Ditemukan 30282 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Nandini Parahita Supraba, N.P. Widarini, Luh Seri Ani
PHPMA-Vol.4/No.2
Denpasar : Universitas Udayana, 2016
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Irnawati; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Evi Martha, Wira Hartiti, Fathiyan Rizki
Abstrak:
Di berbagai negara, proporsi penduduk mencapai lanjut usia (lansia) meningkat dan menjadi perhatian seluruh dunia. Tahun 2010-2035 diproyeksikan Indonesia memasuki periode lanjut usia (ageing population). Sehingga upaya perbaikan dan peningkatan kualitas hidup pada lansia memerlukan perhatian khusus. Populasi lansia yang potensial di Kota Cirebon adalah di Kecamatan Kejaksan, tahun 2013- 2015 mencapai 3.785 sampai 3.831 orang. Diketahui jumlah kasus pada urutan pertama untuk ganguan status mental emosional ada di wilayah Kecamatan Kejaksan. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan aktivitas fisik dengan kualitas hidup pada lanjut usia setelah dikontrol dengan variabel konfounding jenis kelamin, tingkat pendidikan, status perkawinan, pekerjaan, merokok dan status gizi. Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Kejaksan Kota Cirebon bulan Mei 2017. Penelitian menggunakan desain studi cross sectional, pengambilan sampel stratified random sampling, pengumpulan data dilakukan dengan melalui wawancara dengan kuesioner pada 110 responden. Hasil penelitian ini menemukan pada responden dengan kualitas hidup baik, 93,4% memiliki aktivitas fisik yang cukup. Hasil regresi logistik menunjukkan hubungan bermakna antara aktivitas fisik dengan kualitas hidup setelah dikontrol dengan variabel status pernikahan (p value = 0,0005, CI= 3,512 - 38,709). Aktivitas fisik yang cukup merupakan faktor meningkatnya kualitas hidup, peningkatan kualitas hidup ini meningkat pada lansia yang memiliki pasangan hidup atau dengan status menikah. Kata Kunci : Kualitas hidup, Lansia, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, Aktivitas Fisik In many countries, the proportion of the population reaches the elderly (elderly) increases and is a worldwide concern. In 2010-2035, Indonesia is projected to enter a period of aging (ageing population). So that efforts to improve and improve the quality of life in the elderly require special attention. The potential elderly population in Cirebon City is in the District of Kejaksan, 2013-2015 years reaching 3,785 to 3,831 people. It is known that the number of cases in the first sequence for emotional mental status disorder is in the Kejaksan sub-District. This study aims to determine physical activity related to quality of life among elderly after controlled by variables confounding sex, education level, marital status, occupation, smoking and nutritional status. This research was conducted in Kejaksan sub-District, Cirebon in May 2017. The study used cross sectional study design, stratified random sampling, data collection was done through interview with questioner on 110 respondents. The results of this study found in respondents with good quality of life, 93.4% have adequate physical activity. Logistic regression results showed significant relationship between physical activity and quality of life after controlled with marital status variables (p value = 0,0005, CI = 3,512 - 38,709). Sufficient physical activity is a factor of increasing quality of life, improved quality of life is increased in elderly people who have a spouse or married status. Keywords: Quality of life, Elderly, Cirebon, Physical Activity
Read More
T-5010
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muslim Patu; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Tinexcelly
S-5784
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewianti, Tresna Adhi, Tuty Kuswardhani
PHPMA-Vol.1/No.2
Denpasar : Universitas Udayana, 2013
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amalia Ratna Alfiandary; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Pengujui: Adang Bachtiar, Dian Ayubi, Sri Mulyani, Tuty Amalia
Abstrak:
Read More
Lansia merupakan seorang yang telah mencapai usia 60 tahun keatas. Indonesia sudah masuk dalam negara dengan struktur tua dengan provinsi teratas adalah DIY. Penelitian menunjukkan banyak lansia mengalami ketergantungan untuk menjalani aktivitas dan dipengaruhi berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia, jenis kelamin, pendidikan, penyakit, kognitif, depresi, perilaku caring perawat, dan kualitas pelayanan dengan kemandirian lanjut usia di BPSTW Yogyakarta. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan waktu cross sectional. Sampel diambil dari lansia yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sehingga terdapat 110 responden. Data dikumpukan melalui wawancara dengan kuesioner kemudian dianalisis univariat, bivariat, dan multivariat. Mayoritas responden masuk dalam kategori mandiri 80,9 persen sedangkan responden yang mengalami ketergantungan sebesar 19,1 persen. Hasil menunjukkan variabel usia, pendidikan, penyakit, kognitif, depresi, dan kualitas pelayanan lima dimensi berhubungan dengan kemandirian lansia. Varibel yang paling dominan berhubungan dengan kemandirian adalah penyakit.
Elderly are those who have reached the age of 60 years and above. Indonesia is a country with an old structure and the top province is Yogyakarta. Research shows that many elderly experience dependence to carry out activities and influenced by various factors. This study aims to determine the relationship between age, gender, education, disease, cognitive level, depression, nurse caring behavior, and service quality with elderly independence at BPSTW Yogyakarta. The research design was observational analytic with a cross-sectional approach. Samples were taken from elderly who met the inclusion and exclusion criteria and there were 110 respondents. Data were collected through interviews with questionnaires then analyzed with univariate, bivariate, and multivariate. The majority of respondents were in the independent category (80,9 percent), while 19,1 percent of respondents were dependent. The results show that age, education, disease, cognitive level, depression, and five-dimensional service quality are related to elderly independence. The most dominant variable related to elderly independence is variable of disease.
T-7204
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Maria Fransisca Aryani Sudja; Promotor: Tribudi W. Rahardjo; Ko-Promotor: Yvone M. Indrawani, Sudijanto Kamso; Penguji: Kusharisupeni, Purwantyastuti, Deddy Muchtadi, Mien Karmini, Dharmayati Utoyo Lubis
D-238
Depok : FKM UI, 2009
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Linawati, Rina Listyowati, R.A. Tuty Kuswardani
PHPMA-Vol.3/No.2
Denpasar : Pascasarjana Universitas Udayana, 2015
Indeks Artikel Jurnal-Majalah Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sri Warsini; Pembimbing: Iwan Ariawan
S-2757
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puji Lestari; Pemb. Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Tris Yunis Miko Wahyono, Endang Karjani
S-5495
Depok : FKM UI, 2008
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Robiatun Amaliyah Ranti; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Ali Nina Liche Seniati, Purwanty Astuti Ascolta; Penguji: Besral, Evi Martha, Martya Rahmaniati Makful, Tri Krianto, Fidiansjah, Tri budi Wahyuni Raharjo
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Depresi pada lansia merupakan gangguan mental yang ditandai dengan kesedihan terus menerus serta kurangnya minat/kesenangan yang menyebabkan terganggunya kualitas tidur, nafsu makan, kelelahan dan konsentrasi yang berdampak pada kesehatan fisik dan fungsi sosial. Penyebabnya kompleks, mencakup faktor psikososial, biologis, dan lingkungan. Kemampuan mobilitas rendah meningkatkan risiko depresi. Tujuan: Menganalisis dan mengetahui hubungan antara kemampuan mobilitas dengan depresi pada lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia, dengan mempertimbangkan faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, riwayat penyakit, dukungan sosial, kemampuan mengingat, kualitas tidur, dan aktivitas fisik. Metode: Penelitian cross sectional melibatkan 385 lansia. Data dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner. Analisis regresi logistik digunakan untuk menganalisis hubungan antara kemampuan mobilitas dengan depresi pada lansia. Hasil: Lansia dengan kemampuan mobilitas rendah memiliki peluang lebih tinggi mengalami depresi (OR = 2,35; p = 0,001). Dukungan sosial tidak signifikan secara statistik, namun masih menunjukkan kecendrungan berhubungan dengan depresi. Kesimpulan: terdapat hubungan kemampuan mobilitas dengan depresi di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia dengan mempertimbangkan faktor lain yaitu dukungan sosial sebagai faktor yang paling berperan. Saran: kementrian sosial, dinas sosial, dinas kesehatan dan pengelola panti fokus pada program yang meningkatkan kemampuan mobilitas lansia untuk mencegah depresi, serta meningkatkan dukungan sosial bagi lansia yang tinggal di Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia.
Background: Depression in older adults is a mental disorder characterized by persistent sadness and a lack of interest or pleasure, which may disturb sleep quality, appetite, energy levels, and concentration, and may affect physical health and social functioning. Its causes are complex and include psychosocial, biological, and environmental factors. Low mobility ability may increase the risk of depression among older adults. Objective: This study aimed to analyze and determine the relationship between mobility ability and depression among older adults at Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia, while considering age, sex, education, disease history, social support, memory ability, sleep quality, and physical activity. Methods: This cross-sectional study involved 385 older adults. Data were collected using questionnaires. Logistic regression analysis was used to examine the relationship between mobility ability and depression among older adults. Results: Older adults with low mobility ability had a higher likelihood of experiencing depression (OR = 2.35; p = 0.001). Social support was not statistically significant; however, it still showed a tendency to be associated with depression. Conclusion: There was a relationship between mobility ability and depression among older adults at Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia after considering other factors. Social support also remains an important factor to consider in relation to depression among older adults. Recommendation: The Ministry of Social Affairs, social service offices, health offices, and nursing home management are expected to focus on programs that improve older adults’ mobility ability to help prevent depression, as well as strengthen social support for older adults living at Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia. Kata kunci: Depresi, Dukungan Sosial, Kemampuan Mobilitas, Lansia.
D-649
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
