Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34080 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Sarip Usman; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Dewi Susana, Toni Wandra, Sujono
Abstrak:

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit virus akut, mudah menular melalui perantaraan nyamuk Aedes aegepti. Penyakit ini dapat menimbulkan kematian dalam waktu yang relatif singkat, belum ada obat maupun vaksin. Penyakit ini juga telah menyebar tidak hanya di perkotaan saja namun merambah ke daerah pedesaan, karena vektornya (Aides aegypli) tersebar luas di kawasan pemukiman atau di tempat-tempat urn urn. DBD merupakan salah satu penyakit endemis yang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia meskipun sudah dapat ditekan, namun insidennya masih cukup tinggi, yaitu 3,6% (tahun l990) menjadi 2,0% (tahun 1999). CFR 3,2 % (tahun 1994) menjadi 1,4 % (tahun 2000). Namun demikian daerah yang terjangkit terus bertambah dari 201 Dati II (tahun 1998) menjadi 225 Dati II (tahun 2000). Oleh karena itu penyakit DBD ini harus terus diwaspadai dan dipantau terus menerus. Dengan demikian penelitian kearah mencari faktor karakteristik dan kebersihan lingkungan fisik rumah yang berhubungan dengan kejadian DBD menjadi dasar penelitian ini dilakukan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi frekuensi, hubungan dan mencari model faktor karakteristik dan kebersihan lingkungan fisik rumah dengan kejadian DBD yang dilakukan di Kota Bandar Lampung dengan rancangan kasus-kontrol dengan metoda population based, kasus diambil dari regristrasi 5 (lima) Rumah Sakit Umum yang ada di Bandar Lampung sedangkan kontrol diambil dari tetangga terdekat kasus dengan jumlah sampel 56 kasus dan 112 kontrol (1:2) dengan rentang waktu dari bulan Januari 2002 s/d Mei 2002.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 9 (sembilan) variabel yang diuji dengan uji bivariat ada enam variabel yang mempunyai hubungan bermakna ( <0,05) dan iiga variabel mempunyai nilai p nya > 0,05.Dari hasil uji multivariat dan uji interaksi diperoleh model dan dari model tersebut, faktor umur merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian DBD di Kota Bandar Lampung dengan OR .= 18,48 (Cl: 6,51-52,47) dan p value 0,000,Aplikasi dari penanganan program pemberantasan penyakit ini, tidak terlepas dari berbagai kebijakan dari sektor lain, sehingga upaya pemecahannya harus secara strategic melibatkan sektor terkait. Kerjasama lintas sektor dalam pemberantasan penyakit menular dan penyehatan lingkungan akan meneptukan keburhasilan program ini. Upaya-upaya kerja sama lintas sektor seperti Gerakan 3 M,dan lain-lain perlu ditingkatkan dan dilanjutkan. Pelaksanaan hukum, advokasi, sosialisasi serta adanya kesepakatan dalam pemberantasan penyakit menular dan kesehatan lingkungan perlu ditingkatkan dan dikembangkan lagi.Daftar Bacaan: 35 (1960-2002)


 

Risk Factor Relating to Dengue Haemorhogic Fever (DHF) Incident in Bandar Lampung 2002Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) is acute virus disease, easly communicable and transmitted by Aedes aegypti mosquito. Di-IF can be causation mortality in short time drug or vacsin find not yet. It transmitted in cities, but now had transmited to districs. Because vectors in everywhere as buildings or in public places. DHF is one of endemic disease and still health problem in Indonesia, although it could be pressed but incidence still high enough is 3.6 % (1990) to 2.0 % (1999th). Case Fatality Rate (CFR) from 3.2%(1994`') to 1.4% in 2000th. But the distric endemic is increase, from 201 districs (1988th) become 225 districs in 2000`''. Because of that DHF disease must to be monitor everywhere and time.This study proposed to find out the frequency distribution, relation ship and look for characteristic and house phisic environmental Health factors model relation to Di-IF incidence in Bandar Lampung city 2002 and used Case Control study design. Cases take from 5 Hospital regristration in Bandar lampung City and control take from neighbour cases with 56 samples and 112 controls (1:2) in January 2002 - Mci 2002.The result of study, with Chi square Test from 9 variables in relation to DI-IF find out 6 variables related significant (p value <0,05) and 3 variables isn't significant (p value > 0,05) related to DHF incident.The result model from multivariate and interaction test, find out that highest dominan factor relation to Dl-IF incidence in Bandar Lampung city is age factor.Aplication for Communicable Disease Control Programs depend on the other sectors wisdom and to solve this problem must be strategic to involve the other sectors. Coordination between sectors in communicable disease control and environmental health very important for succesfully this program, for example as " Gerakan 3 M " and "Pekan Sanitasi" action. The Law, advocation, socialization and same goal in communicable disease control and environmental health must he increase and to develop again.Refeuvnce: 35 (1960 - 2002)

Read More
T-1271
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Joko Warsito; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Sussana, Muhadi
S-5690
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khalisa Zahra Khairunnisa; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Aria Kusuma
Abstrak: Latar Belakang: Demam Berdarah Dengua (DBD) adalah infeksi virus yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Vektor utama yang menularkan virus Dengue adalah Aedes aegypti, dan Aedes albopictus. Kota dengan jumlah kejadian DBD tertinggi di Indonesia pada tahun 2021 adalah Kota Depok sebesar 3.155 kasus dengan angka Incidence Rate (IR) 151,2 kasus per 100.000 penduduk. Selama 10 tahun terakhir sejak tahun 2012-2020, trend kasus DBD di Kota Depok cenderung meningkat. Tujuan: Mengetahui hubungan antara faktor iklim dan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD di Kota Depok tahun 2012-2021. Metode: Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan analisis korelasi untuk melihat hubungan antara faktor iklim (suhu, kelembaban, dan curah hujan) pada bulan yang sama (non-time lag), faktor iklim dengan jeda 1 bulan (time lag 1), dan kepadatan penduduk dengan Incidence Rate DBD. Hasil: Hasil analisis korelasi menujukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kelembaban non time lag dan kelembaban time lag 1 dengan Incidence Rate DBD (p=0,000 dan p=0,000) dengan kekuatan hubungan sedang berpola positif (r=0,332 dan r-0,451). Hasil uji regresi linear ganda menghasilkan bentuk model prediksi dengan persamaan IR DBD = -47.353 + 0.784 (Suhu) + 0.394 (Kelembapan) + 0.023 (Curah Hujan). Berdasarkan hasil persamaan regresi, jika disimulasikan dengan kombinasi suhu 26,1 oC, kelembaban 82,9%, dan curah hujan 14,9 mm, maka akan terjadi peningkatan IR DBD sebanyak 10 kasus per 100.000 penduduk.
Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a viral infection transmitted to humans through the bite of an infected mosquito. The main vectors that transmit the dengue virus are Aedes aegypti and Aedes albopictus. The city with the highest number of dengue cases in Indonesia in 2021 is Depok City with 3,155 cases with an Incidence Rate (IR) of 151.2 cases per 100,000 population. During the last 10 years from 2012-2020, the trend of dengue cases in Depok City tends to increase. Objective: To determine the relationship between climatic factors and population density with the incidence of DHF in Depok City in 2012-2021. Methods: This study uses an ecological study with correlation analysis to see the relationship between climatic factors (temperature, humidity, and rainfall) in the same month (non-time lag), climatic factors with a 1-month lag (time lag 1), and density population with DHF Incidence Rate. Results: The correlation analysis results showed a significant relationship between non-time lag humidity and time lag 1 humidity with DHF Incidence Rate (p = 0.000 and p = 0.000) with the strength of the relationship being positive (r = 0.332 and r-0.451). The results of the multiple linear regression test produce a predictive model with the equation IR DBD = -47.353 + 0.784 (Temperature) + 0.394 (Relative Humidity) + 0.023 (Rainfall). Based on the results of the regression equation, if it is simulated with a combination of the temperature of 26,1oC, humidity of 82.9%, and rainfall of 14.9 mm, there will be an increase in IR of DHF by 10 cases per 100,000 population.
Read More
S-11054
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Afifah Azharadipta; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Laila Fitria, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

Latar Belakang : Kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga saat ini masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama pada daerah perkotaan seperti Kota Administrasi Jakarta Barat. Variabel iklim berupa suhu udara, tingkat kelembaban, serta curah hujan diketahui berhubungan dengan perubahan jumlah kasus DBD karena faktor-faktor tersebut memengaruhi pertumbuhan dan aktivitas nyamuk Aedes spp. sebagai vektor penular penyakit. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara faktor iklim yang mencakup suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Administrasi Jakarta Barat selama periode 2016–2025. Metode : Dalam kajian ini digunakan metode kuantitatif dengan rancangan ekologi time series untuk menganalisis data penelitian. Data yang dipakai merupakan data sekunder berupa jumlah kejadian DBD yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, sedangkan data terkait iklim seperti suhu udara, kelembaban udara, serta curah hujan bersumber dari NASA POWER. Teknik analisis yang diterapkan meliputi analisis univariat serta bivariat, dengan pengujian korelasi menggunakan Pearson atau Spearman berdasarkan hasil uji normalitas masing-masing variabel. Hasil : Temuan kajian ini memperlihatkan jika keterkaitan antara faktor iklim berupa suhu udara serta kelembaban udara terhadap kejadian DBD lebih dominan pada Lag 1 dibandingkan Lag 2. Hubungan negatif yang signifikan ditemukan pada tahun 2021 serta 2023. Di sisi lain, faktor iklim curah hujan memperlihatkan hubungan yang lebih kuat pada Lag 2 daripada Lag 1.


Background: Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) remains one of the major public  health problems in Indonesia, particularly in urban areas such as the Administrative  City of West Jakarta. Climate variables, including air temperature, humidity levels,  and rainfall, are known to be associated with changes in the number of DHF cases  because these factors influence the growth and activity of Aedes spp. mosquitoes  as disease vectors. This study was conducted to determine the relationship between  climate factors, namely air temperature, air humidity, and rainfall, and the incidence  of Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in the Administrative City of West Jakarta  during the 2016–2025 period. Methods: This study employed a quantitative method  with a time-series ecological design to analyze the research data. The data used  were secondary data consisting of the number of DHF cases obtained from the DKI  Jakarta Provincial Health Office, while climate-related data such as air temperature,  air humidity, and rainfall were sourced from NASA POWER. The analytical  techniques applied included univariate and bivariate analyses, with correlation  testing using Pearson or Spearman methods based on the normality test results of  each variable.Results: The findings of this study indicate that the relationship  between climate factors, specifically air temperature and air humidity, and DHF  incidence was stronger at Lag 1 compared to Lag 2. Significant negative  relationships were identified in 2021 and 2023. Meanwhile, the climate factor of  rainfall demonstrated a stronger relationship at Lag 2 than at Lag 1.

Read More
S-12247
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wibowo Ady Sapta; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Haryoto Kusnoputranto, Suherman, Sujono
T-1287
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zaeri; Pembimbing: Zarfiel Tafal, Anwar Hassan; Penguji: Toni Wandra, Atang Saputra
Abstrak:

Keberadaan Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia yang sudah hampir setengah abad yang lalu sejak pertama kali di temukan kasusnya di Surabaya pada tahun 1968 belum dapat di berantas secara tuntas dari bumi Indonesia, bahkan jumlah kasus cenderung meningkat setiap tahunnya. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat membunuh / membasmi virus demam berdarah sehingga cara yang paling tepat dan efektif adalah dengan cara memotong mata rantai penularan dengan membasmi nyamuk Aedes-nya, dan cara yang paling tepat guna adalah dengan membasmi jentik / larva yang ada di tempat perkembangbiakannya yang sudah di kenal dengan program Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD) dengan cara 3M. Dari kondisi tersebut dapat di ketahui bahwa peran serta masyarakat yaitu perilaku masyarakat terutama perilaku hidup bersih dan sehat dari masyarakat termasuk kebersihan lingkungan pada umumnya mempunyai kontribusi yang cukup besar di dalam keberhasilan pemberantasan DBD. Penelitian ini ingin mengetahui perilaku masyarakat terutama faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan non eksperimen sedangkan pengumpulan data di lakukan secara Cross Sectional (potong lintang). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh rumah yang ada pada 4 kelurahan yang paling endemis di Kecamatan Kedaton Kota Bandar Lampung yaitu: (Kedaton, Perum Way Halim, Labuhan Ratu, dan Sepang Jaya), pengambilan sampel di lakukan pada 400 kepala keluarga dengan cara Systematic Random Sampling, sedangkan metode pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian di ketahui bahwa sebanyak 57 % responden mempunyai perilaku baik dalam pencegahan DBD, dan sebanyak 43 % responden mempunyai perilaku kurang baik dalam pencegahan DBD. Hasil analisis bivariat menggunakan uji statistik Chi Square di dapatkan kelima variabel independen (pendidikan, pengetahuan, sikap, ekonomi, dan keterpaparan informasi / penyuluhan) masing-masing menghasilkan p-value < 0,05 artinya ada hubungan yang bermakna antara tingkat pendidikan formal, pengetahuan, sikap, ekonomi, dan keterpaparan informasi / penyuluhan dengan perilaku masyarakat dalam pencegahan DBD. Sedangkan pada analisis multivariat menggunakan analisis regresi logistik ganda model prediksi di ketahui bahwa variabel yang paling besar pengaruhnya / paling dominan terhadap perilaku masyarakat terhadap pencegahan DBD adalah variabel pengetahuan, di dapatkan Odd Ratio (OR) dari variabel pengetahuan adalah 7,667 artinya responden yang memiliki pengetahuan yang baik tentang PSN-DBD mempunyai peluang melakukan pencegahan DBD sebesar 7,667 kali lebih tinggi di banding yang mempunyai pengetahuan rendah / kurang setelah dikontrol variabel pendidikan, sikap, status ekonomi dan keterpaparan. Perilaku masyarakat di ketahui memiliki kontribusi yang cukup besar di dalam pemberantasan DBD, dari penelitian ini diketahui bahwa faktor pengetahuan responden tentang pencegahan dan pemberantasan DBD merupakan faktor yang paling dominan untuk terjadinya perilaku pencegahan dan pemberantasan DBD. Perlu di pikirkan bentuk sosialisasi yang lebih efektif agar pengetahuan tentang pencegahan dan pemberantasan DBD dapat di miliki secara merata pada seluruh lapisan masyarakat, dengan demikian masyarakat akan lebih mudah di dalam melakukan pencegahan DBD / perilaku pencegahan ke arah yang lebih baik.


In Indonesia, Dengue Fever (DF) has been acknowledged in almost half a century as its first case was found at Surabaya in 1968. Since then, the disease cannot be completely eradicated and the cases are more likely to increase from year to year. Until now, there is no cure that be able to kill or destroy the dengue virus. Therefore, the effective way on dealing with the disease is to detach the chain of transmission by eradicating the Aedes mosquitoes. And the most proper way to eliminate the mosquitoes is by terminating its larva at its breedingplaces, which is known by a program called Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD) with 3M or the Dengue's Mosquito Breedingplace Eradications Program (DM-BEP). To meet the condition, community participation has played an important role, especially the community behavior on healthy and clean life in keeping a healthy environment. This, in general, will contribute to a successful program of Dengue eradication. The study has an aim on describing the community behavior for factors that related to the dengue prevention behavior at Kedaton Sub-district of Kota Bandar Lampung. The study is a quantitative research with a non-experiment design, and data is gathered by a cross-sectional approach. The population is all household at 4 most endemic villages (kelurahan) at Kedaton Sub-district, namely: Kedaton, Perum Way Halim, Labuhan Ratu, and Sepang Jaya. Method of sampling is using a systematic random sampling, and 400 household has drawn. Data is collected by using questionnaire. The result of the study found that there are 57% of respondents have a good behavior in term of dengue fever prevention. From bivariate analysis, with Chi Square Test, showed that five variables, namely: formal education level, knowledge, attitude, level of economic, and IEC exposures, have a p-value less than 0.05. This indicates that those variables have a significant relationship with the community behavior on the prevention of the disease. While its multivariate analysis, with a double logistic regression, found that the most dominant variable at the prediction model for community behavior on the dengue prevention is knowledge, with an OR in 7.667. This means that respondents who have a good knowledge on DM-BEP will have a probability 7.667 times to do the dengue prevention, compare to those who have low or less knowledge on DM-BEP. The value of OR is resulted after the variable is controlled with variables of education, attitude, economic status, and exposures. To conclude, community behaviors have a great contribution on the effort of eradicating the DF, and the study found that factor of respondent?s knowledge on DMBEP is the most dominant factors on creating the behavior on preventing and eradicating the DF. It is suggested that there is a need on constructing an effective form of socialization in order to raise the awareness and increase the community knowledge on DM-BEP in all level, in such that the community will easily applying the way to prevent the disease, as well as having a better prevention behavior.

Read More
T-2789
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfiano Fawwaz Lokopessy; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto; Penguji: Suyud Warno Utomo, Sri Indarini
Abstrak: Target nasional pencapaian angka insiden atau incidence rate (IR) Demam Berdarah Dengue (DBD) yaitu < 49 kasus per 100.000 penduduk di suatu wilayah. DKI Jakarta pada tahun 2018 berhasil mencapai target pada 100% kota/kabupatennya, dan Kota Administrasi Jakarta Pusat adalah kota yang mencapai target capaian IR paling kecil pada tahun 2018 dibandingkan dengan kota/kabupaten Jakarta lainnya. Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis faktor risiko dan pengendalian yang berpotensi mempengaruhi IR DBD di Kota Administrasi Jakarta Pusat. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan data sekunder yang diperoleh dari Sudinkes dan Sudin Dukcapil Kota Administrasi Jakarta Pusat serta BMKG menggunakan data dari satelit Kemayoran. Data yang diteliti meliputi angka insiden, pelaksanaan sarang nyamuk, angka bebas jentik, larvasidasi, kepadatan penduduk, suhu udara, kelembapan relatif, serta indeks curah hujan (ICH) setempat tahun 2015-2019. Selain analisis univariat, dilakukan analisis bivariat menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment dan Spearman. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang tidak signifikan antara variabel independen dan variabel dependen angka insiden DBD. Ini menunjukkan ada peluang terdapat signifikansi hubungan lebih besar pada faktor risiko atau pengendalian lainnya yang tidak termasuk dalam penelitian ini.
Kata kunci: faktor risiko, faktor pengendalian, angka insiden, dengue, Jakarta Pusat

The focus of this study is to analyse the risk and control factors affecting Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) incidence rates in Central Jakarta in 2015-2019. The purpose of this study is to understand how risk and control factors of DHF may affect the incidence rates in Central Jakarta in reaching the lowest number which could be learnt by other cities in Indonesia, especially those with the same social and environmental characteristics. The data of variables collected were analysed using Pearson Product Moment and Spearman correlation test. Results are showing insignificant relations. The researcher suggests a further study with a more comprehensive variables and data.
Key words: risk factors, control factors, incidence rate, dengue, Central Jakarta
Read More
S-10251
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Alicia; Pembimbing: Rachmadhi Purwana; Penguji: Dewi Susanna, Rahmawati
S-6393
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sukisworo; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari
S-2958
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurul Fathiya Rizqina; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Hartono, Aria Kusuma
Abstrak:
Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia menunjukkan pola fluktuatif dan cenderung meningkat setiap tiga tahun. Kota Depok menduduki peringkat 2 kasus DBD tertinggi Jawa Barat. Faktor lingkungan seperti iklim, kepadatan vektor, dan kepadatan penduduk diduga berperan dalam penyebaran penyakit ini. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi secara spasial keterkaitan antara faktor lingkungan yaitu suhu, curah hujan, kelembaban, ABJ, HI dan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD di tiap kecamatan di Kota Depok pada tahun 2022-2024. Penelitian ini merupakan studi ekologi dengan pendekatan spasial. Data sekunder diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Depok, BPS Kota Depok, dan NASA. Analisis spasial dilakukan menggunakan QGIS dan GeoDa untuk menghitung autokorelasi spasial (Moran’s I dan LISA). Hasil dari pemetaan menunjukkan peningkatan kasus DBD signifikan pada tahun 2024. Hasil analisis LISA menunjukkan terdapat pengelompokan spasial antara iklim, vektor, dan kepadatan penduduk dengan kejadian DBD di beberapa wilayah kecamatan. Dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa wilayah yang harus diprioritaskan melakukan pengendalian penyakit.


Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) in Indonesia shows a fluctuating pattern and tends to increase every three years. Depok City ranked second in terms of the highest number of DHF cases in West Java. Environmental factors such as climate, vector density, and population density were suspected to play a role in the spread of this disease. This study aimed to spatially identify the association between environmental factors (temperature, rainfall, humidity, House Index [HI], Larvae Free Index [ABJ], and population density) and DHF incidence in each sub-district of Depok City from 2022 to 2024. This study employed an ecological design with a spatial approach. Secondary data were obtained from the Depok City Health Office, the Depok City Statistics Agency, and NASA. Spatial analysis was conducted using QGIS and GeoDa to calculate spatial autocorrelation (Moran's I and LISA). The mapping results showed a significant increase in DHF cases in 2024. LISA analysis indicated spatial clustering among climate factors, vector indices, population density, and DHF incidence in several sub-districts. It was concluded that there were specific areas that should be prioritized for disease control interventions.
Read More
S-12042
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive