Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31267 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Herry Theni; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Sudarti Kresno, Djoni Darmadjaja, Rokim
Abstrak:

Kasus pasien pulang paksa merupakan hal yang sering terjadi di rumah sakit. Pulang paksa merupakan tanda adanya perasaan ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit tersebut.Tingginya kasus pasien pulang paksa di rumah sakit selain akan menimbulkan dampak yang negatif di lingkungan keluarga pasien, juga akan menimbulkan kesulitan bagi rumah sakit datam hal mengevaluasi mutu pelayanan rumah sakit tersebut.Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran umum tentang persepsi pasien pulang paksa terhadap pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit. Penelitian dilakukan di instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Karawang melalui wawancara mendalam terhadap 8 orang informan pasien pulang paksa, 1 orang Wadir. Pelayanan Medik, 1 orang Kepala Instalasi Gizi orang penanggung jawab kebersihan dan mengadakan Focus Groups Discussion (FGD) terhadap 8 orang Kepala Ruangan. Metodologi penelitian adalah kualitatif, dengan hasil penelitian dianalisa berdasarkan content analisis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa umumnya kasus pulang paksa di RSU Karawang disebabkan oleh faktor biaya bagi pasien kelas II dan III, sedangkan bagi pasien kelas I dan VIP lebih disebabkan oleh faktor pelayanan dan ketidaktahuan pasien. Faktor biaya yang dikeluhkan adalah tingginya biaya obat yang dikeluarkan oleh sebagian informan pasien pulang paksa karena sering terjadi pergantian obat, sedangkan faktor pelayanan yang dikeluhkan para informan pasien pulang paksa adalah ketidakramahan dan kekurangtanggapan dari pemberi pelayanan. Selain itu, masalah kebersihan juga merupakan hal yang banyak dikeluhkan oleh para informan pasien pulang paksa.Dari hasil tersebut disarankan kepada pihak pengelola rumah sakit agar menggalakkan pemakaian obat generik, mensosialisasikan kebijakan rumah sakit tentang prosedur pengembalian obat dan mengadakan subsidi silang untuk membantu pasien yang tidak mampu.Dalam hal pelayanan, rumah sakit perlu mengadakan pelatihan pelayanan prima untuk meningkatkan kemampuan para karyawan dan mutu pelayanannya.Kepustakaan: 26 (1991-2001).

Sign Out Against Medical Advice (SO-AMA) cases are common in hospitals. It is a sign of patients' unsatisfactory towards hospital services.SO-AMA cases give negative impact in patients' family, it also cause difficulties to evaluate the quality of hospitals services.This research's aim is to find out the general perception of the SO-AMA patients to hospital services. The research was carried out at inpatient department in Karawang District Hospital by making deep-interview to 8 SO-AMA informans, I Vice Director, the chief of nutrition department, the chief of cleaning service unit and making focus groups discussion to 8 chiefwards.The method used in this research was qualitatif. The data was analyzed by content analysist.The result showed that most of SO-AMA patients in Karawang District Hospital were motivated by high cost, especially in the 2" and 3`a classes patients. In VIP and 1 g classes patients the cause of SO-AMA were unsatisfactory to services quality and unknowledgement about their illness.Drugs changes made the cost higher, and it caused the patient's complaint. The unfriendly, careless service and nonconductive sanitary condition in hospital were also the major complain.Based on the results, there are some suggestion to hospital management such as: increasing generic drugs using, giving more information hospital policy about drugs returned allowable, and having cross-substitution for poor patients,besides improving the capability of hospital service providers and the quality of service through excellent services training,Reference: 26 (1991-2001)

Read More
B-562
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Adang Bachtiar, Ascobat Gani, Rakhmat Hidayat, Linda Sofriyanti
Abstrak:
Rumah sakit merupakan sebuah institusi yang bertujuan utama memberikan layanan kesehatan kepada pasien untuk pengobatan penyakit dan pencegahan kecacatan. Di sisi lain, status sebagai Rumah Sakit Pendidikan yang mengharuskan Rumah sakit mengakomodir berbagai proses pembelajaran dalam berbagai jenjang, penerapan teknologi tertinggi sebagai center of excellence, dan bahkan jika memungkinkan penerapan temuan-temuan baru atau yang masih sedang diuji coba dalam dunia medis tentu menjadi beban tersendiri bagi operasional Rumah sakit. RSUD Siti Fatimah sebagai rumah sakit yang relatif baru berdiri dan juga baru saja ditetapkan menjadi rumah sakit pendidikan tentu memilki tantangan yang cukup besar dalam hal kualitas pelayanan dan variasi pasien. Data menunjukkan bahwa dari seluruh kompetensi minimal Pendidikan profesi dokter yang wajib dimiliki sesuai SKDI (Standar Kompetensi Dokter Indonesia), baru sekitar lima puluh persennya saja yang dapat ditemui di RSUD Siti Fatimah. Hal ini membuat RSUD Siti Fatimah harus terus berbenah untuk meningkatkan angka kunjungan pasien dan jenis penyakit yang ditangani untuk dapat menjadi wahana pembelajaran yang adekuat bagi program Pendidikan profesi dokter dan dokter spesialis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas pelayanan dengan tingkat kepuasan pasien di RSUD Siti Fatimah Palembang sebagai rumah sakit pendidikan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif jenis observasional analitik dengan desain studi survei potong lintang menggunakan kuesioner. Penelitian dilakukan di RSUD Siti Fatimah Palembang pada pasien yang dirawat inap di bangsal rawat inap kelas 3, kelas 2, dan kelas 1 pada bulan November 2023. Populasi target penelitian adalah pasien yang dirawat di bangsal rawat inap yang menjadi wahana pembelajaran bagi peserta didik program pendidikan dokter spesialis RSUD Siti Fatimah Palembang pada tahun 2023 sebanyak 1700 orang, dan sampel sebanyak 195 orang dengan menggunakan consecutive sampling. Kualitas pelayanan kesehatan Rumah sakit dilihat dari persepsi pasien dengan menggunakan model modifikasi dari 6Q framework yang dimodifikasi. Terdapat korelasi yang kuat antara persepsi pasien mengenai kualitas pelayanan di RSUD Siti Fatimah dengan kepuasan pasien. Persepsi pasien mengenai kualiatas dokter muda di RSUD Siti Fatimah baik, dengan nilai paling tinggi pada kualitas prosedural yaitu sebesar 92,8%, akan tetapi beberapa hal masih belum optimal, yaitu pada kualitas personil serta kualitas interaksi.

A hospital is an institution whose primary goal is to provide health services to people for disease treatment and prevention. On the other hand, the hospital's status as a teaching hospital necessitates accommodating various learning processes at various levels, the use of the most advanced technology as a center of excellence, and even if possible, the application of new standards or findings that are still being tested in the medical world for hospital operations. Siti Fatimah Hospital, as a relatively new hospital that has only just been created and classified as a teaching hospital, faces significant hurdles in terms of service quality and patient diversity. According to data, just around half of all the minimal competencies required for medical professional education according to the SKDI (Indonesian Doctor Competency Standards) can be discovered at Siti Fatimah Regional Hospital. This means that Siti Fatimah Regional Hospital must continue to improve in order to increase the number of patient visits and the types of diseases treated and become an adequate learning vehicle for the professional education program for doctors and specialists. The purpose of this research is to examine the relationship between service quality and patient happiness at Siti Fatimah Palembang Hospital, a teaching hospital. This is a quantitative observational analytical study with a cross-sectional survey study design employing a questionnaire. The study was carried out at Palembang's Siti Fatimah Regional Hospital on patients admitted to class 3, class 2, and class 1 inpatient wards in November 2023. Patients treated in inpatient wards were the target research population, which served as a learning vehicle for educational program students. In 2023, Siti Fatimah Regional Hospital in Palembang will have 1,700 specialist doctors and a sample size of 195 persons utilizing consecutive sampling. A modified form of the modified 6Q framework is used to assess the quality of hospital health care based on patient perceptions. Patient satisfaction is strongly related to patient views of the quality of care at Siti Fatimah Regional Hospital. 7. Patient impressions of the quality of young doctors at Siti Fatimah Regional Hospital are positive, with the highest score on procedural quality, 92.8%; nonetheless, other factors remain unsatisfactory, including the quality of people and the quality of interactions.
Read More
B-2418
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Okti Hidayati; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Mieke Savitri, Iman Nugraha
S-6248
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agustina Syahroel; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Jaslis Iljas, Mieke Savitri, Budi Hartono, Deden Sudendi
Abstrak: Abstrak

Tesis ini membahas hubungan kualitas pelayanan di unit rawat jalan kebidanan dengan loyalitas pasien terhadap Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Karawang tahun 2013.

Tujuan umum penelitian ini adalah mengetahui faktor penentu loyalitas pasien di Unit Rawat Jalan Kebidanan RSUD Karawang. Penelitian ini merupakan penelitian cross section dengan menggunakan metode kuantitatif dengan melakukan survei terhadap para pasien yang datang di Unit Rawat Jalan Kebidanan. Sifat penelitian ini adalah deskriptif dan verifikatif. Dalam penelitian ini, hipotesis yang akan diuji adalah hubungan antara kualitas pelayanan dengan loyalitas pasien terhadap pelayanan di unit rawat jalan kebidanan RSUD Karawang. Penelitian ini dilakukan dengan metode survey explanatory yang terdiri dari variable bebas yang mewakili kualitas pelayanan kesehatan yang terdiri dari lima subvariabel dan variable terikat yang mewakili loyalitas pasien. Survey ini dilakukan terhadap 100 orang responden melalui pengisian kuesioner yang pernyataan-pernyataannya mewakili variabel-variabel tersebut dengan penilaian menggunakan skala likert. Hasil analisis deskriptif variable kualitas pelayanan dan loyalita sdiperoleh skor rata-rata 3,542 -3,741 yang tergolong kategorip uas/loyal. Hasil analisis korelasi dengan menggunakan korelasi Pearson diperoleh antar variabel yang diteliti semuanya berkorelasi positip bermakna(p<0,001). Hasil analisis penelitian dengan metode Regresi Linier Multipel diperoleh hasil variabel X5 (emphaty) merupakan faktor yang paling kuat berhubungan dengan loyalitas pasien dengan koefisien B = 0,426, kemudian menyusul X2 (responsiveness), X1 (tangible),dan X3 (reliability), sedangkan variabel X4 (assurance) secara multivariabel tidak berhubungan bermakna(p=0,121).


This tesis discusses the relationship beetwen service quality in obstetric out patient unit with patient loyalty in Karawang Public Hospital 2013. The main purpose ofthis research is to find out determinant factor of patient loyalty in obstetric out patient unit in Karawang Public Hospital. This study is a cross sectional study using quantitative method by performing survey to patients who came in obstetric out patient unit. This is a descriptive and verificatives tudy. In this research, hypotesis that will be tested is relationship beetwen service quality in obstetric out patient unit with patient loyalty in Karawang Public Hospital. This study performed with survey explanatory method with independent variable that represent healthy service quality consist of five subvariables and dependent variable that represent patient loyalty. This survey performed to 100 respondents who fill the quesioner consists of that variables above withlikert scale. From analysis variable descriptive service quality and loyalty got score rate 3,542 -3,741 that include satisfied/ loyal category. Correlation analysis using Pearson Correlation shows that all variablehas positive correlation (p<0,001). Research analysis with Multiple Linier Regretion method shows that variable X5 (emphaty) has strongest factor relationship with patient loyalty with B coeffisient= 0,426, then X2 factor (responsiveness), X1 factor (tangible), and X3 factor (reliability), where variable X4 (assurance) with multivariable method has no relationship (p=0,121).

 

Read More
B-1567
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Narulita Kurnia Setianggraeni; Pembimbing: Hafizurrachman; Penguji: Mieke Savitri, Lies Nugrohowati
S-6259
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Abdul Khoja; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Purnawan Junadi, Avicena Indraswara Suryandana
B-1304
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Gusti Putu Maryanti; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sumijatun, Iwan Turniawan, Puput Oktamianti
B-1663
Depok : FKM UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Inaz Kemala Dewi; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Puput Oktamianti, Vetty Yulianty Permanasari, Anisah, Evi Yuniawati
Abstrak:
WHO memiliki target untuk mengeliminasi tuberkulosis pada 2035. Pembangunan dunia bebas TB tidak cukup dengan perluasan cakupan penegakkan diagnosis dan pengobatan saja, melainkan butuh sistem kesehatan yang bermutu tinggi di dalamnya. Rumah Sakit Khusus Paru Kabupaten Karawang sebagai rumah sakit rujukan TB di Kabupaten Karawang yang diharapkan dapat membantu eliminasi TB di Kabupaten Karawang. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimalisasi mutu pelayanan TB dengan menggunakan kombinasi Framework High Quality Health System dan Quality of Tuberculosis Service Assessment. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif untuk menganalisis mutu pelayanan TB mulai dari segi pondasi sistem pelayanan tuberkulosis, proses perawatan serta dampak mutu pelayanan tuberkulosis. Data primer didapatkan melalui wawancara mendalam dengan pemangku jabatan, penyedia pelayanan kesehatan dan pasien serta observasi lapangan. Data sekunder didapatkan dari data kunjungan, laporan serta SPO yang digunakan dalam pelayanan TB. Hasil penelitian didapatkan bahwa dari segi pondasi sistem pelayanan tuberkulosis masih memiliki kelemahan di aspek penganggaran khusus penanggulangan TB, sosialisasi kebijakan pelayanan TB serta peningkatan jejaring internal dan eksternal. Proses perawatan tuberkulosis yang berjalan masih kurang dari segi komunikasi interaksi pasien-penyedia pelayanan di Instalasi Rawat Inap serta monitoring follow up pasien sehingga mengakibatkan hambatan dalam pelayanan. Sehingga permasalahan dari segi pondasi dan proses perawatan yang bermutu kurang baik memberikan dampak berupa rendahnya angka keberhasilan pengobatan pasien TB serta adanya peningkatan pasien loss to follow up, tidak dievaluasi dan meninggal dunia. Penguatan pondasi sistem kesehatan tuberkulosis disertai implementasi proses perawatan yang berkelanjutan dan terintegrasi akan menghasilkan hasil pengobatan yang baik serta kepuasan bagi pasien. 

By 2035, the WHO aims to end TB. Expanding diagnosis and treatment options alone won't be enough to create a world free of TB, but it requires a high-quality health system within it. Karawang Lung Hospital serves as a TB referral hospital and is anticipated to aid in the eradication of TB in Karawang Regency. This study aims to optimize the quality of TB services by using a combination of the High Quality Health System Framework and the Quality of Service Tuberculosis Assessment. This study is a case study with a qualitative approach to analyze the quality of TB services starting from the foundation of the tuberculosis service system, the treatment process and the impact of the quality of tuberculosis services. Primary data were obtained through in-depth interviews with stakeholders, health service providers and patients as well as field observations. Secondary data was obtained from visit data, reports and procedurs used in TB services. The results of the study showed that in terms of the tuberculosis service system, it still has weaknesses in the aspect of special budgeting for TB control, policies on socializing TB services and increasing internal and external networks. The current tuberculosis treatment process is still lacking in terms of patient-service provider interaction in the Inpatient Unit and patient follow-up monitoring resulting in obstacles in service. So that problems in terms of treatment and care processes that are of poor quality have an impact in the form of a low success rate of treatment for TB patients as well as an increase in patient loss to follow-up, not being evaluated and death. Strengthening the foundation of the tuberculosis health system along with implementing a sustainable and integrated treatment process will result in good treatment outcomes and patient satisfaction.
Read More
B-2351
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Radhica El Shalawa; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Purnawan Junadi, Rakhmad Hidayat, Melanie Husna
Abstrak:
Waktu pemulangan pasien rawat inap merupakan indikator mutu penting dalam pelayanan rumah sakit. Di RS Universitas Indonesia (RSUI), target check-out time sebelum pukul 12 siang belum tercapai selama empat tahun terakhir, berdampak pada keterlambatan alur rawat inap dari IGD dan menurunnya efisiensi pemanfaatan tempat tidur. Proses discharge yang kompleks, melibatkan banyak unit, serta dominasi aktivitas non-value-added menjadi penyebab utama rendahnya capaian indicator mutu tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Lean Six Sigma dengan desain DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses discharge dan wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci lintas profesi. Sampel terdiri atas 40 pasien jaminan BPJS Kesehatan. Analisis dilakukan untuk mengidentifikasi aktivitas value-added, non-value-added, waste, dan variasi proses. Rata-rata lead time discharge sebelum intervensi adalah 20 jam 35 menit dengan 86% aktivitas tergolong NVA. Empat aktivitas prioritas dengan waste tertinggi adalah discharge billing (43,75%), penyusunan resume keperawatan dan surat kontrol (13,62%), pengorderan resep obat pulang (9,95%), dan penyusunan resume medis (9,86%). Intervensi dilakukan melalui penempatan tenaga administrasi ruangan (ADRU), surat edaran kebijakan peresepan oleh DPJP, serta pelatihan Kaizen. Setelah intervensi, capaian check-out sebelum pukul 12.00 meningkat dari 45% menjadi 53%, meskipun total lead time meningkat menjadi 22 jam 40 menit. Namun, beberapa subprocess mengalami perbaikan signifikan, seperti edukasi dan pemberian obat (turun 29%), pasien keluar ruang (turun 40%), dan discharge billing (turun 40%). Intervensi Lean Six Sigma berhasil meningkatkan capaian check-out time <12.00 meskipun belum menurunkan total lead time secara keseluruhan. Perbaikan cenderung parsial dan menunjukkan perlunya intervensi lebih menyeluruh terhadap tahapan proses discharge yang belum optimal.

Inpatient discharge time is a key quality indicator in hospital services. At Universitas Indonesia Hospital (RSUI), the target check-out time before 12:00 PM has not been achieved over the past four years. This delay negatively impacts the inpatient admission flow from the emergency department and reduces the efficiency of bed utilization. The complexity of the discharge process, which involves multiple units and is dominated by non-value-added (NVA) activities, is a primary factor contributing to the low performance of this indicator. This study applied a Lean Six Sigma approach using the DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) framework. Data collection was conducted through direct observation of the discharge process and in-depth interviews with seven key informants from different professional backgrounds. The sample consisted of 40 inpatients covered by the national health insurance scheme (BPJS Kesehatan). The analysis focused on identifying value-added (VA) and non-value-added (NVA) activities, waste, and process variation. The average pre-intervention discharge lead time was 20 hours and 35 minutes, with 86% of activities categorized as NVA. Four priority activities contributing the most waste were: system-based discharge billing (43.75%), preparation of nursing discharge summaries and follow-up letters (13.62%), prescription of discharge medications (9.95%), and preparation of medical summaries (9.86%). Interventions included the deployment of room-based administrative staff (ADRU), a policy circular mandating discharge prescriptions by the attending physician, and Kaizen training for process owners. Post-intervention, the proportion of patients discharged before 12:00 PM increased from 45% to 53%, although the total lead time rose to 22 hours and 40 minutes. However, several subprocesses showed significant improvements, such as patient education and medication handover (reduced by 29%), patient exit from the ward (reduced by 40%), and discharge billing (reduced by 40%). The Lean Six Sigma intervention succeeded in improving the achievement of the <12:00 PM discharge time indicator, although it did not reduce the overall discharge lead time. The improvements were partial, indicating a need for more comprehensive interventions targeting other suboptimal discharge process components.
Read More
B-2559
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiki Kusumasari; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Wahyu Sulistiadi, Dumilah Ayuningtyas, Khairina, Sri Mulyani
Abstrak: Latar belakang: Sejak adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), persaingan bisnis di industri kesehatan semakin ketat akibat bertambahnya jumlah rumah sakit. Persentase angka kunjungan pasien eksekutif rawat jalan RS Hermina Bekasi yang stagnan dalam tiga tahun terakhir juga membuat manajemen harus mencari cara untuk meningkatkan profitabilitas. Mempertahankan pasien lama agar tetap loyal akan jauh lebih mudah dan murah untuk menghasilkan pemasukan bagi rumah sakit. Penelitian bertujuan untuk melihat gambaran loyalitas pasien eksekutif di instalasi rawat jalan RS Hermina Bekasi terhadap persepsi pasien tentang switching barriers ke rumah sakit pesaing dan faktor lain yang mempengaruhi sebagai dasar pembuatan strategi bisnis. Subyek dan metode: Metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional terhadap 150 pasien eksekutif rawat jalan RS Hermina Bekasi. Analisis dilakukan dengan uji univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil: Uji multivariat menunjukkan bahwa terdapat dua variabel yang bernilai signifikan, yaitu switching barriers baru (p value = 0.14; Exp. (B) = 14.778) dan responsiveness (p value = 0.37; Exp. (B) = 11.083). Kesimpulan: Switching barriers menjadi variabel paling berpengaruh terhadap perilaku loyal di instalasi rawat jalan RS Hermina Bekasi sehingga strategi bisnis yang mempengaruhi switching barriers dapat diterapkan di rumah sakit.
Read More
B-2125
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive