Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 28642 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Bertha Toha; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Ede Surya Darmawan, Benny Christanto, Amila Megraini
Abstrak: Pasien yang menderita Gagal Ginjal Terminal harus mendapatkan Terapi Pengganti Ginjal berupa transplantasi ginjal, hemodialisis atau peritoneal dialisis. Diperkirakan pasien gagal ginjal terminal di Indonesia yang membutuhkan cuci darah atau dialisis sekitar 150.000 orang. Namun yang sudah mendapatkan terapi dialisis baru sekitar 100.000 orang. Pelayanan CAPD di Klinik Khusus Ginjal Ny. R.A. Habibie sudah dimulai sejak tahun 2010 namun jumlah pasien CAPD masih sedikit. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis Strategi Pemasaran Pelayanan Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis di Klinik Khusus Ginjal Ny. R. A. Habibie Batam Tahun 2016. Desain penelitian yang digunakan adalah analitik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Alat yang digunakan dalam penelitian ini berupa lembaran kuesioner, cek list indikasi dan kontraindikasi CAPD, Lembar pertanyaan untuk informan CAPD, Lembar Pedoman Analisis Situasi. Tahapan analisis yang digunakan adalah strategi Fred R.David yang kemudian dilanjutkan dengan Segmenting, Targeting dan Positioning, lalu menentukan bauran pemasaran (Product, Promotion, Price, Place, People, Physical evidence, Process, Customer Service). Strategi Pemasaran yang layak dan sesuai dengan analisis situasi adalah : Market Penetration dan Product Development. Pemasaran produk pelayanan di Klinik Khusus Ginjal Ny. R. A. Habibie Batam dapat berupa periklanan melalui berbagai media seperti talk show di radio, talk show di stasiun televisi di kota Batam, dan leaflet; penyebaran leaflet di ruangan pelayanan Ilmu Penyakit Dalam; promosi penjualan, dan pembinaan dokter puskesmas. Selain itu bisa dilakukan promosi secara online. Dan dokter di Klinik Khusus Ginjal Ny.R.A. Habibie Batam dan di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam diberangkatkan ke Bandung untuk mengikuti pelatihan operasi pemasangan catheter tenckhoff metode Bandung. Kata kunci : Terapi pengganti ginjal, Transplantasi ginjal, Hemodialisis, CAPD, Strategi Pemasaran Bauran Pemasaran, , Analisis situasi. Patients who suffer from Kidney Failure Terminal should get kidney replacement therapy in the form of kidney transplantation, hemodialysis or peritoneal dialysis. It is estimated that patients with terminal renal failure in Indonesia who need dialysis or dialysis of approximately 150,000 people. But that is already getting dialysis therapy about 100,000 people. CAPD Services at Mrs. R.A. Habibie Special Kidney Clinic began in 2010 but the number of CAPD patients is still small. The purpose of this study to analyze the Marketing Strategy of Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis Services at Mrs. R.A. Habibie Special Kidney Clinic Batam Year 2016. The design study is an analytic descriptive with quantitative and qualitative approaches. The tools used in this study a questionnaire sheet, check list CAPD indications and contraindications, and questionnaires for informants CAPD, Guidelines Situation Analysis Sheets. Stages of analysis is Fred R.David strategy followed by Segmenting, Targeting and Positioning, and then determine the marketing mix (Product, Promotion, Price, Place, People, Physical Evidence, Process, Customer Service). Marketing strategies are feasible and in accordance with the analysis of the situation is: Market Penetration and Product Development. Product marketing services in Mrs. R.A. Habibie Special Kidney Clinic Batam may include advertising through various media such as radio talk shows, talk shows on television stations in the city of Batam, and leaflet; for distributing leaflets in internist pollyclinic service room; sales promotion, and training doctors clinic. In addition it can be done online promotions. Mrs. R.A. Habibie Special Kidney Clinic Batam and Budi Kemuliaan Hospital Batam send to Bandung to attend training catheter fixing operation Tenckhoff Bandung method. Keywords : Renal Replacement Therapy, Kidney Transplant, Hemodialysis, CAPD, Marketing Strategy, Mix Marketing , Situation Analysis
Read More
B-1839
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Nyoman Diah Redyardani Sutantri; Pembinbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Vetty Yulianty Permanasari
Abstrak:
Kesehatan merupakan hak setiap individu untuk mau dan mampu hidup sehat, serta memanfaatkan pelayanan kesehatan. Ketersediaan fasilitas pelayanan kesehatan tentu saja menyumbang salah satu faktor keberhasilan dalam pemerataan pelayanan kesehatan di Indonesia. Pelayanan terapi pengganti ginjal (TPG) di Indonesia juga menghadapi tantangan dari segi pemerataan pelayanan. Permintaan pelayanan dialisis meningkat seiring dengan meningkatnya kejadian Penyakit Ginjal Kronis. Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) No. 8 tahun 2022 mengatur agar pasien dengan penyakit ginjal kronis stadium akhir mendapat terapi pengganti ginjal yang merata. Upaya pemerataan pelayanan dialisis ini salah satunya adalah dengan mulai memanfaatkan pelayanan CAPD maka RSUD Kota Bogor perlu melakukan persiapan pelayanan CAPD di instalasi hemodialisa. . Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kesiapan dan upaya penyelenggaraan pelayanan CAPD di RSUD Kota Bogor. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analitik yang digunakan untuk mengkaji lebih dalam mengenai persiapan dan kesiapan RSUD Kota Bogor dalam memberikan pelayanan CAPD. Sebagian besar instrumen penilaian kesiapan pelayanan CAPD di RSUD Kota Bogor berdasarkan PMK no.8 tahun 2022 telah terpenuhi, yaitu sebesasr 81%, namun masih perlu penyiapan sarana dan prasarana serta berkas SPO yang belum terpenuhi agar pelayanan CAPD dapat berjalan. Dengan terpenuhinya persyaratan tersebut maka RSUD Kota Bogor siap memberikan pelayanan CAPD.

Health is the right of every individual to want and be able to live healthily, and utilize health services. The availability of health service facilities certainly contributes to one of the success factors in equitable distribution of health services in Indonesia. Kidney replacement therapy (TPG) services in Indonesia also face challenges in terms of equitable distribution of services. The demand for dialysis services is increasing along with the increasing incidence of Chronic Kidney Disease. The government through Minister of Health Regulation (PMK) No. 8 of 2022 stipulates that patients with end-stage chronic kidney disease receive kidney replacement therapy that is evenly distributed. One of the efforts to equalize dialysis services is by starting to utilize CAPD services, so the Bogor City Hospital needs to prepare for CAPD services at the hemodialysis installation. . The purpose of this study was to analyze the readiness and efforts to provide CAPD services at RSUD Kota Bogor. This type of research is a qualitative research with an analytic descriptive approach that is used to examine more deeply the preparation and readiness of Bogor City Hospital in providing CAPD services. Most of the CAPD service readiness assessment instruments at Bogor City Hospital based on PMK no. 8 of 2022 have been fulfilled, which is 81%, but it is still necessary to prepare facilities and infrastructure as well as SPO files that have not been fulfilled so that CAPD services can run. With the fulfillment of these requirements, Bogor City Hospital is ready to provide CAPD services.
Read More
B-2378
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Makassari Dewi; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Purnawan Junadi, A.Heri Iswanto, Pringgodigdo Nugroho
Abstrak:
Saat ini data peritonitis rate dan angka kematian pasien penyakit ginjal kronik (PGK) stadium akhir pengguna terapi Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) di Asian Tenggara masih terbatas. Penelitian yang dilakukan bersifat sporadik dan belum dilakukan dalam skala besar sehingga belum menunjukkan gambaran secara utuh. Belum semua negara di Asia Tenggara memiliki sistem renal registry yang menyediakan data peritonitis rate dan angka kematian pasien CAPD. Angka peritonitis rate dan angka kematian pada pasien CAPD diperlukan untuk melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap mutu pelayanan secara berkelanjutan/continuous quality improvement (CQI) terapi CAPD di rumah sakit. Peritonitis dapat menyebabkan kegagalan terapi CAPD sehingga pasien beralih ke metode hemodialisis atau berujung kematian. Metode CAPD memiliki keunggulan dibandingkan hemodialisis karena lebih hemat biaya, memberikan kualitas hidup lebih baik dan tidak memerlukan perawatan khusus di pusat hemodialisis. Metode ini cocok diterapkan di negara Asia Tenggara yang mengalami peningkatan jumlah penderita PGK tahap akhir yang membutuhkan biaya terapi sangat besar namun memiliki dana serta sumber daya terbatas. Tujuan utama systematic review ini untuk mengetahui peritonitis rate dan angka kematian pasien CAPD di Asia Tenggara. Systematic review menggunakan data renal registry serta basis data PubMed dan ProQuest khusus berbahasa Inggris dan Indonesia sejak tanggal 1 Januari 1992 sampai dengan 1 November 2022. Semua jenis studi yang memberikan informasi terkait peritonitis rate dan angka kematian pasien CAPD diambil dalam penelusuran systematic review. Penulis menyaring, memilih dan mengekstrak data sesuai skema systematic review PRISMA 2020. Artikel terpilih diberikan tinjauan kritis dan dilakukan sintesis data. Hasil sintesis data dilaporkan secara secara naratif serta diperjelas dengan tabel dan diagram. Dalam melakukan systematic review penulis menggunakan aplikasi Mendeley dan Microsoft Exel 2010 sebagai alat bantu. Hasil: Dari pencarian database Pubmed (1397) dan Proquest (422) serta laporan renal registry total terjaring 1819 artikel dan 5 laporan renal registry. Setelah proses penyaringan dan tinjauan kritis diperoleh 34 artikel dan 3 laporan renal registry. Hasil analisis menunjukkan telah terjadi penurunan tingkat peritonitis rate di Asia Tenggara dalam kurun waktu 1993-2022. Terdapat 4 negara yaitu Indonesia (0,25 episode per pasien-tahun),Vietnam (0,19 episode per pasien-tahun), Singapura (0,31-0,339 episode per pasien-tahun) dan Malaysia (0,13-0,33 episode per pasien-tahun) secara umum mencapai target International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD)2022 yaitu tingkat peritonitis dibawah 0,4 episode episode per pasien-tahun. Adapun Thailand (0,39-0,864 episode per pasien-tahun) dan Brunei Darussalam (0,38-0,49 episode per pasien-tahun) belum mencapai target yang telah ditetapkan oleh International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD) 2022. Sebagian besar angka kematian di bawah 20%. Angka kematian akibat peritonitis berkisar 3,2-5,5%. Mikroorganisme penyebab peritonitis yang paling sering ditemukan adalah Staphylococcus aureus dan Coagulase-negative Staphylococcus. Faktor risiko peritonitis yang ditemukan yaitu faktor usia tua (60 tahun keatas); diabetes milletus; sosial ekonomi rendah; tidak adanya sumber air bersih; hipoalbuminemia; kemampuan pasien CAPD dalam menerapkan tindakan aseptik saat pertukaran cairan dialisat yang buruk; rasio pasien-perawat lebih dari (50:1); jarak rumah yang jauh dari pusat dialisis; letak geografis dan penggunaan mupirocin topikal pada exit-site CAPD. Penggunaan cairan dialisat Dextrosa 4,2% yang sering dan terus menerus meningkatkan risiko kematian pada pasien CAPD sebanyak 2 kali lipat. Kesimpulan: Sebagian besar Negara di Asia Tenggara memiliki kualitas pelayanan yang baik terhadap pasien penyakit ginjal kronik stadium akhir pengguna terapi CAPD. Untuk mencapai kualitas pelayanan CAPD yang baik diperlukan bagi rumah sakit untuk memperhatikan faktor risiko peritonitis dan faktor risiko kematian dalam melakukan seleksi terhadap pasien CAPD serta melakukan pelatihan terhadap pasien CAPD sesuai rekomendasi International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD).

Currently data on the peritonitis rate and mortality rate of end-stage chronic kidney disease (CKD) patients using Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) therapy in Southeast Asia are still limited. The research conducted is sporadic and has not been carried out on a large scale so that it does not yet show a complete picture. Not all countries in Southeast Asia have a renal registry system that provides peritonitis rate data and the mortality rate of CAPD patients. The peritonitis rate and mortality rate in CAPD patients are needed to evaluate and improve the quality of care on an ongoing basis/continuous quality improvement (CQI) for CAPD therapy in hospitals. Peritonitis can lead to failure of CAPD therapy so that patients switch to hemodialysis methods or lead to death. The CAPD method has advantages over hemodialysis because it is more cost-effective, provides a better quality of life and does not require special treatment at a hemodialysis center. This method is suitable for use in Southeast Asian countries where there is an increasing number of end-stage CKD patients who require very large therapeutic costs but have limited funds and resources. The main aim of this systematic review is to determine the peritonitis rate and mortality rate of CAPD patients in Southeast Asia. The systematic review used renal registry data and the English and Indonesian PubMed and ProQuest databases from January 1 1992 to November 1 2022. All types of studies that provided information regarding the peritonitis rate and mortality rate of CAPD patients were included in a systematic review search. The author filters, selects and extracts data according to the PRISMA 2020 systematic review scheme. Selected articles are given a critical review and data synthesis is carried out. The results of data synthesis are reported in a narrative manner and clarified by tables and diagrams. In carrying out a systematic review, the author uses the Mendeley application and Microsoft Exel 2010 as a tool. Results: From searching the Pubmed (1397) and Proquest (422) data bases and renal registry reports, a total of 1819 articles and 5 renal registry reports were captured. After screening and critical review, 34 articles and 3 renal registry reports were obtained. The results of the analysis show that there has been a decrease in the peritonitis rate in Southeast Asia in the period 1993-2022. There are 4 countries namely Indonesia (0.25 episodes per patient-year), Vietnam (0.19 episodes per patient-year), Singapore (0.31-0.339 episodes per patient-year) and Malaysia (0.13-0, 33 episodes per patient-year) generally meets the International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD) 2022 target of a peritonitis rate below 0.4 episodes per patient-year. Meanwhile, Thailand (0.39-0.864 episodes per patient-year) and Brunei Darussalam (0.38-0.49 episodes per patient-year) have not yet reached the target set by the International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD) 2022. Most of them mortality rate below 20%. The mortality rate from peritonitis ranges from 3.2-5.5%. The most common microorganisms that cause peritonitis are Staphylococcus aureus and Coagulase-negative Staphylococcus. The risk factors for peritonitis found were old age (60 years and over); milletus diabetes; low socioeconomic; lack of clean water sources; hypoalbuminemia; poor ability of CAPD patients to apply aseptic measures during dialysate fluid exchange; patient-nurse ratio more than (50:1); the distance from the house to the dialysis center; geographic location and use of topical mupirocin in CAPD exit-sites. Frequent and continuous use of Dextrose 4.2% dialysate fluid increases the risk of death in CAPD patients by 2 times. Conclusion: Most countries in Southeast Asia have good quality of care for patients with end-stage chronic kidney disease using CAPD therapy. To achieve good quality CAPD services, it is necessary for hospitals to pay attention to risk factors for peritonitis and risk factors for death in selecting CAPD patients and conducting training for CAPD patients according to the recommendations of the International Society for Peritoneal Dialysis (ISPD).
Read More
B-2377
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
MHD Indra Gunawan Lubis; Pembimbing: Amal C. Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty, Nusati S., Lies Dina Liastuti
Abstrak: Salah satu permasalahan sistem rujukan kesehatan yang mengatur pelimpahan tugas dan tanggung jawab secara timbal balik, maupun struktural dan fungsional terhadap kasus penyakit dalam permasalahan kesehatan hal ini juga terjadi juga di kota Batam. Untuk mengatasi hal tersebut sistem pelayanan kesehatan di era BPJS Kesehatan mengutamakan optimalisasi di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), seperti Puskesmas, klinik pratama, maupun dokter praktek perorangan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan dalam menyediakan layanan kesehatan bagi masyarakat. Namun masih sering kita temui masalah rujukan pelayanan rumah sakit yang terjadia ketidak tepatan dalam rujukan yang dialami oleh IGD Rumah Sakit dan Klinik-klinik di Batam. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengetahuai penyebab ketidak tepatan atau penyimpangan dalam rujukan FKTP yang terjadi di kota Batam. Hasil penelitian mendapatkan bahwa BPJS selalu menghimbau pimpinan dan dokter klinik untuk menahan laju rujukan yang relatif tinggi (berdasarkan asumsi yang banyak beredar di kalangan klinik dan tenaga medis baik di rumah sakit dan klinik). Dan rujukan non spesialistik yang rationya tidak lebih boleh lebih dari 15% agar tidak berdampak pada turunnya jumlah kapitasi (pasien kepesertaan BPJS kesehatan dalam tiap bulannya) yang dimiliki klinik. Disarankan Saran yang dapat disampaikan sehubungan dengan hasil penelitian merupakan peningkatkan kualitas atau mutu tenaga kesehatan dalam pelayanan kesehatan, mengadakan sosialisasi terhadap aturan-aturan kebijakan secara berkesinambungan mengingat agar terhindari dari konflik dalam pelayanan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan. Dan perlu adanya edukasi akan sebuah sistem dan aturan pelayanan untuk mengatasi masalah rujukan dan mengembalikan peran dokter umum sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan tingkat primer.
Kata Kunci : Pelayanan Kesehatan, Implementasi Sistem Rujukan, Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Rumah Sakit.
One of the problems of the health referral system that regulates the delegation of tasks and responsibilities on a reciprocal basis, as well as the structural and functional aspects of illness in health problems is also happening in the city of Batam. To overcome this the health care system in the era of BPJS Health prioritizes the optimization in first-rate health facilities (FKTP), such as health centers, clinics, and individual practice physicians in collaboration with BPJS Health in providing health services for the community. But still we often encounter the problem of hospital service referral that happened inaccurate in the references experienced by IGD Hospital and Clinics in Batam. The purpose of this research is to know the cause of inaccuracy or deviation in FKTP reference that occurred in Batam city. The results found that BPJS always appealed to clinical leaders and clinicians to withhold relatively high referral rates (based on widely circulated assumptions among clinics and medical personnel in hospitals and clinics). And non-specialist referrals whose ration is no more than 15% in order not to affect the decrease in the number of capitals (monthly health membership BPJS patients) owned by the clinic. Suggested suggestions that can be submitted in relation to the results of the study is to improve the quality or quality of health personnel in health services, socialization of policy rules continuously in order to avoid the conflict in service, increasing the competence of health workers. And there is need for education of a system and rules of service to overcome the problem of referrals and return the role of general practitioners as the spearhead of primary health care.
Keywords: Health Service, Implementation Referral System, Health Service Facilities, Hospital.
Read More
B-1935
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astried Yustika Rini; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Puput Oktamianti, Yuli Prapancha Satar
Abstrak:
Tesis ini menganalisis mengenai penyusunan dan penetapan strategi pemasaran RS.Otorita Batam sebagai unit pelaksana teknis Badan Pengusahaan Kawasan Batam, yang di identifikasi melalui faktor internal dan faktor eksternal serta melalui analisis TOWS. Metode yang dipakai dalam penelitian ini merupakan penelitian operasional dengan disain cross sectional. Hasil penelitian dilakukan dengan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu faktor internal dan eksternal RS.Otorita Batam, didapatkan bahwa RS.Otorita Batam saat ini berada pada posisi yang lemah dan terancam. RS.Otorita Batam telah berusaha menyusun rencana strategisnya namun dalam bentuk yang masih sangat sederhana, belum ada penetapan segmentasi, target pasar serta positioningnya secara tertulis. Ke depan RS.Otorita Batam harus dapat menyusun dan mengimplementasikan suatu strategi pemasaran jika tidak mau tertinggal dengan Rumah Sakit lain yang ada di Pulau Batam dan sekitarnya.

This thesis analyzes the preparation and adoption of RS.Otorita Batam marketing strategies as a technical implementation unit of Badan Pengusahaan Kawasan Batam, which was identified through internal and external factors as well as through the TOWS analysis. The method used in this research is operasional research with cross sectional study. The results of research carried out by identifying the factors that affect the internal and external factors of RS.Otorita Batam, and obtained that are currently in a weak position and threatened. RS.Otorita Batam has tried to make the strategic plan of but in a form that is still very simple, there is no determination in segmentation, target market and its positioning in a written form. Looking ahead RS.Otorita Batam should be able to formulate and implement a marketing strategy if RS.Otorita Batam do not want lto be left behind by other hospitals in Batam Island and surrounding areas.
Read More
B-1287
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farida Apriani Utami; Pembimbing: Wahyu Sulistyadi; Penguji: Adang Bachtiar, Dumilah Ayuningtyas, Imas Rahmi Wisdiani
Abstrak: Pelayanan klinik nyeri adalah pelayanan kesehatan di poliklinik yang berfokus pada manajemen nyeri akut dan kronis. Klinik nyeri dibuka akhir September 2019, dan hanya ada satu-satunya di Karawang. Dari data pasien poliklinik tahun 2018, pasien dengan keluhan nyeri sekitar 50% total pasien dari poliklinik yang dapat menjadi potensi klinik nyeri. Dari data kunjungan klinik nyeri diketahui usia terbanyak yang berkonsultasi adalah usia produktif dan usia lanjut (geriatri). Di RS Mandaya sudah terbentuk komunitas geriatri yang diberi nama Golden Club. Penelitian ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif, dimulai pada bulan Oktober 2019 sampai Mei 2020. Informan penelitian, yaitu Direktur Utama, Kepala Divisi Pemasaran, Dokter penanggung jawab klinik nyeri, Sub unit pemasaran bagian community office, perawat klinik nyeri, pasien dan atau keluarga pasien klinik nyeri, anggota komunitas golden club. Data diambil dari data primer dan sekunder. Hasil dari penelitian ini adalah segmentasi dan target klinik nyeri yaitu pasien yang mempunyai keluhan nyeri kronis baik yang sudah ataupun belum mendapatkan pengobatan sebelumnya, perempuan, usia produktif (³20-64 tahun) dan usia lanjut (³65 tahun), tempat tinggal di kecamatan karawang Barat dan Telukjambe Timur, jenis pembayaran dengan jaminan pribadi. Dengan spesialisasi produk intervensi nyeri menggunakan penuntun C-Arm atau Ultrasonografi. Posisi pasar klinik nyeri sebagai market leader pelayanan klinik nyeri untuk rujukan dari internal maupun eksternal RS Mandaya. Bauran pemasaran Co-creation ingin mengembangkan intratechal analgesia, Currency yang ditawarkan di klinik nyeri masih perlu evaluasi dari manajemen untuk penentuan tarif, Communal activation dan Coversation dilakukan secara online melalui sosial media, grup whatsapp, dan telekonsultasi. Strategi pemasaran klinik nyeri melalui pendekatan komunitas geriatri saat ini belum seperti yang diharapkan dan tercapai
Pain clinic services are health services in polyclinics that focus on acute and chronic pain management. This pain clinic was opened at the end of September 2019, and there is in only one in Karawang. From polyclinic patient data in 2018, patients with pain complains were about 50% of the total patients from polyclinic which could be a potential pain clinic. From the pain clinic visit data of patients, it is known that the most consulted are the productive age and old age (geriatrics). At Mandaya Hospital, a geriatric community has been formed, which is called The Golden Club. This research is a case study research with a qualitative approach, begins in October 2019 to May 2020. Research informants including the President Director, Head of Marketing Division, Doctor in charge of Pain Clinic, Marketing sub-unit of the community office section, Pain clinic nurse, Patient and or family of pain clinic patients, Members of the golden club community. Data taken from primary and secondary data. The results of this study are segmentation and targets of pain clinic, namely patients who have complaints of chronic pain whether or not they have received prior treatment, women, productive age (³20-64 years old) and old age (³65 years old), living in West Karawang and East Telukjambe districs, types of payment with personal guarantee. Specialized in pain intervention products using C-Arm or USG guide. Pain clinic market position as the market leader in pain clinic services for internal and external referrals of Mandaya Hospital. The marketing mix of Co-creation wants to develop intratechal analgesia, Currency offered in pain clinics need evaluation from management for determining rates, Communal activation and Conversation are carried out online through social media, WhatsApp groups, and teleconsultation. The pain clinic marketing strategy with the geriatric community approach is currently not as expected and achieved
Read More
B-2180
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Hendrawaty; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Budi Utomo, Heru Kusumanto, Yuli Prapanca Satar
Abstrak:

Akibat krisis moneter yang berkepanjangan, sekarang ini juga berdampak pada bidang kesehatan, dimana biaya berobat dirumah sakit menjadi mahal, karena kenaikan harga obat-obatan, alat-alat kedokteran dan biaya operasional rumah sakit. Hal tersebut menyebabkan jumlah pasien yang mempergunakan jasa pelayanan rumah sakit menurun.Salah satu tindakan yang dapat dilakukan rumah sakit yaitu, dengan menghilangkan biaya rawat inap pada tindakan pasca operasi yang disebut juga pelayanan One Day Surgery atau One Day Care. Di sini pasien dapat segera pulang setelah dilakukan tindakan operasi, hal ini tentunya menguntungkan pasien dari segi waktu dan biaya.Unit ODC ini merupakan salah satu unit pelayanan di rumah sakit Gandaria yang berada dibawah bidang pelayanan medis yang berdiri pada awal tahun 2000.Penelitian ini bertujuan untuk menyusun rencana strategi pemasaran unit ODC Rumah Sakit Gandaria, metode yang dipakai adalah deskripsi kualitatif dengan penelaahan studi kasus. Penelitian dilakukan selama April dan Mei tahun 2002 di Rumah Sakit Gandaria ,khususnya unit ODC. Data yang diperoleh berdasar data sekunder dan primer. Disamping itu juga untuk mengetahui kebutuhan pasien dan mengetahui profil pemakai jasa Rumah Sakit Gandaria penulis menyebarkan kuesioner pada 100 pasien rawat jalan.Dari data-data yang diperoleh baik primer maupun sekunder ditambah dengan analisa eksternal maupun internal rumah sakit, dengan mepergunakan TOWS Matrik dan Strategi Daur Hidup Produk diperoleh beberapa altematif strategi. Dari beberapa alternatif strategi ditetapkan prioritas strategi pemasaran unit ODC Rumah Sakit Gandaria.Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa strategi yang tepat untuk ODC adalah : Strategi Penetrasi Pasar, Pengembangan Pasar dan Pengembangan Produk. Saran yang dikemukakan meningkatkan kegiatan pemasaran rumah sakit, khususnya unit ODC, melakukan promosi baik internal maupun eksternal dengan maksimal, meningkatkan hubungan kerja dengan dokter spesialis dan bidan-bidan sebagai pemasok pasien. Dengan ini diharapkan jumlah kunjungan pasien ODC akan meningkat.


 

Marketing Strategy of One Day Care Service at Gandaria HospitalThe continuations of monetary crisis now days, affecting on health area, increasing the cost & the service become expensive. As a result of the increasing the cost of medicine, means the operational cost of the hospital increased. These have an impact that the number patients decreased.One of the alternative is making the One Day Care to reduce the cost of patients can be done by the Hospital is to omit the cost in patient, The patient can go home after treatment. This program will make effective time and cost.This ODC unit is one of the medical services at Gandaria Hospital, which is under the Medical Service Unit, set up in the year 2000. The objective, of the study is to plan the marketing strategy of ODC unit Gandaria Hospital. The method of the study is case study with Qualitative Descriptive. The research holds in April and May 2000 in Gandaria Hospital especially at ODC unit. The data are taken from secondary and primary data.From those data, internal and external analysis, TOWS matrix and PLC, I found some alternative strategies. After analyzing the strategic, I decided one priority of Marketing Strategy.From that research, I concluded that the appropriate strategy for ODC unit is market penetration, product development and market development.I would like to suggest increasing the marketing activity of the Hospital, especially ODC unit, to maximum internal and external promotion, to increase the quality of work relationship with the specialist doctors and nurses. It may in crease the coming of the ODC.

Read More
B-578
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dindin Hardianto Hadim; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Vetty Yulianty Permanasari, Lies Dina Liastuti, Nusati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor fasilitas kesehatan dan faktor kualitas tenaga dokter terhadap Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik (RRNS) di Wilayah Kerja BPJS Kesehatan Kantor Cabang Batam Tahun 2016. Penelitian dilakukan di FKTP yang bekerjasama dengan BPJS-Kesehatan KC. Batam. Sampel penelitian terdiri dari 17 FKTP yang mempunyai angka RRNS > 7 % sebagai kriteria inklusi. Teknik pengumpulan data adalah observasi/pengamatan serta kuesioner/angket dan kelompok diskusi terarah. Analisis Statistik yang dipakai adalah Analisis Parametrik Product Moment Person.Terdapat hubungan positif antara kelengkapan sarana-prasarana, farmasi- alat kesehatan, kompetensi dokter serta beban kerja dokter terhadap RRNS tetapi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Walaupun uji statistik tidak menunjukkan hubungan yang signifikan terhadap RRNS, akan tetapi diperoleh fakta bahwa sebagian besar FKTP di wilayah kerja BPJS-Kesehatan KC Batam belum terstandar sesuai peraturan yang berlaku baik dalam hal kelengkapan sarana-prasarana, farmasi-alat kesehatan dan tingkat kompetensi dokternya. Lebih banyak ditemukan Dokter di FKTP dengan Kategori Beban kerja berlebih dan angka RRNSnya tinggi. Kredensialing sebaiknya dilaksanakan secara terpadu oleh Dinas Kesehatan, Organisasi Profesi serta Asosiasi Klinik dan BPJS-Kesehatan dengan mengacu kepada peraturan yang ada agar diperoleh FKTP yang terstandar dengan baik. Selanjutnya pengawasan dan pembinaan oleh Dinas Kesehatan dan Asosiasi Faskes harus dilakukan secara berkala guna menjaga kualitas mutu layanan. Disamping itu PKB juga merupakan hal yang penting untuk memelihara kompetensi tenaga dokter sehingga pada akhirnya FKTP dapat berfungsi sebagai gatekeeper dalam pelayanan kesehatan di era JKN ini.
Kata kunci : RRNS, Faskes, Dokter, BPJS-Kesehatan

This study aims to determine whether there is a correlation between health facility factor and physician quality factor to Non-Specialistic Radiation Coverage Ratio (RRNS) in Work Area of BPJS Kesehatan Batam Branch Office 2016. The research was conducted in FKTP in collaboration with BPJS-Kesehatan KC . Batam. The study sample consisted of 17 FKTPs having RRNS> 7% as inclusion criteria. Data collection techniques are observation / observation as well as questionnaire / questionnaire and focus group discussion. Statistical Analysis used is Parametric Product Moment Person Analysis. There is a positive relationship between the completeness of infrastructure, pharmacy-health equipment, physician competence and physician's workload to RRNS but it does not show any significant relationship. Although statistical tests do not show a significant relationship to RRNS, the fact remains that most FKTPs in the working area of BPJS-Health KC Batam have not been standardized in accordance with the regulations applicable both in terms of completeness of facilities, pharmacy-health equipment and the level of competence of their doctors. More Doctors found in FKTP with Category Excessive workload and high RRNS numbers. Credentials should be implemented in an integrated manner by the Department of Health, Professional Organizations and Clinical Associations and BPJS-Kesehatan by referring to existing regulations in order to obtain a well-standardized FKTP. Further supervision and guidance by the Health Office and Faskes Association should be conducted periodically to maintain the quality of service quality. Besides, PKB is also an important thing to maintain the competence of doctors so that FKTP can eventually function as a gatekeeper in health service in this JKN-era.
Keywords ; BPJS-Kesehatan, Medical Doctor, Primary Clinic, RRNS
Read More
B-1920
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mukhatar Ikhsan; Pembimbing; Budi Utomo; Penguji: Emmy Salman, Bambang Hestu Djajadi, Hardi Yusa, Iman Hidayat
Abstrak: Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan dan kunjungan di Poliklinik Khusus
 
RSUP Persahabatan maka perlu dilakukan analisis situasi guna pengembangan strategi
 
bisnis.
 
 
 
Dilakukan penelitian melalui tiga tahap yaitu:
 
l. lnput Stage melalui proses identifikasi External Factor Evaluation (EFA) dan
 
Internal Factor Evaluation (IFE)
 
2. Matching Stage dengan m enggunakan tool SWOT matrix Internal-External
 
Matrix.
 
3. Decision Stage dengan Grand Strategy.
 
 
 
Pengumpulan data dilakukan dengan pengamatan data sekunder, mengidentifikasi
 
berbagai faktor eksternal dan internal melalui wawancara mendalam serta CDMG
 
(Concensus Decision Making Group). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Poliklinik
 
Khusus RSUP Persahabatan mempunyai posisi pada sel V dan kuadran lnternal Fix-it.
 
Sedangkan sebagai SBU, pada saat ini belum mencapai break even point.
 
 
 
Guna tercapainya visi dan misi Poliklinik Khusus RSUP Persahabatan perlu
 
melakukan Strategi Penguatan (Enhancement) dan Pengembangan Produk (Product
 
Deveiopment).
 

 
Abstract
 
In order to increase the service quality and visit number in Spesial Polyclinic of
 
Persahabatan Hospital, it is necessary to make situational analysis to develop the bussines
 
planning.
 
 
 
Study has been done through three steps :
 
l. The input stage using of External Factors Evaluation (EFE) and lnternal Factors
 
Evaluation (IFE)
 
2. The matching stage using TOWS Matrix and Internal-External Matrix.
 
3. The Decision Stage using Grand Strategy
 
 
 
Data collecting has been done using observation of secondary data, indepth interview
 
and Concensus Group Decision Making.
 
 
 
The result of this study are : By using Internal-External Matrix is in Internal Fix-it
 
Quadran and by using TOWS matrix is in V cell means Hold and Maintain. As a
 
Strategic Business Unit until now is still not gain the break even point.
 
 
 
To get the vision and mision it is suggested for Special Polyclinic to perform strategy
 
using Enhancement and Product Development.
Read More
B-528
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mundianasari Muyasaroh; Pembimbing: Wiku bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Anhari Achadi, Robi Hari Setiawan
S-6597
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive