Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39951 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Adelina Fitri; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Melania Hidayat, Yulia Nur Izati
Abstrak: Kematian bayi didefinisikan sebagai kematian yang terjadi pada tahun pertama kehidupan. Angka kematian bayi di Indonesia dan Kamboja sendiri masih berada diatas AKB Asia Tenggara, sedangkan Filipina sudah sama dengan AKB Asia Tenggara. Jarak kelahiran merupakan salah satu faktor yang memegang peran penting pada kematian bayi terutama jarak kelahiran < 24 bulan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jarak kelahiran terhadap kematian bayi di Indonesia, Filipina dan Kamboja. Penelitian menggunakan data dari Demographic Health Survey (DHS) di Indonesia (2012), Filipina (2013) dan Kamboja (2014). Desain penelitian adalah cross sectional dan sampel pada masing-masing negara berjumlah 10.162, 4.741 dan 4.330 bayi. Setelah dikontrol oleh variabel perancu, jarak kelahiran < 18 bulan memiliki risiko paling besar terhadap kematian bayi di Indonesia (OR = 2,43: 95% CI 1,26 - 4,70), Kamboja (OR = 4,39: 95% CI 1,76 - 10,94) dibandingkan jarak kelahiran 18 - 23 bulan, 24 - 35 bulan dan ≥ 36 bulan. Sedangkan di Filipina jarak kelahiran 18 - 23 bulan merupakan risiko paling besar pada kematian bayi dibandingkan jarak kelahiran < 18 bulan dan ≥ 24 bulan (OR = 2,59: 95% CI 1,13 - 5,95). Jarak kelahiran yang ideal untuk mengurangi risiko kematian bayi adalah ≥ 24 bulan. Kata Kunci : kematian bayi, jarak kelahiran
Infant mortality is defined as death that occurring in the first year of life. Infant mortality rate in Indonesia and Cambodia itself is still above the Southeast Asian IMR, while in Philippines is similar to the Southeast Asian IMR. Birth interval is one factor that plays an important role in infant mortality especially <24 months. The purpose of this study was to determine the influence of birth interval on infant mortality in Indonesia, Philippines and Cambodia. This study used data from Demographic Health Survey (DHS) in Indonesia (2012), Philippine (2013) and Cambodia (2014). The study design is cross sectional and sample in each country is 10.162, 4.741 and 4.330 infants. After controlled by confounding variables, birth interval <18 months had the greatest risk of infant mortality in Indonesia (OR = 2.43: 95% CI 1.26 - 4.70), Cambodia (OR = 4.39: 95% CI 1,76 - 10,94) compared to 18 - 23 months, 24 - 35 months and ≥ 36 months. While in Philippines 18 - 23 month birth interval is the greatest risk of infant mortality compared to birth interval <18 months and ≥ 24 months (OR = 2.59: 95% CI 1.13 - 5.95). The ideal birth interval to reduce the risk of infant mortality is ≥ 24 months. Keywords: infant mortality, birth interval.
Read More
T-4862
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fidya Rumiati; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Riznawaty Imma Aryanty
Abstrak: Kematian neonatal didefinisikan sebagai kematian yang terjadi pada bulan pertama kehidupan Usaha menurunkan kematian neonatal di Indonesia, Filipina dan Myanmar Myanmar belum mencapai target SDGs. Kematian neonatal yang disebabkan oleh paritas tinggi masih menjadi permasalahan utama pada negara berkembang (99%). Paritas dapat merefleksikan status ekonomi serta keberhasilan dari program penggunaan alat kontrasepsi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh paritas terhadap kematian neonatal di Indonesia, Filipina dan Myanmar. Penelitian menggunakan data Demographic and Health Survey (DHS) di Indonesia (2017), Filipina (2017) dan Myanmar
Read More
T-6103
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vini Fardhdiani; Pembimbing: Nurhayati; Penguji: Asri C. Adisasmita, Yovsyah; Euis Sa`adah Hermawati
T-3446
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Sholikah Putri Suni; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Sudarto Ronoatmodjo, Flourisa Juliaan
Abstrak: Cakupan penggunaan kontrasepsi modern di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.Akan tetapi, cakupan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masihjauh dari target yang diharapkan. Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukanbahwa kelompok berisiko tinggi akan cenderung untuk menggunakan kontrasepsimodern. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kelahiran berisiko tinggidengan penggunaan kontrasepsi modern khususnya metode kontrasepsi jangkapanjang (MKJP) dan mengetahui faktor lain yang mempunyai peran terhadappenggunaan kontrasepsi modern setelah mengalami kelahiran yang berisiko tinggi.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data SDKI 2007dan 2012. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia subur (15-49 th) yang pernahmelahirkan maksimal 5 tahun sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukanbahwa prevalensi risiko tinggi 30,45%, risiko tinggi ganda 10,96% dan risiko tinggitunggal 19,49%. Prevalensi penggunaan kontrasepsi modern sebesar 68% dan palingbanyak menggunakan metode suntik. Sedangkan prevalensi penggunaan MKJP adalah8,73% dan yang paling banyak digunakan adalah metode IUD. Riwayat kelahiranberisiko tinggi tidak meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi modern secarakeseluruhan [PR 0,84; 95%CI: 0,817-0,861]. Terdapat peluang yang cukup besaruntuk menggunakan MKJP bagi mereka yang memiliki riwayat kelahiran risiko tinggiganda baik pada seluruh populasi [PR: 1,90 ;95%CI: 1,65-2,13] maupun pada populasipengguna kontrasepsi modern [PR: 1,46 ;95%CI: 1,29-1,64]. Populasi yangmenggunakan kontrasepsi modern, peluang terbesar untuk menggunakan MKJP bilaibu yang berisiko tinggi melakukan ANC di klinik bidan dan melakukan persalinan dirumah bersalin (RB) setingkat puskesmas. Oleh karena itu, disarankan untukmeningkatkan edukasi, promosi dan konseling terutama kepada wanita usia suburyang sudah memiliki riwayat melahirkan dengan risiko tinggi supaya dapat mencegahkelahiran berisiko.Kata kunci: Wanita Usia Subur (WUS), Kelahiran Berisiko Tinggi, KontrasepsiModern, MKJP, SDKI 2007 dan 2012
Coverage of modern contraceptive use in Indonesia increased from year to year.However, the scope of the use of long acting contraceptive system (LACS) is still farfrom the expected target. Based on previous study found that high-risk groups arelikely to use modern contraception. This study aimed to analyze the effect of high-riskbirths with the use of modern contraceptives, especially long acting contraceptivesystem (LACS) and determine other factors that have a value of interventions towardshigh-risk births variable relationship with the use of modern contraceptives. This studyused cross sectional design with IDHS 2007 and 2012. The sample in this study werewomen of reproductive age (15-49 years) who had delivered a maximum of 5 yearsprior to the survey. The results showed that the prevalence of high risk of 30.45%,10.96% double high risk and 19,49 single high risk. The prevalence of moderncontraceptive use by 68% and the most widely used injection method. While theprevalence of the use of LACS was 8.73% and the most widely used method of IUD.A history of high-risk births do not increase the probability of modern contraceptiveuse overall [PR 0.84; 95% CI: 0.817 - 0.861]. There are considerable opportunities touse the LACS for those who have a history of high-risk multiple births either in thewhole population [PR: 1.90; 95% CI: 1.65 - 2.13] and in a population of moderncontraceptive users [PR: 1,46; 95% CI: 1.29 to 1.64]. Population using moderncontraceptives, the biggest opportunity to use the LACS when high-risk mothers doANC at clinic midwife and deliver at the maternity hospital (RB) level health centers.Therefore, it is advisable to increase the education, promotion and counselingespecially to women of reproductive age who already have a history of delivering witha high risk in order to prevent the risk births.Keywords: Women of Reproductive Age, High-risk births, modern contraceptive,LACS, IDHS 2007 and 2012
Read More
T-4767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Sholikah Putri Suni; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Renti Mahkota, Sudarto Ronoatmodjo, Flourisa Juliaan
Abstrak: Cakupan penggunaan kontrasepsi modern di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun.Akan tetapi, cakupan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) masihjauh dari target yang diharapkan. Berdasarkan penelitian sebelumnya ditemukanbahwa kelompok berisiko tinggi akan cenderung untuk menggunakan kontrasepsimodern. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kelahiran berisiko tinggidengan penggunaan kontrasepsi modern khususnya metode kontrasepsi jangkapanjang (MKJP) dan mengetahui faktor lain yang mempunyai peran terhadappenggunaan kontrasepsi modern setelah mengalami kelahiran yang berisiko tinggi.Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan analisis data SDKI 2007dan 2012. Sampel pada penelitian ini adalah wanita usia subur (15-49 th) yang pernahmelahirkan maksimal 5 tahun sebelum survei dilakukan. Hasil penelitian menunjukanbahwa prevalensi risiko tinggi 30,45%, risiko tinggi ganda 10,96% dan risiko tinggitunggal 19,49%. Prevalensi penggunaan kontrasepsi modern sebesar 68% dan palingbanyak menggunakan metode suntik. Sedangkan prevalensi penggunaan MKJP adalah8,73% dan yang paling banyak digunakan adalah metode IUD. Riwayat kelahiranberisiko tinggi tidak meningkatkan peluang penggunaan kontrasepsi modern secarakeseluruhan [PR 0,84; 95%CI: 0,817-0,861]. Terdapat peluang yang cukup besaruntuk menggunakan MKJP bagi mereka yang memiliki riwayat kelahiran risiko tinggiganda baik pada seluruh populasi [PR: 1,90 ;95%CI: 1,65-2,13] maupun pada populasipengguna kontrasepsi modern [PR: 1,46 ;95%CI: 1,29-1,64]. Populasi yangmenggunakan kontrasepsi modern, peluang terbesar untuk menggunakan MKJP bilaibu yang berisiko tinggi melakukan ANC di klinik bidan dan melakukan persalinan dirumah bersalin (RB) setingkat puskesmas. Oleh karena itu, disarankan untukmeningkatkan edukasi, promosi dan konseling terutama kepada wanita usia suburyang sudah memiliki riwayat melahirkan dengan risiko tinggi supaya dapat mencegahkelahiran berisiko.Kata kunci: Wanita Usia Subur (WUS), Kelahiran Berisiko Tinggi, KontrasepsiModern, MKJP, SDKI 2007 dan 2012
Coverage of modern contraceptive use in Indonesia increased from year to year.However, the scope of the use of long acting contraceptive system (LACS) is still farfrom the expected target. Based on previous study found that high-risk groups arelikely to use modern contraception. This study aimed to analyze the effect of high-riskbirths with the use of modern contraceptives, especially long acting contraceptivesystem (LACS) and determine other factors that have a value of interventions towardshigh-risk births variable relationship with the use of modern contraceptives. This studyused cross sectional design with IDHS 2007 and 2012. The sample in this study werewomen of reproductive age (15-49 years) who had delivered a maximum of 5 yearsprior to the survey. The results showed that the prevalence of high risk of 30.45%,10.96% double high risk and 19,49 single high risk. The prevalence of moderncontraceptive use by 68% and the most widely used injection method. While theprevalence of the use of LACS was 8.73% and the most widely used method of IUD.A history of high-risk births do not increase the probability of modern contraceptiveuse overall [PR 0.84; 95% CI: 0.817 - 0.861]. There are considerable opportunities touse the LACS for those who have a history of high-risk multiple births either in thewhole population [PR: 1.90; 95% CI: 1.65 - 2.13] and in a population of moderncontraceptive users [PR: 1,46; 95% CI: 1.29 to 1.64]. Population using moderncontraceptives, the biggest opportunity to use the LACS when high-risk mothers doANC at clinic midwife and deliver at the maternity hospital (RB) level health centers.Therefore, it is advisable to increase the education, promotion and counselingespecially to women of reproductive age who already have a history of delivering witha high risk in order to prevent the risk births.Keywords: Women of Reproductive Age, High-risk births, modern contraceptive,LACS, IDHS 2007 and 2012
Read More
T-4767
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwika Sari Sasoka; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Putri Bungsu, Kasmiyati, Nindya Savitri
Abstrak: Angka Kematian Bayi merupakan salah satu indikator pembangunan suatu bangsa. Kematian neonatal (0-28 hari) menyumbang lebih dari setengah (59,4%) kematian bayi. Berdasarkan data SDKI 2012 angka kematian neonatal mengalami penurunan sebesar 41% dari 32/1000 kelahiran hidup pada tahun 1991 menjadi 19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007. Namun pada dua periode terakhir angka kematian neonatal stagnan di angka 19/1000 kelahiran hidup pada tahun 2007 dan 2012. Salah satu faktor yag dapat meningkatkan kematian neonatal adalah jarak kelahiran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jarak kelahiran yang berkontribusi dan hubungannya terhadap kejadian kematian neonatal. Penelitian ini merupakan analisis data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012. Desain penelitian yang digunakan adalah kasus kontrol dengan sampel sebanyak 102 kasus dan 306 kontrol. Kasus adalah bayi yang mengalami kematian neonatal dan merupakan anak terakhir pada persalinan tunggal. Dan kontrol adalah bayi yang hidup melewati usia 28 hari. Hasil analsis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik , didapatkan adanya perbedaan risiko yang signifikan untuk terjadinya kematian neonatal antara ibu dengan jarak kelahiran < 27 bulan dan jarak kelahiran > 78 bulan dibandingkan dengan jarak kelahiran 28-77 bulan. Ibu yang memiliki jarak kelahiran 78 bulan,, ibu dengan jarak kelahiran >78 bulan memiliki risiko untuk mengalami kematian neonatal sebesar 1,95 kali (95% CI : 1,126-3,368) bila dibandingkan dengan jarak kelahiran 28-77 bulan.
Kata kunci : Kematian Neonatal, Jarak Kelahiran, SDKI 2012

Infant Mortality Rate is one of development indicator from a nation. Neonatal mortality (0-28 days) accounts for more than half (59.4%) of infant mortality. Based on the 2012 IDHS data the neonatal mortality rate decreased by 41%, from 32/1000 live births in 1991 to 19/1000 live births in 2007. But in the last two periods, there are stagnant condition of neonatal mortality rate, which is 19/1000 live births in 2007 and 2012. One of the factors that can increase neonatal mortality is birth spacing. This study aims to know the relationship between birth spacing and the incidence of neonatal death. This research is an analysis of data of Indonesia Demographic and Health Survey (SDKI) 2012. The research design is using case control study with the number of sample are 102 cases and 306 controls. Cases are infants who have neonatal death and the last child in a single labor. And control is a baby that lives past the age of 28 days. Multivariate analysis is using logistic regression showed that there was a significant difference of risk for neonatal mortality between mothers with birth spacing 78 months compared with 28-77 month of birth spacing. Mothers with birth spacing 78 months, mothers with birth spacing > 78 months had a risk of neonatal deaths of 1.95 times (95% CI: 1,126-3,368) compared with 28-77 months of birth spacing.
Keywords: Birth spacing, antenatal death, case control study, IDHS 2012
Read More
T-5158
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Maisaroh; Pembimbing: Nasrin Kodim; Penguji: Krisnawati Bantas, Kusharisupeni, Siti Kulsum, Abas Basuni Djahari
T-4098
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Desya Mulyaningrum; Pembimbing: Martya Rahmaniati Makful; Penguji: Iwan Ariawan, Mugia Bayu Rahadja
Abstrak:
BBLR adalah berat bayi lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). BBLR dapat menyebabkan kematian dan kesakitan prenatal, serta meningkatkan risiko terkena penyakit tidak menular. Proporsi BBLR di Indonesia dari periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil dan tidak ada penurunan dari tahun 2007 dengan tahun 2017. Kehamilan tidak diinginkan menjadi salah satu faktor risiko BBLR. Kehamilan tidak diinginkan (unwanted pregnancy) adalah suatu kehamilan yang terjadi di luar perencanaan. Karena pasangan suami atau istri tidak mau menggunakan kontrasepsi, tidak ada akses ke pelayanan KB sehingga menyebabkan kehamilan, dimana sceara fisik atau psikologis pasangan tidak siap dan menolak kejadian kehamilan (unwanted pregnancy). Proporsi kehamilan tidak diinginkan berdasarkan periode SDKI 2007, 2012, 2017 cenderung stabil.
 
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kehamilan tidak diinginkan terhadapp kejadian BBLR perdesaan dan perkotaan di Indonesia berdasarkan data sekunder SDKI 2017. Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Sampel penelitian ini adalah kelahiran hidup dalam 5 tahun sebelum survei dengan laporan berat lahir yang memiliki berat kurang dari 2500 gram dan bertempat tinggal di pedesaan atau perkotaan di Indonesia.
 
Hasil penelitian ini adalah proporsi kejadian kehamilan tidak diinginkan di Indonesia adalah 7,6% dengan rincian 8,9% di perkotaan, 6,3% di perdesaan. Pada daerah perkotaan, kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat pendidikan, komplikasi kehamilan, dan paritas.
 
Hasil analisismultivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perkotaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna. Pada daerah perdesaan kehamilan diinginkan lebih berisiko untuk mengalami BBLR setelah dikontrol dengan variabel tingkat ekonomi, komplikasi kehamilan, dan kunjungan ANC. Hasil analisis multivariat secara statistik kategori kehamilan dengan BBLR di perdesaan menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.
 

LBW is brith weight less than 2500 grams (up to 2499 grams). LBW can cause prenatal death and pain, and increase the risk of causing non-communicable diseases. The proportion of LBW in Indonesia from the 2007 IDHS period, 2012, 2017 was stable and there was no different from 2007 to 2017. Unwanted pregnancies became one of the risk factors for LBW. Unwanted pregnancy is a pregnancy that occurs outside of planning. Because a husband or wife partner cannot use contraception, there is no access to family planning services which causes pregnancy, while the physical or psychological condition of the partner is not ready and rejects the pregnancy. The proportion of unwanted pregnancies in the 2007, 2012, 2017 IDHS period is stable.
 
This research discusses the expected research on rural and urban LBW events in Indonesia based on the IDHS 2017 secondary data. This study uses data from the Indonesian Demographic and Health Survey (SDKI) 2017. The sample of this study was a study of life in 5 years before the survey with reports on birth weight which weighs less than 2500 grams and resides in rural or urban areas in Indonesia.
 
The results of this study are that the proportion of undesirable events in Indonesia is 7.6% with 8.9% in urban areas, 6.3% in rural areas. In urban areas, pregnancy needs to be more for LBW after controlled by variable levels of education, complications of pregnancy, and parity.
 
The results of multivariate analysis with statistics on the category of pregnancies with LBW in urban areas show a not significant relationship. In BPLR, after being controlled by economic level variables, complications, and ANC visits. The results of multivariate analysis based on statistics on the category of pregnancies with LBW in rural areas showed a not significant relationship.
 
 
Read More
S-9896
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ira Marti Ayu; Ppembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Asri C. Adisasmita, Nani Dharmasetiawani, Erna Mulati
Abstrak: Secara Global, penurunan NMR selama 2 dekade terakhir lebih lambatdibandingkan Under Five Mortality Rate (U5MR). Kematian neonatalmenyumbang lebih dari 1/3 kematian anak dibawah 5 tahun, 2/3 pada kematianbayi, serta ¾ kematian neonatal terjadi diminggu pertama kehidupannya. Daridata SDKI, angka kematian neonatal pada tahun 2012 sebesar 19 per 1000kelahiran hidup dan angka ini tidak mengalami penurunan dari SDKI 2007.Pemeriksaan pertama bayi baru lahir merupakan salah satu intervensi yang costeffective dan cost-efficient untuk meningkatkan kelangsungan hidup neonatalsehingga bisa dilakukan di negara-negara low and middle income, termasuk diIndonesia.Penelitian ini bertujuan untuk melihat efek waktu pemeriksaan pertamabayi baru lahir terhadap kelangsungan hidup neonatal. Penelitian menggunakandata SDKI 2002-2003, 2007, dan 2012. Desain studi yang digunakan yaitu cohortretrospective, dengan melihat hubungan menggunakan analisis survival.Bayi baru lahir yang diperiksa >24 jam-7 hari dan tidak diperiksa ataudiperiksa >hari ke-7 tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kematianneonatal (HR:0,41 95% CI: 0,16-1,03; HR:0,73 95% CI:0,51-1,05). Untukmeningkatkan waktu pemeriksaan pertama ≤24 jam perlu ditingkatkan kunjunganANC sesuai standar, bersalin di fasilitas kesehatan, dan ditolong oleh tenagakesehatan.Kata kunci : Kelangsungan hidup, neonatal, waktu pemeriksaan pertama.
Read More
T-4578
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dini Putri Komalasari; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Helda, Ning Sulistiyowati
Abstrak:
Penurunan kematian perinatal perlu terus dipertahankan untuk meraih target Sustainable Development Goals 2030 sebagai bentuk dukungan terhadap target penurunan angka KIA yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor yang berpengaruh terhadap kematian perinatal. Penelitian dilakukan di Indonesia menggunakan data sekunder SDKI 2017. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan analisis bivariat. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara berat bayi saat dilahirkan (PR 4,27; 95% CI 2,92-6,25), tipe gestasi (PR 5,88; 95% CI 2,96-11,70), ukuran bayi saat lahir (PR 4,84; 95% CI 3,41-6,87), pendidikan ibu (PR 4,30; 95% CI 1,94-9,50), usia ibu saat melahirkan (PR 1,92; 95% CI 1,42-2,60), paritas (PR 1,76; 95% CI 1,32-2,35), komplikasi kehamilan (PR 2,01; 95% CI 1,40-2,88), komplikasi persalinan (PR 1,62; 95% CI 1,08-2,45), pekerjaan ibu (PR 1,39; 95% CI 1,03-1,87), penggunaan tembakau (PR 2,12; 95% CI 1,09-4,11), antenatal care (PR 4,10; 95% CI 2,99-5,63), vaksinasi tetanus toxoid (PR 1,91; 95% CI 1,31-2,77), suplementasi zat besi (PR 1,93; 95% CI 1,31-2,86), akses toilet (PR 1,48; 95% CI 1,10-2,00), dan terpapar internet (PR 1,51; 95% CI 1,10-2,10) dengan kematian perinatal. Pengetahuan mengenai faktor-faktor yang berhubungan ini bisa menjadi informasi dasar terkini dalam kejadian kematian perinatal di Indonesia.

The decline of perinatal mortality in Indonesia needs to be preserved to achieve Sustainable Development Goals 2030 as an underpinning process of reducing maternal and child death numbers that has been a public health issue. The objective of this research is to determine associated factors of perinatal mortality. This research is conducted with a cross-sectional design and bivariate analysis. Results shown that there are statistically-significant association between birth weight (PR 4,27; 95% CI 2,92-6,25), gestational type (PR 5,88; 95% CI 2,96-11,70), size at birth (PR 4,84; 95% CI 3,41-6,87), mother’s education (PR 4,30; 95% CI 1,94-9,50), mother’s age on labor (PR 1,92; 95% CI 1,42-2,60), parity (PR 1,76; 95% CI 1,32-2,35), pregnancy complication (PR 2,01; 95% CI 1,40-2,88), complications during labor (PR 1,62; 95% CI 1,08-2,45), mother’s occupation (PR 1,39; 95% CI 1,03-1,87), tobacco usage (PR 2,12; 95% CI 1,09-4,11), antenatal care (PR 4,10; 95% CI 2,99-5,63), tetanus toxoid vaccination (PR 1,91; 95% CI 1,31-2,77), iron supplementation (PR 1,93; 95% CI 1,31-2,86), toilet access (PR 1,48; 95% CI 1,10-2,00), and internet exposure (PR 1,51; 95% CI 1,10-2,10) to perinatal death. This additional knowledge is an updated version of basic information in perinatal death occurence in Indonesia.
Read More
S-11528
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive