Ditemukan 25838 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Hasil penelitian menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara Kebiasaan merokok dan pemakaian APD, gangguan fungsi paru dengan nilai p masing masing p=0.000 dan p=0.003. Sedangkan konsentrasi debu, umur, lama bekerja, riwayat penyakit dan kebiasaan olah raga tidak menunjukan hubungan yang signifikan. Hasil analisis regresi logistik dari 2(dua) variabel kebiasaan merokok dan tidak memakai APD yaitu kebiasaan merokok beresiko 5 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dan tidak menggunakan APD beresiko 3.71 kali mendapatkan gangguan fungsi paru dibandingkan dengan yang menggunakan APD. Saran, dimasa datang sebaiknya dibuat sistem yang terintegrasi dapat menyatukan antara data pemeriksaan kesehatan pekerja, data kualitas udara di dalam lingkungan kerja setiap unit kerja sehingga analisis serta evaluasi terhadap kondisi kesehatan pekerja dapat menghasilkan kesimpulan yang lebih akurat dan pemilihan serta pemakaian APD yang tepat.
Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive Pulmonary function disturbances is a lung decreased capacity due to the accumulation of dust which causing the decline and airway blockage and the narrowing of pulmonary tract that interfere with the respiratory tract and lung tissue damage. This disease can occur to the workers in an environment polluted by chemical fumes or dust which may increase the risk of Obstructive, Restrictive and Mixed Obstructive-Restrictive pulmonary disease. The purpose of this study is to determine the relationship of dust concentration (TSP) in the working room with the Pulmonary function disturbances of the workers of PT. KS in year 2010. This study is using survey research methods which is a research carried out without an intervention to the research subjects or non experimental. This study is an analytic study that aims to explain a condition or a situation with a cross sectional survey design. The observed variables are the Dust Concentration (TSP)of the rooms, Age, length of work, smoking habits, history of pulmonary disease, exercise habits and customs of the use of PPE (Personal Protection Equipment). The type of data used are primary and secondary data, and the data collection is using questionnaires and interviews. The analysis of the data used is by univariate, bivariate and multivariate analysis.
The results showed that there was a significant relationship between smoking habits and the use of PPE with lung function disturbances with a value of p respectively p = 0.000 and p = 0.003. While the dust concentration, age, length of work, medical history and exercise habits showed no significant relationship. The results of logistic regression analysis of 2 (two) variables i.e smoking and not using PPE, that is smoking habits have 5 times the risk of having lung function disturbances and do not use PPE have 3.71 times the risk of getting lung function impairment compared with ones who use PPE. Suggestion, in the future there should be an integrated system that can unify the workers' health examination data, air quality data in the working environment of each unit of work, ambient air quality data and data quality of air emissions so that the analysis and evaluation of health conditions of workers can produce more accurate conclusions for the selection and the use of proper PPE.
One of the causes of lung function disorder in health problems is coal dust exposure.This study aims to describe the relationship of coal dust exposure and lung function disorder in workers. The method used cross-sectional design with a sample of 72workers. Lung function disorder data is obtained from the company health data. Theresults of this research showed that the restriction of pulmonary function disorder 8.3%,obstruction 2,8%, and a combination of restriction and obstruction 2.8%. Bivariate analysis showed lung function disorder associated with year of work experience(p=0,46). However, coal dust exposure, age, and the using of respiratory protectiveequipment showed there is a tendency to get risk for lung fungtion disorders.
Data Kementerian ESDM mencatat 93 kecelakaan di area pertambangan pada tahun 2021, dengan 36 kecelakaan ringan dan 57 kecelakaan berat, merenggut 11 korban jiwa. Tahun 2019 menjadi tahun terburuk dengan 133 kecelakaan (27 ringan, 106 berat) dan 24 korban jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan kelelahan kerja setelah dikontrol oleh variabel confounding pada operator alat berat industri pertambangan PT.X Site A 2024. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penerapan rancangan cross-sectional. Studi ini melibatkan 213 pekerja yang diminta untuk mengisi kuisioner. Analisis data dilakukan menggunakan uji multivariat analisis faktor risiko. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 49,3% pekerja mengalami kelelahan kerja pada tingkat berat, sedangkan 50,7% responden mengalami kelelahan kerja pada tingkat ringan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara kualitas tidur dengan kelelahan kerja (p value=0,011). Pekerja yang memiliki kualitas tidur buruk berisiko 2,38 kali untuk mengalami kelelahan kerja berat dibandingkan pekerja yang memiliki kualitas tidur baik setelah dikontrol oleh variabel masa kerja, waktu perjalanan, lingkungan tidur, dan faktor psikososial (overcommitment) (aOR=2,38 95% CI 1,22 – 4,65). Kata kunci: kelelahan kerja, kualitas tidur, operator alat berat, pertambangan
Data from the Ministry of Energy and Mineral Resources (ESDM) recorded 93 accidents in mining areas in 2021, with 36 minor accidents and 57 serious accidents, claiming 11 lives. The year 2019 was the worst year with 133 accidents (27 minor, 106 serious) and 24 fatalities. This research aims to determine the relationship between sleep quality and work fatigue after controlling for confounding variables in heavy equipment operators in the mining industry of PT.X Site A 2024. The method used in this research is the application of a cross-sectional design. This study involved 213 workers who were asked to fill out questionnaires. Data analysis was performed using multivariate risk analysis. The results of the study showed that 49.3% of workers experienced severe work fatigue, while 50.7% of respondents experienced mild work fatigue. The results of the study showed that there is a relationship between sleep quality and work fatigue (p value = 0.011). Workers with poor sleep quality were 2.38 times more likely to experience severe work fatigue compared to workers with good sleep quality after controlling for work experience, travel time, sleep environment, and psychosocial factors (overcommitment) (aOR = 2.38 95% CI 1.22 – 4.65). Keywords : work fatigue, sleep quality, heavy equipment operators
Tesis ini membahas mengenai hubungan antara kelompok risiko dengan tingkat
kekerapan, keparahan dan besaran jaminan kecelakaan kerja yang dibayarkan pada
program Jaminan Sosial Tenaga Kerja dalam rangka mengkaji pengelompokkan
risiko sesuai dengan PP No.14 Tahun 1993 yang berlaku saat ini. Penelitian ini adalah
penelitian deskriptif dengan desain korelatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
pengelompokkan risiko sangat erat hubungannya dengan premi yang harus dibayar
oleh masing-masing kelompok tersebut. Oleh karenanya, untuk menilai apakah premi
yang berlaku saat ini masih relevan atau tidak, harus dilakukan kajian terhadap
konsep premi yang ideal yang dikemukakan oleh John H Magee, 1995. Setelah
dibandingkan dengan konsep tersebut, ternyata premi saat ini hanya memenuhi 1 dari
4 syarat premi ideal yaitu premi haruslah adekuat. Sedangkan disisi lain premi saat ini
cenderung berlebihan/excessive, tidak adil dan tidak fleksibel. Berdasarkan data
kecelakaan kerja tahun 2007-2009 dari PT. Jamsostek, yang kemudian dianalisa
linieritas datanya dengan menggunakan diagram pencar atau scatter plot untuk
melihat adanya hubungan antar variabel, didapatkan hasil bahwa tidak ada hubungan
antara kelompok risiko dengan tingkat kekerapan, keparahan maupun besaran jaminan
kecelakaan kerja yang dibayarkan. Sehingga ditarik kesimpulan bahwa sistim
pengelompokkan risiko yang saat ini berlaku sudah tidak sesuai lagi untuk digunakan
sebagai dasar penentuan premi jaminan kecelakaan kerja. Untuk itu disarankan untuk
segera dilakukan evaluasi ulang terhadap sistim pengelompokkan risiko tersebut
sekaligus melakukan kajian mendalam terhadap sistim pengelompokkan risiko yang
lebih memenuhi unsur premi ideal.
Kata kunci:
Kelompok Risiko, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja
The focus of this study about the relationship between risk group with frequency,
severtity and balance of accident compensation that is paid to the workman
compensation insurance program in order to asses whether the risk grouping system
according to PP No. 14 year 1993. This research is descriptive with corellative design.
The result of this research shows that the risk grouping have Hasil penelitian
menunjukkan bahwa pengelompokkan risiko sangat erat hubungannya dengan premi
yang harus dibayar oleh masing-masing kelompok tersebut. Oleh karenanya, untuk
menilai apakah premi yang berlaku saat ini masih relevan atau tidak, harus dilakukan
kajian terhadap konsep premi yang ideal yang dikemukakan oleh John H Magee,
1995. Setelah dibandingkan dengan konsep tersebut, ternyata premi saat ini hanya
memenuhi 1 dari 4 syarat premi ideal yaitu premi haruslah adekuat. Sedangkan disisi
lain premi saat ini cenderung berlebihan/excessive, tidak adil dan tidak fleksibel.
Berdasarkan data kecelakaan kerja tahun 2007-2009 dari PT. Jamsostek, yang
kemudian dianalisa linieritas datanya dengan menggunakan diagram pencar atau
scatter plot untuk melihat adanya hubungan antar variabel, didapatkan hasil bahwa
tidak ada hubungan antara kelompok risiko dengan tingkat kekerapan, keparahan
maupun besaran jaminan kecelakaan kerja yang dibayarkan. Sehingga ditarik
kesimpulan bahwa sistim pengelompokkan risiko yang saat ini berlaku sudah tidak
sesuai lagi untuk digunakan sebagai dasar penentuan premi jaminan kecelakaan kerja.
Untuk itu disarankan untuk segera dilakukan evaluasi ulang terhadap sistim
pengelompokkan risiko tersebut sekaligus melakukan kajian mendalam terhadap
sistim pengelompokkan risiko yang lebih memenuhi unsur premi ideal.
Kata kunci:
Kelompok Risiko, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Sosial Tenaga Kerja
