Ditemukan 31183 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi hipertensi pada pekerja pelabuhan di wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Tarakan serta faktor-faktor risiko yang berpengaruh.
Metode: Desain penelitian adalah potong lintang; subyek diperoleh dari hasil survei PTM tahun 2011 oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Tarakan, subyek yang terkumpul adalah 361 pekerja. Nilai pengukuran tekanan darah menggunakan nilai baku dari JNC VII tahun 2003. Hasil: Faktor yang dominan berpengaruh terhadap hipertensi adalah Umur > 42 tahun, didapatkan POR = 4,19 (95% CI 1,99 – 8,79) dengan nilai p = 0,00.
Kesimpulan: Prevalensi hipertensi adalah 21,88%. Terdapat hubungan antara umur, riwayat keluarga hipertensi, stres, Indeks Massa Tubuh (IMT) dan terpajan kebisingan dengan hipertensi. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, merokok, konsumsi alkohol, olahraga, area kerja dan unit kerja dengan hipertensi.
Aktivitas Pelabuhan di Jakarta yang padat, seperti keluar dan masuknya orang atau barang berpotensi menjadi terjadinya penyebaran penyakit. Untuk mencegahnya maka disetiap pelabuhan memiliki Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP). Sehingga Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan kelas I Tanjung Priok selain konsentrasi melaksanakan tugas kesehatan di Pelabuhan Tanjung Priok dan juga terhadap lima wilayah pelabuhan lainnya yang ada di Jakarta, yaitu 1). Pelabuhan Sunda Kelapa dan Pantai Marina Ancol, 2). Pelabuhan Muara Baru, 3). Pelabuhan Marunda, 4). Pelabuhan Kali Baru, 5). Pelabuhan Muara Angke dan Pantai Mutiara, yang dipimpin oleh seorang Koordinator Wilayah Kerja. Penelitian Analisis Pekerjaan ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengumpulkan informasi tentang deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan Koordinator Wilayah Kerja di Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok. Dengan melakukan wawancara mendalam terhadap Kepala Kantor, Kepala Bagian Tata Usaha dan para Kepala Bidang, serta melakukan FGD terhadap lima Koordinator Wilayah Kerja. Hasil penelitian analisis pekerjaan ini adalah sistem perekrutan Koordinator Wilayah Kerja yang ada pada saat ini subyektif tergantung Kepala Kantor dan tidak menggunakan analisis pekerjaan. Sehingga deskripsi pekerjaan yang ada pada saat ini tidak jelas, tidak efektif dan sistematis, karena semua yang dikerjakan oleh Koordinator Wilayah Kerja berdasarkan perintah lisan dan bukan berdasarkan dokumen deskripsi pekerjaan. Serta belum dibuat daftar spesifikasi pekerjaan. Saran kepada Kepala Kantor yaitu untuk melakukan Analisis pekerjaan terhadap Koordinator Wilayah. Karena melalui analisis tersebut akan didapatkan informasi tentang deskripsi pekerjaan dan spesifikasi pekerjaan yang sesuai, efektif dan sistematis.
Activity of the crowded port in Jakarta, such as exit and entering people or goods can potentially spread the disease. To prevent it every port has port health office. The head of port health office class I of Tanjung Priok carry out duties other than concentration to health at the port of Tanjung Priok, also concentration to 5 other existing port areas in Jakarta, namely : 1) Port of Sunda kelapa and marina ancol beach, 2) port of muara baru, 3) port of marunda, 4) port of kali baru, 5) port of muara angke and mutiara beach, and lead by a coordinator work area. This job analysis study used a qualitative approach to gethering information about coordinator work area job discribtion and job spesification at port health office class I of Tanjung Priok. By conducting depth interview with the Head office, head of administration and head of the field and conducted FGD of the 5 coordinators work area. The result of the job analysis is the system of recruitment of coordinator work area that existed at the time is still subjective and depends on the head office and doesn’t use job analysis. So that job discriptions are not clear at present, no effective and no systematic, because averything is done by the coordinator work area based on verbal orders and not according to job describtion document, and has not made a list of job spesification. Advice to the head office is to analyze the work of the Coordinator Work Area. Because it will be obtained through analysis of information about job desciptions and specifications are appropriate, effective and systematic.
Mutu pelayanan suatu organisasi merupakan hal yang penting dan telah menjadi kebutuhan bahkan tuntutan masyarakat. RevisiInternational Health Regulation Tahun 2005 mengharuskan setiap negara anggota untuk meningkatkan core capacity. Untuk melakukan perubahan, tentunya perlu diketahui kondisi pelayanan yang ada saat ini. Melakukan self assesment terhadap kondisi mutu yang ada perlu dilakukan dalam rangka upaya manajemen mutu terpadu (Total Quality Management).
Peneliti menggunakan 7 (tujuh) kriteria yang terdapat dalam Malcolm Baldrige Health Care Criteria for Performance Exxelence untuk mengetahui mutu pelayanan bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok. Metoda yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.
Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah terdapat variabel proses yang mempunyai pengaruhpaling dominan untuk dilakukan peningkatan mutu organisasi. Dengan melihat pohon masalah, maka masalah prioritas dari variabel proses adalah Kurangnya panduan yang mendukung proses pelayanan dalam proses meningkatkan mutu organisasi yang lebih optimal. Bentuk nyata dari perbaikan tersebut adalah dengan membuat instrumen buat petugas seperti check proses yang harus dilakukan di setiap proses pelayanan pada bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Tanjung Priok.
Quality of organizational services is an absolute must, which has become a necessity even the public demands. Revision of International Health Regulation (2005)requires each member state to increase the core capacity. To make changes, certainly need to know the condition of the existing services at the present. Perform self assesment the existing quality conditions is necessary to be done in order to attempt Total Quality Management.
Researcher used 7 (seven) criteria contained in the Malcolm Baldrige Health Care Criteria for Performance Excellence to recognize quality service at Field of health effort and cross-regional, Port Health Office class I of Tanjung Priok.The method used in this study is a quantitative data analysis.
The results obtainedin this studyis the processvariablethat hasthe most dominant influence to do quality improvementorganization. By looking atthe problem tree, the priority issue is lack of guide supports the process of improving the quality of service.
Realfact of the improvements is to make instruments such as check process for officers should be done at every service process at the Field of health effort and cross-regional, Port Health Office class I of Tanjung Priok.
ABSTRAK Nama : Hasanah Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Uji Kontaminasi Salmonella sp. Pada Makanan di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan di Jakarta Tahun 2018 Pembimbing : Dr. Dra. Dewi Susanna, M.Kes Xviii + 139 halaman, 35 tabel, 12 gambar, 8 lampiran Pelabuhan laut merupakan pintu gerbang masuknya mobilitas barang dan manusia sehingga berpotensi terjadinya transmisi penyebaran penyakit terutama melalui makanan. Salmonella merupakan bakteri patogen yang dapat menyebabkan penyakit akibat bawaan makanan (foodborne diseases). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kontaminasi bakteri Salmonella sp. pada makanan dan mendapatkan informasi mendalam higiene sanitasi pengolahan makanan oleh penjamah makanan serta gambaran titiktitik kritis proses pengolahan makanan di Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan di Jakarta. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif dengan pendekatan cross sectional dan Rapid Assessment Procedure (RAP) serta pendekatan sistem Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) yang dilaksanakan pada bulan April – Mei 2018. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 72 TPM, penjamah makanan serta satu jenis makanan pada tiap TPM. Analisis data menggunakan univariat dan berbentuk teks narasi serta diagram alir untuk HACCP. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 72 sampel makanan yang diperiksa tidak teridentifikasi keberadaan bakteri Salmonella sp. Proses pengolahan makanan oleh penjamah makanan mulai pemilihan bahan baku, penyimpanan, pemasakan yang matang dan penyajian yang singkat menyebabkan bakteri tidak berkembang dan tumbuh. Titik kritis yang paling penting pada pemasakan, penyimpanan dan pemasakan ulang. Dibutuhkan pelatihan untuk penjamah makanan dalam menangani proses pengolahan makanan sesuai standar permenkes selama penanganan dan penyajian di TPM wilayah kerja KKP untuk mencegah kontaminasi mikroba pada makanan. Kata kunci: Foodborne diseases, Salmonella sp., penjamah makanan, kontaminasi, HACCP
ABSTRACT Name : Hasanah Study Program : Public Health Science Title : Salmonella sp. contamination test on food at the food manufacturing factory in the working area of The Port Health Office in Jakarta, 2018 Counsellor : Dr. Dra. Dewi Susanna, M.Kes Xviii + 139 pages, 35 tables, 12 pictures, 8 attachments Seaport is the gateway for mobility of goods and people so that there is a high potential for transmission and spread of disease especially through food. Salmonella is a pathogenic bacteria that can cause foodborne diseases. This study aims to describe the contamination of Salmonella sp. bacteria on food and get in-depth information on hygiene sanitation of food processing by food handlers and description of critical points of food processing in small scale of food manufacturing factory (TPM) working area of a Port Health Office. This research uses quantitative and qualitative method with cross sectional approach and Rapid Assessment Procedure (RAP) and Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP) system approach conducted in April - May 2018. The total samples are 72 food places, food handlers and one food type in each TPM. The data is analyzed using univariat analysist and narrative text form as well as flowchart for HACCP. Salmonella bacteria laboratory test results are negative on all types of food samples tested. Food processing by food handlers; the selection of raw materials, storage, ripening and short serving; causes the bacteria does not develop and grow. The most critical point is in the cooking, storage and reheating process. It needs training for food handlers at TPM working area of KKP in food processing (handling and serving the food) according to the standard of Minister of Health Regulation to prevent microbial contamination on food. Key words: Foodborne diseases, Salmonella sp., food handlers, contamination, HACCP
