Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40465 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Anida Hanifah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di dunia, khususnya negara beriklim tropis seperti Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. DBD dapat melemahkan daya tahan tubuh dalam waktu yang relatif singkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan fisik (kepadatan jentik, tempat perindukan nyamuk, tempat peristirahatan nyamuk, ventilasi, pencahayaan rumah, kelembaban rumah) dan karakteristik individu (pengetahuan, pemeriksaan jentik berkala, kebiasaan menguras tempat penampungan air, kebiasaan mencegah gigitan nyamuk, dan pemberantasan jentik nyamuk) dengan kejadian DBD pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kranggan dan Serpong 1 Tangerang Selatan Tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan data primer dan sampel sebanyak 100 orang yang terdiri dari 50 sampel kasus dan 50 sampel kontrol. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian DBD adalah tempat perindukan nyamuk (5,25;2,05-13,4), intensitas pencahayaan rumah (3,40;1,40-8,28), dan kelembaban rumah (3,14;1,10-8,94). Faktor yang memiliki hubungan paling dominan terhadap kejadian DBD adalah keberadaan tempat perindukan nyamuk. Kata kunci: Lingkungan fisik, karakteristik individu, DBD, Aedes aegypti
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a public health problem globally, especially in tropical countries like Indonesia. The disease is caused by a virus and is transmitted by the bite of Aedes aegypti mosquito. DHF weakens human immune system in a relatively short time. This study aims to investigate the relationship between physical environmental factors (density of larvae, breeding places, the resting place of mosquitoes, ventilation, home lighting, and humidity) and individual characteristics (knowledge, periodic larvae survey, depleting water reservoirs habits, preventing mosquito bites habits and eradication of mosquito larvae) with the incidence of dengue in the community in Puskesmas Kranggan and South Tangerang Serpong 1 in the year 2016. This study used a case-control study design using primary data and a sample of 100 people consisting of 50 sample cases and 50 control samples. Results of bivariate analysis showed that the variables that have a significant association with the incidence of dengue are mosquito breeding sites (5.25; 2.05- 13,4), home lighting intensity (3.40;1,40-8,28), and humidity home (3,14;1,10-8,94). The factor that has the most dominant association with incidence of DHF is the presence of mosquito breeding places. Keywords: Physical environment, individual characteristic, DHF, dengue, Aedes aegypti
Read More
S-9063
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erliyanti; Pembimbing: I Made Djaja, Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Dewi Susanna, Toni Wandra, Atang Saputra
Abstrak:

Penyalkit demam berdarah merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, yang cenderung semakin Iuas distribusinya sejalan dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Seluruh wilayah Indonwia mempunyai resiko untuk kejangkitan penyakit DBD, dikarenakan memiliki koudisi lingkungan yang sama sebagai kesatuan wilayah ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan kejadian demam berdarah dengan lingkungan fisik mmah meliputi lingkungan dalam rumah, linglcungan luar mmah. Suhu, pencahayaan, kelembaban dan keberadaan jentik sedangkan karakteristik individu meliputi umur, pendidikan, perilaku , pengctahuan. Rancangan penelitian ini adalalah kasus kontrol dengan menggunakan analitik. Sebagai rcspondennya adalah orang yang terkena penyakit DBD yang telah di diagnosis doktcr dan uji laboratolium IgG dan IgM , sorta kontrol adalah tetanga penderita di wilayah Kota metro, dcngan jumlah 100 kasus dan 100 kontrol. Data di ambil dengau wawancara, obscrvasi dan melakukan pengukuran. Data-data yang terkumpul di olah dengan tahapan editing data, coding data, entry data, cleaning data. Selanjutnya dilakukan analisis univariat, bivariat dengan uji kai kudrat, dan multivamiat dengan regresi logistik. Di dapatkan hasil akhir ada hubungan yang bcrmakna antara kejadian DBD dengan keheradaan jentik, kejadian DBD dcngan umur, kejadian DBD dengan kelembaban dan kejadian DBD dengan pendidikan. Faktor yang dominan terhadap kejadian DBD adalah faktor jentik. Dari hasil yang di dapat disarankan pada pemerintah daerah untuk dapat melihat kcberadaan jentik melalui Angka bebas jentik, indeks house dan kontainer serta melaksanakan trias UKS pada anak sckolah yaim pendidikan kesehatan, pelayanan keschatan dan pembinaan lingkungan sekolah sehat scrta mcmbuat prioritas program pada daerah endemik, pendidikan rcndah Serta daerah yang banyak anak-anak. Sedangkan pada Dinas Kesehatan dan Puskesmas diharapkan ada kerjasama dengan BMG, melaksanakan pendidikan kesehatan melalui kader dan melaksanakan 3 M secara intensif, dan untuk peneliti diharaikan ada penelitian lebih lanjut.


Dengue Fever is one of public health problems in Indonesia, its distribution tends to wider due to the increaseing of mobility and population density. All of Indonesian’s area is having risk of dengue fever infection, because it has similar environmental condition as united of ecological zone. The research aimed to know the relation between dengue fever case with housing environment covers internal house environment (indoor), extemal house environment (outdoor), temperature, lighting, humidity and mosquito larva existence while respondent characteristic covers age, education, behavior, and knowledge. The research methodology is analytical case control. People who have been diagnose having dengue fever by the doctor and IgG and IgM laboratory test as respondents I case, while control is the neighbor of the patient at Metro City, there is 100 case and 100 control. Data collected by interview, observation and measurement. The collected data processed with several steps: data editing, data coding, data entry, and data cleaning. Furthermore it analyzed with univariate analysis and bivariate with chi square and multivariate with logistic regression. The research final result show that there is a significant relation between; dengue fever case with mosquito larva existence, dengue fever case with age, dengue fever case with humidity, and dengue fever case with education. The most dominant factor toward dengue fever case is the mosquito larva. From the obtained result its suggest to the government to observe the mosquito larva trough the mosquito larva level, housing index and container and held the Trias UKS at school; health services, health education, and the founding of school environmental and make priority programs at endemic area, low education, and children areas. While the Health Department and Public Health Center expected to cooperate with BMG, to held health education trough forming of cadre and conduct 3M intensively and to conduct further research.

Read More
T-2799
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi Handayani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ema Hermawati, Winarno
S-7357
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lisa Dea Plasenta; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Bambang Wispriyono, Aprilia Krisliana
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit demam akut dengan pendarahan minor atau mayor, trombositopenia, dan kebocoran plasma yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes aegypti. WHO mencatat sejak tahun 1968-2009, Indonesia menjadi negara urutan pertama di Asia Tenggara dengan kasus DBD terbanyak dan urutan kedua di dunia. Di tahun 2015, Kemenkes RI telah mencatat peningkatan jumlah Kabupaten/Kota yang terjangkit DBD di Indonesia. Dari 384 Kabupaten dan Kota meningkat menjadi 446 Kabupaten dan Kota. Salah satu Kabupaten/Kota dengan kasus DBD yang tinggi adalah Kota Tangerang Selatan. Bahkan, pada tahun 2014, Kota Tangerang Selatan menjadi penyumbang kasus DBD terbanyak di Provinsi Banten dengan 768 kasus. Terdapat faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab tingginya kasus DBD, yaitu faktor iklim, kepadatan penduduk, dan populasi nyamuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim, kepadatan penduduk, dan Angka Bebas Jentik (ABJ) dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021. Penelitian ini menggunakan desain studi ecological time series dengan metode kuantitatif dan analisis korelasi dan regresi linear ganda. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang berasal dari Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan; Badan Pusat Statistik Kota Tangerang Selatan; dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara suhu, kelembaban, dan ABJ dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,016; r = -0,282) (p = 0,000; r = 0,506) (p = 0,000; r = -0,558), sementara untuk curah hujan dan kepadatan penduduk menunjukkan hasil tidak signifikan dengan kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 (p = 0,064; r = 0,220) (p = 0,759; r = -0,037). Dari hasil regresi linear ganda, didapatkan hasil bahwa variabel yang masuk model akhir adalah variabel kelembaban dan ABJ dan dapat menjelaskan 39,9% variasi variabel dependen kejadian DBD (R square = 0,399). Variabel yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD di Kota Tangerang Selatan tahun 2016-2021 adalah variabel kelembaban.
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease with minor or major bleeding, thrombocytopenia, and plasma leakage caused by the dengue virus and transmitted by the Aedes aegypti mosquito vector. WHO noted that from 1968-2009, Indonesia became the first country in Southeast Asia with the most dengue cases and the second in the world. In 2015, the Indonesian Ministry of Health has recorded an increase in the number of districts/cities infected with dengue fever in Indonesia. From 384 regencies and cities, it increased to 446 regencies and cities. One of the districts/cities with high dengue cases is South Tangerang City. In 2014, South Tangerang City became the largest contributor to DHF cases in Banten Province with 768 cases. There are factors that can be the cause of high dengue cases, namely climate factors, population density, and mosquito populations. The purpose of this study was to determine the relationship between climatic factors, population density, and larval free rate (LFR) with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021. This research uses an ecological time series design study with quantitative methods and correlation analysis and multiple linear regression. This study uses secondary data from the South Tangerang City Health Office; Central Bureau of Statistics of South Tangerang City; and the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency (BMKG). The results of this study are that there is a significant relationship between temperature, humidity, and LFR with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.016; r = -0.282) (p = 0.000; r = 0.506) (p = 0.000 ; r = -0.558), while rainfall and population density showed insignificant results with the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 (p = 0.064; r = 0.220) (p = 0.759; r = -0.037). From the results of multiple linear regression, it was found that the variables that entered the final model were humidity and LFR variables and could explain 39.9% of the variation in the dependent variable of DHF incidence (R square = 0.399). The most influential variable on the incidence of DHF in South Tangerang City in 2016-2021 is the humidity variable.
Read More
S-11141
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Latif Hidayat; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ema Hermawati, Farida
Abstrak: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit berbasis lingkungan dan masalah kesehatan masyarakat, satu diantaranya terjadi di unitwilayah kerja Puskesmas Tegal Gundil dengan IR 13,5 per 10.000 penduduk padatahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sosiodemografidan kondisi lingkungan dengan kejadian DBD di wilayah tersebut tahun 2014.Rancangan penelitian menggunakan desain case control dengan jumlah sampel 64orang. Populasi penelitian adalah masyarakat yang tinggal di Kelurahan TegalGundil dan Bantarjati. Data primer didapat dengan melakukan wawancara langsung mengenai DBD dan observasi kondisi lingkungan responden. Hasilanalisis bivariat menunjukan terdapat hubungan antara umur sebagai faktorsosio demografi dengan kejadian DBD dengan OR 3,40. Kondisi lingkungan yangberhubungan dengan kejadian DBD yaitu keberadaan jentik dengan OR 4,59 danbreeding place dengan OR 16,24. Hasil analisis multivariat menunjukan adanyahubungan antara pengetahuan, keberadaan jentik dan breeding place dengan OR2,80. Variabel breeding place merupakan faktor paling dominan terhadap kejadianDBD.
Kata Kunci: Demam Berdarah Dengue, Umur, Pengetahuan, Keberadaan Jentik, Breeding Place
Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an environtment-centered plagueand also a society health problem. From many cases, one happened in PuskesmasTegal Gundil Working Unit Area with the IR 13,5 per 10.000 people in 2013.This reseach is aimed to discover the relationship between sociodemography andthe environment condition of DHF case in that area in 2014. The research designused case control with 64 sample of participants. The population of the research isthe community member who live and stay in Kelurahan Tegal Gundil andBantarjati. The primary data is gained by conducting direct interview about DHFand observation to the respondence's environment condition. The result frombivariat analysis shows correlation between age, as a factor of sociodemography,with DHF case, by OR 3,40. Environment condition which links to the DHF caseis the existence of mosquito larva, with OR 4,59 and OR 16,24 of breeding place.The result from multivarite analysis shows the relationship between, knowledge,the existence of mosquito larva, and breeding place with OR 2,80. Breeding placevariable is the most dominantly influential to the DHF case.
Keywords: Dengue Hemorrhagic Fever, Age, Knowledge, Mosquito larva,Breeding place
Read More
S-8364
Depok : FKM UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiany Sukmawati; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Ema Hermawati, Mulia Sugiarti
Abstrak: Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Haemorragic Fever (DHF) merupakan penyakit akibat infeksi virus Dengue yang masih menjadi problem kesehatan masyarakat. Jumlah penderita dan luas daerah penyebarannya semakin bertambah seiring dengan meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Kejadian demam berdarah dengue di Kabupaten Tangerang mengalami kenaikan pada setiap 3 tahun terhitung mulai tahun 2007-2015, pada 2010 dan 2013 sehingga diperkirakan akan mengalami kenaikan pada tahun 2016. Dan jika dilihat dari rata-rata jumlah kasus DBD per bulan dari tahun 2011-2015 terlihat bahwa kasus DBD berada pada posisi puncak di bulan Januari, Juni dan Juli. Sehingga pada tahun 2016 Januari akan mengalami kenaikan jumlah kasus. Tujuan penelitian ini adalah didapatkan gambaran secara spasial wilayah beresiko Demam Berdarah Dengue pada 5 kecamatan di Kabupaten Tangerang Tahun 2016. Variabel yang diteliti dalam penelitian ini meliputi karakteristik individu,yaitu karakteristik usia, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, perilaku, pengetahuan dan variabel deteksi serologi agen serta variabel lingkungan vektor, yaitu suhu, kelembaban dan breeding place. Penelitian ini menggunakan desain korelasi Ekologi dengan pendekatan spasial. Penelitian ini meneliti sampel sebanyak 150 sampel dari 5 wilayah kecamatan endemis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pola sebaran kasus DBD menunjukan bahwa kecamatan Curug memiliki kasus paling tinggi yang sebanding dengan sebaran keberadaan jentik dibandingkan dengan wilayah kecamatan lain, Dominasi serotipe virus DEN-2 dan DEN-3 dan hasil kuesioner didapatkan kecamatan Cikupa memiliki tingkat pengetahuan dan prilaku mengenai demam berdarah dengue paling rendah, yaitu sebanyak 28 responden dari 30 (93,3%) memiliki pengetahuan kurang dan 25 responden dari 30 (83,3%) memiliki pengetahuan kurang. Kata Kunci: Spasial, Dengue, DEN.
Read More
S-9242
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Edwin Siswono; Pembimbing: I Made Djaja; Penguji: Dewi Susanna, Suwito
S-8899
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ali Asha Wardhana; Pembimbing: I Made Djaja, Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Didik Supriyono, Dading Setiawan
T-2313
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mariana Ivoretty Sandra; Pembimbing: Dewi Susana; Penguji: Sri Tjahyani Budi Utami, Rina Fitriani Bahar
S-6412
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Anis Zain; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang tersebar lewat gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Di Kelurahan Beji, Kota Depok, kasus DBD telah menunjukkan tren yang tinggi selama beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, wilayah ini mencatat jumlah kasus tertinggi di Kota Depok, dengan total 177 kasus dan incidence rate (IR) sebesar 370,73 per 100.000 penduduk. Analisis awal mengindikasikan bahwa faktor lingkungan rumah dan partisipasi masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang belum optimal dapat menjadi faktor tingginya kasus DBD di Kelurahan Beji. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh kondisi lingkungan rumah dan praktik PSN terhadap kejadian DBD di Kelurahan Beji tahun 2024. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Beji, Kota Depok selama periode Mei-Juni 2024 dengan menggunakan desain studi kasus kontrol. Sampel terdiri dari 35 orang kasus dan 35 orang kontrol. Sampel kasus dipilih menggunakan simple random sampling dari laporan kasus DBD yang tercatat di Puskesmas Depok Utara, sementara sampel kontrol dipilih dari tetangga terdekat dari rumah kasus. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini meliputi laporan kasus DBD dari Puskesmas Depok Utara, kuesioner, dan lembar observasi keberadaan jentik nyamuk. Analisis data meliputi univariat dan bivariat (uji Chi Square). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa variabel yang berhubungan dengan kejadian DBD pada penelitian ini adalah keberadaan jentik (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), sumber air bersih (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), dan kebiasaan menggantung pakaian kotor (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Puskesmas Depok Utara dan Dinas Kesehatan Kota Depok disarankan untuk meningkatkan upaya edukasi dan penyuluhan terkait praktik PSN yang efektif kepada masyarakat dan menggiatkan gerakan 1 rumah 1 jumantik. Masyarakat Kelurahan Beji juga harus meningkatkan partisipasi aktif dalam gerakan 1 rumah 1 jumantik, meningkatkan kesadaran dan kedisiplinan dalam melaksanakan praktik PSN, serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko DBD.

Dengue hemorrhagic fever (DHF) is a viral infection transmitted through the bites of Aedes aegypti and Aedes albopictus mosquitoes. In Beji Subdistrict, Depok City, DHF cases have shown a high trend over the past few years. In 2022, this area recorded the highest number of cases in Depok City, with a total of 177 cases and an incidence rate (IR) of 370,73 per 100.000 population. Initial analysis indicates that household environmental factors and suboptimal community participation in mosquito nest eradication may contribute to the high number of DHF cases in Beji Subdistrict. This study aims to identify the influence of household environmental conditions and mosquito nest eradication practices on the incidence of DHF in Beji Subdistrict in 2024. The research was conducted in Beji Subdistrict, Depok City, from May to June 2024 using a case-control study design. The sample consisted of 35 cases and 35 controls. Case samples were selected using simple random sampling from DHF case reports recorded at Depok Utara Public Health Center, while control samples were selected from the nearest neighbors of the case households. The instruments used in this study included DHF case reports from Depok Utara Public Health Center, questionnaires, and observation sheets for mosquito larvae presence. Data analysis included univariate and bivariate analysis (Chi-Square test). Bivariate analysis showed that the variables associated with the incidence of DHF in this study were the presence of larvae (p-value = 0,026 ; OR = 4,58), container index (CI) (p-value = 0,014 ; OR = 7,56), clean water source (p-value = 0,036 ; OR = 0,205), and the habit of hanging dirty clothes (p-value = 0,046 ; OR = 0,31). Depok Utara Public Health Center and the Depok City Health Office are advised to enhance education and counseling efforts regarding effective mosquito nest eradication practices in the community and to intensify the “1 House 1 Jumantik” movement. The community in Beji Subdistrict should also increase active participation in the “1 House 1 Jumantik” movement, improve awareness and discipline in implementing mosquito nest eradication practices, and avoid habits that can increase the risk of DHF.
Read More
S-11792
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive