Ditemukan 37711 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Afrinda Mega Kencana; Pembimbing: Haryoto Kusnoputro; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Elisabeth Ene Jawan
Abstrak:
Menurut Kemenkes No.129 tahun 2008 angka kejadian infeksi luka operasi adalah ≤1,5% dimana di RSIA Selasih Medika terdapat 5,9% pada tahun 2016. Penelitian inibertujuan untuk menidentifikasi gambaran lingkungan sebagai pengendalian infeksinosokomial di RSIA Selasih Medika. Jenis penelitian ini disusun dengan desaindeskriptif. Menilai gambaran lingkungan rumah sakit melalui hasil laboratorium,observasi dan wawanvara. Penelitian ini menunjukan sistem ventialasi dengan suhurata rata ruang perawatan nifas Mawar 25.10C dengan kelembaban udara 62.5% danruang perawatan nifas Aster dengan rata-rata suhu 27.50C dengan kelembaban74.02%, ruang operasi memiliki ventilasi udara yang baik yaitu suhu udara 25.2 0Cdengan kelembaban udara 46,75%. Angka kuman udara dalam ruang adalah 5000CFU/m³ pada ruang perawatan nifas Mawar dan 36000 CFU/m³ pada ruangan nifasAster. Angka kuman dilantai ruang Mawar 0 CFU/cm² dan Aster 7 CFU/cm² jugaruang operasi memenuhi standar. Alat operasi pada set 1 terdapat 15 CFU/cm² danpada set 2 terdapat 13 CFU/cm² dan alat pengganti verban yaitu terdapat 0 CFU/cm².Angka kuman dalam linen set 1 terdapat 0 CFU/cm² dan linen set 2 terdapat 6CFU/cm². Perilaku cuci tangan petugas kesehatan RSIA Selasih Medika adalahsebesar 82.7% baik dan 17.3% tidak baikKata kunci: Infeksi Nosokomial, Infeksi Luka Operasi, Angka Kuman
According to Ministry of Health No.129 year 2008 the incidence of wound infectionis ≤ 1.5% where in RSIA Selasih Medika there is 5.9% in 2016. This research is veryuseful to identify environmental picture as control of nosocomial infection at RSIASelasih Medika. Type of research is prepared with descriptive design. Assess thehospital environment overview of laboratory, observation and wawanvara results.This study shows the ventation system with the average temperature of 255 ° Cmaturity treatment with air humidity of 62.5% and the Aster nifas room with anaverage temperature of 27.50C with humidity 74.02%, the operating room has goodair ventilation ie 25.2 0C air temperature with humidity Air 46.75%. The number ofindoor airborne germs is 5000 CFU / m³ in the treatment room of the Mawar and36000 CFU / m³ in the Aster room. The germ on the floor of the Rose room 0 CFU /cm² and Aster 7 CFU / cm² also the operating room meets the standards. Theoperational tool on set 1 is 15 CFU / cm² and in the 2nd set there is 13 CFU / cm² andthe verban replacement tool is 0 CFU / cm². The number of germs in linen set 1 is 0CFU / cm² and linen set 2 is 6 CFU / cm². Behavior of handwashing health officerRSIA Selasih Medika is equal to 82,7% good and 17,3% not goodKey words: Nosocomial Infection, Wound Infection Surgery, Germ Fig.
Read More
According to Ministry of Health No.129 year 2008 the incidence of wound infectionis ≤ 1.5% where in RSIA Selasih Medika there is 5.9% in 2016. This research is veryuseful to identify environmental picture as control of nosocomial infection at RSIASelasih Medika. Type of research is prepared with descriptive design. Assess thehospital environment overview of laboratory, observation and wawanvara results.This study shows the ventation system with the average temperature of 255 ° Cmaturity treatment with air humidity of 62.5% and the Aster nifas room with anaverage temperature of 27.50C with humidity 74.02%, the operating room has goodair ventilation ie 25.2 0C air temperature with humidity Air 46.75%. The number ofindoor airborne germs is 5000 CFU / m³ in the treatment room of the Mawar and36000 CFU / m³ in the Aster room. The germ on the floor of the Rose room 0 CFU /cm² and Aster 7 CFU / cm² also the operating room meets the standards. Theoperational tool on set 1 is 15 CFU / cm² and in the 2nd set there is 13 CFU / cm² andthe verban replacement tool is 0 CFU / cm². The number of germs in linen set 1 is 0CFU / cm² and linen set 2 is 6 CFU / cm². Behavior of handwashing health officerRSIA Selasih Medika is equal to 82,7% good and 17,3% not goodKey words: Nosocomial Infection, Wound Infection Surgery, Germ Fig.
S-9541
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ketut Sukresno; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Ishiko Herianto
S-6218
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Mudjtahid Ahmad Djojosugito,
D-53
[s.l.] :
[s.n.] :
1990
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aep Saepudin; pembimbing: Umar Fahmi Ahmadi; Penguji: Budi Hartono, Jaenudin
Abstrak:
Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sehat maupun orang sakit fungsinya sebagai tempat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, serta dapat menjadi sumber infeksi oleh mikroba patogen terutama Staphylococcus aureus yang pertumbuhannya dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti kualitas fisik udara, kebersihan ruangan, kepadatan hunian, jumlah pengunjung, ventilasi frekuensi pemebersihan lantai. Rumusan masalah bagaimana gambaran kualitas udara rumah sakit dan keberadaan angka bakteri Staphyloccocus aureus di ruang rawat inap RSUD dr.Slamet Garut ndash; 2017. Penelitian ini bersifat deskiptif yang bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas udara rumah sakit keberadaan angka bakteri Staphylococcus aureus di ruang rawat inap RSUD dr.Slamet Garut. Pengambilan sampel dalam penelitian adalah total populasi ruang rawat inap sebanyak 17 Ruang Rawat Inap. Hasil penelitian di ruang rawat inap ini 100 temperatur tidak memenuhi syarat, 64.7 kelembaban tidak memenuhi syarat, 41,2 Pencahayaan tidak memenuhi syarat, 47 Kepadatan hunian tidak memenuhi syarat, jumlah pengunjung 11.8 tidak memenuhi syarat, ventilasi 100 tidak memenuhi syarat, Frekuensi pembersihan lantai 100 memenuhi syarat, kebersihan ruangan 11.8 tidak memenuhi syarat dan keberadaan angka bakteri staphylococcus aureus 53 tidak memenuhi syarat. Temperatur dan kelembaban yang tinggi di ruang rawat inap tersebut diperlukan pendingin ruangan agar temperatur dapat dipertahankan sesuai kebutuhan. Sedangkan untuk masalah pencahayaan yang tidak masuk ke ruangan dan tingginya angka bakteri Staphylococcus aureus diperlukan perbaikan ventilasi agar cahaya dapat masuk menerangi ruangan dan untuk pencahayaan yang tinggi melapisi ventilasi dengan gorden dan melakukan desinfeksi baik secara fisik maupun kimia selain itu untuk jumlah pengunjung, kepadatan hunian serta kebersihan ruangan lebih ditertibkan.
The hospital is a gathering place for healthy people as well as ill people as a place of healing illness and health restoration, and can be a source of infection by pathogenic microbes especially Staphylococcus aureus whose growth is influenced by several factors such as physical quality of air, room cleanliness, occupancy density, Ventilation frequency of floor cleaning. The formulation of the problem how is the air quality hospitals and the existence of Staphyloccocus aureus bacterial numbers in the inpatient unit dr.Slamet Garut Hospital deskiptif 2017. This study is aimed to find a picture of the air quality hospitals and the presence of Staphylococcus aureus bacteria numbers in the inpatient hospital Dr.Slamet Garut. The samples in the study was the total population were 17 inpatient ward patient wards. The results of the research in the inpatient unit is 100 temperature not eligible, 64.7 moisture does not qualify, 41.2 Lighting ineligible, 47 occupancy density is not eligible, the number of visitors 11.8 do not qualify, the vents 100 no qualify, frequency of cleaning the floor 100 qualified, room cleanliness 11.8 do not qualify and the presence of staphylococcus aureus bacteria figure 53 are not eligible. Temperature and high humidity in the inpatient unit of the required cooling the room so the temperature can be maintained as required. As for the lighting issues that do not get into the room and the high number of Staphylococcus aureus bacteria needed repair ventilation so that light can enter the light the room and for a high luminance lining vents with curtains and perform disinfection, both physically and chemically in addition to the number of visitors, occupancy density and Cleanliness of the room is more disciplined.
Read More
S-9479
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Lilik Zuhriyah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari, Bambang Wispriyono
T-1874
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Titik Widyaningsih; Pembimbing: Zakianis
S-2685
Depok : FKM-UI, 2002
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Layung Jingga Atmadja; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Anhari Achadi, Nurlaila Lestari
Abstrak:
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapatkan dan berkembang selama pasien dirawat d irumah sakit. Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit khususnya keperawatan dapat dinilai melalui berbagai indikator. Salah satunya adalah penilaian terhadap upaya pengendalianin feksinosokomial menjadi tolak ukur mutu pelayanan suatu rumah sakit dan menjadi standar penilaian akreditasi. Berdasarkan data sekunder yang telah didapat, diketahui bahwa angka kejadian infeksinoso komial secara keseluruhan di RSUDXJ akarta tahun 2011 melebihi standar yang berlaku yaitu sebesar 11,54. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku perawat dalam pencegahan infeksi nosokomial di ruang rawat inap RSUDX Jakarta tahun2 012.Metode penelitian yang digunakan adalah studi kuantitatif crosssectional. Seluruh data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil angket dan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat mempunyai perilaku yang positif dalam pencegahan infeksinoso komial diruang rawat inapUDX Jakarta. Dari ketiga faktor perilaku yaitu faktor predisposisi yang terdiri dari variabel pengetahuan dan sikap, faktor pemungkin yang terdiri dari variabel lingkungan fisik dan sarana, dan faktor penguat yang terdiri dari variabel motivasi dan Standard Operational Procedure(SOP). Variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan perilaku perawat dalam pencegahan infeksinosokomial di ruang rawat inap RSUDX Jakarta adalah riabel pengetahuan dengan p-value 0,010 dan variabel lingkungan fisik dengan p-value 0,005.
Read More
S-7319
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sylvira Delviani; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Agustin Kusumayati, Siti Nurliah
Abstrak:
ISPA merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri dan virus. Pada saluran pernapasan atas atau saluran pernapasan bawah. Bakteri dan virus penyebab penyakit ISPA umumnya ditransmisikan melalui udara yang tercemar. Pada tahun 2017, penyakit ISPA di Kota Bekasi mencapai 34.573 jiwa. Pada tahun 2015-2017, penyakit ISPA di Kota Bekasi menempati urutan pertama pada penyakit menular. Penelitian ini bertujuan untuk mencari hubungan spasial antara faktor lingkungan dengan kejadian ISPA di Kota Bekasi tahun 2017. Desain penelitian yang digunakan yaitu studi ekologi dengan analisis spasial dan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat keterkaitan antara faktor lingkungan dengan kejadian ISPA di Kota Bekasi tahun 2017, tetapi terdapat beberapa Kelurahan yang memiliki faktor lingkungan yang tinggi dan kasus ISPA yang rendah atau sebaliknya. Keterkaitan antara faktor lingkungan dengan kasus ISPA di Kota Bekasi tidak linear sehingga hal tersebut tidak dapat dijadikan patokan dalam menentukan peringatan dini (early warning)/ prediksi terhadap kasus ISPA di Kota Bekasi secara spasial. Dinas Kesehatan agar menjalin kerjasama lintas sektor dengan Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan, Dinas Perdagangan dan Perindustrian dan Dinas Perhubungan untuk menekan angka kasus ISPA di Kota Bekasi.
Read More
S-10209
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aulia Rahman; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Ema Hermawati, Margareta M. Sintorini, Melati Ferianita Fachrul
Abstrak:
Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi penyakitterbanyak di Kota Depok. Penurunan kualitas udara ambien dan luas Ruang TerbukaHijau (RTH) karena pembangunan yang semakin berkembang diduga memiliki kaitandengan hal tersebut. Penelitian ini dilakukan untuk melihat trend Kualitas UdaraAmbien, RTH dan Jumlah Kasus ISPA yang terjadi di Kota Depok tahun 2013-2017serta bagaimana kaitan ketiganya dalam kualitas kesehatan lingkungan. Desainpenelitian ini adalah studi ekologi. Unit analisisnya adalah data sekunder konsentrasilima parameter kualitas udara ambien (SO2, NO2, CO, Pb dan PM10) dan luas RTH dariDinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK), serta data jumlah kasus ISPA dariDinkes Kota Depok. Analisis dilakukan secara spasial dan statistik. Hasil penelitiandisajikan dalam tabel, grafik trend dan pemetaan. Terdapat trend fluktuasi yang acakdari konsentrasi lima parameter kualitas udara dan ISPA, sedangkan RTH mengalamitrend perubahan yang teratur. Disarankan kepada pemerintah serta instansi kedinasan diKota Depok untuk merumuskan regulasi dan berbagai program untuk meningkatkankualitas kesehatan lingkungan serta menurunkan jumlah kasus ISPA di Kota Depok.Kata kunci : Ekologi; ISPA; kualitas udara ambien; penyakit pernapasan; ruang terbukahijau (RTH)
Acute Respiratory Infection (ARI) disease is still the highest number of diseasein Depok City. Decline in ambient air qualityand availability of Green Open Space(GOS) due to the growing development is thought to be the causing factors. This studywas conducted to determine the trend of Ambient Air Quality, GOS and the number ofARI cases that occurred in Depok during 2013-2017. The research design is ecologicalstudy. The units of analysis are the secondary data of the concentration of fiveparameters of ambient air quality (SO2, NO2, CO, Pb dan PM10) and GOS fromDepartment of Hygiene and Environment, and data of ARI cases from HealthDepartment in Depok. The analysis was done with spatial and statistical analysis. Resultof the analysis showed in tables, graphs and mapping. There is random fluctuative trendon theambient air parametersand ARI. Whereas there is patterned change on the GOS. Itis suggested to the city government as well as the official departments in Depok City toformulate regulations and various programs to improve the quality of environmentalhealth and reduce the number of ARI cases in Depok.Keywords: ARI; ambient air quality; ecology; respiratory disease, green open space.
Read More
Acute Respiratory Infection (ARI) disease is still the highest number of diseasein Depok City. Decline in ambient air qualityand availability of Green Open Space(GOS) due to the growing development is thought to be the causing factors. This studywas conducted to determine the trend of Ambient Air Quality, GOS and the number ofARI cases that occurred in Depok during 2013-2017. The research design is ecologicalstudy. The units of analysis are the secondary data of the concentration of fiveparameters of ambient air quality (SO2, NO2, CO, Pb dan PM10) and GOS fromDepartment of Hygiene and Environment, and data of ARI cases from HealthDepartment in Depok. The analysis was done with spatial and statistical analysis. Resultof the analysis showed in tables, graphs and mapping. There is random fluctuative trendon theambient air parametersand ARI. Whereas there is patterned change on the GOS. Itis suggested to the city government as well as the official departments in Depok City toformulate regulations and various programs to improve the quality of environmentalhealth and reduce the number of ARI cases in Depok.Keywords: ARI; ambient air quality; ecology; respiratory disease, green open space.
T-5240
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Istiqamah; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Budi Hartono, Dzulfiqar Khaidir Sulong
Abstrak:
Peningkatan jumlah kendaraan di Kota Bekasi, menyebabkan pencemaran PM10. Halini diikuti dengan peningkatan jumlah penduduk yang berdampak pada alih fungsilahan seperti Ruang Terbuka Hijau (RTH). Jumlah RTH Kota Bekasi tahun 2012sekitar 10,95%.. Keberadaan RTH dapat menurunkan PM10 di udara melalui fungsidaun yang dapat menyerap dan mengendapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh RTH terhadap konsentrasi PM10 dan risikonya terhadapkesehatan. Metode yang digunakan yaitu analisis risiko kesehatan lingkungan,mengestimasi risiko kesehatan non karsinogenik pajanan PM10. Dipilih dua lokasijalan raya yang berbeda berdasarkan cakupan ruang terbuka hijau tertinggi (JatiKramat, Kecamatan Jati Asih) dan terendah (Kaliabang, Kecamatan Medan Satria).Sampel lingkungan dan populasi diambil sebanyak 3 titik di Jalan Raya Jati Kramatdan 3 titik di Jalan Raya Kaliabang. Setiap titik diukur pada jarak 1 dan 100 meterdari jalan raya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM10 di Jati Kramatlebih rendah dan di bawah baku mutu, penurunan PM10 di Jalan Raya Jati Kramatlebih besar dibandingkan Jalan Raya Kaliabang. Risiko kesehatan non-karsinogenikdaerah Jati Kramat baik real time maupun life span lebih besar, hal ini dikarenakanlebih besarnya nilai asupan pajanan. Manajeman risiko yang dipilih adalah denganmenambah ruang terbuka hijau untuk menurunkan konsentrasi PM10.Kata kunci : Jalan raya, PM10, ruang terbuka hijau, risiko
Increasing vehicle in Bekasi caused PM10 pollution. In addition, increasing ofpopulation can impact the land function like green space. Percentage of green spacein 2012 about 10,95%. The existence green space can reduce PM10 because leaf willabsorbs and precipitates. This study aims to determine the effect of green space to theconcentrastion of PM10 and health risk of population. Method study usesenviromental health risk analysis for estimating health risk non-carcinogenic of PM10exposure. Choosed the different location based on percentage of green space highest(Jati Kramat, Jati Asih) and lowest (Kaliabang, Medan Satria). The environment andpopulation sample was selected 3 points on Jati Kramat Highway and 3 points onKaliabang Highway. All points was observed at 1 meter and 100 meters from street.The Result refers that concentration PM10 on Jati Kramat is lower and still understandart, in additional PM10 decrease on Jati Kramat more significant (p-value 0,007)than Kaliabang (P-value 0,024). Health risk non-carcinogenic on Jati Kramat in realtime or life span is higher, it caused the value exposure intake is high. Riskmanagement was choosed is reduce the exposure PM10 by adding green space on thislocation.Keywords : Street, PM10, green space, risk
Read More
Increasing vehicle in Bekasi caused PM10 pollution. In addition, increasing ofpopulation can impact the land function like green space. Percentage of green spacein 2012 about 10,95%. The existence green space can reduce PM10 because leaf willabsorbs and precipitates. This study aims to determine the effect of green space to theconcentrastion of PM10 and health risk of population. Method study usesenviromental health risk analysis for estimating health risk non-carcinogenic of PM10exposure. Choosed the different location based on percentage of green space highest(Jati Kramat, Jati Asih) and lowest (Kaliabang, Medan Satria). The environment andpopulation sample was selected 3 points on Jati Kramat Highway and 3 points onKaliabang Highway. All points was observed at 1 meter and 100 meters from street.The Result refers that concentration PM10 on Jati Kramat is lower and still understandart, in additional PM10 decrease on Jati Kramat more significant (p-value 0,007)than Kaliabang (P-value 0,024). Health risk non-carcinogenic on Jati Kramat in realtime or life span is higher, it caused the value exposure intake is high. Riskmanagement was choosed is reduce the exposure PM10 by adding green space on thislocation.Keywords : Street, PM10, green space, risk
S-8231
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
