Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 9375 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rama Putra Effendi, Widodo Hariyono
MJHR Vol.18, No.2
Depok : Universitas Indonesia, 2014
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Journal of Occupational and Envir. Hygiene (JOEH), Vol. 9, No.5, May. 2012, hal. 345-351
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gelar Winayawidhi Suganda; Pembimbing: Sjahrul Meiza; Penguji: Fatma Leastari, M. Heru Sunardjo, Eko Pudjadi
T-3270
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
M. Imam Alviyanto; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Hendra, Amalia Martha
Abstrak: Organisasi Kesehatan WHO pada tahun 1984 dalam EPA 1991 menyatakan bahwa 30% bagunan baru dan sedang dalam renovasi diseluruh dunia menyebabkan adanya keluhan pekerja terkait dengan kualitas udara dalam ruangan/Indoor Air Quality (IAQ). Lingkungan kerja yang buruk dapat menimbulkan gangguan Sick Building Syndrome (SBS) yang disebabkan kualitas dalam ruangan yang buruk seperti, ventilasi yang buruk, kelembaban yang teralalu rendah atau tinggi, suhu rungan yang terlalu panas atau dingin, debu, jamur, bakteri, bahan kimia pencemar udara dan lain sebagainya. Variabel yang diukur adalah Temperatur, Kelembaban, Pencahayaan, debu total dan Mikrobiologi dan Karakteristik Personal.metode penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional dengan melihat berdasarakan univariat dan bivariate. Dari hasil analisa didapatkan hasil Temparatur (73 titik), Debu total (8 titik) dan Mikrobiologi (11 titik) telah memenuhi standar Permenkes No 48 tahun 2016, sedangkan kelembaban dari 73 titik hanya lantai 6 yang tidak memenuhi standard an Pencahayaan dari 73 titik, hanya 8 titik yang memenui standar. Berdasrkan hasil analisa bivariate variable IAQ dan Karakteristik personal tidak memiliki hubungan dengan gejala SBS pada karyawan PT X tahun 2017. Kata kunci: Indoor Air Quality, Sick Building Syndrome The WHO Health Organization in 1984 in EPA 1991 stated that 30% of new and under-renovated buildings around the world caused worker complaints related to Indoor Air Quality (IAQ). Poor work environment can cause Sick Building Syndrome (SBS) impairment due to poor indoor quality such as poor ventilation, low or high humidity, overheated or cold temperatures, dust, fungi, bacteria, pollutants Air and so forth. The variables measured were Temperature, Humidity, Lighting, Total Dust and Microbiology and Personal Characteristics. The method of this study used cross sectional approach by looking at univariate and bivariate. From the analysis results obtained Temperature (73 points), Total dust (8 points) and Microbiology (11 points) have met the Permenkes No. 48 of 2016, while humidity from 73 points only 6th floor that does not meet the standard of lighting from 73 points only 8 points that meets the standards. Based on the result of IAQ variable bivariate analysis and personal characteristics have no relation with SBS symptom on PT X employees in 2017. Key words: Indoor Air Quality, Sick Building Syndrome
Read More
S-9567
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desti Maharani; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Zakianis, Beben Saiful Bahri
Abstrak: Prevalensi kejadian sick building syndrome di dunia menurut EPA mencapai 30% dan diIndonesia penelitian-penelitian sebelumnya melaporkan lebih dari 50% pekerjamengalami SBS. Namun SBS bersifat idiopathic, penyebabnya masih belum dapatteridentifikasi dengan jelas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi danmengevaluasi gambaran kejadian serta hubungan faktor individu dan indoor air qualitydengan SBS pada pekerja di Indonesia. Penelitian menggunakan systematic review yangberdasarkan pada metode PRISMA dengan pendekatan sintesis naratif terhadap 28 studiberupa jurnal dan skripsi yang dipublikasi pada tahun 2011-2020. Pada kajian sistematismenunjukan bahwa prevalensi SBS pada pekerja di Indonesia yang dilaporkan dalamstudi sebesar 19% hingga 89,4% dengan 27 studi melaporkan prevalensi SBS >20%.Gejala SBS yang dialami oleh pekerja dalam studi berkisar antara 3-17 gejala. Gejaladengan proporsi tertinggi yang paling banyak dilaporkan dalam studi adalah gejalaumum yakni sebanyak 11(39,28%) studi. Faktor individu yang paling banyak ditelitiadalah faktor usia, sedangkan pada faktor indoor air quality adalah suhu. Faktor risikoSBS berdasarkan faktor individu yang menunjukan hasil signifikan adalah usia danmasa kerja sedangkan berdasarkan faktor IAQ adalah CO2 dan VOCs. Berdasarkan haltersebut perlu dilakukannya kontrol yang berkala terhadap kualitas udara di dalamruangan terutama konsentrasi CO2 dan VOC.Kata Kunci : faktor individu; Indoor Air quality; Indonesia; sick building syndrome,dan Pekerja.
Read More
S-10497
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Buku III, Kompas. hal :135
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXIV, No.10, 1996, hal. 652-657, ( Cat. ada di bendel 1991-2001 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maj. Kesmas. Indonesia (MKMI), XXIV, No.10, 1996, hal. 652-657. ( ket. ada di bendel 1994-2009 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Yulianti, Mukhtar Ikhsan, Wiwien Heru Wiyono
CDK Vol.39, No.1 (2012)
Jakarta : Kalbe Farma, 2012
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kliping koran Media Indonesia 2015
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive