Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35043 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Baiq Qurrata Aini; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dian Ayubi, Atik Nurwahyuni, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak: Hasil survei kepuasan peserta BPJS Kesehatan terhadap pelayanan klinikyang dilakukan pada tahun 2014 mencapai sekitar 80% dan melampaui targetRoad Map Menuju Jaminan Kesehatan Nasional. Namun, masih banyak keluhanyang disampaikan peserta BPJS Kesehatan seperti yang tertera pada laporanYLKI, situs resmi Kemenpan, dan lain-lain mengenai tidak terpenuhinya harapanmereka. Sehingga, perlu diketahui tingkat harapan peserta BPJS Kesehatanbeserta determinan harapan mereka.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenaideterminan harapan peserta BPJS Kesehatan terhadap layanan di Klinik PratamaKota Depok Periode Mei Tahun 2016. Penelitian ini mengkombinasikan antarapenelitian kualitatif dengan penelitian kuantitatif. Desain penelitian ini adalahsequential exploratory yang diawali dengan penelitian kualitatif untukmengeksplorasi fenomena dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian kuantitatif.Informan pada penelitian kualitatif adalah 12 orang dan responden pada penelitiankuantitatif adalah 203 orang.Hasil penelitian ini adalah tidak ada hubungan antara jenis kelamin, umur,dan pekerjaan dengan tingkat harapan peserta BPJS terhadap layanan di klinikpratama Kota Depok periode Mei tahun 2016. Sedangkan, variabel yang memilikihubungan dengan tingkat harapan peserta BPJS terhadap layanan di klinikpratama Kota Depok periode Mei tahun 2016 antara lain, pendidikan, personalneeds, word-of-mouth, dan past experience. Faktor yang paling dominanmempengaruhi tingkat harapan peserta BPJS terhadap layanan di klinik pratamaKota Depok periode Mei tahun 2016 adalah personal needs. Artinya, apabilafrekuensi kunjungan Peserta BPJS Kesehatan untuk berobat ke suatu klinik ketikasakit semakin tinggi, maka skor harapan peserta BPJS Kesehatan akan naiksemakin tinggi.Kata Kunci: harapan peserta BPJS Kesehatan, personal needs, past experience,words-of-mouth
The result of BPJS customer satisfaction survey in primary clinic in 2014was 80%, which means it achieved Road Map to Jaminan Kesehatan Nasionaltarget. However, there are still many complaints from the BPJS customer asshown in YLKI report and in Kemenpan official website regarding unfulfillmentof their expectation. Therefore, we needs to know the determinants and their levelof expectation.This study aim to determine information about the determinant of memberof BPJS Kesehatan expectation to the service of primary clinic in Depok Cityperiod May 2016. This study is combined qualitative and quantitative study.Design of this study is sequential exploratory, which is started by qualitative studyto explore the phenomena and then followed by quantitave study. Number ofinforman in qualitative study is 12 and number of respondent in quantitative studyis 203.The result of this study is there is no correlation between gender, age, andoccupation with the level of respondent expectation. There is correlation betweenlevel of education, personal needs, word-of-mouth, and past experience with thelevel of respondent expectation. The most dominant factor that influences thelevel of respondent expectation is personal needs, which means the higherrespondent frequency to visit primary clinic to get treatment when sick, the higherlevel of respondent expectation.Keyword: member of BPJS Kesehatan expectation, personal needs, pastexperience, words-of-mouth
Read More
T-4711
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Manda Hafni Permana; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Dian Ayubi, Verry Adrian, Dicky Alsadik
Abstrak: Provinsi DKI Jakarta memiliki berbagai isu kesehatan, salah satunya yaitu Triple Burden Disease, dimana Penyakit Menular (PM) masih tinggi, kemudian adanya peningkatan Penyakit Tidak Menular (PTM), ditambah dengan adanya Penyakit Infeksi Emerging (PIE)/ Re-Emerging dan/atau New Emerging. Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa PIE mendapat perhatian khusus karena dampaknya yang cukup serius baik dari sisi kesehatan maupun sosial ekonomi, terlebih di era digital dan globalisasi saat ini. Seiring dengan perkembangan situasi dan kondisi pandemi, maka ditetapkannya Status Tanggap Darurat Bencana Wabah COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2020 memerlukan inovasi dalam peningkatan kualitas pelayanan publik dan peningkatan capaian kinerja dari setiap SKPD/UKPD. DKI Jakarta terbukti telah menerima banyak penghargaan salah satunya dinobatkannya sebagai Provinsi Terinovatif pada Tahun 2020, namun inovasi bidang Kesehatan yang masuk dalam Top 99 Inovasi Pelayanan Publik hanya sebesar 2%. Oleh karena itu, diperlukan analisis mendalam terkait implementasi inovasi bidang kesehatan terhadap kualitas layanan di masa pandemi COVID-19. Jenis penelitian ini yaitu mix method dengan menggunakan metode gabungan kuantitatif dan kualitatif secara bersamaan dengan tipe kombinasi Sequential Explenatory. Variabel independent meliputi kepemimpinan, budaya inovasi, pelatihan sumber daya, saluran komunikasi, jaringan dan kemitraan, penghargaan, kompleksitas dan keuntungan relatif, persepsi kegunaan, dan kemudahan penggunaan, serta variabel dependen yang terdiri dari aspek kualitas dengan pendekatan struktur, proses, dan output. Penelitian dilakukan di Puskesmas dalam Naungan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta pada bulan Mei-Juni 2021. Lokasi Penelitian di Puskesmas dalam Wilayah 5 Kota di Provinsi DKI Jakarta. Analisis data yaitu menggunakan analisis univariat, bivariat (Chi Square), dan multivariat dengan regresi logistik. Hasil penelitian didapatkan kualitas layanan kesehatan masa pandemi sudah cukup baik yaitu sebesar 71,8%. Hasil analisis didapatkan adanya hubungan antara faktor implementasi inovasi dan pemanfaatan teknologi informasi bidang kesehatan terhadap kualitas layanan masa pandemi COVID-19 di Puskesmas Provinsi DKI Jakarta Periode Tahun 2020-2021 yaitu pada variabel kepemimpinan, budaya inovasi, jaringan dan kemitraan, serta penghargaan. Adapun variabel yang paling dominan adalah kepemimpinan yang berinteraksi dengan variabel penghargaan yaitu dengan nilai OR=7,64
DKI Jakarta Province has several health challenges, one of which is Triple Burden Disease, in which Communicable Diseases (CD) remind high, then Non Communicable Diseases (NCD) are increasing, besides Emerging Infectious Diseases (EID)/ ReEmerging and/ or New Emerging. According to the Republic of the Indonesia Ministry of Health, PIE got special attention due to its serious impact on health and socioeconomics, particularly in the current digital era and globalization. Along the development of the situation and conditions of the pandemic, the Emergency Response Status for the COVID-19 Outbreak of the DKI Jakarta Province in 2020 requires innovation in improving the quality of public services and health care. DKI Jakarta Province has received many awards, one of which is the most innovative province. However, innovations in the health sector that are include in the top of 99 public service innovations are only 2%. Therefore, an in-depth analysis is needed regarding innovations in the health sector on the quality of services during the COVID-19 Pandemic. This type of research is mix method by using a combination type Sequential Explenatory. The independent variables include leadership, innovation culture, resource training, communication channels, networks and partnerships, rewards, complexity and relative advantage, perceived usefulness, and perceive ease of use, as well as the dependent variable consisting of aspects of quality with a structure, process, and output approach. The research was conducted at Community Health Center and DKI Jakarta Health Office in Mei-June 2021. The research locations in The Community Health Center in 5 Regencies at DKI Jakarta Province. Data analysis used univariate, bivariate (Chi Square) and multivariate with logistic regression. The result showed that the quality of health services during the pandemic was quite good about 71,8%. The results of the analysis found that there was a relationship between the factors of implementating innovation and the utilization of information technology in the health sector on the quality of services during the COVID-19 pandemic at the DKI Jakarta Provincial Health Center for the 2020-2021 Period are leadership, innovation culture, network and partnership, and reward. The most dominant variable is leadership which is interact with reward with OR value 7,64.
Read More
T-6140
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lailatul Husna; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Puput Oktamianti, Adang Bachtiar, Ida Lahenawati
Abstrak:
Beban masalah kesehatan jiwa di Indonesia terus meningkat, namun treatment gap tetap lebar, terutama pada layanan berbasis komunitas yang bersifat promotif dan preventif. Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Harmoni Kota Depok hadir sebagai layanan konseling kesehatan jiwa non-klinis berbasis keluarga di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), namun analisis mutu layanannya secara sistematis belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu layanan konseling kesehatan jiwa non-klinis di PUSPAGA Harmoni Kota Depok secara komprehensif dari perspektif pengguna dan penyedia layanan, serta merumuskan rekomendasi perbaikan dan Commitment to Change (CTC) sebagai jembatan knowledge to practice. Desain penelitian menggunakan explanatory sequential mixed methods, dengan pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner SERVQUAL pada 62 responden pengguna layanan konseling, dilanjutkan data kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 5 informan penyedia layanan dan wawancara singkat/pertanyaan terbuka kepada pengguna. Data kualitatif dianalisis menggunakan kerangka Donabedian (struktur–proses–outcome), dan seluruh temuan diintegrasikan melalui pendekatan joint display serta diprioritaskan melalui metode USG bersama tim PUSPAGA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu layanan secara keseluruhan berada pada kategori "cukup baik" (grand mean gap –0,218). Kekuatan utama layanan terletak pada dimensi Empathy (gap –0,167) dan Assurance (gap –0,190), yang mencerminkan kualitas hubungan terapeutik dan keamanan psikologis yang dirasakan pengguna. Kelemahan terbesar terdapat pada dimensi Tangibles (gap –0,311), terutama pada aksesibilitas lokasi (gap –0,855). Analisis Donabedian mengungkap tiga celah sistemik: ketidakseimbangan kapasitas struktural terhadap pertumbuhan permintaan layanan, penyelenggaraan proses yang bertumpu pada kapabilitas individu, dan sistem pengukuran outcome yang belum komprehensif. Integrasi temuan mengidentifikasi “paradoks kepuasan”, gap negatif di seluruh dimensi berdampingan dengan loyalitas pengguna yang sangat tinggi (93,5% bersedia merekomendasikan dan kunjungi kembali) yang dapat dijelaskan melalui teori zone of tolerance, zero price effect dan kualitas hubungan terapeutik yang dominan. Analisis prioritas masalah menetapkan tersendatnya program edukasi komunitas sebagai masalah termendesak (skor USG 15/15). CTC disusun dalam tiga level: internal, koordinasi lintas sektor, dan advokasi kebijakan, sebagai rencana aksi prioritas perbaikan mutu yang realistis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan model evaluasi mutu layanan kesehatan jiwa komunitas di Indonesia dan mendukung penguatan layanan promotif-preventif berbasis keluarga yang evidence-based.

The burden of mental health problems in Indonesia continues to grow, yet the treatment gap remains wide, particularly in community-based services of a promotive and preventive nature. The Family Learning Center (Pusat Pembelajaran Keluarga/PUSPAGA) Harmoni in Depok City operates as a non-clinical, family-based mental health counseling service under the auspices of the Office for Women's Empowerment and Child Protection (DP3AP2KB); however, a systematic quality analysis of its services has never been conducted. This study aims to comprehensively analyze the quality of non-clinical mental health counseling services at PUSPAGA Harmoni, Depok City, from both user and provider perspectives, and to formulate improvement recommendations along with a Commitment to Change (CTC) framework as a bridge from knowledge to practice. The study employed an explanatory sequential mixed-methods design. Quantitative data were collected through SERVQUAL questionnaires administered to 62 service users, followed by qualitative data gathered via in-depth interviews with 5 service provider informants and brief interviews/open-ended questions directed at service users. Qualitative data were analyzed using the Donabedian framework (structure–process–outcome), and all findings were integrated through a joint display approach and prioritized using the Urgency, Seriousness, Growth (USG) method together with the PUSPAGA team. The results indicate that overall service quality falls in the "moderately good" category (grand mean gap: –0.218). The primary strengths lie in the Empathy (gap –0.167) and Assurance (gap –0.190) dimensions, reflecting the quality of the therapeutic relationship and psychological safety experienced by users. The greatest weakness is found in the Tangibles dimension (gap –0.311), particularly regarding location accessibility (gap –0.855). Donabedian analysis reveals three systemic gaps: a structural capacity imbalance relative to growing service demand, service processes heavily reliant on individual capabilities, and an insufficiently comprehensive outcome measurement system. Integration of findings identifies a "satisfaction paradox", negative gaps across all dimensions coexisting with very high user loyalty (93.5% willingness to recommend and return) , explained through zone of tolerance theory, zero price effect, and the dominant quality of the therapeutic relationship. Priority problem analysis identifies the stagnation of community education programs as the most urgent issue (USG score 15/15). The CTC is organized across three levels: internal, cross-sector coordination, and policy advocacy, as a realistic prioritized action plan for service quality improvement. This study contributes to the development of a community mental health service quality evaluation model in Indonesia and supports the strengthening of evidence-based, family-centered promotive and preventive services.
Read More
T-7674
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nandya Silvalinda; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wachyu Sulistiadi, Eti Rohati, Salma Sabira
Abstrak:

Penelitian ini mengevaluasi implementasi Standar Pelayanan Minimal (SPM) HIV/AIDS di Puskesmas Kota Depok tahun 2025 dengan pendekatan Six Building Blocks WHO. Penelitian kualitatif deskriptif ini mengumpulkan data melalui wawancara mendalam, FGD, observasi, dan telaah dokumen di empat Puskesmas terpilih. Temuan menunjukkan capaian layanan belum merata, dipengaruhi oleh keterbatasan sumber daya, pelaporan yang belum optimal, dan lemahnya koordinasi lintas sektor. Strategi percepatan yang disusun menekankan penguatan tata kelola, kapasitas tenaga kesehatan, sistem informasi, akses obat esensial, serta peningkatan kolaborasi multisektor.
Hasil penelitian mengungkap bahwa pelaksanaan SPM HIV/AIDS masih menghadapi kesenjangan antar sasaran dan wilayah. Kelompok populasi kunci memiliki capaian tinggi karena dukungan LSM, sedangkan ibu hamil menjadi kelompok dengan capaian terendah akibat keterlambatan pelaporan dari bidan mandiri dan rumah sakit. Sistem informasi HIV/AIDS (SIHA) belum terintegrasi penuh dan masih bergantung pada kemampuan individu petugas. Ketersediaan obat antiretroviral (ARV) terbatas pada satu Puskesmas dengan sistem distribusi yang belum merata. Pembiayaan program masih bertumpu pada dana BOK dan donor, sementara regulasi seperti Perwal HIV/AIDS dan SOP PrEP belum disahkan.
Penelitian ini menegaskan perlunya penguatan kebijakan teknis sesuai Permenkes No. 6 Tahun 2024, penataan SDM dan insentif yang berkelanjutan, serta integrasi pelaporan lintas fasilitas. Peningkatan kapasitas kader, inovasi komunitas seperti CLM, dan pemanfaatan teknologi pelaporan menjadi kunci percepatan pencapaian target SPM HIV/AIDS di Kota Depok.


This study evaluates the implementation of the Minimum Service Standards (SPM) for HIV/AIDS at Community Health Centers (Puskesmas) in Depok City in 2025 using the WHO Six Building Blocks approach. This descriptive qualitative study collected data through in-depth interviews, focus group discussions (FGD), observations, and document reviews at four selected Puskesmas. Findings indicate that service delivery is uneven, influenced by resource constraints, suboptimal reporting, and weak inter-sectoral coordination. The acceleration strategies developed emphasize strengthening governance, health worker capacity, information systems, access to essential medications, and enhancing multisectoral collaboration. The results show that the implementation of the HIV/AIDS SPM still faces disparities among target groups and service areas. Key populations achieved higher coverage mainly due to NGO support, while pregnant women had the lowest coverage due to delayed or incomplete reporting from private midwives and hospitals. The HIV/AIDS Information System (SIHA) has not been fully integrated and still depends on individual staff capacity. The availability of antiretroviral (ARV) drugs is limited to one health center with uneven distribution across facilities. Program financing still relies heavily on BOK and donor funds, while technical regulations such as the Mayor’s Decree on HIV/AIDS and the PrEP SOP have not yet been enacted. This study highlights the need to strengthen technical policies in accordance with Minister of Health Regulation No. 6 of 2024, ensure sustainable human resource and incentive management, and enhance cross-facility reporting integration. Strengthening community-based innovations such as CLM, capacity building for cadres, and the use of digital reporting systems are key strategies to accelerate the achievement of HIV/AIDS SPM targets in Depok City.

Read More
T-7452
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rora Asyulia; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Robiana Modjo, Mutmainah Indriyati, Eti Rohati
Abstrak:
Penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang (Cross Sectional) akan meneliti capaian program pelayanan kesehatan pada orang berisiko terkena HIV dengan pendekatan Malcolm Baldrige di Puskesmas Kota Depok. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui capaian Program pelayanan kesehatan pada orang berisiko terkena HIV dengan pendekatan Malcolm Baldrige. Populasi penelitian ini adalah seluruh Puskesmas di Kota Depok yang berjumlah 38 Puskesmas. Instrumen penelitian menggunakan kuisioner dan wawancara yang dibuat berdasarkan rujukan baku dari kriteria Malcolm Baldrige yang sudah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh peneliti terdahulu dan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Variabel Independen ada 6 yaitu Kepemimpinan, perencanaan strategis, focus pada pelanggan, pengukuran analisis dan manajemen pengetahuan, focus pada sumber daya manusia dan manajemen proses sedangkan variabel dependen adalah capaian Standar pelayanan minimal pada pelayanan kesehatan orang berisiko terkena HIV. Analisis data menggunakan analisis data univariat melihat frekwensi distribusi hasil capaian, analisis data bivariat melihat hubungan antara 6 (enam) kriteria Malcolm Baldrige dengan hasil capaian Standar pelayanan minimal Program Pelayanan Kesehatan pada orang berisiko terkena HIV di Puskesmas Kota Depok dan analisis multivariat untuk mencari factor paling dominan mempengaruhi capaian standar pelayanan minimal HIV. Hasil penelitian Univariat mayoritas masuk kategori kurang kepemimpinan (53,07%), perencanaan strategis (46,21%) focus pada pelanggan (43,84%), pengukuran, analisis dan manajemen pengetahuan (44,21%), sumber daya manusia (47,85%) dan manajemen proses (47,49%) sedangkan hasil capaian Standar pelayanan minimal pada orang berisiko terkena HIV (69,86%) masuk kategori cukup. Pada analisis bivariat semua variabel independent memiliki hubungan yang kuat dan positif terhadap variabel dependen. Pada analisis multivariat ada korelasi yang kuat antara capaian SPM HIV (Y) dengan variabel kepemimpinan dan focus pada pelanggan (R=0,749) dan memiliki R Square 0,561 dimana variabel yang paling dominan adalah Focus pada Pelanggan (48,5%)
Quantitative research with a cross-sectional design (Cross Sectional) will examine the achievements of health service programs for people at risk of getting HIV using the Malcolm Baldrige approach at the Depok City Health Center. The purpose of this study was to determine the performance of the health service program for people at risk of getting HIV using the Malcolm Baldrige approach. The population of this study were all Community Health Centers in Depok City, totaling 38 Health Centers. The research instrument used questionnaires and interviews which were made based on standard references from Malcolm Baldrige's criteria which had been translated into Indonesian by previous researchers and adapted to the research objectives. There are 6 independent variables, namely leadership, strategic planning, focus on customers, measurement analysis and knowledge management, focus on workforce and process management, while the dependent variable is achievement of minimum service standards in health services for people at risk of getting HIV. Data analysis used univariate data analysis to look at the frequency distribution of performance results, bivariate data analysis looked at the relationship between 6 (six) Malcolm Baldrige criteria and the achievement results of the minimum service standard for the Health Service Program for people at risk of getting HIV at the Depok City Health Center and multivariate analysis to find the most common factor Dominantly affect the achievement of minimum HIV service standards. The majority of Univariate research results fall into the category of lacking leadership (53.07%), strategic planning (46.21%) focus on customers (43.84%), measurement, analysis and knowledge management (44.21%), workforce (47.85%) and process management (47.49%) while the results of the minimum service standards for people at risk of getting HIV (69.86%) are in the sufficient category. In the bivariate analysis all independent variables have a strong and positive relationship to the dependent variable. In the multivariate analysis there is a strong correlation between HIV MSS achievement and leadership and customer focus variables (R=0,749) and R square =0,561 where the most dominant variable is Customer Focus (48.5%).
Read More
T-6599
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asep Saefullah; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Besral, Faturohman, Tata
Abstrak: Jumlah peserta BPJS Non PBI yang terdaftar di Puskesmas Kota Serang pada Bulan Maret 2015 sebanyak 47.231 orang, sedangkan di Fasilitas Kesehatan Tungkat Pertama (FKTP) lain sebanyak 96.120 orang. Pada Bulan Desember 2014 sampai dengan Bulan Maret 2015 jumlah peserta BPJS Non PBI di puskesmas bertambah 5,1%, sedangkan di FKTP lain bertambah 66,7%. Pada Bulan Februari 2015, terdapat puskesmas yang mengalami penurunan jumlah peserta BPJS Non PBI sebanyak 13,53% dibanding pada Bulan Desember 2014. Rendahnya jumlah kepesertaan BPJS Non PBI di puskesmas diduga kuat terdapat kaitannya dengan loyalitas pelanggan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kepuasan dengan loyalitas pelanggan setelah faktor karakteristik dikendalikan pada peserta BPJS Non PBI di Unit Rawat Jalan Puskesmas Kota Serang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 170 responden. Hasil penelitian menunjukkan pada rentang skala 1-10 diperoleh skor rerata loyalitas sebesar 6,5. Skor rerata kepuasan sebesar 6,9. Hasil analisis statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara kepuasan dengan loyalitas pelanggan setelah faktor pendapatan dikendalikan. Perlunya puskesmas meningkatkan kualitas pelayanan, menambah sarana dan prasarana seperti kursi tunggu, meningkatkan jumlah dan kualitas SDM, menjaga kebersihan, kenyamanan, keindahan dan ketertiban. Kata Kunci: loyalitas, kepuasan, karakteristik
Read More
T-4352
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulidar Nur Adinda; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Mieke Savitri, Widyastuti
Abstrak:

Adanya intervensi Global Fund di klinik IMS berupa pelatihan - pelatihan untuk menambah kualifikasi SDM, dana insentif petugas, dana untuk setting ruangan dan alat - alat kesehatan yang diharapkan dapat meningkatkan mutu pelayanan di klinik IMS. Pada kenyataannya ada klinik IMS Puskesmas yang mutu layanannya belum optimal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis inten/ensi Global Fund terhadap mutu layanan di klinik IMS Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo dan Puskesmas Kecamatan Tamansari. Penelitian ini mengglmakan rancangan yang secara garis besar mempergunakan pendekatan kualitatif. Penekanan pada pendekatan kualitatif adalah pada upaya penggalian lebih dalam lagi apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang , terutarna penguna/cusoumer serta petugas kesehatan yang ada di klinik Infeksi Menular Seksual. Selain intervensi dari Global jimd (input), peran dukungan Kcpala Puskesmas, monitoring dan evaluasi, juga pada proses yaitu kepatuhan dan konsistensi petugas terhadap SOP sangat berperan untuk menghasilkan output dan dampak/impact yang dapat dilihat di outcome atau kepuasan pasien/customer. Penelitian ini berlangsung pada bulan Maret 2008, dan penelitian inj melibatkan 10 orang informan untuk Wawancara Mendalam/Indepth Interview clan 5 keiompok Focus Group Discussion/DKT (1 kelompok terdiri dari 6 orang) dari 2 (dua) Puskesmas. Informan Wawancara Mendalarn terdiri dari Kepala Puskesmas Kecamatan yang akan memberikan viinformasi strategis tentang kebijakan yang sudah dilaksanakan. Kriteria informan dokter, bidan, petugas laboratorium dan petugas administrasi adalah yang telah dilatih oleh Global Fund atau bertugas di klinik IMS. Sedangkan DKT dilaksanakan di 2 (dua) kelompok PSK yang pemah berobat di klinik IMS, 1 (satu) kelompok pelanggan PSK di wilayah Puskesmas Kecamatan Pasar Robo, serta 2 (dua) kelompok Waria di wilayah Puskesmas Kecamatan Tamansari dari kegiatan Penapisan (outreach). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ouput klinik IMS Puskesmas Kecamatan Tamansari yaiiu, jumlah orang berkunjung, jumlah pasien/penderita IMS yang diobati, jumlah pasien/penderita yang diberi kondom dan jumlah pasien/penderita yang diberikan penyuluhan/KIE tahun 2007 prosentasenya menunm dibandingkan pada tahun 2006. Sedangkan Puskesmas Kecamatan Pasar Rebo prosentasenya mengalami kenaikkan yang signiiikan. Kepuasan pasien yang dilihat pada outcome di kedua Puskesmas baik, walaupun ada sedikit masukan untuk perbaikan pelayanan di klinik IMS dan di kegiatan penjangkauan/outreach. Pada outeome yang dioilai adalah akses(|angkauan pelayanan, kenyamanan, keamanan pelayanan, efisiensi, KIE, serta hubungan antar manusia./interpersonal. Klinik IMS am menjadi laaik jika dikelola Semi dengan pelayanan prima (Service Excellent) oleh petugas yang telah mendapatkan pelatihan. Salah satu tugas penting untuk tim kesehatan yang turun pada kegiatan penapisan yaitu mengintervensi kelompok pelanggan PSK dengan memberikan penyuluhan tentang kesehatan, penyakit IMS dan penggunaan kondom yang benar. Tim kesehatan yang melayani klinik IMS sebaiknya tersendiri, tidak mempunyai tugas pokok dan fungsi (Tupoksi) ditempat Iain. Sementara itu ada kegiatan yang harus tluun ke tempat/dacrah rawan HIV/AIDS. Sedangkan target omput dad Global Fund untuk klinik IMS Puskesmas tidak ada. Untuk mengetahui keberhasilan suatu kegiatan seharusnya sudah disusun Standard Pelayanan Minimal (SPM) dan target yang harus dicapai.


Global Fund's interventions in STI Clinic, which are aplicated through trainings for improving human resources qualiiication, funding in the form of officer incentive, funding for setting room and aid appliance, are expected to increase the clinical service quality at STI Clinic. Practically there is STI clinic in Primary Health Care which has not gain the noted service quality optimally. The purpose of this research is to analyze the intervention of Global Fund to the service quauiy of sri clinic in Primary Health care in PM Reba Subdistrict and Tamansari Subdistrict. Marginally, this research is utilized by qualitative approach. The qualitative approaches are given emphasizely. Those things are applicatcd by the deep interventioning to costumers mind and feeling, especially the care user and also the health officer at Sexual Transmitted Infection Clinic. The costumer satisfaction which is consider as the outcome of the research, is not merely detennined by the Global Fund Intervention but also by the role of Primary Health Care Head Officer, evalution and ixmonitoring activity, the consintency and compliance of the officers in doing the standar operational procedure during the process. This research is conducted in March 2008, included 10 persons as the object of lndepth interview and 5 Focus Group Discussion (1 groups is consist of 6 persons) from 2 Primary Health Care. The strategic information due to the conducted policy was derived from indepth interview with Chief of Primary Health Care Subdistrict. The criteria for the informan such as doctor , midwife, administration officer and laboratory officer are they who had been trained by Global Fund or work in clinic IMS . Focus Group Discussion (FGD) is conducted in 2 ( two) group of CSW which have ever medicinizocd in STI clinic , 1 ( one) group of CSW client who lived in the same region with Primary Health Care of Pasar Rebo Subdistrict, and also 2 (two) group of Trans sexual who lived in region Primary Health Car of Tamansari Subdistrict with the Censorship activity (outreach). The result from this research indicated that output of STI clinic Primary Health Care of Tarnansari Subdistrict that is, the amount of people visited the clinic, the amount of S'l`I patient have their medical attention, the amount of patient who had given for condom and the amount of patient who had given for education (CIE) of the year 2007 have decline on percentages compared to the year of 2006. While at Primary Health Care of Pasar Rebo Subdistrict the percentages has increase significantly. 1 The Patient Satisfaction that can be seen &om the outcome in both Primary Health Cares is good, despite of a few inputs for repair of services in STI clinics and in the outreach activity. For the outcome , the assesment are in the scope of the services, how comfort thc services, security of the services, efficiency, CIE, and also the relation between people (interpersonal).

Read More
T-2842
Depok : FKM-UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Karimah Azzahra; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Besral, Dumilah Ayuningtyas, Eti Rohati, Rizky Andriani Alimy
Abstrak:
Pemeriksaan IVA merupakan upaya deteksi dini kanker serviks di layanan primer.Capaian IVA pada wanita usia 30–50 tahun masih belum optimal, sehingga perludikaji faktor pelayanan yang berhubungan dengan capaian pemeriksaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor struktur dan proses pelayanan IVA di puskesmas dengan capaian pemeriksaan IVA di Kota Depok tahun 2025. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Unit analisis adalah 38 puskesmas. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman karena data tidak berdistribusi normal.Hasil penelitian menunjukkan bahwa alur pelayanan berhubungan signifikan dengan capaian IVA (rho = 0,412; p-value = 0,010) dengan arah positif dan kekuatan sedang. Sumber daya manusia (rho = -0,003; p = 0,985), Dukungan operasional (rho = 0,018; p = 0,912), Dukungan kelembagaan (rho = -0,019; p = 0,909), Sosialisasi (rho = 0,145; p = 0,384), serta pencatatan dan pelaporan (rho = 0,142; p = 0,395) tidak berhubungan signifikan. Alur pelayanan merupakan determinan proses yang berhubungan dengan capaian IVA. Perbaikan alur layanan, akses, penjadwalan, edukasi, konseling, tindak lanjut, serta konsistensi pencatatan dan pelaporan perlu diperkuat untuk meningkatkan capaian IVA di puskesmas.

The IVA (Visual Inspection with Acetic Acid) examination is an early detection method for cervical cancer within primary healthcare services. IVA coverage among women aged 30–50 remains suboptimal; therefore, it is necessary to examine service-related factors associated with screening uptake. This study aimed to determine the relationship between structural and process factors of IVA services at Community Health Centers (Puskesmas) and IVA screening coverage in Depok City in 2025. A quantitative analytical design with a cross-sectional approach was employed. The unit of analysis consisted of 38 Community Health Centers. Bivariate analysis utilized the Spearman correlation test, as the data were not normally distributed. The results indicated that the service workflow was significantly associated with IVA coverage (rho = 0.412; p-value = 0.010), showing a positive correlation of moderate strength. Human resources (rho = -0.003; p = 0.985), operational support (rho = 0.018; p = 0.912), institutional support (rho = -0.019; p = 0.909), socialization (rho = 0.145; p = 0.384), and recording and reporting (rho = 0.142; p = 0.395) showed no significant association. Service workflow emerged as a process determinant linked to IVA coverage. Improvements in service workflow, access, scheduling, education, counseling, follow-up, and the consistency of recording and reporting need to be strengthened to enhance IVA coverage at Community Health Centers.
Read More
T-7654
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Falichatul Muannisa; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Andri Mursita, Eti Rohati
Abstrak:
Penelitian ini membahas capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) layanan usia produktif sebelum dan sesudah penerapan kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Depok. Tujuan penelitian adalah menganalisis kontribusi komponen pendekatan Primary Health Care (pelayanan terintegrasi, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi lintas sektor) serta komponen penggerak (kerangka kebijakan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola, dan pemantauan–evaluasi) terhadap capaian SPM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada enam Puskesmas, didukung analisis deskriptif capaian SPM tahun 2023–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi ILP mendorong perubahan struktur layanan, peran kader yang lebih aktif, serta perluasan jejaring lintas sektor. Namun, capaian SPM menunjukkan variasi antar Puskesmas: beberapa wilayah mengalami peningkatan stabil, sementara lainnya menghadapi fluktuasi atau stagnasi. Faktor internal berupa kesiapan tata kelola, SDM, dan adaptasi digital, serta faktor eksternal berupa dukungan lintas sektor dan regulasi, terbukti sangat menentukan keberhasilan ILP. Dengan demikian, keberhasilan transformasi ILP memerlukan penguatan kebijakan operasional, pemerataan kapasitas SDM, serta kolaborasi multipihak agar peningkatan mutu layanan usia produktif dapat berkelanjutan.

This study examines the achievement of Minimum Service Standards (MSS) for productive-age health services before and after the implementation of the Integrated Primary Care (ILP) policy in Depok City. The research aims to analyze the contribution of selected Primary Health Care components—integrated services, community empowerment, and cross-sector collaboration—as well as enabling factors including policy frameworks, human resources, financing, governance, and monitoring–evaluation. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed across six Puskesmas, supported by descriptive analysis of MSS data from 2023–2025. The findings indicate that ILP implementation encouraged service restructuring, more active roles of health cadres, and the expansion of cross-sectoral partnerships. Nevertheless, MSS achievements varied: some areas recorded stable improvements, while others faced fluctuations or stagnation. Internal factors such as governance readiness, human resource capacity, and digital adaptation, along with external factors such as cross-sectoral support and regulatory alignment, were critical to ILP success. Therefore, the sustainability of ILP transformation requires strengthened operational policies, equitable human resource capacity building, and multi-stakeholder collaboration to ensure continuous improvement of productive-age health services.
Read More
T-7439
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Murniati; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Amila Megraini, Tri Erri Astoeti, Komalasari
T-2755
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive