Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35608 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Lena Elfrida Situmeang; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Iswanto Cahyono, Santy Parulian Panjaitan
Abstrak: Pembangunan kesehatan Indonesia diarahkan untuk mencapai Jaminan kesehatan Nasional(JKN). Namun, sebagian besar pendanaan kesehatan masih didominasi oleh rumah tanggamelalui out-of-pocket (OOP). Pengeluaran biaya kesehatan katastrofik rumah tangga akanmengganggu konsumsi rumah tangga dan dapat mengakibatkan kemiskinan. Menggunakan datasekunder Survei Sosial Nasional (Susenas) tahun 2012, penelitian ini bertujuan membuktikanbahwa kepemilikan jaminan kesehatan menurunkan belanja kesehatan katastrofik rumah tanggadi Indonesia tahun 2012. Penelitian dengan desain studi potong lintang ini, menggunakanpendekatan ekonometrik dengan model probit dan bivariat probit. Hasil penelitian menunjukkanbahwa kepemilikan jaminan kesehatan menurunkan belanja kesehatan katastrofik sebesar12.97% pada ambang batas 10% dari total pengeluaran dan sebesar 18.42% pada ambang batas20% total pengeluaran non-makanan. Kepemilikan jaminan kesehatan memberikan perlindunganterhadap belanja kesehatan katastrofik di Indonesia pada Tahun 2012.Kata kunci: Jaminan kesehatan, Belanja kesehatan katastrofik, Probit, Bivariat probit, Susenas
Indonesia's health development geared to achieve national health insurance scheme (JKN).However, funding of health in Indonesia is still dominated by domestic funding through out-of-pocket (OOP). Catastrophic health expenditure of households will disrupt householdconsumption and can lead to poverty. By using secondary data of the National Social Surveys(Susenas) 2012, this study aims to prove health insurance ownership lowers catastrophic healthexpenditure of households in Indonesia in 2012. This study used a cross-sectional study designwith models probit and bivariate probit. The results found that the health insurance ownershiplowers catastrophic health expenditure in the amount 12.97% at the threshold 10% of totalexpenditure and 18.42% at 20% of total non-food expenditure. Health insurance ownershipprovides protection for catastrophic health expenditure in Indonesia in 2012.Keywords: Health insurance, Catastrophic health expenditure, Probit, Bivariate probit, Susenas.
Read More
T-4619
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mazda Novi Mukhlisa; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Doni Arianto, Nida Rohmawati
Abstrak: Pemanfaatan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan berperan dalam upayamenurunkan kematian ibu. Di Indonesia, persalinan di fasilitas kesehatanmengalami peningkatan setiap tahunnya, tetapi masih terdapat sekitar 30%-37%ibu yang bersalin di rumah. Sayangnya, peningkatan pemanfaatan pelayananpersalinan di fasilitas kesehatan tersebut tidak diimbangi dengan penurunan AKIsehingga Indonesia tidak berhasil mencapai target MDGs. Indonesiamengarahkan kebijakan pembangunannya untuk mencapai jaminan kesehatansemesta (Universal Health Coverage/UHC) dengan mengimplementasikanprogram Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang mengintegrasikan empatjaminan kesehatan. Jaminan kesehatan dapat mengatasi kendala biaya padapersalinan di fasilitas kesehatan.Menggunakan data Riskesdas 2013 dan Podes 2011 sebagai sumber data,penelitian ini bertujuan membuktikan bahwa kepemilikan jaminan kesehatanmeningkatkan pemanfaatan pelayanan persalinan di fasilitas kesehatan diIndonesia tahun 2013. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintangdengan model probit dan bivariat probit untuk mengestimasi peningkatan tersebut.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepemilikan jaminan kesehatanmeningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan sebesar 39,52%. Peningkatanakses terhadap persalinan di fasilitas kesehatan selanjutnya diharapkan dapatmenurunkan kematian ibu.Kata kunci: Jaminan kesehatan, Persalinan di fasilitas kesehatan, Probit, Bivariatprobit.
Institutional delivery has an impact on decreasing maternal mortality. InIndonesia, institutional delivery increases every year, but there are still 30%-37%delivery at home. Unfortunately, the increase did not in line with maternalmortality reduction so that Indonesia did not achieve the fifth MDGs goal. Inorder to achieve Universal Health Coverage, Indonesia implemented JaminanKesehatan Nasional (JKN) for all. JKN integrated four types of health insurance.One of its benefits is maternal health services. Health insurance can addressfinancial barriers on delivery in health facility.Using secondary data of Riskesdas 2013 and Podes 2011, the study aims toinvestigate the effect of health insurance on institutional delivery in Indonesia.The estimation of the effect used probit and bivariate probit models to take intoaccount the issue of endogeneity of health insurance.The result found that health insurance tends to increase institutional delivery by39.52%. Furthermore, the increase is expected to reduce maternal mortality.Keywords: Health insurance, Institutional delivery, Probit, Bivariate probit.
Read More
T-4667
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fredrik Lumbantobing; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Budi Hidayat, Kurnia Sari, Doni Hendrawan, Ismiwanto
T-4311
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhe Ubaidillah; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Wahyu Pudji Nugraheni, Mazda Novi Mukhlisa
Abstrak: Tujuh tahun semenjak skema jaminan kesehatan nasional (JKN) diperkenalkan, cakupan di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai 85% dari populasi, akan tetapi secara rata-rata out-of-pocket (OOP) pengeluaran kesehatan penduduk DKI Jakarta dua kali lipat dari pengeluaran Nasional. Tingginya cakupan JKN ternyata tetap diiringi dengan naiknya OOP pada Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini berfokus untuk memahami bagaimana hubungan kepemilikan jaminan kesehatan dengan utilisasi layanan kesehatan dan pengeluaran kesehatan tunai di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder Susenas Kor Tahun 2021. Analisis kuantitatif yang dilakukan pada penelitian ini mencakup dua tahap, tahap pertama dengan menggunakan data tingkat individu untuk mengetahui determinan perilaku kesehatan individu terhadap utilisasi layanan kesehatan. Tahap kedua dilakukan dengan menggunakan data tingkat rumah tangga untuk mengetahui kecenderungan pemanfaatan jaminan kesehatan dengan out-of-pocket pengeluaran kesehatan di Provinsi DKI Jakarta. Dari penelitian ini didapatkan fakta bahwa status ekonomi penduduk kuintil satu (Q1) dan kuintil dua (Q2) merupakan kelompok penduduk terbesar yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Hasil analisis pada tahap pertama menunjukkan bahwa penduduk DKI Jakarta lebih memilih fasilitas kesehatan layanan yang dikelola oleh swasta untuk utilisasi rawat jalan sedangkan untuk utilisasi rawat inap fasilitas layanan kesehatan yang dioperasikan oleh pemerintah sedikit lebih unggul. Penduduk yang memiliki JKN akan memanfaatkannya untuk utilisasi rawat jalan maupun rawat inap. Sedangkan hasil pada tahap kedua menunjukkan bahwa out-of-pocket pengeluaran kesehatan tunai penduduk yang memiliki jaminan kesehatan nasional (JKN) lebih rendah dibandingkan dengan penduduk yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Penduduk yang memiliki jaminan kesehatan ganda / kombinasi (JKN dan swasta) saat utilisasi layanan kesehatan adalah menggunakan asuransi kesehatan swasta. Semakin tinggi status ekonomi penduduk, semakin tinggi juga pengeluaran kesehatannya. Penelitian ini menunjukkan bahwa pemerintah sangat perlu memperhatikan cakupan kepemilikan jaminan kesehatan pada penduduk dengan status ekonomi rendah / miskin. Selain itu juga perlu mendorong penduduk lebih memanfaatkan JKN saat utilisasi rawat jalan dan rawat inap agar lebih dapat menurunkan risiko keuangan, terutama pada penduduk yang memiliki anggota rumah tangga kelompok rentan.
Seven years since the national health insurance scheme (JKN) was introduced, coverage in DKI Jakarta Province has reached 85% of the population, but the average out-of-pocket (OOP) health expenditure of DKI Jakarta residents is twice that of the national expenditure. The high JKN coverage was accompanied by an increase in OOP in DKI Jakarta Province. This study focuses on understanding how health insurance ownership relates to health service utilization and cash health expenditure in DKI Jakarta Province. This study uses secondary data from Susenas Kor in 2021. The quantitative analysis conducted in this study includes two stages, the first stage using individual-level data to determine the determinants of individual health behavior on health service utilization. The second stage was carried out using household-level data to determine the tendency of health insurance utilization with out-of-pocket health expenditure in DKI Jakarta Province. This study found that the economic status of the population in quintile one (Q1) and quintile two (Q2) is the largest group of people who do not have health insurance. The results of the first stage of analysis show that DKI Jakarta residents prefer privately-run health facilities for outpatient utilization, while government-operated health facilities are slightly superior for inpatient utilization. Residents who have JKN will use it for outpatient and inpatient utilization. The results of the second stage showed that the out-of-pocket cash health expenditure of people with national health insurance (JKN) was lower than that of people without health insurance. Residents who have dual/combination health insurance (JKN and private) when utilizing health services are using private health insurance. The higher the economic status of the population, the higher their health expenditure. This study suggests that the government should pay close attention to the coverage of health insurance among people with low economic status. It also needs to encourage people to make more use of JKN when utilizing outpatient and inpatient care in order to further reduce financial risk, especially for people with vulnerable household members.
Read More
T-7002
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Heniwati; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Pujiyanto, Kurniasari, Khudori, Lemi Kurniawan
Abstrak: Selain tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi, pembiayaan penyakitkatastropik (gagal ginjal, kardiovaskular, kanker, thalassemia dan hemophilia)yang menyerap biaya sangat tinggi harus menjadi perhatian serius. Penelitianbertujuan untuk menganalisis biaya penyakit katastropik berdasarkan karakteristikpeserta. Jenis penelitian kuantitatif analitik menggunakan data klaim di BPJSKesehatan berupa data peserta dan biaya tahun 2014 berjumlah 309.301 klaim.Hasil analisis menunjukkan ada perbedaan bermakna rata-rata biaya penyakitkatastropik menurut length of stay, kelas perawatan dan kelas rumah sakit. Upayapromotif, preventif serta manajemen penyakit penderita perlu ditingkatkan untukmencapai efektivitas dan efisiensi biaya pelayanan kesehatan dalam menjaminkeberlangsungan program jaminan kesehatan nasional.Kata kunci:Penyakit katastropik, biaya fasilitas kesehatan tingkat lanjutan, karakteristikpeserta, upaya promotif, preventif dan manajemen penyakit
In addition to morbidity and mortality are high, financing catastrophic diseases(kidney failure, cardiovascular disease, cancer, thalassemia and hemophilia) thatabsorb very high cost should be a serious concern. The study aims to analyze thecost of catastrophic diseases based on the characteristics of participants.Quantitative research analytical uses claims data in the form of data BPJSparticipants and costs in 2014 amounted to 309 301 claims. The analysis showedsignificant difference in the average cost of catastrophic illness according tolength of stay, classes and class hospital care. Promotive, preventive and diseasemanagement of patients need to be improved to achieve cost effectiveness andefficiency of health care in ensuring the sustainability of national health insuranceprogram.Key words:Catastrophic diseases, hospital expenses, characteristic of participant, promotive,preventive and disease management.
Read More
T-4575
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Fatimah; Pembimbing: Prastuti Soewindo; Penguji: Pujiyanto, Kurnia Sari, Kurniansyah, Said Rahadian
Abstrak:
Belanja kesehatan adalah jenis belanja daerah yang dipergunakan dalam rangka mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota dalam bidang kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah diperoleh gambaran belanja kesehatan secara komprehensif yang akan digunakan untuk mempertajam alokasi belanja kesehatan, dan menjadi evaluasi terhadap belanja kesehatan yang dapat memberikan indikator kesehatan yang meningkat. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan mengumpulkan dana alokasi dari pendanaan kesehatan yang bersumber pemerintah. Hasil penelitian sumber pembiayaan dari jumlah yang dialokasikan APBD maka dana yang dikeluarkan telah memadai, hal ini terlihat dari persentase jumlah yang diperoleh sebesar 12,8 % pada tahun 2019. Pengelola dalam sektor kesehatan menunjukan adanya pengelola yang didominasi oleh Rumah Sakit sebesar 39,94%, Dinas Kesehatan 34,44% dan puskesmas 25,62 %. Berdasarkan jenis fungsi pelayanan kuratif hanya mencapai 24,5%. Jika melihat proporsi terhadap fungsi, program dan mata anggaran yang dibiayai, maka akan diperoleh operasional lebih banyak digunakan untuk belanja gaji dari pada untuk biaya program upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan individu. Kesimpulan : Belanja kesehatan dominan dialokasikan untuk belanja kesehatan tidak langsung, pemerataan terhadap program kuratif sangat rendah.

Health expenditure is a type of regional expenditure used to fund the implementation of government initiatives and programs in the health sector that fall under the jurisdiction of provinces or districts/cities. This research aims to provide a comprehensive overview of public health expenditure in order to inform the allocation of resources and evaluate the effectiveness of these expenditures in improving health outcomes. This research employs a descriptive research design, using data on government funding for health initiatives. The results of the study show that the source of financing is from the amount allocated by the APBD, the funds spent are adequate, this can be seen from the percentage of the amount obtained by 12.8% in 2019. Managers in the health sector show that there are managers who are dominated by hospitals amounting to 39, 94%, Health Office 34.44% and Health Center 25.62%. Based on the type of curative service function only reached 24.5%.However, a closer examination of the funded functions, programs, and budget items reveals that a greater proportion of funding is allocated towards operational costs, specifically salary expenditure, rather than program costs for public and individual health efforts. Overall, this research finds that a significant proportion of health spending is directed towards indirect expenditures, resulting in low levels of equity in funding for curative programs.
Read More
T-6536
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elvina Diah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Doni Arianto, Donni Hendrawan
Abstrak: Masih adanya out-of-pocket pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)mengindikasikan bahwa JKN belum optimal dalam memberikan perlindungan finansialkepada pesertanya. Selanjutnya, pada negara low-middle income penting untuk melihatkejadian katastropik dan pemiskinan dalam rumah tangga. Tujuan penelitian ini adalahuntuk melihat keterkaitan antara kepemilikan JKN dalam rumah tangga dengan out-of-pocket kesehatan dan kejadian katastropik dalam rumah tangga serta menggambarkanpemiskinan yang terjadi akibat out-of-pocket kesehatan di dalam rumah tangga padatahun 2014 sampai dengan tahun 2016. Penelitian ini menggunakan data Susenas tahun2014 sampai dengan tahun 2016 yang dianalisis dengan pendekatan ekonometri. Untukout-of-pocket kesehatan dalam rumah tangga diestimasi dengan Ordinary Least Square(OLS), untuk kejadian katastropik dalam rumah tangga diestimasi dengan menggunakanmodel logit, dan untuk gambaran pemiskinan dalam rumah tangga dianalisis denganmelihat pengeluaran rumah tangga sebelum dan sesudah memperhitungkan out-of-pocket kesehatan. Penelitian ini menunjukkan, adanya proporsi kepemilikan JKN dalamrumah tangga pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 dapat memberikanperlindungan finansial berupa penurunan out-of-pocket kesehatan dan mencegahterjadinya pengeluaran katastropik dalam rumah tangga serta menjadi pengaruh tidaklangsung dalam menurunkan pemiskinan dalam rumah tangga. Ke depannya, perlufokus pada perluasan kepesertaan JKN dan peningkatan kegiatan promotif dan preventifdalam ranga mencapai Universal Health Coverage.Kata Kunci: Out-of-Pocket, Kejadian Katastropik, Pemiskinan, Jaminan KesehatanNasional, Universal Health Coverage
Out-of-pocket (OOP) healthcare in National Health Insurance (NHI) participationindicates that NHI was not yet optimal to provide financial protection. Furthermore, It‟simportant for low-middle-income countries to look at catastrophic incidence inhousehold. The aim of this study was to examine the relationship between NHIownership on household with OOP healthcare and catastrophic incidence, and alsodescribe the impoverishment because of OOP healthcare in household from 2014 to2016. This study use Susenas data 2014 to 2016 and analyzed by econometric approach.For OOP healthcare in household estimated by Ordinary Least Square (OLS), forcatastrophic incidence in household estimated using logit model, and to describeimpoverishment in household analyzed by looking at household expenditure before andafter taking into acoount OOP healthcare. The proportion of JKN ownership inhousehold from 2014 to 2016 can provide financial protection in the form of decreasedOOP healthcare and prevent catastrophic incidence in household, and become indirecteffect reducing impoverishment in household. In the future, we need to focus expandingNHI participation and increasing promotive and preventive programme in order toachieve Universal Health Coverage.Keywords: Out-of-Pocket, Catastrophic Incidence, Impoverishment, National HealthInsurance, Universal Health Coverage.
Read More
T-5282
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andre Yunianto; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Felly Philipus Senewe, Mazda Novi Mukhlisa
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan mengetahui peran jaminan kesehatan dan determinan yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan kesehatan oleh penyandang disabilitas di Indonesia pada tahun 2021 menggunakan data Susenas Maret 2021. Variabel terikat penelitian ini adalah pemanfaatan pelayanan kesehatan rawat jalan dan rawat inap di FKTP dan FKRTL. Data dianalisis secara bivariat dan multivariat dengan metode Binary Regression menggunakan model logit. Diketahui variabel kepemilikan jaminan kesehatan, pemanfaatan JKN, jenis disabilitas, tingkat keparahan disabilitas, jenis kelamin, pendidikan, status pekerjaan, status kawin, jumlah anggota rumah tangga, dan karakteristik tempat tinggal serta status ekonomi berpengaruh signifikan pada pemanfaatan layanan rawat jalan dan rawat inap (p-value 0,000 <0,005). Kepemilikan jaminan kesehatan non JKN atau kepemilikan jaminan kesehatan ganda (JKN dan non JKN) meningkatkan peluang pemanfaatan layanan baik rawat inap maupun rawat jalan. Terjadi penurunan kepemilikan jaminan kesehatan terhadap peningkatan status ekonomi penyandang disabilitas (propoor). Sebaliknya terjadi tren peningkatan pemanfaatan jaminan kesehatan terhadap peningkatan status ekonomi keluarga penyandang disabilitas (prorich).


 

This research aims to determine the role of health insurance and the determinants that influence the use of health services by people with disabilities in Indonesia in 2021 using Susenas data for March 2021. The dependent variable of this research is the use of outpatient and inpatient health services at FKTP and FKRTL. Data were analyzed bivariately and multivariately using the Binary Regression method using the logit model. It is known that the variables of ownership of health insurance, utilization of JKN, type of disability, severity of disability, gender, education, employment status, marital status, number of household members, and characteristics of residence and economic status have a significant effect on the utilization of outpatient and inpatient services ( p-value 0.000 <0.005). Ownership of non-JKN health insurance or ownership of dual health insurance (JKN and non-JKN) increases the chances of utilizing both inpatient and outpatient services. There has been a decrease in ownership of health insurance due to an increase in the economic status of people with disabilities (propoor). On the contrary, there is a trend of increasing use of health insurance towards increasing the economic status of families of people with disabilities (prorich).

Read More
T-7080
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arthur Andreas Alfonso; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Pujiyanto, Beno Herman, Wasja
Abstrak:

Indonesia telah menjadi pelopor dalam pengelolaan program jaminan kesehatan sosial (JKN) terbesar di dunia. Program ini diinisiasi sejak tahun 2011 berdasarkan Undang-Undang No 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional dengan pencapaian kepesertaan JKN sebesar 96% terhadap jumlah penduduk pada Desember 2023. Cakupan kesehatan semesta sebagai salah satu upaya dalam program JKN tidak hanya berkaitan dengan kepesertaan, tetapi juga mencakup manfaat yang diterima serta mekanisme pembiayaannya. Ekuitas sebagai salah satu asas dalam memenuhi persyaratan Universal Health Coverage (UHC) masih menjadi masalah dalam pelaksanaan program JKN ini, hal ini terlihat dari data grafik yang dianalisa oleh Ascobat Gani pada tahun 2019 bahwa masih terjadi disparitas yang sangat signifikan antara wilayah propinsi di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini untuk melakukan analisis terhadap faktor dari sisi penyedia atau supply side yang mempengaruhi terjadinya disparitas pemanfaatan layanan kesehatan pada fasilitas kesehatan tingkat pertama program JKN. Penelitian ini menggunakan data sekunder BPJS Kesehatan, dan data publikasi dari Kementrian Keuangan dan Kemntrian Dalam Negeri serta Badan Pusat Statistik. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat dengan menggunakan metode regresi linier berganda. Secara statistik, pemanfaatan layanan kesehatan ditingkat pertama dipengaruhi sebesar 30% oleh kondisi geografis melalui alat ukur status keterpencilan Desa melalui variabel Skor Indeks Desa Membangun (IDM), dan kondisi sosioekonomi melalui alat ukur kapasitas fiskal dan persentase Pendapatan Asli Daerah (PAD) terhadap APBD kabupaten dan kota. Skor IDM dan Persentase PAD terhadap APBD secara signifikan berpengaruh positif sedangkan rasio kapasitas fiskal daerah secara signifikan berpengaruh negatif dengan nilai signifikansi P < 0,05 terhadap kontak rate kunjungan rawat jalan tingkat pertama


Indonesia has become a pioneer in managing the largest social health insurance (JKN) program in the world. This program was initiated in 2011 based on Law No. 40 of 2004 concerning the National Social Security System with the achievement of JKN membership of 96% of the total population in December 2023. Universal health coverage as one of the efforts in the JKN program is not only related to membership, but also includes the benefits received and the financing mechanism. Equity as one of the principles in fulfilling Universal Health Coverage (UHC) requirements is still a problem in the implementation of the JKN program. This can be seen from graphic data analyzed by Ascobat Gani in 2019 that there are still very significant disparities between provincial regions in Indonesia. The aim of this research is to conduct an analysis of factors from the provider side or supply side that influence disparities in health service utilization in first level health facilities of the JKN program. This research uses secondary data from BPJS Kesehatan, and published data from the Ministry of Finance and Ministry of Home Affairs as well as the Central Statistics Agency. Data were analyzed univariately, bivariately and multivariately using multiple linear regression methods. Statistically, the utilization of health services at the first level is influenced by 30% by geographical conditions through measuring village remoteness status through the Village Development Index Score (IDM) variable, and socio-economic conditions through measuring fiscal capacity and the percentage of Regional Original Income (PAD) to the district APBD and city. The IDM score and the percentage of PAD to APBD have a significant positive effect, while the regional fiscal capacity ratio has a significant negative effect with a significance value of P < 0.05 on the contact rate of first level outpatient visits.

Read More
T-7044
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jati Setyo Dwi Susanti; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Mardiati Nadjib, Minerva Theodora Simatupang
Abstrak:
Depresi merupakan salah satu gangguan mental dengan beban tertinggi di Indonesia, namun kesenjangan pengobatan (treatment gap) masih sangat lebar. Kepemilikan asuransi kesehatan berpotensi menurunkan hambatan finansial dalam pencarian pengobatan, tetapi bukti empiris pada populasi bergejala depresi di Indonesia masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis Hubungan Kepemilikan Asuransi Kesehatan dengan Pencarian Pengobatan pada individu bergejala depresi di Indonesia berdasarkan kerangka Model Perilaku Pemanfaatan Layanan Kesehatan Andersen (1995). Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Indonesia Family Life Survey gelombang kelima (IFLS-5) tahun 2014–2015. Sampel analitik terdiri dari 7.241 individu berusia ≥15 tahun dengan skor CES-D ≥10. Variabel dependen adalah pencarian pengobatan rawat jalan dalam empat minggu terakhir. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan design-based F-test (koreksi Rao-Scott), dan multivariat dengan regresi logistik biner tertimbang (survey-weighted). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 7.241 individu bergejala depresi, hanya 21,8% yang mencari pengobatan (treatment gap = 78,2%). Setelah dikontrol oleh faktor predisposisi, enabling, dan need, kepemilikan asuransi kesehatan secara signifikan meningkatkan odds pencarian pengobatan (OR = 1,216; 95% CI: 1,061–1,393; p = 0,005) dengan peningkatan probabilitas absolut sebesar 3,1 percentage points. Disagregasi jenis asuransi menunjukkan bahwa hanya JKN/BPJS yang memiliki efek signifikan (OR = 1,257; p = 0,003). Kondisi kronis merupakan prediktor terkuat (OR = 3,242 untuk ≥2 kondisi kronis). Variabel lain yang signifikan meliputi jenis kelamin, status pernikahan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan kuintil pengeluaran per kapita, sedangkan usia dan wilayah tempat tinggal tidak signifikan. Lima analisis robustness mengkonfirmasi konsistensi temuan utama. Kesimpulannya, kepemilikan asuransi kesehatan menunjukkan hubungan yang signifikan dan robust terhadap pencarian pengobatan pada individu bergejala depresi, namun efeknya yang moderat dan treatment gap yang masih lebar menunjukkan bahwa proteksi finansial saja tidak cukup. Diperlukan intervensi multidimensi yang mengintegrasikan optimalisasi pemanfaatan JKN, integrasi skrining depresi dalam layanan penyakit kronis di fasilitas kesehatan tingkat pertama, serta penanganan hambatan non-finansial berupa stigma dan rendahnya literasi kesehatan mental.

Depression is one of the mental disorders with the highest burden in Indonesia, yet the treatment gap remains very wide. Health insurance ownership has the potential to reduce financial barriers to treatment seeking, but empirical evidence among the population with depressive symptoms in Indonesia remains limited. This study aims to analyze the association between health insurance ownership and treatment seeking among individuals with depressive symptoms in Indonesia based on Andersen's Behavioral Model of Health Services Utilization (1995). The study employed a cross-sectional design using secondary data from the fifth wave of the Indonesia Family Life Survey (IFLS-5) 2014–2015. The analytical sample comprised 7,241 individuals aged ≥15 years with CES-D scores ≥10. The dependent variable was outpatient treatment seeking within the last four weeks. Data were analyzed using univariate, bivariate with design-based F-test (Rao-Scott correction), and multivariate survey-weighted binary logistic regression. The results showed that of 7,241 individuals with depressive symptoms, only 21.8% sought treatment (treatment gap = 78.2%). After controlling for predisposing, enabling, and need factors, health insurance ownership significantly increased the odds of treatment seeking (OR = 1.216; 95% CI: 1.061–1.393; p = 0.005), with an absolute increase in probability of 3.1 percentage points. Disaggregation by insurance type revealed that only JKN/BPJS had a significant effect (OR = 1.257; p = 0.003). Chronic conditions were the strongest predictor (OR = 3.242 for ≥2 chronic conditions). Other significant variables included sex, marital status, education level, employment status, and per capita expenditure quintile, while age and area of residence were not significant. Five robustness analyses confirmed the consistency of the main findings. In conclusion, health insurance ownership shows a significant and robust association with treatment seeking among individuals with depressive symptoms; however, its moderate effect and the persistently wide treatment gap suggest that financial protection alone is insufficient. Multidimensional interventions are needed, integrating the optimization of JKN utilization, incorporation of depression screening within chronic disease services at primary healthcare facilities, and addressing non-financial barriers such as stigma and low mental health literacy.
Read More
T-7668
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive