Ditemukan 33417 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Pranatiwi Nur Tsani; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Sri Tjahkani Budi Utami, Rahman, Ika Lastyaningrum, Sumiati
T-4703
Depok : FKM UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Natasha Zwit Audrey; Pembimbing: R. Budi Haryanto; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Lukman Hakim
Abstrak:
tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara variabilitas iklim (suhu, curah hujan,dan kelembapan udara) dengan kejadian malaria di Kota Jayapura tahun 2011-2020. Metode yang digunakan Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain studi ekologi.
Read More
S-10720
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ariefanny Nabila; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Zakianis, Aria Kusuma
Abstrak:
Read More
Kondisi temperatur pesisir Jakarta yang terus meningkat akibat dampak dari perubahan iklim akan mempengaruhi penularan dan perkembangan penyakit, termasuk Tuberkulosis Paru. Kota Administrasi Jakarta Timur memiliki jumlah kasus TB Paru tertinggi di Provinsi DKI Jakarta dan terus mengalami kenaikan kasus. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi untuk menganalisis hubungan signifikan antara faktor mikro iklim dengan insiden TB Paru BTA (+). Hasil uji korelasi menunjukan adanya hubungan antara temperatur udara (lag 1: r= 0,1,93; lag 2: r= 0,289), kecepatan angin (lag 1: r= -0,139) dan curah hujan (lag 2: r= -0,173) dengan insiden TB Paru. Hasil analisis per bulan dan per tahun menunjukan hubungan antara faktor mikro iklim dengan insiden TB Paru BTA (+) pada periode musim basah. Faktor variabilitas mikro iklim dapat menggambarkan 0,8% dari insiden TB Paru BTA (+) yang sebenarnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adanya hubungan searah antara temperatur udara, kecepatan angin, tekanan udara dan curah hujan tinggi terhadap insiden TB Paru. Sementara itu curah hujan yang rendah dan kelembaban relatif memiliki hubungan berlawanan arah dengan insiden TB Paru. Saran dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan deteksi dini potensi peningkatan kasus TB Paru dengan indikator mikro iklim, serta memfokuskan pencegahan dan pengendalian TB Paru di musim basah.
The condition of Jakarta's coastal temperature which continues to increase due to the impact of climate change will affect the transmission and development of diseases, including Pulmonary Tuberculosis. East Jakarta Administrative City has the highest number of pulmonary TB cases in DKI Jakarta Province and continues to experience an increase in cases. This study used an ecological study design to analyze the significant relationship between microclimatic factors and the incidence of AFB (+) pulmonary TB. The results of the correlation test showed that there was a relationship between air temperature (lag 1: r= 0.1.93; lag 2: r= 0.289), wind speed (lag 1: r= -0.139) and rainfall (lag 2: r= - 0.173) with the incidence of pulmonary TB. The results of analysis per month and per year show the relationship between microclimatic factors and the incidence of AFB (+) pulmonary TB in the wet season period. The microclimate variability factor can describe 0.8% of the actual incident (+) Lung TB. The conclusion of this study is that there is a unidirectional relationship between air temperature, wind speed, air pressure and high rainfall on the incidence of pulmonary TB. Meanwhile, low rainfall and relative humidity have an opposite relationship with the incidence of pulmonary TB. Suggestions from this study are to develop early detection of the potential increase in pulmonary TB cases with microclimate indicators, and focus on prevention and control of pulmonary TB in the wet season.
S-11424
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Arina Qonita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Debbie Valonda S.
Abstrak:
Read More
Diare masih menjadi masalah kesehatan dengan tren cenderung meningkat di Provinsi DKI Jakarta dalam kurun 5 tahun terakhir. Kejadian diare di wilayah Provinsi DKI Jakarta perlu mendapat perhatian karena dapat dipengaruhi oleh berbagai macam faktor risiko, salah satunya adalah kualitas air yang dikonsumsi oleh rumah tangga. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan kualitas air minum pada tingkat rumah tangga dan pengaruhnya terhadap kejadian diare di Provinsi DKI Jakarta dengan turut melihat faktor kondisi sarana air minum, faktor sanitasi, faktor perilaku, dan juga faktor sosiodemografi. Desain studi yang digunakan adalah cross sectional dengan data sekunder yang berasal dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Tahun 2025. Kualitas air minum rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta sebagian besar belum memenuhi syarat (86,8%). Sebagian besar kualitas air minum rumah tangga ditinjau dari parameter mikrobiologi (57,6%) dan juga fisik (57,2%) di Provinsi DKI Jakarta belum memenuhi syarat sesuai dengan baku mutu yang berlaku. Mayoritas rumah tangga di Provinsi DKI Jakarta memiliki sumber air minum yang layak (97,9%), lokasi yang aman (98,7%), wadah penyimpanan tertutup (74,6%), tidak mengetahui jarak penampungan tinja dengan sumber air minum (53,0%), tidak melakukan pengolahan air sebelum diminum (56,4%), memiliki tingkat pendidikan menengah dan tinggi (91,0%), bekerja (95,0%), dan juga berusia produktif (96,9%). Hasil analisis diperoleh bahwa tidak terdapat variabel yang berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian diare (p > 0,05). Namun, faktor yang paling dominan adalah sumber air minum sebagai faktor yang turut berperan secara signifikan. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya upaya pencegahan diare melalui pemantauan kualitas air minum rumah tangga secara berkala, edukasi pengolahan dan penyimpanan air minum, serta penguatan perilaku hidup bersih dan sehat di tingkat rumah tangga.
Diarrhea continues to pose a significant public health challenge with an increasing trend in DKI Jakarta Province over the last five years. The incidence of diarrhea in DKI Jakarta Province requires attention, as it may be influenced by various risk factors, one of which is household drinking water quality. This research sought to investigate the association between household drinking water quality and diarrhea incidence in DKI Jakarta Province by also considering factors related to drinking water facilities, sanitation, behavior, and sociodemographic characteristics. Utilizing a cross-sectional design approach, the research analyzed secondary data derived from the 2025 Household Drinking Water Quality Surveillance conducted by the DKI Jakarta Provincial Health Office. The results showed that of household drinking water failed to meet the quality standards (86,8%), particularly in the microbiological (57.6%) and physical (57.2%) parameters. Even though most households had improved water sources (97.9%), safe locations (98.7%), and closed storage containers (74.6%), many respondents were unaware of the distance to the septic tank (53.0%) and did not treat their water before consumption (56.4%). Furthermore, the majority of respondents had secondary or higher education (91.0%), were employed (95.0%), and belonged to the productive age group (96.9%). The findings indicated that no factors were statistically significantly associated with diarrhea incidence (p > 0.05). However, water source was the most dominant factor that played a significant role. These results indicate the need for diarrhea prevention efforts through regular monitoring of household drinking water quality, education on drinking water treatment and storage, and strengthening clean and healthy living behaviors at the domestic level.
S-12244
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Pratiwi Handayani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Ema Hermawati, Winarno
S-7357
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Budi Prayitno; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Ema Hermawanti, Haryoto Kusnoputranto, Warmo Sudrajat, Heri Nugroho
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue, penularannya melalui vektor nyamuk serta ditemukan di daerah tropis dan sub tropis. Transmisi penularan penyakit DBD tergantung pada populasi vektor (Aedes Aegypti dan Ades Albopictus) yang dipengaruhi oleh kondisi iklim dan tutupan/penggunaan lahan. Kondisi iklim di Kota Batam merupakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan dan transmisi penyakit DBD. Perubahan tutupan lahan juga diduga menjadi penyebab tingginya insiden DBD di kota Batam. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor iklim dan tutupan lahan dengan insiden DBD di Kota Batam. Studi ini merupakan studi ekologi dengan menggunakan data bulanan selama 10 tahun (2005-2014). Hasil uji statistik menunjukkan bahwa suhu berhubungan signifikan (p=0.021) dengan insiden DBD pada lag 0 dengan korelasi lemah dan negatif (r=-0,211). Kelembaban signifikan dengan insiden DBD pada lag 1 dan lag 2 (p=0.003 dan p=0,001) dengan korelasi sedang dan positif (r=0,270 dan r=0,290). Analisis spasial menunjukkan adanya pola hubungan antara suhu, luas lahan terbangun dan luas lahan ber-vegetasi dengan insiden DBD.
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue, DBD, Variabilitas Iklim, Perubahan Iklim, Tutupan Lahan
Read More
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue, DBD, Variabilitas Iklim, Perubahan Iklim, Tutupan Lahan
T-4390
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Cassey Engeliq; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Fajar Nugraha
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui vektor nyamuk Aedes sp. Penyakit DBD menjadi salah satu penyakit yang relatif meningkat dalam dekade terakhir terkhusus pada wilayah Kota Jakarta Timur. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara faktor iklim dengan kejadian penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah Jakarta Timur pada periode tahun 2016-2025. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi berdasarkan waktu, yaitu ecological time trend study dengan populasi penelitian adalah seluruh masyarakat wilayah Jakarta Timur yang menderita DBD dan terdata pada Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Jakarta. Hasil: hasil analisi bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa hubungan yang signifikan secara statistik (p>0,05) dominan terjadi pada kelembapan udara terhadap kejadian penyakit DBD time lag 1 dan time lag 0. Sementara itu, hubungan yang signifikan secara statistik pada variabel suhu terjadi pada tahun 2020 (time lag 0) dan 2023 (time lag 0 dan time lag 1), serta hubungan yang signifikan secara statistik untuk variabel curah hujan terjadi pada tahun 2019 (time lag 1) dan 2020 (time lag 0 dan time lag 1). Hubungan faktor iklim terhadap kejadian DBD di Kota Administrasi Jakarta Timur cenderung bervariasi setiap tahunnya dan tidak seluruh variabel iklim memiliki hubungan yang signifikan secara statistik. Upaya penanggulangan dan pencegahan DBD perlu disesuaikan secara lebih adaptif terhadap dinamika kondisi cuaca dan penduduk, serta karakteristik wilayah agar pengendalian kasus DBD dapat dilakukan secara efektif.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a disease caused by the dengue virus and transmitted through Aedes spp. mosquitoes. DHF has become one of the diseases that has relatively increased over the last decade, particularly in the East Jakarta Administrative City area. Objective: This study aimed to determine and analyze the relationship between climate factors and the incidence of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in East Jakarta during the 2016–2025 period. Methods: This study used an ecological time-trend study design. The study population consisted of all people in East Jakarta diagnosed with DHF and recorded in the Epidemiological Surveillance and Immunization database of the Jakarta Health Office. Results: The results of the bivariate analysis using correlation tests showed that statistically significant relationships (p < 0.05) predominantly occurred between air humidity and DHF incidence at time lag 0 and time lag 1. Meanwhile, statistically significant relationships for temperature were found in 2020 (time lag 0) and 2023 (time lag 0 and time lag 1). Statistically significant relationships for rainfall were identified in 2019 (time lag 1) and 2020 (time lag 0 and time lag 1). The relationship between climatic factors and DHF incidence in the East Jakarta Administrative City tended to vary annually, and not all climatic variables showed statistically significant associations. Therefore, DHF prevention and control efforts need to be adapted more responsively to weather dynamics, population conditions, and regional characteristics in order to improve the effectiveness of DHF case control.
S-12255
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Gusni Febriasari; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Suwitno
S-6534
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fadhilah Rasya Rahmadianingputri' Pembimbing: Zakianis; Penguji: R. Budi Haryanto, Edwin Nasli
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang dapat merenggut sekitar 1,5 juta jiwa setiap tahunnya. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang paling sering menyerang paru-paru. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020, Provinsi DKI Jakarta berada diurutan kedua dalam hal Penyakit Tuberkulosis, yaitu 228 kasus per 100.000 penduduk. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tuberculosis, meliputi faktor sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor status sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup terhadap kasus kejadian Penyakit Tuberkulosis di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Serta, menganalisis hubungan antara kejadian Penyakit Tuberkulosis dan kematian COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kecamatan di Provinsi DKI Jakarta yang berjumlah 44. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik, dan Data Terbuka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Data disajikan dengan table untuk mengetahui besarnya kejadian Penyakit Tuberkulosis. Hasil analysis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa faktor sosioekonomi, yaitu tingkat Pendidikan yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Tuberkulosis.
Tuberculosis is an infectious disease that can kills almost 1,5 million humans every year. Tuberculosis is a disease that attacks the lung frequently. Tuberculosis is a disease caused by bacteria Mycobacterium tuberculosis. in 2020, DKI Jakarta Province, the capital city of Indonesia, was the second rank with the highest tuberculosis, that was 228 cases per 100.000 population. There are many factors that influence the incidence of tuberculosis, including socioeconomic factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors. The objective of this research is to analyze the relationship between socioeconomic status factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors with incidence of tuberculosis in DKI Jakarta Province in 2021. This research used Ecological study design with sub-district analysis unit in DKI Jakarta Province amounts 44. The data used are secondary data from DKI Jakarta Health Agency, DKI Jakarta Department of Population and Civil Registration, Central Statistics Agency, and Open Data from the DKI Jakarta Government. The data was displayed in a table to find out the magnitude of the incidence of tuberculosis. The results of the study indicate that socioeconomic factors, namely low levels of education are risk factors for the occurrence of Tuberculosis.
Read More
Tuberculosis is an infectious disease that can kills almost 1,5 million humans every year. Tuberculosis is a disease that attacks the lung frequently. Tuberculosis is a disease caused by bacteria Mycobacterium tuberculosis. in 2020, DKI Jakarta Province, the capital city of Indonesia, was the second rank with the highest tuberculosis, that was 228 cases per 100.000 population. There are many factors that influence the incidence of tuberculosis, including socioeconomic factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors. The objective of this research is to analyze the relationship between socioeconomic status factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors with incidence of tuberculosis in DKI Jakarta Province in 2021. This research used Ecological study design with sub-district analysis unit in DKI Jakarta Province amounts 44. The data used are secondary data from DKI Jakarta Health Agency, DKI Jakarta Department of Population and Civil Registration, Central Statistics Agency, and Open Data from the DKI Jakarta Government. The data was displayed in a table to find out the magnitude of the incidence of tuberculosis. The results of the study indicate that socioeconomic factors, namely low levels of education are risk factors for the occurrence of Tuberculosis.
S-10975
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puji Amrih Lestari; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Budi Hartono, Bambang Wispriyono, Beben Saiful Bahri, Inggariwati
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut adalah penyebab utama dari morbiditas serta mortalitas dari penyakit menular di seluruh dunia. Provinsi DKI Jakarta merupakan ibukota Indonesia yang memiliki lima kota besar yaitu Jakarta Pusat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Barat serta Kepulauan Seribu. Pencemaran udara ambien dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Sebagai kota yang sedang berkembang Provinsi DKI Jakarta turut menyumbangkan emisi udara yang menyebabkan menurunnya kualitas udara melalui kegiatan penduduk, kegiatan perindustrian dan transportasi. Dampak dari konsentrasi SO2 udara ambien yang tinggi merupakan salah satu dari meningkatnya penyakit saluran pemafasan akut atau disebut juga ISPA. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara konsentrasi SO2 dengan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta Menurut Musim Tahun 2018-2021. Desain penelitian menggunakan studi ekologi time series analysis dengan durasi penelitian mulai tahun 2018-2021. Data sekunder diperoleh dari institusi pemerintahan terkait, yaitu BMKG, Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. Analisis dilakukan menggunakan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di lima kota besar di DKI Jakarta untuk mengetahui kualitas udara selama 4 tahun terakhir berdasarkan musim hujan dan kering. Terdapat hubungan yang signifikan antara suhu udara dengan kejadian ispa pada balita di Provinsi DKI Jakarta menurut musim tahun 2018-2021, sedangkan untuk konsentrasi SO2, kelembaban udara dan curah hujan tidak memiliki hubungan yang signifikan (p>0,05). Untuk kekuatan yang rendah di variabel konsentrasi SO2 dengan arah yang negative, suhu udara memiliki kekuatan sedang dengan arah hubungan yg negatif. Sedangkan kelembaban udara dan curah hujan memiliki kekuatan yg sangat rendah dengan arah hubungan yang positif. Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta agar dapat dilaksanakan tindakan kesehatan terkait dengan ISPA pada balita. Intervensi yang lebih efektif di bidang promosi dan perlindungan kesehatan serta pencegahan risiko lingkungan iklim terhadap kesehatan penduduk, khususnya pada anak- anak
Acute Respiratory Infections are a major cause of morbidity and mortality from infectious diseases worldwide. DKI Jakarta is the capital city of Indonesia which has five major cities, namely Central Jakarta, North Jakarta, South Jakarta, East Jakarta, West Jakarta and the Thousand Islands. Ambient air pollution from year to year tends to increase. As a developing city, DKI Jakarta Province contributes to air emissions that cause a decrease in air quality through population activities, industrial activities and transportation. The impact of high ambient air SO2 concentrations is one of the reasons for the increase in acute respiratory disease or also known as ARI. The purpose of this study was to determine the relationship between SO2 concentration and the incidence of ARI in children under five in DKI Jakarta according to the 2018-2021 season. The research design uses an ecological time series analysis study with the duration of the study starting from 2018-2021. Secondary data were obtained from related government institutions, namely BMKG, the Environment Agency and the DKI Jakarta Provincial Health Office. The analysis was carried out using the Air Pollutant Standard Index (ISPU) in five major cities in DKI Jakarta to determine air quality for the last 4 years based on the rainy and dry seasons. There is a significant relationship between air temperature and the incidence of ARI in children under five in DKI Jakarta Province according to the 2018-2021 season, while for SO2 concentration, air humidity and rainfall there is no significant relationship (p>0.05). For low strength in the variable SO2 concentration with a negative direction, air temperature has a moderate strength with a negative relationship direction. While air humidity and rainfall have a very low strength with a positive relationship direction. DKI Jakarta Provincial Health Office in order to carry out health actions related to ARI in toddlers. More effective interventions in the areas of promotion and protection of health and prevention of the risks of the climate environment to the health of the population, in particular to children
T-6138
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
