Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40955 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
I.A. Dwi Astuti Minaka, A.A. Sagung Sawitri, D.N. Wirawan
PHPMA-Vol.4/No.1
Denpasar : Universitas Udayana, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
I Ketut Winasa; Pembimbing: Haryoto Kusnoputranto
S-300
Depok : FKM UI, 1986
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Basuki Didik Setiawan; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri
S-3296
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Euis Purwanisari; Pembimbing: Ridwan Z. Sjaaf; Penguji: Dadan Erwandi, Iwan Suwarsa
S-4463
Depok : FKM UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irnawati Marsaulina, Arlinda Sari Wahyuni
MPPK Vol.XVII, No.1
Jakarta : Balitbangkes Kemenkes RI, 2007
Indeks Artikel Jurnal-Majalah   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Asyifa Nurlida; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Purwitasari Aquarini Prehnansy
Abstrak:

Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan salah satu aspek penting dalam upaya pencegahan dan pengendalian infeksi yang dapat terjadi di rumah sakit yaitu untuk mencegah bahaya infeksi nosokomial atau HAIs (Hospital Acquired Infections) khususnya pada petugas laundry rumah sakit yang melakukan pengelolaan linen dan berkontak langsung dengan sumber penyebab infeksi yaitu linen infeksius. Kejadian HAIs di Indonesia mencapai angka prevalensi tertinggi se Asia Tenggara yaitu sebesar 30,4% pada tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan dan sikapdengan perilaku penggunaan alat pelindung diri (APD) pada petugas laundry dalam pengelolaan linen di Rumah Sakit Kota Pontianak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sumber data penelitian ini yaitu data primer menggunakan kuesioner. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2024 di Rumah Sakit yang ada di Kota Pontianak. Sampel dalam penelitian ini merupakan petugas laundry yang ada di Rumah Sakit Kota Pontianak berjumlah 51 orang dengan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar petugas laundry yang memiliki rerata nilai pengetahuan cenderung rendah yaitu sebesar 5,73 dan rerata nilai sikap yang tinggi yaitu sebesar 9,25. Secara statistik didapatkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan (p value = 0,122) dan sikap (p value = 0,402)  dengan perilaku penggunaan APD pada petugas laundry. Disarankan agar pihak rumah sakit lebih memperhatikan dan berperan dalam meningkatkan pengetahuan petugas laundry melalui pelatihan ataupun edukasi yang lebih merata, memfasilitasi APD lengkap dan pengawasan di Unit Laundry serta perlu adanya peran dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat ataupun Dinas Kesehatan Kota Pontianak untuk meningkatkan pengawasan serta kompetensi petugas laundry yang ada di Rumah Sakit Kota Pontianak. Kata Kunci: Pengetahuan, Sikap, Perilaku, Petugas Laundry, Rumah Sakit.


The use of Personal Protective Equipment (PPE) is an important aspect in efforts to prevent and control infections that can occur in hospitals, namely to prevent the dangers of nosocomial infections or HAIs (Hospital Acquired Infections), especially for hospital laundry officers who manage linen and have direct contact with sources of infection, namely infectious linen. The incidence of HAIs in Indonesia reached the highest prevalence rate in Southeast Asia, namely 30.4% in 2022. This study aims to determine the relationship between knowledge and attitudes with the behavior of using personal protective equipment (PPE) in laundry officers in linen management at Pontianak City Hospital. This study uses a quantitative approach with a cross-sectional study design. The data source for this study is primary data using a questionnaire. This study was conducted in July-August 2024 at a Hospital in Pontianak City. The sample in this study was 51 laundry officers at Pontianak City Hospital using a total sampling technique. The results of the study showed that most laundry officers had a low average knowledge score of 5.73 and a high average attitude score of 9.25. Statistically, it was found that there was no significant relationship between knowledge (p value = 0.122) and attitude (p value = 0.402) with the behavior of using PPE in laundry officers. It is recommended that the hospital pay more attention and play a role in improving the knowledge of laundry officers through more even training or education, facilitating complete PPE and supervision in the Laundry Unit and there needs to be a role from the West Kalimantan Provincial Health Office or the Pontianak City Health Office to improve supervision and competence of laundry officers at the Pontianak City Hospital. Keywords: Knowledge, Attitude, Behavior, Laundry Staff, Hospital

Read More
S-11807
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Enita Fransiska Br Tamba; Pembuimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Dwi Gayatri, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Tenaga kesehatan di lingkungan rumah sakit menghadapi risiko paparan biologis, kimia, dan fisik yang signifikan. Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) merupakan upaya fundamental dalam memutus rantai penularan infeksi dan melindungi tenaga kesehatan. Akan tetapi, kepatuhan penggunaan APD tidak semata-mata ditentukan oleh pengetahuan individu, melainkan sangat dipengaruhi oleh budaya keselamatan organisasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara 11 dimensi budaya keselamatan terintegrasi yang diukur menggunakan instrumen Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) dengan persepsi penggunaan APD pada tenaga kesehatan di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI). Penelitian ini menggunakan desain studi analitik cross-sectional dengan data sekunder hasil survei ISCHA tahun 2025. Populasi penelitian adalah seluruh tenaga kesehatan RSUI (N=1.206), dengan sampel sebesar 503 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data dilakukan menggunakan uji Fisher's Exact Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya keselamatan terintegrasi di RSUI secara keseluruhan telah mencapai Level 5–Progressive dengan capaian 95,99%. Sebanyak 499 responden (99,2%) memiliki persepsi positif terhadap penggunaan APD. Dari 11 dimensi yang dianalisis, terdapat 4 dimensi yang terbukti berhubungan dengan persepsi penggunaan APD, yaitu dukungan manajemen terhadap keselamatan pasien (OR=13,257; 95% CI 1,812–96,968), pembelajaran organisasi dan peningkatan berkelanjutan (OR=15,633; 95% CI 2,128–114,872), respons yang tidak menghukum terhadap kesalahan (OR=13,820; 95% CI 1,421–134,408), dan pengembangan kapasitas (pelatihan) budaya keselamatan (OR=19,792; 95% CI 2,672–146,593), sementara 7 dimensi lainnya tidak menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun budaya keselamatan RSUI secara umum sudah sangat baik, penguatan pada aspek dukungan manajemen, pembelajaran organisasi, sistem respons terhadap kesalahan, serta pelatihan dan pengembangan kapasitas merupakan strategi prioritas yang dapat dilakukan RSUI untuk meningkatkan persepsi dan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penggunaan APD di lingkungan rumah sakit

Healthcare workers in hospital settings face significant risks of biological, chemical, and physical exposure. The use of Personal Protective Equipment (PPE) is a fundamental measure in breaking the chain of infection transmission and protecting healthcare workers. However, PPE compliance is not solely determined by individual knowledge; it is greatly influenced by the organizational safety culture. This study aims to analyze the relationship between 11 integrated safety culture dimensions, measured using the Integrated Safety Culture in Hospitals Assessment (ISCHA) instrument, and the perception of PPE use among healthcare workers at the University of Indonesia Hospital (RSUI). This study employed a cross-sectional analytical design using secondary data from the 2025 ISCHA survey. The study population comprised all healthcare workers at RSUI (N=1,206), with a sample of 503 respondents who met the inclusion criteria. Data analysis was conducted using Fisher's Exact Test. The results indicated that the integrated safety culture at RSUI has overall achieved Level 5–Progressive, with an attainment rate of 95.99%. A total of 499 respondents (99.2%) had a positive perception of PPE use. Of the 11 dimensions analyzed, 4 were found to have a significant relationship with the perception of PPE use: management support for patient safety (OR=13.257; 95% CI 1.812–96.968), organizational learning and continuous improvement (OR=15.633; 95% CI 2.128–114.872), non-punitive response to error (OR=13.820; 95% CI 1.421–134.408), and capacity development (training) of safety culture (OR=19.792; 95% CI 2.672–146.593), while the remaining 7 dimensions did not show statistically significant relationships. This study concludes that although RSUI's overall safety culture is already strong, strengthening management support, organizational learning mechanisms, non-punitive error-response systems, and capacity-building training represents a priority strategy for improving healthcare workers' perception and compliance with PPE use in hospital settings.
Read More
S-12475
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutiara Ika Sofia; Pembimbing: Laila Fitri; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Pekerja industri sepatu informal berisiko terhadap dampak kesehatan akibat pajanan benzena yang terdapat dalam lem sepatu. Penelitian ini betujuan mendeskripsikan hubungan antara lama bekerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD dengan jumlah leukosit dan eritrosit pada pekerja industri sepatu informal di Kecamatan Ciomas. Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan responden sebanyak 259 pekerja. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara lama bekerja, jenis pekerjaan, dan penggunaan APD dengan jumlah leukosit dan eritrosit dalam darah pada pekerja industri sepatu informal di Kecamatan Ciomas. Namun terdapat perbedaan risiko pada kelompok pekerja yang dibagi berdasarkan variabel independen terhadap variabel dependen. Kata kunci: pekerja industri sepatu informal, pajanan benzena, lama bekerja, jenis pekerjaan, penggunaan APD, jumlah leukosit, jumlah eritrosit Shoe industry workers are at risk for the health effects of exposure to benzene that is contained in shoe glue. This study aims to describe the relationship between length of work, type of work, and the use of PPE with leukocytes count and erythrocytes count in the informal shoe industry workers in Sub-District Ciomas. This study uses secondary data with respondents as many as 259 workers. The results of this study indicate that there is no significant relationship between length of work, type of work, and the use of PPE with leukocytes count and erythrocytes count in the informal shoe industry workers in Sub-District Ciomas. However, there are risk differences in the groups of workers towards dependent variables. Keywords: informal shoe industry workers, benzene exposure, length of work, type of work, the use of PPE, leukocytes count, erythrocytes count
Read More
S-9165
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adri Ruliansyah; Pembimbing: Suharnyoto Martomulyono
S-3261
Depok : FKM UI, 2003
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhamad Idham; Pembimbing: Tata Soemitra
T-2052
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive