Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35701 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
DM Sintha Kurnia Dewi, LPL Wulandari, Nyoman Mangku Karmaya
PHPMA-Vol.1/No.1
Depok : Pascasarjana Universitas Udayana, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Apri Adiari Manu; Pembimbing: Sudarti Kresno; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Anwar Hasan, Eko Saputro
T-3104
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Titik Awwaliyah; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Bernard Tambunan
S-7586
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puji Laksmini; Promotor: Besral; Kopromotor: Agustin Kusumayati, Evi Martha; Penguji: Milla Herdayati, Sutanto Priyo Hastono, Sudibyo Alimoeso, Ade Jubaedah, Ariyanto Nugroho
Abstrak:
Latar Belakang: Otonomi seksual perempuan merupakan determinan penting kesehatan reproduksi, termasuk risiko infeksi menular seksual (IMS), namun studinya masih terbatas di Indonesia. Penelitian ini bertujuan menganalisis distribusi dan determinan otonomi seksual perempuan berpasangan serta hubungannya dengan self-reported IMS. Metode: Studi ini menggunakan desain explanatory sequential mixed-methods. Tahap kuantitatif menggunakan data SDKI 2017 (cross-sectional) melibatkan perempuan berpasangan usia 15–49 tahun. Analisis data menggunakan Principal Component Analysis (PCA), Chi-Square, regresi logistik, dan regresi multilevel pada 19 variabel (faktor individu, relasional, masyarakat). Tahap kualitatif berupa wawancara mendalam lintas pemangku kepentingan untuk mengeksplorasi temuan kuantitatif. Hasil: Mayoritas responden memiliki otonomi seksual tinggi (54,2%), dengan tingkat pendidikan sebagai determinan paling dominan (OR=3,63). Analisis multilevel menunjukkan perbedaan antarprovinsi (faktor makro) berkontribusi sebesar 33,4% terhadap variasi otonomi seksual. Otonomi seksual rendah berhubungan dengan penurunan pelaporan gejala IMS sebesar 0,60 kali setelah dikontrol variabel sikap kekerasan fisik, pengetahuan HIV/AIDS dan IMS,  otonomi pengambilan keputusan, pekerjaan, dan usia responden.  Hal ini berkaitan dengan health-seeking behavior di tengah stigma masyarakat, di mana sikap terhadap kekerasan fisik menjadi prediktor dominan kejadian IMS (AOR=2,14). Kesimpulan: Otonomi seksual perempuan di Indonesia dipengaruhi secara kuat oleh struktur lingkungan dan agama. Intervensi kesehatan reproduksi harus diintegrasikan dengan penguatan kesetaraan gender di ranah domestik untuk meningkatkan otonomi seksual dan menekan transmisi IMS.

Background: Women's sexual autonomy is a critical determinant of reproductive health, including the risk of Sexually Transmitted Infections (STIs); however, studies on this topic remain limited in Indonesia. This study aims to analyze the distribution and determinants of sexual autonomy among partnered women and its association with STIs. Methods: This study employed an explanatory sequential mixed-methods design. The quantitative phase utilized cross-sectional data from the 2017 Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS), involving partnered women aged 15–49 years. Data were analyzed using Principal Component Analysis (PCA), Chi-Square, logistic regression, and multilevel regression across 19 variables encompassing individual, relational, and community factors. The qualitative phase consisted of in-depth interviews across multiple stakeholders to explain the quantitative findings. Results: The majority of respondents demonstrated high sexual autonomy (54.2%), with educational attainment emerging as the most dominant determinant (OR=3.63). Multilevel analysis revealed that inter-provincial variations (macro factors) contributed 33.4% to the variance in sexual autonomy. Low sexual autonomy was associated with a 0.60-fold decrease in reporting STI symptoms after adjusting for variables such as attitudes toward physical violence, knowledge of HIV/AIDS and STIs, decision-making autonomy, employment, and respondents' age. This phenomenon is closely linked to health-seeking behavior amidst social stigma, wherein attitudes toward physical violence served as the dominant predictor for STI occurrence (AOR=2.14). Conclusion: Women's sexual autonomy in Indonesia is strongly influenced by environmental structures and religion. Reproductive health interventions must be integrated with the strengthening of gender equality within the domestic sphere to enhance sexual autonomy and mitigate STI transmission.
Read More
D-640
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alvina Rahmawati; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Yovsyah, Wresti Indriatmi
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran keluhan sesuai Infeksi Menular Seksual (IMS), gambaran perilaku berisiko waria dalam penularan IMS dan hubungan antara keduanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan desain studi potonglintang. Partisipan penelitian sebanyak 48 waria binaan Puskesmas Kedung Badak Kota Bogor. Sebagian besar waria berada pada usia lebih dari 29 tahun, pendidikan terakhirnya SMA, belum menikah, dan homoseksual. Sebanyak 14,6% waria mengalami keluhan sesuai IMS. Berdasarkan hubungan keduanya, diketahui bahwa status pernikahan dan pemakaian NAPZA suntik memiliki hubungan yang signifikan dengan timbulnya keluhan sesuai IMS.
 

 
The purpose of this research is to overview symptoms in sexually transmitted infestions (STIs), risk behaviours in STI among Kedung Badak Health Cares patronage transvestities, and indicate the correlation between risk behaviour and the symptoms. This research uses quantitative method with crossectional design. The participants of this research consist of 48 Kedung Badak Health Cares patronage transvertism. The majority of transgender is more than 29 years old, the last education is SHS, unmarried, and homosexual. This research indicate that 14,6% transgender show the symptoms of STIs. The correlation has significant in marriage status and drug injections use.
Read More
S-7758
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Suparmi, Siti Isfandari
Bulitkes Vol.44, No.2
Jakarta : Lembaga Penerbit Balitbangkes Depkes RI, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Interaksi: Maj. Info & Rev. Promkes, ed. 3, 2009, hal. 16
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Archive of community health (ACH), Vol.2, No, 1, Juni, 2013 : hal. 20-27. ( ket. ada di bendel maj. campuran No. 12 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Fachlaeli; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Tri Yunis Miko Wahyono, Suherman, Eli Winardi
Abstrak:

ABSTRAK Prevalensi IMS tinggi pada WPSL. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsistensi penggunaan kondom pada satu bulan terakhir dengan kejadian Infeksi Menular seksual pada wanita penjaja seks langsung (WPSL). Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional. Sumber data hasil Survey Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun 2011. Populasi adalah wanita penjaja seks langsung (WPSL) di Provinsi Jawa Barat. Jumlah sampel adalah 500 responden. Hasil penelitian prevalensi IMS pada WPSL 21%, sebagian besar WPSL tidak konsisten menggunakan kondom 76 %. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan tidak bermakna antara konsistensi penggunaan kondom dengan kejadian IMS OR 1.14 (95%CI 0.66;2.3). Peningkatan konsistensi penggunaan kondom dan peningkatan peluang menggunakan kondom.


ABSTRACT STDs prevalence is high in the WPSL. This study aims to determine the relationship the consistency of condom use in the last month with the incidence of sexually transmitted infections in female sex workers directly (WPSL). This study uses crosssectional study design. Data is collected secondary data results of Integrated Biological and Behavioral Survey in 2011. Population is female direct sex workers (WPSL) in West Java province. Number of sample is 500 respondents. The study found that the prevalence of sexually transmitted infections in female sex workers directly (WPSL) by 21% most of the WPSL is inconsistent use of condoms 76%. The results of bivariate analysis showed that there was no significant relationship between the consistency of condom use with the incidence of STI OR 1:14 (95% CI 0.66; 2.3). Increase particularly the consistent use of condoms and increased opportunities to use condoms.

Read More
T-3583
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dastya Yusufina; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Zeba Evolusi
Abstrak:
Pada remaja perilaku pacaran erat kaitannya dengan pengalaman romantis yang berguna bagi perkembangan psikologis, terutama pengembangan keintiman. Namun, perilaku pacaran dapat menjadi berisiko apabila melakukan kontak seksual yang dimulai dari berciuman bibir hingga melakukan hubungan seks pranikah. Menurut data SKAP KKBPK tahun 2019, 3.8% remaja laki-laki dan 1% remaja perempuan mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah selama berpacaran. Dalam melakukan perilaku seksual berisiko remaja dipengaruhi oleh faktor individu dan lingkungan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan kesehatan reproduksi, sikap permisif, pergaulan teman serta pola asuh orang tua terhadap perilaku seksual berisiko pada remaja SMA di DKI Jakarta yang distratifikasi berdasarkan jenis kelamin dan pola asuh keluarga positif. Penelitian menggunakan desain kuantitatif yang bersifat analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa data Survey Perilaku Remaja Siswa Sekolah Menengah di DKI Jakarta dengan sampel sejumlah 873 yang berasal dari seluruh kelas 10 dan 11 di SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta dengan pengambilan sampel secara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan sikap permisif (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) dan pergaulan teman sebaya (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) memiliki hubungan yang signifikan terhadap perilaku seksual berisiko sedangkan pengetahuan kesehatan reproduksi (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) dan pola asuh orang tua positif (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) tidak memiliki hubungan terhadap perilaku seksual berisiko. Analisis stratifikasi menunjukkan bahwa jenis kelamin berpengaruh pada hubungan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko, namun pada hubungan sikap permisif terhadap perilaku seksual berisiko hanya berpengaruh pada jenis kelamin laki-laki saja. Pola asuh keluarga positif juga berpengaruh pada hubungan teman sebaya terhadap perilaku seksual berisiko. Oleh karena itu, disarankan untuk melakukan seminar serta secara rutin terkait kesehatan reproduksi kepada siswa sekolah. Kemudian disarankan kepada instansi kesehatan dan sekolah untuk berkolaborasi dan memberikan pembekalan edukasi kesehatan reproduksi kepada orang tua yang ikut andil dalam mendidik dan memonitoring perilaku pacaran remaja di lingkungan rumah.

In adolescent, dating behavior is closely related to romantic experiences that are useful for psychological development, especially the development of intimacy. However, dating behavior can be risky if it involves sexual contact that starts from kissing lips to having premarital sex. According to SKAP KKBPK data in 2019, 3.8% of male adolescents and 1% of female adolescents admitted to having had premarital sex during dating. Adolescent risky sexual behavior is influenced by individual and environmental factors. Therefore, this study aims to determine the relationship between reproductive health knowledge, permissive attitudes, peer association, and parenting patterns on risky sexual behavior among high school adolescents in DKI Jakarta stratified by gender and positive family parenting. The study used a quantitative design that was analytic in character with a cross-sectional approach. The data used were secondary data in the form of data from the Youth Behavior Survey High School Students in DKI Jakarta with a sample of 873 from all grades 10 and 11 at SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta with total sampling. The results showed that permissive attitude (p-value 0.036, OR=2.076 Cl 95%= 1.036-4.161) and peer association (p-value 0.001, OR=8.500 Cl 95%= 3.950-18.293) had a significant relationship with risky sexual behavior while reproductive health knowledge (p-value 0.149, OR=0.618 Cl 95%=0.320-1.195) and positive parenting (p-value 0.241, OR=1.480 Cl 95%=0.766-2.862) had no relationship with risky sexual behavior. Stratification analysis showed that gender had an effect on the relationship between peer association and risky sexual behavior, but only male gender had an effect on the relationship between permissive attitudes and risky sexual behavior. Positive family parenting also had an effect on peer association on risky sexual behavior. Therefore, it is recommended to conduct seminars and regularly related to reproductive health to school students. It is also recommended for health agencies and schools to collaborate and provide reproductive health education to parents who take part in educating and monitoring adolescents dating behavior in their homes.
Read More
S-11665
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive