Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22073 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Siti Nur Hasanah, Lucie Widowati
MPPK Vol.25, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lita Kusmalasari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Aldrin Neilwan Pancaputra, Rizka Andalusia
T-4055
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fara Fauzia; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Helda, Lhuri Dwianti Rahmartani, Cindy, Faisal Parlindungan
Abstrak:
Artritis Reumatoid (AR) adalah suatu penyakit autoimun yang bersifat sistemik dan kronik yang manifestasi utamanya melibatkan persendian. Salah satu tatalaksana medikamentosa AR adalah menggunakan metotreksat (MTX). Ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan terapi AR namun di Indonesia belum ditemukan studi yang meneliti obesitas terhadap keberhasilan terapi MTX pada pasien AR di Indonesia. Peneliti ingin mengetahui pengaruh obesitas terhadap ketidakberhasilan terapi MTX monoterapi pada pasien dengan AR Metode. Penelitian menggunakan desain studi kohort retrospektif yang menggunakan data rekam medis pasien poli reumatologi penyakit dalam RSCM pada kurun waktu Maret 2017-Desember 2021. Analisis deskriptif dan estimasi dilakukan dengan menggunakan analisis regresi cox yang dimodifikasi untuk melihat karakteristik dari tiap variabel serta hubungan antara obesitas terhadap ketidakberhasilan terapi. Hasil. Dari 72 subyek, proporsi ketidakberhasilan terapi pada pasien obesitas adalah 57.1% (20/35), sementara pada pasien yang tidak obesitas adalah 37.8% (14/37). Risiko ketidakberhasilan terapi MTX pada pasien dengan obesitas adalah 1,45 kali dibandingkan pasien yang tidak obesitas (RR 1,45; 95% CI 0,76-2,78). Faktor jumlah sendi yang terlibat, rheumatoid factor (RF), C-reactive protein (CRP), usia, laju endap darah (LED), jenis kelamin, dan onset awal sakit bukan merupakan faktor perancu pada studi ini. Kesimpulan. Pada studi ini, pasien AR dengan obesitas meningkatkan risiko untuk mengalami ketidakberhasilan terapi MTX dibandingkan pasien AR tanpa obesitas, namun diperlukan studi lebih lanjut menggunakan sampel yang lebih besar untuk meningkatkan kekuatan statistik.
Rheumatoid arthritis (RA)) is a systemic and chronic autoimmune disease which main manifestations involve the joints. AR management requires pharmacological and non-pharmacological therapy. One of the pharmacological RA treatments is methotrexate (MTX). There are many factors that influence the success of RA treatment but in Indonesia there has not been found a study that examines obesity on the success of MTX treatment in RA patients in Indonesia. Researchers wanted to know the effect of obesity on MTX monotherapy failure in patients with AR Methods. A retrospective cohort study using medical records from the Rheumatology Internal Medicine Polyclinic, Cipto Mangunkusumo Hospital (RSCM) from March 2017 to December 2021. A descriptive and estimation analysis was performed to see the sample characteristics based on each variable and a modified Cox regression analysis to see the relationship between obesity and MTX treatment failure. Results. Of the 72 subjects, the proportion of MTX treatment failure in obese patients was 57.1% (20/35), while in patients who were not obese it was 37.8% (14/37). The risk of MTX treatment failure in obese subjects was 1.45 times that of non-obese patients (RR 1.45; 95% CI 0.76-2.78). Number of joints involved, RF factor (RF), C-reactive protein factor (CRP), age, erythrocyte sedimentation rate (ESR), gender, and early onset of disease were not become confounding factors in this study. Conclusion. In this study, RA patients with obesity have an increased risk of MTX treatment failure compared to RA patients without obesity, but further studies using larger samples are needed to increase statistical power.
Read More
T-6600
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dradjat Ryanto Suardi
CDK Vol.38, No.7 (2011)
Jakarta : Kalbe Farma, 2011
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fachrudin Ahmad; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tri Krianto, Evi Martha, Endang Sri Widyaningsih, Sri Andewi
Abstrak:

ABSTRAK Tesis ini membahas tentang penggunaan jamu untuk pengobatan pada pasien di Klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus Tawangmangu tahun 2012. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif menggunakan pendekatan Rapid Assesment Procedures (RAP). Hasil penelitian menemukan bahwa jamu yang digunakan untuk pengobatan sudah dirasakan manfaatnya dengan efek samping yang ringan, serta jamu yang paling banyak digunakan adalah sediaan godokan. Hal yang mendukung penggunaan jamu untuk pengobatan adalah pengetahuan terhadap tanaman obat, persepsi terhadap jamu, informasi mengenai klinik dan fasilitas pelayanan yang tersedia, keterjangkauan akses, adanya keluhan sakit serta keinginan untuk sembuh. Saran dari penelitian ini perlunya edukasi kepada masyarakat dan penambahan Klinik Saintifikasi Jamu yang terjangkau.


 

 ABSTRACT This thesis discusses the use of Jamu for treatment on patients at The Hortus Medicus Jamu Scientification Clinic in 2012. The study was a qualitative research using Rapid Assessment Procedures (RAP) approach. The study found that Jamu medicine used for treatment has already felt the benefit with low side effects, as well as the most widely used Jamu preparations is boiling. Factors encouraged the use of Jamu medicine for treatment are the knowledge of medicinal plants, Jamu perception, the availability of information on clinical and service facilities, the affordability of access, the pain complaints and the desire to recover. There is a need to educate people and increasing an affordable Jamu Scientification Clinic

Read More
T-3665
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Atti Ratnawiati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Karyana, Lela Amelia
Abstrak: Sitikolin adalah neuroprotektor yang paling banyak digunakan untuk memperbaikikerusakan neurologis pada penderita stroke iskemik, namun efektivitas sitikolinmasih diperdebatkan berdasarkan penelitian ilmiah karena memberikan hasil yangheterogen. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi sitikolinterhadap fungsi neurologis yang dinilai dengan The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) dan kemampuan fungsional yang dinilai dengan BarthelIndex. Penelitian pada pasien stroke iskemik berdasarkan terapi sitikolin yangdilakukan di 18 rumah sakit di Indonesia yang berkontribusi dalam registripenyakit stroke. Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektifmenggunakan data registri stroke Indonesia. Penilaian perbaikan fungsineurologis berdasarkan perubahan nilai NIHSS sebesar > 2 poin dan penilaiankemampuan fungsional berdasarkan perubahan nilai Barthel Index sebesar > 20poin yang diukur pada saat masuk dan keluar rumah sakit. Pasien stroke iskemikyang mendapat terapi sitikolin memiliki peluang perbaikan fungsi neurologissebesar 1,34 kali (CI 95% 1,058-1,658) dibanding pasien yang tidak mendapatterapi sitikolin setelah dikontrol variabel neurorestorasi. Peluang perbaikankemampuan fungsional pasien stroke iskemik yang mendapat terapi sitikolinsama dengan pasien yang tidak mendapat sitikolin setelah dikontrol denganneurorestorasi dengan relative risk 1,07 (CI95% 0,879-1,293; p=0,53).Kata kunci: Barthel Index; NIHSS; Sitikolin; Stroke Iskemik
Citicoline is the most widely used neuroprotective to repair neurological deficit inischemic stroke patients, however the effectiveness of citicoline is stillcontroversial and raise arguments against scientific research because it providedheterogeneous results.The objectives of the study are to identify citicoline effecton neurological function improvement using The National Institute of HealthStroke Scale (NIHSS) and functional ability improvement using Barthel Index(BI) in the treatment of ischemic stroke patients at 18 hospitals involved inIndonesia stroke registry. The design of this study is retrospective cohort studyusing stroke registry data. Improvement of neurological function assessed bychanges of NIHSS score >2 and improvement of functional ability assesed bychanges of Barthel Index score > 20 as measured at the time of admission anddischarge of the hospital.The result shows that the probability of functionalneurological improvement on citicoline treatment group is higher than nociticoline treatment group with adjusted RR by neurorestoration is 1,34 (95% CI1.058 to 1.658, p=0,0014). There is no difference of functional abilityimprovement between citicoline and no citicoline treatment group, with adjustedRR by neurorestoration is 1.07 (CI95% 0.879 to 1.293; p=0,53).Keywords : Barthel Index; Citicoline; Ischemic stroke; NIHSS.
Read More
T-4632
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ashar Nuzulul Putra; Pembimbing: Helda; Penguji: Nurhayati Adnan, Yovsyah, Sri Lestari
Abstrak: Latarbelakang : Disabilitas merupakan istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan impairment, keterbatasan fungsi fisik, keterbatasan partisipasi sosial. Disabilitas ADL atau ketidakmampuan melakukan aktifitas daily living (kegiatan sehari-hari/dasar) dikarenakan proses penuaan atau dampak dari penyakit kronis yang membatasi kemampuan seseorang dalam melakukan aktifitas. Hal ini berpengaruh langsung pada tingkat ekonomi dan kemiskinan yang dialami para penderita disabilitas. Studi ini ditujukan untuk melihat hubungan antara artritis dan disabilitas ADL pada mereka yang berusia > 40 tahun di Indonesia. Metode : studi cross-sectional dilakukan pada bulan mei 2017. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari Indonesia family life survey V tahun 2014. Sampel pada penelitian ini sebanyak 8.185 responden. Dalam mengumpulkan data mengenai Artritis dan Disabilitas ADL, semua responden diukur menggunakan kuesioner yang telah disusun oleh penyelenggara Indonesia Family Life Survey V tahun 2014. Hasil : analisis cox regression menunjukan bahwa usia, obesitas, status pekerjaan merupakan efek modifikasi pada hubungan antara artritis dan keterbatasan pakaian, mandi, bangun tidur, makan tanpa bantuan, namun tidak ada interaksi pada hubungan antara arthritis dan dan toileting. Artritis dan ketidakmampuan menahan BAB/BAK menunjukan tidak adanya hubungan karna nilai PR yang didapatkan sebesar 1,01. Kesimpulan : Artritis berhubungan dengan hampir semua kegiatan yang ada pada penilaian Activity Daily Living, namun efek artritis terdapat perbedaan pada beberapa kegiatan pada Activity Daily Living tergantung pada usia, obesitas, dan status pekerjaan. Kata Kunci : Artritis, Disabilitas ADL Background : Disability is an umbrella term for impairment, activities limitation, and participation restriction. Ageing and chronical diseases are risk factors that causes activities limitation in activities daily living or can causes ADL disability. Activities limitation in activities daily living have a negative impact on poverty and economic levels for people who experienced ADL disability. This study aimed to determine the relationship between arthritis and ADL disability in people who > 40 years old in Indonesia. Methods : A Cross-sectional study perfomed in may 2017. The research using secondary data from Indonesia Family Life Survey 2014 (5th edition). Samples in this study were 8,185 respondents. In collecting data on ADL disability and Arthritis, all respondents were measured using a questionnaire that had been prepared by the organizer of Indonesia Family Life Survey 2014 (5th edition). Results : Cox regression analysis of arthritis showed an age, obesity, occupational status were an effect modifier on the relationship between artritis and limitation for dress, bathe, get out of bed, eat without help, but have no effect modifier between arthritis and and toileting. Arthritis and control urination and defecation showed no relationship with PR 1,01. Conclusion : Arthritis have a relationship with most activities in the Activity Daily Living assessment, but the effect of arthritis is that some activities in Activity Daily Living depend on age, obesity, and occupational status. Keywords : Arthritis, ADL Disability
Read More
T-4893
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cermin Dunia Kedokteran (CDK), Vol.37, No.8, Nov. - Des. 2010, hal: 607
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
CDK Vol.37, No.8 (2010)
Jakarta : Kalbe Farma, 2010
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive