. This study presents a secondary data analysis from the IFLS-2 that was carried out in 1997-1998. The time to start pill has negative association with duration of amenorrhea. There is no association between time to start pill and pregnancy interval, but pregnancy within ≤ 18 months only occurs in women who start the pill while amenorrhea. There is also no association between duration of amenorrhea and pregnancy interval, but women with duration of amenorrhea ≤ 8 months are twice likely to have pregnancy interval ≤ 18 months then the women with > 8 months amenorrhea. To get the full advantages of lactation on the pregnancy interval, women should cancel using the pill until the amenorrhea has stop, and mother use the lactation amenorrhea method for best.
Read More
T-949
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eska Riyanti Kariman; Pembimbing: Budi Utomo, Besral; Penguji: Sabarinah B Prasetyo, Murtiningsih, Indra Supradewi
Abstrak:

Tingkat pemakaian kontrasepsi pil di kalangan wanita PUS cukup tinggi, hal itu terlihat dari data pemakaian kontrasepsi pil hasil SDKI 2002103 sebesar 13,2 % . Tingginya prevalensi pemakaian kontrasepsi pil tersebut tidak dibarengi dengan tingginya tingkat kelangsungan pemakaian, hasil SDKI 1997 tercatat 34 % pemakai pit tidak menggunakan lagi setelah sate tahun_ Angka putus pakai (drop out) pil ini merupakan yang kedua tertinggi setelah kondom. Tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil arnat dipengaruhi oleh kedisiplinan dan kepatuhan akseptor dalam memakainya. Hal tersebut dimungkinkan bila akseptor memiliki pengetahuan dan informasi yang cukup yang dapat diperoleh melalui konseling yang dilakukan oleh petugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan konseling kontrasepsi dengan tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil. Data yang digunakan adalah data sekunder SDKI 2002103. Disain penelitian adalah crossectional dengan kajian statistik analisis survival. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil adalah 31 bulan dengan median survivalnya 37 bulan. Probabilitas kelangsungan pemakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 adalah 62 % dan probabilitas kelangsungan setelah bulan ke-60 adalah 31 %. Probabilitas kelangsungan pernakaian kontrasepsi pil setelah bulan ke-12 pads kelompok yang mendapat konseling kontrasepsi adalah 66%, sedangkan pada kelompok yang tidak mendapatkan konseling kontrasepsi 56 %. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak mendapatkan konseling adalah 1.6 kali bila bertempat tinggal dikota dan 1.5 kali bila tinggal didesa. Risiko untuk putus pada akseptor pil yang tidak konseling adalah 1.6 kali bila tidak ada efek camping dan menjadi 2 kali bila ada efek samping. Tingginya risiko putus pemakaian kontrasepsi pil di wilayah perkotaan perlu mendapatkan perhatian dari pengelola program Keluarga Berencana. Dugaan sementara hal ini dijumpai didaerah kota pinggiran atau daerah kumuh, untuk itu kegiatan konseling kontrasepsi yang lebih intensif terkait dengan akseptor di daerah tersebut hares ditingkatkan misalnya melalui kunjungan petugas yang lebih sering ke rumah diharapkan dapat menurunkan risiko putus pakai. Kegiatan konseling pada prinsipnya dilakukan untuk mengurangi kekhawatiran akseptor akan efek sarnping yang ditimbulkan kontrasepsi selama pemakaiannya.


Prevalence of pill contraception used among reproductive woman are high, it can seen at SDKI 2002/03 which is about 13,2 %. This height prevalence is not followed with the-continuity rate, only 34 % of women still used pill contraception within 12th month recorded in SDKI 1997. This rate as highest secondly after condom. The pill contraception continuity rate is influenced by discipline and compliance of acceptor in using it.That things is possible when acceptor have enough knowledge and information about contraception usage which they can get it from councelling by family planning officer. This study is aimed to gain information on relationship of contraception counselling with the period of time pills uses. This study uses secondary data SDKI 2002/03. Study design used is crossectional with statistical survival analysis. The result study shows that mean of pill contraception continuity rate are 31 month with median survival are 37 month. The Probabilities of pills continuity rate after 12th month are 62 percent and probabilities of pills continuity rate after 60th month are 31 percents. Probabilities of pills continuity rate after 12'h month in whom that receive counsellings are 66 percents, men while the group whom that not receive counselling only 56 percent. The risk of drop out among the pills acceptbr whom that not receive counsellings are 1,6 times if they lives at the city and 1,5 times if they lives at the village. The risk of drop out pills among acceptor whom that not receive counsellings are 1,6 times if they not have side effect and it can be 2 times if they have side effects. The height risk of drop out pills among acceptors in urban region need to get more attentions from the organizer of family planning program. Momentary, assumption whereas this matter is met in marginal town area or slum region, for that more intensive program of counselling contraception related to acceptor in the are, for example more regular follow up to the acceptors whom lives at this area and had side effect. The principle of counseling is to lessen the worried feeling of the acceptor with the side effects generated by contraception during its usage.

Read More
T-2280
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kusuma, Inggar Ratna; Promotor: Rita Damayanti; Kopromotor: Sabarinah; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sutanto Priyo Hastono, Irwanto, Hadi Susiarno, Maria Gayatri, Indra Supradewi
Abstrak:
Pendahuluan Cakupan kontrasepsi modern Keluarga Berencana Pascapersalinan (KBPP) di Indonesia baru mencapai 49.1 %, rendah dibandingkan target pemerintah 70 %. Upaya meningkatkan prevalensi penggunaan kontrasepsi modern KBPP diantaranya melalui komunikasi, informasi, edukasi (KIE) dan konseling berkualitas oleh bidan. Bidan berkontribusi dalam pelayanan Keluarga Berencana (KB) sebanyak 55.90 % dan menjadi rujukan sumber informasi KB terbanyak 19 %.Method Information Indek (MII) kualitas konseling KB Indonesia masih rendah 46.74 %. Rendahnya kualitas konseling menyebabkan tingginya angka unmet needs dan drop out KB. Kejadian drop out KB terbanyak karena efek samping 28.90 %. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh kualitas konseling pelayanan KBPP terhadap penggunaan kontrasepsi modern postpartum di Jawa Tengah. Metode Desain kuantitatif kohort prospektif. Menganalisis perbandingan pengaruh kualitas konseling pelayanan kebidanan KBPP terhadap intensi dan penggunaan kontrasepsi modern postpartum di wilayah Strategi Konseling Berimbang (SKB) dan Alat Bantu Pengambilan Keputusan (ABPK). Hasil Konseling KBPP meningkatkan 3.43 x (CI 95 %, 1.31-4.52) intensi penggunaan KBPP pada ibu hamil. Intensi meningkatkan 4.37 x (CI 95 %, 3.16-9.02) penggunaan KBPP. Konseling meningkatkan 5.05 x (CI 95%, 3.19-10.63) penggunaan KBPP. Dampak konseling SKB meningkatkan 1.517 x intensi KBPP dan 0.8 x penggunaan KBPP namun, metode konseling berpengaruh secara statistik tapi tidak berpengaruh secara substansi terhadap intensi dan penggunaan KBPP Kesimpulan Konseling penting untuk meningkatkan intensi dan penggunaan KBPP menggunakan metode konseling apapun. Frekuensi ideal pemberian konseling minimal 5x sejak hamil. Waktu pemasangan KBPP terbaik pada 0-3 hari postpartum saat ibu di fasilitas kesehatan Kata Kunci : Kualitas konseling, Asuhan kebidanan berkesinambungan, KBPP

Introduction Postpartum Family Planning (PPFP) coverage in Indonesia has reached 49.1%. Midwives have an important role in increasing the prevalence of PPFP through the quality of family planning counseling. The contribution of midwives in family planning services is 55.90%. The Method Information Index (MII) in Indonesia is still limited at 46.74 %. The lack of quality counseling causes a high number of family planning dropouts, mostly due to side effects of 28.90%. Therefore, this study aimed to determine the effect of the quality of PPFP by midwifery counseling services on the use of modern postpartum contraception in Central Java. Methods This study employed a prospective cohort quantitative approach. It analyzed a comparison of the influence quality of PPFP by midwifery service counseling on the use of modern postpartum contraception in areas that use balanced counseling (SKB) and Decision Making Aids (ABPK) The results of PPFP counseling raised the intention to utilize KBPP by 3.43 times (95% CI, 1.31-4.52) among pregnant women. The intention to utilize PPFP increased by 4.37 times (95% CI, 3.16-9.02). Counseling increased PPFP use by 5.05 times (95% confidence interval, 3.19-10.63). The impact of SKB counseling raised 1.517 PPFP intentions and 0.8 PPFP use; However, the counseling method showed a statistically significant but small influence on PPFP intentions and use. Conclusion Counseling is essential for increasing PPFP intention and use, regardless of the counseling modality used. The optimal frequency of counseling is at least five times since pregnancy. The optimal period to install PPFP is between 0 and 3 days after birth, while the mother is in a health facility. Keywords: Quality Counseling, Continuity of Care Midwifery, PPFP
Read More
D-538
Depok : FKM UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive