Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34148 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nenden Hikmah Laila; Pembimnbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Krianto, Krisnawati Bantas, Lilin Darmiyanti, Armelia Rahmi Kartika Dini
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia. Keluarga-keluarga di Indonesia melakukan tindakan sosial yang represif terhadap anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Proporsi rumah tangga yang pernah memasung anggota rumah tangga (ART) gangguan jiwa berat sebesar 14,3 persen dan terbanyak pada rumah tangga di perdesaan. Di Jawa Barat prevalensi gangguan jiwa berat sebesar 1,6 per mil. Di Kabupaten Bogor pada tahun 2012-2016 pemasungan terlapor sebanyak 4%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko perilaku memasung pada keluarga penderita skizofrenia di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan Mixed Method dengan desain studi unmatched case control dan pendekatan Exploratory. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor pada bulan Mei-Juni Tahun 2017. Definisi kasus pada penelitian ini adalah penderita Skizofrenia yang sedang/pernah pasung. Sedangkan kontrol yaitu penderita Skizofrenia yang tidak pernah pasung. Sampel kasus untuk penelitian kuantitatif adalah 114 orang, sedangkan kontrol yaitu 136. Metode pemilihan sampel menggunakan multistage sampling. Penelitian kualitatif melibatkan 12 key informant. Analisis data dilakukan dengan analisis bivariate dengan uji chisquare dan analisis multivariate dengan uji regresi logistic. Ada hubungan antara perilaku agresif destruktif penderita (OR 4,49; 95% CI 2,52 8,00), keluarga yang tidak bekerja (OR 2,74; 95% CI 1,09 - 6,90) dan keluarga yang bekerja di sektor informal (OR 2,54; 95% CI 1,10 5,84) dan sikap negatif keluarga (OR 2,52; 95% CI 1,43 4,43) dengan perilaku memasung. Persepsi pasung menurut keluarga dan masyarakat adalah sebagai jalan keluar terbaik dan merupakan alternative satu-satunya. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan terapi secara rutin, program pemberdayaan eks penderita dan mendorong keluarga untuk merawat penderita dengan penuh kasih sayang. Kata kunci: Skizofrenia, pasung, agresif destruktif, diskursus Schizophrenia is a severe mental disorder that affects more than 21 million people worldwide. Families in Indonesia take repressive social measures against the madness of their family members. The proportion of households who have had mental disorders was 14.3 percent and most were from rural households. In West Java, severe mental disorders prevalence is 1.6 per 1000 population. Pasung prevalence in Bogor District in 2012-2016 is 4 percentage. This study aims to determine risk factor of family members of schizophrenia patient for pasung in Bogor District West Java Province In 2017. This research used unmatched case control design and exploratory approach. The study was conducted in Bogor District from May to June 2017. Cases were Schizophrenia patients who are in pasung, controls were Schizophrenia patients without pasung. There were 114 cases and 136 controls for the unmatched case control study. Qualitative research involved 12 key informants. Data analysis was done by bivariate analysis using chi-square and multivariate analysis with logistic regression. Aggressive destructive behavior (OR 4.49, 95% CI 2.52 - 8.00), Family unemployment (OR 2.74, 95% CI 1.09 - 6.90) and family with informal employment (OR 2.54, 95% CI 1.10 - 5.84), and family attitude (OR 2.52, 95% CI 1.43 - 4.43) toward schizophrenia patient were associated with pasung. Pasung perception by family and society is the best way out and there is the only alternative. Prevention efforts can be done by getting medical treatment routinely, empowerment program for ex patient to return to work, and encourage families to caring patients with affection. Keywords: Schizophrenia, pasung, aggressive destructive, discourse
Read More
T-5079
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evawangi; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Dadan Erwandi, Renti Mahkota, Yuniar Pukuk Kesuma, Eulis Wulantari
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan berat yang mempengaruhi pemikiran, perasaan, dan perilaku seseorang. Di Indonesia, prevalensi skizofrenia adalah 1,7 per 1.000 populasi. Jumlah kunjungan gangguan jiwa di puskesmas Kabupaten Bogor telah meningkat secara signifikan dari 1.648 menjadi 13.390 pada tahun 2013-14. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia di Kabupaten Bogor tahun 2017. Studi kasus kontrol tidak berpasangan dilakukan di 63 puskesmas Kabupaten Bogor mulai Mei-Juni 2017. Kasus adalah penderita skizofrenia yang berusia 15-50 tahun yang didiagnosis oleh dokter / spesialis dan dicatat dalam register pasien puskesmas kabupaten Bogor pada tahun 2017. Kontrol Adalah orang sehat berusia 15-50 dan berdomisili di Kabupaten Bogor. Sebanyak 229 kasus dan 229 kontrol dipilih dengan teknik multistage sampling. Probability proportional to size digunakan untuk menentukan jumlah sampel dari masing-masing puskesmas. Kuesioner semi terstruktur yang telah diuji sebelumnya digunakan untuk mengumpulkan data yang relevan dari kontrol dan salah satu anggota keluarga kasus. Test Chi Square dan regresi logistik multivariat diterapkan untuk analisis data. Faktor-faktor yang berhubungan dengan skizofrenia: jenis kelamin laki-laki (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4,96 -27.50), riwayat keluarga skizofrenia (AdjOR: 4.02; 95% CI: 1,90-8,48), pendidikan dasar AdjOR: 30,63; 95% CI: 4.21-222.81), pendidikan menengah (AdjOR: 25,35; 95% CI: 3,51-182.90), pengangguran (AdjOR: 5,6; 95% CI 2,52-12,45), tidak menikah (AdjOR: 8,20; 95% CI 2,52-12,45), masalah dalam keluarga (AdjOR: 4,93; 95% CI 2,43-9,99) dan masalah di tempat kerja / sekolah (AdjOR: 32.60; 95% CI 7.29 - 145.76 ). Dalam studi ini, faktor biologis (laki-laki dan riwayat keluarga skizofrenia), sosio-demografi (tingkat pendidikan rendah, tidak bekerja dan tidak menikah) dan faktor lingkungan (masalah dalam keluarga dan tempat kerja/sekolah) berhubungan dengan skizofrenia. Studi analitis prospektif diperlukan untuk mengeksplorasi lebih jauh hubungan ini.

Kata kunci: Skizofrenia, kasus kontrol, Kabupaten Bogor

Schizophrenia is a a chronic and severe mental disorder that affects thinking, feeling, and behavior of a person. In Indonesia, the prevalence of schizophrenia is 1.7 per 1,000 populations. The number of visits of mental disorders in puskesmas of Bogor Regency has increased significantly from 1,648 to 13,390 in 2013-14. This study aimed to determine the factors associated with schizophrenia in Bogor Regency 2017. An unmatched case-control was conducted in 63 health centers of Bogor regency from May-June 2017. Cases were schizophrenic patient aged 15-50 years diagnosed by physicians/specialists and recorded in the register of Bogor district health centers in 2017. Controls were the healthy people aged 15-50 and domiciled in Bogor Regency. A total of 229 cases and 229 controls were selected by multistage sampling technique. Probability proportional to size was usedto determine the number of samples from each puskesmas. A pre-tested semi structured questionnaires was used to collect relevant data from controls and one of the family members of cases. Chi square test and multivariate logistic regression were applied for data analysis. Folowing factors were associated with schizophrenia: male gender (AdjOR: 11.68; 95% CI: 4.96 -27.50), family history of schizophrenia (AdjOR: 4.02; 95 %CI: 1,90-8,48), basic education (AdjOR: 30.63; 95%CI: 4.21-222.81), secondary education (AdjOR: 25.35; 95% CI: 3.51-182.90), unemployed (AdjOR: 5.6; 95 %CI 2,52-12,45), unmarried (AdjOR: 10,20; 95%CI 2,52-12,45), problems in the family (AdjOR: 4.93; 95%CI 2.43-9.99) and problems at work / school (AdjOR: 32.60; 95%CI 7.29 - 145.76). In the study setting, biological (male and family history of schizophrenia),sociodemographic (low level of education, unemployment and unmarried) and environmental factors (problems in family, workplaceor school) were associated with schizophrenia. Prospective analytical studies are needed to further explore these associations.

Keywords: Schizophrenia, case control, Bogor district
Read More
T-5080
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Totok Sutianto; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Renti Mahkota, Eulis Wulandari, Yessi Desputri
Abstrak: Ibadah haji adalah ibadah dengan aktifitas fisik tinggi yang membutuhkan kebugaran fisik. Komponen penting kebugaran fisik yaitu kebugaran jantung-paru. Faktor risiko yang berpengaruh adalah usia, pendidikan, penyakit yang diderita, perilaku kesehatan, lingkungan sosial, sosial ekonomi dan psikologis. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi kebugaran jantungparu calon jemaah haji usia Desain penelitian adalah cross sectional dengan sumber data sekunder rekapitulasi Kabupaten Bogor Tahun 2017. Data diambil pada bulan Juli 2017, sebanyak 2.474 sampel terpilih dengan cara total population sample. Identifikasi variabel independen dan variabel dependen dilakukan berdasarkan data tersebut dan kemudian dilakukan analisis. Analisis yang digunakan yaitu Cox Regression. Pada penelitian ini prevalensi kebugaran jantung-paru kurang sebesar 27,2%. Prevalensi kebugaran jantung-paru kurang sebagian besar pada (43,8%), berjenis kelamin laki-laki (27,8%), berpendidikan rendah (31,6%), tidak bekerja (29,8%), status gizi normal (28,4%), hipertensi (46,7%) dan ada penyakit jantung-paru (43,1%). Kesimpulannya, faktor-faktor yang berhubungan bermakna terhadap kebugaran jantung-paru kurang adalah umur hipertensi, ada penyakit jantung-paru dan adanya variabel interaksi antara umur dengan tekanan darah. Calon jemaah haji, pada usia jika hipertensi memiliki risiko 1,54 kali mempunyai kebugaran jantung paru kurang dan jika tidak hipertensi memiliki risiko 2,52 kali mempunyai kebugaran jantung paru kurang. Kata kunci: kebugaran jantung-paru, umur, tekanan darah, penyakit jantung-paru Hajj is worship with high physical activity that requires physical fitness. An important component of physical fitness is cardiorespiratory fitness. Influential risk factors are age, education, illness, health behavior, social environment, socioeconomic and psychological. This study was conducted to determine the risk The research design is cross sectional with secondary data source of recapitulation result of first stage examination of pilgrims Regency 2017. Data taken in July 2017, as many as 2,474 selected samples by total population sample. Identification of independent variables and dependent variables is done based on the data and then analyzed. The analysis used is Cox Regression. In this study the prevalence of cardiorespiratory fitness was less than 27,2%. The prevalence of cardiorespiratory fitness was le ,8%), male sex (27,8%), low-educated (31,6%), non-employment (29,8%), normal nutritional status (28,4%), hypertension (46,7%) and cardiorespiratory disease (43,1%). In conclusion, factors related significantly to cardiorespiratory fitness are 60 years, hypertension, cardiorespiratory disease and the presence of variable interactions between age and blood pressure. Pilgrims candidate, at the age ension has a risk of 1,54 times have cardiorespiratory fitness less and if not hypertension has a risk of 2,52 times have less cardiorespiratory fitness. Keywords: cardiorespiratory fitness, age, blood pressure, cardiorespiratory disease
Read More
T-5076
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wardiman; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Bai Kusnadi
Abstrak:
Latar belakang: Pencapaian supresi viral load merupakan indikator keberhasilan terapi antiretroviral (ARV) sekaligus pilar ketiga target fast track 95-95-95. Kota Bogor mencatat capaian supresi viral load sebesar 67% pada tahun 2024, jauh di bawah target 95%. Belum diketahui secara komprehensif faktor-faktor yang memprediksi tidak tercapainya supresi tersebut, baik dari aspek kuantitatif maupun kualitatif. Metode: Penelitian menggunakan rancangan mixed methods dengan explanatory sequential design. Komponen kuantitatif menggunakan studi potong lintang (cross-sectional) terhadap 724 Orang Dengan HIV (ODHIV) dewasa (≥15 tahun) yang tercatat di SIHA 2.1 Dinas Kesehatan Kota Bogor tahun 2025 dan memiliki data viral load lengkap. Analisis dilakukan secara bivariat dan multivariat menggunakan regresi logistik. Komponen kualitatif dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap enam informan yang terdiri dari pemegang program HIV Dinas Kesehatan, LSM pendamping, dan ODHIV. Hasil: Proporsi supresi viral load sebesar 79%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa ketidakpatuhan konsumsi ARV merupakan prediktor kejadian viral load tidak tersupresi (aOR 90,11; 95% CI: 37,93–214,09), stadium klinis lanjut 3–4 (aOR 7,94; 95% CI: 3,24–19,48), regimen ARV lini 2 (aOR 2,91; 95% CI: 1,18–7,19), dan usia 25–34 tahun (aOR 4,51; 95% CI: 1,41–14,44). Kelompok LSL menunjukkan odds viral load tidak tersupresi yang lebih rendah dibandingkan bukan populasi kunci (aOR 0,18; 95% CI: 0,03–0,96), yang kemungkinan mencerminkan peran keterjangkauan layanan dan pendampingan komunitas pada kelompok yang teridentifikasi dalam sistem layanan. Temuan kualitatif mengidentifikasi stigma diri, kejenuhan terapi, beban efek samping lini 2, keterlambatan diagnosis, serta keterbatasan pendampingan sebagai faktor penghambat supresi. Kesimpulan: Pencapaian supresi viral load pada ODHIV di Kota Bogor dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, klinis, perilaku, dan kesiapan sistem layanan. Temuan ini menekankan perlunya intervensi yang tidak hanya berfokus pada konseling kepatuhan, tetapi juga memperkuat deteksi dini, pendampingan berbasis komunitas, tindak lanjut pasien dengan viral load tidak tersupresi, serta kesinambungan logistik ARV dan pemeriksaan viral load.

Background: Achieving viral load suppression is a key indicator of antiretroviral (ARV) therapy success and the third pillar of the 95-95-95 fast-track targets. Bogor City recorded a viral load suppression rate of only 67% in 2024, well below the 95% target. The factors predicting failure to achieve suppression have not been comprehensively identified, either quantitatively or qualitatively. Methods: This study employed a mixed-methods design with an explanatory sequential approach. The quantitative component used a cross-sectional study of 724 adult people living with HIV (PLHIV; ≥15 years) registered in SIHA 2.1 of the Bogor City Health Office in 2025 with complete viral load data. Bivariate and multivariate analyses were conducted using logistic regression. The qualitative component involved in-depth interviews with six informants comprising HIV program officers from the Health Office, supporting NGOs, and PLHIV. Results: The proportion of viral load suppression was 79%. Multivariate analysis identified ARV non-adherence as the strongest predictor of unsuppressed viral load (aOR 90.11; 95% CI: 37.93–214.09), followed by advanced clinical stage 3–4 (aOR 7.94; 95% CI: 3.24–19.48), second-line ARV regimen (aOR 2.91; 95% CI: 1.18–7.19), and age 25–34 years (aOR 4.51; 95% CI: 1.41–14.44). MSM had lower odds of unsuppressed viral load than non-key populations (aOR 0.18; 95% CI: 0.03–0.96), which may reflect better service reach and community support among MSM identified within the service system. Qualitative findings identified self-stigma, therapy fatigue, second-line side-effect burden, delayed diagnosis, and limited peer support as barriers to suppression. Conclusion: Viral load suppression among PLHIV in Bogor City is shaped by the interaction of individual, clinical, behavioral, and health-system factors. These findings highlight the need for interventions that go beyond adherence counseling by strengthening early detection, community-based support, follow-up for patients with unsuppressed viral load, and continuity of ARV and viral load testing logistics.
Read More
T-7509
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Santi Deliani Rahmawati; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Nana Mulyana
Abstrak: ABSTRAK
 
Pedoman WHO/UNICEF menyarankan bahwa menyusui harus dihindarkan seluruhnya hanya apabila makanan pengganti Acceptable (mudah diterima), Feasible (mudah dilakukan), Affordable (terjangkau), Sustainable (berkelanjutan), dan Safe (aman penggunaannya)/AFASS. ASI eksklusif diberikan selama 6 bulan untuk bayi lahir dari ibu yang HIV dan sudah dalam terapi ARV. Ibu terinfeksi HIV yang memilih memberi susu formula tanpa memenuhi kriteria AFASS paling berisiko terhadap penularan HIV dan kematian.
 
 
Penelitian menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk menganalisis faktor risiko yang mempengaruhi kepatuhan ibu terinfeksi HIV dalam pemberian nutrisi pada bayi 0 ? 6 bulan di Beberapa Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Barat tahun 2013. Penelitian ini melibatkan 229 subjek penelitian yang diambil dengan teknik multistage sampling. Dari analisis multivariat didapatkan pemberian ARV pada bayi merupakan faktor risiko yang paling dominan mempengaruhi kepatuhan ibu terinfeksi HIV dalam pemberian nutrisi pada bayi 0 ? 6 bulan (PR : 7,817 (95%CI 1,789 ? 34,152)) di samping pemberian terapi ARV pada ibu dan konseling tenaga kesehatan.
 
 
Disarankan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Jawa Barat untuk meningkatkan distribusi obat antiretroviral sehingga seluruh ibu terinfeksi HIV dan bayi yang lahir dari ibu terinfeksi HIV mempunyai akses yang lebih luas untuk mendapatkan obat antiretroviral dan meningkatkan program pelatihan bagi petugas kesehatan yang menjadi konselor HIV/AIDS mengenai pemberian konseling pra-laktasi agar ibu terinfeksi HIV dapat memilih nutrisi terbaik bagi bayinya dan konsisten dalam memberikan nutrisi yang telah dipilih.
 

ABSTRACT
 
WHO/UNICEF guideline recommends that the breastfeeding should be avoided only if replacement feeding is Acceptable (readily accepted), Feasible (easy to do), Affordable (easy to get), Sustainable (ongoing), and Safe (safe to use)/AFASS. Exclusive breastfeeding (ASI) is given for six (6) months to baby who is born from HIV-infected mother and in ARV therapy program. HIV-infected mother who choose to feed her baby with formula milk without fulfilling AFASS criteria has the greatest risk of HIV spreading/transmitting and death.
 
 
The research uses cross-sectional design that aims to analyze the risk factor affecting adherence HIV-infected mother in providing nutrition for 0-6 month?s infant of Some Regencies/Cities in West Java province on 2013. The research involves 229 subjects/persons who are taken by multistage sampling technique. From multivariate analysis is found that the provision of ARVs to the infant is the most dominant risk factor affecting adherence in HIV-infected mother in providing nutrition for 0-6 month?s infant (PR : 7,817 (95%CI 1,789 ? 34,152)) beside the provision of ARV therapy and counseling from maternal health workers.
 
 
The researcher suggested to the West Java Provincial Health Office and the Provincial AIDS Commission of West Java to improve the distribution of antiretroviral drugs so that all HIV-infected mothers and infants who are born from HIV-infected mother have greater access to get antiretroviral drugs and to improve training programs for health workers who will be the HIV/AIDS counselor about the pre-lactation counseling in order to HIVinfected mother can choose the best nutrition for her baby and be consistent in delivering or providing that nutrition.
Read More
T-3891
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Junaedi; Pemb. Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yovsyah, Eulis Wulantari, M. Sugeng Hidayat
T-3921
Depok : FKM UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Fikriyah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rahmadewi
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Sampel yang digunakan adalah balita berusia 0-59 bulan di Provinsi Jawa Barat yang terdata di SDKI 2017, dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 1.554 balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian diare pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2017 adalah sebesar 15,6% (242 balita). Hasil uji bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare adalah balita usia ≤ 1 tahun (OR 1,62; 95% CI 1,23-2,13; p=0,001), sarana sanitasi (OR 1,52; 95% CI 1,14-2,03; p=0,005), dan sumber air minum (OR 1,34; 95% CI 1,01-1,79; p=0,047). Salah satu cara untuk mencegah terjadinya diare pada balita adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Read More
S-10771
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sheila Stefani; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Yoan Hotnida Naomi Hutabarat
Abstrak:
Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah darurat kesehatan global, termasuk di negara Indonesia. Indonesia menduduki peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah penyintas DM terbanyak, yakni mencapai 19,5 juta penduduk dewasa (IDF, 2021). Berdasarkan laporan Riskesdas 2018, Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu provinsi yang mengalami lonjakan angka prevalensi dari tahun 2013 ke 2018, yakni dari 1,3% menjadi 1,7%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor risiko kejadian diabetes mellitus pada penduduk usia ≥ 35 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskesdas 2018 dengan desain studi cross-sectional. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa usia (p = 0,001), pekerjaan (p = 0,002), konsumsi makanan manis (p = 0,001), konsumsi minuman manis (p = 0,001), aktivitas fisik (p = 0,001), obesitas (p = 0,001), obesitas sentral (p = 0,001), hipertensi (p = 0,001), dan perilaku merokok (p = 0,001) berhubungan signifikan dengan kejadian DM. Diperlukan peran pemerintah untuk menggencarkan promosi kesehatan terkait pentingnya deteksi dini dan menerapkan pola hidup sehat kepada masyarakat, serta memfasilitasi masyarakat dalam mewujudkannya.

Diabetes mellitus (DM) is a non-communicable disease which is still a global health emergency problem, including in Indonesia. Indonesia is ranked 5th in the world with the highest number of DM survivors, reaching 19.5 million adults (IDF, 2021). Based on the 2018 Riskesdas report, West Java Province is one of the provinces that experienced an increase in prevalence from 2013 to 2018, from 1.3% to 1.7%. The purpose of this study was to identify risk factors for diabetes mellitus in people aged ≥ 35 years in West Java Province. This study uses secondary data from Riskesdas 2018 with a cross-sectional study design. The results of this study indicate that age (p = 0.001), occupation (p = 0.002), consumption of sweet foods (p = 0.001), consumption of sweet drinks (p = 0.001), physical activity (p = 0.001), obesity (p = 0.001 ), central obesity (p = 0.001), hypertension (p = 0.001), and smoking behavior (p = 0.001) were significantly associated with the incidence of DM. The government's role is needed to intensify health promotion related to the importance of early detection and implementing a healthy lifestyle for the community, as well as facilitating the community in making it happen.
Read More
S-11337
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marfin; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Nyoman Kandun
Abstrak: Latar belakang: Difteri merupakan penyakit menular akut yang disebabkan oleh corynebacterium Diphteriae yang dapat menyebabkan kematian. Dinas Kesehatan Kabupaten Garut melaporkan kasus difteri sebanyak 33 kasus dalam periode Desember 2017 Januari 2018. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan No. 1501 Tahun 2010, 1 kasus difteri merupakan Kejadian Luar Biasa. Riset ini bertujuan menggambarkan kasus difteri secara epidemiologi, melihat model fit untuk prediksi faktor yang berhubungan dengan kejadian difteri dan melihat efikasi Vaksin.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain kasus kontrol. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 121 responden dengan jumlah kasus 31 responden dan kontrol 90 responden. Penelitian ini dilakukan oleh Tim dari mahasiswa FETP FKM UI dan Dinas Kesehatan Kabupaten Garut yang dilaksanakan tanggal 6 9 Februari 2018 di 13 Puskesmas yang dilaporkan adanya kasus. Analisis data dilakukan dengan uji resgresi logistic untuk melihat nilai odds ratio menggunakan stata versi 14,2 di Laboratorium Komputer FKM UI.
Hasil: Pola KLB merupakan propagated epidemic yang terjadi pada umur 1 Tahun 71 Tahun. Kasus Primer terjadi pada minggu 48 Tahun 2017. Analisis multivariat fit model menunjukan status imunisasi berhubungan dengan kejadian difteri (Pvalue = 0,036; OR=3,5; 95% CI = 1,08-11,10) dan riwayat perjalanan berhubungan dengan kejadian difteri (Pvalue = 0,000; OR = 5,4; 95% CI = 2,08-13,93). Efikasi vaksin DPT, DT, Td sebesar 71,4%.
Kesimpulan dan saran: Telah terjadi penularan penyakit dari orang ke orang. Indeks case dan sumber penularan tidak diketahui karena mobilitas penduduk yang tinggi. Ada hubungan bermakna antara status imunisasi dan riwayat perjalanan dengan kejadian difteri. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Garut agar dapat Meningkatkan Kwalitas dan cakupan imunisasi DPT, DT, Td, Meningkatkan perbaikan pencatatan imunisasi dengan tertib, dan Meningkatkan koordinasi pelaporan dalam penemuan kasus baru dan karier
Read More
T-5470
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ika Rania Annisa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah; Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak: Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit yang termasuk ke dalam peringkat tiga tertinggi terkait penyebab kematian dan kecacatan pada anak-anak dan dewasa di seluruh dunia. Diestimasikan sekitar 4 juta kematian pada anak-anak usia di bawah 5 tahun (balita) setiap tahunnya akibat ISPA. Berdasarkan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Tahun 2017, Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi dengan persentase gejala ISPA pada balita tertinggi kedua di Pulau Jawa setelah Provinsi Banten (6,3%) yaitu sebesar 5,8%. Jika dibandingkan dengan data SDKI 2012, prevalensi kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat juga mengalami kenaikan dari 4,1% di Tahun 2012 menjadi 5,8% di tahun 2017. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor resiko yang berhubungan dengan gejala ISPA pada balita (6-59 bulan) di Provinsi Jawa Barat berdasarkan analisis data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional atau potong lintang dengan sampel yang bersumber dari data SDKI tahun 2017 sejumlah 1.356 responden balita usia 6-59 bulan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah prevalensi kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 51,3% dan faktor resiko yang berhubungan dengan kejadian gejala ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat adalah usia balita dan status ASI eksklusif.
Read More
S-10996
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive