Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33874 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mohammad Yani; Pembimbing: Mardiati Nadjib, Pujiyanto; Penguji: Ronnie Rivany, Hadisantosa, Susanto Hadi
T-2172
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sundoyo; Pembimbing: Jaslis Ilyas, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Bulan Rachmadhi, Riati Anggriani
Abstrak: Kesehatan adalah merupakan salah satu kebutuhan dasar bagi manusia, suatu saat pasti akan mengalami resiko sakit sehingga membutuhkan biaya besar. Banyak metode untuk mengatasi resiko, tetapi asuransi adalah cara yang paling tepat untuk dipergunakan dalam mengatasi resiko pembiayaan kesehatan.Baru sekitar 18 persen masyarakat Indonesia yang ikut asuransi kesehatan. PT. Askes adalah penyelenggara asuransi social, namun dalam perjalanannya PT. Askes juga menyelenggarakan program asuransi sukarela. Peserta PT Askes saat ini baru mencapai 15,38 juta orang terdiri dari 13,98 juta peserta wajib dan 1,4 juta peserta sukarela. PT.Askes cabang Bogor adalah salah satu cabang PT.Askes yang ada diseluruh Indonesia. Jumlah peserta asuransi sukarela PT.Askes cabang bagor sampai saat ini mencapai ………………………, Untuk pelayanan gigi berlubang peserta askes sukarela PT. Askes cabang Bogor berkerja sama dengan dokter gigi keluarga dengan system pembayaran Fee For Service (FFS). Sampai saat ini belum ada mekanisme dan tenaga verifikator untuk melakukan antisipasi terjadinya over utilisasi dalam pelayanan kesehatan gigi berlubang, sehingga belum diketahui jumlah kerugian PT.Askes Cabang Bogor akibat over utilisasi pelayanan gigi berlubang. Yang menjadi pertanyaan penelitian adalah berapa besar over utilisasi dalam pelayanan kesehatan gigi berlubang dan berapa besar kerugian PT.Askes akibat over Utilisasi. Penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitik dengan desain penelitian menggunakan crsoss-sectional, sedangkan analisis data menggunakan pendekatan univariat dan bivariat. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap dokumen klaim selama periode Januari – Juni 2005 terdapat 1354 kunjungan dengan over utilisasi 129 kali atau 9,53 %. Sementara PT.Askes Cabang Bogor telah melakukan pembayaran klaim sebesar Rp. 46.592.000,00 dari jumlah tersebut kerugian akibat over utilisasi adalah sebesar Rp. Rp.4.307.500,00 atau 9,25 %. Setelah diadakan uji statistik, dokter gigi laki-laki lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 68,99% , dengan kerugian PT.Askes sebesar Rp. 3.100.000. Sedangkan perempuan 31,01 % dengan kerugian PT.Askes sebesar Rp. 1.207.500.Dokter yang praktek di luar kota lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 58,91 % dengan jumlah kerugian PT.Askes sebesar Rp. 2.745.000. Dari segi lulusan dokter gigi tidak terjadi perbedaan terhadap over utilisasi baik dokter gigi yang lulusan PTN mapun PTS. Dokter gigi dengan umur > 50 tahun lebih banyak melakukan over utilisasi yaitu 72,09 dengan jumlah kerugian PT.Askes sebesar Rp. 3.170.000 Namun setelah diadakan uji statistik antara perbedaan rata-rata karakteristik dokter gigi keluarga ( Umur, Gender, Lokasi Praktek dan Lulusan) terhadap Over Utilisasi dan Kerugian PT.Askes Cabang Bogor tidak signifikan pada taraf signifikansi 0.05. Berdasarkan hasil penelitian ini disarankan, PT.Askes Cabang Bogor perlu mengembangkan suatu siatem dan mendidik tenaga verifikator guna mendeteksi terjadinya Over Utilisasi, sehingga kerugian PT.Askes Cabang Bogor akibat over utilisasi dapat di cegah. Daftar Pustaka : 23 ( 2000-2005)
Read More
T-2115
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ribka Ivana Sebayang; Pembimbing: Ascobat Gani; Penguji: Ronnie Rivany, Dedih Rudiana, Hetty Permatawati
Abstrak:

Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran karakteristik dan factor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas oleh keluarga miskin peserta JPKMM di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur Tahun 2005. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional dengan tujuan melihat hubungan ll variabel independent sikap petugas, keberadaan dokter, jam buka pelayanan, ketersediaan dan kecukupan obat, pendidikan, pengetahuan, persepsi sakit, persepsi tentang kualitas puskesmas,jarak, sarana transportasi dan biaya transport dengan pemanfaatan puskesmas. Responden pada penelitian ini adalah keluarga miskin peserta JPKMM yang tersebar di Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur dengan jumlah sample sebanyak 100 responden dari 5 desa yang dipilih secara acak sederhana. Penelitian ini memiliki banyak kelemahan antara lain jumlah responder; yang terbatas, reslko selection bias dan recall bias yang tinggi dibandingkan dengan penelitian kohort dan case control. Hasil penelitian menunjukkan bahwa factor sikap petugas, keberadaan dokter, pengetahuan, persespsi sakit dan persepsi tentang kualitas puskesmas berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas. Sementara factor jam buka pelayanan, ketersediaan dan kecukupan obat, pendidikan, jarak, sarana transportasi dan biaya transport tidak berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas. Dari kelima faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan puskesmas, ternyata sikap petugas, pengetahuan dan keberadaan dokter yang paling dominan hubungannya dengan pemanfaatan puskesmas dengan nilai OR masing-masing 10,261 ; 5,722 ; dan 3,481. Melihal hal diatas maka perlu ditingkatkan akses keluarga miskin terhadap pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Hal ini dapat ditingkatkan melalui pendekatan supply dan demand. Dari sisi supply adalah dengan cara mendekatkan akses keluarga miskin terhadap pelayanan kesehatan scpcrti penempatan dokter di puskesmas, adanya bidan di desa dan mengaktifkan kembali puskesmas keliling serta meningkatkan pemberdayaan masyarakat dengan melibalkan masyarakat menjadi fasilitator masyarakat dalam bidang kesehatan. Dari sisi demand adalah dengan meningkatkan pembinaan ke puskesmas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur dan penyuluhan-penyuluhan yang bemanfaat dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang JPKMM dan hak-haknya.


 

This research aims to gain a picture of the characteristics and factors related to the utilization of Primary Health Care service by poor families participated in HMSPC in Warungkondang sub district, Cianjur District in 2005. The research used the cross sectional metl1od in order to observe the relations of eleven independent variables considered reliable in the utilization of PHC service. These eleven variables are the attitude of service providers (officers, nurses, and doctors), doctor?s availability, the opening hours, medicines availability, education background (of the service users), perception of illness, perception of the quality of the service, distance, transportation methods and transport fees. The respondents of the research were the poor families who join the HMSPC in Warungkondang in Cianjur District. There are 100 respondents taken randomly from live villages in that sub district. However, this study has several flaws such as the limited number of respondents, high risks of selection and recall bias compared to research using cohort and case control. The research shows that the factors of the attitude of the service givers, doctors availability, knowledge, perceptions on illness and on the quality of the PHC are related to the utilization of the clinic. Whereas factors such as opening hours, medicines availability, education background, distance, means of transport and transportation fees are not related to the utililization of the health center. From the five related factors above, it appears that the attitude of service providers, knowledge and doctors? availability are the most dominant factors here, each with the following OR value: 10,261 (for attitude of service providers), 5,722 (for knowledge) and 3,481 (forthe doctor?s availability). Based on the finding above, it is necessary to improve the access of poor families in receiving, the basic health service in PHC, and this can be achieved through the supply and demand approach. By supplying, we bring the services closer to them such as providing doctors in PHC and midwives in villages, reactivating the mobile clinics and improving the empowemient of communities by involving them as health facilitators. On the demand, we can cultivate trainings in PHC by the Health Council of Cianjur District. and administer educational sessions for the community in order to improve their knowledge about HMSPC and their rights.

Read More
T-2454
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Erfan Chandra Nugraha; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Esti Widiastuti Mangunadikusumo, Donni Hendrawan
Abstrak:
Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit katastropik yang membebani pembiayaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) serta penderitanya terus meningkat. Akses peserta JKN dengan DM dalam memanfaatkan layanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL) masih dipandang banyak dimanfaatkan oleh segmen kepesertaan tertentu. Selain itu terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi akses layanan kesehatan di FKRTL. Tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis pemanfaatan layanan berdasarkan jenis kepesertaan serta mengkaji faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan pelayanan rawat jalan dan rawat inap tingkat lanjutan oleh peserta JKN penderita DM. Penelitian ini menggunakan data sekunder data sampel BPJS Kesehatan kontekstual DM tahun 2022. Data dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat dengan model regresi Zero Inflated Negative Binomial. Hasil uji statistik menunjukan pada rawat jalan, umur, jenis peserta, jenis kelamin, kelas rawat dan provinsi peserta signifikan berbeda dalam pemanfaatan layanan kesehatan sedangkan pada rawat inap, umur, kelas rawat dan provinsi peserta signifikan berbeda dalam pemanfaatan layanan kesehatan. Pengaruh jenis kepesertaan dalam program JKN berpengaruh signifikan terhadap pemanfaatan layanan di rawat jalan namun tidak berpengaruh signifikan pada rawat inap. Pemanfaatan peserta Non PBI lebih besar 1,16 kali dibandingkan peserta PBI pada rawat jalan.

Diabetes mellitus (DM) is a catastrophic disease that burdens the National Social Health Insurance Program (JKN) and sufferers continue to increase. Access for JKN participants with DM to utilize health services at Advanced Level Referral Health Facilities (FKRTL) is still widely seen as being used by certain participant segments. Apart from that, there are various factors that influence access to health services at FKRTL. The aim of this research is to analyze service utilization based on the type of membership and examine the factors that influence the utilization of advanced outpatient and inpatient services by JKN participants with DM. This research uses secondary data from the 2022 DM contextual BPJS Kesehatan sample data. The data was analyzed univariately, bivariately, and multivariately with the Zero Inflated Negative Binomial regression model. The statistical test results showed that in outpatient care, age, type of participant, gender, treatment class, and participant province were significantly different in terms of health service utilization, while in inpatient care, age, treatment class, and participant province were significantly different in terms of health service utilization. The influence of the type of maintenance in the JKN program has a significant effect on the utilization of services in outpatient care but does not have a significant effect on inpatient care. The utilization of non-PBI participants was 1.16 times greater than that of PBI participants in outpatient care.
Read More
T-6925
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Roxanna Kuswandhani; Pembimbing: Budi Hidayat, Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Hana Johan, Imam Ruliawan
Abstrak: POSTGRADUATE PROGRAM PUBLIC HEALTH SCIENCE STUDIES HEALTH ECONOMIC AND INSURANCE THESIS, August 2005 Roxanna Kuswandhani SELF-EXPENSE (OUT-OF-POCKET) VARIATION DETERMINANT OF IN-PATIENT SERVICES FOR COMPULSORY HEALTH INSURANCE MEMBERS IN CILEGON GENERAL HOSPITAL IN 2004 xv + 77 pages + 12 tables + 1 appendix ABSTRACT Based on the Government Regulation No. 69/91, PT (Persero) Askes is permitted to charge cost sharing to health insurance (Askes) members. The mistake in financing system implemented is that all premiums are carried on by the members. However, in practice, guarantees provided for the members are emphasized more on medical treatment and recovery by charging quite lots of cost sharing, though the services are delivered in Health Service Provider (PPK) net appointed. Consequently, civil servants still have to pay quite lots of self-expense (out-of-pocket). This causes chronic problem for social health insurance in Indonesia, which lead to complaints and blasphemies. Cilegon General Hospital implements health service tariff based on Cilegon Administrative Regulation. The tariff is higher than tariff packet released by PT (Persero) Askes based on a Joint Decree. To avoid more subsidies, compulsory health insurance members who utilize health services in the hospital have to pay by themselves (out-of-pocket) amounting the rest of health service tariff reduced by expense guaranteed by Askes plus Non-DPHO drug cost. This research was carried out in Cilegon General Hospital. The research object is Self-expense (Out-of-Pocket) Variation Determinants of In-Patient Services for Compulsory Health Insurance Members in Cilegon General Hospital in 2004. Data are from the 2004 in-patient register of compulsory health insurance members of Cilegon General Hospital, the 2004 compulsory health insurance member in-patient payment bill, at Cilegon General Hospital finance division, and the 2004 drug usage and prescription report of compulsory health insurance member in-patients of Cilegon General Hospital This research is an analytical survey using quantitative cross sectional approach. Dependent and independent variables are measured simultaneously. The result indicates that of 240 patient populations, self-expense (out-of-packet) variable has an average value of 671,719 rupiahs, with deviation standard 842,414 rupiahs and median 265,143 rupiahs. Meanwhile, the lowest self-expense (out-of-pocket) is 0 rupiahs and the highest is 5,683,925 rupiahs. Using bivariate analysis, variables related to self-expense (out-of-pocket) are age, officialdom level, education level, medical treatment pattern, medical care class choice, and length of care. The last modeling in multivariate analysis using double linear regression analysis yielded self-expense (out-of-pocket) =4.908+0.06*length of care + 0.156*local administration subsidies – 0.683*medical treatment pattern + 0.579*medical care class choice + 0.472*education 2(D3)-0.323 level (officialdom level II). It is recommended that PT Askes evaluate the determination of packet tariff and DHPO drugs periodically, disseminate medical treatment packets and medical care classes appropriate for their level/right and advocate PPK the proportional medical treatment days. It is also recommended for the next research to obtain more complete information on how much the expense for non-DHPO drugs is from respondents. It is hoped that Cilegon General Hospital provide qualified services in spite of different medical service class, upgrade their data so that they can help education, research and development of health. References: 42 (1985—2005)
Read More
T-2174
Depok : FKM-UI, 2005
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurifansyah; Pembimbing: Ronnie Rivany, Pujiyanto; Penguji: Ikhsan, Maya A. Rusady
T-2485
Depok : FKM-UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elisabeth Sri Lestari; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Budi Hidayat, Mardiati Nadjib, Ismandiya Wirasugena
T-3049
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosselini Triana; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Donni Hendrawan, Laila Mahmudah
Abstrak:
Sejak mulai diimplementasikan pada tahun 2014, program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah mendorong peningkatan utilisasi pelayanan kesehatan bagi ibu hamil baik di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) maupun di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjutan (FKRTL). Pelayanan kesehatan ini seharusnya dapat dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat Indonesia tanpa ada halangan. Geografis Indonesia yang luas menjadi salah satu hambatan dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Menggunakan metode analisa cross sectional, penelitian ini melihat karakteristik utilisasi pelayanan antenatal care (ANC) di Indonesia menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Selanjutnya dilakukan analisa menggunakan regresi logistik dengan model logit dengan menggunakan estimator maximum likelihood untuk melihat pengaruh geografis terhadap utilisasi pelayanan antenatal care (ANC). Kami menemukan bahwa terdapat pengaruh provinsi tempat tinggal, usia, status perkawinan, hak kelas rawat dan segmen kepesertaan dalam utilisasi pelayanan ANC dengan signifikansi 5%. Temuan ini menunjukkan bahwa peserta yang berada di 28 Provinsi berpeluang memanfaatkan pelayanan ANC dibandingkan dengan peserta yang berada di Papua Barat. Peserta dengan status kawin berpeluang 1,09 kali dibandingkan peserta belum kawin/cerai. Peserta dengan hak kelas rawat 1 dan 2 berpeluang lebih besar dalam memanfaatkan pelayanan ANC. Peserta PBI berpeluang lebih besar daripada peserta nonPBI dalam memanfaatkan pelayanan ANC.

Since its implementation in 2014, the National Health Insurance programme has encouraged utilization of health care for pregnant mothers in both primary and secondary health care. This should be accessible to the entire Indonesian without any obstacles. Indonesia's vast geography has become one of the obstacles to access health services. Using cross sectional analysis methods, the study looked at the characteristics of the utilization of antenatal care services (ANC) in Indonesia using Social Health Insurance Sample Data 2023. We found that there was an influence of province of residence, age, marital status, rights of the care class and segments of participation in the utilization of ANC with a significance of 5%. These findings show that participants in the 28 provinces had a greater chance of having ANC compared to participants in West Papua. Participants with married status were 1.09 times more likely than non-married/divorced participants. Participants with 1st and 2nd grade entitlements are more likely to take advantage of the ANC services. PBI participants have a greater chance than non-PBI participants for having ANC services.
Read More
T-6956
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Moudy Muhaiminurrohima Putri; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Kurnia Sari, Ibu Atmiroseva, Ibu Amila Megraini
Abstrak:

Laporan International Diabetes Federation (IDF) melaporkan prevalensi diabetes melitus di Indonesia pada orang dewasa meningkat setiap tahunnya dan menyebabkan beban biaya kesehatan meningkat. Pelayanan kesehatan di tingkat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berfungsi sebagai gatekeeper dalam memberikan layanan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitative diharapkan dapat membantu menekan progresivitas penyakit, mencegah komplikasi, serta mengurangi beban rujukan ke fasilitas kesehatan tingkat lanjutan. Namun, pemanfaatan layanan FKTP masih dihadapkan dengan berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi layanan kesehatan di FKTP. Penelitian ini menggunakan data sekunder data sampel BPJS Kontekstual DM tahun 2017-2023. Data dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi. Hasil analisis distribusi frekuensi pemanfaatan layanan kesehatan FKTP tahun 2017-2023 didominasi oleh Puskesmas (59,08%). Peserta BPJS dengan segmen peserta Bukan Pekerja, berjenis kelamin perempuan, status perkawinan cerai, lansia (>65tahun), memiliki hak kelas rawat I, dan berdomisili di DKI Jakarta memiliki kemungkinan lebih besar mengunjungi pelayanan FKTP. Faktor segmentasi kepesertaan, jenis kelamin, usia, status perkawinan, hak kelas rawat, dan provinsi FKTP memiliki pengaruh signifikan terhadap penggunaan layanan FKTP oleh peserta JKN dengan DM


 

The International Diabetes Federation (IDF) report reports that the prevalence of diabetes mellitus in Indonesia in adults increases every year and causes an increase in health costs. Health services at the Primary Health Facility (FKTP) level function as gatekeepers in providing promotive, preventive, curative, and rehabilitative services that are expected to help suppress disease progression, prevent complications, and reduce the burden of referrals to advanced health facilities. However, the use of FKTP services still faces various challenges. This study aims to examine the factors that influence health services at FKTP. This study uses secondary data from the Contextual BPJS DM sample data for 2017- 2023. Data were analyzed univariately, bivariately, and multivariately using regression. The results of the frequency distribution analysis of the use of FKTP health services for 2017-2023 were dominated by Community Health Centers (59.08%). BPJS participants with the Non-Worker participant segment, female, divorced, elderly (>65 years), have class I care rights, and are domiciled in DKI Jakarta are more likely to visit FKTP services. The factors of participant segmentation, gender, age, marital status, class care rights, and FKTP province have a significant influence on the use of FKTP services by JKN participants with DM

Read More
T-7231
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahayu Baktiwati; Pembimbing: Purnawan Junadi; Pujiyanto
T-2006
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive