Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 27233 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yuniar Sukmawati; Pembimbing: Bastaman Basuki; Penguji: Fidiansyah, Bambang Sutrisna, Joedo Prihartono, Sudirman
Abstrak:

LATAR BELAKANG: Di Indonesia faktor yang mempengaruhi terkendalinya gejala putus opiat belum diketahui. Dengan mengetahui faktor-faktor tersebut dapat dipakai untuk prognostik terkendalinya gejala putus opiat, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian hal tersebut.METODE: Penelitian kohor historikal pasien ketergantungan opiat yang dirawat inap di RS Ketergantungan Obat 1 Januari 2000-31 Desmber 2001. Semua pasien wanita (60 orang) yang memenuhi kriteria inklusi diambil, dan pasien laki-laki diambil 130 secara sistematik dari 914 pasien laki-laki yang masuk kriteria inklusi. Analisis data dengan survival analysis menggunakan cox proportional hazard untuk mencari perhitungan pengendalian gejala putus opiat.HASIL: Waktu yang diperlukan untuk terkendalinya gejala putus opiat antara 3 - 16 hari dengan rata-rata 9 hari. Umur terbanyak 21-30 tahun dengan rata-rata 23 tahun. Umur termuda pertama kali menyalahgunakan opiat adalah 12 tahun, lama penyalahgunaan antara 6 bulan sampai 15 tahun, cara pakai sebagian besar (88,4%) menggunakan jarum suntik. Kebanyakan adalah pengangguran (54,2%). Faktor pemberian terapi tidak bermakna secara statistik dalam pengendalian gejala putus opiat. Gender laki-laki lebih mudah terkendali 1,71 kali dibanding gender perempuan (CI 95% 1,17; 2,49; p O,006).KESIMPULAN: Perempuan lebih susah dikendalikan gejala putus opiatnya, oleh karena itu memerlukan perhatian lebih banyak dibandingkan gender laki-laki.Gender and Risk That Can Handle Opiate Withdrawal Syndrome for Opiate Dependency


 

BACKGROUND: Factors can influence opiate withdrawal syndrome in Indonesia there is no detail data. With the most important factor, could be better to manage them especially when they are being hospitalized.METHODS: Cohort historical study about opiate dependence patients who are being hospitalized in Drug Dependence Hospital Jakarta from January 1st  2000 to December 31st 2001.  All the women include in criteria as a sample (60 patients), and 130 male patients as a sample with systematic sampling from 914 patients can include in criteria. Data analysis with the survival analysis, using cox proportional hazard to find number of controlled opiate withdrawal syndrome.RESULTS: The opiate withdrawal syndrome can be controlled in 3 - 16 days and 9 days in average. The range of age is 2151 to 30 years old and 23 years old in average. The youngest age using opiate is 12 years old. The length of abuse is between 6 month to 15 years, using needle is 88,4 %, mostly is jobless (54,2%). Treatment factor is not significant statistically. Men is easier to control, it's about 1,71 times than women (CI 95 % 1,71;2,49, p = 0,006)CONCLUSIONS: Women need more attention to get at the best results opiate withdrawal syndrome.

Read More
T-1377
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Muttaqin; Pembimbing: Yovsyah, Tri Yunis Miko; Penguji: Yongky, Nurhayati Adnand, Riza Sarasvita
Abstrak:

Latar Belakang: Tingginya angka kambuh (relapse) pada para pecandu Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif (Napza) secaxa umum diasumsikan tidak akan berbeda jauh dengan angka relapse pada para pecandu jenis opiat. Masih saja angka relapse terbilang tinggi, bahkan dapat dikatakan penyalahgunaan ulang (relapse) opiat tersebut merupakan penyakit kronik yang berkali-kali muncul. Dari studi Pattison E.M (1980) yang dikutip Hawari (2000) menunjukkan bahwa angka relapse cukup tinggi yaitu 43,9%. Tujuan: Diketahuinya faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan terjadinya relapse pada pasien ketergantungan opiat di RSKO Jakarta tahun 2003-2005, menggunakan data sekunder (data rekam medik pasien). Variabel-variabel yang diteliti yaitu faktor individu (jenis keiamin, tingkat pendidikan, golongan umur, status perkawinan, status pekerjaan, dan status infeksi hepatitis) serta faktor vat (pola punggunaan, lama pakai, cara pakai, iiekuensi pakai, dan kadar Zat). Rancangan Penelitian: Penelitian epidemiologi observasional analitik kasus kontrol. Metode Sampel yang didapatkan 72 kasus dan 84 kontrol, kcmudian dilakukan mndom menggunakan simple random sampling dengan dipilih 72 kasus dan 84 kontrol (1:1). Kasus adalah pasien ketcrgantungan opiat yang menurut catatan dari buku rekam medis; berkunjung berturut-tumt 6 bulan tanpa menggunakan opiat dan kembali berkunjung dcngan keluhan kembali menyalahgunakan opiat, kontrol adalah pasien kctcrganlungzm opiat yang menurut catatan dari buku rekam medik berktmjung berturut- turut 6 bulan tanpa mcnggunkaan opiat dan tetap betkunjung tanpa ada keluhan mcnyalahgunakan opiat. Data dianalisis mengunakan software komputer secara bivariat dan multivariat. Hasil: Variabel yang berhubungan dengan tcrjadinya relapse opiat antara lain tingkat pendidikan, status perkawinan, status hepatitis, lama pakai, dan cara pakai. Sedangkan variabel yang paling dominan adalah status hepatitis, aninya pasien yang menderita hepatitis lebih berisiko untuk relapse dibandingkan pasien yang tidak menderita hepatitis setelah dikontrol variabel lain. Saran: RSKO dapat memberikan pelayanan khusus bagi pasien perempuan serta di bagian rekam rnedik perlu membuat format kajian (pertanyaan) yang lebih lengkap terutama faktor lingkungan sekitar pasien serta penyimpanan data seharusnya sudah menggunakan komputerisasi. Pada pasien diharapkan dapat mengenali diri sendiri terhadap kondisi saat ini sehingga mampu mengatasi hal-hal yang menyebabkan terjadinya relapse. Program studi diharapkan menjadi inisiator penelitian yang lebih mendalam, serta pada peneliti lain diharapkan menyertakan faktor lingkungan dan dilakukan dengan desain kohort prospekryfdengan jumlah sample yang lebih memadai.


 

Background: It is assumed that the high rate on relapse among drugs addictive in general (addicted to narcotics, psychotropic, and other substances/NAPZA) will not be different with the rate of relapse on opiate addictive. However, relapse occurrence on opiate addictive is relatively high and can be said as chronically disease that always relapse and relapse again. Study by E. M. Pattison (1980) cited by Hawari (2000) showed that relapse rate of the opiate is as high as 43.9%. Objective: To Gnd out factors related to the occurrence of opiate relapse among opiate addictive patients at the drugs addiction hospital (RSKO) in .Takana 2003 - 2005. Study is using secondary data of patient's medical record. Variables of the study are consist of individual factors (sex, age, level of education, marriage status, occupational status, and hepatitis infection status); and substance factors (substance use practical pattems, duration of substance use, way of employ, frequency of using, and level of substance concentration). Study Design: The study is an analytic observational epidemiology research that using a case-control design. Method: Sample is achieved by a simple random sampling and it`s comprised of 72 cases and 84 controls (lzl). The case is deiine as an opiate addictive patient, who has record on being clean from opiate for six months, but retuming to RSKO because of opiate relapse. Meanwhile, the control is an opiate addictive patient, who has record on being clean from opiate and visiting RSKO regularly in six months, and still visiting RSKO without any medical problem of being opiate relapse. Data is analyzed by using statistical software on the computer in bivariate and multivariate analysis. Result: Variables related to thc occurrence of opiate relapse are: level of education, marriage status, hepatitis status, the duration of using substance, and the way of employing the substance use. And the most dominant variable is the hepatitis status, which is mean that patient suffer from hepatitis is more likely to be relapse compare to patient without hepatitis, after it controlled by other variables. Suggestion: RSKO can address special services towards female patient. For the medical record unit, there is c need on improving the assessment forms, especially the assessment of factors surrounding the patient?s environment. It is also suggested that patient's data storage is should be computerized. To the patients, it is suggested to be having more self contentment. Therefore, they have the ability to deal with any problems that trigger the occurrence of relapse. To the study program, it is expected that the program could be as an initiator for other intense and profound research, and other researcher should includes the environ factors and using design of prospective cohon with adequate sample size.

Read More
T-2378
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Mediana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10413
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clement Drew; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Evi Martha, Inggariwati, Ernawati
Abstrak: Penyakit COVID-19, yang etiologinya adalah virus korona SARS-CoV2, telah menjadi pandemi dan masuk ke Indonesia sejak Maret 2020. Virus ini menyerang sistem pernapasan tubuh dan menyebabkan kematian melalui mekanisme gagal napas. Indonesia memasuki tahun 2021 di peringkat ke-20 sedunia dalam jumlah kasus konfirmasi positif terbanyak, yakni dengan jumlah sebesar 751,270 kasus dan 22,329 kematian. Pemerintah Indonesia merespon dengan mengeluarkan berbagai kebijakan upaya preventif seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), 3M dan 3T. Namun angka kejadian dan kematian akibat COVID-19 masih terus meningkat. Penting untuk dapat ditelusuri faktor resiko yang dapat meningkatkan resiko kematian pasien positif COVID-19 dan bagaimanakah respon kepatuhan masyarakat akan implementasi upaya preventif yang dilakukan oleh pemerintah. Penelitian ini menelusuri efek dari usia lanjut (>=60 tahun), jenis kelamin, adanya gejala saluran pernapasan, gejala luar saluran pernapasan, riwayat komorbid seperti diabetes mellitus, hipertensi, gagal ginjal kronik, gangguan hati kronik, penyakit paru obstruktif kronik dan obesitas dengan analisis kohort retrospektif. Data analisis diperoleh dari penelusuran epidemiologis (PE) oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi DKI Jakarta di lima wilayah DKI Jakarta sejak bulan Maret - September 2020. Sedangkan untuk respon kepatuhan masyarakat akan dinilai dari sudut pandang petugas kesehatan, yakni dengan diskusi kelompok bersama petugas Sudinkes dan puskesmas lima wilayah DKI Jakarta. Dari 35,463 sampel data PE Dinkes, diketahui ada 1017 kematian (2.87%). Analisis multivariat regresi logistik menunjukan bila usia lanjut (>=60 tahun) meningkatkan RR kematian sebesar 6.736 (95% IK 5.538 - 8.193), jenis kelamin laki-laki sebesar 1.305 (95% IK 1.113 - 1.529), adanya gejala saluran pernapasan sebesar 2.563 (95% IK 2.034 - 3.229), adanya gejala luar saluran pernapasan sebesar 2.485 (95% IK 1.965 - 3.142), riwayat gagal ginjal kronik sebesar 3.227 (95% IK 2.154 - 4.834), adanya riwayat hipertensi sebesar 4.396 (95% IK 3.196 - 6.047) dan riwayat diabetes mellitus sebesar 4.415 (95% IK 2.846 - 6.849). Persepsi petugas kesehatan akan kepatuhan masyarakat adalah seragam di lima wilayah, yakni kepatuhan dinilai baik pada masa awal pandemi dan semakin melonggar seiring berjalannya waktu. Hambatan yang ditemui pada umumnya berakar dari kurangnya pengetahuan masyarakat akan penyakit COVID-19 dan bagaimana untuk mencegahnya. Berdasarkan hasil penelitian ini, didapatkan bila usia lanjut, jenis kelamin, gejala saluran pernapasan, gejala luar saluran pernapasan, riwayat hipertensi, diabetes mellitus dan gagal ginjal kronik meningkatkan resiko mortalitas pasien positif COVID-19 di DKI Jakarta. Selain itu kepatuhan masyarakat dinilai petugas kesehatan semakin melonggar, sehingga upaya preventif primer yang dilakukan pemerintah perlu diperdalam dengan menjangkau dengan dialog kelompok-kelompok yang masih tidak patuh
Read More
T-6101
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agus Gunadi; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Helda
Abstrak:
Secara alamiah ditemukan bahwa semakin lama pasien menjalani hemodialisis maka semakin besar pula risiko untuk mengalami gejala gagal jantung, tetapi hal ini masih menjadi hal yang patut untuk diselidiki teutama pada pasien yang memilki komorbid Hipertensi dan/atau diabetes serta non lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan gejala gagal jantung pada pasien hemodialisis kurang dari 1 tahun dibanding 1 hingga 5 tahun, non-lansia dengan diabetes mellitus tipe 2 dan hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain Cross-Sectional yang melibatkan 198 pasien hemodialisis di RS Medika BSD, Tangerang Selatan. Pengumpulan data primer diambil pada Juni 2022 dari rekam medis pasien hemodialisis. Risiko gejala gagal jantung 1,37 kali pada pasien dengan lama hemodialisis kurang dari 1 tahun dibandingkan dengan pasien dengan lama hemodialisis 1 hingga 5 tahun (PR 1,37, 95% CI 1,06 – 1,76). Sedangkan pada pra-lansia menunjukkan tidak terdapat asosiasi antara gejala gagal jantung pada pasien dengan lama hemodialisis kurang dari 1 tahun dibandingkan dengan pasien dengan lama hemodialisis 1 hingga 5 tahun (PR 0,975, 95% CI 0,83 – 1,14). Penelitian selanjutnya diharapkan dapat melibatkan data Ekokardiografi hingga biomarker jantung lainnya untuk memastikan bahwa gejala gagal jantung yang muncul pada pasien hemodialisis, merupakan manifestasi klinis dari masalah kardiovaskular dan bukanlah gejala gagal ginjal pada tahap awal. Kata kunci: hemodialisis, gejala gagal jantung.

Naturally, it was found that the longer the patient underwent hemodialysis, the greater the risk for experiencing symptoms of heart failure, but this is still something that deserves to be investigated, especially in patients who have comorbid hypertension and/or diabetes as well as non-elderly. This study aimed to determine differences in symptoms of heart failure in hemodialysis patients less than 1 year old compared to 1 to 5 years, non-elderly with type 2 diabetes mellitus and hypertension. This study was a quantitative study with a cross-sectional design involving 198 hemodialysis patients at Medika Hospital BSD, South Tangerang. Primary data collection was taken in June 2022 from medical records of hemodialysis patients. The risk of heart failure symptoms was 1.37 times in patients with hemodialysis duration of less than 1 year compared to patients with 1 to 5 years of hemodialysis (PR 1.37, 95% CI 1.06 – 1.76). While the pre-elderly showed no association between symptoms of heart failure in patients with hemodialysis duration of less than 1 year compared to patients with hemodialysis duration of 1 to 5 years (PR 0.975, 95% CI 0.83 – 1.14). Future study is expected to involve echocardiographic data to other cardiac biomarkers to ensure that the symptoms of heart failure that appear in hemodialysis patients, are clinical manifestations of cardiovascular problems and not symptoms of kidney failure in the early stages. Keywords: hemodialysis, heart failure symptoms.
Read More
T-6452
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rico Januar Sitorus; Promotor: Ratna Djuwita; Ko-Promotor: Sabarinah B. Prasetyo, Siti Dharmayati B. Utoyo; Penguji: Nuning MK. Masjkuri, Asri C. Adisasmita, Syahrizal Syarif, Hartati Kurniadi, Evi Martha
Abstrak: Penyalahgunaan narkotika merupakan masalah kesehatan yang sangat penting di seluruh dunia yang dapat mengakibatkan ketergantungan, kerugian ekonomi, kerugian kesehatan dan dampak sosial. Di Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, penyalahgunaan narkotika dari tahun ke tahun tetap tinggi. Angka yang pernah menggunakan narkotika di populasi diperkirakan sebesar 2,4 % dengan laki-laki jauh lebih besar daripada perempuan. Berdasarkan kelompok umur, prevalensi penyalahguna narkotika yang paling tinggi pada kelompok usia kelompok usia 20-29 tahun sebesar yaitu 4,41 % sedangkan yang paling rendah pada kelompok usia di atas 40 tahun sebesar 1,06 %. (BNN, 2012). Penelitian ini bertujuan mengetahui efek tahapan rehabilitasi melalui skor rata-rata self efficacy sebelum mengikuti komunitas terapeutik dibanding dengan sesudah mengikuti komunitas terapeutik pasien ketergantungan narkotika. Penelitian ini menggunakan desain before and after yang bersifat longitudinal, dimana pengukuran terhadap outcome dilakukan beberapa kali (berulang). Pada penelitian ini pengukuran terhadap self efficacy dilakukan sebanyak empat kali.
 
 
Hasil penelitian ini membuktikan ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik dibanding dengan skor rata-rata self efficacy sesudah komunitas terapeutik, nilai p = 0,014 < (α ; 0,05). Pasien telah menjalani tahapan komunitas terapeutik selama dua bulan atau 60 hari. Pada tahapan komunitas terapeutik selama satu bulan pertama, terlihat bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy bila dibandingkan dengan skor rata-rata self efficacy sebelum komunitas terapeutik, p value 0,25 > (α ; 0,05), tetapi pada komunitas terapeutik bulan kedua terlihat ada perbedaan yang bermakna skor rata-rata self efficacy dibandingkan dengan sebelum komunitas terapeutik, nilai p = 0,005 < (α ; 0,05). Dari peningkatan skor rata-rata self efficacy, terbukti bahwa program ini bermanfaat bagi pasien dengan ketergantungan narkotika yang akan menjalani rehabilitasi dengan menjalani program minimal 60 hari atau dua bulan.
 

 
Drug abuse is a very important health problem worldwide which can lead to dependence, economic loss, loss of health and social impacts. In Indonesia as a developing country, drug abuse over the years remains high. Figures ever using drugs in a population is estimated at 2.4% with males much larger than females. By age group, the prevalence of drug abusers is highest in the age group of 20-29 years age group is 4.41% while the lowest in the age group above 40 years amounted to 1.06%. (BNN, 2012). This study aims to determine the effect of the rehabilitation phase through an average score of self-efficacy before following therapeutic communities compared with patients after participating in a therapeutic community drug dependence. The design of this study before and after that is longitudinal, where the measurement of the outcome done several times (repeated). In this study, measurement of self-efficacy was done four times.
 
 
The results of this research prove there were significant differences in mean score before the self efficacy of therapeutic communities compared with an average score of self-efficacy after therapeutic communities, p value 0.014 < (α; 0.05). Patients had undergone stages of therapeutic communities for two months or 60 days. At the stage of therapeutic communities during the first month, it appears that there are no significant differences of mean score of self-efficacy when compared to the average score of self-efficacy prior to therapeutic communities, p value 0.25 > (α; 0.05), but the therapeutic communities in both show no significant differences mean score of self-efficacy compared to prior therapeutic communities, p value 0.0005 <(α; 0.05). The increase in the average score of self-efficacy, proved that this program is very beneficial for patients with drug addiction which will undergo a program of rehabilitation with a minimum of 60 days or two months.
Read More
D-323
Depok : FKM-UI, 2015
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Soitawati; pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah; penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, IBN Banjar, Nurjanah
Abstrak:
Penyalahgunaan narkoba merupakan masaiah nasional bahkan mendunia. Hal ini ditandai dengan meningkatnya studi tentang penyalahgunaan narkoba, Berbagai studi didapatkan adanya peningkatan penyalahgunaan narkoba hiata BNN (2007) sekitar l,5% penduduk Indonesia teijerat narkoba dirnana narkoba suntik merupakan cara penggunaan narkoba kedua terbanyak, sedangkan DKI Jakarta merupakan daerah paling rawan clibandingkan provinsi lainnya. Masalah terkait dengan narkoba suntik adalah masalah kesehatan temmasuk kematian dan keoelakaan, rnasalah sosial dan huklun. Masalah kesehatan pada pengguna narkoba suntik (penasun) yaitu pcnularan penyakit HIV/AIDS yang didapatkan 50-60% positif pada penasun, hepatitis B sckitar 25-35%, sedangkan hepatitis C sekitar 70-95% positif pada penasun. Strategi utama dalam penanggulangan narkoba yaitu Supplcga reduction, Demand Reduction dan Harm Reduction dimana PTRM mcrupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak btuuk akibat penggunaan narkoba suntik. Angka drop out di puskesmas satelit PTRM rata~rata menunjukkan > 45% (indicator < 45%). Hal ini menjadi masalah karena penasun yang putus akan kembali menggunakan narkoba suntik dan meningkatkan kerentanan terhadap HIV/AIDS dan hepatids, selain itu kebErhasiian PTRM akan menurun karena prosedur dan dosis obat dimulai lagi dari awal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi putus berobat pasien penasim di klinik PTRM Puskesmas Kec Jatinegara dan Puskesmas Kee Gambit tahun 2007-2008, dengan tujuan khusus mengetahui dan mendapatkan model yang sesuai untuk menggambarkan hubungan faktor predisposisi (umur, sex, pendidikan, pekerjaan, marital, sikap dan pengetahuan), faktor pendukung (dukungan keluarga/teman dan aksesibilitas) serta faktor kebutuhan pelayanan kesehatan (gejala putus obat) dengan putus berobat. Ruang Iingkup studi ini adalah studi observasi dengan disain kasus kontrol, data kasus dan kontrol berdasarkan data registrasi pasien sedangkan data pajanan didapatkan dengan wawancara menggimakan kuesioner. Metodologi studi ini merupakan studi retrospektif dengan disain kasus konirol. Popuiasi studi adalah pasien penasun yang berobat di ldinik PTRM Puskesmas Kec Jatinegara dan Puskesmas Kee Gambir tahun 2007-2008, sedangkan sampel adalah populasi studi yang terpilih dengan memperlirnbankan kriteria inklusi dan eksklusi dengan jumlah sampel kasus 156 dan kontrol 156 (ratio 1:l), pengambilan sampel bcrdasarkan proporsi kasus di kedua lokasi. Kasus adalah pasien yang putus berobat (tidak minum metadon minimal 7 hari berturut-turul) sedangkan kontrol adalah pasien yang teratur berobat, baik kasus maupun kontrol diambil secara acak sederhana. Analisis data dilakukan secara multivariate dengan mulriple Iogislic regression. Hasil penelirjan ini didapatkan variabel jenis kelamin (p 0.003 dan OR 13.184, CI 95% l.491- 6.800), pengetahuan (p 0.027 dan OR l.729, CI 95% 1.064-2.812), dukungan keluarga/teman (p 0.000 OR 2.704, CI 95% 1.664 -4396) dan aksesibilitas (aksesibilitas rendah p 0.007 OR 3.656, CI 95% 1.790-7.468 dan aksesibilitas sedang (p 0.000 OR 2293, CI 95% 1,258 - 4.l77). Studi ini rnemberikan rekomendasi yaitu meningkatkan lcualitas dan kuantitas sarana pclayanan kesehatan yang menyelenggarakan PTRM, memberikan penyuluhan tentang PTRM pada masyarakat dan mengingatkan untuk senantiasa memberi dukungan pada pasien PTRM terutarna pada laki-Iaki, saran penelitian lebih Ianjut adalah meneliti survival time dan faktor lain yang bclum dileliti pada studi.

Drugs abuse had been a national concerned problem further more it had been global concerned recently. There are many researches about drugs abuse concluded that drug users increased about five times. According to National Narkotics Organization (BNN), in 20071 there are l,5% population in Indonesia was a drug users that intravenous/injecting was the second most ways among dru users. In addition. DKI Jakarta is the highest risk province regard to drug users among provinces in Indonesia. Drugs abuse can lead many problems that consist of health problems including deaths and accidents, socials dan laws. Health problems among IDUs such as spread of HIV/AIDS that about 50-60% positive& hepatitis B about 25-35% positively and hepatitis C that positivebf among IDUs about 70-95%, The main strategies for controlling drugs abuse are Supply reduction, Demand reduction and Harm reduction which Methadone Maintenance Therapy (MJT) Programme was one of ejorts to reduce harm of drugs abuse. There are drop out rate in Satelite Primary Health Centre > 45% that indicators for assessing successfully .MMT Programme such as drop out rate < 45%. Regard to that, susceptible of IDUs was increasing because of back to using drug injecting in addition that caused failure in MMT Programme. susceptible of ID Us was increasing because of back to using drug injecting in addition that caused failure in MMT programme. This study aimed to understand factors related to MMT drop out among IDUs in Jatinegara Primary Health Centre West Jakarta and Gambir Primary Health Centre, Central Jakarta in 2007-2008, particularly predisposing factors (age, gender, education, marital, working status, knowledge, and attitude), enabling factors (familv/companions support and accessibility) as well as needsjllctor (withdrawl symptoms). This study design is case control with 156 cases and 156 controls (l:1). Cases were patients on MMT that dqined not drink methadone for 7 days consecutivelyg controls were patients on MMT that regular drink methadone daily in the same period All of both selected by siniple random sampling. Data were analyzed in multivariate ways by multiple logistic regession. This study result shows that gender (p 0.003 OR 3. 184, CI 95% ].49l- 6. 800). knowledge (p 0. 027 OR l. 729, C1 95% 1.064-2.812), familieshzeers group support Q 0.000 OR 2. 704, CI 95% 1.664 -4.396) and accesibiliqy (low accesibility 0.007 ()R 3. 656, CI 95% 1.790-1468 and moderate accesibility p 0.000 OR 2.293, CI 95% 1.258 - 4.1 77) are related to MMT drop out among ID Us in Jatinegara Primary Health Centre West Jakarta and Gambir Primary Health Centre, Central Jakarta in 2007-2008. This study recommended to government to increase MMT programme in other primary health services including quantity and quality of services, to announce information and education regard to MMT to public, to warn jbr supporting patients in MMT particularly supporting be conducted for males. In addition, other research to be conducted by survival time and other factors that related to MMT.
Read More
T-3059
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tirta Darmawan Susanto; Promotor: Asri C. Adisasmita, Kopromotor: Suzy Yusna Dewi; Penguji: Purwantyastuti Ascobat, Allen Widysanto, Martina Wiwie S. Nasrun, Nicolaski Lumbuun, Erlina Burhan, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Latar Belakang: TB tercatat sebagai salah satu penyakit yang mematikan. Angka kejadian multidrug-resistant Tuberculosis (MDR-TB) di dunia juga masih cukup tinggi. Kejadian putus obat pada MDR-TB lebih tinggi dibandingkan dengan kejadian putus obat pada TB sensitif obat. Psikopatologi dan perilaku merupakan salah satu penghalang utama kepatuhan terhadap pengobatan. Mindfullness therapy merupakan bagian dari cognitive – behavioural therapy yang menggunakan pendekatan pencegahan psikologis. Mindfullness therapy diharapkan dapat menurunkan angka putus obat pada pasien yang mendapat regimen terapi MDR - TB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efikasi klinis metode mindfulness therapy dalam menurunkan kejadian putus obat pada pasien- pasien yang mendapat regimen terapi MDR TB disertai analisis terhadap biaya yang diperlukan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian single blind randomized controlled trial. Subyek penelitian adalah pasien – pasien penderita TB paru yang mendapat regimen terapi MDR-TB bulan pertama dan berobat ke poliklinik MDR di Rumah Sakit Umum Drajat Prawiranegara Serang dan Rumah Sakit Umum Tangerang Selatan, Banten. Pasien – pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dikelompokkan ke dalam dua kelompok yaitu kelompok A(kelompok metode mindfulness therapy) dan kelompok B (kelompok konsultasi biasa sebagai kontrol) secara random permuted blocks random allocation. Karakteristik dasar subyek penelitian, tingkat gejala depresi, tingkat gejala kecemasan, dan kualitas hidup pada tiap pasien diukur pada awal pelaksanaan penelitian. Tingkat depresi, tingkat kecemasan, dan kualitas hidup pada tiap pasien diukur ulang setiap bulan hingga total setiap pasien didapatkan data 5 kali pengukuran. Intervensi berupa metode mindfulness therapy dan konsultasi biasa akan diberikan satu bulan sekali secara berkelompok hingga setiap pasien akan mendapat intervensi sebanyak 4 kali. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis bivariat t test ¬ dan chi square kemudian akan dilanjutkan dengan analisis multivariat logistic regression multivariate. Number needed to treat (NNT) dihitung, dan analisis ekonomi akan dilakukan dengan menghitung incremental cost effectiveness ratio (ICER). Hasil: Subyek penelitian pada penelitian ini berjumlah 106 pasien penderita TB paru yang mendapat regimen terapi MDR – TB yang terdiri atas 65 pasien pria dan 41 pasien wanita. Pada analisis bivariat ditemukan bahwa variabel yang ix memiliki hubungan dengan kejadian putus obat adalah usia (p = 0,034), status terapi (p = 0,001) dan kehadiran pertemuan (p = 0,001). Metode metode mindfulness therapy tidak mempengaruhi kejadian putus obat secara statistik (p = 0,440), namun berpengaruh secara klinis. Pada analisis multivariat ditemukan bahwa hanya variabel jumlah pertemuan yang dihadiri yang memiliki hubungan dengan kejadian putus obat dengan p = 0,016 dan relative risk (RR) sebesar 0,1. Selain itu, didapatkan pula bahwa tingkat gejala depresi dan skor indeks depresi antara kelompok A dan kelompok B setelah selesai terapi fase intensif berbeda bermakna dengan nilai p = 0,012 dan p = 0,015. Skor indeks kecemasan antara kelompok A dan kelompok B setelah selesai terapi fase intensif juga menunjukkan berbeda bermakna dengan nilai p = 0,040. Perhitungan Number Needed to Treat (NNT) menunjukkan bahwa perlu dilakukan metode metode mindfulness therapy terhadap 20 pasien penderita TB paru yang mendapat regimen terapi MDR TB fase intensif untuk dapat mencegah putus obat pada 1 orang pasien. Total biaya ideal yang diperlukan untuk melaksanakan 4 kali metode metode mindfulness therapy terhadap 50 pasien adalah sebesar Rp 72.421.667,- dan biaya satuan ideal per kasus tidak putus obat pada metode mindfulness therapy adalah sebesar Rp 1.508.785,- per kasus tidak putus obat. ICER untuk penurunan angka gejala depresi berat dengan dilakukannya mindfullness therapy bila dibandingkan dengan konsultasi biasa adalah sebesar Rp 299.625,- Kesimpulan: Metode mindfulness therapy belum dapat menurunkan angka putus obat yang bermakna secara statistik namun, bermakna secara klinis pada penderita TB paru yang mendapat regimen terapi Multi Drug Resisten Tuberculosis (MDR TB) fase intensif. Akan tetapi metode mindfulness therapy pada penelitian ini dapat menurunkan gejala depresi dan skor kecemasan secara bermakna dan biaya satuan ideal per kasus tidak putus obat pada metode mindfulness therapy adalah sebesar Rp 1.508.785,- per kasus tidak putus obat Kata Kunci Metode mindfulness therapy , putus obat, Multi Drug Resisten Tuberculosis, depresi, kecemasan, analisis ekonomi.
Background: TB is listed as one of the deadliest diseases. The number of multidrug-resistant tuberculosis (MDR-TB) in the world is also still quite high. The incidence of drug withdrawal in MDR-TB is higher than the incidence of drug withdrawal in drug sensitive TB. Psychopathology and behavior is one of the main barriers to adherence to treatment. Mindfulness therapy method is part of cognitive - behavioral therapy that uses a psychological prevention approach. Mindfulness therapy method is expected to reduce the rate of drug withdrawal in patients receiving MDR-TB treatment regimens. This study aims to determine the clinical efficacy of mindfulness therapy method in reducing the incidence of drug withdrawal in patients receiving TB MDR therapy regimens along with an analysis of the costs involved. Method: This study is an experimental study with a single blind randomized controlled trial research design. The subjects of the study were patients with pulmonary TB who received the first month MDR-TB therapy regimen and went to the MDR polyclinic at Drajat Prawiranegara Serang General Hospital and South Tangerang General Hospital, Banten. Patients who met the inclusion and exclusion criteria were grouped into two groups namely group A (the mindfulness therapy group) and group B (the usual consultation group as a control) by random permuted blocks random allocation. The basic characteristics of the study subjects, the level of depression, anxiety level, and quality of life in each patient were measured at the beginning of the study. Depression level, anxiety level, and quality of life in each patient were remeasured every month until the total of each patient was obtained 5 times the measurement data. Interventions in the form of mindfulness therapy method and regular consultation will be given once a month in groups so that each patient will get intervention 4 times. The data obtained were analyzed by bivariate t-test analysis and chi square will then proceed with multivariate analysis of multivariate logistic regression. Number needed to treat (NNT) is calculated, and economic analysis will be performed by calculating the incremental cost effectiveness ratio (ICER). xi Universitas Indonesia Results: The study subjects in this study were 106 patients with pulmonary TB who received MDR-TB therapy regimen consisting of 65 male patients and 41 female patients. In the bivariate analysis it was found that the variables that had a relationship with the incidence of drug withdrawal were age (p = 0.034), therapeutic status (p = 0.001) and attendance in the sessions (p = 0.001). Mindfulness therapy method did not affect the incidence of drug withdrawal statistically(p = 0.440) but affected clinically. In multivariate analysis, it was found that only meeting attendance variables were associated with drug withdrawal events with p = 0.016 and relative risk (RR) 0.1. In addition, it was also found that the level of depression symptoms and depression index scores between groups A and group B after the completion of the intensive phase of therapy were significantly different with p = 0.012 and p = 0.015. Anxiety index score between group A and group B after the completion of intensive phase therapy also showed a significantly different value of p = 0.040. Calculation of Number Needed to Treat (NNT) shows that it is necessary to do mindfulness therapy method to 20 patients with pulmonary TB who receive intensive phase MDR TB therapy regimen in order to be able to prevent drug withdrawal in 1 patient. Total ideal cost needed for implementing 4 times mindfullness therapy to 50 patients is Rp 72.421.667,- and ideal unit cost per not withdrawal case in mindfulness therapy method group is Rp 1.508.785. ICER for decreasing number of patients with severe depression symptoms by doing mindfulness therapy method when compared to usual consultation is Rp. 299,625, Conclusion: Mindfulness therapy method has not been able to significantly reduce the rate of drug withdrawal statistically but able to reduce clinically in patients with pulmonary TB who are on the intensive phase of Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR TB) regimen. However, mindfulness therapy method in this study can significantly reduce depression symptoms and anxiety scores. Ideal unit cost per not withdrawal case in mindfulness therapy method group is Rp 1.508.785. Keywords Mindfulness therapy method, drug withdrawal, Multi Drug Resistant Tuberculosis, depression, anxiety, economic analysis.
Read More
D-430
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizky Fajar Meirawan; Promotor: Sudarto Ronoatmodjo; Kopromotor: Tri Yunis Miko Wahyono, Agnes Kurniawan; Penguji: Besral, Ede Surya Darmawan, Mondastri Korib Sudaryo, Budi Haryanto, Evy Yunihastuti, Umi Cahyaningsih,
Abstrak:

Pendahuluan : Serologi positif IgG mengindikasikan infeksi kronis dari Toxoplasma gondii. Perilaku seksual dianggap sebagai faktor risiko infeksi Toxoplasma gondii, karena adanya temuan keberadaan parasit ini pada cairan semen dan ejakulasi. Hal ini menjadi landasan dalam menjelaskan hubungan infeksi T. gondii dengan hubungan seks oral. Selain itu, infeksi parasit ini berhubungan dengan konsumsi bahan pangan asal hewan, khususnya daging ternak ruminansia yang dimasak dengan tidak matang. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko dan merancang model prediksi serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV/AIDS yang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi yang mendapatkan pendampingan dari yayasan pendamping pasien HIV/AIDS. Metode Penelitian : Desain studi penelitian menggunakan desain potong lintang. Subyek Penelitian adalah 197 pasien HIV. Status serologi IgG positif Toxoplasma gondii diukur menggunakan pemeriksaan ELISA. Hubungan seks oral, hubungan seks anal, konsumsi bahan pangan asal hewan yang dimasak tidak matang (daging ternak ruminansia, daging unggas, ikan dan udang, seafood), konsumsi sayuran mentah, pemeriksaan Toxoplasma gondii pada kucing peliharaan, keberadaan feses kucing di sekitar rumah, kebiasaan tidak mencuci tangan setelah kontak dengan tanah, dan kepemilikan tato merupakan perilaku dan kondisi lingkungan yang diduga menjadi faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii. Hasil Penelitian: Prevalensi serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV yang menjalani terapi ARV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi yang mendapatkan pendampingan dari 4 yayasan pendamping pasien HIV/AIDS adalah 65,48%. Hubungan seks oral (aPR:1,56; β:0,446; 95%CI:1,05-2,31;p<0,026) dan konsumsi daging ternak ruminansia bakar (aPR:4,89; β:1,585; 95%CI:2,51-9,50;p<0,001) merupakan faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii. Analisis permodelan menghasilkan model Prediksi Serologi IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV yang menjalani terapi ARV dan mendapatkan pendampingan dari 4 yayasan pendamping pasien HIV di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi. Status serologi tersebut dapat diukur menggunakan pengamatan hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar. Model ini memiliki tingkat akurasi, sensitivitas, dan spesifisitas model prediksi ini mencapai 87,31%, 97,67%, dan 67,65%. Kesimpulan : Hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar merupakan faktor risiko serologi positif IgG Toxoplasma gondii pada pasien HIV/AIDS. Proses penapisan (screening) untuk memperkirakan status serologi IgG Toxoplasma gondii, dapat dilakukan dengan mengukur hubungan seks oral dan konsumsi daging ruminansia bakar, bersamaan dengan pemeriksaan HIV. Rujukan pemeriksaan serologi Toxoplasma gondii direkomendasikan untuk diberikan kepada pasien HIV/AIDS yang berhubungan seks oral dan mengonsumsi daging ruminansia bakar. Keywords : Toxoplasma gondii; hiv; sexual behaviour; risk factor; prediction model


 

Introduction: IgG-positive serology indicates Toxoplasma gondii chronic infection. Sexual behaviour is considered a risk factor for Toxoplasma gondii infection, due to the presence of this parasite in semen and ejaculate fluids. This finding explains the relationship between T. gondii infection and oral sex. Several studies stated that parasitic infection is related to the consumption of food of animal origin, especially ruminant livestock meat that is undercooked. Research Objectives: This study aims to determine risk factors and design a positive Serology Prediction Model for IgG Toxoplasma gondii in HIV/AIDS patients undergoing ARV therapy in the Jakarta, Bogor, Depok, Bekasi areas who receive assistance from HIV/AIDS foundations. Research Method: The design of this study uses a cross-section design. The research subjects were 197 HIV patients. The Serological Status of IgG positive for Toxoplasma gondii was measured using an ELISA methods. Oral sex, anal sex, consumption of food from undercooked animals (ruminant meat, poultry, fish and shrimp, seafood), consumption of raw vegetables, health monitoring in pet cats, the presence of cat faces around the house, the habit of not washing hands after contact with the ground, and the possession of tattoos are behaviours and environmental conditions that are suspected to be risk factors for positive serology IgG Toxoplasma gondii. Results: The prevalence of IgG Toxoplasma gondii positive serology in HIV patients undergoing ARV therapy in the Jakarta, Bogor, Depok, and Bekasi areas who received assistance from 4 HIV/AIDS patient companion foundations was 65.48%. Oral sex (aPR: 1.56; β: 0.446; 95%CI: 1.05-2.31; p<0.026) and consumption of grilled ruminant livestock (aPR: 4.89; β: 1.585; 95%CI: 2.51-9.50; p<0.001) is a positive serological risk factor for IgG Toxoplasma gondii. The modelling analysis produced a Serological Prediction model of IgG Toxoplasma gondii in HIV patients undergoing ARV therapy and received assistance from 4 HIV patient assistance foundations in the Jakarta, Bogor, Depok, and Bekasi areas. The serologic status can be measured using observation of oral sex and consumption of grilled ruminant meat. This model has the level of accuracy, sensitivity, and specificity of this prediction model reaching 87.31%, 97.67%, and 67.65%. Conclusion: Oral sex and consumption of grilled ruminant meat are risk factors for IgG Toxoplasma gondii positive serology in HIV/AIDS patients. The screening process to estimate the serological status of IgG Toxoplasma gondii can be done by measuring oral sex and consumption of grilled ruminant meat, along with HIV screening. Toxoplasma gondii serology test is recommended to be given to HIV/AIDS patients who have oral sex and consume grilled ruminant meat. Keywords : Toxoplasma gondii; HIV; sexual behaviour; risk factor; prediction model

Read More
D-571
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive