Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 24774 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Leny; Pembimbing: Nuning Maria Kiptiyah Masjkuri; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Evie Martha, Eulis Wulantari, Christina Widaningrum
Abstrak: Abstrak

Latar Belakang : Indonesia adalah negara peringkat ke-3 di dunia sebagai penyumbang penderita baru kusta terbanyak dengan jumlah penderita cacat tingkat-2 sejumlah 2.025 atau 10.11% (indikator < 5%). Kabupaten Bogor memiliki proporsi cacat kusta yang tinggi bahkan melebihi angka nasional yaitu 15.18 %. Beberapa studi menunjukkan hubungan bermakna antara perawatan diri dengan kecacatan pada penderita kusta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perawatan diri dengan kecacatan pada penderita kusta di Kabupaten Bogor tahun 2012 setelah dinkontrol oleh faktor-faktor lainnya.

Metode : Desain penelitian kasus kontrol. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita kusta tipe MB usia ≥ 15 tahun yang sudah menjalani minimal 8 bulan pengobatan MDT dan tercatat pada register puskesmas tahun 2012 di 10 kecamatan di Kabupaten Bogor. Kasus adalah sebagian dari populasi yang mengalami kecacatan baik tingkat-1 atau tingkat-2 pada saat penelitian dilakukan yang diambil dari puskesmas yang dipilih secara purposive sedangkan kontrol adalah sebagian dari populasi yang tidak mengalami kecacatan pada saat penelitian dilakukan yang diambil secara purposive dari puskesmas yang terpilih. Jumlah sampel 86 orang terdiri dari 43 kasus dan 43 kontrol. Analisis data dilakukan secara bivariat dan multivariat.

Hasil : Terdapat variabel interaksi antara perawatan diri dengan faktor lama sakit sehingga pada analisis multivariat diketahui bahwa penderita kusta yang melakukan perawatan diri dengan baik dan lama sakitnya < 2 tahun diperoleh OR=0.68 (95% CI: 0.12 ? 3.72). Penelitian ini memberikan hasil bahwa perawatan diri tidak berdiri sendiri dalam mempengaruhi kecacatan penderita kusta melainkan ada interaksi bersama antara perawatan diri dengan faktor lama sakit. Bahwa risiko kecacatan semakin besar pada penderita kusta yang kurang baik dalam merawat diri dan lama sakitnya ≥ 2 tahun dengan OR=10.6 (95% CI: 1.03 ? 109.86).


Background : Indonesia is ranked 3rd in the world as a contributor to the new leprosy patients with the highest number of people with disabilities level-2 or 2.025 (10.11%). Bogor district has a high proportion of deformed leprosy even exceed the national rate is 15.18%. Some studies show a significant relationship between self-care disability in patients with leprosy. This study aims to determine the relationship of self-care with a disability in leprosy patients in Bogor Regency in 2012 after control by other factors.

Methode : Case-control study design. Population in this research is the type of MB leprosy patients aged ≥ 15 years who had undergone at least 8 months of treatment MDT and recorded in the register in 2012 health centers in 10 districts in Bogor Regency. Case is part of the population who have disabilities either level-1 or level-2 at the time of the study were drawn from purposively selected health centers while the control is part of the population who do not have disabilities at the time of the study were taken from the clinic were purposively selected . Number of samples 86 people consisting of 43 cases and 43 controls. Data analysis was performed bivariate and multivariate

Result : There is a variable interaction between self-care with a long illness factor that in multivariate analysis known that leprosy patients who perform self-care and well long illness <2 years obtained OR = 0.68 (95% CI: 0:12 - 3.72). This study provides results that self-care does not stand alone in influencing disability lepers but no interaction with the factor of self-care with a long illness. That the greater the risk of disability in leprosy patients in poor self-care and pain ≥ 2 years old with OR = 10.6 (95% CI: 1.03 - 109.86).

Read More
T-3850
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
koran sindo
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Koran   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Medika, No.11, XXX, Nopember 2004, hal. 732-734. ( ket. ada di bendel 2004 no. 7-12)
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Segarnis Dhiasy Bidari; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Yoslien Sopamena, Arum Wiratri
Abstrak:
Latar belakang : Penyakit jantung koroner menyumbang sekitar 32% kematian global dan salah satu faktor resikonya adalah hiperkolesterolemia yang kini tidak lagi identik dengan usia lanjut namun sudah bergeser ke usia lebih muda termasuk usia produktif. Berdasarkan hasil analisis kesehatan pegawai dilokasi penelitian pada tahun 2025 sebanyak 39% pegawai mengalami tren kenaikan kadar kolesterol dan kolesterol tetap tinggi serta 44% lainnya mengalami tren kadar kolesterol fluktuatif dengan kecenderungan meningkat. Salah satu perilaku yang berkontribusi terhadap hipeekolesterolemia adalah perilaku konsumsi makanan tinggi lemak. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku konsumsi makanan tinggi lemak meliputi faktor predisposing, enabling, dan reinforcing sesuai kerangka model Lawrence Green pada pekerja di UPT Kementerian X di Provinsi Jawa Barat, Indonesia Tahun 2026. Metode : Penelitian kuantitatif crosssectional dilakukan terhadap seluruh pekerja menggunakan kuesioner, dengan jumlah responden yang berhasil terkumpul sebanyak 120 orang. Hasil : Dalam penelitian ini menunjukkan bahwa faktor yang terbukti signifikan berhubungan dengan perilaku konsumsi makanan tinggi lemak adalah kebiasaan makan (p=0,032; OR=2,673; 95%CI=1,071–6,668), ketersediaan makanan tinggi lemak (p=0,021; OR=2,976; 95%CI=1,166–7,598), keterbatasan waktu (p=0,027; OR=2,409; 95%CI=1,097–5,292), dan pengaruh rekan kerja (p=0,002; OR=3,681; 95%CI=1,558–8,698). Kesimpulan : Perilaku konsumsi makanan tinggi lemak pada pekerja dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang menunjukkan bahwa perilaku makan pekerja bukan semata-mata tanggung jawab individu saja, namun juga dipengaruhi oleh lingkungan dan sosial yang ada di tempat kerja. Oleh karena itu, upaya perbaikan perilaku konsumsi makan sehat perlu dilakukan secara komprehensif melalui sinergi dan kolaborasi antar pekerja maupun instansi tempat kerja agar tercipta budaya makan sehat yang dapat dipertahankan secara berkelanjutan.

Background: Coronary heart disease accounts of approximately 32% of global deaths, and hypercholesterolemia is one of its major risk factors. Currenly, no longer limited to older adults but has increasingly affect younger including of working age population.Based on employee health screening data in 2025, 39% of workers presistenly high and increasing cholesterol level, while 44% showed fluctuating cholesterol levels with upward trend. One of behaviors that contributes to hypercholesterolemia is the consumption of high-fat food. Objective: This study aimed to identify the determinans of consumtion of food high in fat including predisposing, enabling, and reinforcing factors base on Lawrence Green Model among worker at Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian X in West Jawa Province, Indonesia in 2026. Methods: A quantitative cross-sectional study was conducted among all workers using a self administered questionnaire. Data were successfully collected from 120 respondents. Results: The study found that several factors were significantly associated with the consumtion of food high in fat, such as eating habits (p = 0.032; OR = 2.673; 95% CI = 1.071–6.668), availability of high-fat foods (p = 0.021; OR = 2.976; 95% CI = 1.166–7.598), time constraints (p = 0.027; OR = 2.409; 95% CI = 1.097–5.292), and coworker influence (p = 0.002; OR = 3.681; 95% CI = 1.558–8.698). Conclusion: The consumption of foods high in fat among workers is influenced by multiple determinant, indicating that workers eating behavior are not individual responsibility but are also shaped by workplace environmental and social factors. Therefore, effort to promote healtier eating behaviors should adopt comprehensive approach through collaboration between workers and the workplace institution to establish a sustainable healthy weating culture.
Read More
S-12299
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Binti Khofifa; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: R. Sutiawa, Syswanda
S-8260
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rachmalina S. Prasodjo, Sunanti Z. Soejoeti
MPPK Vol.IX, No.3
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 1999
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Fitria; Pembimbing: Ronnie Rivany; Penguji: Budi Hidayat, Nurlaela Lestari
S-6594
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maryuni; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Dumilah Ayuningtya, Evi Martha, Flourisa J. Sudrajat, Hasnerita, Hartono
T-4201
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulita Suprihatin; Pembimbing: Adik Wibowo
S-1076
Depok : FKM UI, 1997
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuthia Deni; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Helda, Hendri Putra, Regina Tiolina Sidjabat
Abstrak:
Kusta dapat menyebabkan kecacatan permanen dan mempengaruhi aspek sosial serta ekonomi penderita. Di Kota Pariaman, persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dukungan sosial yang diterima penderita kusta selama pengobatan berdasarkan Social Support Theory for Health, menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri dari delapan penderita kusta, tujuh petugas Puskesmas, seorang pemegang program kusta di Dinas Kesehatan, dan delapan anggota keluarga penderita. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion pada bulan Maret-April 2024 dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan semua penderita kusta menjalani pengobatan selama 12 bulan. Mayoritas penderita konsisten dalam pengobatan meskipun menghadapi efek samping dan motivasi yang rendah. Semua penderita menerima dukungan sosial berupa dukungan emosional, instrumental, informasi, penghargaan, dan jaringan sosial, baik dari keluarga, petugas Puskesmas dan pengelola program kusta Dinas Kesehatan Kota Pariaman. Dukungan emosional meningkatkan motivasi penderita, sementara dukungan instrumental dari keluarga seperti bantuan finansial berperan dalam memfasilitasi proses pengobatan. Puskesmas dan Dinas Kesehatan memberikan dukungan melalui penyuluhan tentang kusta dan deteksi dini ketika melakukan kunjungan rumah dan pengantaran obat. Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan materi kepada penderita. Penelitian ini juga menemukan bahwa penderita tetap aktif dalam kegiatan sosial meskipun cenderung menyembunyikan kondisinya. Untuk itu, Kota Pariaman dapat membentuk komunitas khusus bagi penderita kusta sebagai upaya membangun jaringan dukungan yang lebih terstruktur dan menjadi forum pertukaran informasi dan sumber dukungan bagi penderita.

Leprosy can cause permanent disabilities and affect the social and economic aspects of the patients' lives. In the city of Pariaman, the percentage of leprosy patients completing their treatment has decreased in recent years. This study aims to analyze the forms of social support received by leprosy patients during treatment based on the Social Support Theory for Health, using a qualitative method with a case study design. The research informants consisted of eight leprosy patients, seven public health center officers, one leprosy program officer at the Health Office, and eight family members of the patients. Data were collected through in-depth interviews and Focus Group Discussions conducted in March-April 2024 and analyzed thematically. The results of the study showed that all leprosy patients underwent treatment for 12 months. The majority of patients remained consistent in their treatment despite facing side effects and low motivation. All patients received social support in the form of emotional, instrumental, informational, appraisal, and social network support from family, Puskesmas staff, and the leprosy program managers at the Pariaman Health Office. Emotional support helped increase the patients' motivation, while instrumental support from family, such as financial assistance, facilitated the treatment process. The Puskesmas and Health Office provided support through leprosy education and early detection during home visits and medication deliveries. The Health Office also coordinated with the Social Service to provide material assistance to the patients. The study also found that patients remained active in social activities, although they tended to hide their condition. Therefore, it is recommended that the city of Pariaman establish a special community for leprosy patients as an effort to build a more structured support network and become a forum for information exchange and support for the patients.
Read More
T-6986
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive