Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34325 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Berkala Ilmu Kedokteran (BIK), Vol.34, No.4, 2002, hal. 201-206. ( ket. ada di bendel 2001- 2002 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sinta Sasika Novel ... [et al.]
CDK Vol.38, No.5 (2011)
Jakarta : Kalbe Farma, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Widyorini Lestari Hardjolukito Hanafy; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Bambang Dwipoyono, Sukwan Handali; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratna Djuwita, Syahrul Rauf, Primariadewi Rustamadji, M. Soemanadi
Abstrak:
Latar belakang: Kanker serviks masih menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, dengan perkiraan 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian setiap tahun. Di Indonesia, kanker serviks adalah masalah kesehatan utama, dengan 9,2% wanita diperkirakan menderita kanker serviks pada tahun 2020. Meskipun telah dilakukan histerektomi radikal, tingkat kekambuhan pada kanker serviks stadium awal (IA2-IIA2) tetap tinggi, sekitar 20-30% dalam tiga tahun pertama pasca pengobatan. Hal ini menunjukkan kemungkinan keterlibatan faktor prognostik lainnya, seperti genotipe DNA Human Papillomavirus (HPV) dan viral load HPV, yang belum dipelajari secara ekstensif pada kanker serviks stadium awal di Indonesia. Tujuan: Mengetahui genotipe HPV dan viral load HPV sebagai faktor prognostik untuk kekambuhan pada pasien kanker serviks dengan stadium IA2-IIA2. Metodologi: Studi ini memakai desain kohort retrospektif, dengan data dari rekam medis di Rumah Sakit Kanker Dharmais dari 2014-2019. Populasi studi adalah pasien kanker serviks stadium IA2-IIA2 yang menjalani histerektomi radikal dan limfadenektomi. Analisis molekuler untuk genotipe HPV dan viral load dilakukan pada tumor primer dan kelenjar getah bening (KGB). Analisis data melibatkan univariat, bivariat (Kaplan-Meier dan regresi Cox), dan analisis multivariat untuk menilai disease-free survival (DFS) dan mengidentifikasi faktor prognostik kekambuhan. Hasil: Sebagian besar pasien kanker serviks stadium IA2–IIA2 memiliki HPV16/18 pada tumor primer (75,9%) maupun KGB (66,5%), kelompok HPV unknown ditemukan sebanyak 18,2% dan 25,6%. Pada tumor primer (n=121), mayoritas HPV16/18 memiliki viral load tinggi (88,3%), sedangkan tipe non-16/18 umumnya rendah (79,4%); pola serupa terlihat pada kelenjar getah bening (84,2% dan 78,6%). Koinfeksi HPV16 dan 18 menunjukkan kecenderungan risiko lebih tinggi (aHR=1,79; 95%=CI 0,29–10,66). Pada kelompok non-metastasis KGB (n=82), koinfeksi 16 dan18 juga meningkatkan risiko kekambuhan (cHR 5,39; 95% CI 1,09–26,74; aHR 3,54; 95% CI 0,70–17,87). Infeksi HPV ganda merupakan faktor prognostik independen terkuat, meningkatkan hazard kekambuhan 4 kali lipat (95% CI 1,82–9,04) dan bahkan 6,63 kali pada subkelompok non-metastasis KGB (95% CI 1,71–25,69). Analisis stratifikasi menunjukkan kecenderungan tumor infiltrating lymphocytes (TILs) keras menurunkan efek genotipe dan viral load terhadap kekambuhan (log-rank p=0,046), namun belum dapat dipastikan sebagai efek modifikasi karena keterbatasan ukuran sampel. Kesimpulan: Temuan studi ini menyoroti pentingnya pemeriksaan genotipe HPV, terutama pada pasien yang ditemukan infeksi ganda, dan evaluasi komponen TILs sebagai panduan strategi tatalaksana klinis untuk pasien kanker serviks stadium awal.

Background: Cervical cancer remains a significant global health problem, with an estimated 660,000 new cases and 350,000 deaths annually. In Indonesia, cervical cancer is a major health burden, with 9.2% of women estimated to be affected in 2020. Despite radical hysterectomy, the recurrence rate in early-stage cervical cancer (IA2–IIA2) remains high, at approximately 20–30% within the first three years after treatment. This suggests the potential involvement of additional prognostic factors, such as Human Papillomavirus (HPV) DNA genotype and HPV viral load, which have not been extensively studied in early-stage cervical cancer in Indonesia. Objective: To determine the role of HPV genotype and HPV viral load as prognostic factors for recurrence in patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer. Methods: This retrospective cohort study utilized medical record data from Dharmais Cancer Hospital from 2014–2019. The study population included patients with stage IA2–IIA2 cervical cancer who underwent radical hysterectomy and lymphadenectomy. Molecular analyses for HPV genotype and viral load were performed on primary tumors and lymph nodes. Data analyses included univariate, bivariate (Kaplan–Meier and Cox regression), and multivariate analyses to assess disease-free survival (DFS) and identify prognostic factors for recurrence. Results: Most patients had HPV16/18 in primary tumors (75.9%) and lymph nodes (66.5%), with HPV-unknown cases accounting for 18.2% and 25.6%, respectively. Among primary tumors (n=121), HPV16/18 infections predominantly showed high viral load (88.3%), whereas non-16/18 types mainly had low viral load (79.4%); similar patterns were observed in lymph nodes (84.2% and 78.6%). HPV16+18 coinfection demonstrated a tendency toward increased recurrence risk (aHR=1.79; 95% CI 0.29–10.66). In the non–lymph node metastasis subgroup (n=82), coinfection also increased recurrence risk (cHR 5.39; 95% CI 1.09–26.74; aHR 3.54; 95% CI 0.70–17.87). Multiple HPV infection emerged as the strongest independent prognostic factor, increasing recurrence hazard fourfold (95% CI 1.82–9.04), and up to 6.63-fold in the non-metastatic subgroup (95% CI 1.71–25.69). Stratified analysis suggested that high tumor infiltrating lymphocytes (TILs) may reduce the effect of genotype and viral load on recurrence (log-rank p=0.046), although this potential effect modification remains inconclusive due to limited sample size. Conclusion: The findings of this study highlight the importance of HPV genotyping, especially in patients with multiple infections, and evaluation of TIL components as a guide for clinical management strategies for patients with early-stage cervical cancer.
Read More
D-609
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cahya Edi Prastyo; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Krisnawati Bantas, Asri C. Adisasmita, Budiyono, Kusuma Ari
Abstrak: ABSTRAK 
Kanker serviks uteri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kejadian kanker serviks uteri sebesar 12,6/100000 wanita dan angka kematiannya sebesar 7,0/100000 wanita (IARC, 2008). Hal ini dimungkinkan karena faktor resiko yang masih belum tertangani di masyarakat. Multi paritas (khususnya paritas > 4 kali) atau jumlah melahirkan pada wanita sebagai salah satu faktor resiko kanker serviks uteri ternyata masih tinggi di masyarakat. Penelitian ini ingin mengetahui pengaruh paritas > 4 kali terhadap kejadian kanker serviks uteri di 6 rumah sakit Indonesia. Penelitian dilakukan dengan desain kasus kontrol berbasis rumah sakit, dengan sampel sebanyak 364 wanita yang telah dipasangkan berdasarkan asal rumah sakit dan umur interval 10 tahun. Analisis multivariat menggunakan conditional logistic regression. Hasil menunjukkan bahwa paritas > 4 meningkatkan resiko kanker serviks uteri OR: 1,85 ; CI 95% (1,14 -3,02). Oleh karenanya usaha untuk pengembangan program yang dapat membatasi kelahiran seperti program Keluarga berencana akan membantu menurunkan terjadinya kasus serviks uteri.
 ABSTRACT
 Uterine cervical cancer is still a public health problem in Indonesia with incidence rate of 12.6 / 100,000 women and mortality rate 7.0 / 100,000 women. (IARC, 2008). Indonesian mortality rate is still high due to the risk factors that have not been handled in community. Multi parity (especially parity > 4) or total of women giving birth as a risk factor for uterine cervical cancer was still high. This study aims to determine the effect of parity > 4 to uterine cervical cancer. The study design is a hospital-based case-control, which samples were taken from 6 hospitals and then matched by hospital and age interval of 10 years. Multivariate analysis using conditional logistic regression shows the parity > 4 increases the risk of uterine cervical cancer OR: 1.85, CI 95% (1.14 -3.02). Therefore, efforts to develop programs that can limit births as family planning program will help reduce the occurrence of cases of cervix uteri.
Read More
T-3696
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cermin Dunia Kedokteran-193, Vol.39, No.5, Mei 2012, hal. 351-354
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sinta Sasika Novel, Ratu Safitri, Sukma Nuswantara
CDK Vol.37, No.2 (2010)
Jakarta : Kalbe Farma, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Miranda Rachellina; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Bambang Dwipoyono, Caroline Kawinda
Abstrak: High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) adalah necessary factor dalam proses terjadinya kanker serviks. Banyak faktor yang dikaitkan dengan infeksi HR-HPV, salah satunya adalah penggunaan kontrasepsi hormonal. Namun hasil penelitian-penelitian sebelumnya belum menunjukkan asosiasi yang konklusif antara pemakaian kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV. Data mengenai hubungan antara keduanya di Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi asosiasi antara penggunaan kontrasepsi hormonal dan infeksi HR-HPV pada populasi yang mengikuti program penapisan kanker serviks oleh Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prov. DKI Jakarta di Jakarta tahun 2019. Desain penelitian ini adalah kasus kontrol dengan menggunakan data sekunder dari program penapisan kanker serviks di Jakarta pada Januari - Desember 2019. Kasus diambil dari peserta skrining dengan hasil tes DNAHPV positif yang didapat dari pemeriksaan menggunakan Hybrid Capture 2. Kontrol dipilih secara acak dari peserta dengan hasil pemeriksaan DNA-HPV negatif dengan rasio 2 : 1 kasus dan dipasangkan berdasarkan domisili dengan frequency matching. Data dianalisis dengan analisis multivariat unconditional logistic regression. Jumlah kasus yang dapat disertakan dalam penelitian ini adalah 172, dengan kontrol 344 subyek. Prevalensi infeksi HR-HPV dari program skrining adalah 6,56%. Mayoritas subyek penelitian tidak sedang menggunakan jenis kontrasepsi apapun (62,79% kasus; 49,13% kontrol). Pada kelompok yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal, didapatkan risiko infeksi HR-HPV crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) dan adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). Sementara pada yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal didapatkan crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) dan adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). Pada penelitian ini didapatkan tidak adanya perbedaan risiko infeksi HR-HPV pada perempuan yang sedang menggunakan kontrasepsi hormonal dengan yang tidak. Namun didapatkan adanya asosiasi negatif pada kelompok yang pernah menggunakan kontrasepsi hormonal yang bermakna secara statistik
High-risk Human Papillomavirus (HR-HPV) is the necessary factor for the development of cervical cancer. The use of hormonal contraception has been associated with HR-HPV risk infection. However, the existing study results are not conclusive. There is very limited relevant data available in Indonesia. Hence, this study is aimed to evaluate the association between the use of hormonal contraceptives and infection risk of HR-HPV based on data from a 2019 screening program held by Indonesian Cancer Foundation, Jakarta branch, in Jakarta. This is a case-control study using secondary data from a cervical cancer screening program in Jakarta during January-December 2019. The case group is subjects with positive HPV-DNA test results from Hybrid Capture 2. The control group is randomly selected from the screening participants with negative HPV-DNA test results, with a ratio with the case is 2:1, and frequency matched based on area of domicile. Data is analyzed using multivariate analysis, unconditional logistic regression. The number of case in this study is 172 and 344 subjects in the control group. The prevalence of HR-HPV infection from the whole screening program is 6,56%. Most study participants were not using any kind of contraception methods (62,79% cases; 49,13% control). The risk of HR-HPV is crude OR 0,64 (95% CI 0,39-1,04, p=0,06) and adjusted OR 0,97 (95% CI 0,53-1,79; p=0,93). in current user of hormonal contraceptives. Whilst the association in the past users of hormonal contraception prior the test is crude OR 0,55 (95%CI 0,37-0,83; p=0,002) and adjusted OR 0,53 (95% 0,34-0,82; p=0,005). There is no significant association between the current user of hormonal contraceptives and the risk of HR-HPV infection. On the other hand there is a significant negative association in the past user group.
Read More
T-6154
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Wulandari; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Fathimah Sulistyowati Sigit, Sisca Rusmawati, Iradani Yupitaningrum
Abstrak:

Kanker leher rahim merupakan penyakit berbahaya pada wanita yang dapat ditangani semenjak awal dengan melakukan deteksi dini. Capaian deteksi dini kanker leher rahim di Indonesia yang rendah menyebabkan peningkatan angka kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim. Puskesmas Batuceper merupakan salah satu puskesmas di Kota Tangerang dengan capaian deteksi dini kanker leher rahim metode IVA terendah pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku wanita usia 30-50 tahun dalam melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA di Puskesmas Batuceper tahun 2024 berdasarkan teori Health Belief Model (HBM). Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Data dikumpulkan dengan metode wawancara menggunakan kuesioner kepada 172 wanita usia 30-50 yang dipilih dengan teknik consecutive sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan 11,6% wanita usia 30-50 tahun telah melakukan deteksi dini metode IVA dalam 3 tahun terakhir. Faktor yang berhubungan dengan perilaku deteksi dini kanker leher rahim metode IVA adalah persepsi hambatan dan isyarat bertindak, dimana persepsi hambatan merupakan faktor yang paling dominan. Responden dengan persepsi hambatan yang rendah memiliki peluang 4,68 kali untuk melakukan deteksi dini kanker leher rahim metode IVA dibandingkan responden dengan persepsi hambatan yang tinggi setelah dikontrol oleh isyarat bertindak (aOR=4,68 95% CI 1,45-15,10). Oleh karena itu, penting dilakukan upaya untuk mengurangi hambatan dan meningkatkan isyarat bertindak dengan memperluas kegiatan pemberian edukasi dan informasi mengenai bahaya kanker leher rahim serta pentingnya pemeriksaan IVA kepada calon pengantin, suami/pasangan, orangtua siswa di sekolah serta lintas sektor. Kata Kunci: Deteksi Dini, Kanker Leher Rahim, Health Belief Model, Puskesmas


 

Cervical cancer is a dangerous disease in women that can be treated early by screening. The low achievement of cervical cancer screening in Indonesia has led to an increase in the incidence of pain and death from cervical cancer. The Batuceper Health Center is one of the health centers in Tangerang City with the lowest achievement of cervical cancer screening with IVA method in 2022. This study aims to determine the behavioral determinants of women aged 30-50 in conducting early detection of cervical cancer using the IVA method at the Batuceper Health Center in 2024 based on the Health Belief Model (HBM) theory. The research design uses a cross-sectional study. Data was collected by interview method using a questionnaire to 172 women aged 30-50 who were selected using consecutive sampling techniques. The data were analyzed univariately, bivariate, and multivariate with multiple logistic regression tests. The results showed that 11.6% of women aged 30-50 had successfully detected the IVA method early in the last 3 years. Factors related to the behavior of early detection of cervical cancer IVA method are the perception of obstacles and action signals, where the perception of obstacles is the most dominant factor. Respondents with a low perception of obstacles had 4.68 times the chance of cervical cancer screening with IVA method compared to respondents with a high perception of obstacles after being controlled by action signals (aOR=4.68, 95% CI 1.45-15.10). Therefore, it is important to make efforts to reduce the barriers and increase action signals by expanding education and information activities about the dangers of cervical cancer as well as the importance of IVA examination to brides-to-be, husbands/partners, and parents of students at school and across sectors.  Keywords: Screening, Cervical Cancer, Health Belief Model, Health Center

Read More
T-7228
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku III, Kompas. hal : 138
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Virgi Saputra
CDK Vol.38, No.7 (2011)
Jakarta : Kalbe Farma, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive