Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40144 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Dian Fatma Kader; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Bamabang Siswanto, Achmad Naufa Azhari
Abstrak: Sulawesi Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia bagian tengah yangmasih endemis malaria baik di wilayah perkotaan maupun pedesaan. Prevalensikejadian malaria cenderung meningkat dari 2,12% pada tahun 2010 menjadi 10%di tahun 2013 dengan angka API di tahun 2013 adalah 6,4% lebih tinggi dari angkaAPI nasional 1,38%. Prevalensi tertinggi terjadi di wilayah pedesaandibandingkan perkotaan dan terbanyak di usia dewasa. Penelitian ini bertujuanuntuk mendeterminasi faktor yang berhubungan dengan kejadian malaria diwilayah perkotan dan pedesaan menggunakan desain cross sectional, sumber dataadalah data sekunder Riskesdas 2013 yang dianalisis menggunakan uji statistikregresi logistik terhadap sampel masyarakat usia produktif sebanyak 7381 sampeldiwilayah perkotaan dan 8489 sampel di wilayah pedesaan. Penelitianmenemukan bahwa prevalensi malaria di perkotan sebesar 2,4% dan di pedesaansebesar 5,8%. Ditemukan adanya hubungan antara plafon rumah serta jeniskelamin di wilayah perkotaan dan pedesaan, sementara di wilayah pedesaantingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan penggunaan obat semprot insektisidaberhubungan terhadap kejadian malaria. Faktor yang paling dominan memilikihubungan dengan kejadian malaria adalah plafon rumah di wilayah perkotaan(nilai p=0,005; OR 2,6 95% CI 1,28-5,26) dan penggunaan insektisida di wilayahpedesaan (nilai p=0,019; OR 2,77 95% CI 1,19-6,47)Kata kunci : Malaria, usia produktif, perkotaan, pedesaan
North Sulawesi is one of the provinces in the central part of which is still endemicmalaria in urban and rural areas. The prevalence of malaria incidence is increasefrom 2,12% in 2010 to 10% in 2013 with the Annual Paracite Index (API) in 2013were 6,4% higher than the national API about 1,38%. Prevalence was highest inrural areas rather than urban areas and highest in adulthood. This study aims todeterminant associated incidence of in the region of urban and rural areas withcross-sectional design, the data source is a secondary data of Riskesdas 2013 wereanalyzed using statistical test of logistic regression on samples of reproductive ageas many as 7381 samples in urban area and about 8489 samples in rural area. Theresult of study showed that prevalence of malaria in urban is about 2,4% andabout 5.8% in rural areas. There were association between the ceiling of the houseand sex in urban and rural areas, level of education, type of work and the behaviorof insecticide sprays in rural areas were related to malaria incidence. The mostdominant factor has a relationship with the incidence of malaria is the ceiling ofthe house in urban areas (0,05; OR 2,6 95% CI 1,26-5,26) and the use ofinsecticides in rural areas (p = 0,019; OR 2,77 95% CI 1,19-6,47)Keywords: Malaria, productive age, urban, rural
Read More
T-4673
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosifia Abigail; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Al Asyary, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare merupakan penyebab kematian terbesar kedua pada anak usia di bawah lima tahun, dimana 1 dari 9 balita di dunia meninggal diakibatkan oleh diare. WHO menyebutkan bahwa sekitar 80% kematian diare disebabkan oleh air yang tidak aman, sanitasi yang tidak memadai dan kebersihan yang tidak memadai, terutama di negara berkembang. Diare tetap menjadi masalah utama tetapi sebagian besar dapat dicegah. Air, sanitasi, dan kebersihan yang lebih baik dapat mencegah kematian 297.000 anak di bawah 5 tahun setiap tahunnya. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hubungan faktor WASH (sumber air bersih, air minum, fasilitas sanitasi, pembuangan tinja anak, dan fasilitas cuci tangan) dan faktor host (ASI eksklusif dan imunisasi campak) terhadap kejadian diare pada balita di wilayah pedesaan dan perkotaan di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data SDKI 2017. Hubungan antara variabel independen dengan dependen akan dilihat menggunakan uji statistik kai kuadrat (chi-square). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor WASH dan host yang memiliki hubungan signifikan dengan diare balita di Indonesia, yaitu sumber air bersih (OR = 1,41), air minum (OR = 1,37), fasilitas sanitasi (OR = 1,39), pembuangan tinja anak (OR = 1,26), ASI eksklusif (OR = 1,68) dan imunisasi campak (OR = 1,19). Pada wilayah pedesaan, yaitu air minum (OR = 1,39), fasilitas sanitasi (OR = 1,19), dan ASI eksklusif (OR = 1,72) serta di wilayah perkotaan, yaitu sumber air bersih (OR = 1,69), fasilitas sanitasi (OR = 1,65), pembuangan tinja anak (OR = 1,30), dan ASI eksklusif (OR = 1,64). Diharapkan pemerintah untuk memperluas pedoman terkait diare balita yang disebabkan karena faktor WASH dan faktor host balita, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Diarrhea is the second leading cause of death in children under five years old, account for 1 in 9 child deaths worlwide. WHO states around 80% deaths from diarrhea are caused by unsafe water, inadequate sanitation, and inadequate hygiene, especially in developing countries. Diarrhea remains a major problem but is largely preventable. Better water, sanitation, and hygiene could prevent the deaths of 297,000 children under five each year. This research aims to analyze the association between WASH risk factors (clean water sources, drinking water, sanitation facilities, disposal of children's feces, and hand washing facilities) and host factors (exclusive breastfeeding and measles immunization) on the prevalence of diarrhea among children under five in rural and urban areas in Indonesia. This research is a quantitative study using a cross-sectional research design. The data used is secondary data, SDKI 2017. The association between independent and dependent variables will be test using the chi-square statistical test. The research results show, clean water sources (OR = 1.41), drinking water (OR = 1.37), sanitation facilities (OR = 1.39), disposal of child feces (OR = 1.26), exclusive breastfeeding (OR = 1.68) and measles immunization (OR = 1.19), were significantly associated with children under five diarrhea. In rural areas, drinking water (OR = 1.39), sanitation facilities (OR = 1.19), and exclusive breastfeeding (OR = 1.72), were significantly associated with children under five diarrhea, and in urban areas, clean water sources (OR = 1.69 ), sanitation facilities (OR = 1.65), disposal of children's feces (OR = 1.30), and exclusive breastfeeding (OR = 1.64), were significantly associated with children under five diarrhea. The knowledge findings from this study suggest government to expands guidelines regarding children under five diarrhea caused by WASH factor and host factors, to increase public awareness.
Read More
S-11711
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadilla Hasan; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Haryanto, Aulia Salmaddiina
Abstrak:
Diare termasuk salah satu permasalahan kesehatan utama yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada kelompok rentan seperti balita. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi yang turut memberikan kontribusi terhadap angka kejadian diare nasional pada balita dengan prevalensi sebesar 5,9%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan dan perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan besar sampel 1.141 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi, uji chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber air minum memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan (p=0,049; OR=4,543). Sementara itu, sumber air bersih, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum, status gizi, dan status imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Setelah dikontrol oleh status gizi dan status imunisasi, hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. Variabel sumber air minum merupakan variabel yang paling mendekati signifikan, tetapi pada tahap pemodelan akhir tetap tidak bermakna secara statistik. Oleh karena itu, penting untuk tetap memperkuat upaya promotif dan preventif melalui peningkatan akses air minum aman, edukasi pengelolaan air rumah tangga, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan kesehatan balita secara berkelanjutan.

Diarrhea is one of the major health problems that requires serious attention, especially among vulnerable groups such as toddlers. South Kalimantan Province is one of the provinces contributing to the national burden of diarrhea among toddlers, with a prevalence of 5.9%. This study aimed to analyze the association between household water management and diarrhea incidence among toddlers in urban and rural areas of South Kalimantan Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study used a cross-sectional design with a sample of 1.141 toddlers. Data were analyzed using frequency distribution, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that drinking water source was significantly associated with diarrhea incidence among toddlers in urban areas (p = 0,049; OR = 4,543). Meanwhile, clean water source, drinking water treatment, drinking water storage container, nutritional status, and immunization status were not significantly associated with diarrhea incidence in either urban or rural areas. After controlling for nutritional status and immunization status, there was no significant association between household water management and diarrhea incidence among toddlers. Drinking water source was the variable closest to statistical significance; however, it remained statistically insignificant in the final model. In conclusion, this study stated that there was no significant association between household water management and diarrhea incidence in toddlers. Therefore, promotive and preventive efforts should continue to be strengthened through improved access to safe drinking water, household water management education, promotion of clean and healthy living behaviors, and continuous monitoring of child health.
Read More
S-12223
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nasywan Grananda Rachmantoro; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ema Hermawati, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak: Latar Belakang: Diare pada lanjut usia merupakan masalah kesehatan signifikan di Jawa Barat. Determinan pada kelompok usia transisi 60–75 tahun belum banyak dikaji. Tujuan: Menganalisis determinan kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun berdasarkan karakteristik individu, faktor lingkungan, dan faktor perilaku menggunakan data SKI 2023. Metode: Desain cross-sectional dengan sampel 5.169 responden. Analisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil: Prevalensi diare sebesar 3,3%. Analisis bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara jenis kelamin (p=0,001; OR=1,69), pendidikan (p=0,010; OR=1,77), tempat tinggal (p=0,016; OR=1,55), sumber air minum (p=0,037; OR=1,88), kualitas fisik air minum (p=0,046; OR=1,88), pengelolaan sampah (p=0,021; OR=1,44), fasilitas cuci tangan (p=0,002; OR=1,66), dan perilaku cuci tangan pakai sabun (p=0,034; OR=1,76) dengan kejadian diare. Analisis multivariat menunjukkan jenis kelamin (perempuan) sebagai determinan paling dominan (aOR=1,723; 95% CI:1,251–2,374; p=0,001). Kesimpulan: Jenis kelamin perempuan merupakan faktor paling dominan terhadap kejadian diare pada penduduk usia 60–75 tahun di Provinsi Jawa Barat, diikuti oleh ketersediaan fasilitas cuci tangan yang memadai.
Background: Diarrhea in the elderly is a significant health problem in West Java. Determinants among the transitional age group of 60–75 years have not been extensively studied. Objective: To analyze the determinants of diarrhea among the population aged 60–75 years based on individual characteristics, environmental factors, and behavioral factors using data from the 2023 Indonesian Health Survey. Methods: A cross-sectional design was employed with a sample of 5,169 respondents. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. Results: The prevalence of diarrhea was 3.3%. Bivariate analysis showed significant associations between diarrhea and sex (p=0.001; OR=1.69), education (p=0.010; OR=1.77), residence (p=0.016; OR=1.55), drinking water source (p=0.037; OR=1.88), physical quality of drinking water (p=0.046; OR=1.88), waste management (p=0.021; OR=1.44), handwashing facilities (p=0.002; OR=1.66), and handwashing with soap behavior (p=0.034; OR=1.76). Multivariate analysis revealed that female sex was the most dominant determinant (aOR=1.723; 95% CI: 1.251–2.374; p=0.001). Conclusion: Female sex is the most dominant factor associated with diarrhea among the population aged 60–75 years in West Java Province, followed by the availability of adequate handwashing facilities.
Read More
S-12261
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agrina Cintya Lestari; Pembimbing: Umar Fahmi Acmadi; Penguji: Budi Hartono, Ely Setyawati
Abstrak: Diare pada balita masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang ada di Indonesia. Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku merupakan tiga provinsi dari beberapa provinsi di Indonesia yang mengalami peningkatan kejadian diare dari tahun 2007 hingga 2013 dan balita menjadi populasi yang paling berisiko untuk mengalami diare. Fasilitas jamban, sumber air minum, pengolahan air minum, dan fasilitas cuci tangan diketahui menjadi faktor risiko kejadian diare. Studi ini menggunakan desain potong lintang dengan menggunakan data sekunder yang bersumber dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 untuk mengetahui hubungan antara fasilitas jamban, sumber air minum, pengolahan air minum, dan fasilitas cuci tangan dengan kejadian diare pada balita. Sampel penelitian adalah balita berusia 0-59 bulan di Daerah Istimewa Yogyakarta, Sulawesi Selatan, dan Maluku yang menjadi sampel SDKI 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi diare tertinggi ditemukan di Sulawesi Selatan (20,5%) dan terendah di Daerah Istimewa Yogyakarta (6,4%). Selain itu, ditemukan hubungan yang signifikan antara fasilitas cuci tangan dengan kejadian diare pada balita di Daerah Istimewa Yogyakarta (nilai P=0,026). Sumber air minum juga ditemukan berhubungan secara signifikan dengan kejadian diare pada balita di Sulawesi Selatan (nilai P=0,007). Fasilitas cuci tangan pun berhubungan dengan signifikan dengan kejadian diare pada balita di Maluku (nilai P=0,010). Walaupun beberapa variabel tidak berhubungan dengan signifikan, variabel-variabel tersebut dapat meningkatkan risiko balita untuk mengalami diare. Oleh karena itu, pencegahan terhadap faktor risiko perlu dilakukan seperti menggunakan jamban yang memenuhi syarat, menggunakan sumber air minum yang layak, mengolah air minum sebelum dikonsumsi, dan memiliki fasilitas cuci tangan yang memadai. Kata Kunci: diare, fasilitas jamban, sanitasi, air, cuci tangan, balita
Read More
S-9403
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yusna HI. DJ. Lebelo; Pembimbing: Dewi Susanna, Ririn Arminsih; Penguji: Zakianis, Helena Ulyartha, Casuli
T-3932
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farras Qurota A'yun Darmawan; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare didefinisikan sebagai kondisi buang air besar sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja encer atau cair. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diare pada balita di Provinsi Banten berada di atas prevalensi nasional (4,9%) yaitu sebesar 5,6%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian diare pada balita usia 0-59 bulan di Provinsi Banten berdasarkan data SKI 2023 yang mencakup tiga kelompok faktor risiko, yaitu karakteristik balita (status imunisasi dasar, status gizi balita, dan suplemen vitamin A), karakteristik ibu (pendidikan ibu, pengolahan air minum, kebiasaan CTPS), dan karakteristik lingkungan (sumber air minum, kondisi jamban, pengelolaan air limbah, dan pengelolaan sampah). Jumlah responden yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 1.256 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian diare pada balita dengan pengolahan air minum (POR=0,43; 95% CI: 0,25–0,73) dan kondisi jamban (POR=0,56; 95% CI: 0,31–0,98). Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah pengolahan air minum (POR=0,41; 95% CI: 0,23–0,70).

Diarrhea is defined as having three or more bowel movements per day with loose or watery stools. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of diarrhea among toddlers in Banten Province was higher than the national prevalence (4.9%), at 5.6%. This study aims to analyze the determinants of diarrhea incidence among children aged 0–59 months in Banten Province based on 2023 SKI data, covering three groups of risk factors: child characteristics (basic immunization status, child nutritional status, and vitamin A supplementation), maternal characteristics (maternal education, drinking water treatment, CTPS habits), and environmental characteristics (drinking water source, latrine conditions, wastewater management, and waste management). The number of respondents analyzed in this study was 1,256 infants who met the inclusion and exclusion criteria. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis using multiple logistic regression. The results of the analysis showed a significant association between the incidence of diarrhea in toddlers and drinking water treatment (POR=0.43; 95% CI: 0.25–0.73) and latrine conditions (POR=0.56; 95% CI: 0.31–0.98). The factor most strongly associated with the incidence of diarrhea in infants was drinking water treatment (POR=0.41; 95% CI: 0.23–0.70).   
Read More
S-12241
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis Ramandha Dewi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup karakteristik balita, karakteristik keluarga, dan kondisi lingkungan rumah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 2.969 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian ISPA pada balita dengan status imunisasi dasar (p=0,02; OR=0,55; 95% CI=0,33–0,93) dan pendidikan terakhir ibu (p=0,04; OR=0,62; 95% CI=0,39–0,98). Sementara variabel usia balita, jenis kelamin, riwayat BBLR, pemberian vitamin A, perilaku merokok anggota keluarga, jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian ISPA. Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian ISPA pada balita adalah status imunisasi dasar.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern and a leading cause of morbidity among children under five in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), the prevalence of ARI among children under five in West Java Province was 4,9%, approaching the national prevalence of 5,8%. This study aimed to analyze the determinants of ARI incidence in children aged 0–59 months in West Java Province using 2023 SKI data, focusing on child characteristics, family characteristics, and household environmental conditions. A cross-sectional design was employed involving 2,969 children who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using chi-square tests, and multivariate analysis through multiple logistic regression. Results revealed significant relationships between ARI incidence and basic immunization status (p=0.02; OR=0.55; 95% CI=0.33–0.93) and maternal education level (p=0.04; OR=0.62; 95% CI=0.39–0.98). Meanwhile, child’s age, gender, history of low birth weight, vitamin A supplementation, household smoking behavior, roof type, wall type, and floor type did not show significant associations with ARI incidence. Basic immunization status was identified as the most dominant determinant of ARI incidence in under-five children.
Read More
S-11947
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rista Yunanda; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Kartika Anggun Dimar Setio, Wahyu Septiono, Titeu Herawati, Siti Sugih Hartiningsih
Abstrak:
Kekerasan seksual pada remaja usia 13–17 tahun adalah tindakan seksual terhadap remaja yang berusia dibawah usia hukum dan belum matang secara psikososial, yang terjadi akibat eksploitasi kerentanan, dan tanpa persetujuan yang sah. Pelaporan kekerasan seksual pada remaja semakin meningkat setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti determinan kekerasan seksual pada remaja di wilayah perkotaan dan pedesaan Indonesia. Penelitian ini menggunakan teori sosio-ekologi. Sumber data menggunakan data SNPHAR tahun 2021. Jumlah sampel sebanyak 4.903 remaja usia 13-17 tahun. Analisis yang digunakan adalah univariat, bivariat dan multivariabel. Temuan hasil penelitian ini menunjukan prevalensi kekerasan seksual di wilayah perkotaan sebesar 6,09% dan di pedesaan sebesar 5,84%. Determinan kekerasan seksual di perkotaan mencakup jenis kelamin (AOR: 2,57 95% CI: 1,69-3,90), sikap terhadap gender (AOR : 1,52 95%CI: 1,02-2,27), pekerjaan (AOR : 1,78 95% CI: 1,12-2,86) dan dukungan keluarga (AOR: 2,68 95%CI : 1,89-3,81). Kemudian, determinan kekerasan seksual di pedesaan mencakup disabilitas (AOR: 2,55 95%CI: 1,22-5,31), jenis kelamin (AOR: 2,35 95%CI: 1,39-3,97), dukungan keluarga (AOR: 2,56 95%CI: 1,78-3,68), pekerjaan (AOR : 1,85 95%CI : 1,13-3,01) dan paparan informasi kesehatan reproduksi (AOR: 0,54 95%CI: 0,31-0,94). Berdasarkan hasil penelitian ini maka diperlukan pencegahan primer, sekunder dan tersier agar kekerasan seksual pada remaja di Indonesia dapat ditangani.

Sexual violence against adolescents aged 13–17 years is a sexual act against adolescents who are under the legal age and psychosocially immature, which occurs as a result of exploitation of vulnerability and without true consent. Reports of sexual violence against adolescents are increasing every year. This study aims to investigate the determinants of sexual violence against adolescents in urban and rural areas of Indonesia. The study employs a socio-ecological theory. Data sources utilize the 2021 SNPHAR data. The sample size comprises 4,903 adolescents aged 13–17 years. The analyses employed include univariate, bivariate, and multivariable analyses. The findings of this study show that the prevalence of sexual violence in urban areas is 6.09% and in rural areas is 5.84%. Determinants of sexual violence in urban areas include gender (AOR: 2.57, 95% CI: 1.69-3.90), attitudes toward gender (AOR: 1.52, 95% CI: 1.02–2.27), occupation (AOR: 1.78, 95% CI: 1.12–2.86), and family support (AOR: 2.68, 95% CI: 1.89–3.81). Furthermore, determinants of sexual violence in rural areas include disability (AOR: 2.55, 95% CI: 1.22–5.31), gender (AOR: 2.35, 95% CI: 1.39–3.97), family support (AOR: 2.56, 95% CI: 1.78–3.68), occupation (AOR: 1.85, 95% CI: 1.13–3.01), and exposure to reproductive health information (AOR: 0.54, 95% CI: 0.31–0.94). Based on the results of this study, primary, secondary, and tertiary prevention measures are needed to address sexual violence among adolescents in Indonesia.
Read More
T-7243
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Andrianningsih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan pada balita yang prevalensinya mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk, rendahnya persentase rumah layak huni, serta paparan polutan udara perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder SKI. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik balita (usia, jenis kelamin, riwayat BBLR, dan status imunisasi dasar), karakteristik keluarga (pendidikan ibu dan perilaku merokok anggota keluarga), serta kondisi lingkungan rumah (jenis atap, dinding, dan lantai). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA (p > 0,05). Berdasarkan pemodelan multivariat, jenis atap rumah merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut dengan melibatkan variabel-variabel lain di luar cakupan studi ini guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian ISPA pada balita tetap perlu dilakukan dengan pendekatan multisektoral, seperti mengadakan program intervensi rumah layak huni, meningkatkan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai faktor risiko ISPA, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Acute Respiratory Tract Infection (ARI) is a health problem in toddlers whose  prevalence is increasing. This condition is exacerbated by high population density,  low percentage of habitable houses, and exposure to urban air pollutants. This study  aims to analyze the determinants of the incidence of ARI in toddlers in DKI Jakarta  Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study used  a cross-sectional design with secondary SKI data. The variables studied included  toddler characteristics (age, gender, history of low birth weight, and basic  immunization status), family characteristics (maternal education and smoking  behavior of family members), and home environmental conditions (type of roof,  walls, and floors). The results of the analysis showed no statistically significant  relationship between all studied variables and the incidence of ARI (p > 0.05).  However, based on multivariate modeling, the type of roof is the most dominant  factor in the incidence of ARI in toddlers. These results indicate the need for further  research involving other variables beyond the scope of this study to obtain a more  comprehensive picture. Therefore, efforts to prevent and control ARI in toddlers  still require a multisectoral approach, such as implementing a habitable housing  intervention program, increasing community education on various ARI risk factors,  and promoting clean and healthy living habits.
Read More
S-12224
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive