Ditemukan 33684 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Neneng Bisyaroh; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Sri Tjahyani Budi Utami, Ikeu Tanziha, Abu Amar
Abstrak:
Boraks merupakan racun bagi semua sel. Pengaruhnya terhadap tubuhtergantung konsentrasi yang dicapai. Karena kadar tertinggi dicapai pada waktudiekskresi maka ginjal merupakan organ yang paling terpengaruh dibandingkandengan organ lain. Dosis fatal boraks antara 0,1-0,5 g/kg berat badan. Banyaklaporan kasus mengenai bahaya keracunan boraks. Insidens keracunan terjadidimana saja diakibatkan menelan pangan yang tidak aman. Boraks harus dicegahkarena kandungan toksitasnya. Penjelasan dan kesadaran tentang bahaya borakssangat diperlukan karena sangat mudahnya konsumen terpapar boraks melaluimakanan.Tujuan utama penelitian adalah untuk mengetahui faktor-faktor yangmempengaruhi perilaku penggunaan boraks pada pedagang bakso di KotaTangerang Selatan Tahun 2016. Penelitian ini menggunakan desain case controldengan jumlah sampel sebanyak 150 penjual yang memproduksi bakso sendiri.Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Juni 2016.Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antarafaktor predipsosisi dengan perilaku penggunaan boraks, yaitu P value pelatihansebesar 0,960, P value pengetahuan = 0.539, dan P value sikap = 0.464. Faktorpenguat yang berhubungan dengan perilaku penggunaan boraks adalahpembinaan, P= karena nilai P= 0.045, Odd Ratio (OR) = 2.528 (95% CI : 1.091-5.858). Hal ini menunjukkan bahwa responden yang mendapatkan pembinaan,2.528 kali lebih untuk tidak menggunakan boraks dibandingkan denganresponden yang tidak mendapatkan pembinaan. Dari hasil analisis multivariatsecara keseluruhan, maka penggunaan boraks pada responden dapat diperkirakandengan ketersediaan boraks dan pembinaan. Pembinaan akan menurunkanpenggunaan boraks sebesar 2.198.Saran yang dapat diberikan yaitu, perlu dilakukan peningkatan pembinaandan pemerintah mengawasi lebih ketat peredaran bahan makanan terlarangterutama boraks.Kata kunci : boraks, perilaku, pedagang, bakso.
Borax is toxic to all cells. The effect on the body depends on theconcentration achieved. Because the highest levels achieved on time excreted thekidney is the organ most affected compared to other organs. Borax fatal dose ofbetween 0.1-0.5 g / kg body weight. Many case reports of poisoning hazard borax.The incidence of poisoning occur anywhere due to swallowing food insecure.Borax must be prevented because the content of toxcity. Explanation andawareness about the dangers of borax is indispensable because it is so easyconsumer exposure through food contain borax.The main purpose of research is to determine the factors that affect thebehavior of the use of borax from meatballs traders in South Tangerang City Year2016. This study used a case control design with a sample size of 150 sellers whoproduce their own meatballs. This study was conducted in April-June, 2016.The results of this study showed no statistically significant associationbetween the use of behavioral factors predipose with borax, namely the trainingvariable has P value = 0,960, P value of knowledge = 0539, and P value ofattitudes = 0.464. Reinforcing factors relating to the behavior of the use of boraxis coaching, P value = 0.045, odds ratio (OR) = 2,528 (95% CI: 1091-5858). Thisindicates that respondents who receive coaching, 2,528 times more for not usingborax compared with respondents who did not receive coaching. Multivariateanalysis as a whole, then the use of borax in the respondent can be predicted bythe availability of borax and coaching. Coaching will reduce the use of borax by2.198. Advice can be given that, there should be an increase in guidance andtougher of government to monitor illicit circulation of foodstuffs especially borax.Keywords: borax, behavior, meatballs, traadders.
Read More
Borax is toxic to all cells. The effect on the body depends on theconcentration achieved. Because the highest levels achieved on time excreted thekidney is the organ most affected compared to other organs. Borax fatal dose ofbetween 0.1-0.5 g / kg body weight. Many case reports of poisoning hazard borax.The incidence of poisoning occur anywhere due to swallowing food insecure.Borax must be prevented because the content of toxcity. Explanation andawareness about the dangers of borax is indispensable because it is so easyconsumer exposure through food contain borax.The main purpose of research is to determine the factors that affect thebehavior of the use of borax from meatballs traders in South Tangerang City Year2016. This study used a case control design with a sample size of 150 sellers whoproduce their own meatballs. This study was conducted in April-June, 2016.The results of this study showed no statistically significant associationbetween the use of behavioral factors predipose with borax, namely the trainingvariable has P value = 0,960, P value of knowledge = 0539, and P value ofattitudes = 0.464. Reinforcing factors relating to the behavior of the use of boraxis coaching, P value = 0.045, odds ratio (OR) = 2,528 (95% CI: 1091-5858). Thisindicates that respondents who receive coaching, 2,528 times more for not usingborax compared with respondents who did not receive coaching. Multivariateanalysis as a whole, then the use of borax in the respondent can be predicted bythe availability of borax and coaching. Coaching will reduce the use of borax by2.198. Advice can be given that, there should be an increase in guidance andtougher of government to monitor illicit circulation of foodstuffs especially borax.Keywords: borax, behavior, meatballs, traadders.
T-4665
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Habsah; Pembimbing: Yvonne M. Indrawani; Penguji: Nurfi Afriansyah, Ratu Ayu Dewi Sartika
Abstrak:
ABSTRAK Mi basah merupakan makanan yang sering dikonsumsi oleh masyarakat karena praktis, mudah diolah serta dapat disajikan dengan cepat. Kadar airnya dapat mencapai 52% sehingga daya tahan simpannya relatif singkat. Boraks dan formalin adalah bahan pengawet yang menjadi pilihan untuk mengawetkan mi basah agar tahan lama, padahal sebenarnya penggunaannya dalam makanan dilarang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah pengetahuan pedagang berpengaruh terhadap perilaku penambahan boraks dan formalin pada mi basah. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan desain cross sectional dan percobaan uji boraks dan formalin pada mi basah (mentah dan matang) dilakukan di laboratorium gizi FKM UI. Gambaran karakteristik pedagang di kantin sebanyak 55% berumur 41-65 tahun, 55% adalah laki-laki, 55% berpendidikan SMA, pada kelompok pedagang mi mentah dan matang mempunyai rata-rata pengetahuan 74% meliputi pengetahuan mengenai BTP, boraks dan formalin. Berdasarkan 20 sampel yang diperiksa, ditemukan 4 sampel mi mentah positif mengandung boraks dan 7 mi matang positif mengandung boraks dan formalin. Berdasarkan pengamatan ciri fisiknya, mi basah yang mengandung boraks dan formalin mempunyai ciri yaitu teksturnya kenyal, lebih mengkilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus, bau menyengat, tahan disimpan dalam suhu kamar. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar pedagang mi basah sudah mengerti tentang boraks dan formalin. Walaupun demikian, masih banyak pedagang yang tetap menggunakannya, meskipun penggunaan boraks dan formalin dalam makanan dilarang.
Abstract Wet noodles is type food often consumed by people everyday because it is daily practice, easily processed and can be served quickly. It contains water in which can reach 52%, so that the durability is relative short. Borax and formalin are preservative of choice for preserving wet for durability, when in fact they use is prohibited in food. The aims of this study was determine whether knowledge of wet noodle sellers affected the bahaviot of addition of borax and formalin in wet noodles. This study is a quantitative study using cross sectional design. The result of this study showed most characteristic features of respondents age 41-65 years 45%, 55% male, 55% high school education, good knowledge of food additives 46% for fresh noodle respondents and 56 for wet noodle respondents, being knowledgeable about borax 100% for fresh and wet noodle respondents, good knowledge of formalin 28,6% for wet noodles respondents. Based on 20 samples af wet noodles are examined, 4 fresh noodles found contain borax and 7 wet noodles contain borax and formalin. Based on abservation of physical characteristics, wet noodles containing borax and formalin has a chewy texture, more shiny, not sticky, and not broken easily. Pungent odor and can be retained on temperature room. Conclusion this study proves level of knowledge of behavior and from results of laboratory tests showed the persistence of wet noodles seller sell wet noodles was contain borax and formalin.
Read More
S-7369
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Venna Rahmawati Fatimah; Pembimbing: Fatmah; Penguji: Ahmad Syafiq, Hartono
Abstrak:
Gangguan perilaku makan yang didefinisikan sebagai perilaku makan yang tidak normal seperti praktik dari penggunaan obat pencahar, bingeing, membatasi asupan makan dan metode tidak memadai lainnya untuk menurunkan atau mengontrol berat badan dengan frekuensi terjadinya kurang dari yang dibutuhkan untuk memenuhi kriteria penuh untuk didiagnosis sebagai perilaku makan menyimpang menjadi semakin umum dilakukan oleh remaja SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan gangguan perilaku makan pada siswi di SMAI Al-Azhar 4 Kemang Pratama Kota Bekasi Tahun 2016. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif observasional dengan desain studi cross sectional. Responden (n=150) diminta untuk mengisi kuesioner terkait gangguan perilaku makan, citra tubuh, riwayat diet, rasa percaya diri, peran orang tua, pengaruh teman dan pengaruh tokoh di media massa. Selain itu, dilakukan juga pengukuran antropometri yang meliputi penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan untuk melihat Indeks Massa Tubuh (IMT) responden. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 32,7% responden mengalami gangguan perilaku makan. Selain itu, terdapat hubungan yang bermakna antara citra tubuh, riwayat diet, pengaruh orang tua, pengaruh teman dan pengaruh tokoh di media massa terhadap gangguan perilaku makan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya edukasi gizi untuk meningkatkan pengetahuan gizi dan kewaspadaan terhadap gangguan perilaku makan. Kata kunci: citra tubuh, gangguan perilaku makan, riwayat diet, peran orang tua, pengaruh teman, pengaruh tokoh di media massa, remaja putri
Read More
S-9160
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ridanti Indraswari Prastiwi; Pembimbing: Yvonne Magdalena Indrawani; Penguji: Trini Sudiarti, Rahmawati
S-7149
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Miranti Azmi; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Triyanti, Husnah Maryati
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungandengan perilaku pemberian ASI eksklusif pada Ibu yang memiliki bayi 6-12 bulandi wilayah kerja Puskesmas Kemang, Kabupaten Bogor. Penelitian inimenggunakan desain cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada April-Mei2016 kepada 94 Ibu yang memiliki bayi 6-12 Bulan di wilayah kerja PuskesmasKemang. Instrumen penelitian berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukanbahwa 38,3% Ibu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya. Hasil uji statistikmenunjukan bahwa terdapat hubungan bermakna antara pendidikan Ibu, promosisusu formula, pengetahuan, sikap, dukungan suami, dukungan keluarga dandukungan mertua dengan (p-value < 0,05) terhadap perilaku pemberian ASIeksklusif.Kata Kunci : ASI eksklusif, pendidikan, pengetahuan, sikap, dukungan, promosisusu formula.
Read More
S-9093
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sutanto; Pembimbing: Siti Arifah Pudjonarti; Penguji: Asih Setiarini, Syafri Guricci, Minarto, HAYG Wibisono
T-2666
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hadiyati Fudla; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Ahmad Syafiq, Hera Genefi T
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan perilaku gizi seimbang pada siswa anggota SBH. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan desain cross- sectional. Penelitian ini dilakukan pada bulan April- Juni 2015 kepada 127 orang siswa SMP- SMA yang menjadi anggota SBH melalui pengisian angket. Pengolahan data menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 21.3% responden memiliki perilaku sesuai dengan Pedoman Gizi Seimbang (PGS). Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan dengan perilaku gizi seimbang (OR= 0.048), serta dukungan orang tua berupa saran dengan perilaku gizi seimbang (OR= 0.047). Untuk meningkatkan perilaku siswa sesuai dengan PGS disarankan bagi instansi sekolah untuk memasukkan pesan- pesan terkait gizi seimbang ke dalam mata ajar pendidikan jasmani dan kesehatan serta memberikan penghargaan kepada siswa yang mengikuti kegiatan SBH. Selain itu bagi Puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk mendukung kegiatan SBH sesuai dengan wilayah kerjanya masing- masing.
This study aims to determine the factors associated with the behavior of balanced nutrition in students SBH members. The draft study is a quantitative study with cross-sectional design. This research was conducted in April-June 2015 to 127 Junior High School and Senior High School students who are members of SBH through filling a questionnaire. Processing data using chi-square test to look at the relationship between the dependent and independent variables. The results showed that 21.3% of respondents have a behavior in accordance with the Guidelines for Balanced Nutrition (PGS). There is a significant relationship between knowledge and behavior of balanced nutrition (OR = 0048), and the support of parents in the form of advice with balanced nutrition behavior (OR = 0.047). To improve student behavior in accordance with PGS recommended for school authorities to incorporate balanced nutrition related messages into physical education lessons and health and provide rewards for students who take the SBH. in addition to the health center and the city health department to support the activities of SBH in accordance with their respective working areas
Read More
This study aims to determine the factors associated with the behavior of balanced nutrition in students SBH members. The draft study is a quantitative study with cross-sectional design. This research was conducted in April-June 2015 to 127 Junior High School and Senior High School students who are members of SBH through filling a questionnaire. Processing data using chi-square test to look at the relationship between the dependent and independent variables. The results showed that 21.3% of respondents have a behavior in accordance with the Guidelines for Balanced Nutrition (PGS). There is a significant relationship between knowledge and behavior of balanced nutrition (OR = 0048), and the support of parents in the form of advice with balanced nutrition behavior (OR = 0.047). To improve student behavior in accordance with PGS recommended for school authorities to incorporate balanced nutrition related messages into physical education lessons and health and provide rewards for students who take the SBH. in addition to the health center and the city health department to support the activities of SBH in accordance with their respective working areas
S-8855
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuby Abigail; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Trini Sudiarti, Tria Astika Endah Permatasari
Abstrak:
Read More
Kecenderungan perilaku makan menyimpang (PMM) merupakan gangguan makan yang mengubah pola konsumsi atau penyerapan makanan hingga mengganggu kesehatan seseorang. Di Indonesia, prevalensi PMM terus meningkat dan salah satu kelompok yang paling rentan adalah remaja. Beberapa studi terdahulu yang dilakukan di Jakarta, Depok, dan Bekasi (2008-2023) menunjukkan angka kecenderungan PMM sebesar 32,7% - 91,7% di kalangan remaja. PMM merupakan masalah yang perlu memperoleh perhatian khusus karena dapat membawa berbagai dampak buruk bagi tumbuh kembang remaja bahkan dapat berujung pada kematian. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kejadian dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kecenderungan PMM pada remaja perempuan maupun laki – laki. Terdapat sepuluh variabel independen yang diteliti, yaitu jenis kelamin, status gizi, citra tubuh, stres, rasa percaya diri, aktivitas fisik, pengetahuan gizi, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, dan pengaruh media sosial. Desain penelitian yang digunakan adalah cross-sectional melibatkan 217 responden (kelas X dan XI) dari 15 SMA Negeri di Kota Depok, Jawa Barat. Pemilihan responden dilakukan menggunakan metode quota sampling dan pengambilan data dilakukan selama bulan April – Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa PMM merupakan masalah yang banyak ditemui dengan 78,8% responden ditemukan memiliki kecenderungan PMM. Hasil analisis bivariat menunjukkan hubungan yang bermakna antara kecenderungan PMM dengan stres, status gizi, pengaruh teman sebaya, pengaruh orang tua, dan pengaruh media sosial. Diperlukan adanya kolaborasi dari remaja, orang tua, sekolah, dan pemerintah untuk meningkatkan kesadaran dan mencegah peningkatan kasus PMM di kalangan remaja.
Eating disorders (EDs) tendencies are disordered eating-related behaviors that alter food consumption or absorption patterns that disrupt one's health. In Indonesia, the prevalence of eating disorders continues to rise, with adolescents being one of the most vulnerable groups. Several previous studies conducted in Jakarta, Depok, and Bekasi between 2008 and 2023 have shown a prevalence of PMM ranging from 32.7% to 91.7% among teenagers. PMM is a problem that requires special attention because it can have various negative impacts on the growth and development of teenagers, and can even lead to death. This study was conducted to understand the incidence and factors associated with EDs tendencies among both female and male adolescents. Ten independent variables were examined: gender, nutritional status, body image, stress, self-confidence, physical activity, nutritional knowledge, peer influence, parental influence, and social media influence. The research design used was cross-sectional, involving 217 respondents (10th and 11th graders) from 15 public high schools in Depok City, West Java. Respondents were selected using quota sampling method, and data collection took place during April - May 2024. Research results indicate that eating disorders are a prevalent issue, with 78.8% of respondents found to have tendencies towards EDs. Bivariate analysis results indicated significant relationships between EDs tendencies and stress, nutritional status, peer influence, parental influence, and social media influence. Collaboration among adolescents, parents, schools, and government is needed to increase awareness and prevent the rise of eating disorder cases among adolescents.
S-11673
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nia Rishandayani; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Endang L. Achadi, Nur Fitranto
S-9074
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Silvia Ayu Wulandari; Pembimbing: Wahyu Kurnia Yusrin Putra; Penguji: Triyanti, Ni Putu Dewi Arini
Abstrak:
Read More
Kebugaran kardiorespiratori merupakan kapasitas sistem kardiovaskuler dan pernapasan secara keseluruhan serta kemampuan untuk melakukan latihan dalam jangka waktu yang lama. Kebugaran kardiorespiratori dapat diukur dengan nilai VO2max, yaitu volume maksimum oksigen yang dapat diserap oleh tubuh manusia selama berolahraga pada ketinggian permukaan laut. Kebugaran yang rendah pada masa remaja dapat meningkatkan risiko kardiometabolik, penyakit kardiovaskular dini, prestasi akademik yang buruk, dan masalah kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kebugaran kardiorespiratori pada remaja siswa SMA Negeri 1 Kota Tangerang tahun 2024 dan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kebugaran kardiorespiratori. Variabel dependen dalam penelitian ini yaitu tingkat kebugaran kardiorespiratori. Sementara itu, variabel independen dalam penelitian ini, yaitu jenis kelamin, ekstrakurikuler olahraga, aktivitas fisik, status gizi (IMT/U dan persentase lemak tubuh), asupan gizi makro (energi, karbohidrat, protein, dan lemak), kualitas tidur, stres akademik, dan frekuensi konsumsi SSBs. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross-sectional. Pengambilan data dilakukan pada bulan Mei tahun 2024 kepada 105 siswa-siswi kelas X dan XI SMA Negeri 1 Kota Tangerang yang telah memenuhi kriteria inklusi. Pengumpulan data kebugaran kardiorespiratori diambil dengan metode Queen’s College Step Test, sedangkan pengumpulan data variabel lainnya menggunakan beberapa kuesioner, wawancara dengan food recall, serta pengukuran antropometri. Data yang diperoleh selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebanyak 46,7% siswa tergolong tidak bugar. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, asupan karbohidrat, dan stres akademik dengan tingkat kebugaran kardiorespiratori (p-value < 0,05). Oleh karena itu, diperlukan layanan konseling di sekolah untuk mengatasi stres siswa dan pemberian edukasi gizi untuk siswa berupa pemenuhan karbohidrat sesuai ajuran.
Cardiorespiratory fitness is the capacity of the cardiovascular and respiratory systems as a whole and the ability to perform prolonged exercise. Cardiorespiratory fitness can be measured by VO2max, which is the maximum volume of oxygen that can be absorbed by the human body during exercise at sea level. Low fitness during adolescence can increase the risk of cardiometabolic issues, early cardiovascular disease, poor academic performance, and mental health problems. This study aims to describe the level of cardiorespiratory fitness among high school students at SMA Negeri 1 Kota Tangerang in 2024 and analyze the factors associated with the level of cardiorespiratory fitness. The dependent variable in this study is the level of cardiorespiratory fitness. Meanwhile, the independent variables include gender, sports extracurricular activities, physical activity, nutritional status (BMI-for-age and body fat percentage), macronutrient intake (energy, carbohydrates, protein, and fat), sleep quality, academic stress, and frequency of SSBs consumption. This study is a quantitative study using a cross-sectional study design. The data was collected in May 2024 with 105 students from grades X and XI of SMA Negeri 1 Kota Tangerang who met the inclusion criteria. The cardiorespiratory fitness data was collected using the Queen's College Step Test method, while the other variables were collected using several questionnaires, interviews with food recall, and anthropometric measurements. The obtained data were then analyzed univariately and bivariately using the chi-square test. The results of this study show that 46,7% of students are categorized as unfit. The study results also indicate a significant relationship between gender, carbohydrate intake, and academic stress with the level of cardiorespiratory fitness (p-value < 0.05). Therefore, counseling services are needed in schools to address student stress and provide nutritional education to students regarding appropriate carbohydrate intake.
S-11737
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
