Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40042 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Harry Suhendra; Pembimbing: Suprijanto Rijadi
B-418
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
IGL Roni Supatra; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Amal C. Sjaaf, Purnawan Junadi, Budi Hartono, Amila Megraini
Abstrak:

Pemanfaatan pelayanan bersalin bersifat personal dan dapat dipengaruhi oleh mutu layanan rawat jalan di rumah sakit. Sebanyak 77,5% pasien ibu hamil di unit obstetri rawat jalan RS Risa Sentra Medika tidak memilih bersalin di rumah sakit tersebut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan bersalin pada pasien ibu hamil di unit obstetri rawat jalan Rumah Sakit Risa Sentra Medika. Dengan desaign cross sectional dengan jumlah sampel 104 reponden. Untuk menggali lebih mendalam permasalahan rendahnya pemanfaatan pelayanan bersalin, penelitian dilengkapi dengan pendekatan kualitatif melalui diskusi kelompok terarah dengan pihak manajemen mengenai permasalahan yang ada. Jarak dan waktu tempuh menjadi variabel yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan bersalin dari hasil penelitian dengan pendekatan kuantitatif. Berbeda dengan hasil pendekatan kualitatif yang memperlihatkan bahwa justru fasilitas yang lebih mempengaruhi pemanfaatan pelayanan bersalin pada pasien ibu hamil di unit obstetri rawat jalan di rumah sakit ini. Rekomendasi yang dapat diajukan dari penelitian ini diharapkan untuk memperbaiki fasilitas di unit obstetri rawat jalan RS Risa Sentra Medika atau merelokasinya sehingga pasien ibu hamil akan merasa lebih nyaman. Diharapkan manajemen RS Risa Sentra Medika melakukan Customer Relationship Management pada pasien ibu hamil yang melakukan antenatal care di unit obstetri rawat jalan RS Risa Sentra Medika, serta melakukan pendirian klinik rawat inap atau klinik bersalin sebagai jejaring RS Risa Sentra Medika, dengan terlebih dahulu melakukan studi kelayakan.


 The Utilization of maternity service are personal and could be influence by the quality of outpatient service in hospitals. As total of 77.5% of pregnant women patients in outpatient obstetric unit at Risa Sentra Medika Hospital choose not to dilivered at this hospital. The goal of this study is to determine the factor affecting the utlization of maternity service for pregnant patients in aoutpatient hospital obstetric unit at Risa Sentra Mediak Hospital. The study was condected with a cross sectional design, the number of samples taken by 104 respondents. To probe about the low utilization of maternity service, this study equipped with qualitative research through focus group discussions with management and a quantitative study. The quantitative study results that distance and time as factors related to service utilization. Through a qualitative approach to the results obtained show a different matter where the facilities is a further factor affecting the utilization of maternity service that may be filed. Recommendations of the study were expected the Risa Sentra Medika Hospital managemant to improve the facilities on an outpatient obstetric unit or relocated so that the pregnant patient will feel more comfortable. Also encourage Risa Sentra Medika Hospital management to maintain Customer Relationship Management in pregnant patients who did antenatal care in hospital outpatient obstetric unit at Risa Sentra Medika Hospital. Another option is to established inpatient clinic or birthing center as a network for Risa Sentra Medika, by first conducating a feasibility study.

Read More
B-1458
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meijani Wibowo; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Budi Hiadayat, Pujiyanto, Emmy Salman
Abstrak: Pengelolaan piutang merupakan salah satu aspek dalam dunia perumahsakitan yang perlu mendapat perhatian khusus dan penanganan secara profesional karena akan selalu ada risiko masalah panjangnya umur piutang dan piutang tak tertagih. Oleh karena itu pengelolaan piutang yang efektif menjadi sangat penting dalam manajemen keuangan di RSIA Hermina Bogor dalam upaya mencapai target. 
Tujuan dari penelitian ini agar diperolehnya solusi dalam pemecahan masalah serta cara pengelolaan yang efektif terhadap piutang asuransi dan perusahaan yang terikat kerjasama agar mencapai target yang telah ditetapkan. 
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan sistem yang berorientasi pada pemecahan masalah. Untuk mencapai tujuan dari penelitian dilakukan triangulasi sumber dan metode melalui pengamatan langsung, wawancara mendalam dan kajian dokumen. 
Hasil penelitian menunjukkan bahwa target yang tidak tercapai disebabkan karena belum dilakukannya pengelolaan piutang yang efektif, seperti belum lengkapnya prosedur untuk mendukung proses, upaya penagihan belum maksimal, laporan piutang belum tersedia sesuai kebutuhan, pengawasan terhadap pelaksanaan kebijakan dan output piutang belum optimal, dan sistem informasi piutang yang belum dapat mendukung proses. 
Pada akhir penelitian ini disarankan untuk melengkapi seluruh prosedur kerja yang dibutuhkan sesuai dengan yang diusulkan peneliti, membentuk tim penagihan regional, diklat dan umpan balik untuk SDM piutang, penambahan dan penyempurnaan laporan piutang, membuat evaluasi berkala dan meningkatkan pengawasan, serta membuat sistem informasi piutang yang handal.
 

The management of account receivables is a key aspect in hospital management that needs special attention and professional handling due to the inherent potential problems of uncollectible receivables. Therefore an effective account receivable management becomes of utmost importance in the financial management of RSIA Hermina Bogor in order to achieve targets.
 
The pupose of this research is to obtain solutions and propose a more effective account receivable management for the hospital?s insurance and corporate receivables to enable the achievement of financial targets. 
This research uses a qualitative approach with problem-solving orientation. To reach the objectives, the research was conducted by source and method triangulation using direct observations, in-depth interviews, as well as real data analyses.
 The research found that targets are not achieved due to the lack of an effective account receivable management; among various weaknesses found are: incomplete standard procedures, lack of adequate account receivable reporting, suboptimal control on the implementation of account receivable policies, and the lack of an adequate information system.
 This research concludes with the following suggestions: set up a comprehensive operating procedure, set up a regional collection team, proper training and development of personnel, improve the account receivable reporting, conduct periodic evaluations to improve the control mechanism, and set up a versatile information system.
Read More
B-1227
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ershad Nashir; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Jaslis Ilyas, RM Bob Erissa, Avicena M. Iqbal
Abstrak: Tenaga keperawatan dituntut untuk dapat menjalankan kinerjanya dengan baik sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh rumah sakit. Rumah sakit yang memiliki sistem penilaian kinerja tenaga keperawatan tentunya membutuhkan instrumen yang dapat mengukur kinerja. Rumah sakit ibu dan anak Assalam telah memiliki instrumen penilaian kinerja yang didalamnya terdapat indikator dan ukuran kinerja tenaga keperawatan, penelitian ini bertujuan menilai instrumen tersebut.

Metode penelitian menggunakan desain potong lintang, dengan pendekatan kuantitatif, data primer didapatkan dengan menyebarkan kuesioner kepada seluruh tenaga keperawatan di RSIA Assalam. Total sampel 56 sama dengan populasi, dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik.

Hasil analisis bivariat variabel terukur, relevan, hasil kerja berhubungan secara signifikan (p<0,05) dengan penilaian kinerja. Perilaku paling dominan terhadap penilaian kinerja dengan hasil analisis multivariat ukuran kinerja perilaku (p=0.0001) dan indikator jelas (p=0.039).

Kesimpulan dari penelitian ini indikator kinerja yang digunakan sudah jelas tapi kurang terukur, kurang relevan dan kurang terikat waktu. Instrumen yang digunakan dapat mengukur perilaku dengan baik, tapi belum dapat mengukur hasil kerja dan kompetensi dengan baik. Perbaikan indikator kinerja dan ukuran kinerja pada instrumen penilaian kinerja perlu dilakukan demi meningkatkan kinerja tenaga keparawatan
Read More
B-2077
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Rusdhy Hariawan Hamid; Ppembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Chairulsjah Sjahruddin, Mohamad Baharuddin
Abstrak: Salah satu metode untuk mencegah penularan HIV/AIDS adalah ProgramPencegahan Penularan dari Ibu ke Anak (PPIA) dengan skrining universal untukkehamilan. Telah dikeluarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan NomorGK/MENKES/001/I/2013 sebagai dasar bagi Direktur RSUD Prov. NTB untukmengeluarkan surat edaran Nomor: 824/15/RSUDP/2017 Tentang Layanan PPIA.Penelitian ini bertujuan menganalisis penerimaan profesional pemberi asuhanterhadap kebijakan pemeriksaan serologis HIV ibu hamil di RSUD Prov. NTB,yang dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif-eksploratif. Pengambilan datadilakukan melalui wawancara mendalam, telaah dokumen dan observasi lapanganserta triangulasi sebagai upaya untuk menjaga validitas data. Analisis dipertajamdengan kerangka Five Stages of Grief dan Second Victim. Para pemberi asuhansecara umum mendukung kebijakan surat edaran, meskipun ada pula yang beradadalam posisi netral. Kegiatan PPIA sudah berlangsung dan proses pelaksanaannyaamat ditentukan oleh pelayanan pada poli (VCT). Posisi para pemberi asuhanberada dalam situasi atau fase yang berbeda-beda, mulai dari fase depresi sampaikesiapan berdamai dalam penerimaan penugasan pelayanan PPIA. Perlupenanganan khusus berupa konsultasi psikologis pada profesional pemberi asuhanyang cenderung berada dalam fase depresi. Optimalisaasi pengelolaan sumber dayamanusia melalui pelatihan khusus merupakan rekomendasi yang dapatditindaklanjutiKata kunci:HIV/AIDS, PPIA, profesional pemberi asuhan
Prevention from Mother to Child Transmission (PMTCT) is one of the program toreduce the transmission of HIV/AIDS, including universal screening for pregnantwomen. Based on circular letter from The Minister of Health No.GK/MENKES/001/I/2013 , the director of West Nusa Tenggara Province Hospitalhas signed a circular that regulates the PMTCT in the Hospital (surat edaranNomor: 824/15/RSUDP/2017 Tentang Layanan PPIA). The aim of this study is toanalyze the acceptance of professional health worker to the Regulation of universalscreening of HIV on expectant mother in the hospital, using a descriptiveexplorative analysis with in depth interview, document survey and observation,including triangulation in order to have a valid data. Five stages of grief and secondvictim theory was used to make a precise analysis. The professional health workersupports the regulation of PMTCT in the hospital generally, few of them stands inneutral position. PMTCT program is running on condition the dependency on VCTclinic support in counseling. The health workers are in the different depressionstage of grief, including bargaining and depression stage in order to accept theobligation on PMTCT. Particular recommendation of psychology consultation fordepression stage. Need more effort to optimalyze the management of humanresources with special training as a strong recommendation.Keywords: HIV/AIDS, PMTCT, professional health worker.
Read More
B-1963
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Rachmawati; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari
Abstrak: Tesis ini membahas minat beli ulang pasien di instalasi rawat jalan Rumah SakitPuspa Husada Bekasi tahun 2013. Penelitian dilakukan karena pasien lama yangmelakukan kunjungan kembali di instalasi rawat jalan rumah sakit ini masih rendahdibandingkan pasien baru dan bagaimana gambaran karakteristik dan kepuasan pasiendi Rumah Sakit Puspa Husada ini belum pernah diketahui. Penelitian inimenggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data primer yangdiperoleh dari kuesioner yang diisi sendiri atau diwakilkan kepada wali pasien bagipasien anak. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang menjalani rawat jalanatau pendampingnya yang memahami kondisi pasien di RSIA Puspa Husada denganbesar sampel sebanyak 98 responden.Hasil penelitian menunjukan bahwa minat beli ulang di instalasi rawat jalan RumahSakit Ibu dan Anak Puspa Husada Bekasi masih rendah. Mayoritas pasien rawat jalanrumah sakit ini adalah perempuan, berumur dibawah 30 tahun, pendidikan setingkatSMA atau dibawahnya, pekerjaan sebagai swasta, memiliki pendapatan dibawahUMR setempat, tinggal dekat dengan rumah sakit dan melakukan pembayaran denganbiaya sendiri. Pasien di instalasi rawat jalan Rumah Sakit Ibu dan Anak PuspaHusada Bekasi yang tidak puas sebesar 58,2%. Ketidakpuasan tertinggi terdapat padadimensi reliability yaitu mencapai 89,8% diikuti ketidakpuasan pada dimensiassurance dan responsiveness. Kepuasan tertinggi terdapat pada dimensi empathyyaitu sebesar 90,9%. Terdapat dua karakteristik yang berpengaruh terhadap proporsiminat beli ulang, yaitu karakteristik jarak dan pendapatan. Dan pada dimensiServQual, perbedaan proporsi minat beli ulang hanya pada dimensi assurance.Minat beli ulang ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan dan berdasarkanhasil penelitian, peneliti menyarankan agar Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husadamemperbaiki kualitas pelayanan terutama pada dimensi reliability, assurance danresponsiveness.
Read More
B-1659
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puput Okta Wijayanti; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Adik Wibowo, Sandy Iljanto, Sarwanti, Budiman Widjaja
Abstrak: Salah satu parameter untuk menentukan mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit adalah mutu pelayanan rekam medis yaitu tentang kelengkapan pencatatan rekam medis. Indikator mutu rekam medis yang baik adalah kelengkapan isinya, akurat, tepat waktu, dan pemenuhan aspek hukum. Rekam medis yang pengisiannya lengkap akan memberikan kemudahan bagi penyediaan informasi di rumah sakit. Pelayanan rekam medis di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Denpasar dalam pelaksanaanya masih terdapat beberapa permasalahan, yaitu pengembalian berkas rekam medis yang lebih dari batas waktu yang ditetapkan dan kelengkapan berkas rekam medis. Hasil evaluasi laporan triwulan ke III tahun 2017 menunjukkan bahwa rata-rata lama pengembalian berkas rekam medis dari bulan Juli hingga September 2017 yang lebih dari 1x24 jam adalah 22% sedangan yang kurang dari 1x24 jam adalah 78%. Rata-rata ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medis rawat inap di Rumah Sakit Umum Kasih Ibu Denpasar pada bulan Juli hingga September tahun 2017 adalah 73%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kelengkapan review dokumen berdasarkan retrospective review dan concurrent review terhadap kelengkapan berkas rekam medis pasien Sectio Caesaria (tindakan inpasif) dan Pneumonia (tindakan konvensional) di Rumah Sakit Kasih Ibu Denpasar Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan membandingkan dua (2) populasi yaitu Retrospektive Review dan Concurrent Review. Penelitian ini dilakukan pada berkas rekam medis pasien Sectio Caesaria dan pada berkas rekam medis pasien Pneumonia. Penentuan populasi dilakukan berdasarkan clinical pathways yang ada di Rumah Sakit Kasih Ibu Denpasar. Terdapat perbedaan terhadap kelengkapan berkas rekam medis antara retrospektif review dan concurrent review. Data yang diperoleh menunjukkan bahwa angka kelengkapan rekam medis dengan metode concurrent review lebih tinggi dari pada dengan metode retrospektif review. Hal tersebut karena petugas rekam medis melakukan pengecekan terhadap kelengkapan berkas saat pasien masih rawat inap dan memberikan tanda atau note pada berkas yang belum lengkap sehingga saat dokter melakukan visite maka lebih mudah untuk melengkapi berkas rekam medis
Kata Kunci : Kelengkapan Berkas Rekam Medis, Retrospective Review, Concurrent Review

One of the parameters to determine the quality of health services in the hospital is the quality of medical record services that is about the completeness of recording medical records. A good medical record quality indicator is the completeness of its content, accurate, punctual, and legal aspects fulfillment. A complete medical record will provide convenience for the provision of information in the hospital. The medical record services at Kasih Ibu General Hospital Denpasar in the implementation are still facing some problems, to wit the return of medical record file that is more than the deadline specified and the completeness of the medical record file. The evaluation results for the third quarter report in 2017 showed that the average length of medical record file returns from July to September 2017 which is more than 1x24 hours is 22% while less than 1x24 hours was 78%. On average incompleteness charging inpatient medical record file at the General Hospital Kasih Ibu Denpasar in July to September 2017 was 73%. The purpose of this study was to determine differences in the completeness of the document review is based on a retrospective review and concurrent review of the patient's complete medical record file Sectio Caesaria (inpasif action) and pneumonia (by conventional measures) Kasih Ibu Hospital in Denpasar. The type of research used in this research is using quantitative approach method by comparing two (2) population that is Retrospecttive Review and Concurrent Review. The study was conducted on the medical records of Sectio Caesaria patients and on the medical records of patients with Pneumonia. Determination of population is done based on clinical pathways in Kasih Ibu Hospital Denpasar. There is a difference to the completeness of the medical record file between the retrospective review and the concurrent review. The data obtained shows that the number of medical record completeness with concurrent review method is higher than in the retrospective review method. This is because the medical recorder to check the completeness of the file when the patient is still inpatient and provide a sign or note on the file that is not complete so that when the doctor visits it is easier to complete the medical records file
Keywords: Medical File Recordings, Retrospective Review, Concurrent Review
Read More
B-1962
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oman Abdurohman; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Budi Hartono
Abstrak:

Daerah dalam memberi pembiayaan RS masih belum bisa memenuhi dan menutupi kebutuhan operasional rurnah sakit, kenyataan kesanggupan pemerintah untuk menyediakan biaya operasional dan pemeliharaan RS selama ini baru mencapai 50-60 % dari kebutuhan riil. Hal ini secara implisit memberikan gambaran adanya keterbatasan rumah sakit dalam upaya pengembangan kinerja secara optimal. Sementara itu dilain pihak penerimaan yang dihimpun rumah sakit tidak dapat dipergunakan secara langsung untuk mendukung kegiatan rumah sakit karena harus disetorkan ke kas negara. pengelolaan yang di dasarkan kepada PP No.41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah dart Kepres No.40 tahun 2003 tentang pedoman kelembagaan dan pengelolaan rumah sakit daerah, serta PP No.58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, pasal 57 clan 59, Keadaan ini dapat mengakibatkan terpuruknya RS khususnya yang temasuk Lembaga Teknis Daerah dalam pembiayaan operasional. Pemberlakukan pola manajerial Badan Layanan Umum dan Badan Layanan Umum Daerah diharapkan menjadi solusi bagaimana pola pengeloIaan operasional rumah sakit dapat tertata dengan baik. BSC merupakan sistem pengukuran dan pengendalian manajemen yang secara cepat, tepat dan komprehensif mengarahkan performence bisnis, Balanced scorecard adalah suatu alat pengukuran yang diturunkan dari strategi oganisasi dan berfungsi sebagai alat komunikasi dari pimpinan kepada karyawan dan stakeholder untuk mencapai misi dan tujuan, ukurannya mencakup 4 perspektif; perspektif keuangan, perspektif costumer, perspektif proses bisnis intrenal, dan perspektif pemebelajaran Penelitian ini adalah ingin mencoba mengukur bagaimana kinerja RSUD yang telah menerapkan pengelolaan BLUD dan RSUD yang masih menerapkan pengelolaan LTD dengan menggunakan Balanced Scorecard. Jenis penelitian tesis ini adalah penelitian survey analitik, teknik pengambilan data melalui wawancara, pembagian kuisioner dan observasi. Ukuran-ukuran yang menjadi operasionalisasi variabel dalarn tesis ini adalah customer acquisition ,customer retention dan customer satisfaction untuk perspektif pelanggan,pertumbuhan pendapatan, tingkat pengeluaran dan cost recovery rate untuk perspektif keuangan, waktu tunggu, standar kinerja pelayanan dan pasien dirujuk untuk perspektif proses bisnis internal, serta peningkatan kapabilitas pegawai dan kepuasan pegawai untuk perspektif pembelajaran dan perturnbuhan. Dalarn tesis ini dilakukan survey untuk mengukur kepuasan pelanggan dan kepuasan pegawai, untuk kepuasan pelanggan digunakanpuiposive sampling dan untuk survey kepuasan pegawai digunakan teknik Stratified Random Sampling. Sampel pada penelitian ini adalah 100 pasien dan 100 karyawan di dua rumah sakit yakni RSU Tangerang dan RSU Serang sedangkan informan sebagai subjek penelitian ini adalah 10 orang tenaga. Hasil penelitian ini adalah pengelolaan BLUD pada RSU Tangerang sudah menerapkan pola pengelolaan fleksibilitas anggaran dan keuangan, natnun Sebagai instansi yang berada di bawah Pemerintah Daerah RS BLUD Kab. Tangerang meskipun dalam pengeloIaan keuangan intren sudah menggunakan konsep BLU namun secara ekstren masih diwarnai oIeh kebijakan Pemda yang ber corak SKPD atau LTD, pada pengelolaan RSU Serang masih menerapkan konsep instansi birokrasi atau sebagai Lembaga Telmis Daerah /SKPD yang wajib tunduk pada kebijakan daerah datam mengelola keuangannya. Hasil pengukuran dengan Balanced scorecard menunjukan bahwa didapat penilaian RSU Tangerang dari 18 komponen sub dari 4 perspektif BSC maka didapatkan penilaian sebesar sekor 66,6 % jadi menurut penilaian ini RSU Tangerang dalam keadaan kinerja baik ,namun pada penilaian di RSU Serang didapatkan sebesar sekor 50% maka didapatkan penilaian RSU Serang dalam keadaan ldnerja hampir baik. Namun dalam perincian pengukuran ini; di RSU Tangerang di dapatkan sekor kepuasan pasien masih dibawah RSU Serang serta waktu tunggu yang masih cukup lama rata rata pasien menunggu Iebih dari 2 jam untuk mendapatkan pelayanan dokter. Peneliti menyimpulkan bahwa pengeIolaan yang berbeda pada dua konsep pengelelolaan rumah sakit antara konsep BLUD dan LTD ini belum bisa meyebabkan antara keduanya lebih baik pada salah satu pola pengelolaan, disebabkan ada dimensi lain yang mempengaruhinya yakni ; political will Pemerintah Daerah dan Kemampuan Surnber Daya Manusia RS yang mengelola Rumah Sakit itu sendiri.


 

Ability of the Government and the Local Government in providing financing hospitals still can not meet and cover the operational needs of the hospital, the fact the government ability to provide operational and maintenance costs during the hospital has recently reached 50-60% of the real needs. Meanwhile, in other hand, revenue collected by the hospital could not be used directly to support the activities of the hospital due to be deposited into the state treasury. management in base to the PP No.41 of 2007 on Regional and Organization of the Presidential No.40 of 2003 on institutional guidelines and penelolaan derah hospital, and Government Regulation No.58 year 2005 concerning regional finance, bank management, article 57 and 59, this Condition can lead to the collapsed hospital in particular that includes the Regional Technical Institute in operational funding Entry into the pattern of managerial Public Service Board and Local Public Service Board is expected to be the solution for how the pattern of the operational management of the hospital can be ordered with either BSC is a measurement and management control systems that are fast, accurate and comprehensive business performance directs, Balanced scorecard is a measurement tool which is derived from oganisasi strategy and serves as a means of communication from leadership to employees and stakeholders to achieve the mission and objectives, its size includes four perspectives ; financial perspective, customer perspective, intrenal business process perspective, and perspective education. This research is like trying to measure how the performance of hospitals that have implemented BLUD management and management of hospitals that still apply using the Balanced Scorecard LTD. Type of thesis research is an analytical survey research, data collection techniques through interviews, distribution of questionnaires and observation. The sizes of the operationalization of the variables in this thesis are: customer acquisition, customer retention and customer satisfaction for the customer perspective, revenue growth, the level of expenditure and cost recovery rates for the financial perspective, waiting time, performance standards and patient referral services for business process perspective internally, as well as increasing the capability of employees and employee satisfaction for learning and growth perspective. In this thesis, we conducted surveys to measure customer satisfaction and employee satisfaction, customer satisfaction and use of purposive sampling used for employee satisfaction survey technique Random Sampling. The sample in this study were 100 patients and 100 karywan at two hospitals ie RSU RSU Tangerang and Serang, while informants as subjects of this study is 10 workers. The results of this study is the management of the RSU Tangerang BLUD already applying the pattern of budget management and financial flexibility, but as a government agency under the Local Government District Hospital BLUD. Tangerang despite financial management intern already uses the concept of a ekstern BLU but still colored by the local government policy which had shades SKPD or LTD, in Serang Hospital management still apply the concept of bureaucracy or agency as the Regional Technical Institute / SKPD shall be subject to local policies in managing its financial. Results with the Balanced Scorecard measurement showed that the assessment is obtained from 18 RSU Tangerang sub components of the four perspectives of BSC are obtained sekor 66.6% rating so by this assessment Tangerang General Hospital in a state of good performance, but On the assessment at Serang General Hospital found 50% of sekor are obtained in a state assessment Serang General Hospital nearly good performance But the details of this measurement; in RSU Tangerang in getting sekor Hospital patient satisfaction is still under attack as well as waiting times are still long enough average patient waited more than two hours to get a service physicians. Researchers concluded that the management is different on the two concepts pengelelolaan BLUD hospital between concept and there is no known cause LTD of both better management on one pattern, because there are other dimensions that may influence namely, political will and ability of Local Government Human Resources RS Hospital manage itself.

Read More
B-1250
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rivie Rianda Iskandar; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Gatot Soeryo, Haura Karlina
Abstrak: Pelayanan rawat jalan sebagai unit terdepan yang menampilkancitra rumah sakit dan merupakan penyumbang pasien terbesar harusdikelola dengan baik, salah satunya adalah dengan meperbaiki waktutunggunya. Waktu tunggu merupakan salah satu dimensi mutu dalampelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa waktutunggu pelayanan rawat jalan di RSIA Aulia tahun 2014. Penelitiandilakukan dengan metoda penelitian kualitatif dan kuantitatif pada unitrawat jalan, mulai dari pendaftaran, poliklinik, farmasi, dan kasir.Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu pendaftaran rata-rataadalah 8,77 menit saat peak hours dan 7,37 menit saat non peak hours.Lama waktu tunggu poliklinik paling lama adalah pada poliklinik anakdengan waktu tunggu rata-rata 63,82 menit saat peak hours dan 40,27menit saat non peak hours. Waktu tunggu farmasi rata-rata saat peakhours adalah 21,39 menit untuk obat jadi, dan 33,92 menit untuk obatracikan, sedangkan saat non peak hours 17,50 menit untuk obat jadi dan31,23 menit untuk obat racikan. Waktu tunggu pelayanan kasir adalah15,09 menit saat peak hours dan 9,43 menit saat non peak hours.Semua waktu tunggu sudah sesuai Standar Pelayanan Minimaluntuk Rumah Sakit menurut Kepmenkes no.129 Tahun 2008 dan RSkecuali untuk waktu tunggu polilinik. Waktu tunggu dipengaruhi olehbeberapa faktor, yaitu Man, Material, Methode, Mechine, dan Money.Pada poliklinik, waktu tunggu yang lama terutama disebabkan oleh faktorSDM, yaitu ketidakdisiplinan dokter terhadap jam praktek, sehingga hasilpenelitian ini menyarankan kepada managemen untuk menganalisiskembali dan memperbaiki ikatan kerja sama dengan para dokter praktekguna mempersingkat waktu tunggu, sehingga dapat meningkatkan mutupelayanan dimasa yang akan datang.
Outpatient services as the leading unit which displays image of thehospital and the largest contributor to patient must be properly managed,one of which is improving wait-times. Wait-times is one of thedimensions of quality in health care. This research aims to analyze thewait-times in outpatient services at Rumah Sakit Ibu Dan Anak Aulia for2014. This research is using the qualitative and quantitative methods inoutpatient services, starts from registration, polyclinic, pharmacy, andcashier.The results showed that approximate time for registration is 8.77 minutesat peak hours and 7.37 minutes at non peak hours. The longest wait-timesis in the children's polyclinic with approximate wait-times about 63.82minutes at peak hours and 40.27 minutes at non peak hours. Theapproximate wait-times in pharmacy at peak hours is 21.39 minutes forgeneric medicine and 33.92 minutes for personalized medicine, whileapproximate wait times at non peak hours is 17.50 minutes for genericmedicine and 31.23 minutes for personalized medicine. At cashier, theapproximate wait times is 15.09 minutes in peak hours and 9.43 minutesin non peak hours.All wait times is already referred to Minimum standard of services forhospital according to Kepmenkes no. 129/2008 except for the polyclinic'swait times. Wait times is influenced by some factors, consists of man,material, method, machine, and money. At polyclinic, the long wait timesis mainly due to human resources factor, which is indiscipline doctor topractice hours, so the result of this research suggests the management tore-analyze and restore the agreement with the doctors to shorten the waittimes so the quality of service in the future will improve.
Read More
B-1649
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Handi Wijaya; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Syafuddin Zuhri, Amila Megraini
Abstrak:

ABSTRAK Pelaksanaan SPM bidang farmasi Di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Tugu Ibu dipengaruhi faktor input: SDM, jenis pasien, jenis resep, ketersediaan obat, peresepan dokter, sarana dan prasarana, formularium obat, SOP pelayanan resep serta faktor proses pelayanan resep yang meliputi: penerimaan resep dan pemberian harga obat, pembayaran, pengambilan dan peracikan obat, pemberian etiket obat, dan penyerahan obat kepada pasien. Hasil penelitian didapatkan ratarata waktu tunggu pelayanan resep jadi tunai 13,07 menit, resep jadi jaminan 21,36 menit, resep racikan tunai 26,31 menit, resep jadi jaminan 31,28 menit; tidak adanya kejadian kesalahan pemberian obat 100%; kepuasan pelanggan 90,17 %; penulisan resep sesuai formularium 100 %.


 

ABSTRACT The implementation of the minimum service standard in the pharmacy section at Tugu Ibu hospital influenced by input factors: human resources, types of patients, kinds of prescription, availability of medicines, doctor's prescribing, facilities, medicine formulation, prescription service operational standard and the process of prescription service, which includes the acceptance of the prescription and priceing medicines, the payment, the receipt and extraction of medicines, the medicine procedure and medicine delivery to patients. From the research, the average waiting period needed to change a prescription into cash is 13,07 minutes, a prescription into a guaranty 21,36 minutes, medicine extraction into cash 26,31 minutes, a prescription into a guaranty 31,28 minutes; prescription delivery with no mistakes is 100%; customers' satisfaction 90,17%; the accuracy of prescription with medicine formulation 100%.

Read More
B-1423
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive