Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37132 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Primus Mitaran; Pembimbing : Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Renti Mahkota, Achmad Farchanny Try Adriyanto
Abstrak: Gangguan pendengaran akibat bising masih menjadi masalah kesehatan baik didunia maupun Indonesia. Data WHO (2005) melaporkan bahwa 278 juta (4.2%)penduduk dunia mengalami gangguan pendengaran, 50% di Asia Tenggaratermasuk Indonesia. Tingkat kebisingan di pelabuhan udara El Tari Kupang tahun2010 mencapai 92,2 dB pada pagi hari dan 95,2 dB pada siang hari. Pada tahun2011 tingkat kebisingan di area apron atau area udara mencapai rata-rata 90,48dBdengan interval 74,5-120 dB dan di area terminal rata-rata 89,2 dB. Pada tahun 2013mencapai 91,5 dB di area apron dan 97,2 dB di ruangan check in, di ruangankeberangkatan mencapai 97 dB (Data Tahunan KKP Kupang). Penelitian inibertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat kebisingan dengan gangguanpendengaran pada pekerja di pelabuhan udara El Tari Kupang. Penelitian inidilakukan menggunakan desain studi cross sectional analitik. Populasi studi padapenelitian ini adalah pekerja berjenis kelamin laki-laki yang bekerja padaperusahaan ground handling di pelabuhan udara El Tari Kupang tahun 2016. Hasilpenelitian menemukan prevalensi gangguan pendengaran sensorineural padapekerja di pelabuhan udara El tari Kupang sebesar 39,5%. Hasil estimasi risikomenemukan PR=1,80: 95%CI 1,01-3,19) artinya risiko gangguan pendengaransensorineural pada pekerja ground handling yang terpapar tingkat kebisingan > 85dBA 1,80 kali dibandingkan dengan pekerja ground handling yang terpapar tingkatkebisingan ≤ 85 dBA selama 8 jam TWA sehari di pelabuhan udara El Tari Kupang.Kesimpulan: ada perbedaan risiko kejadian gangguan pendengaran antara pekerjayang terpapar tingkat kebisingan > 85 dBA dengan pekerja yang terpapar tingkatkebisingan ≤ 85 dBA selama 8 jam TWA sehari. Upaya pencegahan pentingdilakukan yaitu mewajibkan semua pekerja menggunakan APD (ear plug atau earmuff) terutama yang bekerja di area apron pelabuhan udara El Tari Kupang.Kata Kunci: GroundHandling, Tingkat Bising, Gangguan Pendengaran.
Read More
T-4816
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eddy Harianto; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mondastri Korib Sudaryo, Fatum Basalamah, Zamhir Setiawan
Abstrak: Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi hipertensi pada pekerja pelabuhan di wilayah kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Tarakan serta faktor-faktor risiko yang berpengaruh. 
Metode: Desain penelitian adalah potong lintang; subyek diperoleh dari hasil survei PTM tahun 2011 oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan Tarakan, subyek yang terkumpul adalah 361 pekerja. Nilai pengukuran tekanan darah menggunakan nilai baku dari JNC VII tahun 2003. Hasil: Faktor yang dominan berpengaruh terhadap hipertensi adalah Umur > 42 tahun, didapatkan POR = 4,19 (95% CI 1,99 – 8,79) dengan nilai p = 0,00. 
Kesimpulan: Prevalensi hipertensi adalah 21,88%. Terdapat hubungan antara umur, riwayat keluarga hipertensi, stres, Indeks Massa Tubuh (IMT) dan terpajan kebisingan dengan hipertensi. Pada penelitian ini tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin, merokok, konsumsi alkohol, olahraga, area kerja dan unit kerja dengan hipertensi. 
ABSTRACT
 The focus of this study was to examine the prevalence amongst harbor worker at Port Health Office Class II of Tarakan with it’s associated risk factors.
 
Method: Cross sectional study; subjects were collected from non-CD survey at Port Health Office of Tarakan are 361 workers. Measurement of blood pressure were using the standard procedure stated in JNC VII (2003). Result: Dominate Factor associated with hypertension were age up to 42 years old, that found POR = 4,19 (95% CI 1,99 – 8,79) with p value = 0,00. Conclusion: The prevalence of hypertension was 21,88%. Age, family hypertension history, stress, body mass index (BMI) and noise exposure were associated with hypertension. There were no association between gender, smoking, alcohol consumption, sport, work area and work unit with hypertension in this study.
Read More
T-3705
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benget Saragih; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yosyah, M. Mardi, Ikron
T-3067
Depok : FKM-UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sjahrul Meizar Nasri; Pembimbing: Bambang Sutrisna, Harwinta F. Eyanoer, Jenny Endang B. Bashiruddin; Penguji: Tjipto Suwandi, Sudarto Ronoatmodjo, Sudijanto Kamso, I Made Djaja, Erna Tresnaningsih, Bambang Sutrisna, Harwinta F. Eyanor, Jenny Endang B. Bashiruddin
D-106
[s.l.] : FKM-UI, 2005
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Niko Rianda Putra; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Ema Hermawati, Heri Nugroho, Diah Wati Soetejo
T-4418
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Beben Saiful Bahri; Pemb. Haryoto Kusnoputranto, Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Dirman Siswoyo, John Sihartony Marbun
T-2946
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Firdaus; Pemb. I Made Djaya, Rachmadhi Purwana; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Priagung AB, Dyah Armi Riana
Abstrak:
Loading and unloading activity at port of Boom Baru in Palembang reached mean number 8264.892 ton each year. This caused happening of particulate contamination which can cause of the occurrence of non infection bronchi trouble. This study aim is to know PM10 exposure to occurrence of non infection bronchi trouble for loading and unloading worker at Port of Boom Baru in Palembang. In this study, variables of temperature, dampness and wind velocity are studied and their effect for PMI0 concentration, while variables of PM10 concentration, age, work time, nutrition status, smoking habit and usage of self protective device (APD) are checked and their effect for the occurrence of non infection bronchi trouble. PM1o concentration is used for analyzing effect of particulate contamination for the occurrence of non infection bronchi trouble. This study used a retrospective cohort study design for calculating Relative Risk (RR) to occurrence of non infection bronchi trouble as result of PM1o exposure and also another factors. Data analysis which has been done consisting of univariate analysis (descriptive), bivariate (kai square test and t-test) and multivariate (multiple linear regression and multiple logistic regression). Data analysis result indicated the existence of PM,o concentration related to temperature variable (p = 0,022), dampness (p = 0,002) and wind velocity (p = 0,006). While data analysis for the occurrence of non infection bronchi trouble with PM16 concentration variable (p = 0,001), age (p = 0,011), work time (p = 0,044) and smoking habit (p = 0,000). From all factors which related significantly, smoking habit is a dominant factor which affecting for the occurrence of non infection bronchi trouble. Therefore, factors which affected for occurrence of non infection bronchi trouble must be lessened, especially for smoking habit.
Read More
T-2820
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisa Sri Wahyuni; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Dwi Gayatri, Dyah Erti Mustikawati
Abstrak: Prevalensi obesitas sentral meningkat setiap tahunnya di Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengetahui prevalensi obesitas sentral dan faktor-faktor yang berhubungan dengan obesitas sentral pada kelompok pekerja perempuan usia produktif di 10 provinsi terpilih tahun 2016. Data yang digunakan adalah data sekunder, jumlah sampel 1464. Desain penelitian studi kuantitatif observational cross sectional. Prevalensi obesitas sentral pada penelitian ini 70.1% yang merupakan prevalensi kasar. Variabel memiliki hubungan bermakna dengan obesitas sentral adalah usia dengan peningkatan risiko pada usia dewasa akhir, sudah menikah, kurang aktivitas fisik, merokok. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan penekanan program pada sasaran khusus yang memiliki peningkatan risiko obesitas sentral. Kata Kunci : kelompok pekerja perempuan, obesitas sentral, sepuluh provinsi terpilih The prevalence of central obesity increases every year in Indonesia. This research aims to determine the prevalence of central obesity and the related factors with central obesity in productive age group of woman workers in 10 provincies elected in 2016. The data used is secondary data with sample of 1464. The design study is an observational cross sectional quantitative study. The crude prevalence of central obesity was 70.1%. Variables that have a statistically significant relationship with central obesity are age, married and insufficient physical activity smoking. This study expected to be a reference program emphasis on particular targets that have an increased risk of central obesity. Keywords : central obesity, woman workers, 10 provincies elected
Read More
S-9290
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azkia Ikrima; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ajeng Tias Endarti, Yuslely Usman
Abstrak: Gangguan mental emosional merupakan gangguan kesehatan yang terjadi di seluruh negara yang dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang dan dapat terjadi pada seluruh kalangan usia. Lansia merupakan salah satu kelompok usia berisiko terkena gangguan mental emosional sebagai akibat dari berkurangnya kemampuan fisik dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat ketidakmampuan fisik terhadap gangguan mental emosional yang dipengaruhi oleh variabel-variabel lainnya. Studi ini menggunakan desain cross-sectional. Subjek penelitian ini adalah seluruh lansia yang tercatat dalam Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat ketidakmampuan fisik terhadap gangguan mental emosional secara statistik (p = 0,000<0,05), dengan tingkat ketergantungan ringan (PR = 2,021, 95% CI (1,936-2,109)), ketergantungan sedang (PR = 3,189, 95% CI (2,818-3,610)), ketergantungan berat (PR = 3,350, 95% CI (2,920-3,843), dan ketergantungan total (PR = 2,770, 95% CI (2,419-3,173)) setelah dikontrol oleh variabel pendidikan dan jumlah riwayat penyakit kronis. Sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan tingkat ketidakmampuan fisik terhadap gangguan mental emosional baik setelah di kontrol oleh variabel pendidikan dan jumlah riwayat penyakit kronis.
Emotional mental disorders are health problems that occur in all countries that can affect a person's quality of life and can occur in all age groups. Elderly is one of the age groups at risk for mental-emotional disorders as a result of reduced physical ability to carry out daily activities. Therefore, this study aims to determine the relationship between the level of physical disability and emotional mental disorders that are influenced by other variables. This study used a cross-sectional design. The subjects of this study were all elderly people who were recorded in the 2018 Riset Kesehatan Dasar who met the inclusion criteria. The results showed that there was a statistically significant relationship between the level of physical disability and emotional mental disorders (p = 0.000 <0.05), with a mild degree of dependence (PR = 2.021, 95% CI (1.936-2.109)), moderate dependence (PR = 3.189, 95% CI (2.818-3.610)), severe dependence (PR = 3.350, 95% CI (2.920-3.843), and total dependence (PR = 2.770, 95% CI (2.419-3.173)) after being controlled by variable education and the number of history of chronic disease.So it can be concluded that there is a relationship between the level of physical disability with mental emotional disorders after being controlled by the education variable and the number of history of chronic disease.
Read More
T-6496
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizki Sri Haryanti; Pembimbing: Nurhayati Prihartono; Penguji: Yovsyah, Renti Mahkota, TTasripin, Tato Prido Kasih
Abstrak: Abstrak

Sebagian besar industri otomotif masih menggunakan thinner yang mengandung VOC (terdiri dari benzene, toluene, xylene dan lain-lain). Efek kesehatan dari VOC diantaranya adalah iritasi pada hidung dan tenggorokan dan serta kerusakan paru-paru (Ismail, 2011). Pajanan thinner kepada pekerja secara terus menerus dapat mengakibatkan iritasi saluran napas dan gangguan fungsi paru pada pekerja. Penelitian ini adalah penelitian cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pajanan thinner dengan gangguan fungsi paru-paru setelah dikontrol variabel confounding pada pekerja bagian painting di industri otomotif. Setelah dikontrol dengan penggunaan APD, perilaku merokok dan terpajan sedikit thinner dan zat kimia lain diketahui bahwa risiko pekerja yang terpajan sebagian thinner untuk mengalami gangguan fungsi paru adalah 1,87 (95% CI = 0,74-4,71). Pada pekerja yang terpajan thinner penuh memiliki resiko untuk mengalami gangguan fungsi paru sebesar 3,23 (95% CI = 1,36-7,59). Semakin besar pajanan terhadap thinner maka semakin tinggi resiko untuk terkena gangguan fungsi paru. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka disarankan agar perusahaan melakukan upaya promosi kesehatan untuk meminimalkan risiko terjadinya gangguan fungsi paru pada pekerja pengecatan mobil.


Most of the auto industry still use paint thinner containing VOCs (consisting of benzene, toluene, xylene, etc.). Health effects of VOCs include irritation of the nose and throat and impaired lung function (Ismail, 2011). Exposure paint thinner to workers continuously can cause respiratory irritation and lung function impairment in workers. This study is a cross-sectional study aimed to determine the relationship between exposure of thinner with impaired lung function after controlled confounding variable on painting workers in the automotive industry. After controlled by using mask variable, smoking behavior and exposure to a little thinner plus other chemicals, known that the risk for the paired exposed of thinner to suffer lung problems was 1.87 (95% CI = 0.74 to 4.71). In workers exposed to thinner at risk for developing impaired lung function of 3.23 (95% CI = 1.36 to 7.59). Greater and greater exposure to paint thinner, the risk for developing lung problems is higher. Based on the findings, it is recommended that companies conduct health promotion efforts to minimize the risk of impaired lung function in painting workers.

Read More
T-3807
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive