Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 42369 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ingrat Padmosari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sabarinah Prasetyo, M. Ilhamy, Imran Pambudi, Tin Afifah
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dari faktor komposisional (levelindividu) serta determinan kontekstual (level kabupaten/kota) terhadap kejadiankomplikasi obstetri di 20 Kabupaten. Penelitian ini menggunakan desain potonglintang dengan pendekatan analisis multilevel untuk mengestimasi efek kontekstual,sehingga dapat ditentukan prioritas intervensi program terhadap kejadian komplikasiobstetri. Penelitian dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder Riskesdas 2013,Studi Kualitas Pelayanan Kesehatan Ibu di 100 Fasilitas Kesehatan tahun 2012 dandata BPS Tinjauan Regional berdasarkan PDRB Kabupaten/Kota tahun 2010-2013,dengan melibatkan 2066 orang Wanita Usia Subur berusia 15-49 tahun) yangmemiliki riwayat kehamilan, persalinan dan nifas. Hasil penelitian menunjukkanbahwa prevalensi Kejadian Komplikasi Obstetri di 20 Kabupaten adalah 30,1%.Tampak adanya perbedaan peranan di level individu dan level kabupaten/kota.
Read More
T-4549
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahyu Wulandari Ma'ruf; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Puput Oktamianti, Wahyu Septiono, Aries Hamzah
Abstrak:
Prevalensi Diabetes Melitus (DM) Tipe 2 yang terus meningkat menjadikannya sebagai salah satu tantangan utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Keragaman kondisi sosial, ekonomi, dan kesehatan antar wilayah berpotensi menimbulkan variasi kejadian DM Tipe 2 yang dipengaruhi oleh determinan individu maupun kontekstual. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan individu dan kontekstual terhadap kejadian DM Tipe 2 di Indonesia menggunakan pendekatan multilevel. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data Survei Kesehatan Indonesia dan Badan Pusat Statistik tahun 2023. Sampel penelitian terdiri dari 15.303 responden dari 249 kabupaten/kota. Analisis dilakukan menggunakan regresi logistik multilevel dengan kabupaten/kota sebagai level kontekstual. Hasil penelitian menunjukkan proporsi DM Tipe 2 sebesar 15,05% serta adanya variasi geografis antar kabupaten/kota, dengan wilayah risiko tinggi lebih banyak ditemukan di Indonesia bagian barat dan tengah. Determinan individu yang berhubungan dengan peningkatan odds kejadian DM Tipe 2 meliputi pertambahan usia (OR=1,01;95%CI:1,01–1,02), aktivitas fisik rendah (OR=1,34;95%CI:1,11–1,65), obesitas sentral (OR=1,17;95%CI:1,01–1,36), dan riwayat hipertensi (OR=1,28;95%CI:1,11–1,48). Sementara itu, determinan kontekstual tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik setelah mengontrol determinan individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa varaisi kejadian DM Tipe 2 dalam populasi penelitian lebih banyak dijelaskan oleh determinan individu dibandingkan determinan kontekstual. Oleh karena itu, penguatan deteksi dini dan pengendalian faktor risiko metabolik melalui skrining obesitas sentral, hipertensi, dan gangguan glukosa darah perlu dioptimalkan untuk menurunkan beban DM Tipe 2 di Indonesia.

The increasing prevalence of Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) continues to rise and has  become a major public health challenge in Indonesia. Variations in social, economic, and health conditions across regions may contribute to geographic disparities in T2DM occurrence through both individual- and contextual-level determinant. This study aimed to examine the association between individual and contextual determinants of T2DM in Indonesia using a multilevel approach. A cross-sectional study was conducted using data from the 2023 Indonesia Health Survey and Statistics Indonesia. The study included 15,303 respondents from 249 districts. Data were analyzed using multilevel logistic regression with districts as the contextual level. The findings showed that the proportion of T2DM was 15.05%, with geographic variation observed across districts. Areas with a higher risk of T2DM were predominantly located in western and central Indonesia. Individual determinants associated with higher odds of T2DM included increasing age (OR=1.01;95%CI:1.01–1.02), low physical activity (OR=1.34;95%CI:1.11–1.65), central obesity (OR=1.17;95%CI:1.01–1.36), and a history of hypertension (OR=1.28;95%CI:1.11–1.48). In contrast, contextual determinants were not significantly associated with T2DM after adjustment for individual determinants. This study concludes that variation in T2DM occurrence was explained more by individual determinants than by the contextual determinants examined. Therefore, strengthening early detection and control of metabolic risk factors through screening for central obesity, hypertension, and abnormal blood glucose levels should be prioritized to reduce the burden of T2DM in Indonesia.
Read More
T-7531
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Nur Izati; Pembimbing: Asri Adisasmita, Endang L. Achadi; Penguji: Sri Lestari, M. Baharuddin
Abstrak:

Setiap tahunnya terdapat 1 juta bayi yang meninggal pada hari pertama dikarenakan asfiksia. Risiko kematian karena asfiksia adalah 8 kali lebih tinggi di negara dengan angka kematian neonatal tinggi (Lawn dkk, 2005). Di Indonesia, sekitar 27.0()0 bayi baru lahir meninggal pada hari pertama karena asfiksia (Save the Children, 2005). Selain itu, asfiksia menempati urutan kedua penyebab utama ematian neonatal di Indonesia, setelah berat bayi lahir re dah (29%) ya itu sebesar 27% (SKRT:, 2001). Kejadian astiksia pada bayi baru lahir di RS, menggambarkan kualitas pelayanan kesehatan yang diterima oleh ibu dan bayi baik sebelum masuk RS maupun sesudah masuk RS. Kualitas pelaya nan yang diterima ibu dan bayi dapat dipengaruhi oleh beberapa aktor, diantaranya adalah akses terhadap pelayanan kesehatan. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang bagus akan dapat mencegah keterlambatan dalam enerima pela):anan kesehatan yang berkwalitas dan mencegah terjadinya asfiksia. Sebaliknya akses yang tidak bagus terhadap pelayanan kesehatan akan menggamoarkan adanya permasalalian sebelum mencapai fasilitas kesehatan dan hal ini dapat terlihat dengan adan ya tanda dan gejala asfiksia pada bayi baru lahir. Faktor tempat tinggal ibu merupakan salah satu proksi yang dapat setelah mempertimbangkan faktor ibu dan anak dan pelayanan kesehatan. Pola kejadian asfiksia di RS berdasarkan wilayah tempat tinggal menunjukkan bahwa ibu­ ibu yang berasal dari wilayah rural memiliki risiko 1,57 kali untuk bayinya mengalami asfiksia jika dibandingkan dengan ibu yang berasal dari wilayah urban (OR I ,57 95% Cl I,17 - 2, I 0) setelah dikontrol dengan variabel terkait lainnya.


 

Every year I million babies died on the first day born due to asphyxia. The risk of asphyxia i8 times higher in the country with high neonatal Heath (Law n et al,:2005). In Indonesia, about 27.0. 0 newborn babies d ied in he fi rst day of their life d ue to asphyxia (Save the childre , 2005). Asphyxia is the second cause of death in neonatal periooe in Indonesia (27%), after lew birth weight in th first place (29%) (SKR1\ 2001). Asphyxia of newborn by, ill ustrate health service qualiry hat mother and baby accept before and afte care in tHe hospi tal The quality of services received by mother and Baby can be infl uence by sev ra J factors; one f those is access to the hea lth service. Good access to t h hea lth service can prevent delayed i n the acceptance for quality of hea lth service an prevent baby to get asphyxia. On the other side, poor access to the health service ean ill ustrate a prob le before reaching the healtH facilities and thi can be seen i n he sign and symptom of birth asphyxia of the newborn baby. Mother's residence is one of the p oxies that can illustrate access to the health facilities in one area. The proxy of health service facilities can used to evaluate improveme to prevent asphyx ia. Identify the delay before reaching hospital can also be illustrated poor access t0 the healt}l service. And t his can be used to identify poor access through mother-'s residence rela. ed to birth a hyxia.

Read More
T-2918
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widya Inayah; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Wahyu Septiono, Budi Setiawan, Retno Henderiawati
Abstrak:
Latar belakang: Indonesia mencatat 25.639 kasus suspek campak pada 2024 dengan 12,90% terkonfirmasi laboratorium. Cakupan dosis pertama vaksin campak (MCV1) di DKI Jakarta mencapai 98,40% pada 2024, namun provinsi ini melaporkan incidence rate 32,10 per 100.000 penduduk pada 2023. Studi terdahulu menilai faktor risiko campak pada satu tingkat analisis. Penelitian ini menganalisis faktor individu dan kontekstual yang berhubungan dengan kejadian campak terkonfirmasi di DKI Jakarta tahun 2021–2025. Metode: Penelitian cross-sectional ini menganalisis data surveilans campak Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta periode Januari 2021–Desember 2025. Subjek adalah kasus suspek campak dengan hasil laboratorium IgM positif atau negatif; kasus tanpa hasil laboratorium dan tanpa data alamat RW atau kelurahan dieksklusi. Variabel individu meliputi usia, jenis kelamin, status vaksinasi, riwayat kontak, riwayat perjalanan, dan pemberian vitamin A. Variabel kontekstual meliputi klasifikasi permukiman RW serta cakupan MCV1, dosis kedua vaksin campak (MCV2), vitamin A, dan kepadatan penduduk kelurahan. Data dianalisis dengan regresi logistik multilevel tiga tingkat, yaitu individu, RW, dan kelurahan, menggunakan adjusted odds ratio (aOR) dan 95% confidence interval (CI). Hasil: Dari 13.545 kasus suspek, 5.797 (42,80%) memenuhi kriteria dan terkelompok dalam 1.980 RW di 270 kelurahan; 1.341 (23,13%) terkonfirmasi laboratorium. Anak usia ≤5 tahun berhubungan dengan campak terkonfirmasi (aOR 1,52; 95% CI 1,31–1,77), demikian pula status tidak divaksinasi (aOR 1,95; 95% CI 1,65–2,30). Setiap peningkatan 10% cakupan MCV1 di kelurahan menurunkan odds campak (aOR 0,53; 95% CI 0,40–0,69), dan setiap peningkatan 10% cakupan vitamin A menurunkan odds (aOR 0,85; 95% CI 0,78–0,93). Intraclass correlation coefficient sebesar 12% pada tingkat kelurahan dan 18% pada tingkat RW menunjukkan variasi geografis yang persisten. Kesimpulan: Kerentanan anak usia dini, status tidak divaksinasi, dan rendahnya cakupan MCV1 serta vitamin A tingkat kelurahan berhubungan dengan campak terkonfirmasi laboratorium di DKI Jakarta. Dinas Kesehatan DKI Jakarta perlu memprioritaskan catch-up vaccination anak ≤5 tahun yang belum divaksinasi dan micro-planning imunisasi di RW rentan.

Background: Indonesia recorded 25,639 suspected measles cases in 2024, with 12.90% laboratory confirmed. First-dose measles vaccine (MCV1) coverage in DKI Jakarta reached 98.40% in 2024, but the province reported an incidence rate of 32.10 per 100,000 population in 2023. Previous studies assessed measles risk factors at a single level of analysis. This study analyzes individual and contextual factors associated with confirmed measles incidence in DKI Jakarta 2021-2025. Methods: This cross-sectional study analyzed measles surveillance data from the Jakarta Provincial Health Office for the period January 2021–December 2025. Subjects were suspected measles cases with positive or negative IgM laboratory results; cases without laboratory results and without RW or sub-district address data were excluded. Individual variables included age, sex, vaccination status, contact history, travel history, and vitamin A administration. Contextual variables included RW organizational classification and MCV1 coverage, second dose of measles vaccine (MCV2), vitamin A, and sub-district population density. Data were analyzed using three-level multilevel logistic regression: individual, RW, and sub-district, using Adjusted Odds Ratio (aOR) and 95% Confidence Interval (CI). Results: Of the 13,545 suspected cases, 5,797 (42.80%) met the criteria and were clustered in 1,980 RWs across 270 sub-districts; 1,341 (23.13%) were laboratory-confirmed. Children aged ≤5 years were associated with confirmed measles (aOR 1.52; 95% CI 1.31–1.77), as was unvaccinated status (aOR 1.95; 95% CI 1.65–2.30). Each 10% increase in MCV1 coverage in the village decreased the odds of measles (aOR 0.53; 95% CI 0.40–0.69), and each 10% increase in vitamin A coverage decreased the odds (aOR 0.85; 95% CI 0.78–0.93). Intraclass correlation coefficients of 12% at the village level and 18% at the neighborhood unit (RW) level indicated persistent geographic variation. Conclusion: Early childhood vulnerability, unvaccinated status, and low levels of MCV1 and vitamin A coverage at the village level were associated with laboratory-confirmed measles in Jakarta. The Jakarta Health Office needs to prioritize catch-up vaccinations for children under 5 years of age who have not yet received micro-planned immunizations in vulnerable neighborhoods (RW).
Read More
T-7504
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Farianti; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Lukas C. Hermawan, Teti Tejayanti
Abstrak: Mortalitas dan morbiditas pada wanita hamil dan bersalin adalah masalah besar dinegara berkembang. Sebagian besar penyebab utama kematian ibu di Indonesia(60-90%) adalah akibat komplikasi persalinan (persalinan lama, diikuti olehketuban pecah dini, perdarahan dan demam). Kualitas pelayanan antenatal diduga sebagai faktor risiko kejadian komplikasi persalinan. Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan antenatal terhadap kejadiankomplikasi persalinan di delapan propinsi di Indonesia setelah dikendalikanseluruh confounding. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalahcross sectional. Sampel pada penelitian ini adalah ibu yang mempunyaibayi/balita di delapan propinsi di Indonesia dengan jumlah sampel 2823 . Teknikpengambilan sampel pada penelitian ini adalah multistage sampling. Analisismultivariat yang digunakan adalah cox regression. Hasil analisis multivariatmenunjukkan tidak ada pengaruh kualitas pelayanan antenatal terhadap kejadian komplikasi persalinan setelah dikendalikan variabel penolong persalinan dancara/metode persalinan dengan prevalence ratio (PR) sebesar 0,89 (CI 95% : 0,59-1,34). Perlunya peningkatan kualitas pelayanan antenatal terpadu dan terintegrasi agar dapat mencegah, mendeteksi dini dan menanggulangi kejadian komplikasi persalinan serta diharapkan adanya penelitian selanjutnya yang meneliti spesifik jenis ANC yang dapat menurunkan komplikasi persalinan. Kata kunci: Komplikasi persalinan, kualitas, pelayanan anatenatal
Mortality and morbidity on pregnant women and maternity is still big problem indeveloping countries. Mostly caused of maternal mortality in Indonesia aredelivery complication (prolonged labor, water broke, vaginal bleeding, and fever).Quality of antenatal care may be a risk factor of delivery complications. Thepurpose of this study to know how much effect quality of antenatal care todelivery complications after adjusted all confounding. This study used the crosssectional design. Respondent of this study are mother who had infant/childrenunder five years at eight provinces in Indonesia and number of respondent were2823 took with multistage sampling. The multivariate analysis used coxregression. There was not effect of antenatal care to delivery complications afteradjusted delivery helper and methods of delivery with prevalence ratio (PR)sebesar 0,89 (CI 95% : 0,59-1,34). Needed to increasing the comprehensive andintegrated quality of antenatal care to prevent, early detection, and to controlled ofdelivery complication and another similar studies was still needed that examinedspecific of ANC which can reduced delivery complications.Keyword:Delivery complications, quality, antenatal care
Read More
T-4153
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Trisari Anggondowati; Pembimbing: Yovsyah, Asri C.; Penguji: Endang L. Achadi, Sri Lestari, M. Baharuddin
Abstrak:

Dua dekade telah berlalu sejak kematian maternal diangkat sebagai isu global, namun hingga kini secara umum, angka kernatian ibu (AKI) di berbagai belahan dunia masih tetap tinggi. Di Indonesia, estimasi AK1 pada tahun 2002/2003 sebesar 307 per 100.000 kelahiran hidup, jauh lebih tinggi dibandingkan negara-negara tetangga seperti Srilanka (58), Thailand (110), dan Malaysia (62). Tingginya AKI hanya menggambarkan sebagian dari masalah kesehatan ibu, Diperkirakan, di luar 529.000 kernatian ibu di dunia, sekitar 9,5 juta perempuan mengalami kesakitan yang berhubungan dengan kehamilan dan 1,4 juta mengalami near-miss/nyaris meninggal. Kesakitan dan kematian ibu menggambarkan masih rendahnya kualitas pelayanan kcsehatan ibu. Berbagai pendekatan dilakukan untuk menilai kualitas pelayanan, salah satunya dengan menghubungkan waktu-waktu tertentu yang berpotensi tenjadi penurunan kualitas pelayanan dengan outcome negatifpasien. Dengan metode kohort retrospektif peneliti menilai pengaruh waktu masuk atau menerima tindakan tcrhadap kejadian komplikasi ohstctrik yang mengancam jiwa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil/bersalin/nifas yang masuk atau menerima tindakan di RS pada waktu seputar pergantian shift berisiko 1,75 kali Iebih tinggi mengalami komplikasi obstetrik yang mengancarn jiwa dibandingkan jika masuk atau menerima tindakan pada waktu lainnya (RR 1,75; 95%CI=l,02 - 3,0). Hasil tersebut mengimplikasikan penlingnya evaluasi terhadap pmktck pelayanan kesehatan di RS. Selain itu, selarna periode Desember 2005 - Mei 2006, diketahui rasio kematian ibu terhadap kasus near-miss di RSU Serang dan Pandeglang sebesar 1:11, yang menunjukkan bahwa upaya pencegahan komplikasi obstetrik yang mengancam jiwa dapat menyelamatkan lebih banyak jiwa, dibandingkan jika hanya berfokus pada pencegahan kematian ibu.


Two decades has passed by since maternal mortality being raised as a global issue. But until now, matemal mortality ratio (MMR) in most part of the worlds remains high. In Indonesia, the estimate MMR for 2002/2003 is 307 per 100,000 livebirth, considerably higher that other countries such as Srilanka (58), Thailand (110), and Malaysia (62). The high MMR only reflects a part of matemal health problem. It is estimated that beside 529,000 matemal deaths, there are approximately 9.5 miilon women suffer from pregnancy-related morbidity, and 1,4 million of them survive fiom near-miss. Matemal morbidity and mortality related with the low quality of matemal health care. Various approaches can be used to assess quality of care, one is by relating certain potentially dangerous time, which have the potential of low quality of care, with the negative outcomes of patients. Using retrospective cohort, the effect of time of admission or time receiving definite intervention to the incidence of obstetric life-threatening complication was investigated. The result shows that pregnant/delivery/post partum women who admitted or received definite intervention around the time for handover had 1,75 higher risk to develop obstetric life-threatening complication, compared to admission or receiving intervention at different times (RR 1,75; 95%CI=l,02 - 3,0). The result implies the need for evaluation of the practice of health care delivery in the hospital. Between December 2005 - May 2006, the maternal death to near-miss ration in both hospitals was 1:11, implies the need for prevention of obstetric life-threatening complication which would save more lives, compared to focusing effort only on matemal death.

Read More
T-2969
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aini Qur`ani Sam; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Asri C. Adisasmita, Mardiana Dwi Puspitasari
T-6258
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayunita Khairunnisa; Pembimbing : Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Putri Bungsu, Ina Agustina Isturini
Abstrak: Selama enam tahun terkahir, BNPB menunjukan kejadian banjir merupakan proporsi tertinggi yaitu 31,6% di Indonesia. Banjir di Jawa Barat merupakan intensitas ketiga tersering setelah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Permasalahan banjir yang saling bersangkutan berpengaruh terhadap kualitas hidup seseorang. Metode yang digunakan ialah cross-sectional, lokasi penelitian tempat pengungsian wilayah Kecamatan Baleendah dan Dayeuhkolot. Populasi penelitian yaitu 514 jiwa, dengan sampel 80 jiwa. Pengambilan data dengan kuesioner yang disintesiskan dari WHO QOL-BREF dan penelitian banjir di Bojonegoro oleh Sudaryo et.al (2007). Hasil univariate merupakan kelompok yang paling besar proporsinya yaitu rata-rata usia (38,56 tahun), wanita (62,5%), masjid PLN (43,8%), menikah (81,3%), memiliki > 2 anak (50%), SMA/sederajat (37,5), rumah permanen (80%), tidak bekerja (52,5%), Suku Sunda (96,3%). Sedangkan, distribusi data kualitas hidup pada kesehatan fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan ditunjukan dalam rata-rata sebesar 48,7; 52,9; 49,2; 47,7. Kesimpulan dari penelitian ini adalah determinan yang berhubungan antara umur, jenis tempat tinggal, jumlah anak, pekerjaan, dan kejadian ISPA dengan kualitas hidup. Kata kunci: Kualitas hidup; pengungsi; banjir; Kabupaten Bandung In the last six years, BNPB showed flood had the highest intensity (31,6%) in Indonesia. Intensity of flood mostly happened in Central Java, East Java, and West Java, where in West Java the highest frequency happened in Kabupaten Bandung. All impacts caused by flood lead into lower quality of life on victims. This research used cross sectional, located in shelter around Baleendah and Dayeuhkolot. Population of this study is 514 people, and the sample was 80 respondents. Data was collected by questionnaire, from WHO QOL-BREF and Sudaryo et.al (2007) about health impact assessment on flood in Bojonegoro. Univariate analysis showed by highest proportion among its group, mean of age is 38,56, woman (62,5%), masjid PLN (43,8%), married (81,3%), had > 2 children (50%), SMA/sederajat (37,5), permanent house (80%), unemployed (52,5%), Sunda Ethnicity (96,3%). Distribution quality of life showed by mean in each domain (physical health, psychological, social relationships, and environment) were 48,7; 52,9; 49,2; 47,7. The result of this study are relationship that significantly between age, home, number of children, occupation, and ARI and quality of life. Key words: Quality of life; IDP; Flood; Kabupaten Bandung
Read More
S-9281
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elvi Nora Simanjuntak; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Zakiah, Eti Rohati
Abstrak:
Preeklampsia merupakan salah satu penyebab kasus kematian ibu terbesar di Kota Depok selama 5 tahun terakhir.  Berdasarkan data tahun 2022 sampai 2024 tercatat jumlah kasus kematian ibu yang terjadi sebanyak 32 kasus dan sebagian besar terjadi pada masa nifas. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian terdahulu. Intervensi hasil dari riset operasional telah dilakukan terhadap 32 kader kesehatan yang mewakili masing-masing kelurahan yang mempunyai angka kasus kematian ibu dengan preeklampsia tahun 2022-2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed methods. Studi kuantitatif menggunakan desain studi   observasional dari studi sebelumnya dan cross sectional untuk ibu hamil sebagai hasil skrining. Jumlah   responden untuk kader sebanyak 32 orang dan jumlah responden pada ibu hamil sebanyak 306 orang. Data kuantitatif diperoleh dari hasil pretest dan posttest kader dan hasil skrining ibu hamil oleh kader setelah diuji kembali oleh bidan sebagai gold standar. Data kualitatif diperoleh dari wawancara mendalam dan focus grup discussion. Kader yang melakukan follow-up sebagai kader aktif (59,37%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa pengetahuan baik berpotensi 2,44 kali menjadi kader aktif.  Usia berhubungan signifikan (p=0,0246) dengan keaktifan kader, Usia ≥ 45 tahun berpotensi 1,86 kali kemungkinan menjadi kader aktif. Nilai uji akurasi skrining menyatakan sensitivitas (90%; 95% CI 80,8% - 97,8%), spesifisitas (98%; 95% CI 95,5%-99,4%). Mayoritas ibu hamil hasil skrining kader sebagai ibu rumah tangga (93,14%). Penelitian kualitatif mengungkapkan skrining yang dilakukan mendukung program Delisa Kota Depok. Diperlukan pelatihan yang melibatkan kader yang lebih banyak dan penguatan lintas sektor serta edukasi di masyarakat mengenai preeklampsia.

Preeclampsia is one of the biggest causes of maternal mortality in Depok City over the past 5 years. Based on data from 2022 to 2024, there were 32 cases of maternal deaths that occurred and most of them occurred during the postpartum period. This study is a continuation of previous research. Interventions resulting from the operational research were conducted with 32 health cadres representing each urban village that had the highest number of maternal deaths with preeclampsia in 2022-2023. This study used a mixed methods approach. The quantitative study used an observational study design from previous studies and cross sectional for pregnant women as a result of screening. The number of respondents for cadres was 32 people and the number of respondents in pregnant women was 306 people. Quantitative data were obtained from the pretest and posttest results of cadres and the results of screening pregnant women by cadres after being retested by midwives as a gold standard. Qualitative data were obtained from in-depth interviews and focus group discussions. Cadres who did follow-up as active cadres (59.37%). The results of bivariate analysis showed that good knowledge had 2.44 times the potential to become active cadres. Age was significantly associated (p=0.0246) with cadre activeness, age ≥ 45 years had 1.86 times the likelihood of being an active cadre. Screening accuracy test values stated sensitivity (90%; 95% CI 80.8% - 97.8%), specificity (98%; 95% CI 95.5%-99.4%). The majority of pregnant women screened by cadres were housewives (93.14%). Qualitative research revealed that the screening supports the Delisa programme in Depok City. Training involving more cadres and cross-sectoral strengthening and education in the community regarding preeclampsia are needed.

Read More
T-7312
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Misaroh Ibrahim; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda; Rustam Effendi, Fajrinayanti
T-4081
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive