Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 25421 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
The Indonesian J. of Public Health (IJPH), Vol.2, No.1, Juli 2005, hal. 27-31. ( ket. ada di bendel 2005- 2007), dan ( ada di bendel 2005- 2006)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Ramadhany Ginting Manik; Pembimbing: Wahyu Septiono; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Popy Yuniar, Nirmala Ahmad Ma’ruf, Ari Nurman
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia dengan prevalensi nasional sebesar 19,8% pada tahun 2024. Meskipun prevalensinya menurun, beban kasus masih terkonsentrasi di Pulau Sumatera dan Jawa yang menampung sebagian besar balita Indonesia. Kesenjangan karakteristik antarkabupaten/kota di kedua pulau tersebut sering kali tertutupi oleh rata-rata tingkat provinsi, sehingga intervensi yang diterapkan cenderung bersifat seragam dan kurang tepat sasaran. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik wilayah berdasarkan indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan determinan stunting, mendeskripsikan karakteristik setiap cluster, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis karakteristik wilayah. Penelitian menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis 273 kabupaten/kota di Pulau Sumatera dan Jawa berdasarkan data SUSENAS dan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2024. Analisis dilakukan menggunakan metode K-Means Clustering terhadap empat indikator IPM dan enam determinan stunting, sedangkan prevalensi stunting digunakan sebagai variabel pembanding melalui uji ANOVA. Hasil penelitian mengidentifikasi empat cluster dengan karakteristik yang berbeda. Cluster 3 memiliki tingkat pembangunan manusia tertinggi dan prevalensi stunting terendah, sedangkan Cluster 4 memiliki prevalensi stunting tertinggi yang disertai tingkat kemiskinan lebih tinggi serta akses air minum dan sanitasi yang lebih rendah. Temuan penting menunjukkan bahwa Cluster 4 memiliki rasio puskesmas dan bidan yang relatif tinggi, namun tetap mencatat prevalensi stunting tertinggi, mengindikasikan bahwa intervensi layanan kesehatan saja belum cukup tanpa perbaikan determinan sosial dan lingkungan. Uji ANOVA menunjukkan perbedaan prevalensi stunting yang bermakna antarcluster (p<0,001). Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan kebijakan berbasis karakteristik  wilayah diperlukan agar strategi percepatan penurunan stunting dapat disesuaikan dengan karakteristik masing-masing cluster sehingga menjadi lebih tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan.

Stunting remains a major public health challenge in Indonesia, with a national prevalence of 19.8% in 2024. Although the prevalence has declined, the absolute burden of cases remains concentrated in the islands of Sumatra and Java, which are home to the majority of Indonesia's under-five population. Disparities among regencies and municipalities are often masked by provincial averages, resulting in uniform interventions that may not adequately address local needs. This study aimed to identify regional typologies based on the Human Development Index (HDI) indicators and stunting determinants, describe the characteristics of each cluster, and develop policy recommendations tailored to regional characteristics. An ecological study design was employed using secondary data from 273 regencies and municipalities in Sumatra and Java obtained from the 2024 National Socioeconomic Survey (SUSENAS) and the 2024 Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI). The K-Means Clustering method was applied to four HDI indicators and six stunting determinants, while stunting prevalence was used as a validation variable through analysis of variance (ANOVA). The analysis identified four distinct regional clusters with different characteristics. Cluster 3 exhibited the highest level of human development and the lowest stunting prevalence, whereas Cluster 4 had the highest stunting prevalence, accompanied by higher poverty rates and lower access to improved drinking water and sanitation. A notable finding was that Cluster 4 had relatively high ratios of primary healthcare centers and midwives despite recording the highest stunting prevalence, indicating that healthcare interventions alone are insufficient without addressing broader social and environmental determinants. ANOVA confirmed significant differences in stunting prevalence among the clusters (p<0.001). This study concludes that a regional typology-based approach is essential for designing more targeted, effective, and sustainable stunting reduction policies that are tailored to the characteristics of each cluster.
Read More
T-7558
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agustina Lubis, Soeharsono Soemantri, Sarimawar Djaja
JEN Vol.5, Ed.2
Jakarta : [s.n.], 2001
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febrina Dumaria; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono, Sudijanto Kamso; Penguji: Besral, Farida Djufri, Hery Hermawanto
Abstrak: Latar Belakang : Era globalisasi menimbulkan persaingan yang menuntut tersedianya SDM yang bermutu dan profesional, termasuk dalam pelayanan kesehatan. Salah satu penentu mutu pelayanan kesehatan adalah ketersediaan tenaga kesehatan yang cukup dan profesional, yang tentu saja tidak bisa terlepas dari sistem pendidikan tenaga kesehatan. Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan telah melaksanakan akreditasi institusi pendidikan tenaga kesehatan dalam upaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan yang berdampak menghasilkan lulusan yang bermutu pula. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara nilai akreditasi sub-sub komponen Borang Akreditasi 2000 dengan Mutu Lulusan institusi Diknakes. Metode : Data yang digunakan adalah data Hasil Akreditasi sampai Maret 2005 dan Laporan Sistim Informasi Pendidikan Tenaga Kesehatan dari Bidang Diknakes Khusus dan Akreditasi Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan. Desain penelitian ini adalah potong lintang dan analisis data dengan regresi logistik berganda dan analisis faktor. Hasil : Proporsi institusi yang Mutu Lulusan Baik adalah 44.1%. Institusi yang nilai Perencanaannya Sangat Baik pada kondisi nilai Dosen Tetap Cukup, mempunyai risiko 0.16 kali dengan 95% CI (0.03 – 0.87), untuk menghasilkan Mutu Lulusan Baik dibandingkan institusi yang nilai Perencanaannya Cukup setelah dikontrol oleh variabel Pelaksanaan Program Pengajaran, Laporan Periodik, Evaluasi Proses Pengajaran, Alat Bantu Pandang Dengar dan Prasarana. Dari hasil analisis faktor, diperoleh 5 faktor dengan total varians 60,28% yaitu faktor Kurikulum, Sarana, Pendidik, Laboratorium dan Penunjang Pendidikan. Kesimpulan : Faktor yang signifikan berhubungan dengan Mutu Lulusan Baik adalah nilai akreditasi sub komponen Dosen Tetap yang berinteraksi dengan nilai akreditasi sub komponen Perencanaan Program Pengajaran, dimana Dosen Tetap merupakan faktor yang paling dominan. Dari analisis faktor, sub komponen Tenaga Tata Usaha dan Perpustakaan membentuk faktor baru, begitu juga sub komponen Laboratorium ternyata tidak berkorelasi dengan faktor lain dan membentuk faktor sendiri. Kata Kunci : Akreditasi, Pusat Diknakes, Mutu Lulusan, Institusi Diknakes.
Background : Competitiveness in the globalization era has raised the needs for qualified and professional human resources, including in the health services. One of the key indicators of a high quality health service is the availability of professional medics, which obviously cannot be separated from the health education system. Centre of Health Manpower Education has performed the accreditation program for health education institutions to improve the quality of health education providers, which in the end will improve the quality of the graduates. Objective : This research aims to investigate the correlation between the accreditation rates of Borang Akreditasi 2000’s sub-components and the quality of the health institution graduates. Design : The data used is from the accreditation results to March 2005 and the report of Information System of Health Manpower Education from Specialist of Health Education and Accreditation Division, Centre of Health Manpower Education, Department of Public Health. The approach of this research is cross sectional design. The data is analysed by using multiple logistic regression and factor analysis. Result : Proportion of the institution with Good Quality Graduates is 44.1%. Institutions with Very Good marks on Education Planning with an Adequate on the Full Time Lecturer’s state, possess 0.16 times risk with a 95% CI (0.03 – 0.87), to produce a Good Graduates compared to the institution with Adequate marks on Education Planning after being controlled by the variables; Application of teaching assistance program, Periodic report, Teaching evaluation, audio visual aids, and infrastructures. Based on the factor analysis, the author acquired 5 factors with a variance of 60.28%, they were curriculum, infrastructure, lecturer, Laboratorium and educational support. Conclusion : The research has shown that the most significant factors for highly qualified health education graduates are the accreditation rates for the full-time lecturer involvement sub-component and the planning of the teaching program sub-component. Between these two, the full-time lecturer involvement is a more dominant factor. From the factor analysis, the administration staff and librarians sub-component has raised a new factor. Also, the laboratory sub-component does not correlate with other factors. In fact, it has emerged as an independent factor. Key words : Accreditation, Centre of Health Manpower Education, Quality of graduates, The Health Institutions.
Read More
T-2126
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fera Retno Mangentang; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Amila Megraini, Budi Santosa
Abstrak: Resume medis merupakan ringkasan seluruh masa perawatan dan pengobatan yangdilakukan oleh dokter kepada pasien. Kelengkapan resume medis adalah cerminanmutu rekam medis dan pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Penulisandiagnosis diisi lengkap dan sesuai arahan pada ICD-10. Penelitian dengan mixmethod, penelitian kuantitatif desain potong lintang untuk mengetahui hubungankarakteristik dokter dengan kelengkapan resume medis dan kesesuaian penulisandiagnosis berdasarkan ICD-10 sebelum dan sesudah JKN. Penelitian kualitatif untukmenggali informasi kelengkapan resume medis dan kesesuaian penulisan diagnosisberdasarkan ICD-10. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik dokter berhubungandengan kelengkapan dan kesesuaian penulisan diagnosis berdasarkan ICD-10. Rumahsakit harus menerapkan SIMRS guna peningkatan kecepatan dan ketepatan pengisianrekam medis termasuk resume medis.Kata kunci: Diagnosis, ICD-10, resume medis
Medical Resume is summary of the whole treatment and medication that performedby doctor to patient. Resume medical completeness is reflections of the medicalrecord quality and service which given by Hospital. Diagnosis Writing filledcomplete and according to ICD-10. Research with mix method, Quantitative researchdesign cross-sectional to know relationship doctor characteristic with MedicalResume completeness and diagnosis writing suitability based on ICD-10 before andafter JKN. Qualitative Research for dig information medic resume completeness anddiagnose writing suitability based on ICD-10. Research Result showing the doctorcharacteristic correspond with completeness and suitability diagnosis writing basedon ICD-10. The hospital must apply SIMRS in order to increase speed and accuracymedical record filling including medical resume.Key word : Diagnosis, ICD-10, Medical Resume,
Read More
B-1704
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nayamanto Namu Natu; Pembimbing: Mary A. Wangsarahardja
S-3168
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
H.A.W. Widjaja
352.14 WID o
Jakarta : RajaGrafindo Persada, 2002
Buku (pinjaman 1 minggu)   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Erni Kurniati; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji : Dumilah Ayuningtyas, Hj. T Tejaningsih, H. Osep Hernandi
Abstrak: Abstrak

Tesis ini membahas analisis Pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit Pada Instalasi Rawat Inap Di RSUD Kabupaten Ciamis Sebelum Dan sesudah Menjadi Badan Layanan Umum Daerah di Tahun 2013. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dari informan terpilih.

Hasil penelitian menunjukkan dari aspek SPO, SDM, sarana prasarana pada instalasi rawat inap sesudah menjadi BLUD lebih lengkap dari segi kuantitas maupun kualitas meskipun dari aspek SPO masih ada tindakan yang tidak sesuai dengan SPO, sedangkan dari aspek SDM masih kekurangan dokter spesialis, dan dari aspek sarana dan prasarana masih kurang dalam sistem pemeliharaannya. Kesimpulannya, pelaksanaan Standar Pelayanan Minimal di instalasi rawat inap belum dilaksanakan secara maksimal, karena keadaan rumah sakit yang masih mempunyai kelemahan dan kekurangan.

Saran peneliti bagi RSUD Kabupaten Ciamis diharapkan dapat lebih bekerja sama dan melakukan koordinasi yang baik dengan pihak Pemerintah Daerah agar dapat dicarikan solusi yang terbaik, dan diperlukan evaluasi berkala SPM agar pelaksanaannya lebih baik.


This thesis studied an analysis of the implementation of Hospital Minimum Service Standards of Ciamis District General Hospital at Inpatient Care Unit which was held before and after becoming Local Public Service Institution in 2013. This research used a qualitative approach by conducting detailed interview to selected interviewees.

The result of the research showed that aspects of SPO, Human Resources, infrastructures at Inpatient Care Unit, viewed after the hospital's becoming Local Public Service Institution are more quantitatively and qualitatively complete although if viewed from SPO there are still acts which are not appropriate with SPO, meanwhile viewed from Human Resources, it is still lack of specialists, and from its infrastructures, it’s maintenance system is regarded still inadequate. The Minimum Service Standards implementation at Inpatient Care Unit has not been maximally implemented because of the hospital's weaknesses and lack.

The researcher suggestion for Ciamis District General Hospital is that hopefuly there will be more cooperative good coordination with the local government in order to find the best solution, and the Minimum Service Standards periodic evaluations is required so that the implementation will be better conducted.

Read More
T-3935
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vitrie Winastri; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Surya Ede Darmawan, Amal C. Sjaaf, Radianti
B-1333
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Luh Putu Arum Puspitaning Ati; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Dimposma Sihombing, Ermawan
Abstrak:

Sebanyak 22 dari 62 kabupaten daerah tertinggal (35,48%) belum mencapai target Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagaimana ditetapkan dalam Strategi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Tahun 2020–2024. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini yang bertujuan untuk mengevaluasi faktor-faktor yang mendukung dan menghambat pencapaian IPM melalui program afirmasi kesehatan dalam Rencana Aksi Nasional Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal (RAN-PPDT). Metode yang digunakan dengan pendekatan kualitatif, melalui analisis data sekunder dari laporan realisasi dan evaluasi program, serta wawancara mendalam dengan pengampu program afirmasi dari Kementerian Desa PDTT, Kementerian Kesehatan, BKKBN, serta perwakilan dari daerah tertinggal yang telah dan belum mencapai target. Evaluasi dilakukan menggunakan enam kriteria dari teori evaluasi William N. Dunn, yakni efektivitas, efisiensi, kecukupan, pemerataan, responsivitas, dan ketepatan. Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa hambatan utama dalam pencapaian IPM meliputi ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, rendahnya realisasi kegiatan, dan distribusi program yang belum merata. Sementara faktor pendukungnya mencakup kesesuaian program dengan prioritas nasional, pemanfaatan data ketertinggalan, serta komitmen lintas sektor. Kesimpulannya bahwa program afirmasi kesehatan berkontribusi positif terhadap peningkatan IPM, terutama melalui intervensi kesehatan dasar. Namun, efektivitas program belum optimal, efisiensinya terganggu oleh ketidaksinkronan perencanaan dan penganggaran, kecukupannya belum memenuhi kebutuhan riil di daerah, pemerataannya masih timpang, responsivitasnya sudah adaptif terhadap kebutuhan, serta ketepatannya sudah sesuai untuk mendukung IPM. Rekomendasi perbaikan yang disarankan mencakup penguatan perencanaan dan implementasi secara terpadu melalui sinkronisasi lintas sektor, penganggaran berbasis kebutuhan, serta sistem monitoring terintegrasi dalam upaya meningkatkan dampak program afirmasi kesehatan terhadap peningkatan IPM di daerah tertinggal.


 

Out of 62 underdeveloped regencies in Indonesia, 22 (35.48%) have not yet achieved the  Human Development Index (HDI) targets set in the National Strategy for the Acceleration  of Underdeveloped Regions Development 2020–2024. This study aims to evaluate the  supporting and hindering factors affecting HDI improvement through the health  affirmation program within the National Action Plan for the Acceleration of  Underdeveloped Regions Development (RAN-PPDT). A qualitative approach was used,  involving secondary data analysis from program realization and evaluation reports, as  well as in-depth interviews with officials from the Ministry of Villages, Development of  Disadvantaged Regions and Transmigration; the Ministry of Health; BKKBN; and  representatives from underdeveloped regions that have and have not met the HDI targets.  The evaluation is based on six criteria from William N. Dunn’s evaluation theory:  effectiveness, efficiency, adequacy, equity, responsiveness, and appropriateness. The  findings indicate that key barriers include the lack of synchronization between planning  and budgeting, low implementation realization, and uneven program distribution.  Supporting factors include program alignment with national priorities, utilization of  underdevelopment data, and cross-sectoral commitment. The health affirmation program  contributes positively to HDI improvement, especially through basic health interventions,  although not yet optimal. Recommended improvements involve strengthening integrated  planning and implementation through cross-sectoral synchronization, needs-based  budgeting, and an integrated monitoring system to enhance the program’s impact on HDI  in underdeveloped regions.

Read More
T-7238
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive