Ditemukan 35468 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Annisa Siskha Septiana; Pembimbing: Kiptiyah, Nuning Maria; Penguji: Renti Mahkota, Rangkuti, M. Bal`an K.
Abstrak:
Campak merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan dan menjadi perhatian masyarakat global. Indikator Kaus campak di Indonesia adalah 5/100.000 kasus. Penyakit ini menyebar dengan cepat dan umumnya menyerang anak usia dibawah 5 tahun dan dapat menimbulkan kematian. Kota Administrasi Jakarta Timur merupakan salah satu daerah dengan cakupan imunisasi >90% dan mencapai UCI 100%, namun berdasarkan laporan surveilans suku dinas kesehatan Jakarta Timur melaporkan 686 kasus campak diagnosis klinis selama tahun 2014 dan kasus tertinggi terjadi di wilayah Kecamatan Duren Sawit sebanyak 130 kasus campak diagnosis klinis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun di Wilayah Kecamatan Duren Sawit tahun 2014-2015. Penelitian ini dilakukan dengan desain kasus kontrol dengan 154 sampel dengan besar kelompok kasus 51 orang dan kelompok kontrol 104 orang. Lokasi penelitian ini di wilayah Kecamatan Duren Sawit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa factor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak usia 1-5 tahun adalah status imunisasi anak ( P<0,01, OR=4,4; 95% CI: 2,04-9,69), dan riwayat ASI Ekslusif (P <0,01 OR: 2,3; 95% CI :1,004-5,26,). Penelitian ini menyimpulkan bahwa anak yang tidak diberikan imunisasi campak, vitamin A sesuai standar, dan pemberian ASI Ekslusif lebih berisiko terkena campak dibandingkan anak yang diberikan imunisasi, vitamin A sesuai standar, dan ASI Ekslusif. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan untuk dilakukan pelatihan juru imunisasi serta monitoring dan evalusi pengetahuan juru imunisasi dan manajemen cold chain di fasilitas kesehatan primer swasta dan negeri. Selain itu upaya promosi pencegahan penyakit perlu dilakukan untuk menurunkan angka kejadian campak. Kata Kunci: Faktor risiko campak, Imunisasi, Vitamin A
Read More
S-8926
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Restya Sri Sugiarti; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Tri Yunis Miko, Siti Syamsiah
S-8722
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ayu Herawati; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Endang Sri Wahyuni
S-10423
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hafyarie Harnan; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rani Martina
S-8329
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Vito Christian; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Inggariwati
Abstrak:
Read More
Pada tahun 2025, di Provinsi DKI Jakarta terjadi peningkatan kasus suspek campak pada anak umur 1-4 tahun dibandingkan tahun 2024, serta cakupan imunisasi MR anak umur 0-59 bulan belum mencapai target 95%. Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan sehingga risiko terkena campak dan mengalami komplikasi serius meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain penelitian cross-sectional dan data sekunder dari Form MR02 Campak/Rubella DKI Jakarta tahun 2025 dari Dinkes Provinsi DKI Jakarta. Sampel penelitian ini berjumlah 1.572 anak suspek campak dan dianalisis dari analisis univariat hingga bivariat dengan uji chi-square. Khusus untuk analisis faktor status gizi, jumlah sampel adalah 380 anak yang memiliki data tinggi badan dan berat badan secara lengkap. Didapatkan prevalensi anak umur 12-59 bulan yang positif campak adalah sebesar 43,45%. Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan adalah umur 24-59 bulan (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), status imunisasi campak tidak lengkap (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), dan status gizi buruk/kurang (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Sementara itu, faktor jenis kelamin, riwayat bepergian satu bulan terakhir, serta status gizi lebih/obesitas tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program pencegahandan pengendalian campak, khususnya program peningkatan cakupan imunisasi campak dan mendorong kesadaran orang tua dalam upaya pencegahan campak pada anak.
In 2025, DKI Jakarta Province experienced an increase in suspected measles cases among children aged 1-4 years compared to 2024, and the MR immunization coverage for children aged 0-59 months had not reached the 95% target. Children possess developing immune systems, which increases their risk of contracting measles and experiencing serious complications. This study aimed to determine the factors associated with measles occurrence among children aged 12-59 months in Jakarta in 2025. This study utilized a cross-sectional design and secondary data from the 2025 Jakarta Measles/Rubella MR02 Form, obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office. The total sample consisted of 1.572 children with suspected measles, analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Specifically for the nutritional status factor analysis, the sample size was 380 children who had complete height and weight data. The results showed that the prevalence of laboratory-confirmed positive measles among children aged 12-59 months was 43,45%. Factors significantly associated with measles occurrence in children aged 12-59 months were age 24-59 months (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), incomplete measles immunization status (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), and severely wasted/wasted status (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Meanwhile, gender, travel history within the past month, and overweight/obese status had no significant association with measles occurrence in children aged 12-59 months. This study is expected to provide valuable insights for measles prevention and control programs, particularly for programs aimed at increasing measles immunization coverage and encouraging parental awareness in childhood measles prevention efforts.
S-12283
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sara Fadila; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Siti Nurliah
Abstrak:
Read More
Tuberkulosis (TB) Paru merupakan salah satu penyakit penyebab utama kesakitan dan kematian di seluruh dunia. Pada tahun 2020 penyakit TB menempati peringkat kedua penyebab utama kematian akibat infeksi agen tunggal. Infeksi TB pada anak masih menjadi salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas sehingga dibutuhkan tindakan preventif dan promotif yang tepat untuk menurunkan angka insiden TB salah satunya dengan mengevaluasi faktor-faktor risiko kejadian TB paru pada anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru pada anak di Kota Bekasi tahun 2022. Penelitian ini menggunakan studi kasus-kontrol dengan sampel 135 kasus dan 135 kontrol yang diambil berdasarkan data SITB Kota Bekasi. Variabel yang diteliti antara lain usia, jenis kelamin, status gizi, status vaksinasi BCG, riwayat kontak serumah dengan penderita TB, tingkat pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, kepadatan hunian, ventilasi rumah, dan sumber pencahayaan. Hasil penelitian berdasarkan analisis multivariat menunjukkan faktor risiko usia 0 - ≤5 tahun (OR 2,27; 95% CI: 1,22-4,22), status vaksinasi BCG negatif (OR 7,96; 95% CI: 2,02-31,40), status gizi kurang (OR 13,24; 95% CI: 5,44-32,22), riwayat kontak TB serumah lebih dari 4 minggu (OR 4,52; 95% CI: 2,41-8,48), dan pencahayaan rumah tidak memenuhi syarat (OR 2,39; 95% CI: 1,17-4,84) memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru pada anak di Kota Bekasi tahun 2022.
Tuberculosis (TB) is one of the main causes of morbidity and mortality in worldwide. In 2020 TB disease is the second leading cause of death due to single agent infection. TB infection in children is still one of the causes of mortality and morbidity, so appropriate preventive and promotive measures are needed to reduce the incidence of TB, one of which is by evaluating the risk factors for pulmonary TB in children. The purpose of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of pulmonary TB in children in Bekasi City in 2022. This study used a case-control study with a sample of 135 cases and 135 controls taken based on SITB from Bekasi City. The variables studied included age, gender, nutritional status, BCG immunization status, history of household contact with TB, parents' education level, parents' occupation, occupancy density, house ventilation, and lighting sources. The results of the study based on multivariate analysis showed that the risk factors were age 0 - ≤5 years (OR 2,27; 95% CI: 1,22-4,22), negative BCG immunization status (OR 7,96; 95% CI: 2,02-31,40), malnutrition status (OR 13,24; 95% CI: 5,44-32,22), history of contact with TB in the household for more than 4 weeks (OR 4,52; 95% CI: 2,41-8,48), and house lighting not requirements (OR 2,39; 95% CI: 1,17-4,84) has a significant relationship with the incidence of pulmonary TB in children in Bekasi City in 2022.
T-6814
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Trisiana Giyantini; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-886
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gita Aprilicia; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Felly Philipus Senewe
Abstrak:
Asma merupakan penyakit inflamasi saluran pernapasan yang sering dijumpai pada anak-anak dengan insiden kejadian yang lebih tinggi dibanding kelompok umur lainnya. Diperkirakan, sekitar 300 juta penduduk dunia saat ini menderita asma dan akan meningkat menjadi 400 kasus pada tahun 2025. Selain dari faktor pejamu yang tidak dapat dimodifikasi, peningkatan prevalens asma diduga juga berhubungan dengan adanya peran dari faktor lingkungan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus serangan asma anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskedas tahun 2013 dengan desain cross sectional deskriptif. Responden terdiri dari 237.992 anak usia 0-11 tahun di Indonesia. Analisis data dilakukan dengan analisis chi square.
Hasil analisis univariat diperoleh prevalensi asma pada anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 3,6% dengan faktor pencetus yang paling sering adalah flu atau infeksi sebesar 56,2%. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa kejadian asma pada anak usia 0-11 tahun berhubungan dengan umur, jenis kelamin, wilayah tinggal, keadaan sosioekonomi, asap dapur, paparan pestisida dalam rumah, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jenis plafon rumah, kebersihan ruang tidur, kebersihan ruang masak, dan kebersihan ruang keluarga.
Penelitian ini menemukan bahwa peluang mendapatkan asma lebih tinggi ditemukan pada anak laki-laki, berumur 2 tahun, tinggal di wilayah pedesaan, mempunyai keadaan sosioekonomi rendah, terdapat asap dapur dalam rumah, terdapat paparan pestisida dalam rumah, mempunyai lantai rumah berjenis tanah, dinding berjenis bambu, plafon berjenis bambu, serta kebersihan ruang tidur, ruang masak, dan ruang keluarga yang tidak bersih.
Kata Kunci: Asma pada Anak, Pencetus Serangan Asma, Lingkungan Rumah
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus serangan asma anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskedas tahun 2013 dengan desain cross sectional deskriptif. Responden terdiri dari 237.992 anak usia 0-11 tahun di Indonesia. Analisis data dilakukan dengan analisis chi square.
Hasil analisis univariat diperoleh prevalensi asma pada anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 3,6% dengan faktor pencetus yang paling sering adalah flu atau infeksi sebesar 56,2%. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa kejadian asma pada anak usia 0-11 tahun berhubungan dengan umur, jenis kelamin, wilayah tinggal, keadaan sosioekonomi, asap dapur, paparan pestisida dalam rumah, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jenis plafon rumah, kebersihan ruang tidur, kebersihan ruang masak, dan kebersihan ruang keluarga.
Penelitian ini menemukan bahwa peluang mendapatkan asma lebih tinggi ditemukan pada anak laki-laki, berumur 2 tahun, tinggal di wilayah pedesaan, mempunyai keadaan sosioekonomi rendah, terdapat asap dapur dalam rumah, terdapat paparan pestisida dalam rumah, mempunyai lantai rumah berjenis tanah, dinding berjenis bambu, plafon berjenis bambu, serta kebersihan ruang tidur, ruang masak, dan ruang keluarga yang tidak bersih.
Kata Kunci: Asma pada Anak, Pencetus Serangan Asma, Lingkungan Rumah
S-9043
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Salma Padri H.; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-859
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Marion Siagian; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Ratna Djuwita, Boyke Priyono, Fita Rosemary
T-1275
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
