Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 2345 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Berita Pokja campak, Edisi III/ Sept. 1988, hal. 1-5. ( Ket. ada di Bendel 1988 - 1990 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Kuartal IV 1992, hal. 1-10. ( ket. ada di bendel 1989 - 1992 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, September 1997, hal. 1-4. ( ket. ada di bendel 1996 - 1997 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Kwartal II 1993, hal. 1-23. ( ket. ada di bendel 1993 - 1994 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Februari 1992, hal. 11-24. ( ket. ada di bendel 1989 - 1992 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berita Epidemiologi, Kwartal IV 1994, hal. 1-10. ( ket. ada di bendel 1993 - 1994 )
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
614.4 WER d
[s.l.] : Jakarta: Gramata Publishing, 2010, s.a.]
Kumpulan Daftar Isi Buku   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afriyenti; Pembimbing: Tris Eryando; Besral; Penguji: Artha Prabawa, Azimal, Prima Nofeki Syahril
Abstrak:

Indonesia saat ini masih menghadapi beban ganda (Double Burden Disease) dalam pembangunan kesehalan, yaitu meningkatnya beberapa penyakit menular yang sebelumnya telah ada. munculnya kembali penyakit yang lama tidak terjadi. Selain itu juga terjadi peningkatan penyakit tidak menular, yang diiringi dengan munculnya penyakit baru. Peningkatan kasus penyakit diatas juga dialarni oleh Kabupaten Lima Puluh Kota. Pada tahun 2004 terjadi KLB Campak dengan CFR 5,3% dan Diare dangan CFR 1,02%. Adanya peningkatan kasus ISPA dari 54.352 kasus pada tahun 2005 menjadi 55.681 kasus pada tahun 2006. Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menunjukkan adanya peningkatan jumlah kunjungan kasusnya dari 12.057 kasus pada tahun 2005 menjadi 13.420 kasus pada tahun 2006. Pengembangan sistem informasi surveilans terpadu penyakit berbasis wilayah ini menggunakan metodologi rapid applicalion development. Analisis terhadap sistem surveilans terpadu yang ada dilakukan melalui wawancara, observasi. dan te1aah dokurnen. Workshop dengan melibatkan jajaran pimpinan di Dinas Kesehatan Kabupaten Lima Puluh Kota serta pimpinan puskesmas dan petugas survei!ans dilakukan saat mengembangkan sistem baru. Tahap pengembangan sistem dihasilkan suatu aplikasi sistem infonnasi surveilans terpadu versi uji coba (!rial versions) yang dibangun menggunakan bahasa pemograman visual. Aplikasi ini dapat melakukan pengolahan dan analisis data STP puskesmas, STP rumah sakit, dan PWS KLB. Infonnasi yang dihasilkan berupa laporan bulanan kahupaten, grafik tren penyakit, peta penyebaran penyakit, peta potensial kcjadian luar biasa, angka insiden. angka prevalen, attack raie dan case fatality rate. Disimpulkan bahwa sistem inforrnasi surveilans terpadu penyakit berbasjs wilayah yang dikembangkan dapat menghasilkan informasi yang dapat digunakan oleh manajemen kesehatan sebagai decision support system dalam perencanaan program, karena telah memberikan kemungkinan pada stakeholder dinas kesehatan melihat dampak yang mungkin timbul dari program pencegahan yang telah dilaksanakan. Perlu dukungan dari manajemen berupa adanya legal aspek sehingga semua bentuk data yang dibutuhk


an oleh sistem ini dapat dipenahi oleh somber data yaitu puskesmas dan rurnah sakit.Saat ini aplikasi ymg dikembangkan baru merupakan versi uji coba.

At present Indonesia deals with double burden disease in the health development such as the increase of some communicable diseases that have existed before, and the occurrence of diseases that appears again since for a long time. Besides, there is an increase of non-communicable disease that appears together with new disease. The incline of case mentioned before is also happened to Lima Puluh Kola District. In 2004, the outbreak of measles (CFR 5.3%) and diarrhea (CFR 1.02%) occurred. There was an increase of ISPA cases from 54,352 in 2005 to 55,681 in 2006. Hypertension was non­ I communicable disease that increased in number of cases visit from 12,507 to 13,420 in 2006. The integrated surveilance of disease is an activity that conducted in preventing Development of the system used rapid application development methodologies. Analysis on the existing system was conducted by the interview. observation and documents review, The workshop was conducted at the time developing new system. It was involved the leaders of the Lima Puluh Kota District Health Office together with the leaders of Health Centers and surveillance workers. The stage of system development generated a trial version of integrated surveillance information system application that developed using visual programming language. This application can do data processing and analysis of STP puskemas or health center integrated surveillance of disease. STP rumah sakit or hospital integrated surveiUance of disease, and PWS KLB or local monitoring of outbreak, be information that produced are monthly district report, graphic of disease trend, disease spreading map, outbreak potential map, incidence rate, prevalence rate, attack rate, and case fatality rate. The study concluded that development of integrated surveillance information system of region base disease could produce the information used by health managers as decision support system in program planning. It was possible to the stakeholders of health centers to assess the impact probably occurred from the prevention program that had been conducted. It is required a support from management such as aspect legal so all of data needed by the system can be met by other data sources like healtb centers and hospitals.

Read More
T-2847
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uswatun Hasanah Nuri Rosyidi; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Zakiah
Abstrak: Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan penyakit utama penyebab kematian terbesar di dunia, peningkatan prevalensi penderita PTM di Indonesia meningkat berdasarkan Riskesdas tahun 2013 dan Riskesdas tahun 2018. PTM menjadi masalah kesehatan masyarakat yang menyebabkan tingginya mortalitas dan morbiditas pada pasien yang mengakibatkan beban pembiayaan kesehatan yang tinggi. Oleh karena itu, dibutuhkan data yang valid dan akurat untuk menciptakan sebuah program kesehatan untuk upaya pengendalian PTM, salah satunya adalah dengan memperkuat sistem informasi surveilans faktor risiko PTM. Penyelenggaraan sistem informasi surveilans faktor risiko PTM diharapkan dapat memberikan data yang vailid dan adekuat sebagai salah satu landasan dalam mengambil keputusan dan perencanaan program pengendalian PTM yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran penerapan sistem informasi surveilans faktor risiko PTM di Indonesia untuk digunakan sebagai bahan monitoring dan evaluasi di masa mendatang. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan menggunakan metode literature review dengan basis data google scholars dan dokumen penelitian alumni FKM UI. Pendekatan input, proses, output digunakan untuk memperoleh gambaran terperinci dalam komponen penyelenggaraan sistem informasi surveilas faktor risiko PTM. Hasil pencarian diperoleh dua studi terinklusi yang menunjukkan bahwa sumber daya yang menjadi komponen input dalam penyelenggaraan sistem informasi surveilans faktor risiko PTM tidak memadai, komponen proses yang mencakup kegiatan surveilans belum dilaksanakan menggunakan web based system secara keseluruhan, dan pada ouput informasi didiseminakan kepada jajaran strukturl yang lebih tinggi, namun belum ada bukti yang menunjukkan hasil diseminasi tersebut dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat umum. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti menyimpulkan bahwa adanya kendala yang ditemui mengakibatkan sistem informasi surveilans faktor risiko PTM belum terlaksana dengan optimal. Kata kunci: Sistem Surveilans, Faktor Risiko, Penyakit Tidak Menular, Pencatatan dan Pelaporan. Non-Communicable Diseases (NCDs) is are the main cause of death in the world, the prevalency of NCDs in Indonesia increased based on according to Riskesdas in 2013 Riskesdas in and 2018. NCDs are public health problems that cause high number in mortality and morbidity in patients, which results in high burden of the health financing. With that being said, it is necessary to develop comprehensive, effective, efficient, and sustainable prevention through systematically targeted health programs. Therefore, valid and accurate data to create a health program for NCDs control efforts is highly needed by strengthening the surveillance information system risk factor of NCDs. The expectancy of implementing surveillance information systems for risk factor of NCDs to provide adequate and reliable data as a basis for making decisions and planning for the proper NCDs control program. This study aims to get an overview of apply the surveillance information systems for risk factor of NCDs in Indonesia that can be used as material for monitoring and evaluation in the future. This research is a qualitative study using the literature review method with a Google Scholars database and FKM UI alumni research documents database. The used of input, process and output approaches to get a detail picture of the components of the surveillance information systems risk factor of NCDs. The researchers get results of the search by Two inclusive studies which met the inclusive criteria showed that the resources that became the input part in the implementation of the surveillance information system risk factor of NCDs were inadequate, the process part that included surveillance activities had not been carried out using a web-based system as a whole thoroughly, and the output was disseminated to the ranks of the structure higher, but there is no evidence that the results of dissemination can be easily accessed by the public. Based on the results of this study, the researcher concluded that the obstacles encountered resulted in the surveillance information system risk factor of NCDs not being implemented optimally. Key words: Surveillance system, Risk Factors, Non-Communicable Diseases, Recording and Reporting
Read More
S-10372
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive