Ditemukan 36045 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Suci Wulansari
MJKI No.9, Tahun XL
Jakarta : Medika Media Mandiri, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Veranita Prabaningrum, Suci Wulansari, Weny Lestari
BPSK Vol.12, No.2
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2009
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Anna Maria Sirait, Julianti Pradono, Ida L. Toruan
Bulitkes Vol.30, No.3
Jakarta : Balitbangkes Depkes RI, 2002
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Soewarta Kosen
BPSK Vol.11, No.3
Surabaya : Balitbangkes Kemenkes RI, 2008
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Suhardi
CDK No.125
Jakarta : Kalbe Farma, 1999
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Biro Pusat Statistik
R 305.4021 BIR p
Jakarta : BPS, 1995
Referensi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Biro Pusat Statistik
R 305.4021 BIR p
Jakarta : BPS, 1995
Referensi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Firzawati; Promotor: Hasbullah Tabrany; Pujiyanto; Penguji: Anhari Achadi, Mardiati Nadjib, Dian Ayubi, Nunik Kusumawardhani, Soewarta Kosen
D-315
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Manuella Pramunditya Widyandari; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Dien Anshari, Suci Puspita Ratih
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Perilaku merokok memicu beban kesehatan global masif dan kerugian ekonomi makro akibat penyakit katastropik. Setiap negara memiliki kebijakan pengendalian rokok dengan performa berbeda, termasuk Indonesia dan Filipina. Penelitian ini membandingkan hubungan paparan kebijakan pengendalian rokok pada perokok dewasa usia ≥25 tahun dengan upaya berhenti merokok di kedua negara menggunakan data sebanding. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif menggunakan data sekunder Data Global Adult Tobacco Survey (GATS) Indonesia dan Filipina 2021. Sampel akhir mencakup 2.451 responden (Indonesia) dan 2.989 responden (Filipina) berusia ≥25 tahun. Variabel dependen adalah upaya berhenti merokok, sedangkan variabel independen utama adalah paparan tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) dan kawasan tanpa rokok (KTR) yang diukur dengan Tobacco Control Scale (TCS). Analisis menggunakan regresi logistik biner 4 model. Hasil: Pada model akhir, paparan TAPS tinggi di Indonesia berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,27; 95% CI: 1,02-1,58) sedangkan paparan KTR tidak berhubungan signifikan (AOR=0,93; 95% CI: 0,78-1,12). Sementara di Filipina, paparan TAPS dan KTR tidak berhubungan signifikan dengan upaya berhenti merokok (AOR=1,17; 95% CI: 0,99-1,40 dan AOR=1,11; 95% CI: 0,93-1,32). Di kedua negara, anjuran tenaga kesehatan dan aturan larangan merokok di rumah signifikan meningkatkan peluang upaya berhenti merokok. Di Indonesia, jenis kelamin perempuan, pengetahuan bahaya merokok yang baik, dan daerah tempat tinggal di perkotaan juga menjadi prediktor signifikan. Kesimpulan: Paparan TAPS berhubungan dengan upaya berhenti merokok di Indonesia, sedangkan paparan KTR di Indonesia serta paparan TAPS dan KTR di Filipina tidak berhubungan signifikan. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa implementasi kebijakan pengendalian rokok di Indonesia belum optimal dibandingkan Filipina. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kebijakan pengendalian tembakau dengan memperketat pelarangan total TAPS, memperkuat penegakan hukum KTR, mengoptimalkan peran tenaga kesehatan dan keluarga, serta meningkatkan promosi kesehatan untuk mendukung upaya berhenti merokok.
Background: Smoking behavior triggers a massive global health burden and macroeconomic losses due to catastrophic diseases. Every country has tobacco control policies with varying performances, including Indonesia and Philippines. This study compares the relationship between tobacco control policy exposure among adult smokers aged ≥25 years and smoking cessation attempts in both countries using comparable data. Methods: This quantitative study used secondary data from the 2021 Global Adult Tobacco Survey (GATS) of Indonesia and Philippines. The final sample included 2,451 respondents from Indonesia and 2,989 respondents from Philippines aged ≥25 years. The dependent variable was smoking cessation attempts, while the independent variables were exposure to tobacco advertising, promotion, and sponsorship (TAPS) and smoke-free areas (SFA), measured using the Tobacco Control Scale (TCS). Data were analyzed using a 4-model binary logistic regression. Results: In the final model, high TAPS exposure in Indonesia was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.27; 95% CI: 1.02-1.58), whereas SFL exposure showed no significant association (AOR=0.93; 95% CI: 0.78-1.12). Meanwhile, in the Philippines, neither TAPS nor SFL exposure was significantly associated with smoking cessation attempts (AOR=1.17; 95% CI: 0.99-1.40 and AOR=1.11; 95% CI: 0.93-1.32). In both countries, advice from healthcare professionals and smoke-free home rules significantly increased the odds of smoking cessation attempts. In Indonesia, female gender, good knowledge of smoking hazards, and urban residence were also significant predictors. Conclusion: TAPS exposure is associated with smoking cessation attempts in Indonesia, whereas SFA exposure in Indonesia as well as both TAPS and SFL exposures in the Philippines show no significant association. The findings also indicate that the implementation of tobacco control policies in Indonesia remains suboptimal compared to the Philippines. The Indonesian government is advised to strict total bans on TAPS, enforce SFA laws, optimize the roles of healthcare professionals and families, and enhance health promotion.
S-12385
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Annisa Sayyidatul Ulfa; Pembimbing: Rita Damayanti, Evi Martha; Penguji: Hanny Handiyani, Sakri Sabatmadja, Pribudiarta Nur Sitepu
Abstrak:
Indonesia merupakan peringkat ketiga negara dengan angka perokok tertinggi setelah China dan India. Indonesia juga mengalami kenaikan prevalensi perokok anak dari 7,2% (Riskesdas, 2013) menjadi 9,1% (Riskesdas, 2018) yang secara spesifik ditemukan pula adanya fenomena perokok balita. Munculnya fenomena perokok balita di Indonesia menunjukan adanya pola asuh pembiaran yang dilakukan oleh orang tua terhadap balita yang merokok. Hal tersebut terjadi karena perilaku merokok mendapat penerimaan sosial yang positif, dianggap sebuah kebiasaan yang lumrah di masyarakat, dan juga merupakan bagian dari warisan budaya serta daily life di Indonesia. Pengabaian menjadi bentuk pola asuh orang tua yang menyebabkan kejadian perilaku merokok balita, yang mana balita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sulit mengontrol diri, serta peniru yang baik. Lingkungan sosial yang memberikan rokok, mengolok-olok, dan menganggap lucu juga mendukung terhadap perilaku dan normalisasi merokok balita menjadikan balita dibiarkan merokok, mudah untuk memulai dan mencandu rokok. Diharapkan hal tersebut dapat menjadi landasan bagi pemerintah untuk dapat memperkuat kebijakan pengendalian tembakau khususnya menekan normalisasi perilaku merokok, juga agar melindungi balita dari ancaman adiksi rokok.
Read More
T-6429
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
