Ditemukan 36499 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Fransiska Yuniati Demang; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Soedarto Ronoatmodjo, Nurhalia Afriana, Rahmawati
Abstrak:
Tes HIV merupakan gerbang utama dalam rangkaian penanganan kasus HIV. Diketahuinya status HIV seseorang akan meningkatkan upaya pencegahan pada orang yang belum terinfeksi HIV dan membantu orang yang terinfeksi untuk segera mengakses layanan pengobatan. Berdasarkan laporan STBP tahun 2015 Lelaki potensial berisiko tinggi merupakan kelompok kunci yang memiliki prevalensi tes HIV paling rendah. Orang yang memiliki persepsi berisiko tertular penyakit akan cenderung untuk mengakses layanan kesehatan untuk mengetahui status kesehatannya, dan persepsi berisiko tertular HIV diduga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi seseorang melakukan tes HIV. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi. Penelitian ini merupakan analisis data sekunder STBP tahun 2015. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan jumlah sampel sebanyak 4.898 orang yang diambil dari 12 kab/kota di Indonesia. Hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada pengaruh persepsi berisiko tertular HIV terhadap perilaku tes HIV pada lelaki potensial berisiko tinggi dengan (OR: 0.9 and 95% CI 0.5-1.5).
Read More
T-4960
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sonda Nur Assyaidah; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Toha Mohaimin, Ahmad Syafiq, Nurhalina Afriana, Ovi Norfiana
Abstrak:
Industri jasa layanan seks ada di Indonesia dan dikenal sebagai sumber penularan HIV dan IMS. Upaya pencegahan penularan HIV salah satunya melalui tes HIV. Tes HIV dapat memperluas layanan HIV yang meliputi perawatan, dukungan, dan pengobatan pada waktu yang tepat. Akan tetapi, masih banyak WPS yang belum bersedia memanfaatkan pelayanan tes HIV padahal tes ini sudah disediakan gratis begitu pula dengan pengobatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan komprehensif HIV/AIDS dan persepsi berisiko terkena HIV terhadap pemanfaatan layanan tes HIV pada WPS baik WPSL maupun WPSTL di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian mix method (kuantitatif dan kualitatif) dengan desain Sequential Explanatory. Sampel pada penelitian ini adalah WPS berjumlah 447 orang dan 12 informan. Terdapat variasi pengaruh pengetahuan dan persepsi terhadap pemanfaatan layanan tes. Pengetahuan komprehensif mempunyai faktor proteksi 0,50 kali untuk memanfaatkan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki pengetahuan komprehensif lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki pengetahuan komprehenshif. Sedangkan persepsi berisiko terkena HIV mempunyai faktor proteksi 0,48 kali untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV. Artinya, WPS yang tidak memiliki persepsi berisiko terkena HIV lebih berpeluang untuk melakukan pemanfaatan layanan tes HIV, dibandingkan dengan WPS yang memiliki persepsi berisiko terkena HIV.
Kata kunci : Pemanfaatan Layanan, Tes HIV, Wanita Pekerja Seks
Sex services industry is in Indonesia and known as a source of HIV and STI transmission.Prevention of HIV transmission one of them is HIV testing. HIV testing can expand HIV services that include care, support, and treatment in a timely manner. However, there are still many FSWs who are not willing to take advantage of HIV testing services, whereas this test has been provided free of charge as well as the treatment. This study aims to determine relationship between comprehensive knowledge of HIV/AIDS and risk perceptions of HIV to the use HIV testing services in WPS both WPSL and WPSTL in DKI Jakarta. This research is mix method (quantitative and qualitative) with Sequential Explanatory design. Samples in this study were WPS amounted to 447 people and 12 informants. There are variations in the influence of knowledge and perceptions on the utilization of test services. Comprehensive knowledge of HIV/AIDS has a protection factor of 0.50 times to take advantage of HIV testing services. That is, WPS who do not have comprehensive knowledge of HIV/AIDS more likely to make use of HIV testing services, compared with WPS with comprehensive knowledge of HIV/AIDS. While risk perceptions of HIV have a protection factor of 0.48 times to make use of HIV testing services. That is, WPS who do not have perceptions at risk of HIV are more likely to utilize HIV testing services, compared to female sex workers who have a risk perception of HIV.
Keywords: Service Utilization, HIV Test, Female Sex Worker
Read More
Kata kunci : Pemanfaatan Layanan, Tes HIV, Wanita Pekerja Seks
Sex services industry is in Indonesia and known as a source of HIV and STI transmission.Prevention of HIV transmission one of them is HIV testing. HIV testing can expand HIV services that include care, support, and treatment in a timely manner. However, there are still many FSWs who are not willing to take advantage of HIV testing services, whereas this test has been provided free of charge as well as the treatment. This study aims to determine relationship between comprehensive knowledge of HIV/AIDS and risk perceptions of HIV to the use HIV testing services in WPS both WPSL and WPSTL in DKI Jakarta. This research is mix method (quantitative and qualitative) with Sequential Explanatory design. Samples in this study were WPS amounted to 447 people and 12 informants. There are variations in the influence of knowledge and perceptions on the utilization of test services. Comprehensive knowledge of HIV/AIDS has a protection factor of 0.50 times to take advantage of HIV testing services. That is, WPS who do not have comprehensive knowledge of HIV/AIDS more likely to make use of HIV testing services, compared with WPS with comprehensive knowledge of HIV/AIDS. While risk perceptions of HIV have a protection factor of 0.48 times to make use of HIV testing services. That is, WPS who do not have perceptions at risk of HIV are more likely to utilize HIV testing services, compared to female sex workers who have a risk perception of HIV.
Keywords: Service Utilization, HIV Test, Female Sex Worker
T-5423
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Retna Dewi; Pembimbing: Luknis Sabri; Penguji: Ella N. Hadi, Nedi Rohendi
S-6462
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ririn Febriana Anggraeni; Pembimbing: Pandu Riono; Penguji: Muhammad Noor Farid, Ratna Djuwita, Nurhalina Afriana
Abstrak:
Latar belakang: Hubungan seks yang berisiko menularkan HIV adalah hubunganseks dengan banyak pasangan dan berganti-ganti pasangan yang sebagian besardidominasi dengan hubungan seks komersial, baik pada kelompok heteroseksualmaupun pada kelompok homoseksual atau sejenis. Kelompok yang palingberisiko tertular HIV adalah kelompok homoseksual dan biseksual yang biasadikategorikan sebagai lelaki seks lelaki atau disebut LSL. Di banyak bagianwilayah, HIV di kalangan LSL muncul dengan penularan HIV yang sangat cepat.
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tahu status HIVterhadap penggunaan kondom konsisten pada LSL di Yogyakarta dan Makassardan melihat adakah perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan non RDS terhadap indikator program. Penelitian ini menggunakan data STBP2013.
Hasil: Dari hasil analisis diperoleh bahwa di Yogyakarta ada pengaruh tahu statusHIV terhadap penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 6,6 dan 95% CI2,1-20,9, sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIVdengan penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 1,6 dan 95% CI 0,6 -4,4. Ada perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan nonRDS terhadap indikator program.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh tahu status HIV dengan penggunaan kondomkonsisten pada lelaki yang seks dengan lelaki di Yogyakarta sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIV dengan penggunaankondom konsisten. Terdapat perbedaan hasil analisis dengan menggunakanmetode RDS dan non RDS terhadap indikator program
Kata kunci: LSL, status HIV, kondom konsisten
Introduction : Sex which higher risk of spreading HIV is sex with multiplepartners and change partners that is largely dominated by commercial sex, eitheron the heterosexual and homosexual group, or similar sexual behaviour. Groupsmost at risk of contracting HIV is a group of homosexual and bisexual men arecommonly categorized as men sex with men, or so-called MSM. In many parts ofthe region, HIV among MSM appears with HIV infection very quickly.
Methods: This study aimed to determine the effect knowing their HIV statustoward consistency condom use in MSM in Yogyakarta and Makassar and to seethe differences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.This study uses data IBBS 2013.
Summary: From the results of the analysis showed that in Yogyakarta there wasan effect Yogyakarta of knowing HIV status toward consistency condom use withan OR of 6,6 and 95%CI 2,1-20,9. while in Makassar unclear knowing HIV statustoward consistent condom use with an OR of 1.6 and 95% CI 0,6 - 4,1. There isdifferences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.
Conclusion: There is Influence of knowing HIV Status to consistent Condom usein Yogyakarta while in Makassar unclear knowing HIV status toward consistentcondom use. There is differences between analysis using RDS and non RDS toindicator of program.
Kata kunci: MSM, HIV status, condom consistent
Read More
Metode: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh tahu status HIVterhadap penggunaan kondom konsisten pada LSL di Yogyakarta dan Makassardan melihat adakah perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan non RDS terhadap indikator program. Penelitian ini menggunakan data STBP2013.
Hasil: Dari hasil analisis diperoleh bahwa di Yogyakarta ada pengaruh tahu statusHIV terhadap penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 6,6 dan 95% CI2,1-20,9, sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIVdengan penggunaan kondom konsisten dengan OR sebesar 1,6 dan 95% CI 0,6 -4,4. Ada perbedaan hasil analisis dengan menggunakan metode RDS dan nonRDS terhadap indikator program.
Kesimpulan: Terdapat pengaruh tahu status HIV dengan penggunaan kondomkonsisten pada lelaki yang seks dengan lelaki di Yogyakarta sedangkan di Makassar belum dapat diketahui pengaruh tahu status HIV dengan penggunaankondom konsisten. Terdapat perbedaan hasil analisis dengan menggunakanmetode RDS dan non RDS terhadap indikator program
Kata kunci: LSL, status HIV, kondom konsisten
Introduction : Sex which higher risk of spreading HIV is sex with multiplepartners and change partners that is largely dominated by commercial sex, eitheron the heterosexual and homosexual group, or similar sexual behaviour. Groupsmost at risk of contracting HIV is a group of homosexual and bisexual men arecommonly categorized as men sex with men, or so-called MSM. In many parts ofthe region, HIV among MSM appears with HIV infection very quickly.
Methods: This study aimed to determine the effect knowing their HIV statustoward consistency condom use in MSM in Yogyakarta and Makassar and to seethe differences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.This study uses data IBBS 2013.
Summary: From the results of the analysis showed that in Yogyakarta there wasan effect Yogyakarta of knowing HIV status toward consistency condom use withan OR of 6,6 and 95%CI 2,1-20,9. while in Makassar unclear knowing HIV statustoward consistent condom use with an OR of 1.6 and 95% CI 0,6 - 4,1. There isdifferences between analysis using RDS and non RDS to indicator of program.
Conclusion: There is Influence of knowing HIV Status to consistent Condom usein Yogyakarta while in Makassar unclear knowing HIV status toward consistentcondom use. There is differences between analysis using RDS and non RDS toindicator of program.
Kata kunci: MSM, HIV status, condom consistent
T-4406
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Agustin; Pembimbing: Ella N. Hadi; Penguji: Mieke Savitri, Indang Trihandini, Fajrinayanti, Sarikasih Harefa
Abstrak:
Pengetahuan komprehensif HIV/AIDS merupakan pengetahuan mengenai penularan dan pencegahan HIV/AIDS yang dijabarkan melalui 5 komponen pengetahuan, yaitu ; HIV/AIDS dapat dicegah dengan berhubungan seksial dengan suami/istri saja (tidak berhubungan seks dengan banyak pasangan), HIV/AIDS dapat dicegah dengan menggunakan kondom, HIV/AIDS tidak dapat menular lewat penggunaan alat makan/minum bersama penderita, HIV/AIDS tidak dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk/serangga, tidak dapat mengenali ODHA hanya dengan melihat tampilan fisik saja. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja di Indonesia. Disain penelitian adalah cross- sectional, dengan menggunakan data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku tahun 2015. Jumlah responden adalah sebanyak 5250 orang. Hasil uji regresi logistik ganda pada penelitian ini menunjukkan hasil bahwa proporsi remaja dengan pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS adalah sebanyak 18,7% dengan 5,6% remaja dengan perilaku pernah berhubungan seksual pra nikah, serta terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan komprehensif tentang HIV/AIDS dengan perilaku seksual pra nikah pada remaja, dengan nilai p=0,041 setelah dikontrol jenis kelamin, pendidikan ayah, dan intervensi sekolah.
Kata kunci: HIV / AIDS; STBP 2015; Cross-Sectional; Pengetahuan Komprehensif; Perilaku Seksual Pra Nikah
A comprehensive knowledge of HIV / AIDS is a knowledge of transmission and prevention of HIV / AIDS, which is translated into 5 components of knowledge, namely; HIV / AIDS can be prevented by having sex with husband / wife only (no sex with multiple partners), HIV / AIDS can be prevented by using condoms, HIV / AIDS can not be transmitted through the use of cutlery with the patient, HIV / AIDS is not Can be transmitted through mosquito bites / insects, can not recognize people living with HIV just by looking at the physical appearance only. This study was conducted to determine the relationship between comprehensive knowledge about HIV / AIDS with pre-marital sexual behavior in adolescents in Indonesia. The study design was cross-sectional, using the Biological Integrated Surveys and Behavior data of 2015. The number of respondents was 5250 people. The results of multiple logistic regression tests in this study showed that the proportion of adolescents with comprehensive knowledge about HIV / AIDS was 18.7% with 5.6% of adolescents with pre-marital sexual behavior, and there was a significant relationship between comprehensive knowledge about HIV / AIDS with pre-marital sexual behavior in adolescents, with p = 0.041 after controling by sex, father education, and school intervention.
Keyword : HIV/AIDS; STBP 2015; Cross-Sectional; Comprehensive Knowledge; Pre Marital Sexual Behavior.
Read More
Kata kunci: HIV / AIDS; STBP 2015; Cross-Sectional; Pengetahuan Komprehensif; Perilaku Seksual Pra Nikah
A comprehensive knowledge of HIV / AIDS is a knowledge of transmission and prevention of HIV / AIDS, which is translated into 5 components of knowledge, namely; HIV / AIDS can be prevented by having sex with husband / wife only (no sex with multiple partners), HIV / AIDS can be prevented by using condoms, HIV / AIDS can not be transmitted through the use of cutlery with the patient, HIV / AIDS is not Can be transmitted through mosquito bites / insects, can not recognize people living with HIV just by looking at the physical appearance only. This study was conducted to determine the relationship between comprehensive knowledge about HIV / AIDS with pre-marital sexual behavior in adolescents in Indonesia. The study design was cross-sectional, using the Biological Integrated Surveys and Behavior data of 2015. The number of respondents was 5250 people. The results of multiple logistic regression tests in this study showed that the proportion of adolescents with comprehensive knowledge about HIV / AIDS was 18.7% with 5.6% of adolescents with pre-marital sexual behavior, and there was a significant relationship between comprehensive knowledge about HIV / AIDS with pre-marital sexual behavior in adolescents, with p = 0.041 after controling by sex, father education, and school intervention.
Keyword : HIV/AIDS; STBP 2015; Cross-Sectional; Comprehensive Knowledge; Pre Marital Sexual Behavior.
T-3672
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Amalia Marina; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Popy Yuniar, Rizky Hasby
Abstrak:
Read More
Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku seksual yang membuat seseorang berisiko mengalami infeksi menular seksual seperti HIV. Salah satu populasi kunci yang sering terabaikan adalah kelompok Transpuan (Transgender Perempuan), mereka memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi HIV karena sering melakukan hubungan seks anal tanpa kondom. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Tranpuan. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data sekunder Survey Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun 2015 dan 2018. Metode analisis yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi perilaku seks berisiko pada kelompok Transpuan secara keseluruhan menurun dari tahun 2015 ke tahun 2018 sebesar 14,9%. Mayoritas Transpuan dalam penelitian ini berusia ≥ 25 Tahun, memiliki Tingkat Pendidikan yang rendah, tidak memiliki pengetahuan tentang HIV, dan tidak mengkonsumsi NAPZA dan alcohol. Hasil analisis statistic menunjukkan bahwa Pendidikan (p=0,003; CI 95%: 1,057 – 2,387), pengetahuan (p=0,001; CI 95%: 1,530 – 2,521), penggunaan NAPZA (p=0,046; CI 95%: 1,068 – 5,113, dan konsumsi alcohol (p=0,013; CI 95%: 1,080 – 1,801 mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada kelompok Transpuan.
Risky sexual behaviour is sexual behaviour that puts a person at risk of sexually transmitted infections such as HIV. One of the key populations that is often overlooked is the Transgender Women, they have a higher risk of HIV infection because they often have anal sex without a condom. This study aims to determine the factors that influence risky sexual behaviour in the Transgender. The research design used was Cross Sectional, using secondary data from the Integrated Survey of Biology and Behaviour (STBP) in 2015 and 2018. The analysis method used was the chi-square test. The results showed that the prevalence of risky sexual behaviour in the Transgender as a whole decreased from 2015 to 2018 by 14.9%. The majority of Transwomen in this study were ≥ 25 years old, had a low level of education, did not have comprehensive knowledge about HIV, and did not consume drugs and alcohol. Statistical analysis showed that education (p=0.003; 95% CI: 1.057 - 2.387), knowledge (p=0.001; 95% CI: 1.530 - 2.521), drug use (p=0.046; 95% CI: 1.068 - 5.113, and alcohol consumption (p=0.013; CI 95%: 1.080 - 1.801) influenced the risky sexual behaviour of the Transgender.
S-11702
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rita Damayanti; Promotor: Hadi Pratomo; Ko-promotor: Sarlito Wirawan Sarwono; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Adang Bachtiar, Ali Nina Liche Chairy, Seniaty, Irwanto, Purnawan Junadi, Sidijanto Kamso
D-198
Depok : FKM-UI, 2007
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wafda Ardhian Latansyadiena; Pembimbing: Sudijanto Kamso, Kemal Siregar; Penguji: Artha Prabawa, Andi Sari Bunga Untung
Abstrak:
Tesis ini membahas pengaruh media terhadap perilaku seksual pada remaja di Indonesia usia 15 - 24 tahun erilaku seksual tanpa adanya ikatan pernikahan merupakan perilaku seksual berisiko dan menjadi prediktor kuat kesehatan seksual buruk di masa depan. Pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Namun, fenomena ini tidak sejalan dengan output yang diharapkan, yaitu berkurangnya perilaku seksual berisiko pada remaja. Media menjadi sumber informasi kesehatan yang kuat karena mampu memberikan gambaran yang menarik. Disisi lain, remaja merupakan pengguna utama media massa, terutama internet. entingnya pengoptimalan media internet, khususnya media sosial, sebagai sumber informasi edukasi kesehatan, serta memfasilitasi layanan interaktif agar meminimalkan persepsi berisiko atas informasi yang didapatkan oleh remaja
Read More
T-6011
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Poppy Endriyati; Pembimbing: Indang Trihandini; Penguji: Toha Mohaimin, Sudijanto Kamso. Trio Taufik Edwin T., Sarikasih Harefa
T-5398
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nurlaela; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Pegnuji: Yovsyah, Usep Solehudin
S-7957
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
